Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

Dharma in Everyday Life (New Delhi, 2019)

Tentang Ceramah

Ceramah panjang Jetsunma Tenzin Palmo di New Delhi (2019) ini membahas bagaimana menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai praktik Dharma, bukan sesuatu yang terpisah dari kegiatan keagamaan formal. Beliau menekankan bahwa kualitas-kualitas seperti kedermawanan, kesabaran, cinta kasih, dan welas asih justru hanya bisa dikembangkan di tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat — termasuk saat berhadapan dengan orang-orang yang sulit. Inti latihannya adalah kesadaran (mindfulness/sati): membawa pikiran kembali ke saat kini, mengenali dan mentransformasi emosi negatif tanpa menekannya, serta memulai cinta kasih dari diri sendiri. Sesi tanya jawab menyangkut kemarahan masa lalu, hidup membiara versus perumah tangga, menghadapi orang toksik dengan tonglen, ketegasan yang berlandaskan welas asih, dan pengenalan sifat sejati kita sebagai kesadaran murni yang selama ini tertutupi — seperti pengemis yang tak tahu ada harta karun terkubur di bawah gubuknya.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Jadi, selamat malam semuanya. Namaskar. Maaf, saya kira orang-orang di belakang tak bisa melihat apa pun.
Mohon maaf. Saya ingin berdiri, tetapi ada kamera yang menyorot saya, jadi saya tak bisa. Tetapi saya harap
Anda bisa mendengar saya. Bisakah Anda mendengar saya di belakang? Oke, itu cukup. Pejamkan saja mata Anda,
tidurlah, dan Anda akan mendengar suara ini terus berdengung.
Pokok bahasan ceramah malam ini adalah tentang bagaimana membawa terang, karena kita semua punya
kehidupan sehari-hari, betul kan? Kita semua punya kehidupan sehari-hari, dan sangat penting bahwa kita memadukan
kehidupan sehari-hari kita.
Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari.
(bagian rekaman berulang)
Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari.
Jadi, saya kira, sekali lagi, topik malam ini adalah tentang bagaimana membawa cahaya ke dalam
kehidupan sehari-hari kita. Dan sangat penting untuk melakukan ini dengan beberapa prinsip spiritual yang sejati.
Kadang-kadang dalam Buddhisme, setidaknya di negara-negara Buddhis, orang mengira pergi ke vihara
atau mengikuti kursus meditasi atau membaca buku atau melafalkan beberapa mantra, itulah Dharma,
dan lalu sisa hari itu adalah kegiatan duniawi sehari-hari.
Ini adalah filosofinya.
Juga, tentu saja, terutama dalam tradisi Tibet, kebanyakan buku dimulai dengan meyakinkan Anda
bahwa hal pertama yang harus Anda lakukan adalah melepaskan seluruh kehidupan duniawi Anda dan pergi tinggal
di puncak sebuah gunung.
Jadi itu memberi kesan bahwa untuk sungguh-sungguh berlatih, kita perlu melepaskan segalanya dan
pergi menjauh, dan bahwa kalau kita tetap dalam keluarga, kalau kita punya pekerjaan, kalau kita punya jabatan, kalau kita punya
kehidupan sosial, maka itu hanyalah banyak membuang-buang waktu, banyak kegiatan duniawi, dan tak ada
manfaatnya.
Jadi kalau kita berpikir seperti itu, maka jelas Dharma adalah pemborosan waktu.
Jadi itu, saya kira, adalah cara yang sangat keliru dalam memandang apa itu spiritualitas yang sejati —
bukan hanya Buddhisme, tetapi secara umum, jenis jalan spiritual apa pun punya, bagaimana saya mengatakannya, jalan
spiritual kita, apa itu Dharma?
Tahu kan, ia tak terpisah.
Ini — ketika kita melakukan hal-hal keagamaan, itulah Dharma, dan kehidupan sehari-hari adalah kegiatan duniawi,
dan lalu ada pemisahan besar ini.
Maka kita tak akan pernah bertransformasi, karena jumlah waktu yang bisa kita berikan untuk hal-hal yang secara ketat
dianggap sebagai kegiatan keagamaan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari kita begitu kecil.
Jadi, saya kira, itu cara yang sangat keliru dalam memandangnya.
Jadi, ceramah malam ini sesungguhnya tentang bagaimana menjadikan kehidupan sehari-hari kita sebuah praktik Dharma,
karena sangat penting untuk menyadari bahwa Buddhisme bukan hanya tentang mempelajari filsafat Buddhis
dan memahami konsep-konsep intelektual yang sulit.
Tidak.
Atau apakah ia hanya tentang melakukan retret meditasi formal, Vipassana, atau jenis
praktik lainnya? Itulah Dharma. Tempat kerja, menghadapi masalah-masalah kehidupan, itu bukan Dharma.
Maka ia tak akan berhasil. Kalau kita perhatikan bahkan dalam studi Buddhis tradisional, bukan hanya
mempelajari pemikiran-pemikiran filosofis, banyak sekali kualitas yang dibutuhkan, seperti, kalau kita ambil
contohnya, kedermawanan, perilaku etis, cinta kasih, welas asih, kesabaran, dan seterusnya. Semua
itu, kalau kita pikirkan, bukanlah (hanya urusan) Dharma (di vihara).
Semua itu membutuhkan orang lain. Semua itu menuntut bahwa kita sesungguhnya hidup di dalam masyarakat. Karena
kalau kita hanya sendirian dalam lingkungan meditasi yang sangat formal, maka kita bisa mengira
bahwa kita sangat baik dan sangat etis dan sangat sabar dan seterusnya, karena
lingkungan itu memang disiapkan untuk itu.
Tetapi bagaimana ketika kita pulang ke rumah? Sesungguhnya, keluarga kita adalah kesempatan yang luar biasa, sungguh luar biasa,
untuk mengembangkan semua kualitas hati ini, yang oleh jalan spiritual sejati mana pun kita didorong
untuk memupuknya. Keluarga kita adalah kesempatan yang luar biasa.
Sangat mudah bersikap ramah kepada orang-orang yang tak benar-benar kita kenal dengan baik. Kita bisa sangat
ramah bahkan kepada orang-orang yang kita jumpai sepintas di jalan. Tetapi orang-orang yang bersama mereka kita menghabiskan seluruh
waktu kita, merekalah yang bersamanya kita perlu sungguh-sungguh memupuk semua kualitas
hati ini. Jadi sejak awal, oke, mari
jadikan hari kita menjadi praktik Dharma kita. Sangat berguna di pagi hari untuk memulai dengan sesuatu
yang sangat... Yang Mulia Dalai Lama berkata bahwa hal pertama ketika Beliau bangun, pikiran pertama
Beliau adalah bahwa Beliau akan menghabiskan hari itu dengan menjadi manfaat bagi orang lain. Bahwa seluruh
hari
Beliau
akan
akan dibaktikan untuk membuat orang lain bahagia. Bahwa siapa pun yang Beliau jumpai, Beliau ingin mereka, hanya
dengan berjumpa dengan Beliau, menjadi sedikit lebih (baik), tahu kan, memberi sedikit sukacita kepada orang-orang. Dan tentu saja
inilah yang terjadi ketika orang berjumpa dengan seseorang seperti Yang Mulia. Maka meskipun itu
pertemuan yang sangat singkat, mereka merasa terangkat dan terinspirasi hanya dengan berjumpa dengan Beliau, karena niat Beliau
adalah demi yang lain. Jadi itulah pikiran pertama Beliau ketika bangun. Beliau tak bangun dan berpikir,
oh Tuhan, satu hari lagi — melainkan menjalani hidup demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Dan begitulah
kita bisa melakukan sesuatu seperti itu. Tahu kan, apa pun pikiran awal kita, pikiran berikutnya
bisa berupa: semoga aku menggunakan hari ini untuk menjadi manfaat bagi setiap orang yang kujumpai. Lalu kalau kita punya
kesempatan,
mari lakukan sedikit praktik hening. Sangat membantu hanya untuk menetapkan nada
hari itu dengan duduk bahkan selama lima menit, sepuluh menit, kalau kita tak punya waktu lebih.
Sekadar kesadaran yang hening. Misalnya, terhadap napas yang masuk, napas yang keluar. Sekadar
membawa pikiran kita dengan hening ke dalam diri kita. Dengan kemampuan hening untuk rileks dan sekadar sadar ini.
Bukan sadar terhadap sesuatu yang khusus, sekadar rasa keberadaan itu. Kalau Anda punya praktik
formal, seperti yang mungkin banyak dari Anda lakukan, dan Anda ingin sampai ke inti dari perasaan
yang Anda miliki saat ini, maka Anda perlu berlatih. Kita bisa belajar dari praktik itu
dengan sangat cepat.
Kalau memang (Anda) melakukannya, lakukanlah. Lama saya, Khamtrul Rinpoche, berkata kepada saya: selalu pertahankan praktikmu.
Lalu kalau kita punya lebih banyak waktu dan lebih banyak antusiasme, kita bisa melakukannya lebih lama. Tetapi tetap, inti itu
ada di sana dan ia tak berat. Dharma seharusnya seperti ragi dalam adonan yang berat. Anda tak butuh
banyak, tetapi yang Anda punya, ia meringankan seluruh adonan. Anda tak membuang adonannya.
Kita tak membuang kehidupan sehari-hari kita. Kita menggunakan kehidupan sehari-hari kita dan sekadar mencampurnya
dengan sedikit ragi untuk membuat keseluruhannya lebih ringan. Jadi praktik spiritual kita seharusnya
tak membuatnya lebih berat, lebih sulit. Ia seharusnya membuat segalanya jauh lebih ringan. Dan itulah
yang kita lakukan. Kita tak membuang kehidupan sehari-hari kita. Kita menggunakan kehidupan sehari-hari kita
untuk membuatnya lebih ringan. Jadi kita memulai hari dengan membawa masuk kesadaran. Dalam banyak hal, rahasia
memadukan kehidupan sehari-hari kita dengan Dharma adalah kehadiran. Begitu sering yang kita lakukan adalah sebuah tindakan
sementara pikiran kita sudah pergi ke tempat lain. Pikiran dan tubuh tak bersama. Jadi
proses membawa pikiran kita kembali ke apa yang sedang kita lakukan saat ini adalah sesuatu
yang tak memakan waktu, tetapi sepenuhnya mentransformasi hari kita. Semakin sadar kita,
semakin waspada kita, semakin hadir kita, pada saat yang sama, pikiran menjadi lebih jernih,
lebih penuh perhatian, dan kemampuan untuk sadar akan hari kita ini...
kemampuan untuk sadar bisa kita bawa ke dalam semua tindakan kita. Sesungguhnya kini, seperti yang banyak
dari Anda ketahui, para psikiater dan ilmuwan saraf dan sebagainya sangat
menganjurkan agar kita memupuk kemampuan untuk menjadi lebih penuh perhatian, lebih
sadar sepanjang hari kita, karena ini adalah cara untuk sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan kita.
Ini cara untuk sungguh-sungguh menolong kita melewati bahkan masa-masa yang sangat penuh tekanan, bahkan
masa-masa yang sangat sibuk tanpa merasa terbebani dan kelelahan. Ini cara untuk
menyegarkan kembali seluruh hari kita. Jadi hal pertama adalah berusaha untuk
belajar bagaimana memupuk kemampuan untuk menjadi lebih terjaga, lebih sadar, lebih
waspada, lebih penuh perhatian. Kalau kita tak pernah melakukan apa pun dalam hidup ini, kalau kita bisa belajar
sekadar untuk lebih hadir dan penuh perhatian dan pada saat yang sama lebih ramah, itu
sudah merupakan kehidupan yang luar biasa. Jadi kita akan membuat tekad bahwa
kita akan memupuk.
Kesadaran, kesadaran, kesadaran, kesadaran.
Kesadaran, kesadaran, kesadaran.
Kesadaran dan hati yang baik. Dan kita akan menggunakan segalanya. Kebaikan hati, apa
artinya? Kebaikan hati datang dari pemahaman bahwa sebagaimana aku jelas
lebih memilih bahagia daripada sengsara, semua makhluk lebih memilih bahagia daripada tak
bahagia.
Tahu kan, kalau Anda tinggal di sebuah kota, Anda sungguh bisa duduk dan memikirkan hal ini.
Karena mereka tak bahagia. Dan mungkin setiap orang punya masalah. Mungkin setiap
orang yang kita lihat punya kesulitan, punya tantangan. Semuanya akan
baik-baik saja seandainya saja.
Dan saya kira itulah kuncinya.
Tetapi selalu ada sebuah "seandainya saja".
Dan ketika kita menyadari itu dalam hidup kita sendiri, dan kita mengirim cinta dan welas asih kepada diri kita sendiri,
sebagaimana yang dianjurkan Buddha, tetapi lalu kita juga mengirimkannya ke luar kepada orang lain. Menyadari bahwa setiap
orang, bukan hanya manusia, tetapi hewan, serangga, apa pun, burung, ikan, setiap makhluk ingin
sedikit kebaikan hati.
Jadi kita bisa mengharapkan itu untuk mereka, kalau mungkin kita bisa menolong mereka. Kalau kita tak bisa menolong mereka secara fisik,
setidaknya kita bisa mengirim mereka harapan-harapan baik, dan setidaknya kita tak menyakiti mereka.
Jadi kita memulai hari dengan memupuk pikiran ini: semoga semua makhluk sehat dan bahagia, semoga semua
makhluk bebas dari penderitaan. Lalu kita bisa memulai hari dengan memupuk pikiran ini,
dengan memupuk pikiran ini: semoga semua makhluk sehat dan bahagia, semoga semua makhluk bebas
Setiap orang yang kita jumpai, entah itu seseorang yang sangat dekat dengan kita seperti
pasangan kita, anak-anak kita, orang tua kita, keluarga kita, tetangga kita, orang-orang, rekan
kerja, semua mereka adalah kesempatan kita untuk berlatih. Jadi setiap satu dari mereka,
entah mereka seseorang yang sangat dekat dengan kita, seseorang yang kita rasa cukup netral,
kita melihat mereka tetapi kita tak memikirkan mereka sebagai pribadi, sekadar sesuatu yang Anda lihat, atau seseorang
bahkan yang sangat sulit bagi kita, yang menciptakan masalah bagi kita yang tak begitu kita sukai,
semua orang ini adalah kesempatan kita untuk memupuk kedamaian batin.
Kualitas-kualitas batin dari hati. Misalnya, kualitas yang sangat penting yang kita butuhkan adalah
kualitas ketabahan atau kesabaran. Dan itu tak akan pernah bisa kita capai kalau semua yang
harus kita hadapi selalu manis dan ramah dan menyenangkan. Dan kita berpikir, oh aku sungguh
orang yang sangat menyenangkan, lihat aku selalu baik. Tetapi itu karena semua orang lain
baik. Dan itu bagus tentu saja, kita ingin orang bersikap baik. Tetapi meskipun demikian, alih-alih
menjadi kesal dan marah dan ingin membalas orang-orang ini dan menciptakan
masalah, kalau alih-alih itu, kita berpikir, oh orang ini luar biasa, mereka begitu menolong (praktikku),
lihat mereka begitu... (padahal) menyebalkan.
Betapa kesempatan yang luar biasa bagiku untuk berlatih kesabaran. Karena kesabaran adalah salah satu
kualitas yang dibutuhkan di jalan (Dharma). Ia salah satu paramita. Bagaimana aku bisa berlatih kalau semua orang baik,
polos — dan dalam situasi di mana orang berusaha menipu kita atau sungguh kasar (kepada kita), (bukan berarti) kita begitu saja
membiarkan mereka lolos. Tetapi bahkan kalau kita membela diri dan berusaha memperbaiki situasi
dengan terampil, itu tetap harus datang dari sikap pemahaman dan welas asih,
welas asih yang tanpa takut, alih-alih kemarahan atau ketakutan. Karena kalau kita merespons
kesulitan dengan menjadi marah dan defensif, maka itu hanya menciptakan lebih banyak lagi reaksi
dari pihak mereka, reaksi dari pihak kita — dan sikap yang dengannya kita mencegahnya seharusnya adalah sikap
kekuatan dan welas asih, bukan kemarahan dan emosi negatif. Ini sangat penting, ini
sekali lagi mengapa kesadaran, kesadaran, kesadaran seharusnya menjadi prioritas utama kita untuk menolong kita melewati
masa-masa sulit.
(kesadaran) sangat penting dalam kehidupan sehari-hari kita, karena kita seharusnya berusaha menjadi lebih sadar akan
apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Ketika kita berhadapan dengan orang, lalu emosi apa yang sedang
dibangkitkan? Dan kalau itu emosi negatif — semakin dini emosi negatif itu (kita tangkap),
semakin mudah menyingkirkannya, semakin mudah menghadapinya dan mentransformasikannya. Kalau kita tak menyadarinya sampai mereka sudah
jauh berkembang, maka sangat sulit untuk menarik diri kembali. Kita dikendalikan oleh pikiran kita.
Siapa pun yang pernah berusaha bermeditasi akan tahu — ketika (Shantideva) membandingkan pikiran kita dengan
gajah-gajah liar yang sedang mengamuk, ia mungkin cukup tepat.
Siapa pun yang pernah memandang pikirannya dan berusaha membawa pikirannya ke konsentrasi satu titik akan tahu bahwa mereka bahkan tidak
menjadi penguasa pikiran mereka sendiri. Kita hidup di dalam pikiran kita. Bahkan dalam tidur, kita tak bisa lolos
dari pikiran kita sendiri. Alasan mengapa, seperti yang kita tahu, dunia berada dalam keadaan yang begitu gila adalah
karena ia berada dalam kendali orang-orang yang mereka sendiri di luar kendali. Kita bahkan tak bisa
mengendalikan pikiran kita. Apalagi mengendalikan orang lain, mengendalikan seluruh negara?
Jadi karena itu, kehidupan sehari-hari kita seharusnya dibawa ke dalam lingkup upaya kita untuk sungguh-sungguh
mulai menjadi penguasa kesadaran mental kita sendiri.
Tetapi Anda tak bisa menghabiskan seluruh waktu Anda dalam retret. Dan hal yang penting adalah mengambil kehidupan sehari-hari
Anda dan menjadikan itu sebuah praktik.
Apa yang perlu kita latih? Kita perlu melatih kesadaran. Thich Nhat Hanh, yang adalah seorang guru besar
Vietnam, dalam kelompoknya, mereka punya apa yang disebut lonceng kesadaran (mindfulness bell), yaitu
lonceng kecil itu... tahu kan, Anda sedang melakukan apa pun saat ini...
Saat ini, apa yang sedang dilakukan tubuhku?
Bagaimana posturku?
Apa yang sedang terjadi dalam pikiran?
Apa yang sedang kupikirkan?
Apa perasaan-perasaannya?
Apa emosi-emosinya?
Saat ini, saya kira kini di ponsel pintar
ada aplikasi yang punya lonceng kesadaran
dan Anda bisa mengaturnya pada waktu-waktu acak
atau sekadar sekali setiap jam atau semacam itu.
Dan itu adalah cara berlatih
bagaimana membawa diri kita kembali ke saat ini.
Maksud saya, para guru besar berkata
kita seharusnya mengamati pikiran kita setiap saat,
tetapi kalau kita bahkan tak bisa mengamati pikiran kita
sekali atau dua kali sehari,
maka tak mungkin kita akan mengamati pikiran kita sepanjang hari.
Tetapi kita secara bertahap belajar,
sebanyak yang bisa kita ingat,
untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini
dan untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini
dan untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini.
Pada saat ini, apa yang sedang terjadi?
Bagaimana rasanya tubuh?
Bagaimana keadaan pikiran kita?
Dan selama hari itu,
kalau kita mendapati bahwa pikiran kita dalam keadaan negatif,
maka menyadari itu, menerimanya, dan mengubahnya.
Dan begitu juga semua orang yang kita jumpai sepanjang hari kita,
semua kegiatan yang menyita kita sepanjang hari,
semua ini adalah...
adalah kesempatan kita untuk memupuk kesadaran,
untuk memupuk kebaikan hati,
untuk memupuk welas asih,
kalau orang sedang mengalami masalah,
turut bersukacita,
kalau sesuatu yang baik terjadi pada seseorang,
dan bahkan kalau itu sesuatu yang kita inginkan untuk diri kita sendiri
dan itu diberikan kepada orang lain,
untuk bersukacita bagi mereka, bahwa mereka bahagia.
Dan...
Dan begitu murah hati.
Murah hati bukan hanya dalam...
Itu juga sebuah kedermawanan yang sangat penting,
yaitu sekadar hadir untuk seseorang.
Bahkan kalau kita tak bisa menyelesaikan masalah mereka,
kita tetap bisa memberi mereka perhatian kita,
dan kita bisa memberi mereka empati kita,
simpati kita.
Dekat dengan kita — keluarga kita atau teman atau rekan kerja atau orang asing,
setiap orang,
Yang Mulia Dalai Lama begitu dicintai
adalah karena Beliau punya kemampuan bahwa siapa pun yang Beliau jumpai,
bahkan kalau itu dalam sebuah antrean orang,
setiap orang yang Beliau jumpai,
Beliau mengakui keberadaan mereka.
Dan Beliau melihat, saya kira, sifat Buddha mereka.
Beliau melihat potensi mereka.
Beliau tak melihat topeng yang kita semua kenakan.
Beliau melihat pribadi sejati di baliknya.
Beliau melihat pribadi di balik topeng.
Inilah mengapa para politikus sering terlihat sangat kaku ketika mereka berjumpa dengan Beliau.
Tahu kan, mereka tak ingin Beliau memandang pribadi di balik topeng.
Betul kan?
Itu sangat mengancam.
Tetapi orang-orang biasa,
itu menggerakkan mereka sangat dalam,
karena mereka merasa bahwa Beliau melihat mereka
dan sepenuhnya menerima mereka.
Dengan cinta dan welas asih.
Beliau tak menghakimi mereka.
Beliau sekadar sepenuhnya...
Bahkan dalam sepersekian detik, mungkin,
Beliau bersama mereka.
Dan jadi orang sangat tergerak oleh itu.
Jadi kita bukan Dalai Lama,
tetapi kita tetap bisa menyadari
bahwa kita bisa memberi orang perhatian sebanyak itu.
Kita semua.
Setiap makhluk.
Buddha berkata,
ada sebuah kisah dalam sutra,
di mana sang raja,
saya kira itu Bimbisara,
sedang duduk di balkon bersama sang ratu.
Dan ia berkata kepadanya,
nah, aku sudah memikirkannya.
Dan tahu kan,
aku kira bahwa di seluruh dunia,
aku paling mencintai diriku sendiri.
Siapa yang paling kaucintai, sayangku?
Dan lalu ia berpikir,
dan lalu ia berkata,
ya, aku kira engkau benar.
Di seluruh dunia, aku paling mencintai diriku sendiri.
Yang saya kira bukan yang ia harapkan.
Tetapi bagaimanapun,
lalu mereka pergi menghadap Buddha.
Dan mereka berkata,
begini, kami sudah membahas ini,
dan kami menyadari bahwa di seluruh dunia,
kami paling mencintai diri kami sendiri.
Dan bagaimana menurut Anda?
Dan Buddha berkata,
ya.
Bagi setiap orang,
dirinya sendirilah yang paling ia sayangi.
Karena alasan itu,
kita seharusnya memberi cinta kasih kepada semua makhluk.
Karena bagi setiap orang,
dirinya sendirilah yang paling ia sayangi.
Jadi lalu mengapa tak mengakui itu?
Bahwa setiap orang sangat peka
terhadap kesejahteraannya sendiri
dan penderitaannya sendiri.
Dan kalau kita merasakan itu tentang diri kita sendiri,
maka kita akan menyadari itu
untuk setiap orang lain.
Tak ada yang tinggi atau rendah.
Tak ada yang penting atau tak penting.
Setiap orang,
tak peduli kedudukan sosialnya,
adalah yang paling berharga bagi dirinya sendiri.
Dan sebagaimana kita, karena itu,
tak ingin orang lain menyakiti kita,
karena itu,
kita seharusnya menunjukkan rasa hormat yang sama
dan kepedulian untuk semua makhluk lain.
Jadi itu logis, bukan?
Kalau Anda memikirkannya.
Betul kan?
Maksud saya, tak ada yang tinggi atau rendah
sejauh menyangkut kepedulian setiap orang terhadap dirinya sendiri.
Jadi karena itu,
kita seharusnya menghormati itu pada semua makhluk.
Maksud saya, bahkan sekadar senyuman.
Bahkan sekadar terima kasih.
Hari ini saya membaca sebuah artikel di koran,
mungkin Anda juga membacanya,
tentang betapa jarangnya orang India mengucapkan "dhanyavaad".
Dan mengapa orang India begitu jarang menunjukkan rasa syukur?
Hmm...
Dan mereka mengatakan,
untunglah, kini,
bahkan orang yang tak berbahasa Inggris
sudah lebih terbiasa mengucapkan "thank you".
Dan "you're welcome".
Dan jadi, meskipun mereka tak sampai ke "shukriya"
atau "dhanyavaad",
setidaknya kalau mereka mengucapkan "thank you",
sekadar pengakuan terhadap orang lain itu,
orang-orang yang melayani kita di ruang publik,
tahu kan,
kondektur dan...
dan pelayan dan semua orang,
tak masalah, maksud saya, siapa pun,
setiap orang berharga bagi dirinya sendiri.
Dan sekadar berterima kasih kepada mereka
untuk apa pun yang mereka lakukan.
Ucapkan terima kasih.
Tersenyumlah.
Maksud saya, kalau Anda melihat seseorang yang tampak istimewa rapi,
katakan kepada mereka, oh, itu bagus sekali.
Oh, terima kasih.
Dan mungkin itu membuat hari mereka menyenangkan.
Itu begitu sederhana.
Itu tak sulit.
Dan ketika kita berjumpa dengan orang-orang yang sulit,
maka, sekali lagi,
untuk menyadari bahwa ini adalah kesempatan kita
untuk sungguh-sungguh memandang pikiran kita sendiri
dan untuk mentransformasi
reaksi alami kita
yang ingin membalas,
dengan menganggap bahwa mereka memberi kita
kesempatan besar ini
untuk berlatih kesabaran yang sejati.
Itu tak berarti kita menekan kemarahan.
Ini bukan tentang menekan.
Ini tentang menyadari dan mentransformasi.
Bukan bahwa kita...
Tahu kan, tak pernah bahwa kita...
kita menekan kenegatifan kita.
Bukan bahwa kita menekan emosi negatif kita.
Melainkan bahwa kita...
Kalau emosi negatif muncul,
kita menyadarinya.
Kita menerima bahwa itulah yang sedang kita rasakan.
Tetapi lalu kita sungguh-sungguh berupaya
untuk mentransformasi itu dan menyadari
inilah kesempatan kita
untuk memupuk emosi yang lebih positif
dan tak menyerah pada emosi negatif.
Jadi hari kita dipenuhi dengan kesempatan
untuk berlatih.
Dan kita berfokus pada kualitas dasar ini
yaitu menjadi sadar,
menjadi penuh perhatian,
menjadi hadir,
dan melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan,
kalau kita melakukannya dengan kesadaran,
dengan perhatian,
adalah sebuah praktik Dharma.
Menurut kita apa itu Dharma?
Buddha Dharma seluruhnya tentang
menjinakkan pikiran.
Buddha berkata,
biarlah orang bijaksana menjinakkan pikirannya.
Pikiran yang jinak membawa kebahagiaan.
Jadi kita berusaha untuk bahagia.
Dan kita membawa kebahagiaan
dengan membuat orang lain bahagia.
Kepada berapa banyak orang
sepanjang hari kita
bisa kita bawa sedikit lebih banyak kebahagiaan
kepada mereka?
Dengan bersikap sopan,
dengan bersikap ramah,
dengan tersenyum,
dengan mengucapkan terima kasih.
Itu tak begitu sulit.
(Bahkan) tak harus (dengan) berbuat baik (yang besar).
Maksud saya, kalau kita bahkan tak bisa melakukan sebanyak itu,
tahu kan, kadang orang,
mereka punya, tahu kan, guru-guru besar,
dan mereka sudah melakukan begitu banyak sadhana,
dan mereka sudah melakukan begitu banyak praktik,
dan mereka sudah melakukan begitu banyak ini,
dan mereka sudah melakukan begitu banyak itu,
dan mereka masih tak baik hati.
Mereka tak lebih baik daripada seseorang
yang tak pernah melakukan apa pun.
Jadi apa yang salah?
Dan tak cukup hanya dengan bersikap baik
kepada orang-orang yang menurut Anda
punya pengaruh tertentu.
Maksud saya, kita seharusnya lebih seperti matahari
yang sekadar bersinar.
Cahaya.
Dan memberi kehangatan.
Jadi sepanjang hari,
kita memupuk ini.
Semua orang lain begitu berfokus
pada apa yang harus mereka lakukan
dan hampir begitu takut.
Maksud saya, saya tak mengatakan di India,
tetapi pastinya di, tahu kan,
negara-negara lain,
kalau Anda tersenyum kepada orang asing,
mereka mungkin akan terlonjak,
tahu kan, dan semacam, tahu kan,
menjadi sangat gugup,
terutama di kereta bawah tanah New York atau semacamnya.
Anda mulai tersenyum kepada semua orang.
Tahu kan, mereka...
Tetapi ketika situasinya datang,
kita bisa bersikap baik.
Kita bisa bersikap sopan.
Tak ada masalah dengan itu.
Di tempat kerja kita, jadilah penolong.
Jadilah baik hati, dan terutama kepada orang-orang
yang mereka sendiri sedang mengalami masalah
dalam bersikap baik.
Juga sangat membantu
untuk menjaga perhatian kita
di tempat tubuh kita berada
dan pikiran kita berada.
Kini, semua orang begitu terburu-buru
dan melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking),
tetapi telah ditunjukkan
oleh, tahu kan,
para psikiater dan ilmuwan saraf
bahwa multitasking tak cocok
untuk otak manusia.
Bahwa otak manusia,
kalau ia harus memikirkan terlalu banyak hal
pada saat yang sama,
sekadar menjadi tertekan
dan tak efisien,
membuat kesalahan,
dan menjadi kelelahan.
Karena kita tak dimaksudkan
untuk berusaha melakukan terlalu banyak hal
pada saat yang sama.
Dan jadi kini,
seperti yang saya yakin banyak dari Anda ketahui,
bahkan organisasi-organisasi besar,
tahu kan, seperti Microsoft
dan Google
dan semua organisasi besar ini
(karyawannya) kelelahan total terlalu cepat.
Jadi karena itu,
mereka kini meminta
staf mereka mengikuti kursus mindfulness,
yang sekali lagi menekankan
bahwa apa pun tugas
yang sedang kita coba lakukan,
kita seharusnya memberi perhatian penuh kita pada itu.
Bahkan kalau,
lalu setelah beberapa saat,
kita memberi perhatian pada hal itu,
dan lalu perhatian pada hal itu,
tetapi tidak semuanya pada saat yang sama.
Apa pun tindakan yang perlu kita lakukan,
dan bukan semua pemikiran mengembara
di latar belakang,
atau berusaha berpegang pada sesuatu
yang baru saja kita lakukan,
atau sesuatu yang harus kita lakukan di masa depan,
melainkan menyatu dengan tugas itu,
dan itu juga menghasilkan
jenis-jenis hal yang jauh lebih kreatif.
Dan itulah jenis pemikiran (yang produktif)
dibandingkan kalau kita hanya berusaha
di permukaan
untuk melakukan terlalu banyak hal pada satu waktu,
yang dalam hal itu pikiran tak akan pernah bisa tenang.
Jadi kini,
maksud saya,
sangat menarik,
bahkan saya baru saja membaca India Today,
yang punya artikel bagus ini
tentang kebahagiaan.
Bukankah itu bagus?
Maksud saya, biasanya isinya semua korupsi
dan skandal,
tetapi kini edisi ini
membahas kebahagiaan.
Apakah Anda membaca itu?
Adakah dari Anda yang pernah membaca India Today?
Ya, dan jadi mereka menekankan
tentang hal-hal baik yang orang lakukan,
atau hal-hal baik yang orang lakukan di India,
bukan hanya semua tuduhan korupsi.
Kebaikan itu,
yang biasanya diabaikan.
Dan mereka juga punya artikel
tentang bagaimana membawa kebahagiaan
ke dalam kehidupan sehari-hari Anda.
Dan salah satu hal pertama
yang mereka anjurkan
adalah belajar untuk penuh perhatian (mindful).
Karena sejujurnya,
itulah kuncinya.
Kita,
sejak kecil,
dikondisikan untuk tak penuh perhatian.
Tahu kan,
ia sesuatu yang,
karena itu,
untuk sungguh-sungguh membawa perhatian kita
ke apa yang sedang kita lakukan
selagi kita melakukannya,
sangat sulit bagi kita.
Kita sedang melakukan satu hal
dan pada saat yang sama
memikirkan hal lain.
Dan jadi ini juga sangat menekan
bagi pikiran
dan ia sangat tak efisien.
Kalau kita bisa membawa perhatian kita
ke apa yang sedang kita lakukan
selagi kita melakukannya,
maka segalanya jauh lebih mulus.
Jadi juga sepanjang hari,
baiklah, Anda bangun di pagi hari
dan tahu kan,
seperti yang saya bilang,
sangat baik
kalau kita membuat komitmen
bahwa kita akan menggunakan hari itu
untuk melakukan sesuatu yang bermakna
dengan hidup kita
dan untuk membawa sedikit kebahagiaan
kepada orang lain
dan melakukan sedikit meditasi hening.
Dan lalu,
apa pun yang kita lakukan berikutnya,
untuk berusaha melakukannya dengan penuh perhatian,
terutama tugas-tugas
yang biasanya
cukup otomatis
yang tak perlu kita bawa
banyak pemikiran ke dalamnya.
Seperti menyikat gigi
atau menyisir rambut Anda
atau, tahu kan,
para pria yang bercukur
atau apa pun seperti ini.
Sebuah tindakan sederhana.
Minum teh.
Untuk membuat komitmen
memberikan perhatian seseorang pada itu.
Untuk tak memikirkan hal-hal lain.
Tahu kan, selagi kita minum teh,
untuk tak memikirkan apa yang akan kita lakukan berikutnya
atau apa yang kita lakukan sebelumnya.
Melainkan sekadar untuk sadar
akan tindakan minum itu.
Tindakan menyisir rambut kita.
Sekadar ketahui itu.
Jangan memikirkannya.
Kita hanya perlu mengetahuinya.
Berikan perhatian kita padanya.
Dengan cara yang sangat rileks.
Untuk membuat pikiran hadir.
Dan lalu sepanjang hari,
seperti yang saya bilang,
sesering yang bisa kita ingat,
untuk membawa pikiran kembali
ke saat kini.
Apa yang sedang kita pikirkan sekarang?
Apa yang sedang kita rasakan sekarang?
Apa yang sedang terjadi saat ini?
Itu tak memakan waktu.
Ia hanya butuh kemampuan untuk mengingat.
Kata yang dalam bahasa Inggris
diterjemahkan sebagai "mindfulness"
adalah kata "smriti" (sati).
Yang, seperti yang akan Anda ketahui,
berarti mengingat.
Dan jadi, secara harfiah,
ia berarti mengingat
apa yang sedang kita lakukan.
Karena biasanya kita lupa.
Kita melakukan sesuatu,
tetapi kita tak hadir di sana
bersama apa yang sedang kita lakukan.
Dan jadi pikiran,
bukan hanya tak efisien,
tetapi pikiran menjadi lelah.
Kalau kita bisa mengistirahatkan pikiran
di saat kini,
sekadar menjadi sepenuhnya sadar
akan apa yang sedang terjadi saat ini,
tanpa mengomentari,
sekadar mengetahui,
kualitas mengetahui dari pikiran ini,
untuk sungguh-sungguh mengetahui
apa yang sedang kita pikirkan,
rasakan,
lakukan,
pada saat melakukannya.
Itu membuat pikiran
sangat terbuka dan lapang.
Jadi,
kalau kita bisa memupuk kualitas ini,
mungkin sekadar dengan mengamati napas,
kalau kita menjadi sangat bergejolak
atau sangat tertekan,
membawa perhatian kembali,
menarik napas,
mengembuskan napas —
napas adalah objek yang sangat baik
bagi kita untuk mengumpulkan diri kita.
Karena kita tak bisa bernapas
di masa lalu
atau di masa depan.
Kita hanya bernapas sekarang.
Jadi, kalau kita sungguh sadar
akan napas,
rasa napas
saat ia masuk dan keluar,
kita sadar
akan sedang hadir.
Jadi,
di penghujung hari,
sebelum tidur,
kita bisa mengingat kembali sedikit.
Hal-hal yang,
kalau kita melakukan hal-hal di mana kita menjadi kesal
atau marah atau serakah
atau apa pun seperti ini,
kita menyesalinya,
kita akan berusaha melakukan lebih baik lain kali.
Dan saat-saat ketika kita melakukan sesuatu yang baik,
sesuatu, tahu kan,
kita berupaya,
maka, nah, bagus, baik.
Kita harus melakukan lebih banyak itu lain kali.
Jadi, dengan cara ini,
kita bisa mendorong diri kita sendiri
untuk menjalani kehidupan sehari-hari kita
seperti ini.
Saat demi saat demi saat.
Ini bukan soal menyediakan waktu
untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain.
Untuk inilah kita memiliki hidup kita.
Kita memiliki kehidupan manusia yang sangat berharga.
Anda semua sangat terpelajar.
Anda harus memberi manfaat bagi diri Anda sendiri,
memberi manfaat bagi orang lain,
sehingga, tahu kan,
ketika kita tiba pada saat kematian,
yang akan kita semua alami,
kita bisa berpikir,
nah, aku tak menyia-nyiakan kehidupan manusia ini
tanpa penyesalan.
Lepaskan masa lalu.
Lepaskan semua pikiran negatif kita
tentang apa yang orang lakukan kepada kita
di masa lalu dan bagaimana, tahu kan,
kepastian bahwa kita ingin membalas dendam.
Kita memaafkan diri kita sendiri.
Kita mendorong diri kita sendiri.
Kita berteman dengan diri kita sendiri.
Hal pertama adalah berteman dengan diri kita sendiri.
Begitu banyak orang tak menyukai diri mereka sendiri.
Nah, itu tak begitu baik.
Kita terikat dengan diri kita sendiri.
Kita setidaknya seharusnya berteman.
Kita tak bisa meninggalkan diri kita di belakang.
Buddha berkata,
pertama kita menyelamatkan mereka yang kita cintai,
yang cukup mudah,
mengharapkan mereka baik,
mengharapkan mereka bahagia.
Betapa luar biasa
kalau mereka bisa bahagia
dan bebas dari penderitaan.
Lalu orang-orang yang netral,
yang tak kita kenal,
yang tak benar-benar kita pikirkan
apakah mereka bahagia atau tak bahagia.
Seperti yang saya bilang,
mereka adalah pusat dari alam semesta mereka sendiri,
jadi hormatilah itu.
Dan lalu orang-orang yang dengannya kita punya masalah
dan kesulitan,
semoga mereka juga sehat dan bahagia.
Orang melakukan hal-hal buruk
sebagian besar karena mereka tak bahagia.
Mereka sangat terkhilaf
atau karena di dalam mereka tak bahagia.
Semoga semua makhluk sehat dan bahagia.
Bukan hanya yang itu, yang itu, yang itu.
Semua makhluk.
Kalau makhluk-makhluk bahagia,
ini akan menjadi dunia yang sangat berbeda.
Jadi,
untuk memupuk kualitas-kualitas
yang kita butuhkan dalam hidup ini
yaitu toleransi, kebaikan hati, welas asih, perhatian,
kita mengambil kehidupan sehari-hari kita
dan kita menggunakannya.
Kita tak berpikir bahwa hanya,
tahu kan,
praktik setengah jam
sesekali
akan mentransformasi.
Ini adalah tugas saat demi saat demi saat.
Dan,
tidak.
Sekarang juga,
tepat
dalam situasi tempat kita mendapati diri kita,
itulah kesempatan kita untuk berlatih.
Dan kalau kita sungguh-sungguh
membawa
Dharma ke dalam kehidupan sehari-hari kita,
menyadari bahwa semua kualitas
kedermawanan dan etika
dan toleransi
dan kebaikan hati dan welas asih
dan kebijaksanaan,
melihat segala sesuatu dengan jernih
sebagaimana adanya,
tak ada waktu seperti sekarang juga.
Dan tak ada tempat seperti di sini juga.
Inilah dia.
Anda tak pernah punya kesempatan yang lebih baik
di sepanjang hidup Anda.
Inilah dia.
Ini bukan sesuatu yang bisa kita tunda begitu saja.
Jadi,
sungguh,
tolong,
kita semua di sini
seharusnya mengambil hidup kita
dan bersyukur
atas keistimewaan yang kita miliki
yaitu memiliki kehidupan manusia yang sangat lengkap ini
dan tak menyia-nyiakannya untuk
hal-hal yang bersifat sementara
dan tak begitu penting.
Hal terpenting yang mungkin bisa kita lakukan
adalah menjinakkan pikiran,
melatih pikiran,
mentransformasi pikiran,
dan bagi mereka yang sungguh serius,
pada akhirnya melampaui pikiran konseptual
dan menjadi terbebaskan.
Untuk apa lagi kita di sini?
Untuk memberi manfaat bagi diri kita sendiri
dan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Jadi,
maksud saya,
satu hal adalah bahwa kita bisa memandang hidup kita
sebagai sebuah proses belajar.
Tahu kan,
seseorang berkata,
ini bukan pepatah yang sangat Buddhis,
tetapi mereka berkata,
tahu kan,
hidup adalah sekolah bagi jiwa.
Dengan kata lain,
bahwa di sanalah kita belajar,
untuk apa kita di sini.
Kita tak di sini hanya untuk bersenang-senang.
Kita belajar,
kita di sini untuk sungguh-sungguh bertumbuh dengan baik.
(Anak kecil) sangat bahagia,
dan begitu mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan,
maka mereka,
tahu kan,
mengamuk
karena mereka anak-anak.
Dan mereka tak tahu bagaimana mengendalikan emosi mereka.
Dan lalu sepanjang tahun-tahun kita tumbuh dewasa,
dan tahu kan,
kita mendapat rambut kelabu dan kerutan dan,
tahu kan,
tetapi di dalam,
begitu sering kita masih hanya anak-anak.
Ketika segalanya berjalan benar,
kita penuh senyum,
dan ketika segalanya tak berjalan seperti yang kita inginkan,
di dalam batin kita merasa begitu banyak kemarahan dan ketegangan dan amukan,
persis seperti anak kecil.
Dan jadi Buddha,
Beliau berbicara tentang orang-orang biasa,
kita,
kata Beliau,
adalah yang kekanak-kanakan.
Dan jalan (Dharma) adalah untuk menjadi matang,
untuk menjadi dewasa.
Sehingga kita tak lagi dikendalikan
oleh emosi-emosi negatif ini —
ini sesuatu yang kusukai,
aku harus memilikinya,
tahu kan,
keserakahan dan menggenggam dan kemelekatan pada kesenangan,
dan kemarahan dan penolakan dan kebencian terhadap apa pun
yang tak menyenangkan.
Jadi emosi-emosi ini,
yang pada anak kecil,
pada anak kecil bisa dimaklumi,
seiring kita tumbuh dewasa,
kita seharusnya mengendalikan emosi-emosi ini,
tak lagi dikendalikan olehnya.
Kita di dalam batin masih yang kekanak-kanakan.
Dan jadi emosi-emosi negatif ini,
dalam semua mazhab Buddhis,
emosi-emosi negatif itu adalah keserakahan,
nafsu keinginan akan kesenangan ini,
dan kemarahan,
penolakan,
kenegatifan ini,
menyingkirkan apa yang tak menyenangkan.
Dan lalu rasa umum kegelapan batin,
ketidaktahuan (kebodohan batin).
Tentu saja,
dalam Buddhisme itu sebagian besar berakar pada ketidaktahuan,
ia berdasar pada ego.
Dan lalu bersama itu,
kesombongan dan kecemburuan,
ketakutan dan seterusnya.
Tetapi emosi-emosi negatif ini,
semua mazhab Buddhis peduli dengan
bagaimana menghadapi kenegatifan kita,
emosi-emosi negatif ini,
dan terutama pikiran kita yang serakah,
melekat,
terikat,
dan pikiran kita yang marah dan mudah tersinggung,
frustrasi,
tertekan,
pikiran jenis menyingkirkan.
Dan tentu saja,
semuanya berdasar pada akar avidya kita,
ketidaktahuan kita.
Dan jadi,
kita harus menyadari sifat sejati kita.
Maksud saya,
inilah masalah kita,
yaitu bahwa kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
dan kita sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan rasa ego kita,
rasa "aku".
Tetapi itu bukan sifat sejati kita.
Dan jadi sekali lagi,
praktik pada tingkat yang lebih dalam adalah menyadari
bagaimana kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
dan kembali ke sifat sejati kita,
yang adalah kesadaran primordial kita yang sangat murni,
yang seperti langit,
karena kita tak melihat langit.
Tetapi awan-awan ini datang dari langit,
mereka kembali ke langit,
mereka tak bisa ada seandainya bukan karena langit.
Tetapi kita tak memperhatikan langit,
kita tak melihat langit,
dan jadi kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah.
Jadi,
karena kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
dan inilah ketidaktahuan mendasar kita,
atau avidya,
karena itu,
kita menderita.
Dan kita menciptakan penderitaan bagi setiap orang lain juga.
Kita sendiri menjadikan diri kita sebuah masalah,
dan lalu kita sekadar menyebarkan masalah itu
kepada semua orang di sekitar kita.
Jadi inilah situasi dasar kita,
dan mengapa kita seharusnya berupaya
untuk sungguh-sungguh memupuk kemampuan batin ini
untuk menjadi lebih waspada,
lebih sadar,
dan pada saat yang sama untuk memberi cinta kasih,
dimulai dengan diri kita sendiri.
Kita harus berteman dengan diri kita sendiri.
Dan dari sana juga lalu kepada semua makhluk lain.
Jadi,
di sini kita punya tiga pertanyaan
yang membahas emosi-emosi negatif.
Tentang tidak memiliki emosi negatif,
dan bagaimana aku bisa mentransformasi kemarahanku dari masa lalu
ketika aku masih merasakannya di dalam diriku?
Jadi,
seperti yang saya bilang,
dalam semua mazhab Buddhis,
salah satu faktor utama,
selain kembali ke pengenalan
akan sifat sejati kita,
tugas yang lain
adalah bagaimana menghadapi emosi-emosi negatif,
dan terutama keserakahan dan nafsu keinginan,
dan kemarahan dan penolakan,
dan lalu ketidaktahuan mendasar yang melandasi semuanya,
karena kita tak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.
Jadi,
ada banyak tingkat berbeda
tentang bagaimana menghadapi emosi-emosi negatif,
dan ini pokok bahasan yang besar.
Bacalah sebuah buku tentangnya.
Tetapi bagaimanapun,
secara umum,
kemarahan, misalnya,
karena itu adalah sebuah penderitaan,
sifat samsara yang tak memuaskan,
disebabkan oleh pikiran yang melekat, menggenggam.
Ia tak disebabkan oleh pikiran kemarahan.
Jadi,
pikiran kita yang melekat, menggenggam
sangat dalam di dalam jiwa kita,
tetapi karena ia sering di dalam pikiran kita
diasosiasikan dengan kesenangan,
karena itu orang tak ingin menyingkirkan itu,
meskipun itulah penyebab sejati dari masalahnya.
Tetapi kemarahan,
orang tak menyukai kemarahan
karena kemarahan membuat kita merasa buruk,
dan lalu orang tak menyukai kita,
dan lalu kita masuk ke dalam konflik,
dan ia tak membuat kita merasa nyaman.
Jadi,
orang selalu tertarik
bagaimana menyingkirkan kemarahan
di antara semua emosi negatif.
Jadi, ada berbagai cara,
tetapi satu hal yang tak akan kita lakukan
adalah menekan.
Jadi, karena itu,
kalau suatu situasi muncul,
seseorang bisa mengelola itu,
untuk duduk dengan tenang,
yang membangkitkan rasa geram
dan marah.
Selagi kita duduk dengan tenang,
sekadar munculkan sebuah kenangan
yang membangkitkan rasa marah,
dan pandanglah ia.
Dan lalu pandanglah ia lurus-lurus.
Bagaimana rasanya?
Bagaimana ia?
Seperti apa rupanya?
Sekadar tak bereaksi terhadapnya,
tetapi sungguh-sungguh mengetahuinya,
bagaimana rasanya di dalam tubuh,
di mana ia di dalam tubuh?
Apa perasaan di dalam pikiran?
Bagaimana rasanya?
Ketahuilah ia.
Sungguh-sungguh pandanglah lurus ke dalamnya
tanpa takut.
Perasaan itu sesungguhnya seperti awan
hitam tebal dengan kilat,
tetapi kalau kita terus memandangnya,
pada akhirnya ia akan larut.
Dan kita akan menyadari bahwa
ia sesungguhnya sangat tak berwujud.
Ia sangat kosong.
Ia sangat kosong
dalam istilah Buddhis.
Ia shunya.
Ia bukan sebuah benda.
Ia bukan aku.
Ia bukan milikku.
Kalau kita bisa menatapnya secara telanjang,
pada dirinya sendiri,
ia akan bertransformasi.
Jadi itulah cara terbaik untuk menghadapinya.
Kalau kita tak bisa mengelola itu,
maka hal berikutnya yang harus dilakukan
adalah
berusaha memupuk welas asih
dan cinta kasih
kepada objek dari apa pun
perasaan itu tadi.
Kebalikan dari kemarahan, jelas,
adalah bukan-kemarahan.
Jadi karena itu,
Buddha menganjurkan cinta kasih.
Ketika kita berlatih cinta kasih,
kita mulai dengan cinta kasih kepada diri kita sendiri.
Ini sangat, sangat penting.
Ini bukan sekadar sesuatu yang "new age".
Buddha sendiri berkata,
pertama, kita harus berteman dengan diri kita sendiri.
Banyak dari kemarahan kita terhadap orang lain
adalah karena kita tak berdamai dengan diri kita sendiri.
Kita berkonflik dengan diri kita sendiri.
Karena kita berkonflik dengan diri kita sendiri,
dan kita tak menerima diri kita sendiri,
dan kita tak berteman dengan diri kita sendiri,
karena itu,
kita seperti sebuah gendang yang kencang,
yang apa pun memukulnya,
ia menghasilkan suara yang keras.
Karena di dalam batin,
kita punya ketegangan itu
dalam hal
hubungan kita sendiri dengan diri kita sendiri.
Jadi,
pertama,
kita harus menyembuhkan itu.
Kita harus menyembuhkan.
Dan jadi,
karena itu,
Buddha berkata,
pertama,
kita mulai dengan memberi cinta kasih
dan welas asih kepada diri kita sendiri,
mengharapkan diri kita sendiri baik,
membayangkan betapa luar biasanya
kalau kita memang merasa bahagia.
Kalau kita bebas dari penderitaan.
Dan untuk memaafkan diri kita sendiri.
Maksud saya, kita semua punya kekurangan.
Kalau kita tak punya kekurangan,
kalau kita tak punya kekurangan,
kita tak akan membutuhkan Dharma.
Jadi,
ya, kita semua punya kekurangan,
tak masalah.
Itu bukan masalahnya.
Masalahnya hanya kalau kita,
kalau kita tak menerima kenyataan
bahwa kita punya kekurangan,
dan bahwa kita tak menyukai diri kita sendiri
karena kita punya kekurangan.
Tetapi kalau kita menerima kenyataan bahwa
setiap orang punya masalah,
oke, jadi kenapa?
Dan meskipun demikian,
kita mulai mengoleskan balsam
pada luka-luka
sehingga mereka sembuh.
Lalu,
atau kita bisa memikirkannya seperti,
tahu kan,
seperti sebuah kendi di dalam
dan kita mengisinya
dengan nektar,
dengan amrita.
Lalu,
kita bisa memberi kepada diri kita sendiri
dan kepada orang lain.
Tetapi kalau di dalam kita kosong,
atau kita berkonflik dengan diri kita sendiri,
maka apa yang orang lain lakukan
menjadi diperbesar.
Dan kita menjadi begitu kesal dan marah,
dan lalu juga kita tak bisa memaafkan,
dan seterusnya.
Tetapi inti dari persoalannya
adalah bahwa kita tak berdamai
di dalam diri kita sendiri.
Jadi pertama kita harus berdamai
di dalam diri kita sendiri.
Dan jadi inilah mengapa
dalam praktik metta,
atau maitri,
dan karuna, welas asih,
kita mulai dengan diri kita sendiri.
Lalu dari sana,
kepada mereka yang kita cintai,
kepada mereka yang kita rasa acuh tak acuh,
lalu kepada orang-orang
yang menyentuh luka-luka kita sendiri,
lalu kita bisa
dengan cukup mudah
terbuka kepada semua yang lain.
Jadi emosi-emosi negatif kita,
ketika mereka muncul,
kita menyadarinya,
kita menerimanya,
dan lalu kita melihat bagaimana
pada saat itu
kita bisa mentransformasikannya.
Tetapi kemudian kita bisa melakukan praktik-praktik
khusus untuk apa pun
yang menjadi masalah khusus kita,
yang menjadi
emosi negatif khusus kita.
Maksud saya, mereka berbeda-beda,
emosi-emosi negatif
punya praktik-praktik berbeda
untuk menolong, seperti kecemburuan.
Maka kita berlatih
bersukacita atas kebahagiaan
orang lain, dan seterusnya.
Jadi penyebab dari emosi-emosi negatif kita
adalah ego kita.
Sekadar berkata,
nah kalau begitu aku tak akan punya ego,
tak akan menolong.
Betul, ego memutuskan
ia akan menjadi tanpa-ego.
Itu tak akan menolong.
Tetapi yang bisa menolong
adalah pertama kita menyembuhkan
rasa diri kita.
Buddhisme selalu berbicara
tentang tanpa-diri (anatta),
tetapi itu tak berarti
bahwa kita tak ada.
Ia berarti bahwa kita ada
pada tingkat yang jauh lebih dalam
daripada yang biasanya kita pahami.
Tetapi pada tingkat konvensional,
pertama kita harus
menyembuhkan rasa ego.
(Barulah rasa diri itu bisa) berjalan
di jalan (Dharma)
menuju pelarutan ego.
Kita tak bisa berjalan di jalan itu
kalau rasa diri itu
retak, lemah, terluka.
Ia harus sehat.
Tetapi ego itulah
yang menciptakan
emosi-emosi negatif ini.
Keserakahan terhadap
apa yang menyenangkan ini,
penolakan terhadap
apa yang tak menyenangkan,
semua berdasar pada
ketidakmampuan mendasar kita melihat segala sesuatu
sebagaimana adanya,
ketidaktahuan kita.
Jadi kalau kita bisa mencabut ketidaktahuan,
maka secara otomatis
emosi-emosi negatif larut.
Semuanya berdasar pada ego.
Sementara itu,
kita bisa menggunakan metode paliatif
berupa rasa cukup
dan kedermawanan
dan pelepasan untuk keserakahan
dan cinta kasih
dan praktik-praktik welas asih
untuk kemarahan dan seterusnya seperti itu.
Tetapi itu tak akan sepenuhnya mencabut semua itu.
Hanya wawasan yang sangat dalam
ke dalam sifat
tanpa-ego
dan sifat sejati pikiran
yang akan benar-benar sepenuhnya mencabut
emosi-emosi negatif kita.
Tetapi kita bisa, tahu kan,
menguranginya sementara itu.
Meskipun ada semua keuntungan
yang ditawarkan kehidupan perumah tangga,
bukankah kehidupan kebiaraan
esensial
dan krusial untuk pembebasan?
Tidak.
Ia membantu.
Ia membantu sejauh,
tentu saja,
ada lebih sedikit gangguan
dan sebagian besar waktu
dibaktikan untuk belajar
dan praktik dan seterusnya.
Tetapi pada dirinya sendiri,
pikiranlah
yang terbebaskan.
Jadi kita bisa mengenakan jubah kebiaraan
dan memiliki pikiran yang luar biasa
tak kebiaraan (duniawi),
saya katakan kepada Anda.
Atau seseorang bisa berada dalam rumah tangga
dengan, tahu kan,
sebuah keluarga dan tempat kerja
dan memiliki pikiran yang sangat, sangat spiritual.
Pikiranlah yang terbebaskan.
Jadi, ya, memang sangat, tahu kan,
para biarawan/wati seperti kaum profesional.
Tetapi meskipun demikian, maksud saya,
hanya karena orang mengenakan jubah
dan berkepala gundul
dalam segala keadaan,
itu (tak otomatis berarti) pikiran yang sangat kuat.
Dan tentu saja,
banyak dari para guru terbesar,
pastinya dalam tradisi Tibet,
tetapi juga dalam tradisi Jepang
dan Tiongkok,
menikah dan punya keluarga.
Mereka tak pergi ke kantor setiap hari.
Tetapi meskipun demikian, mereka punya kehidupan yang cukup,
tahu kan, sibuk.
Banyak dari mereka seperti tabib herbal
atau, tahu kan, punya banyak pelayanan
bagi masyarakat.
Tetapi mereka meskipun demikian
adalah guru-guru yang sangat agung,
meskipun mereka punya keluarga.
Jadi, tahu kan, hal yang penting
adalah tak terganggu.
Dan kehidupan rumah tangga
bisa mengganggu.
Ini masalah utamanya.
Tetapi kehidupan kebiaraan
bisa mengganggu juga.
Tahu kan, pikiranlah
yang terganggu.
Jadi, saya memang berpikir sebagai perumah tangga,
sangat membantu untuk,
dari waktu ke waktu,
melakukan retret-retret pendek.
Itu semacam mengisi ulang baterai
dalam perangkat Anda, betul kan?
Tetapi Anda tak menghabiskan seluruh waktu Anda
dalam keadaan diisi ulang.
Anda harus pergi dan menggunakan perangkat Anda.
Tahu kan, Anda menggunakan komputer Anda.
Itulah mengapa Anda mengisinya ulang.
Jadi, tahu kan,
kalau seseorang bisa menjaga pikiran
yang cukup, tahu kan,
terfokus dan jernih dan berhati baik
di tengah, tahu kan,
kehidupan rumah tangga
dan hiruk-pikuk dan kekacauan
kehidupan kota,
meskipun semua itu,
seseorang kurang lebih bisa
menjaga pikirannya terfokus pada apa (yang penting),
maksud saya, itu, tahu kan,
contoh tradisionalnya
adalah teratai yang mekar di lumpur.
Betul kan?
Nah, teratai membutuhkan lumpur.
Dan lalu itu, tahu kan,
di dalam lumpur keberadaan samsara,
kalau dari sana Anda bisa, tahu kan,
muncul sebagai teratai,
maka itu akan luar biasa.
Jadi, maksud saya, ya, tahu kan,
saya tak mengatakan ada sesuatu yang salah
dengan kehidupan kebiaraan, jelas,
tetapi meskipun demikian, jangan berpikir,
oh, nah, tahu kan,
kehidupan ini, tahu kan,
aku akan melakukan saja apa yang kulakukan,
tetapi, tahu kan,
aku akan berdoa keras untuk kembali
dan menjadi biarawan di kehidupanku berikutnya.
Itu bukan, bukan, tidak.
Sekarang juga, apa pun situasi Anda,
itulah situasi yang sempurna
untuk berlatih.
Bagaimana Anda mengerjakan diri Anda
kalau Anda menerima diri Anda?
Nah, Anda harus menerima diri Anda.
Maksud saya, kita adalah diri kita apa adanya.
Dan sekarang, terimalah diri Anda.
Menerima kita berarti bahwa kita menerima,
nah, ini kelemahan
dan ini kekuatan.
Ini seperti, tahu kan,
kalau Anda pergi ke, tahu kan,
sebuah gimnasium dan Anda harus menerima,
nah, tahu kan,
otot-otot Anda kendur,
tetapi Anda akan mengerjakannya,
tahu kan, seperti melakukan latihan
dan menjadi kuat.
Maksud saya, kalau kita tak mau mengakui
bahwa kita, tahu kan, kendur,
maka kita tak akan sampai ke mana-mana.
Itu karena kita menyadari.
Maksud saya, jadi tentu saja,
kita tak marah kepada diri kita sendiri
atau berpura-pura tidak, tahu kan,
bahwa kita, tak ada masalah.
Kita menerima bahwa ada masalah-masalah.
Tentu saja, itulah mengapa kita membutuhkan sebuah jalan.
Tahu kan, maksud saya,
tetapi tak ada masalah dengan itu.
Ya, oke, aku punya masalah dengan temperamenku.
Ya, aku punya masalah dengan menjadi serakah.
Ya, aku punya masalah dengan ini atau itu.
Nah, itulah yang akan kukerjakan.
Seperti pergi ke gimnasium dan berkata,
nah, tahu kan,
tahu kan, lengan Anda sungguh kendur, betul kan?
Anda naik ke mesin, tahu kan.
Lalu Anda mendapat lengan yang sangat kuat, bukan?
Jadi ia seperti itu.
Sering saya mendapati diri saya mencari-cari alasan
untuk menghindari bertemu teman untuk mengobrol santai.
Dan saya selalu bertanya-tanya
apakah saya tak murah hati dengan waktu saya.
Nah, tahu kan, salah satu kekurangan dalam ucapan,
selain berbohong dan ucapan kasar
dan ucapan yang memecah belah,
adalah terlalu terhanyut dalam obrolan
atau semacam ucapan sia-sia,
yang sungguh tak mengarah ke banyak hal.
Inilah mengapa Buddha menganjurkan
agar kita punya teman-teman yang baik,
maksudnya orang-orang yang berbagi minat dasar
dan tertarik pada jenis hal-hal
yang kita minati,
karena lalu itu mendorong kita.
Tahu kan, kita bisa bertemu bersama
dan berbincang tentang hal-hal yang...
Sedangkan sebaliknya, sekadar berkumpul dengan teman-teman
yang hanya ingin berbincang tentang hal-hal duniawi
mengisi pikiran kita dengan pikiran-pikiran duniawi.
Maksud saya, kita punya permata pikiran
yang sangat berharga ini,
dan kita seharusnya sangat berhati-hati dengannya.
Maksud saya, tahu kan, sungguh,
sambil berbicara kepada diri saya sendiri,
maksud saya, kita seharusnya sungguh berhati-hati.
Anda semua punya rumah atau apartemen
atau kamar tempat Anda tinggal,
dan kamar-kamar itu Anda jaga sangat bersih.
Maksud saya, Anda menyapunya setiap hari,
Anda membersihkan debu, dan, tahu kan,
kita, tahu kan, kalau kita berusaha menghiasnya
seindah mungkin,
menjadikannya tempat tinggal yang menyenangkan.
Tetapi ia hanya sebuah kamar.
Jadi lalu,
kita punya sebuah tubuh.
Dan setiap hari kita mandi
dan kita menjaga tubuh kita bersih,
kita berusaha makan jenis makanan yang tepat,
mungkin kita berusaha melakukan jenis olahraga yang tepat,
dan, sekali lagi,
ia hanya tubuh.
Kita akan meninggalkannya di belakang.
Apa yang kita bawa serta
dan darinya kita tak pernah bisa terpisah?
Pikiran.
Tetapi seberapa banyak kita membersihkan pikiran kita?
Menyapunya, membersihkan debunya,
menjadikannya tempat yang indah untuk didiami,
menghiasnya dengan indah
sehingga kita merasa nyaman,
kita merasa seperti di rumah.
Inilah intinya.
Satu tempat yang darinya kita tak pernah bisa lolos
adalah pikiran kita sendiri.
Ia hal paling berharga yang kita miliki.
Jadi mengapa kita terus-menerus
mengisinya
dengan barang rongsokan,
sampah?
Maksud saya, bahkan di rumah kita, kita membuang sampah.
Setiap hari kita membersihkan tubuh kita.
Bagaimana dengan pikiran?
Seberapa banyak kita membersihkan pikiran?
Seberapa banyak kita membuang barang rongsokan?
Seberapa banyak yang kita bawa masuk
yang mengisi pikiran kita dengan segala macam hal yang tak berguna?
Termasuk percakapan.
Jadi kita seharusnya berhati-hati
karena di sinilah kita berdiam
dan pikiran,
kesadaran kita,
akan terus berlanjut.
Pada saat kematian kita meninggalkan rumah kita,
kita meninggalkan semua harta benda kita,
kita meninggalkan semua keluarga dan teman kita,
kita meninggalkan tubuh kita.
Tetapi satu hal yang kita bawa serta,
nah, dua hal.
Satu adalah kehidupan kita saat ini.
Karma kita dan kesadaran kita.
Dan kecenderungan-kecenderungan kebiasaan kita
yang telah kita kembangkan dalam kehidupan ini.
Jadi kita seharusnya berhati-hati.
Karena satu tempat yang darinya kita tak bisa lolos
adalah pikiran kita sendiri.
Jadi mengapa tak menjadikannya sesuatu
yang merupakan tempat menyenangkan untuk didiami?
Dan sebagai manusia,
kita punya bahasa.
Kita punya kemampuan untuk berkomunikasi
melalui bahasa.
Jadi karena itu kita seharusnya juga sangat berhati-hati.
Bukan hanya apa yang kita katakan,
tetapi apa yang kita dengarkan.
Dan sekadar membuang-buang waktu kita
hanya bergosip dan, tahu kan,
sekadar menggunakan bahasa untuk mengalihkan pikiran,
itu tak berguna.
Jadi tolong carilah teman-teman yang baik.
Teman-teman yang dengannya Anda bisa duduk dan berbincang tentang hal-hal
yang sungguh punya makna tertentu,
yang akan mengilhami praktik Anda,
dan yang, tentu saja, bisa menyenangkan.
Tak ada yang salah dengan bersenang-senang
dan tertawa dan menikmati.
Tetapi meskipun demikian,
bukan sekadar obrolan sia-sia yang tak berguna.
Karena kita bisa menghabiskan seluruh hidup kita
mendengarkan obrolan sia-sia.
Nyalakan saja televisi.
Banyak sekali obrolan sia-sia.
Maksud saya, seberapa sering Anda mendengar seseorang mengatakan sesuatu
yang sungguh layak didengarkan?
Jadi berhati-hatilah.
Kita semua seharusnya jauh lebih berhati-hati.
Apakah praktik itu jalannya
atau kebijaksanaan jalannya?
Nah, praktik adalah jalan
yang menuntun ke kebijaksanaan.
Jelas.
Itulah mengapa kita berlatih.
Untuk memperoleh kebijaksanaan.
Kebijaksanaan berarti melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sesungguhnya
dan bukan sebagaimana ia diproyeksikan
oleh kesadaran kita yang terdistorsi.
Kita tak akan membahas itu di sini,
tetapi faktanya adalah bahwa sebagian besar dari apa yang kita alami
berdasar pada ketidaktahuan kita.
Jadi kita perlu kembali ke keadaan mengetahui,
pengetahuan yang murni.
Itulah kebijaksanaan.
Untuk itu kita membutuhkan praktik.
Kita terlahir, kita mencintai,
kita menjalin hubungan,
kita menghasilkan uang, rumah,
kita membuat bayi, karier,
dan mati suatu hari.
Sepanjang hidup kita terus-menerus bekerja.
Mengapa kita harus mengerahkan upaya sadar
untuk melakukan semua ini
kalau kita tahu akhirnya?
Nah, karena
kalau kita melakukan semua ini dengan kesadaran,
maka kita sedang belajar untuk kembali
ke sifat dasar kita.
Maksud saya, di sinilah kita terjebak dalam samsara.
Nah, sekadar berkata,
nah, tahu kan,
di sinilah kita terjebak dalam samsara.
Nah, sekadar berkata,
nah, tahu kan,
di sinilah kita terjebak dalam samsara.
Nah, di sinilah aku dalam samsara.
Aku tak ingin berada dalam samsara.
Itu tak akan mengakhiri samsara.
Maksud saya, di sinilah kita.
Berputar dan berputar dan berputar
di atas roda.
Maka hal terbaik yang bisa dilakukan
adalah menerima bahwa kita sedang melakukan
semua hal ini dalam hidup kita
dan kita bisa melakukannya dengan motivasi yang baik
atau dengan motivasi yang buruk.
Maksud saya, itu terserah kita.
Maksud saya, kalau tidak, apa yang akan kita lakukan?
Entah kita membunuh diri kita sendiri,
yang tampaknya tak begitu berguna,
atau kita sekadar duduk di sana
dan berharap hidup akan berlalu dengan cepat.
dan berharap hidup akan berlalu dengan cepat.
Kita harus bertindak.
Dan semua hal ini
pada dirinya sendiri tidaklah salah.
Maksud saya,
kita terlahir.
Nah, di sinilah kita.
Kita mencintai.
Kita menjalin hubungan.
Ini semua baik.
Kita menghasilkan uang karena kita perlu hidup.
Kita punya rumah karena kita perlu tinggal di suatu tempat.
Kita punya bayi karena kalau tidak
kita akan kehabisan orang.
Mungkin itu hal yang baik.
Kita punya karier dan kita mati suatu hari.
Nah, itu tak apa-apa.
Jadi, intinya adalah
bahwa entah kita bisa melakukan ini dengan kesadaran
atau kita bisa melakukan ini tanpa kesadaran.
Dan itulah intinya.
Entah kita bisa melakukan ini untuk memupuk
kualitas-kualitas hati
yang dibutuhkan
untuk kembali ke sifat sejati kita
atau kita sekadar membuang-buang waktu kita.
Pada dirinya sendiri
hal-hal ini tidaklah baik atau buruk,
ia bergantung pada apa yang kita lakukan dengannya.
Maksud saya, tahu kan,
bukan berarti, tahu kan,
memiliki karier
dan memiliki keluarga
dan bekerja
pada dirinya sendiri itu baik atau buruk.
Tetapi kalau kita sepenuhnya terganggu
sepanjang waktu
atau kita mengira bahwa hal-hal ini
adalah segalanya dan akhir dari hidup,
maka
kita sekadar menjadi bagian dari proses itu.
Ia akan terus berlanjut dan berlanjut dan berlanjut
kehidupan demi kehidupan.
Kalau kita meskipun demikian
menggunakan semua kualitas ini
untuk mengembangkan jalan (Dharma) —
tempat kerja kita, keluarga kita,
anak-anak kita —
maka
maka semuanya
menuntun
ke
pencerahan akhir kita.
Itu terserah kita
seberapa terganggu kita menjadi,
seberapa terpuruk kita menjadi oleh semua hal ini,
atau apakah kita menggunakannya untuk memupuk
kualitas-kualitas batin
atau apakah kita menggunakannya untuk memupuk kualitas-kualitas batin
yang kita butuhkan
untuk pencerahan.
Untuk mencapai pencerahan
kita membutuhkan kualitas-kualitas
seperti cinta kasih dan welas asih
dan kesabaran dan seterusnya.
Untuk itu kita membutuhkan orang lain.
Kita membutuhkan tantangan-tantangan kehidupan
untuk berkembang
dan seperti yang saya bilang untuk menjadi dewasa.
Kita semua berusaha menjadi matang,
untuk akhirnya menjadi orang dewasa.
Dan untuk itu kita membutuhkan
semua hal ini.
Tahu kan, lingkaran tak berujung ini —
bagaimana keluar.
Bagaimana kita seharusnya bersikap dengan orang-orang yang toksik
dalam hidup kita?
Beri mereka banyak cinta.
Tonglen —
tahu kan, meditasi ini
di mana Anda menarik masuk kegelapan
dan Anda memancarkan cahaya keluar,
itu sangat berguna dengan orang-orang toksik.
Ia mengubah racun menjadi amrita,
menjadi nektar.
Tanpa orang-orang toksik
bagaimana kita akan sungguh-sungguh belajar
cinta kasih
dan welas asih?
Kalau kita hanya punya cinta kasih
dan welas asih kepada orang-orang yang baik,
maka siapa pun
bisa punya itu.
Tantangan yang sebenarnya
adalah untuk punya
cinta kasih dan welas asih
kepada orang-orang yang benar-benar
menyebalkan.
Kalau tidak bagaimana cinta kita bisa tanpa syarat?
Dan cinta yang sejati
adalah tanpa syarat.
Ia bukan soal
apakah orang itu orang yang baik
atau bukan orang yang baik.
Itu tak berarti kita membenarkan
ketoksikan mereka.
Itu tak berarti kita berkata itu tak apa-apa.
Itu tidak baik.
Dan mereka sedang membuat karma buruk.
Jadi kita bisa punya welas asih.
Maksud saya, saya kira kalau Anda,
kalau kita sungguh berjumpa dengan seseorang
yang sangat, sangat sungguh sulit,
kita bisa berpikir,
apakah aku mau (memiliki) pikiran mereka?
Dan kita pasti akan berkata,
oh tidak.
Dan jadi kita bisa merasakan welas asih.
Tetapi terpenjara dalam sebuah pikiran
yang melakukan hal-hal ini,
mengatakan hal-hal ini,
betapa menyedihkan.
Seseorang yang hatinya sungguh-sungguh damai
tak menciptakan
masalah bagi orang lain.
Jadi kalau mereka memang menciptakan masalah
itu karena
di dalam batin
mereka tak damai.
Jadi lalu
tanpa membenarkan apa yang mereka lakukan
kita meskipun demikian bisa merasakan welas asih
dan cinta yang sejati.
Untuk semua makhluk.
Seperti yang saya bilang, matahari bersinar pada semua orang.
Ia tak membeda-bedakan.
Di tempat kerja saya berhadapan
setiap hari dengan para pelamar
yang berbohong, menipu, tidak jujur,
dan (saya) menerapkan Dharma.
Saya tahu bahwa mereka menginginkan kebahagiaan dalam hidup mereka
dan itulah mengapa mereka melakukan tindakan-tindakan ini.
Saya seharusnya menolong mereka.
Namun secara praktis itu salah
dan saya seharusnya tak menolong mereka.
Apa yang harus saya lakukan?
Nah, seperti yang saya bilang,
kenyataan bahwa kita punya kesabaran
dan welas asih terhadap perbuatan salah
tak berarti bahwa kita membenarkannya
atau bahwa kita naif.
Pertama-tama, kalau seseorang melakukan
sesuatu yang salah dan kita membiarkan mereka
melakukannya hanya karena kita berusaha
menjadi praktisi spiritual yang baik,
mungkin itu
tidak baik bagi mereka.
Betul kan? Karena lalu
mereka mengira mereka bisa lolos dari apa pun.
Jadi di satu sisi
kita harus punya
penglihatan yang jernih. Kita harus punya
sedikit kebijaksanaan di sini.
Welas asih berjalan bersama kebijaksanaan
dan kebijaksanaan berarti melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sesungguhnya.
Jadi
kalau kita melihat bahwa orang
berbohong dan menipu dan melakukan hal-hal ini,
itu tak berarti kita begitu saja membiarkan mereka
lolos dari itu.
Tetapi meskipun demikian,
kalau kita bisa mencegahnya atau menangani
situasi itu,
tetapi tanpa dasar
kemarahan
atau keinginan untuk
tahu kan,
intinya adalah,
Buddha berkata
karma
adalah kehendak (niat).
Jadi intinya adalah
bukan bagaimana kita bertindak
melainkan
motivasi dasar
atau niat di balik tindakan itu.
Jadi kita bisa sangat tajam
tetapi kalau niatnya
adalah untuk menolong yang lain
atau muncul
dari melihat bahwa membiarkan
orang itu lolos dari itu
pada akhirnya akan menjadi
masalah bagi orang itu,
maka baik untuk bersikap tajam.
Apakah Anda mengerti?
Maksud saya misalnya
bodhisatwa
welas asih
Avalokiteshvara
ditampilkan
putih
dan memegang teratai
dan tersenyum dan tampak
seperti gambaran semua orang
tentang welas asih. Betul kan?
Manis dan tersenyum.
Tetapi aspek lain
dari
Avalokiteshvara
adalah Mahakala,
sang agung yang hitam.
Ia adalah
kepala dari semua pelindung,
para pelindung Dharma.
Ia sangat murka
tetapi esensinya adalah welas asih.
Ia makhluk yang sama
tetapi
kadang-kadang kita harus
tampil murka
atau keras
demi welas asih.
Tak berarti
bahwa kita
menyerah pada segala sesuatu
atau bahwa kita
tahu kan membiarkan apa pun
begitu saja.
Kalau kita melihat
seseorang yang melakukan sesuatu yang salah
yang menyakiti mereka
sekaligus orang lain.
Jadi
mengevaluasi situasinya,
maka
kita seharusnya memutuskan
bagaimana bertindak
dengan cara
yang akan menjaga integritas
dan pada saat yang sama
memberi manfaat bagi mereka.
Mungkin dengan
mencegah mereka
dari bertindak dengan cara
yang secara karma
akan sangat negatif bagi mereka
atau bahwa mereka di masa depan
akan terus melakukan tindakan-tindakan negatif ini.
Jadi itu tak berarti
bahwa kita harus menjadi lemah.
Maksud saya sesungguhnya
kesabaran dan welas asih
sangatlah kuat.
Ia bukan kelemahan.
Melainkan melihat situasinya
dengan sangat jernih
dan lalu memutuskan
apa cara terbaik
untuk menangani situasi itu.
Jadi kalau Anda berhadapan dalam
hidup Anda dengan orang-orang yang
berbohong, menipu,
dan tidak jujur dan seterusnya,
maka
Anda menerapkan Dharma dengan cara
yang akan membawa manfaat bagi mereka
pada akhirnya.
Bukan hanya saat ini.
Jadi seseorang bisa
sangat tegas.
Seperti orang tua.
Kalau orang tua hanya menuruti anak-anaknya
dan tahu kan
karena anak-anak itu,
kita tak ingin mereka tak bahagia
dan mereka nakal
dan berbohong dan menipu,
Anda akan memarahi anak-anak Anda.
Kalau Anda orang tua yang baik.
Anda tak akan berkata
oh tetapi kalau aku memarahi mereka
maka mereka akan tak bahagia
karena aku seharusnya penuh kasih.
Kalau Anda mencintai mereka maka Anda akan
mendisiplinkan mereka.
Kalau tidak Anda bukan orang tua yang baik.
Bagaimana mungkin?
Jadi kalau orang bersikap
kekanak-kanakan dalam
urusan mereka dengan
masyarakat,
maka seseorang harus
memperlakukan mereka seperti seseorang akan
memperlakukan anaknya sendiri.
Dengan welas asih
dan cinta tetapi dengan
ketegasan yang besar.
Tak membiarkan mereka begitu saja lolos dari apa pun.
Karena pada akhirnya
itu tak menolong mereka.
Jadi Dharma bukanlah menjadi lemah.
Dharma adalah melihat segala sesuatu dengan sangat jernih
dan bagaimana bertindak
dengan tepat.
Yang mungkin secara lahiriah tampak
sangat tegas.
Jadi sekali lagi di sini
ia bertanya bagaimana seseorang menghadapi ketika ditipu?
Nah persis. Anda tak membiarkan
orang lolos dari hal-hal itu.
Kalau mungkin.
Maksud saya menjadi welas asih tak berarti
bahwa Anda bodoh.
Dan itu tak berarti bahwa kita
naif.
Maksud saya kita harus melihat segala sesuatu
dengan sangat jernih.
Dan seperti yang saya bilang seperti dengan seorang anak,
kalau seorang anak mencuri
atau menipu Anda menghentikannya.
Tidak baik hati
kepada anak itu untuk membiarkan mereka
lolos dari jenis perilaku itu.
Anak itu mungkin sangat kesal
pada saat itu tetapi
pada akhirnya bagaimana lagi mereka bisa belajar?
Jadi
kalau seseorang menipu kita
atau sangat kasar maka kita harus
membela diri terhadap itu. Tetapi bukan dari
kemarahan dan ketakutan melainkan dari welas asih
yang sejati dan
kejernihan tentang bagaimana
merespons tindakan mereka
dengan cara yang akan
mencegah mereka menyebabkan lebih banyak kerugian.
Ya, Nak?
Anda mencintai mereka tetapi
itu seperti Anda akan mencintai seorang anak.
Anda mencintai anak Anda tetapi
kalau anak Anda menipu maka Anda
menghentikan anak itu dari melakukan itu.
Itu tak berarti Anda tak mencintai anak itu lagi.
Bukan begitu?
Tahu kan dan Anda juga
punya welas asih bahwa anak itu sampai
bertindak dengan cara seperti itu.
Jadi kalau seseorang bertindak dengan cara
yang menciptakan masalah
bagi Anda dengan cara ini,
maka Anda bisa mencegah itu atau Anda bisa
melakukan sesuatu tentangnya tetapi pada saat yang sama
bukan dari
sikap
kemarahan atau
dendam atau balas dendam
melainkan dari menyadari
bahwa mereka bertindak dengan cara itu karena
tahu kan mereka
tak melihat segala sesuatu
dengan jernih dan mereka bertindak
mungkin dari obsesi ego
mereka sendiri. Jadi lalu Anda merasa
kasihan kepada mereka tetapi Anda menghentikan mereka.
Atau kalau mereka sudah
melakukannya dan Anda tak bisa menghentikan mereka maka
bagaimanapun Anda sekadar memberi mereka banyak
welas asih dan cinta dan berharap bahwa mereka
akan sehat dan bahagia.
Itu tak berarti bahwa Anda
membenarkan apa yang mereka lakukan
tetapi
tahu kan kita bisa mencintai semua makhluk
bukan hanya karena mereka melakukan apa yang kita ingin
mereka lakukan.
Maksud saya betapa menyedihkan tahu kan kalau seseorang melakukan
hal-hal seperti itu mereka membuat karma yang sangat, sangat
negatif untuk diri mereka sendiri.
Itu sangat menyedihkan.
Maksud saya intinya adalah bahwa kita tak hanya mencintai orang
yang melakukan hal-hal yang kita ingin mereka lakukan.
Kita mencintai semua orang apa pun yang terjadi.
Tetapi itu tak berarti bahwa kita
setuju bahwa apa yang mereka lakukan itu benar.
Apakah Anda mengerti?
Ya?
Tak apa untuk berjalan pergi (menghindar)?
Atau setidaknya Anda bisa
menyadari bahwa inilah yang mereka lakukan
dan itu bukan hal yang benar untuk dilakukan
dan Anda sungguh menyesal bahwa mereka melakukannya
tetapi meskipun demikian
Anda tak ingin
balas dendam.
Tahu kan kalau mereka
meskipun demikian tahu kan
Anda mengharapkan mereka bebas dari penderitaan
dan bahagia.
Karena mereka makhluk hidup dan mereka
kacau seperti semua orang lain
dan bukankah itu menyedihkan?
Tahu kan?
Ya ampun tahu kan
kita membuat karma yang begitu mengerikan untuk diri kita sendiri
dan makhluk lain dan menciptakan begitu banyak
masalah dan kita
begitu kacau dan kita sekadar tak melihat
segala sesuatu dengan benar dan betapa menyedihkannya itu.
Dan kalau Anda memikirkan itu maka Anda
cukup mudah untuk merasakan
kehangatan terhadap mereka bahkan kalau mereka
tanpa harapan.
Tahu kan?
Jangan menyimpannya di hati Anda. Itulah intinya.
Karena kalau kita menyimpan dendam
di hati kita maka kita terluka,
kita menyakiti diri kita sendiri. Kita tak menyakiti mereka.
Kita menyakiti diri kita sendiri. Yang tak masuk akal.
Kita melakukan kepada
diri kita sendiri apa yang hanya musuh terburuk kita
yang akan mengharapkannya untuk kita.
Dan itu bodoh.
Jadi lepaskanlah. Biarkan ia pergi.
Jangan menyimpannya.
Itu tak berarti bahwa Anda
setuju bahwa itu hal yang baik. Itu bukan hal yang baik
tetapi Anda tak harus menyimpannya.
Tahu kan? Biarkan ia pergi.
Kita belajar dari segala sesuatu.
Sungguh, Sayang.
Biarkan ia pergi.
Anda harus menyelesaikan yang terakhir ini dan lalu selesai.
Oke? Anda menjadi sepenuhnya terlepas.
Yang saya dengar dari Anda adalah
bahwa apa yang Buddha katakan mirip dengan apa yang
Krishna katakan.
Apakah benar untuk menyimpulkan Krishna
dan Buddha adalah sebuah awatara
dari Wisnu? Tidak, tidak benar.
Sesungguhnya
pandangan
Krishna dalam Bhagavad Gita
sangat berbeda dari Dharma.
Tetapi kita tak akan membahasnya
di sini. Tetapi tentu saja
dari perspektif Buddhis
Buddha
bukanlah awatara dari Wisnu.
Tetapi di sisi lain kalau Anda ingin melihat
Wisnu sebagai
semacam realitas tertinggi,
maka Anda
bisa berkata bahwa kita semua adalah awatara
dari Wisnu. Karena
kita semua adalah
aspek-aspek
dari realitas tertinggi.
Jadi tahu kan dalam hal itu
Wisnu punya miliaran
awatara. Mengapa tidak?
Kita semua adalah awatara dengan satu atau lain cara.
Karena kita semua punya sifat Buddha
yang asali.
Maksud saya sepanjang sejarah makhluk-makhluk agung
telah terlahir ke dunia ini.
Dan karena kita
begitu terbenam dalam ketidaktahuan,
maka tahu kan mereka datang
dan mereka berusaha
membangunkan kita.
Dan lalu
tahu kan untuk sesaat semua orang
mulai bangun sedikit
dan lalu kita semua tertidur kembali lagi.
Dan jadi kita berharap
sekali lagi di masa depan
lebih banyak makhluk agung akan datang dan berusaha
mengguncang kita agar terbangun. Sangat sulit bagi kita
untuk bangun dari tidur
ketidaktahuan kita.
Dan di banyak bagian berbeda dari
dunia makhluk-makhluk agung telah muncul
dan sesuai dengan
budaya negeri-negeri itu mereka
telah tahu kan memberi
pesan pembebasan. Jadi
kita seharusnya sangat, sangat bersyukur akan itu.
Dan India tentu saja
secara khusus sangat kaya
dengan makhluk-makhluk yang sangat agung.
Yang telah terlahir kembali lagi
dan lagi sepanjang sejarah India.
Dan telah punya pengaruh
yang luar biasa
pada seluruh Asia.
Dan jadi Anda bisa sangat
bangga akan itu karena
dari negara mana pun di dunia,
tak ada yang telah menghasilkan lebih banyak makhluk yang tercerahkan
daripada India.
Dan jadi
itu hal yang luar biasa.
Dan maksud saya
saya kira bahwa meskipun segala sesuatu
yang sedang terjadi di India dan juga
di seluruh dunia,
India tetap memegang
pandangan itu
tentang sesuatu yang melampaui
keberadaan duniawi kita yang biasa.
Misalnya seperti yang Anda tahu
di (koran) Times of India mereka selalu punya
pohon kecil yang berbicara itu (kolom "Speaking Tree").
Jadi di tengah semua berita
tentang korupsi
dan pembunuhan dan pemerkosaan dan juga
setiap hari hal yang sama,
ada saja
paragraf-paragraf kecil
kewarasan
di tengah
samsara yang
sekadar ada di sana
untuk mengingatkan kita
apa yang sesungguhnya
apa itu kebenaran
di tengah semua omong kosong
samsara yang mereka beritakan ini.
Dan saya tak tahu
surat kabar lain di mana pun
yang melakukan itu.
Saya kira itu sangat khas India.
Sangat indah
bahwa
setiap hari sudah entah
berapa tahun sekarang
mereka terus menyajikan kembali dari semua
tradisi
cahaya
di tengah semua
kegelapan itu.
Jadi tahu kan
jadi Buddha terlahir,
memilih untuk terlahir di India,
Krishna memilih untuk terlahir di
India, Rama memilih untuk terlahir
di India dan
itu adalah bagian dari
warisan agung Anda
yang untuknya sungguh
kita seharusnya sangat, sangat bangga
karena itu adalah
kebijaksanaan sejati
yang mereka berikan
dan tahu kan
ini adalah sesuatu yang bahkan sampai hari ini
masih hidup
meskipun segala sesuatu
berlangsung di sekelilingnya.
Sifat sejati kita
selalu ada di sana.
Ia tak
berkurang atau bertambah,
ia selalu ada di sana tetapi kita harus
menemukannya. Ia tertutupi
dan jadi
semua makhluk agung ini
mereka sekadar menunjukkan,
lihat, lihatlah ke arah yang benar
dan kita akan melihat
ia karena ia selalu ada di sana
menunggu kita untuk menyingkapnya.
Contoh
tradisionalnya adalah tentang
seorang pengemis yang tinggal
di gubuk reyot,
di pondok kecil yang sangat miskin,
dan pergi keluar setiap hari
untuk mendapat beberapa paisa
dan sepanjang waktu di
bawah tanah gubuknya
ada harta karun besar ini. Ia sesungguhnya seorang
jutawan (crorepati). Ia sekadar tak tahu itu.
Dan jadi
ia mengira dirinya pengemis
tetapi sepanjang waktu ia sangat kaya raya
tetapi ia sekadar tak
mencari kekayaannya di tempat yang benar
dan jadi itu seperti kita —
kita mengira bahwa
kita begitu papa
dan karena itu kita berusaha mencari
di luar untuk kenyamanan
dan kekayaan dan kepuasan
dan sepanjang waktu
sifat terdalam kita
adalah kebahagiaan
dan cahaya yang total
dan cinta dan welas asih
dan kebijaksanaan
tetapi kita mencari ke arah
yang salah.
Jadi inilah cara-cara yang bermakna
untuk memupuk
kualitas-kualitas hati ini
dan pikiran
sehingga seperti yang saya bilang
ketika waktunya tiba
kita bisa mati tanpa penyesalan.
Terima kasih.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya