0:00 Ketika saya masih kecil, saya mengalami serangan panik.
0:03 Rasanya sangat menakutkan, seperti sedang terkena serangan jantung.
0:09 Jantung saya berdebar kencang dan ada nyeri di sekitar leher.
0:13 Saya tidak bisa bernapas, Anda tahu, sesak,
0:16 hampir seperti napas saya mau habis.
0:20 Siapa tahu, sebentar lagi napas saya berhenti.
0:22 Sesak di sini, sesak di sekitar dagu,
0:28 dan saya sakit kepala dan saya punya banyak
0:31 bla bla bla bla, ini itu ini itu.
0:33 Banyak pikiran negatif itu, penuh ketakutan.
0:36 Saya lahir tepat di tengah Pegunungan Himalaya.
0:40 Saya berusaha lari dari panik saya.
0:42 Saya mendaki, dan panik mengikuti saya sampai ke atas.
0:46 Saya masuk ke hutan lebat, panik mengikuti saya sampai ke sana.
0:51 Saya bermain dengan teman-teman, tidak berhasil.
0:54 Saya membicarakan ini dengan ibu saya.
0:57 Ibu saya berkata,
0:58 kamu sebaiknya belajar meditasi dari ayahmu. Ayah saya seorang guru meditasi yang hebat, dan
1:03 ayah saya berkata, jangan, jangan singkirkan panik itu, jangan lawan panik itu. Jadi saya cukup bingung pada
1:11 awalnya. Anda tahu, saya ingin belajar teknik meditasi ini untuk menyingkirkan panik, dan
1:19 Anda bilang jangan? Kenapa, kenapa? Dan beliau berkata, ketika kita berusaha melawan panik, panik menjadi kuat.
1:30 Ada panik atas panik, sebenarnya takut atas panik. Jadi bagi saya kemudian saya menemukan bahwa panik atas panik itu
1:38 lebih kuat daripada paniknya sendiri. Dan bukan hanya panik atas panik, ada penolakan, perlawanan, ketakutan, takut atas panik.
1:48 Jadi
1:49 ketika kita berusaha menyingkirkan emosi-emosi merusak ini, mereka justru menjadi lebih besar. Jadi begitulah cara
1:56 kerja batin kita, yang biasanya kita sebut batin monyet, batin monyet yang gila. Batin monyet ini melakukan
2:03 yang sebaliknya. Ayah saya berkata, jangan melawan panik. Kenapa? Karena kalau kamu melawan panik,
2:09 panik menjadi lebih buruk. Lalu saya bertanya kepada beliau, kalau begitu apa yang harus saya lakukan? Beliau berkata,
2:19 sebenarnya kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Dan beliau berkata, kabar baiknya adalah
2:26 hakikat dasar kita berada di luar panik, bebas dari panik, bebas dari panik.
2:35 Lalu beliau memberi contoh, di gunung di desa saya
2:40 sering datang angin yang kencang, bukan? Saya sungguh takut pada badai-badai itu, badai petir. Bukan badai, tetapi
2:49 bebatuan ini tidak bisa mengubah hakikat langit.
2:55 Jadi beliau berkata, itu tidak masalah.
2:58 Itu tidak mengubah hakikat langit.
3:01 Jadi hal yang sama.
3:04 Kualitas dasar batin kita, yang kita sebut kesadaran — seluruh tujuan meditasi
3:12 adalah menemukan hakikat dasar kita, hakikat sejati kita.
3:17 Jadi kita tidak perlu melakukan apa-apa.
3:21 Kita cukup berada saja, karena hakikat yang menakjubkan ini menyertai kita sepanjang waktu.
3:28 Kita tidak perlu menciptakannya.
3:30 Kita tidak perlu membuatnya.
3:32 Ia ada bersama kita, kualitas dasar dari batin kita.
3:37 Jadi panik hanyalah bebatuan.
3:42 Panik hanyalah awan.
3:47 Mungkin awan yang tebal.
3:47 Bisa jadi depresi.
3:49 Bisa jadi stres.
3:51 Bisa jadi hilangnya semangat.
3:53 Bisa jadi bla, bla, bla, bla, ini itu, batin monyet.
3:58 Semua ini adalah awan di langit.
4:03 Lalu apa yang ada di balik awan, atau inti dari awan ini?
4:08 Inti dari awan ini adalah langit.
4:12 Jadi langit di sini berarti kesadaran, kualitas dasar kita, kesadaran, cinta dan welas asih.
4:17 Dan kebijaksanaan. Dengan mengenali hakikat yang menakjubkan di dalam diri kita ini, kita akan bebas.
4:27 Kita akan, yang kita sebut, terbebaskan.