Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

The Nature of the Mind

Tentang Ceramah

Dalam ceramah ini Jetsunma Tenzin Palmo membahas sifat pikiran (the nature of the mind) — pusat dari seluruh mandala Buddha Dharma. Beliau mengingatkan bahwa kita hanya bisa mengenal apa pun melalui pikiran, namun jarang benar-benar memandang ke dalam: rumah batin kita sering menjadi tumpukan rongsokan dari segala yang kita baca, tonton, dan pikirkan, dan menaruh Dharma di atasnya tak menolong sebelum wadah itu dibersihkan. Dengan perumpamaan langit dan awan, layar bioskop dan berkas cahaya proyektor, serta peselancar di atas ombak, Beliau menjelaskan perbedaan antara "yang diketahui" (pikiran, perasaan, emosi) dan "yang mengetahui" (kesadaran murni yang tak menghakimi). Latihannya: menenangkan pikiran, lalu mengamati pikiran itu sendiri sampai celah antar-pikiran terbuka dan kesadaran non-dual tersingkap — berhenti mengidentifikasi diri dengan awan, dan mengenali langit yang selalu ada. Ditutup dengan pelimpahan jasa kebajikan bagi semua makhluk.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Saya memutuskan untuk berbicara tentang pokok bahasan ini karena tentu saja dalam Buddha Dharma, seluruh gagasan tentang pikiran dan hati adalah pusat dari seluruh mandala Buddha Dharma.
Ia dimulai dengan pikiran, ia berakhir dengan pikiran. Pikiran yang ditransformasi. Jadi itulah yang akan kita bicarakan pagi ini.
Pertama-tama, kita tak bisa mengetahui apa pun sama sekali, entah di luar atau di dalam, kecuali melalui pikiran. Pikirkanlah itu.
Segala sesuatu di luar diri kita — langit, pepohonan, vihara, orang-orang.
Segalanya. Kita hanya mengetahui melalui apa yang diarahkan kepada kita melalui organ-organ indra kita.
Itu berarti mata, telinga, hidung, lidah, tubuh jasmani, kulit.
Dan lalu bagaimana itu ditafsirkan saat impuls-impuls itu mengenai organ-organ indra.
organ-organ indra lalu menafsirkan itu ke dalam pikiran yang mengolahnya.
Kita punya kesadaran-kesadaran yang meliputi mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit.
Selain itu kita tak bisa mengetahui apa pun. Pikirkanlah itu.
Kalau kita punya jenis organ indra yang berbeda, kita akan memersepsi apa yang kita sebut realitas dengan cara yang sama sekali berbeda.
Kalau Anda seekor ikan, atau kalau Anda seekor lalat, atau bahkan kalau Anda seekor kuda, Anda punya organ-organ indra.
Tetapi mereka organ-organ indra yang sedikit berbeda dan mereka akan menafsirkan untuk Anda sebuah realitas yang sama nyatanya,
tetapi sangat berbeda dari realitas yang kita persepsi.
Namun, apa yang nyata, apa yang tak nyata?
Kalau Anda seorang fisikawan nuklir atau apa pun, atau seorang biolog subatomik,
Anda akan memersepsi meja ini dengan cara yang sangat, sangat berbeda.
Bagi kita ia tampak begitu padat, tetapi bagi seorang fisikawan, tentu saja, ia sebagian besar adalah ruang kosong.
Tetapi kita tak memersepsinya dengan cara itu karena indra kita tak memersepsinya.
Segala sesuatu yang mungkin bisa kita ketahui dibawa masuk kepada kita melalui organ-organ indra kita,
ditangkap oleh kesadaran-kesadaran indra dan lalu ditafsirkan oleh pikiran.
Ini harus kita pahami sebelum kita melangkah lebih jauh.
Kita tak bisa mengetahui apa pun kecuali melalui pikiran.
Ketika kita tak sadarkan diri, maka tak ada apa-apa. Kita seperti mayat. Betul kan?
Jadi pikiran memiliki kepentingan sentral.
Kita tak bisa mengetahui apa pun, kita tak bisa mengalami apa pun.
Segala sesuatu yang kita ketahui, segala sesuatu yang kita alami adalah pikiran.
Namun, ketika Anda bertanya kepada orang, apa itu pikiran?
Mereka tak tahu.
Karena mereka tak pernah melihat (ke dalam).
Tahu kan, kita menghabiskan begitu banyak waktu dan uang dan pemikiran dan upaya pada tubuh kita,
untuk menjaga tubuh kita sehat, untuk menjaga tubuh kita bersih dan berpakaian rapi,
sesuai dengan gagasan kita sendiri tentang apa arti berpakaian rapi.
Kita menghabiskan banyak waktu pada lingkungan fisik kita, pada rumah kita, kamar kita, kebun kita,
membuatnya seindah mungkin secara estetis bagi diri kita sendiri.
Ketika kita punya rumah kita, setiap hari, kita menyapunya, kita membersihkannya, kita menghiasnya ulang,
kita berusaha melengkapinya dengan perabot sesuai dengan bagaimana menurut kita ia seharusnya.
Dan lalu kita tinggal di dalamnya dan kita berkata, ini rumahku, ini kediamanku, ia mencerminkan diriku.
Tetapi rumah Anda, kediaman Anda, kamar Anda, ia hanyalah sesuatu yang eksternal.
Tempat kita sesungguhnya tinggal adalah di sini (dalam batin).
Karena selain dari pikiran kita, kita bahkan tak bisa mengalami rumah dan kediaman kita.
Inilah rumah kita yang sesungguhnya. Di sinilah kita selalu tinggal.
Entah kita di India atau Australia, Amerika, Singapura, Taiwan,
ke mana pun kita pergi, kita membawa pikiran kita serta.
Betul kan? Kita tak pernah terpisah dari pikiran kita.
Pikiran kita adalah rumah kita yang sejati.
Namun pikiran itu, yang harus kita bawa serta ke mana-mana,
kita tak bisa lepas darinya.
Apakah kita melatihnya? Apakah kita membersihkannya, dan mencucinya?
Apakah kita membuang barang rongsokannya?
Atau apakah kita menumpuk lebih banyak barang rongsokan?
Tahu kan, di rumah Anda, ketika benda-benda menjadi kotor dan busuk dan bau atau rongsokan,
kita membuangnya.
Kita membersihkannya, kita menyikatnya, kita membuka jendela, kita membiarkan udara segar masuk.
Tetapi rumah pikiran kita, ia sesungguhnya sebuah tumpukan rongsokan.
Kita punya semua barang ini yang telah kita tumpuk sejak kita anak-anak kecil,
dan semuanya ada di dalam sana.
Dan lalu kita mendapat lebih dan lebih dan lebih banyak lagi.
Hal-hal yang kita baca, televisi yang kita tonton, film-film, percakapan-percakapan,
pikiran-pikiran yang kita pikirkan.
Tumpukan rongsokan.
Dan tak pernah diangin-anginkan.
Hanya dijejalkan lebih dan lebih dan lebih banyak.
Dan lalu di atas itu, di atas tumpukan sampah besar ini,
yang telah kita tumpuk,
lalu kita datang kepada Dharma.
Dan jadi lalu kita membentangkan sehelai kain kecil dari, tahu kan, sekarang kita begitu etis,
dan kita memasang liontin-liontin kecil yang bagus, cantik-cantik, tahu kan, tentang Paramita,
dan semua studi kita, dan kita menghiasnya dengan sangat indah.
Tetapi di dalam sana ia sebuah tumpukan sampah.
Ia sebuah kamar rongsokan.
Apakah Anda mengerti?
Jadi lalu Anda bertanya-tanya mengapa, meskipun Anda sudah berusaha membuatnya tampak begitu cantik,
ia masih berbau begitu mengerikan.
Jadi hal pertama yang harus kita lakukan adalah memikirkan ini.
Apa pun yang kita lakukan, ke mana pun kita pergi, praktik apa pun yang kita jalankan,
kita hanya bisa melakukannya dan mengalaminya melalui pikiran.
Jadi sudah semestinya bagi kita.
Kalau kita ingin menjadi orang yang bahagia,
kalau kita ingin menjadi orang yang damai,
kalau kita ingin menjadi orang yang sungguh-sungguh memahami segala sesuatu dengan jernih,
dan karena itu sungguh-sungguh mampu memberi manfaat bagi orang lain,
dan memberi manfaat bagi diri kita sendiri,
maka kita perlu menata rumah pikiran ini ke dalam suatu keteraturan.
Seperti dalam sebuah rumah biasa.
Kalau Anda pergi ke sebuah rumah biasa dan ia penuh dengan rongsokan,
hal pertama yang Anda lakukan adalah setidaknya mulai membuang sebagian rongsokan itu.
Dan membuka jendela-jendela.
Maksud saya, itu masuk akal.
Tak cukup untuk mulai menambahkan lebih banyak.
Begini, tampaknya bagi saya bahwa...
Maaf, Genla.
Orang Tibet, terutama orang Tibet yang berada di Tibet,
datang kepada Dharma dengan pikiran yang cukup kosong.
Mereka hidup dalam pikiran yang sangat kosong.
Mereka hidup di negeri yang kosong dengan bentang alam yang luas dan kosong.
Sering tak ada pohon.
Hanya (bentang alam) yang luas, luas...
Maksud saya, hal yang mengesankan orang ketika mereka pergi ke Tibet
adalah bentang-bentang alam yang luas ini, betul kan?
Kosong.
Tak terhingga.
Dan jadi karena itu, dalam ketakterhinggaan itu...
Karena mereka hidup di bentang alam yang sangat terbuka dan kosong itu,
ketika mereka sampai pada menghias,
ketika mereka sampai pada membuat lukisan mereka, thangka mereka,
mereka mengisi ruang itu.
Betul kan?
Anda memandang sebuah thangka, tak ada ruang kosong di sana.
Betul kan?
Anda punya sosoknya dan lalu Anda punya aura yang rumit ini
dan lalu Anda punya semua dewa-dewi lainnya
dan lalu Anda punya bunga dan pohon dan gunung, segalanya.
Ia penuh.
Kanvasnya sepenuhnya penuh.
Karena di luar ia begitu kosong.
Dan demikian pula, di Tibet tradisional,
tak ada radio, tak ada televisi, tak ada majalah, tak ada novel.
Satu-satunya pertunjukan adalah pertunjukan tentang Dharma.
Ia cukup kosong, pikiran itu.
Jiwa mereka cukup lapang.
Banyak ruang di dalam sana.
Dan jadi mereka mengisinya.
Tetapi mereka mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat dan menolong.
Mereka mengisinya dengan penalaran-penalaran filosofis yang sangat kompleks.
Mereka melatih pikiran yang tak terlatih.
Mereka mengisi pikiran dengan visualisasi-visualisasi yang sangat kompleks.
Persis seperti thangka mereka.
Penuh.
Tak menyisakan Anda ruang untuk satu saat pun.
Cahaya-cahaya masuk, cahaya-cahaya keluar, ribuan dewa-dewi di segala arah.
Segalanya terlihat begitu tepat.
Tak ada yang dibiarkan pada kebetulan.
Mereka mengisi ruang-ruang kosong pikiran mereka
dengan pengetahuan Dharma.
Dengan panorama yang luar biasa kompleks dan bermanfaat ini.
Dan jadi bagi mereka itu luar biasa dan sangat mentransformasi.
Tetapi biasanya kita datang kepada Dharma dengan pikiran yang sepenuhnya berantakan.
Sudah benar-benar penuh.
Dan sebagian besar penuh dengan hal-hal yang tak bermanfaat, tak begitu berguna.
Beberapa hal berguna, tetapi beberapa hal tak begitu menolong.
Semuanya ada di dalam pikiran.
Semuanya ada di dalam sana.
Semua acara yang pernah kita tonton di televisi,
semua film yang pernah kita lihat,
semua majalah dan buku yang pernah kita baca.
Semuanya ada di dalam sana.
Jadi kita penuh sampai ke bibir (gelas).
Kita seperti sebuah gelas yang sudah terisi penuh dengan air kotor.
Tak ada gunanya berusaha menuangkan ramuan mujarab, ambrosia,
ke dalam sebuah gelas.
Ia sebuah wadah yang sudah terisi penuh dengan air kotor.
Pertama Anda harus menuangkan airnya keluar.
Apakah Anda mengerti?
Maksud saya secara keseluruhan orang Tibet di Tibet tradisional
adalah wadah-wadah yang cukup kosong.
Jadi mereka mampu menerima ramuan mujarab itu.
Tetapi kita datang dari situasi yang sangat berbeda
dan saya kira kita seharusnya menyadari itu.
Karena kalau tidak semua pelatihan yang luar biasa kaya
dan mendalam dan halus ini
berada di atas dasar yang lapuk.
Jadi ini seperti berusaha menaruh dinding-dinding berfresko yang indah
dan atap-atap emas ini di atas tumpukan sampah.
Anda tak akan melakukan itu.
Pertama Anda harus mengangkat seluruh bangunan
dan lalu membersihkannya.
Dan lalu menuangkan airnya keluar.
Dan lalu meletakkan fondasi-fondasi yang sangat, sangat kokoh.
Dan ketika Anda punya fondasi yang sangat kokoh
maka Anda bisa mulai membangun dinding-dinding
dan memikirkan fresko dan atap emas.
Ada sejumlah cara untuk melakukan ini.
Ada sejumlah cara.
Saya akan melakukannya dengan hanya beberapa saja.
Ada cara tradisional,
yang adalah cara yang sangat baik,
yaitu cara pertobatan.
Cara menyadari bahwa kita memang punya tumpukan rongsokan
dan bahwa kita sangat menyesal akan ini.
Dan jadi kita menempuh cara pemurnian.
Dalam praktik Tibet
ada banyak praktik pemurnian
seperti ritual puasa Sang Seribu Lengan,
Avalokiteshvara atau Chenrezig,
prostrasi kepada 35 Buddha Pengakuan,
dan seterusnya.
Ada sejumlah praktik pemurnian.
Buddha Akshobhya adalah praktik pemurnian lainnya.
Dan kalau kita punya sikap yang benar
mereka sungguh-sungguh berhasil.
Mereka bekerja pada tingkat yang sangat, sangat halus.
Tetapi seperti dengan segala sesuatu, Anda harus melakukannya.
Anda harus cukup sering melakukannya
sehingga ia memperoleh momentum tertentu.
Tetapi secara pribadi,
dan ini hanya pendapat pribadi saya,
meskipun ia dibagikan oleh beberapa lama lain,
saya kira apa yang sungguh-sungguh perlu kita lakukan
adalah karena pikiran itu,
dengan satu cara pikiran adalah segalanya,
kita, seperti yang saya bilang, tak bisa mengalami apa pun
kecuali melalui pikiran.
Yang sungguh penting
adalah mengenal pikiran itu sendiri.
Kita selalu memandang keluar, betul kan?
Dan kita selalu menyelidiki
apa yang sedang terjadi di luar.
Kita menyelidiki, tahu kan,
bahkan sampai ke ruang angkasa.
Tetapi kita menghabiskan sungguh sangat sedikit waktu
untuk benar-benar memandang ke dalam.
Maksud saya, bahkan para psikolog
masih terjebak di sini, tahu kan,
dengan teori-teori dan gagasan-gagasan mereka.
Tetapi ia sangat intelektual.
Mereka sungguh tak sekadar duduk dan memandang.
Dan bertanya kepada diri mereka sendiri,
nah, apa itu sebuah pikiran (thought)?
Kita berkata, aku memikirkan ini, aku memikirkan itu.
Kita punya semua teori kita, gagasan kita,
pendapat kita, kenangan kita,
harapan kita, fantasi kita, lamunan kita.
Kita hidup sepenuhnya di dalam pikiran kita.
Tetapi apa itu sebuah pikiran?
Pernahkah kita melihat sebuah pikiran?
Apa itu sebuah pikiran?
Kita berkata, aku berpikir.
Nah, apa itu pikiran ini?
Apa ia? Seperti apa rupanya?
Bagaimana rasanya?
Dan lalu, tentu saja, pertanyaan yang terpenting,
nah, siapa yang berpikir?
Kita berkata, aku berpikir.
Oke, siapa "aku" itu?
Siapa "aku" itu?
Segala sesuatu yang kita lakukan berasal dari "aku" ini.
Aku berpikir, aku suka, aku tak suka,
aku takut, aku orang baik,
aku orang buruk, aku tertekan.
Aku punya masa kecil yang mengerikan.
Aku punya masa kecil yang indah.
Siapa "aku" itu?
Dan satu-satunya cara kita bisa menjawab pertanyaan ini
adalah sungguh-sungguh dengan mengalami jawabannya sendiri.
Tak ada gunanya membaca buku.
Tak ada gunanya bahkan pergi kepada para lama.
Bahkan lama yang paling tercerahkan pun
hanya bisa memberi Anda kata-kata.
Mereka bisa memberi Anda arah.
Tetapi mereka tak bisa melakukannya untuk Anda.
Paling banyak yang bisa mereka katakan adalah,
cobalah seperti ini dan ini.
Tetapi kita harus menyadarinya sendiri.
Dan sangat penting bahwa kita tak begitu saja
menjadi puas dengan teori-teori.
Sehingga kita menjadi sangat pandai
dalam bisa menguraikan tentang diri dan bukan-diri
dan segala hal semacam ini.
Tetapi itu tak menolong sama sekali.
Seseorang menampar wajah Anda dan (Anda) menampar balik.
Tahu kan, teori tanpa-diri,
teori kekosongan tak menolong sama sekali.
Kecuali kalau ia bukan sekadar teori
melainkan sungguh-sungguh sebuah pengalaman.
Jadi karena itu sangat penting
untuk punya ruang dalam hidup kita.
Untuk sekadar duduk dan menggunakan pikiran untuk memandang pikiran.
Tak ada yang lain.
Bayangkan Anda berada di sebuah bioskop.
Betul kan?
Dan Anda sedang menonton sebuah film.
Dan jadi di sanalah ia.
Dan ia di layar besar ini.
Jadi ia sepenuhnya memenuhi seluruh garis kontak visual Anda.
Dan tahu kan, ia, saya tak tahu jenis film apa itu.
Kadang ia film yang bahagia dan kita semua tertawa.
Dan lalu tiba-tiba sang pahlawan terluka
dan kita semua berlinang air mata.
Dan lalu sesuatu terjadi dan kita semua tegang.
Dan kita sepenuhnya terlibat dalam film ini.
Dan kalau ia berakhir bahagia kita keluar sambil tersenyum.
Dan kalau ia akhir yang sedih,
ia telah merusak malam kita.
Dan kita sepenuhnya terpikat pada layar.
Betul kan?
Tertarik, tersedot ke dalamnya.
Kalau ia film yang bagus, Anda sepenuhnya larut di dalamnya.
Betul kan?
Tetapi seandainya,
alih-alih memandang layar,
Anda berbalik dan memandang ke belakang.
Nah di belakang,
semua yang Anda lihat adalah cahaya yang turun.
Betul kan? Berkas cahaya ini.
Nah berkas cahaya itu — dan kebetulan karena semua
metafora dan perumpamaan punya kekurangannya.
Jadi itu sesungguhnya diproyeksikan oleh sebuah proyektor.
Lupakan proyektornya.
Anda pikirkan cahayanya.
Betul kan? Jadi Anda punya cahaya ini.
Dan cahaya ini melewati bingkai-bingkai transparan ini.
Betul kan?
Nah masing-masing dari bingkai-bingkai ini berputar sangat cepat.
Dan cahaya melewatinya.
Dan karena ia bergerak begitu cepat,
meskipun masing-masing adalah bingkai sesaat,
ia tampak seolah-olah ada gerakan.
Ia tampak seolah-olah ada aksi di layar.
Betul kan?
Dan karena itu,
kita memercayai apa yang sedang terjadi di layar.
Dan ini sangat, sangat dekat dengan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam diri kita.
Dari sifat cahaya murni pikiran,
ia memancar melalui semua bingkai kecil dari pikiran-pikiran individual ini.
Yang lalu memproyeksikan dunia luar ini,
panorama luar ini yang kita persepsi.
Dan kita memercayainya.
Begitu seseorang sadar akan sumbernya,
maka seolah-olah kita sadar akan cahaya yang datang dari proyektor
dan melewati bingkai,
kita bisa mengetahui itu.
Kita tetap bisa menikmati filmnya.
Tetapi,
kalau sang pahlawan mati di akhir,
kita tak keluar dan menggorok leher kita sendiri.
Karena kita tahu itu hanya sebuah film.
Betul kan?
Ia bukan soal hidup dan mati.
Ia hanya sebuah film.
Ini hanya para aktor.
Jadi kalau kita memahami itu tentang pikiran kita sendiri,
bahwa kita terus-menerus,
saat demi saat demi saat,
memproyeksikan seluruh pertunjukan ini,
kilauan ini,
maka kita bisa menikmatinya.
Kita bisa menangis di bagian-bagian sedih dan tertawa di bagian-bagian baik.
Tetapi kita tak, pada tingkat yang sangat esensial,
menganggapnya terlalu serius.
Apakah Anda mengerti?
Masalah kita adalah bahwa kita memercayai semuanya.
Kita mengira ini sungguh benar dan persis seperti adanya.
Dan ternyata tidak.
Kita terkhilaf.
Inilah ketidaktahuan mendasar kita yang sedang berbicara kepada kita.
Dan inilah mengapa kita menderita.
Kita menderita karena kita memercayainya.
Oke?
Nah, seperti yang saya sebutkan minggu lalu,
pada dasarnya,
pada dasarnya dari sudut pandang pengalaman,
bukan dari sudut pandang filosofis,
melainkan dari sudut pandang pengalaman,
ada dua aspek pada pikiran.
Ada yang diketahui.
Yaitu, ada pikiran-pikiran,
kenangan, antisipasi,
lamunan,
semua pemikiran.
Dan ada emosi-emosi,
kebahagiaan, kesedihan,
kecemburuan, keserakahan, sukacita, cinta, kebencian,
perasaan-perasaan ini yang menyembul di dalam diri kita.
Dan itu disebut yang diketahui.
Dan ada yang mengetahui.
Ada aspek pikiran itu
yang mengetahui,
tetapi yang tak terlibat.
Sebagian orang menyebutnya sang pengamat
atau sang saksi,
kesadaran.
Nah, biasanya,
ketika kita berpikir atau ketika kita merasa,
kita sepenuhnya terlibat dalam apa yang kita pikirkan atau apa yang kita rasakan.
Ia sungguh seperti berada di tengah samudra yang bergolak.
Kita terlempar ke atas dan kita terlempar ke bawah.
Hari ini bahagia, besok sengsara.
Kita tak punya kendali.
Begini, salah satu masalahnya
adalah bahwa kita sepenuhnya di luar kendali.
Kita sama sekali bukan penguasa pikiran kita.
Kita adalah budak pikiran kita.
Kalau kita penguasa pikiran kita,
kita bisa berkata,
oke, mulai sekarang, aku akan bahagia,
aku akan penuh kasih,
aku akan damai.
Aku tak akan pernah sengsara atau kejam atau marah lagi.
Dan maka begitulah adanya.
(Tak seorang pun) memilih untuk punya pikiran yang penuh kemarahan dan keputusasaan dan kekhawatiran.
Kita tak akan memilih (itu).
Tetapi karena kita tak dalam kendali,
karena kita adalah budak pikiran dan emosi kita,
kita penuh dengan kenangan yang menyengsarakan dan menyedihkan
dan dendam dan kemarahan dan ketakutan.
Kita penuh dengan kekhawatiran dan depresi dan kemarahan.
Kita tak memilih hal-hal itu.
Tetapi itu menunjukkan kepada kita bahwa pikiran kita sepenuhnya di luar kendali.
Tetapi yang mengetahui tak terpengaruh oleh ini.
Yang mengetahui sekadar mengetahui.
Yang mengetahui tampak seolah-olah ia berada di belakang
semua pikiran dan perasaan dan emosi ini.
Sekadar (kesadaran) yang hening ini,
sepenuhnya sadar dan waspada,
kesadaran yang benar-benar jelas dan murni dan telanjang,
yang kita semua miliki.
Setiap orang memiliki.
Tanpa itu, tak akan ada pikiran dan perasaan
karena ia adalah akar dari kesadaran,
yang lalu dari cahaya yang keluar itu,
melewati bingkai-bingkai pikiran,
dan lalu menciptakan seluruh panorama ini.
Jadi kita kembali dari panorama ke melihat bingkai-bingkai,
dan lalu melalui melihat bingkai-bingkai dan memahami bingkai-bingkai,
kita lalu bisa kembali ke sumber dari bingkai-bingkai itu.
Oke?
Apakah Anda mengerti? Apakah Anda mengikuti?
Ini sangat sederhana,
tetapi cukup sulit untuk dilakukan.
Oke.
Jadi apa yang kita lakukan di sini?
Ada dua hal, tampaknya bagi saya, yang bisa kita lakukan segera.
Satu adalah bahwa kita bisa berhenti berada di dalam pikiran dan perasaan
dan melangkah mundur.
Ada perbedaan yang sangat besar antara berpikir
dan mengetahui bahwa Anda sedang berpikir
dalam sekejap.
Dan jadi untuk melangkah mundur,
pengetahuan ini sangat gamblang,
ia sangat telanjang,
karena ia tak punya pendapat apa pun.
Ia tak menyukai atau tak menyukai atau menghakimi.
Ia sekadar melihat.
Buddha kadang-kadang digambarkan
sebagai yang mengetahui, yang melihat,
karena Beliau berada dalam keadaan itu terus-menerus.
Di Malaysia, ada kaus ini
yang menampilkan ombak-ombak besar ini,
dan di atas ombak-ombak itu ada papan selancar.
Dan di atas papan selancar itu
ada sesosok tubuh yang duduk bermeditasi.
Dan slogannya berbunyi,
menunggangi ombak-ombak kehidupan,
jadilah penuh perhatian, jadilah bahagia.
Betul kan?
Jadi kesadaran ini dengan satu cara seperti papan selancar.
Anda tak lagi terbenam dalam ombak.
Anda menunggangi ombak.
Dan kalau Anda mengamati peselancar yang baik,
Anda melihat betapa sangat mantap,
sangat seimbang mereka.
Mereka sepenuhnya berada di saat kini.
Mereka tak bisa kehilangan itu sedetik pun,
atau mereka jatuh ke bawah (ombak).
Sesungguhnya, mungkin berselancar
bisa menjadi praktik spiritual yang sangat dalam,
karena Anda harus hadir.
Semua orang Australia akan berkata,
ya, ya, ya.
Jadi ia seperti itu dalam pikiran.
Dalam pikiran Anda sedang berselancar.
Yaitu Anda sungguh-sungguh menunggangi pikiran-pikiran
dan perasaan-perasaan.
Anda tak terbenam di dalamnya.
Anda di atasnya,
atau di belakangnya.
Betul kan?
Jadi apa pun penderitaan yang kita rasakan,
apa pun depresi atau kekhawatiran
atau kemarahan atau ketakutan,
di belakang semua itu
ada kesadaran yang sepenuhnya berbeda ini
yang benar-benar lapang,
luas,
dan sepenuhnya damai.
Dan itulah sifat kita yang sesungguhnya.
Sifat kita bukanlah gejolak-gejolak
dan kekhawatiran dan ketakutan.
Maksud saya, satu contoh yang sangat klasik
adalah langit, tentu saja,
yang hari ini sangat baik kepada kita,
karena sifat pikiran
adalah seperti langit.
Jernih, biru, dalam, luas, tak terhingga.
Tanpa noda.
Dan tentu saja langit bukan hanya di atas sana.
Langit ada di sini.
Tahu kan, ia ruang.
Apakah langit berakhir?
Ia tak pernah berakhir.
Ia di luar, di dalam, di mana-mana.
Ia meliputi segalanya,
seperti langit hari ini.
Luas.
Tetapi biasanya,
biasanya sedang musim hujan.
Betul kan?
Ia tertutup oleh awan-awan petir yang tebal, gelap.
Awan-awan guntur.
Dan ia berlangsung bulan demi bulan,
dan kita mengira tak pernah ada langit biru.
Itu semua hanya khayalan.
Betul kan?
Jadi dalam pikiran kita,
biasanya kita berada dalam musim hujan terus-menerus.
Awan-awan tebal, hitam.
Beberapa awan putih kecil yang berbulu
dari waktu ke waktu.
Tetapi di mana langitnya?
Dan jadi kita bahkan tak tahu ada langit.
Kita bahkan tak tahu ada langit yang dalam,
biru, tak terhingga ini.
Kita hanya melihat awan-awan,
dan kita mengidentifikasi diri dengan awan-awan.
Inilah masalahnya.
Begini, masalahnya bukan pikiran-pikiran.
Masalahnya bukan emosi-emosi.
Masalahnya bukan perasaan-perasaan.
Itu adalah sifat pikiran,
untuk memiliki pikiran dan perasaan dan emosi.
Masalahnya adalah bahwa kita mengidentifikasi diri dengan itu.
Kita mengira, ini aku.
Ini siapa diriku.
Dan karena itu kita menderita.
Kalau kita tak mengidentifikasi diri,
tak akan ada masalah.
Mereka hanya pikiran yang berlalu,
perasaan yang berlalu,
biarkan mereka pergi.
Mereka hanya keadaan-keadaan mental,
yang muncul dalam pikiran,
tinggal untuk waktu yang singkat,
dan lalu mereda.
Seperti awan-awan di langit.
Mereka awan-awan tebal, hitam,
guntur dan kilat.
Bisa cukup mendebarkan.
Dan lalu mereka mereda.
Ke mana mereka pergi?
Jadi, karena itu sangat penting
untuk berkontak
dengan tingkat kesadaran yang lain ini di dalam diri kita.
Karena begitu kita melihat langit,
maka kita percaya,
ya, langit memang sungguh ada.
Sampai kita melihatnya,
kita hanya bisa memercayai awan-awan.
Dan jadi karena itu,
banyak meditasi,
pastinya dalam tradisi Buddhis,
dimaksudkan untuk memperkenalkan kita
pada sifat pikiran.
Dan biasanya,
salah satu cara ini dilakukan
adalah sekadar dengan mengajari orang lebih dulu
bagaimana menjadi sangat tenang,
sangat hening,
karena selagi permukaan pikiran
sangat bergejolak dan berceloteh,
sangat sulit untuk bisa sungguh-sungguh melihat
apa yang sedang terjadi di sana.
Ia terlalu sibuk.
Dan juga karena pikiran permukaan
berceloteh begitu banyak,
sangat sulit untuk sampai ke tingkat-tingkat pikiran yang lebih halus.
Jadi karena itu sangat masuk akal
untuk menghabiskan waktu sekadar membuat pikiran
menjadi tenang.
Untuk membuat celoteh permukaan menjadi sedikit lebih tenang.
Dan untuk menonjolkan
sebuah
kemampuan pikiran
yang disebut keterpusatan-pada-satu-titik.
Itu berarti kemampuan untuk sungguh-sungguh
bisa memiliki konsentrasi yang terpusat.
Jadi biasanya,
pastinya dalam mazhab Tibet
dan dalam mazhab-mazhab Tiongkok,
mazhab-mazhab Mahayana,
banyak perhatian diberikan pada mulanya
untuk belajar sekadar bagaimana membuat pikiran hening
dan lebih terkonsentrasi.
Lalu ketika pikiran
telah menjadi tenang
dan lebih terkonsentrasi,
maka seseorang bisa menggunakannya sebagai instrumen yang sangat,
yang sangat bisa dikerjakan
untuk memahami apa itu pikiran itu sendiri.
Begini, sekadar menjadi damai,
sekadar masuk ke dalam meditasi
dan merasa bahagia dan berbahagia
dan sangat tenang,
itu sangat menyenangkan.
Tetapi ia tak menyelesaikan apa pun.
Ia sangat sementara,
sangat rapuh.
Maksud saya, ada kisah-kisah
dalam dongeng-dongeng India yang sangat, sangat tua
tentang para resi agung
yang bermeditasi selama berabad-abad dan berabad-abad
dan masuk ke dalam samadhi yang dalam.
Dan lalu mungkin seseorang datang
dan mengganggu mereka
dalam samadhi mereka
dan mereka begitu marah
sehingga dari
mata ketiga,
nyala api keluar
dan menghancurkan orang di depan mereka
yang mengganggu mereka.
Tahu kan, jadi begitulah "mengatasi kemarahan".
Atau ada kisah-kisah lain di mana
seorang resi, seorang bijak agung
telah bermeditasi selama berabad-abad
dan telah menjadi sangat sakti
sehingga para dewa merasa terancam
karena tampaknya ia akan
menjadi bahkan lebih sakti daripada para dewa.
Jadi lalu mereka mengirim salah satu putri para dewa,
bidadari-bidadari berkaki merah muda ini,
untuk mengalihkan perhatian sang resi.
Jadi ketika sang resi membuka matanya
dan melihat bidadari yang benar-benar tak tertahankan ini
di depannya,
ia langsung tergoda, betul kan?
Dan dengan sangat cepat membuyarkan semua kesaktian
yang telah ia kumpulkan
selama berabad-abad dan berabad-abad.
Dan lalu para dewa akan berkata,
ah, betul, kita bisa bersantai untuk beberapa abad ke depan
sampai ia membangunnya kembali.
Ia seperti panci presto, betul kan?
Anda lepaskan (katupnya) dan ia akan (keluar).
Jadi intinya adalah bahwa
sekadar masuk ke tingkat konsentrasi yang sangat dalam,
tingkat penyerapan dan trans batin yang sangat dalam,
tak menyelesaikan masalah-masalah mendasar.
Mereka masih ada di sana,
mereka hanya ditahan di bawah.
Ini seperti ada semacam lapisan awan
yang menutupi mereka.
Jadi ketika Anda memandang ke dalam pikiran,
tampaknya pikiran sepenuhnya damai
dan hening dan murni.
Tetapi sesungguhnya semua kecenderungan
kepada kemarahan dan nafsu dan ketidaktahuan
sesungguhnya belum ditangani.
Mereka masih ada di sana di bawah.
Jadi yang perlu kita lakukan ketika pikiran hening
dan terkonsentrasi adalah lalu menggunakan itu
untuk memandang ke dalam pikiran itu sendiri
dan untuk mengenali pikiran
dan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan
sebagai sekadar pikiran dan perasaan.
Karena seperti yang saya bilang,
biasanya kita adalah budak dari pikiran dan perasaan kita.
Kalau sekali kita mengenali mereka sebagaimana adanya,
peristiwa-peristiwa mental yang muncul, tinggal sesaat
dan pergi dan digantikan,
maka mereka kehilangan cengkeramannya.
Kita tetap bisa menikmati filmnya,
tetapi kita tak lagi sungguh-sungguh memercayainya.
Dan kita bisa mengubah filmnya.
Kalau kita tak suka menjadi sengsara,
kita punya pilihan.
Ada yogi agung ini yang bernama
Gyalwa Gotsangpa pada abad ke-13.
Dan ibunya telah meninggalkannya ketika ia sangat muda,
jadi ia dibesarkan oleh ayahnya.
Dan ia sangat, sangat berbakti kepada ayahnya.
Dan ayahnya dan ia berlatih bersama
dan berkelana bersama,
dan mereka sangat dekat.
Dan lalu ayahnya meninggal.
Dan ia sepenuhnya terguncang,
maksud saya sungguh dipenuhi kesedihan.
Dan ia berkabung sangat dalam.
Dan lalu suatu pagi ia bangun dan berkata,
ini sama sekali tak berguna.
Apa ini?
Bukan keadaan pikiran yang menyenangkan untuk menjadi sengsara.
Mulai sekarang aku berikrar
bahwa aku tak akan pernah sedih lagi.
Ada yang bersedia mengambil ikrar itu?
Dan sejak saat itu ia tak pernah sedih lagi.
Ia menolak.
Ia berkata ini bukan keadaan pikiran yang menolong.
Aku tak akan membiarkannya masuk ke pikiranku lagi.
Setiap kali aku mulai merasa sedih,
aku akan mentransformasikannya menjadi sesuatu yang lebih positif.
Bukan berarti ia menekannya.
Bukan berarti ia tak mengakui pikiran-pikiran sedih.
Tetapi ketika pikiran-pikiran sedih datang,
ia mengenali mereka sebagaimana adanya.
Dan melalui pengenalan itu,
ia mampu mentransformasi mereka.
Jadi segala sesuatu yang datang ke pikiran kita,
kalau kita mengenalinya pada saat ia muncul,
kalau kita menerimanya,
kita lalu bisa sekadar membiarkannya pergi.
Kita tak harus berpegang padanya.
Kita tak harus memberinya energi.
Kita tak harus terhanyut.
Kita berada di tepi sungai,
memandang sungai yang mengalir.
Kita tak berada tepat di tengah sungai terhanyut arus.
Kita semua bisa melakukan ini.
Sifat pikiran adalah secara alami mengetahui.
Tanpa itu, kita akan mati.
Jadi yang harus kita lakukan hanyalah kembali ke apa kita sesungguhnya
dan berhenti mengidentifikasi diri dengan hal yang salah.
Ada guru hutan Thailand yang sangat agung bernama Ajahn Chah.
Dan baru-baru ini saya membaca biografinya.
Dan di dalamnya,
ketika ia berada di hutan berlatih di bawah beberapa guru,
pada suatu titik ia sampai pada tepat hal ini.
Ia menyadari bahwa pada dasarnya pikiran...
Saya harap saya membawanya. Saya seharusnya membawanya bersama saya.
Ia mengungkapkannya dengan sangat ringkas.
Tetapi bahwa pikiran pada dasarnya adalah yang diketahui
dan yang mengetahui.
Dan seluruh intinya sederhana saja: berdiam bersama yang mengetahui.
Mulailah mengidentifikasi diri dengan yang mengetahui.
Dan berhentilah mengidentifikasi diri dengan yang diketahui.
Itu saja. Ia begitu mudah.
Sungguh. Maksud saya, 98% dari masalah Anda terpecahkan, kalau tidak 100%.
Sekadar dengan melakukan itu.
Tetapi kita tak melakukannya.
Menarik bahwa kita tak melakukannya.
Seseorang berada di hadapan seorang lama yang sangat agung
yang dengannya ada koneksi karma yang dalam.
Bisa terjadi bahwa kalau pikiran seseorang sangat terbuka
dan reseptif,
sepenuhnya tanpa ekspektasi,
tetapi sangat terbuka,
ia bisa memberi apa yang disebut...
Dalam bahasa Tibet ia disebut ngotro (ngo sprod).
Ia berarti seperti menunjukkan, memperkenalkan Anda.
Dan ia bisa memperkenalkan Anda pada sifat pikiran.
Ia tak memberi Anda apa pun.
Anda sudah memilikinya.
Dan ia pengalaman yang sangat sederhana.
Ia bukan apa-apa...
Ia bukan, tahu kan, cahaya-cahaya pelangi dan trompet.
Ia sangat sederhana.
Tetapi pada saat itu, hanya untuk sesaat,
segalanya runtuh.
Dan hanya ada saat itu dari kesadaran telanjang yang total.
Ia sangat sederhana.
Ia begitu sederhana sehingga Anda bisa melewatkannya dengan sangat mudah.
Karena kita selalu mengharapkan bahwa entah bagaimana
ia akan menjadi suatu pengalaman yang sungguh-sungguh besar.
Sesuatu yang sungguh...
Dan biasanya ia begitu polos,
begitu gamblang,
sehingga hampir orang mungkin mengira itu tak mungkin ia.
Suatu kali salah satu yogi kami di atas bukit
sedang memberikan sebuah lung,
sebuah transmisi lisan dari satu teks Dzogchen yang sangat termasyhur.
Dzogchen adalah pelatihan pikiran dari mazhab Nyingma.
Dan ia, tentu saja, sedang membacakannya keras-keras.
Dan lalu ia berhenti.
Dan ia berkata, tahu kan,
Masalah dengan jenis buku-buku ini
adalah bahwa ia membuat semuanya terdengar sangat tinggi
dan sangat jauh
dan sangat fantastis.
Dan ia begitu sederhana.
Ia begitu tepat di sini.
Dan jadi Anda memandang ke luar sana
di masa depan
untuk suatu hal luar biasa yang akan terjadi.
Dan sepanjang waktu, sesungguhnya,
saat demi saat,
ia sudah terjadi.
Tetapi kita tak mengenalinya.
Begini, setiap kali Anda mendengar suara, segala sesuatu yang Anda lihat — Anda hanya bisa melihat, Anda hanya bisa mengenali sebuah suara karena kesadaran. Kalau kita tak punya kesadaran, kita akan seperti mayat.
Tetapi kita tak mengenali kesadaran itu karena kita begitu terpesona oleh indra-indra kita.
Apakah Anda mengerti? Karena kita begitu terpikat oleh panorama di luar ini dan seluruh panorama
di dalam, semua pikiran dan kenangan dan lamunan dan harapan dan impian kita, kita melewatkan
kenyataan bahwa di belakang semua itu adalah pengetahuan akannya. Tanpa itu, sesungguhnya kita tak bisa mengetahui.
Jadi setiap saat kita berada pada saat kesadaran. Dan kita
sesungguhnya tepat di sana, tetapi kita tak mengetahuinya. Kita tak tahu bahwa kita mengetahui. Karena itu, dalam
teks-teks Dzogchen sering dikatakan, tak perlu bermeditasi, Anda sudah memilikinya. Siapa bilang
Anda tak bisa mengetahuinya? Anda tak bisa hidup tanpa mengetahuinya. Tak ada apa-apa, tahu kan, maksud saya,
ia sebuah paradoks. Karena untuk mendengar, untuk melihat, untuk berpikir, kita harus mengetahui. Jadi siapa
bilang kita tak mengetahui?
Tetapi masalahnya adalah kita tak mengenali. Kita tak mengenali apa yang kita ketahui. Setiap saat.
Tak ada yang harus diperoleh. Kita sudah memiliki semuanya. Kita hanya harus menyingkapnya. Jadi karena itu,
baik, seperti yang saya bilang di awal, untuk duduk dan membiarkan diri kita sedikit ruang. Ruang
sekadar untuk berada. Untuk tak melakukan apa pun yang khusus. Sekadar, pertama-tama, sekadar untuk, sekadar
hadir. Sekadar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Tak berusaha memanipulasinya.
Tak berusaha mengubahnya dengan cara apa pun. Sekadar mengetahuinya. Bagaimana rasanya tubuh? Apa
yang sedang ditangkap organ-organ indra saat ini? Tak menghakiminya. Tak berpikir, oh, ada
truk mengerikan itu, tahu kan, lewat lagi atau ada tetanggaku bertengkar lagi atau.
Tak menghakimi, baik (atau buruk). (bagian rekaman tidak jelas)
Tak menghakimi, baik. Tetapi aku sekadar tahu bahwa mereka hanya ada di sana. (bagian rekaman tidak jelas)
Betul, sekadar untuk hadir. Sekadar hadir.
tak menghakimi baik atau buruk, sekadar mengetahui. Sekadar mengetahui saat ini apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
di dalam tubuh kita. Rasakan tubuh. Bagaimana rasanya saat Anda duduk di sana? Bukan apakah
Anda nyaman atau tak nyaman. Sekadar bagaimana rasanya, bagaimana ia. Dan lalu bagaimana
pikiran saat ini? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam pikiran saat ini? Bagaimana rasanya seseorang
saat ini? Bukan baik atau buruk, sekadar apa ia? Dan lalu siapa yang mengetahui ini? Kalau aku mendengar
suara burung-burung, bagaimana aku mendengar suara burung-burung? Siapa yang mendengar suara
burung-burung? Apa kualitas mengetahui ini yang tahu bahwa ini burung? Jadi lalu ketika
pikiran ditenangkan, kita memandang pikiran itu sendiri. Contohnya adalah seseorang, seperti yang saya bilang,
duduk di tepi sungai, memandang air yang berlalu. Jadi kita mulai memandang ke dalam
pikiran, saat pikiran sekadar berlalu, tak menghakiminya, tak berpikir ini pikiran yang baik atau
pikiran yang buruk atau pikiran yang bodoh atau pikiran yang brilian, tak memberi energi pada pikiran-pikiran,
sekadar mengetahui mereka, sekadar mengamati mereka. Dan kalau kita melakukan itu, maka secara bertahap, saat kekuatan
kesadaran kita menjadi lebih kuat, maka pikiran itu sendiri mulai menenang. Pikiran-pikiran,
alih-alih — di awal, kata mereka, ia seperti air terjun, tahu kan, ia sekadar
massa padat pemikiran ini, sekadar mendorong. Dan lalu ia menjadi aliran yang menggelembung. Dan lalu ia berubah
menjadi sungai yang panjang, bergerak lambat, dan pada akhirnya ia masuk ke dalam samudra. Tetapi selagi ia
aliran yang bergerak, ketika kesadaran sangat, sangat jernih dan mantap, pikiran-pikiran telah
melambat dan sekadar meliuk-liuk melalui pikiran, dan seseorang sepenuhnya bersama mereka, sekadar
mengamati, bisa terjadi bahwa sambungan-sambungan dalam pikiran, bingkai dalam film, terpisah.
Dan pada saat itu, seseorang melihat apa yang terletak di belakang pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan. Seseorang
melihat kesadaran non-dual itu. Ini seperti tiba-tiba Anda melihat cahaya di belakang semua bingkai itu,
alih-alih bingkai-bingkai. Seseorang, pada saat melihat itu, maka, yang melihat, yang mengetahui, dan kesadaran murni, gamblang,
telanjang yang lain ini adalah satu, karena mereka memang satu. Dan lalu, tugasnya. Ini kesadaran yang sangat
non-dual. Tak ada "aku mengamati". Tak ada "aku sadar". Yang ada hanyalah, kesadaran.
Biasanya ketika kita berkata, aku tahu. Betul, ia "aku tahu", aku tahu ini, aku tahu itu, jadi di sana
segera ada dualitas. Betul kan? Ada yang diketahui, dan ada seseorang yang mengetahui. Tetapi, dalam
jenis pengetahuan yang telah saya coba ungkapkan kepada Anda ini, tak ada "aku" di belakangnya. Yang ada
hanyalah pengetahuan yang telanjang. Dan karena ada kesadaran gamblang ini, tak ada persoalan
penghakiman, tak ada persoalan konseptualisasi. Itu milik yang diketahui. Ia tak milik
yang mengetahui. Jadi lalu ketika kita sungguh-sungguh mengamati pikiran, sangat, sangat saat demi saat
demi saat, bisa terjadi bahwa pemikiran konseptual runtuh. Dan pada saat itu,
yang mengamati dan yang diamati menjadi kesadaran non-dual. Biasanya itu hanya berlangsung sesaat.
Tetapi setelah itu, waktu...
Tugasnya, dengan satu cara, bisa Anda katakan, adalah memperpanjang jeda-jeda itu dan membuatnya lebih sering.
Ia seperti kilatan-kilatan. Ketika Anda bermeditasi, ia seperti tiba-tiba sekilat pengetahuan. Dan lalu
pikiran kembali dan, oh wow, ya, sekarang aku memilikinya, tahu kan, dan ia hilang. Tetapi
memperpanjang itu dan membuatnya datang lebih dan lebih sering.
Juga sepanjang hari, bukan hanya selama meditasi, tetapi kapan pun kita memikirkannya, untuk bisa
sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa
sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa
sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa sadar akannya, untuk bisa
membuatnya terjadi, adalah ketika kita membawa diri kita ke dalam keadaan kesadaran itu.
Kita bisa melakukannya.
Ini sungguh cara tercepat. Maksud saya, Anda tak akan menjadi guru filsafat yang hebat, dan
Anda mungkin bahkan tak akan menjadi guru meditasi yang hebat, tetapi Anda pasti akan berada dalam keadaan
kesadaran, pengetahuan yang total. Anda akan mengetahui. Bukan mengetahui-tentang, melainkan mengetahui.
Begini, sebagian besar pengetahuan kita adalah tentang dan tentang dan tentang. Kita tak secara langsung menjelaskan,
mengalami. Jadi lalu kita mengutip yang ini yang mengutip yang itu yang mengutip yang ini yang mengutip
yang itu. Kita mengira ini pengetahuan. Tetapi ini hanya banyak permainan pikiran. Ada
dunia perbedaan antara mengetahui dan mengetahui-tentang. Benar-benar. Maksud saya, tolong
percayalah kepada saya, saya kira luar biasa kalau Anda belajar. Saya kira luar biasa kalau Anda melakukan semua
visualisasi tantrik ini dan seterusnya dan seterusnya. Maksud saya, saya sama sekali tak merendahkan
semua itu. Orang Tibet selama berabad-abad dan berabad-abad, dan bukan hanya orang Tibet tetapi
di negara-negara Buddhis lain juga, telah menghasilkan makhluk-makhluk yang tercerahkan dalam jumlah luar biasa.
Luar biasa. Maksud saya, ketika seseorang memikirkan Tibet, dengan populasi yang begitu kecil, begitu kecil,
maksud saya, tahu kan, seperlima dari London, Greater London, tahu kan. Maksud saya, ia populasi yang begitu kecil
dan begitu banyak makhluk agung yang tercerahkan.
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas) ...dan kadang-kadang mereka sesungguhnya bisa bertindak dengan cara yang sangat
(mendalam) — yang bisa Anda bawa ke dalam kehidupan sehari-hari Anda, yang bisa Anda sungguh-sungguh gunakan di setiap saat
dalam setiap keadaan. Dan kualitas menjadi kesadaran murni ini di belakang
datang dan perginya pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan, ini adalah sesuatu yang mengenai
titik esensial. Praktik-praktik lain ini, mereka memoles pikiran, tetapi ini adalah emas yang sesungguhnya.
Tahu kan dalam Buddhisme ada kebiasaan yang sangat indah ini di semua negara Buddhis, yaitu ketika seseorang
melakukan sesuatu yang pada dasarnya hal yang baik untuk dilakukan, yang merupakan hal yang berjasa untuk dilakukan, yang
merupakan hal yang menyenangkan untuk dilakukan, mereka bersukacita. Mereka tak hanya memikirkan semua hal buruk yang telah mereka
lakukan dan memukul kepala mereka sendiri sebagai hal yang jahat. Mereka bersukacita. Mereka tak hanya
memikirkan hal-hal baik yang telah mereka lakukan, mereka bersukacita atas hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Mereka
bersukacita atas hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Mereka bersukacita atas hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Mereka
bersukacita juga atas kebaikan. Kebaikan yang mereka sendiri telah lakukan, kebaikan yang orang lain
telah lakukan. Dan lalu dalam situasi seperti ini kita mengumpulkan semua kebaikan dasar dari datang
ke sini. Maksud saya Anda bisa saja melakukan apa pun pada hari yang indah ini di Dharamsala. Dan Anda
memilih untuk datang ke sini dan duduk di lantai yang keras dan dingin ini. Dan itu hal yang baik untuk dilakukan.
Jadi rasakan bahagia tentang itu. Dan lalu bahwa semua orang ini datang ke sini untuk melakukan ini. Dan lalu
kumpulkan itu. Bayangkan semuanya dikumpulkan dan lalu dipersembahkan ke seluruh alam semesta
kepada semua makhluk di mana-mana. Bukan hanya manusia tetapi hewan dan ikan dan burung dan makhluk-makhluk
di alam roh, makhluk-makhluk di alam surgawi, makhluk-makhluk di alam hantu, makhluk-makhluk
di alam-alam neraka. Ke seluruh alam semesta.
Di mana-mana. Setiap makhluk. Semoga mereka juga bersukacita. Dan semoga mereka juga memperoleh manfaat.
Dan semoga mereka juga mampu menerima percikan untuk menerangi jalan spiritual mereka
dan untuk menyalakan kegelapan mereka. Jadi untuk satu menit kita sekadar duduk dan berpikir seperti itu.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya