0:19 Jadi, selamat malam semuanya. Namaskar. Maaf, saya kira orang-orang di belakang tak bisa melihat apa pun.
0:29 Mohon maaf. Saya ingin berdiri, tetapi ada kamera yang menyorot saya, jadi saya tak bisa. Tetapi saya harap
0:37 Anda bisa mendengar saya. Bisakah Anda mendengar saya di belakang? Oke, itu cukup. Pejamkan saja mata Anda,
0:43 tidurlah, dan Anda akan mendengar suara ini terus berdengung.
0:49 Pokok bahasan ceramah malam ini adalah tentang bagaimana membawa terang, karena kita semua punya
1:11 kehidupan sehari-hari, betul kan? Kita semua punya kehidupan sehari-hari, dan sangat penting bahwa kita memadukan
1:20 kehidupan sehari-hari kita.
1:22 Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari.
1:22 (bagian rekaman berulang)
1:23 Kita semua punya kehidupan sehari-hari. Kita semua punya kehidupan sehari-hari.
1:24 Jadi, saya kira, sekali lagi, topik malam ini adalah tentang bagaimana membawa cahaya ke dalam
1:25 kehidupan sehari-hari kita. Dan sangat penting untuk melakukan ini dengan beberapa prinsip spiritual yang sejati.
1:26 Kadang-kadang dalam Buddhisme, setidaknya di negara-negara Buddhis, orang mengira pergi ke vihara
1:34 atau mengikuti kursus meditasi atau membaca buku atau melafalkan beberapa mantra, itulah Dharma,
1:46 dan lalu sisa hari itu adalah kegiatan duniawi sehari-hari.
1:50 Ini adalah filosofinya.
1:52 Juga, tentu saja, terutama dalam tradisi Tibet, kebanyakan buku dimulai dengan meyakinkan Anda
2:00 bahwa hal pertama yang harus Anda lakukan adalah melepaskan seluruh kehidupan duniawi Anda dan pergi tinggal
2:07 di puncak sebuah gunung.
2:10 Jadi itu memberi kesan bahwa untuk sungguh-sungguh berlatih, kita perlu melepaskan segalanya dan
2:22 pergi menjauh, dan bahwa kalau kita tetap dalam keluarga, kalau kita punya pekerjaan, kalau kita punya jabatan, kalau kita punya
2:29 kehidupan sosial, maka itu hanyalah banyak membuang-buang waktu, banyak kegiatan duniawi, dan tak ada
2:40 manfaatnya.
2:40 Jadi kalau kita berpikir seperti itu, maka jelas Dharma adalah pemborosan waktu.
2:50 Jadi itu, saya kira, adalah cara yang sangat keliru dalam memandang apa itu spiritualitas yang sejati —
3:00 bukan hanya Buddhisme, tetapi secara umum, jenis jalan spiritual apa pun punya, bagaimana saya mengatakannya, jalan
3:10 spiritual kita, apa itu Dharma?
3:13 Tahu kan, ia tak terpisah.
3:15 Ini — ketika kita melakukan hal-hal keagamaan, itulah Dharma, dan kehidupan sehari-hari adalah kegiatan duniawi,
3:21 dan lalu ada pemisahan besar ini.
3:24 Maka kita tak akan pernah bertransformasi, karena jumlah waktu yang bisa kita berikan untuk hal-hal yang secara ketat
3:33 dianggap sebagai kegiatan keagamaan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari kita begitu kecil.
3:39 Jadi, saya kira, itu cara yang sangat keliru dalam memandangnya.
3:39 Jadi, ceramah malam ini sesungguhnya tentang bagaimana menjadikan kehidupan sehari-hari kita sebuah praktik Dharma,
3:51 karena sangat penting untuk menyadari bahwa Buddhisme bukan hanya tentang mempelajari filsafat Buddhis
4:03 dan memahami konsep-konsep intelektual yang sulit.
4:11 Tidak.
4:11 Atau apakah ia hanya tentang melakukan retret meditasi formal, Vipassana, atau jenis
4:19 praktik lainnya? Itulah Dharma. Tempat kerja, menghadapi masalah-masalah kehidupan, itu bukan Dharma.
4:32 Maka ia tak akan berhasil. Kalau kita perhatikan bahkan dalam studi Buddhis tradisional, bukan hanya
4:39 mempelajari pemikiran-pemikiran filosofis, banyak sekali kualitas yang dibutuhkan, seperti, kalau kita ambil
5:15 contohnya, kedermawanan, perilaku etis, cinta kasih, welas asih, kesabaran, dan seterusnya. Semua
5:27 itu, kalau kita pikirkan, bukanlah (hanya urusan) Dharma (di vihara).
5:30 Semua itu membutuhkan orang lain. Semua itu menuntut bahwa kita sesungguhnya hidup di dalam masyarakat. Karena
5:40 kalau kita hanya sendirian dalam lingkungan meditasi yang sangat formal, maka kita bisa mengira
5:48 bahwa kita sangat baik dan sangat etis dan sangat sabar dan seterusnya, karena
5:57 lingkungan itu memang disiapkan untuk itu.
6:01 Tetapi bagaimana ketika kita pulang ke rumah? Sesungguhnya, keluarga kita adalah kesempatan yang luar biasa, sungguh luar biasa,
6:13 untuk mengembangkan semua kualitas hati ini, yang oleh jalan spiritual sejati mana pun kita didorong
6:21 untuk memupuknya. Keluarga kita adalah kesempatan yang luar biasa.
6:37 Sangat mudah bersikap ramah kepada orang-orang yang tak benar-benar kita kenal dengan baik. Kita bisa sangat
6:53 ramah bahkan kepada orang-orang yang kita jumpai sepintas di jalan. Tetapi orang-orang yang bersama mereka kita menghabiskan seluruh
7:00 waktu kita, merekalah yang bersamanya kita perlu sungguh-sungguh memupuk semua kualitas
7:07 hati ini. Jadi sejak awal, oke, mari
7:13 jadikan hari kita menjadi praktik Dharma kita. Sangat berguna di pagi hari untuk memulai dengan sesuatu
7:22 yang sangat... Yang Mulia Dalai Lama berkata bahwa hal pertama ketika Beliau bangun, pikiran pertama
7:30 Beliau adalah bahwa Beliau akan menghabiskan hari itu dengan menjadi manfaat bagi orang lain. Bahwa seluruh
7:38 hari
7:39 Beliau
7:39 akan
7:39 akan dibaktikan untuk membuat orang lain bahagia. Bahwa siapa pun yang Beliau jumpai, Beliau ingin mereka, hanya
7:49 dengan berjumpa dengan Beliau, menjadi sedikit lebih (baik), tahu kan, memberi sedikit sukacita kepada orang-orang. Dan tentu saja
7:56 inilah yang terjadi ketika orang berjumpa dengan seseorang seperti Yang Mulia. Maka meskipun itu
8:02 pertemuan yang sangat singkat, mereka merasa terangkat dan terinspirasi hanya dengan berjumpa dengan Beliau, karena niat Beliau
8:09 adalah demi yang lain. Jadi itulah pikiran pertama Beliau ketika bangun. Beliau tak bangun dan berpikir,
8:16 oh Tuhan, satu hari lagi — melainkan menjalani hidup demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Dan begitulah
8:36 kita bisa melakukan sesuatu seperti itu. Tahu kan, apa pun pikiran awal kita, pikiran berikutnya
8:43 bisa berupa: semoga aku menggunakan hari ini untuk menjadi manfaat bagi setiap orang yang kujumpai. Lalu kalau kita punya
8:52 kesempatan,
8:53 mari lakukan sedikit praktik hening. Sangat membantu hanya untuk menetapkan nada
9:04 hari itu dengan duduk bahkan selama lima menit, sepuluh menit, kalau kita tak punya waktu lebih.
9:12 Sekadar kesadaran yang hening. Misalnya, terhadap napas yang masuk, napas yang keluar. Sekadar
9:27 membawa pikiran kita dengan hening ke dalam diri kita. Dengan kemampuan hening untuk rileks dan sekadar sadar ini.
9:34 Bukan sadar terhadap sesuatu yang khusus, sekadar rasa keberadaan itu. Kalau Anda punya praktik
9:43 formal, seperti yang mungkin banyak dari Anda lakukan, dan Anda ingin sampai ke inti dari perasaan
9:51 yang Anda miliki saat ini, maka Anda perlu berlatih. Kita bisa belajar dari praktik itu
9:57 dengan sangat cepat.
9:58 Kalau memang (Anda) melakukannya, lakukanlah. Lama saya, Khamtrul Rinpoche, berkata kepada saya: selalu pertahankan praktikmu.
10:34 Lalu kalau kita punya lebih banyak waktu dan lebih banyak antusiasme, kita bisa melakukannya lebih lama. Tetapi tetap, inti itu
10:41 ada di sana dan ia tak berat. Dharma seharusnya seperti ragi dalam adonan yang berat. Anda tak butuh
10:52 banyak, tetapi yang Anda punya, ia meringankan seluruh adonan. Anda tak membuang adonannya.
11:02 Kita tak membuang kehidupan sehari-hari kita. Kita menggunakan kehidupan sehari-hari kita dan sekadar mencampurnya
11:09 dengan sedikit ragi untuk membuat keseluruhannya lebih ringan. Jadi praktik spiritual kita seharusnya
11:15 tak membuatnya lebih berat, lebih sulit. Ia seharusnya membuat segalanya jauh lebih ringan. Dan itulah
11:22 yang kita lakukan. Kita tak membuang kehidupan sehari-hari kita. Kita menggunakan kehidupan sehari-hari kita
11:29 untuk membuatnya lebih ringan. Jadi kita memulai hari dengan membawa masuk kesadaran. Dalam banyak hal, rahasia
11:47 memadukan kehidupan sehari-hari kita dengan Dharma adalah kehadiran. Begitu sering yang kita lakukan adalah sebuah tindakan
12:01 sementara pikiran kita sudah pergi ke tempat lain. Pikiran dan tubuh tak bersama. Jadi
12:06 proses membawa pikiran kita kembali ke apa yang sedang kita lakukan saat ini adalah sesuatu
12:12 yang tak memakan waktu, tetapi sepenuhnya mentransformasi hari kita. Semakin sadar kita,
12:26 semakin waspada kita, semakin hadir kita, pada saat yang sama, pikiran menjadi lebih jernih,
12:35 lebih penuh perhatian, dan kemampuan untuk sadar akan hari kita ini...
12:39 kemampuan untuk sadar bisa kita bawa ke dalam semua tindakan kita. Sesungguhnya kini, seperti yang banyak
12:47 dari Anda ketahui, para psikiater dan ilmuwan saraf dan sebagainya sangat
12:54 menganjurkan agar kita memupuk kemampuan untuk menjadi lebih penuh perhatian, lebih
13:00 sadar sepanjang hari kita, karena ini adalah cara untuk sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan kita.
13:08 Ini cara untuk sungguh-sungguh menolong kita melewati bahkan masa-masa yang sangat penuh tekanan, bahkan
13:16 masa-masa yang sangat sibuk tanpa merasa terbebani dan kelelahan. Ini cara untuk
13:24 menyegarkan kembali seluruh hari kita. Jadi hal pertama adalah berusaha untuk
13:30 belajar bagaimana memupuk kemampuan untuk menjadi lebih terjaga, lebih sadar, lebih
13:38 waspada, lebih penuh perhatian. Kalau kita tak pernah melakukan apa pun dalam hidup ini, kalau kita bisa belajar
13:46 sekadar untuk lebih hadir dan penuh perhatian dan pada saat yang sama lebih ramah, itu
13:52 sudah merupakan kehidupan yang luar biasa. Jadi kita akan membuat tekad bahwa
14:00 kita akan memupuk.
14:03 Kesadaran, kesadaran, kesadaran, kesadaran.
14:03 Kesadaran, kesadaran, kesadaran.
14:03 Kesadaran dan hati yang baik. Dan kita akan menggunakan segalanya. Kebaikan hati, apa
14:20 artinya? Kebaikan hati datang dari pemahaman bahwa sebagaimana aku jelas
14:34 lebih memilih bahagia daripada sengsara, semua makhluk lebih memilih bahagia daripada tak
14:46 bahagia.
14:46 Tahu kan, kalau Anda tinggal di sebuah kota, Anda sungguh bisa duduk dan memikirkan hal ini.
14:53 Karena mereka tak bahagia. Dan mungkin setiap orang punya masalah. Mungkin setiap
15:25 orang yang kita lihat punya kesulitan, punya tantangan. Semuanya akan
15:35 baik-baik saja seandainya saja.
15:38 Dan saya kira itulah kuncinya.
15:39 Tetapi selalu ada sebuah "seandainya saja".
15:41 Dan ketika kita menyadari itu dalam hidup kita sendiri, dan kita mengirim cinta dan welas asih kepada diri kita sendiri,
15:50 sebagaimana yang dianjurkan Buddha, tetapi lalu kita juga mengirimkannya ke luar kepada orang lain. Menyadari bahwa setiap
16:00 orang, bukan hanya manusia, tetapi hewan, serangga, apa pun, burung, ikan, setiap makhluk ingin
16:13 sedikit kebaikan hati.
16:14 Jadi kita bisa mengharapkan itu untuk mereka, kalau mungkin kita bisa menolong mereka. Kalau kita tak bisa menolong mereka secara fisik,
16:24 setidaknya kita bisa mengirim mereka harapan-harapan baik, dan setidaknya kita tak menyakiti mereka.
16:32 Jadi kita memulai hari dengan memupuk pikiran ini: semoga semua makhluk sehat dan bahagia, semoga semua
16:45 makhluk bebas dari penderitaan. Lalu kita bisa memulai hari dengan memupuk pikiran ini,
16:50 dengan memupuk pikiran ini: semoga semua makhluk sehat dan bahagia, semoga semua makhluk bebas
16:50 Setiap orang yang kita jumpai, entah itu seseorang yang sangat dekat dengan kita seperti
16:56 pasangan kita, anak-anak kita, orang tua kita, keluarga kita, tetangga kita, orang-orang, rekan
17:05 kerja, semua mereka adalah kesempatan kita untuk berlatih. Jadi setiap satu dari mereka,
17:23 entah mereka seseorang yang sangat dekat dengan kita, seseorang yang kita rasa cukup netral,
17:30 kita melihat mereka tetapi kita tak memikirkan mereka sebagai pribadi, sekadar sesuatu yang Anda lihat, atau seseorang
17:39 bahkan yang sangat sulit bagi kita, yang menciptakan masalah bagi kita yang tak begitu kita sukai,
17:45 semua orang ini adalah kesempatan kita untuk memupuk kedamaian batin.
17:54 Kualitas-kualitas batin dari hati. Misalnya, kualitas yang sangat penting yang kita butuhkan adalah
18:04 kualitas ketabahan atau kesabaran. Dan itu tak akan pernah bisa kita capai kalau semua yang
18:13 harus kita hadapi selalu manis dan ramah dan menyenangkan. Dan kita berpikir, oh aku sungguh
18:32 orang yang sangat menyenangkan, lihat aku selalu baik. Tetapi itu karena semua orang lain
18:37 baik. Dan itu bagus tentu saja, kita ingin orang bersikap baik. Tetapi meskipun demikian, alih-alih
19:08 menjadi kesal dan marah dan ingin membalas orang-orang ini dan menciptakan
19:19 masalah, kalau alih-alih itu, kita berpikir, oh orang ini luar biasa, mereka begitu menolong (praktikku),
19:30 lihat mereka begitu... (padahal) menyebalkan.
19:30 Betapa kesempatan yang luar biasa bagiku untuk berlatih kesabaran. Karena kesabaran adalah salah satu
19:39 kualitas yang dibutuhkan di jalan (Dharma). Ia salah satu paramita. Bagaimana aku bisa berlatih kalau semua orang baik,
20:11 polos — dan dalam situasi di mana orang berusaha menipu kita atau sungguh kasar (kepada kita), (bukan berarti) kita begitu saja
20:20 membiarkan mereka lolos. Tetapi bahkan kalau kita membela diri dan berusaha memperbaiki situasi
20:30 dengan terampil, itu tetap harus datang dari sikap pemahaman dan welas asih,
20:39 welas asih yang tanpa takut, alih-alih kemarahan atau ketakutan. Karena kalau kita merespons
20:50 kesulitan dengan menjadi marah dan defensif, maka itu hanya menciptakan lebih banyak lagi reaksi
21:00 dari pihak mereka, reaksi dari pihak kita — dan sikap yang dengannya kita mencegahnya seharusnya adalah sikap
21:31 kekuatan dan welas asih, bukan kemarahan dan emosi negatif. Ini sangat penting, ini
21:44 sekali lagi mengapa kesadaran, kesadaran, kesadaran seharusnya menjadi prioritas utama kita untuk menolong kita melewati
21:45 masa-masa sulit.
21:46 (kesadaran) sangat penting dalam kehidupan sehari-hari kita, karena kita seharusnya berusaha menjadi lebih sadar akan
21:54 apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Ketika kita berhadapan dengan orang, lalu emosi apa yang sedang
22:08 dibangkitkan? Dan kalau itu emosi negatif — semakin dini emosi negatif itu (kita tangkap),
22:37 semakin mudah menyingkirkannya, semakin mudah menghadapinya dan mentransformasikannya. Kalau kita tak menyadarinya sampai mereka sudah
22:42 jauh berkembang, maka sangat sulit untuk menarik diri kembali. Kita dikendalikan oleh pikiran kita.
23:10 Siapa pun yang pernah berusaha bermeditasi akan tahu — ketika (Shantideva) membandingkan pikiran kita dengan
23:32 gajah-gajah liar yang sedang mengamuk, ia mungkin cukup tepat.
23:39 Siapa pun yang pernah memandang pikirannya dan berusaha membawa pikirannya ke konsentrasi satu titik akan tahu bahwa mereka bahkan tidak
23:46 menjadi penguasa pikiran mereka sendiri. Kita hidup di dalam pikiran kita. Bahkan dalam tidur, kita tak bisa lolos
24:00 dari pikiran kita sendiri. Alasan mengapa, seperti yang kita tahu, dunia berada dalam keadaan yang begitu gila adalah
24:29 karena ia berada dalam kendali orang-orang yang mereka sendiri di luar kendali. Kita bahkan tak bisa
24:42 mengendalikan pikiran kita. Apalagi mengendalikan orang lain, mengendalikan seluruh negara?
24:51 Jadi karena itu, kehidupan sehari-hari kita seharusnya dibawa ke dalam lingkup upaya kita untuk sungguh-sungguh
25:07 mulai menjadi penguasa kesadaran mental kita sendiri.
25:14 Tetapi Anda tak bisa menghabiskan seluruh waktu Anda dalam retret. Dan hal yang penting adalah mengambil kehidupan sehari-hari
25:33 Anda dan menjadikan itu sebuah praktik.
25:36 Apa yang perlu kita latih? Kita perlu melatih kesadaran. Thich Nhat Hanh, yang adalah seorang guru besar
25:44 Vietnam, dalam kelompoknya, mereka punya apa yang disebut lonceng kesadaran (mindfulness bell), yaitu
25:52 lonceng kecil itu... tahu kan, Anda sedang melakukan apa pun saat ini...
25:55 Saat ini, apa yang sedang dilakukan tubuhku?
26:13 Bagaimana posturku?
26:15 Apa yang sedang terjadi dalam pikiran?
26:19 Apa yang sedang kupikirkan?
26:21 Apa perasaan-perasaannya?
26:23 Apa emosi-emosinya?
26:24 Saat ini, saya kira kini di ponsel pintar
26:31 ada aplikasi yang punya lonceng kesadaran
26:34 dan Anda bisa mengaturnya pada waktu-waktu acak
26:36 atau sekadar sekali setiap jam atau semacam itu.
26:38 Dan itu adalah cara berlatih
26:41 bagaimana membawa diri kita kembali ke saat ini.
26:46 Maksud saya, para guru besar berkata
26:48 kita seharusnya mengamati pikiran kita setiap saat,
26:50 tetapi kalau kita bahkan tak bisa mengamati pikiran kita
26:52 sekali atau dua kali sehari,
26:54 maka tak mungkin kita akan mengamati pikiran kita sepanjang hari.
26:58 Tetapi kita secara bertahap belajar,
27:00 sebanyak yang bisa kita ingat,
27:02 untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini
27:08 dan untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini
27:08 dan untuk membawa pikiran kita kembali ke saat ini.
27:08 Pada saat ini, apa yang sedang terjadi?
27:16 Bagaimana rasanya tubuh?
27:18 Bagaimana keadaan pikiran kita?
27:24 Dan selama hari itu,
27:26 kalau kita mendapati bahwa pikiran kita dalam keadaan negatif,
27:32 maka menyadari itu, menerimanya, dan mengubahnya.
27:38 Dan begitu juga semua orang yang kita jumpai sepanjang hari kita,
27:41 semua kegiatan yang menyita kita sepanjang hari,
27:46 semua ini adalah...
27:48 adalah kesempatan kita untuk memupuk kesadaran,
27:52 untuk memupuk kebaikan hati,
27:55 untuk memupuk welas asih,
27:58 kalau orang sedang mengalami masalah,
28:00 turut bersukacita,
28:03 kalau sesuatu yang baik terjadi pada seseorang,
28:07 dan bahkan kalau itu sesuatu yang kita inginkan untuk diri kita sendiri
28:11 dan itu diberikan kepada orang lain,
28:13 untuk bersukacita bagi mereka, bahwa mereka bahagia.
28:19 Dan...
28:20 Dan begitu murah hati.
28:30 Murah hati bukan hanya dalam...
28:51 Itu juga sebuah kedermawanan yang sangat penting,
28:56 yaitu sekadar hadir untuk seseorang.
28:58 Bahkan kalau kita tak bisa menyelesaikan masalah mereka,
29:01 kita tetap bisa memberi mereka perhatian kita,
29:04 dan kita bisa memberi mereka empati kita,
29:08 simpati kita.
29:10 Dekat dengan kita — keluarga kita atau teman atau rekan kerja atau orang asing,
29:39 setiap orang,
30:01 Yang Mulia Dalai Lama begitu dicintai
30:05 adalah karena Beliau punya kemampuan bahwa siapa pun yang Beliau jumpai,
30:10 bahkan kalau itu dalam sebuah antrean orang,
30:12 setiap orang yang Beliau jumpai,
30:14 Beliau mengakui keberadaan mereka.
30:18 Dan Beliau melihat, saya kira, sifat Buddha mereka.
30:22 Beliau melihat potensi mereka.
30:24 Beliau tak melihat topeng yang kita semua kenakan.
30:27 Beliau melihat pribadi sejati di baliknya.
30:30 Beliau melihat pribadi di balik topeng.
30:33 Inilah mengapa para politikus sering terlihat sangat kaku ketika mereka berjumpa dengan Beliau.
30:36 Tahu kan, mereka tak ingin Beliau memandang pribadi di balik topeng.
30:39 Betul kan?
30:40 Itu sangat mengancam.
30:44 Tetapi orang-orang biasa,
30:46 itu menggerakkan mereka sangat dalam,
30:48 karena mereka merasa bahwa Beliau melihat mereka
30:51 dan sepenuhnya menerima mereka.
30:54 Dengan cinta dan welas asih.
30:56 Beliau tak menghakimi mereka.
30:58 Beliau sekadar sepenuhnya...
31:01 Bahkan dalam sepersekian detik, mungkin,
31:03 Beliau bersama mereka.
31:05 Dan jadi orang sangat tergerak oleh itu.
31:08 Jadi kita bukan Dalai Lama,
31:10 tetapi kita tetap bisa menyadari
31:14 bahwa kita bisa memberi orang perhatian sebanyak itu.
31:19 Kita semua.
31:21 Setiap makhluk.
31:23 Buddha berkata,
31:25 ada sebuah kisah dalam sutra,
31:27 di mana sang raja,
31:29 saya kira itu Bimbisara,
31:31 sedang duduk di balkon bersama sang ratu.
31:34 Dan ia berkata kepadanya,
31:36 nah, aku sudah memikirkannya.
31:38 Dan tahu kan,
31:40 aku kira bahwa di seluruh dunia,
31:43 aku paling mencintai diriku sendiri.
31:46 Siapa yang paling kaucintai, sayangku?
31:50 Dan lalu ia berpikir,
31:55 dan lalu ia berkata,
31:56 ya, aku kira engkau benar.
31:57 Di seluruh dunia, aku paling mencintai diriku sendiri.
32:00 Yang saya kira bukan yang ia harapkan.
32:03 Tetapi bagaimanapun,
32:05 lalu mereka pergi menghadap Buddha.
32:07 Dan mereka berkata,
32:09 begini, kami sudah membahas ini,
32:11 dan kami menyadari bahwa di seluruh dunia,
32:13 kami paling mencintai diri kami sendiri.
32:15 Dan bagaimana menurut Anda?
32:17 Dan Buddha berkata,
32:19 ya.
32:21 Bagi setiap orang,
32:23 dirinya sendirilah yang paling ia sayangi.
32:26 Karena alasan itu,
32:28 kita seharusnya memberi cinta kasih kepada semua makhluk.
32:33 Karena bagi setiap orang,
32:36 dirinya sendirilah yang paling ia sayangi.
32:38 Jadi lalu mengapa tak mengakui itu?
32:41 Bahwa setiap orang sangat peka
32:45 terhadap kesejahteraannya sendiri
32:48 dan penderitaannya sendiri.
32:50 Dan kalau kita merasakan itu tentang diri kita sendiri,
32:53 maka kita akan menyadari itu
32:56 untuk setiap orang lain.
32:58 Tak ada yang tinggi atau rendah.
33:00 Tak ada yang penting atau tak penting.
33:02 Setiap orang,
33:04 tak peduli kedudukan sosialnya,
33:07 adalah yang paling berharga bagi dirinya sendiri.
33:13 Dan sebagaimana kita, karena itu,
33:15 tak ingin orang lain menyakiti kita,
33:17 karena itu,
33:18 kita seharusnya menunjukkan rasa hormat yang sama
33:21 dan kepedulian untuk semua makhluk lain.
33:24 Jadi itu logis, bukan?
33:26 Kalau Anda memikirkannya.
33:27 Betul kan?
33:29 Maksud saya, tak ada yang tinggi atau rendah
33:31 sejauh menyangkut kepedulian setiap orang terhadap dirinya sendiri.
33:33 Jadi karena itu,
33:35 kita seharusnya menghormati itu pada semua makhluk.
33:38 Maksud saya, bahkan sekadar senyuman.
33:41 Bahkan sekadar terima kasih.
33:43 Hari ini saya membaca sebuah artikel di koran,
33:46 mungkin Anda juga membacanya,
33:48 tentang betapa jarangnya orang India mengucapkan "dhanyavaad".
33:54 Dan mengapa orang India begitu jarang menunjukkan rasa syukur?
34:02 Hmm...
34:05 Dan mereka mengatakan,
34:07 untunglah, kini,
34:09 bahkan orang yang tak berbahasa Inggris
34:11 sudah lebih terbiasa mengucapkan "thank you".
34:14 Dan "you're welcome".
34:16 Dan jadi, meskipun mereka tak sampai ke "shukriya"
34:19 atau "dhanyavaad",
34:20 setidaknya kalau mereka mengucapkan "thank you",
34:22 sekadar pengakuan terhadap orang lain itu,
34:26 orang-orang yang melayani kita di ruang publik,
34:33 tahu kan,
34:35 kondektur dan...
34:37 dan pelayan dan semua orang,
34:40 tak masalah, maksud saya, siapa pun,
34:43 setiap orang berharga bagi dirinya sendiri.
34:48 Dan sekadar berterima kasih kepada mereka
34:52 untuk apa pun yang mereka lakukan.
34:55 Ucapkan terima kasih.
34:57 Tersenyumlah.
34:59 Maksud saya, kalau Anda melihat seseorang yang tampak istimewa rapi,
35:06 katakan kepada mereka, oh, itu bagus sekali.
35:09 Oh, terima kasih.
35:11 Dan mungkin itu membuat hari mereka menyenangkan.
35:15 Itu begitu sederhana.
35:16 Itu tak sulit.
35:18 Dan ketika kita berjumpa dengan orang-orang yang sulit,
35:22 maka, sekali lagi,
35:24 untuk menyadari bahwa ini adalah kesempatan kita
35:27 untuk sungguh-sungguh memandang pikiran kita sendiri
35:30 dan untuk mentransformasi
35:34 reaksi alami kita
35:39 yang ingin membalas,
35:41 dengan menganggap bahwa mereka memberi kita
35:44 kesempatan besar ini
35:46 untuk berlatih kesabaran yang sejati.
35:49 Itu tak berarti kita menekan kemarahan.
35:51 Ini bukan tentang menekan.
35:54 Ini tentang menyadari dan mentransformasi.
35:59 Bukan bahwa kita...
36:04 Tahu kan, tak pernah bahwa kita...
36:08 kita menekan kenegatifan kita.
36:11 Bukan bahwa kita menekan emosi negatif kita.
36:14 Melainkan bahwa kita...
36:15 Kalau emosi negatif muncul,
36:17 kita menyadarinya.
36:19 Kita menerima bahwa itulah yang sedang kita rasakan.
36:21 Tetapi lalu kita sungguh-sungguh berupaya
36:24 untuk mentransformasi itu dan menyadari
36:26 inilah kesempatan kita
36:28 untuk memupuk emosi yang lebih positif
36:31 dan tak menyerah pada emosi negatif.
36:34 Jadi hari kita dipenuhi dengan kesempatan
36:38 untuk berlatih.
36:40 Dan kita berfokus pada kualitas dasar ini
36:43 yaitu menjadi sadar,
36:45 menjadi penuh perhatian,
36:48 menjadi hadir,
36:50 dan melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan,
36:53 kalau kita melakukannya dengan kesadaran,
36:56 dengan perhatian,
36:58 adalah sebuah praktik Dharma.
37:00 Menurut kita apa itu Dharma?
37:04 Buddha Dharma seluruhnya tentang
37:07 menjinakkan pikiran.
37:12 Buddha berkata,
37:14 biarlah orang bijaksana menjinakkan pikirannya.
37:17 Pikiran yang jinak membawa kebahagiaan.
37:20 Jadi kita berusaha untuk bahagia.
37:23 Dan kita membawa kebahagiaan
37:25 dengan membuat orang lain bahagia.
37:28 Kepada berapa banyak orang
37:35 sepanjang hari kita
37:37 bisa kita bawa sedikit lebih banyak kebahagiaan
37:41 kepada mereka?
37:42 Dengan bersikap sopan,
37:45 dengan bersikap ramah,
37:46 dengan tersenyum,
37:47 dengan mengucapkan terima kasih.
37:51 Itu tak begitu sulit.
37:54 (Bahkan) tak harus (dengan) berbuat baik (yang besar).
38:02 Maksud saya, kalau kita bahkan tak bisa melakukan sebanyak itu,
38:04 tahu kan, kadang orang,
38:08 mereka punya, tahu kan, guru-guru besar,
38:10 dan mereka sudah melakukan begitu banyak sadhana,
38:12 dan mereka sudah melakukan begitu banyak praktik,
38:14 dan mereka sudah melakukan begitu banyak ini,
38:16 dan mereka sudah melakukan begitu banyak itu,
38:17 dan mereka masih tak baik hati.
38:20 Mereka tak lebih baik daripada seseorang
38:22 yang tak pernah melakukan apa pun.
38:24 Jadi apa yang salah?
38:26 Dan tak cukup hanya dengan bersikap baik
38:31 kepada orang-orang yang menurut Anda
38:33 punya pengaruh tertentu.
38:37 Maksud saya, kita seharusnya lebih seperti matahari
38:39 yang sekadar bersinar.
38:41 Cahaya.
38:50 Dan memberi kehangatan.
38:52 Jadi sepanjang hari,
38:56 kita memupuk ini.
38:58 Semua orang lain begitu berfokus
39:20 pada apa yang harus mereka lakukan
39:22 dan hampir begitu takut.
39:30 Maksud saya, saya tak mengatakan di India,
39:32 tetapi pastinya di, tahu kan,
39:33 negara-negara lain,
39:34 kalau Anda tersenyum kepada orang asing,
39:36 mereka mungkin akan terlonjak,
39:38 tahu kan, dan semacam, tahu kan,
39:40 menjadi sangat gugup,
39:42 terutama di kereta bawah tanah New York atau semacamnya.
39:45 Anda mulai tersenyum kepada semua orang.
39:47 Tahu kan, mereka...
39:49 Tetapi ketika situasinya datang,
39:55 kita bisa bersikap baik.
39:58 Kita bisa bersikap sopan.
39:59 Tak ada masalah dengan itu.
40:01 Di tempat kerja kita, jadilah penolong.
40:04 Jadilah baik hati, dan terutama kepada orang-orang
40:14 yang mereka sendiri sedang mengalami masalah
40:16 dalam bersikap baik.
40:18 Juga sangat membantu
40:42 untuk menjaga perhatian kita
40:47 di tempat tubuh kita berada
40:53 dan pikiran kita berada.
40:57 Kini, semua orang begitu terburu-buru
41:01 dan melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking),
41:04 tetapi telah ditunjukkan
41:08 oleh, tahu kan,
41:11 para psikiater dan ilmuwan saraf
41:13 bahwa multitasking tak cocok
41:19 untuk otak manusia.
41:23 Bahwa otak manusia,
41:26 kalau ia harus memikirkan terlalu banyak hal
41:29 pada saat yang sama,
41:31 sekadar menjadi tertekan
41:34 dan tak efisien,
41:37 membuat kesalahan,
41:40 dan menjadi kelelahan.
41:43 Karena kita tak dimaksudkan
41:48 untuk berusaha melakukan terlalu banyak hal
41:50 pada saat yang sama.
41:52 Dan jadi kini,
41:54 seperti yang saya yakin banyak dari Anda ketahui,
41:56 bahkan organisasi-organisasi besar,
41:58 tahu kan, seperti Microsoft
42:00 dan Google
42:01 dan semua organisasi besar ini
42:03 (karyawannya) kelelahan total terlalu cepat.
42:25 Jadi karena itu,
42:28 mereka kini meminta
42:30 staf mereka mengikuti kursus mindfulness,
42:35 yang sekali lagi menekankan
42:39 bahwa apa pun tugas
42:41 yang sedang kita coba lakukan,
42:43 kita seharusnya memberi perhatian penuh kita pada itu.
42:47 Bahkan kalau,
42:48 lalu setelah beberapa saat,
42:50 kita memberi perhatian pada hal itu,
42:52 dan lalu perhatian pada hal itu,
42:53 tetapi tidak semuanya pada saat yang sama.
42:56 Apa pun tindakan yang perlu kita lakukan,
43:00 dan bukan semua pemikiran mengembara
43:10 di latar belakang,
43:12 atau berusaha berpegang pada sesuatu
43:14 yang baru saja kita lakukan,
43:15 atau sesuatu yang harus kita lakukan di masa depan,
43:17 melainkan menyatu dengan tugas itu,
43:41 dan itu juga menghasilkan
43:43 jenis-jenis hal yang jauh lebih kreatif.
43:47 Dan itulah jenis pemikiran (yang produktif)
43:49 dibandingkan kalau kita hanya berusaha
43:51 di permukaan
43:52 untuk melakukan terlalu banyak hal pada satu waktu,
43:54 yang dalam hal itu pikiran tak akan pernah bisa tenang.
43:57 Jadi kini,
43:58 maksud saya,
43:59 sangat menarik,
44:00 bahkan saya baru saja membaca India Today,
44:04 yang punya artikel bagus ini
44:06 tentang kebahagiaan.
44:09 Bukankah itu bagus?
44:11 Maksud saya, biasanya isinya semua korupsi
44:13 dan skandal,
44:14 tetapi kini edisi ini
44:16 membahas kebahagiaan.
44:18 Apakah Anda membaca itu?
44:20 Adakah dari Anda yang pernah membaca India Today?
44:22 Ya, dan jadi mereka menekankan
44:26 tentang hal-hal baik yang orang lakukan,
44:29 atau hal-hal baik yang orang lakukan di India,
44:32 bukan hanya semua tuduhan korupsi.
44:35 Kebaikan itu,
44:37 yang biasanya diabaikan.
44:40 Dan mereka juga punya artikel
44:43 tentang bagaimana membawa kebahagiaan
44:45 ke dalam kehidupan sehari-hari Anda.
44:47 Dan salah satu hal pertama
44:49 yang mereka anjurkan
44:50 adalah belajar untuk penuh perhatian (mindful).
44:52 Karena sejujurnya,
44:55 itulah kuncinya.
44:57 Kita,
45:01 sejak kecil,
45:03 dikondisikan untuk tak penuh perhatian.
45:05 Tahu kan,
45:06 ia sesuatu yang,
45:08 karena itu,
45:09 untuk sungguh-sungguh membawa perhatian kita
45:12 ke apa yang sedang kita lakukan
45:14 selagi kita melakukannya,
45:16 sangat sulit bagi kita.
45:18 Kita sedang melakukan satu hal
45:21 dan pada saat yang sama
45:22 memikirkan hal lain.
45:24 Dan jadi ini juga sangat menekan
45:26 bagi pikiran
45:27 dan ia sangat tak efisien.
45:30 Kalau kita bisa membawa perhatian kita
45:32 ke apa yang sedang kita lakukan
45:34 selagi kita melakukannya,
45:36 maka segalanya jauh lebih mulus.
45:40 Jadi juga sepanjang hari,
45:43 baiklah, Anda bangun di pagi hari
45:45 dan tahu kan,
45:46 seperti yang saya bilang,
45:47 sangat baik
45:48 kalau kita membuat komitmen
45:49 bahwa kita akan menggunakan hari itu
45:51 untuk melakukan sesuatu yang bermakna
45:52 dengan hidup kita
45:53 dan untuk membawa sedikit kebahagiaan
45:54 kepada orang lain
45:55 dan melakukan sedikit meditasi hening.
45:59 Dan lalu,
46:01 apa pun yang kita lakukan berikutnya,
46:03 untuk berusaha melakukannya dengan penuh perhatian,
46:07 terutama tugas-tugas
46:09 yang biasanya
46:12 cukup otomatis
46:14 yang tak perlu kita bawa
46:15 banyak pemikiran ke dalamnya.
46:17 Seperti menyikat gigi
46:19 atau menyisir rambut Anda
46:21 atau, tahu kan,
46:23 para pria yang bercukur
46:25 atau apa pun seperti ini.
46:26 Sebuah tindakan sederhana.
46:27 Minum teh.
46:29 Untuk membuat komitmen
46:34 memberikan perhatian seseorang pada itu.
46:39 Untuk tak memikirkan hal-hal lain.
46:41 Tahu kan, selagi kita minum teh,
46:43 untuk tak memikirkan apa yang akan kita lakukan berikutnya
46:46 atau apa yang kita lakukan sebelumnya.
46:48 Melainkan sekadar untuk sadar
46:53 akan tindakan minum itu.
47:01 Tindakan menyisir rambut kita.
47:03 Sekadar ketahui itu.
47:04 Jangan memikirkannya.
47:06 Kita hanya perlu mengetahuinya.
47:08 Berikan perhatian kita padanya.
47:11 Dengan cara yang sangat rileks.
47:16 Untuk membuat pikiran hadir.
47:19 Dan lalu sepanjang hari,
47:26 seperti yang saya bilang,
47:27 sesering yang bisa kita ingat,
47:29 untuk membawa pikiran kembali
47:31 ke saat kini.
47:33 Apa yang sedang kita pikirkan sekarang?
47:35 Apa yang sedang kita rasakan sekarang?
47:37 Apa yang sedang terjadi saat ini?
47:40 Itu tak memakan waktu.
47:42 Ia hanya butuh kemampuan untuk mengingat.
47:47 Kata yang dalam bahasa Inggris
47:51 diterjemahkan sebagai "mindfulness"
47:53 adalah kata "smriti" (sati).
47:56 Yang, seperti yang akan Anda ketahui,
47:57 berarti mengingat.
48:00 Dan jadi, secara harfiah,
48:02 ia berarti mengingat
48:04 apa yang sedang kita lakukan.
48:06 Karena biasanya kita lupa.
48:09 Kita melakukan sesuatu,
48:10 tetapi kita tak hadir di sana
48:11 bersama apa yang sedang kita lakukan.
48:13 Dan jadi pikiran,
48:15 bukan hanya tak efisien,
48:17 tetapi pikiran menjadi lelah.
48:19 Kalau kita bisa mengistirahatkan pikiran
48:22 di saat kini,
48:24 sekadar menjadi sepenuhnya sadar
48:26 akan apa yang sedang terjadi saat ini,
48:29 tanpa mengomentari,
48:31 sekadar mengetahui,
48:34 kualitas mengetahui dari pikiran ini,
48:38 untuk sungguh-sungguh mengetahui
48:41 apa yang sedang kita pikirkan,
48:43 rasakan,
48:44 lakukan,
48:45 pada saat melakukannya.
48:47 Itu membuat pikiran
48:50 sangat terbuka dan lapang.
48:57 Jadi,
48:58 kalau kita bisa memupuk kualitas ini,
49:04 mungkin sekadar dengan mengamati napas,
49:06 kalau kita menjadi sangat bergejolak
49:07 atau sangat tertekan,
49:09 membawa perhatian kembali,
49:13 menarik napas,
49:14 mengembuskan napas —
49:16 napas adalah objek yang sangat baik
49:19 bagi kita untuk mengumpulkan diri kita.
49:22 Karena kita tak bisa bernapas
49:25 di masa lalu
49:26 atau di masa depan.
49:28 Kita hanya bernapas sekarang.
49:30 Jadi, kalau kita sungguh sadar
49:32 akan napas,
49:33 rasa napas
49:35 saat ia masuk dan keluar,
49:37 kita sadar
49:38 akan sedang hadir.
49:45 Jadi,
49:48 di penghujung hari,
49:49 sebelum tidur,
49:51 kita bisa mengingat kembali sedikit.
49:54 Hal-hal yang,
49:55 kalau kita melakukan hal-hal di mana kita menjadi kesal
49:58 atau marah atau serakah
50:00 atau apa pun seperti ini,
50:02 kita menyesalinya,
50:04 kita akan berusaha melakukan lebih baik lain kali.
50:06 Dan saat-saat ketika kita melakukan sesuatu yang baik,
50:09 sesuatu, tahu kan,
50:10 kita berupaya,
50:12 maka, nah, bagus, baik.
50:14 Kita harus melakukan lebih banyak itu lain kali.
50:17 Jadi, dengan cara ini,
50:18 kita bisa mendorong diri kita sendiri
50:22 untuk menjalani kehidupan sehari-hari kita
50:28 seperti ini.
50:30 Saat demi saat demi saat.
50:33 Ini bukan soal menyediakan waktu
50:36 untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain.
50:47 Untuk inilah kita memiliki hidup kita.
50:52 Kita memiliki kehidupan manusia yang sangat berharga.
50:55 Anda semua sangat terpelajar.
50:58 Anda harus memberi manfaat bagi diri Anda sendiri,
51:06 memberi manfaat bagi orang lain,
51:08 sehingga, tahu kan,
51:12 ketika kita tiba pada saat kematian,
51:14 yang akan kita semua alami,
51:16 kita bisa berpikir,
51:18 nah, aku tak menyia-nyiakan kehidupan manusia ini
51:29 tanpa penyesalan.
51:31 Lepaskan masa lalu.
51:35 Lepaskan semua pikiran negatif kita
51:38 tentang apa yang orang lakukan kepada kita
51:40 di masa lalu dan bagaimana, tahu kan,
51:42 kepastian bahwa kita ingin membalas dendam.
51:47 Kita memaafkan diri kita sendiri.
52:09 Kita mendorong diri kita sendiri.
52:13 Kita berteman dengan diri kita sendiri.
52:15 Hal pertama adalah berteman dengan diri kita sendiri.
52:18 Begitu banyak orang tak menyukai diri mereka sendiri.
52:23 Nah, itu tak begitu baik.
52:26 Kita terikat dengan diri kita sendiri.
52:27 Kita setidaknya seharusnya berteman.
52:29 Kita tak bisa meninggalkan diri kita di belakang.
52:33 Buddha berkata,
52:35 pertama kita menyelamatkan mereka yang kita cintai,
52:44 yang cukup mudah,
52:46 mengharapkan mereka baik,
52:47 mengharapkan mereka bahagia.
52:48 Betapa luar biasa
52:50 kalau mereka bisa bahagia
52:51 dan bebas dari penderitaan.
52:53 Lalu orang-orang yang netral,
52:56 yang tak kita kenal,
52:57 yang tak benar-benar kita pikirkan
52:58 apakah mereka bahagia atau tak bahagia.
53:00 Seperti yang saya bilang,
53:01 mereka adalah pusat dari alam semesta mereka sendiri,
53:04 jadi hormatilah itu.
53:06 Dan lalu orang-orang yang dengannya kita punya masalah
53:08 dan kesulitan,
53:09 semoga mereka juga sehat dan bahagia.
53:12 Orang melakukan hal-hal buruk
53:13 sebagian besar karena mereka tak bahagia.
53:15 Mereka sangat terkhilaf
53:16 atau karena di dalam mereka tak bahagia.
53:21 Semoga semua makhluk sehat dan bahagia.
53:24 Bukan hanya yang itu, yang itu, yang itu.
53:26 Semua makhluk.
53:30 Kalau makhluk-makhluk bahagia,
53:31 ini akan menjadi dunia yang sangat berbeda.
53:36 Jadi,
53:37 untuk memupuk kualitas-kualitas
53:39 yang kita butuhkan dalam hidup ini
53:41 yaitu toleransi, kebaikan hati, welas asih, perhatian,
53:48 kita mengambil kehidupan sehari-hari kita
53:53 dan kita menggunakannya.
53:56 Kita tak berpikir bahwa hanya,
53:58 tahu kan,
54:00 praktik setengah jam
54:02 sesekali
54:03 akan mentransformasi.
54:05 Ini adalah tugas saat demi saat demi saat.
54:09 Dan,
54:12 tidak.
54:35 Sekarang juga,
54:38 tepat
54:40 dalam situasi tempat kita mendapati diri kita,
54:43 itulah kesempatan kita untuk berlatih.
54:49 Dan kalau kita sungguh-sungguh
54:51 membawa
54:52 Dharma ke dalam kehidupan sehari-hari kita,
54:55 menyadari bahwa semua kualitas
54:57 kedermawanan dan etika
54:59 dan toleransi
55:02 dan kebaikan hati dan welas asih
55:05 dan kebijaksanaan,
55:09 melihat segala sesuatu dengan jernih
55:11 sebagaimana adanya,
55:15 tak ada waktu seperti sekarang juga.
55:18 Dan tak ada tempat seperti di sini juga.
55:21 Inilah dia.
55:23 Anda tak pernah punya kesempatan yang lebih baik
55:25 di sepanjang hidup Anda.
55:27 Inilah dia.
55:28 Ini bukan sesuatu yang bisa kita tunda begitu saja.
55:35 Jadi,
55:41 sungguh,
55:42 tolong,
55:43 kita semua di sini
55:44 seharusnya mengambil hidup kita
55:46 dan bersyukur
55:48 atas keistimewaan yang kita miliki
55:50 yaitu memiliki kehidupan manusia yang sangat lengkap ini
55:53 dan tak menyia-nyiakannya untuk
55:55 hal-hal yang bersifat sementara
55:58 dan tak begitu penting.
56:01 Hal terpenting yang mungkin bisa kita lakukan
56:04 adalah menjinakkan pikiran,
56:07 melatih pikiran,
56:10 mentransformasi pikiran,
56:12 dan bagi mereka yang sungguh serius,
56:17 pada akhirnya melampaui pikiran konseptual
56:21 dan menjadi terbebaskan.
56:23 Untuk apa lagi kita di sini?
56:25 Untuk memberi manfaat bagi diri kita sendiri
56:27 dan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
56:29 Jadi,
56:31 maksud saya,
56:32 satu hal adalah bahwa kita bisa memandang hidup kita
56:36 sebagai sebuah proses belajar.
56:40 Tahu kan,
56:41 seseorang berkata,
56:42 ini bukan pepatah yang sangat Buddhis,
56:44 tetapi mereka berkata,
56:45 tahu kan,
56:46 hidup adalah sekolah bagi jiwa.
56:50 Dengan kata lain,
56:52 bahwa di sanalah kita belajar,
56:54 untuk apa kita di sini.
56:55 Kita tak di sini hanya untuk bersenang-senang.
56:57 Kita belajar,
56:58 kita di sini untuk sungguh-sungguh bertumbuh dengan baik.
57:12 (Anak kecil) sangat bahagia,
57:15 dan begitu mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan,
57:19 maka mereka,
57:20 tahu kan,
57:21 mengamuk
57:24 karena mereka anak-anak.
57:27 Dan mereka tak tahu bagaimana mengendalikan emosi mereka.
57:31 Dan lalu sepanjang tahun-tahun kita tumbuh dewasa,
57:34 dan tahu kan,
57:35 kita mendapat rambut kelabu dan kerutan dan,
57:37 tahu kan,
57:38 tetapi di dalam,
57:40 begitu sering kita masih hanya anak-anak.
57:42 Ketika segalanya berjalan benar,
57:44 kita penuh senyum,
57:45 dan ketika segalanya tak berjalan seperti yang kita inginkan,
57:48 di dalam batin kita merasa begitu banyak kemarahan dan ketegangan dan amukan,
57:52 persis seperti anak kecil.
57:54 Dan jadi Buddha,
57:57 Beliau berbicara tentang orang-orang biasa,
58:01 kita,
58:02 kata Beliau,
58:03 adalah yang kekanak-kanakan.
58:05 Dan jalan (Dharma) adalah untuk menjadi matang,
58:10 untuk menjadi dewasa.
58:11 Sehingga kita tak lagi dikendalikan
58:15 oleh emosi-emosi negatif ini —
58:18 ini sesuatu yang kusukai,
58:19 aku harus memilikinya,
58:20 tahu kan,
58:21 keserakahan dan menggenggam dan kemelekatan pada kesenangan,
58:25 dan kemarahan dan penolakan dan kebencian terhadap apa pun
58:31 yang tak menyenangkan.
58:34 Jadi emosi-emosi ini,
58:38 yang pada anak kecil,
58:40 pada anak kecil bisa dimaklumi,
58:42 seiring kita tumbuh dewasa,
58:44 kita seharusnya mengendalikan emosi-emosi ini,
58:47 tak lagi dikendalikan olehnya.
58:49 Kita di dalam batin masih yang kekanak-kanakan.
58:52 Dan jadi emosi-emosi negatif ini,
58:56 dalam semua mazhab Buddhis,
59:00 emosi-emosi negatif itu adalah keserakahan,
59:05 nafsu keinginan akan kesenangan ini,
59:08 dan kemarahan,
59:10 penolakan,
59:11 kenegatifan ini,
59:13 menyingkirkan apa yang tak menyenangkan.
59:17 Dan lalu rasa umum kegelapan batin,
59:22 ketidaktahuan (kebodohan batin).
59:23 Tentu saja,
59:24 dalam Buddhisme itu sebagian besar berakar pada ketidaktahuan,
59:27 ia berdasar pada ego.
59:32 Dan lalu bersama itu,
59:34 kesombongan dan kecemburuan,
59:35 ketakutan dan seterusnya.
59:37 Tetapi emosi-emosi negatif ini,
59:39 semua mazhab Buddhis peduli dengan
59:42 bagaimana menghadapi kenegatifan kita,
59:48 emosi-emosi negatif ini,
59:50 dan terutama pikiran kita yang serakah,
59:52 melekat,
59:53 terikat,
59:54 dan pikiran kita yang marah dan mudah tersinggung,
59:58 frustrasi,
1:00:00 tertekan,
1:00:01 pikiran jenis menyingkirkan.
1:00:04 Dan tentu saja,
1:00:05 semuanya berdasar pada akar avidya kita,
1:00:09 ketidaktahuan kita.
1:00:12 Dan jadi,
1:00:13 kita harus menyadari sifat sejati kita.
1:00:16 Maksud saya,
1:00:17 inilah masalah kita,
1:00:18 yaitu bahwa kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
1:00:21 dan kita sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan rasa ego kita,
1:00:24 rasa "aku".
1:00:26 Tetapi itu bukan sifat sejati kita.
1:00:29 Dan jadi sekali lagi,
1:00:30 praktik pada tingkat yang lebih dalam adalah menyadari
1:00:34 bagaimana kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
1:00:38 dan kembali ke sifat sejati kita,
1:00:40 yang adalah kesadaran primordial kita yang sangat murni,
1:00:44 yang seperti langit,
1:01:03 karena kita tak melihat langit.
1:01:06 Tetapi awan-awan ini datang dari langit,
1:01:08 mereka kembali ke langit,
1:01:09 mereka tak bisa ada seandainya bukan karena langit.
1:01:13 Tetapi kita tak memperhatikan langit,
1:01:15 kita tak melihat langit,
1:01:16 dan jadi kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah.
1:01:19 Jadi,
1:01:20 karena kita mengidentifikasi diri dengan semua hal yang salah,
1:01:22 dan inilah ketidaktahuan mendasar kita,
1:01:24 atau avidya,
1:01:25 karena itu,
1:01:26 kita menderita.
1:01:28 Dan kita menciptakan penderitaan bagi setiap orang lain juga.
1:01:31 Kita sendiri menjadikan diri kita sebuah masalah,
1:01:36 dan lalu kita sekadar menyebarkan masalah itu
1:01:39 kepada semua orang di sekitar kita.
1:01:41 Jadi inilah situasi dasar kita,
1:01:43 dan mengapa kita seharusnya berupaya
1:01:45 untuk sungguh-sungguh memupuk kemampuan batin ini
1:01:50 untuk menjadi lebih waspada,
1:01:51 lebih sadar,
1:01:53 dan pada saat yang sama untuk memberi cinta kasih,
1:01:56 dimulai dengan diri kita sendiri.
1:01:57 Kita harus berteman dengan diri kita sendiri.
1:01:59 Dan dari sana juga lalu kepada semua makhluk lain.
1:02:03 Jadi,
1:02:05 di sini kita punya tiga pertanyaan
1:02:10 yang membahas emosi-emosi negatif.
1:02:13 Tentang tidak memiliki emosi negatif,
1:02:28 dan bagaimana aku bisa mentransformasi kemarahanku dari masa lalu
1:02:33 ketika aku masih merasakannya di dalam diriku?
1:02:35 Jadi,
1:02:37 seperti yang saya bilang,
1:02:38 dalam semua mazhab Buddhis,
1:02:40 salah satu faktor utama,
1:02:42 selain kembali ke pengenalan
1:02:45 akan sifat sejati kita,
1:02:47 tugas yang lain
1:02:51 adalah bagaimana menghadapi emosi-emosi negatif,
1:02:55 dan terutama keserakahan dan nafsu keinginan,
1:02:58 dan kemarahan dan penolakan,
1:03:00 dan lalu ketidaktahuan mendasar yang melandasi semuanya,
1:03:04 karena kita tak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.
1:03:06 Jadi,
1:03:09 ada banyak tingkat berbeda
1:03:12 tentang bagaimana menghadapi emosi-emosi negatif,
1:03:15 dan ini pokok bahasan yang besar.
1:03:17 Bacalah sebuah buku tentangnya.
1:03:23 Tetapi bagaimanapun,
1:03:24 secara umum,
1:03:28 kemarahan, misalnya,
1:03:30 karena itu adalah sebuah penderitaan,
1:03:52 sifat samsara yang tak memuaskan,
1:03:55 disebabkan oleh pikiran yang melekat, menggenggam.
1:03:59 Ia tak disebabkan oleh pikiran kemarahan.
1:04:01 Jadi,
1:04:02 pikiran kita yang melekat, menggenggam
1:04:04 sangat dalam di dalam jiwa kita,
1:04:06 tetapi karena ia sering di dalam pikiran kita
1:04:10 diasosiasikan dengan kesenangan,
1:04:12 karena itu orang tak ingin menyingkirkan itu,
1:04:14 meskipun itulah penyebab sejati dari masalahnya.
1:04:17 Tetapi kemarahan,
1:04:18 orang tak menyukai kemarahan
1:04:20 karena kemarahan membuat kita merasa buruk,
1:04:22 dan lalu orang tak menyukai kita,
1:04:24 dan lalu kita masuk ke dalam konflik,
1:04:26 dan ia tak membuat kita merasa nyaman.
1:04:29 Jadi,
1:04:30 orang selalu tertarik
1:04:32 bagaimana menyingkirkan kemarahan
1:04:34 di antara semua emosi negatif.
1:04:38 Jadi, ada berbagai cara,
1:04:40 tetapi satu hal yang tak akan kita lakukan
1:04:42 adalah menekan.
1:04:44 Jadi, karena itu,
1:04:45 kalau suatu situasi muncul,
1:04:48 seseorang bisa mengelola itu,
1:04:54 untuk duduk dengan tenang,
1:05:16 yang membangkitkan rasa geram
1:05:20 dan marah.
1:05:22 Selagi kita duduk dengan tenang,
1:05:25 sekadar munculkan sebuah kenangan
1:05:28 yang membangkitkan rasa marah,
1:05:35 dan pandanglah ia.
1:05:36 Dan lalu pandanglah ia lurus-lurus.
1:05:53 Bagaimana rasanya?
1:05:55 Bagaimana ia?
1:05:59 Seperti apa rupanya?
1:06:01 Sekadar tak bereaksi terhadapnya,
1:06:04 tetapi sungguh-sungguh mengetahuinya,
1:06:10 bagaimana rasanya di dalam tubuh,
1:06:13 di mana ia di dalam tubuh?
1:06:16 Apa perasaan di dalam pikiran?
1:06:18 Bagaimana rasanya?
1:06:20 Ketahuilah ia.
1:06:24 Sungguh-sungguh pandanglah lurus ke dalamnya
1:06:26 tanpa takut.
1:06:28 Perasaan itu sesungguhnya seperti awan
1:06:43 hitam tebal dengan kilat,
1:06:46 tetapi kalau kita terus memandangnya,
1:06:48 pada akhirnya ia akan larut.
1:06:51 Dan kita akan menyadari bahwa
1:06:53 ia sesungguhnya sangat tak berwujud.
1:06:56 Ia sangat kosong.
1:06:57 Ia sangat kosong
1:06:59 dalam istilah Buddhis.
1:07:01 Ia shunya.
1:07:05 Ia bukan sebuah benda.
1:07:07 Ia bukan aku.
1:07:08 Ia bukan milikku.
1:07:14 Kalau kita bisa menatapnya secara telanjang,
1:07:18 pada dirinya sendiri,
1:07:20 ia akan bertransformasi.
1:07:22 Jadi itulah cara terbaik untuk menghadapinya.
1:07:29 Kalau kita tak bisa mengelola itu,
1:07:32 maka hal berikutnya yang harus dilakukan
1:07:35 adalah
1:07:37 berusaha memupuk welas asih
1:07:44 dan cinta kasih
1:07:46 kepada objek dari apa pun
1:07:48 perasaan itu tadi.
1:07:50 Kebalikan dari kemarahan, jelas,
1:07:54 adalah bukan-kemarahan.
1:07:56 Jadi karena itu,
1:07:58 Buddha menganjurkan cinta kasih.
1:08:01 Ketika kita berlatih cinta kasih,
1:08:04 kita mulai dengan cinta kasih kepada diri kita sendiri.
1:08:07 Ini sangat, sangat penting.
1:08:09 Ini bukan sekadar sesuatu yang "new age".
1:08:12 Buddha sendiri berkata,
1:08:15 pertama, kita harus berteman dengan diri kita sendiri.
1:08:18 Banyak dari kemarahan kita terhadap orang lain
1:08:22 adalah karena kita tak berdamai dengan diri kita sendiri.
1:08:25 Kita berkonflik dengan diri kita sendiri.
1:08:27 Karena kita berkonflik dengan diri kita sendiri,
1:08:30 dan kita tak menerima diri kita sendiri,
1:08:31 dan kita tak berteman dengan diri kita sendiri,
1:08:34 karena itu,
1:08:36 kita seperti sebuah gendang yang kencang,
1:08:39 yang apa pun memukulnya,
1:08:41 ia menghasilkan suara yang keras.
1:08:42 Karena di dalam batin,
1:08:43 kita punya ketegangan itu
1:08:45 dalam hal
1:08:47 hubungan kita sendiri dengan diri kita sendiri.
1:08:50 Jadi,
1:08:51 pertama,
1:08:52 kita harus menyembuhkan itu.
1:08:54 Kita harus menyembuhkan.
1:08:58 Dan jadi,
1:09:03 karena itu,
1:09:04 Buddha berkata,
1:09:05 pertama,
1:09:06 kita mulai dengan memberi cinta kasih
1:09:08 dan welas asih kepada diri kita sendiri,
1:09:10 mengharapkan diri kita sendiri baik,
1:09:11 membayangkan betapa luar biasanya
1:09:13 kalau kita memang merasa bahagia.
1:09:15 Kalau kita bebas dari penderitaan.
1:09:17 Dan untuk memaafkan diri kita sendiri.
1:09:20 Maksud saya, kita semua punya kekurangan.
1:09:24 Kalau kita tak punya kekurangan,
1:09:26 kalau kita tak punya kekurangan,
1:09:28 kita tak akan membutuhkan Dharma.
1:09:33 Jadi,
1:09:34 ya, kita semua punya kekurangan,
1:09:36 tak masalah.
1:09:37 Itu bukan masalahnya.
1:09:38 Masalahnya hanya kalau kita,
1:09:40 kalau kita tak menerima kenyataan
1:09:43 bahwa kita punya kekurangan,
1:09:45 dan bahwa kita tak menyukai diri kita sendiri
1:09:47 karena kita punya kekurangan.
1:09:49 Tetapi kalau kita menerima kenyataan bahwa
1:09:51 setiap orang punya masalah,
1:09:53 oke, jadi kenapa?
1:09:55 Dan meskipun demikian,
1:09:57 kita mulai mengoleskan balsam
1:10:01 pada luka-luka
1:10:03 sehingga mereka sembuh.
1:10:05 Lalu,
1:10:06 atau kita bisa memikirkannya seperti,
1:10:08 tahu kan,
1:10:09 seperti sebuah kendi di dalam
1:10:10 dan kita mengisinya
1:10:12 dengan nektar,
1:10:14 dengan amrita.
1:10:16 Lalu,
1:10:17 kita bisa memberi kepada diri kita sendiri
1:10:19 dan kepada orang lain.
1:10:21 Tetapi kalau di dalam kita kosong,
1:10:24 atau kita berkonflik dengan diri kita sendiri,
1:10:27 maka apa yang orang lain lakukan
1:10:29 menjadi diperbesar.
1:10:32 Dan kita menjadi begitu kesal dan marah,
1:10:36 dan lalu juga kita tak bisa memaafkan,
1:10:39 dan seterusnya.
1:10:41 Tetapi inti dari persoalannya
1:10:43 adalah bahwa kita tak berdamai
1:10:44 di dalam diri kita sendiri.
1:10:45 Jadi pertama kita harus berdamai
1:10:47 di dalam diri kita sendiri.
1:10:51 Dan jadi inilah mengapa
1:10:53 dalam praktik metta,
1:10:55 atau maitri,
1:10:56 dan karuna, welas asih,
1:11:01 kita mulai dengan diri kita sendiri.
1:11:03 Lalu dari sana,
1:11:06 kepada mereka yang kita cintai,
1:11:07 kepada mereka yang kita rasa acuh tak acuh,
1:11:09 lalu kepada orang-orang
1:11:11 yang menyentuh luka-luka kita sendiri,
1:11:35 lalu kita bisa
1:11:38 dengan cukup mudah
1:11:41 terbuka kepada semua yang lain.
1:11:44 Jadi emosi-emosi negatif kita,
1:11:47 ketika mereka muncul,
1:11:48 kita menyadarinya,
1:11:49 kita menerimanya,
1:11:50 dan lalu kita melihat bagaimana
1:11:52 pada saat itu
1:11:53 kita bisa mentransformasikannya.
1:11:55 Tetapi kemudian kita bisa melakukan praktik-praktik
1:11:58 khusus untuk apa pun
1:12:00 yang menjadi masalah khusus kita,
1:12:02 yang menjadi
1:12:03 emosi negatif khusus kita.
1:12:05 Maksud saya, mereka berbeda-beda,
1:12:07 emosi-emosi negatif
1:12:08 punya praktik-praktik berbeda
1:12:10 untuk menolong, seperti kecemburuan.
1:12:12 Maka kita berlatih
1:12:14 bersukacita atas kebahagiaan
1:12:17 orang lain, dan seterusnya.
1:12:19 Jadi penyebab dari emosi-emosi negatif kita
1:12:26 adalah ego kita.
1:12:27 Sekadar berkata,
1:12:33 nah kalau begitu aku tak akan punya ego,
1:12:36 tak akan menolong.
1:12:38 Betul, ego memutuskan
1:12:40 ia akan menjadi tanpa-ego.
1:12:42 Itu tak akan menolong.
1:12:44 Tetapi yang bisa menolong
1:12:47 adalah pertama kita menyembuhkan
1:12:50 rasa diri kita.
1:12:52 Buddhisme selalu berbicara
1:12:54 tentang tanpa-diri (anatta),
1:12:55 tetapi itu tak berarti
1:12:56 bahwa kita tak ada.
1:12:57 Ia berarti bahwa kita ada
1:12:59 pada tingkat yang jauh lebih dalam
1:13:01 daripada yang biasanya kita pahami.
1:13:03 Tetapi pada tingkat konvensional,
1:13:05 pertama kita harus
1:13:07 menyembuhkan rasa ego.
1:13:22 (Barulah rasa diri itu bisa) berjalan
1:13:24 di jalan (Dharma)
1:13:25 menuju pelarutan ego.
1:13:28 Kita tak bisa berjalan di jalan itu
1:13:30 kalau rasa diri itu
1:13:32 retak, lemah, terluka.
1:13:35 Ia harus sehat.
1:13:37 Tetapi ego itulah
1:13:43 yang menciptakan
1:13:44 emosi-emosi negatif ini.
1:13:47 Keserakahan terhadap
1:13:49 apa yang menyenangkan ini,
1:13:50 penolakan terhadap
1:13:51 apa yang tak menyenangkan,
1:13:53 semua berdasar pada
1:13:56 ketidakmampuan mendasar kita melihat segala sesuatu
1:13:57 sebagaimana adanya,
1:13:59 ketidaktahuan kita.
1:14:01 Jadi kalau kita bisa mencabut ketidaktahuan,
1:14:04 maka secara otomatis
1:14:06 emosi-emosi negatif larut.
1:14:09 Semuanya berdasar pada ego.
1:14:11 Sementara itu,
1:14:12 kita bisa menggunakan metode paliatif
1:14:15 berupa rasa cukup
1:14:18 dan kedermawanan
1:14:20 dan pelepasan untuk keserakahan
1:14:22 dan cinta kasih
1:14:24 dan praktik-praktik welas asih
1:14:26 untuk kemarahan dan seterusnya seperti itu.
1:14:29 Tetapi itu tak akan sepenuhnya mencabut semua itu.
1:14:32 Hanya wawasan yang sangat dalam
1:14:34 ke dalam sifat
1:14:36 tanpa-ego
1:14:37 dan sifat sejati pikiran
1:14:39 yang akan benar-benar sepenuhnya mencabut
1:14:41 emosi-emosi negatif kita.
1:14:44 Tetapi kita bisa, tahu kan,
1:14:47 menguranginya sementara itu.
1:14:49 Meskipun ada semua keuntungan
1:14:57 yang ditawarkan kehidupan perumah tangga,
1:15:00 bukankah kehidupan kebiaraan
1:15:02 esensial
1:15:05 dan krusial untuk pembebasan?
1:15:08 Tidak.
1:15:10 Ia membantu.
1:15:12 Ia membantu sejauh,
1:15:15 tentu saja,
1:15:17 ada lebih sedikit gangguan
1:15:19 dan sebagian besar waktu
1:15:22 dibaktikan untuk belajar
1:15:24 dan praktik dan seterusnya.
1:15:26 Tetapi pada dirinya sendiri,
1:15:29 pikiranlah
1:15:32 yang terbebaskan.
1:15:34 Jadi kita bisa mengenakan jubah kebiaraan
1:15:38 dan memiliki pikiran yang luar biasa
1:15:40 tak kebiaraan (duniawi),
1:15:42 saya katakan kepada Anda.
1:15:44 Atau seseorang bisa berada dalam rumah tangga
1:15:47 dengan, tahu kan,
1:15:49 sebuah keluarga dan tempat kerja
1:15:51 dan memiliki pikiran yang sangat, sangat spiritual.
1:15:55 Pikiranlah yang terbebaskan.
1:15:59 Jadi, ya, memang sangat, tahu kan,
1:16:03 para biarawan/wati seperti kaum profesional.
1:16:06 Tetapi meskipun demikian, maksud saya,
1:16:08 hanya karena orang mengenakan jubah
1:16:10 dan berkepala gundul
1:16:12 dalam segala keadaan,
1:16:36 itu (tak otomatis berarti) pikiran yang sangat kuat.
1:16:39 Dan tentu saja,
1:16:41 banyak dari para guru terbesar,
1:16:44 pastinya dalam tradisi Tibet,
1:16:48 tetapi juga dalam tradisi Jepang
1:16:49 dan Tiongkok,
1:16:51 menikah dan punya keluarga.
1:16:54 Mereka tak pergi ke kantor setiap hari.
1:16:56 Tetapi meskipun demikian, mereka punya kehidupan yang cukup,
1:16:59 tahu kan, sibuk.
1:17:01 Banyak dari mereka seperti tabib herbal
1:17:04 atau, tahu kan, punya banyak pelayanan
1:17:07 bagi masyarakat.
1:17:09 Tetapi mereka meskipun demikian
1:17:10 adalah guru-guru yang sangat agung,
1:17:12 meskipun mereka punya keluarga.
1:17:15 Jadi, tahu kan, hal yang penting
1:17:17 adalah tak terganggu.
1:17:20 Dan kehidupan rumah tangga
1:17:22 bisa mengganggu.
1:17:23 Ini masalah utamanya.
1:17:24 Tetapi kehidupan kebiaraan
1:17:25 bisa mengganggu juga.
1:17:28 Tahu kan, pikiranlah
1:17:29 yang terganggu.
1:17:33 Jadi, saya memang berpikir sebagai perumah tangga,
1:17:36 sangat membantu untuk,
1:17:38 dari waktu ke waktu,
1:17:39 melakukan retret-retret pendek.
1:17:43 Itu semacam mengisi ulang baterai
1:17:46 dalam perangkat Anda, betul kan?
1:17:48 Tetapi Anda tak menghabiskan seluruh waktu Anda
1:17:50 dalam keadaan diisi ulang.
1:17:51 Anda harus pergi dan menggunakan perangkat Anda.
1:17:53 Tahu kan, Anda menggunakan komputer Anda.
1:17:56 Itulah mengapa Anda mengisinya ulang.
1:17:59 Jadi, tahu kan,
1:18:00 kalau seseorang bisa menjaga pikiran
1:18:02 yang cukup, tahu kan,
1:18:04 terfokus dan jernih dan berhati baik
1:18:07 di tengah, tahu kan,
1:18:11 kehidupan rumah tangga
1:18:13 dan hiruk-pikuk dan kekacauan
1:18:15 kehidupan kota,
1:18:17 meskipun semua itu,
1:18:18 seseorang kurang lebih bisa
1:18:19 menjaga pikirannya terfokus pada apa (yang penting),
1:18:23 maksud saya, itu, tahu kan,
1:18:37 contoh tradisionalnya
1:18:41 adalah teratai yang mekar di lumpur.
1:18:44 Betul kan?
1:18:45 Nah, teratai membutuhkan lumpur.
1:18:47 Dan lalu itu, tahu kan,
1:18:50 di dalam lumpur keberadaan samsara,
1:18:53 kalau dari sana Anda bisa, tahu kan,
1:18:55 muncul sebagai teratai,
1:18:57 maka itu akan luar biasa.
1:18:59 Jadi, maksud saya, ya, tahu kan,
1:19:03 saya tak mengatakan ada sesuatu yang salah
1:19:06 dengan kehidupan kebiaraan, jelas,
1:19:08 tetapi meskipun demikian, jangan berpikir,
1:19:10 oh, nah, tahu kan,
1:19:12 kehidupan ini, tahu kan,
1:19:13 aku akan melakukan saja apa yang kulakukan,
1:19:14 tetapi, tahu kan,
1:19:15 aku akan berdoa keras untuk kembali
1:19:16 dan menjadi biarawan di kehidupanku berikutnya.
1:19:18 Itu bukan, bukan, tidak.
1:19:23 Sekarang juga, apa pun situasi Anda,
1:19:27 itulah situasi yang sempurna
1:19:30 untuk berlatih.
1:19:31 Bagaimana Anda mengerjakan diri Anda
1:19:42 kalau Anda menerima diri Anda?
1:19:44 Nah, Anda harus menerima diri Anda.
1:19:45 Maksud saya, kita adalah diri kita apa adanya.
1:19:47 Dan sekarang, terimalah diri Anda.
1:19:49 Menerima kita berarti bahwa kita menerima,
1:19:51 nah, ini kelemahan
1:19:53 dan ini kekuatan.
1:19:55 Ini seperti, tahu kan,
1:19:57 kalau Anda pergi ke, tahu kan,
1:20:00 sebuah gimnasium dan Anda harus menerima,
1:20:03 nah, tahu kan,
1:20:04 otot-otot Anda kendur,
1:20:06 tetapi Anda akan mengerjakannya,
1:20:08 tahu kan, seperti melakukan latihan
1:20:10 dan menjadi kuat.
1:20:11 Maksud saya, kalau kita tak mau mengakui
1:20:13 bahwa kita, tahu kan, kendur,
1:20:16 maka kita tak akan sampai ke mana-mana.
1:20:18 Itu karena kita menyadari.
1:20:20 Maksud saya, jadi tentu saja,
1:20:28 kita tak marah kepada diri kita sendiri
1:20:30 atau berpura-pura tidak, tahu kan,
1:20:33 bahwa kita, tak ada masalah.
1:20:36 Kita menerima bahwa ada masalah-masalah.
1:20:38 Tentu saja, itulah mengapa kita membutuhkan sebuah jalan.
1:20:41 Tahu kan, maksud saya,
1:20:43 tetapi tak ada masalah dengan itu.
1:20:45 Ya, oke, aku punya masalah dengan temperamenku.
1:20:49 Ya, aku punya masalah dengan menjadi serakah.
1:20:52 Ya, aku punya masalah dengan ini atau itu.
1:20:54 Nah, itulah yang akan kukerjakan.
1:20:57 Seperti pergi ke gimnasium dan berkata,
1:20:59 nah, tahu kan,
1:21:00 tahu kan, lengan Anda sungguh kendur, betul kan?
1:21:02 Anda naik ke mesin, tahu kan.
1:21:05 Lalu Anda mendapat lengan yang sangat kuat, bukan?
1:21:08 Jadi ia seperti itu.
1:21:11 Sering saya mendapati diri saya mencari-cari alasan
1:21:13 untuk menghindari bertemu teman untuk mengobrol santai.
1:21:16 Dan saya selalu bertanya-tanya
1:21:18 apakah saya tak murah hati dengan waktu saya.
1:21:20 Nah, tahu kan, salah satu kekurangan dalam ucapan,
1:21:25 selain berbohong dan ucapan kasar
1:21:34 dan ucapan yang memecah belah,
1:21:36 adalah terlalu terhanyut dalam obrolan
1:21:41 atau semacam ucapan sia-sia,
1:21:44 yang sungguh tak mengarah ke banyak hal.
1:21:46 Inilah mengapa Buddha menganjurkan
1:21:48 agar kita punya teman-teman yang baik,
1:21:52 maksudnya orang-orang yang berbagi minat dasar
1:22:04 dan tertarik pada jenis hal-hal
1:22:06 yang kita minati,
1:22:08 karena lalu itu mendorong kita.
1:22:10 Tahu kan, kita bisa bertemu bersama
1:22:12 dan berbincang tentang hal-hal yang...
1:22:14 Sedangkan sebaliknya, sekadar berkumpul dengan teman-teman
1:22:16 yang hanya ingin berbincang tentang hal-hal duniawi
1:22:18 mengisi pikiran kita dengan pikiran-pikiran duniawi.
1:22:23 Maksud saya, kita punya permata pikiran
1:22:29 yang sangat berharga ini,
1:22:33 dan kita seharusnya sangat berhati-hati dengannya.
1:22:37 Maksud saya, tahu kan, sungguh,
1:22:39 sambil berbicara kepada diri saya sendiri,
1:22:41 maksud saya, kita seharusnya sungguh berhati-hati.
1:22:44 Anda semua punya rumah atau apartemen
1:22:50 atau kamar tempat Anda tinggal,
1:22:55 dan kamar-kamar itu Anda jaga sangat bersih.
1:22:59 Maksud saya, Anda menyapunya setiap hari,
1:23:01 Anda membersihkan debu, dan, tahu kan,
1:23:03 kita, tahu kan, kalau kita berusaha menghiasnya
1:23:06 seindah mungkin,
1:23:08 menjadikannya tempat tinggal yang menyenangkan.
1:23:10 Tetapi ia hanya sebuah kamar.
1:23:15 Jadi lalu,
1:23:18 kita punya sebuah tubuh.
1:23:20 Dan setiap hari kita mandi
1:23:24 dan kita menjaga tubuh kita bersih,
1:23:26 kita berusaha makan jenis makanan yang tepat,
1:23:28 mungkin kita berusaha melakukan jenis olahraga yang tepat,
1:23:32 dan, sekali lagi,
1:23:35 ia hanya tubuh.
1:23:37 Kita akan meninggalkannya di belakang.
1:23:40 Apa yang kita bawa serta
1:23:42 dan darinya kita tak pernah bisa terpisah?
1:23:46 Pikiran.
1:23:48 Tetapi seberapa banyak kita membersihkan pikiran kita?
1:23:54 Menyapunya, membersihkan debunya,
1:23:57 menjadikannya tempat yang indah untuk didiami,
1:24:01 menghiasnya dengan indah
1:24:04 sehingga kita merasa nyaman,
1:24:06 kita merasa seperti di rumah.
1:24:11 Inilah intinya.
1:24:12 Satu tempat yang darinya kita tak pernah bisa lolos
1:24:16 adalah pikiran kita sendiri.
1:24:18 Ia hal paling berharga yang kita miliki.
1:24:20 Jadi mengapa kita terus-menerus
1:24:24 mengisinya
1:24:26 dengan barang rongsokan,
1:24:28 sampah?
1:24:32 Maksud saya, bahkan di rumah kita, kita membuang sampah.
1:24:35 Setiap hari kita membersihkan tubuh kita.
1:24:38 Bagaimana dengan pikiran?
1:24:40 Seberapa banyak kita membersihkan pikiran?
1:24:44 Seberapa banyak kita membuang barang rongsokan?
1:24:46 Seberapa banyak yang kita bawa masuk
1:24:52 yang mengisi pikiran kita dengan segala macam hal yang tak berguna?
1:24:56 Termasuk percakapan.
1:24:58 Jadi kita seharusnya berhati-hati
1:25:05 karena di sinilah kita berdiam
1:25:10 dan pikiran,
1:25:13 kesadaran kita,
1:25:15 akan terus berlanjut.
1:25:17 Pada saat kematian kita meninggalkan rumah kita,
1:25:20 kita meninggalkan semua harta benda kita,
1:25:22 kita meninggalkan semua keluarga dan teman kita,
1:25:25 kita meninggalkan tubuh kita.
1:25:28 Tetapi satu hal yang kita bawa serta,
1:25:30 nah, dua hal.
1:25:31 Satu adalah kehidupan kita saat ini.
1:25:33 Karma kita dan kesadaran kita.
1:25:37 Dan kecenderungan-kecenderungan kebiasaan kita
1:25:40 yang telah kita kembangkan dalam kehidupan ini.
1:25:43 Jadi kita seharusnya berhati-hati.
1:25:46 Karena satu tempat yang darinya kita tak bisa lolos
1:25:49 adalah pikiran kita sendiri.
1:25:50 Jadi mengapa tak menjadikannya sesuatu
1:25:51 yang merupakan tempat menyenangkan untuk didiami?
1:25:55 Dan sebagai manusia,
1:25:58 kita punya bahasa.
1:26:00 Kita punya kemampuan untuk berkomunikasi
1:26:05 melalui bahasa.
1:26:07 Jadi karena itu kita seharusnya juga sangat berhati-hati.
1:26:12 Bukan hanya apa yang kita katakan,
1:26:14 tetapi apa yang kita dengarkan.
1:26:16 Dan sekadar membuang-buang waktu kita
1:26:19 hanya bergosip dan, tahu kan,
1:26:22 sekadar menggunakan bahasa untuk mengalihkan pikiran,
1:26:30 itu tak berguna.
1:26:31 Jadi tolong carilah teman-teman yang baik.
1:26:34 Teman-teman yang dengannya Anda bisa duduk dan berbincang tentang hal-hal
1:26:36 yang sungguh punya makna tertentu,
1:26:38 yang akan mengilhami praktik Anda,
1:26:41 dan yang, tentu saja, bisa menyenangkan.
1:26:43 Tak ada yang salah dengan bersenang-senang
1:26:45 dan tertawa dan menikmati.
1:26:47 Tetapi meskipun demikian,
1:26:48 bukan sekadar obrolan sia-sia yang tak berguna.
1:26:52 Karena kita bisa menghabiskan seluruh hidup kita
1:26:55 mendengarkan obrolan sia-sia.
1:26:57 Nyalakan saja televisi.
1:26:59 Banyak sekali obrolan sia-sia.
1:27:03 Maksud saya, seberapa sering Anda mendengar seseorang mengatakan sesuatu
1:27:06 yang sungguh layak didengarkan?
1:27:08 Jadi berhati-hatilah.
1:27:10 Kita semua seharusnya jauh lebih berhati-hati.
1:27:13 Apakah praktik itu jalannya
1:27:23 atau kebijaksanaan jalannya?
1:27:25 Nah, praktik adalah jalan
1:27:28 yang menuntun ke kebijaksanaan.
1:27:30 Jelas.
1:27:35 Itulah mengapa kita berlatih.
1:27:38 Untuk memperoleh kebijaksanaan.
1:27:40 Kebijaksanaan berarti melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sesungguhnya
1:27:44 dan bukan sebagaimana ia diproyeksikan
1:27:46 oleh kesadaran kita yang terdistorsi.
1:27:48 Kita tak akan membahas itu di sini,
1:27:52 tetapi faktanya adalah bahwa sebagian besar dari apa yang kita alami
1:27:57 berdasar pada ketidaktahuan kita.
1:28:01 Jadi kita perlu kembali ke keadaan mengetahui,
1:28:05 pengetahuan yang murni.
1:28:08 Itulah kebijaksanaan.
1:28:10 Untuk itu kita membutuhkan praktik.
1:28:17 Kita terlahir, kita mencintai,
1:28:19 kita menjalin hubungan,
1:28:21 kita menghasilkan uang, rumah,
1:28:23 kita membuat bayi, karier,
1:28:25 dan mati suatu hari.
1:28:26 Sepanjang hidup kita terus-menerus bekerja.
1:28:28 Mengapa kita harus mengerahkan upaya sadar
1:28:30 untuk melakukan semua ini
1:28:32 kalau kita tahu akhirnya?
1:28:34 Nah, karena
1:28:36 kalau kita melakukan semua ini dengan kesadaran,
1:28:38 maka kita sedang belajar untuk kembali
1:28:40 ke sifat dasar kita.
1:28:42 Maksud saya, di sinilah kita terjebak dalam samsara.
1:28:44 Nah, sekadar berkata,
1:28:46 nah, tahu kan,
1:28:48 di sinilah kita terjebak dalam samsara.
1:28:50 Nah, sekadar berkata,
1:28:52 nah, tahu kan,
1:28:58 di sinilah kita terjebak dalam samsara.
1:29:00 Nah, di sinilah aku dalam samsara.
1:29:02 Aku tak ingin berada dalam samsara.
1:29:04 Itu tak akan mengakhiri samsara.
1:29:06 Maksud saya, di sinilah kita.
1:29:08 Berputar dan berputar dan berputar
1:29:10 di atas roda.
1:29:12 Maka hal terbaik yang bisa dilakukan
1:29:14 adalah menerima bahwa kita sedang melakukan
1:29:16 semua hal ini dalam hidup kita
1:29:18 dan kita bisa melakukannya dengan motivasi yang baik
1:29:20 atau dengan motivasi yang buruk.
1:29:22 Maksud saya, itu terserah kita.
1:29:24 Maksud saya, kalau tidak, apa yang akan kita lakukan?
1:29:26 Entah kita membunuh diri kita sendiri,
1:29:28 yang tampaknya tak begitu berguna,
1:29:30 atau kita sekadar duduk di sana
1:29:32 dan berharap hidup akan berlalu dengan cepat.
1:29:39 dan berharap hidup akan berlalu dengan cepat.
1:29:41 Kita harus bertindak.
1:29:49 Dan semua hal ini
1:29:51 pada dirinya sendiri tidaklah salah.
1:29:53 Maksud saya,
1:29:55 kita terlahir.
1:29:57 Nah, di sinilah kita.
1:29:59 Kita mencintai.
1:30:01 Kita menjalin hubungan.
1:30:03 Ini semua baik.
1:30:05 Kita menghasilkan uang karena kita perlu hidup.
1:30:07 Kita punya rumah karena kita perlu tinggal di suatu tempat.
1:30:09 Kita punya bayi karena kalau tidak
1:30:11 kita akan kehabisan orang.
1:30:13 Mungkin itu hal yang baik.
1:30:15 Kita punya karier dan kita mati suatu hari.
1:30:17 Nah, itu tak apa-apa.
1:30:19 Jadi, intinya adalah
1:30:21 bahwa entah kita bisa melakukan ini dengan kesadaran
1:30:23 atau kita bisa melakukan ini tanpa kesadaran.
1:30:25 Dan itulah intinya.
1:30:27 Entah kita bisa melakukan ini untuk memupuk
1:30:29 kualitas-kualitas hati
1:30:31 yang dibutuhkan
1:30:33 untuk kembali ke sifat sejati kita
1:30:35 atau kita sekadar membuang-buang waktu kita.
1:30:37 Pada dirinya sendiri
1:30:39 hal-hal ini tidaklah baik atau buruk,
1:30:41 ia bergantung pada apa yang kita lakukan dengannya.
1:30:43 Maksud saya, tahu kan,
1:30:47 bukan berarti, tahu kan,
1:30:49 memiliki karier
1:30:51 dan memiliki keluarga
1:30:53 dan bekerja
1:30:55 pada dirinya sendiri itu baik atau buruk.
1:30:57 Tetapi kalau kita sepenuhnya terganggu
1:30:59 sepanjang waktu
1:31:01 atau kita mengira bahwa hal-hal ini
1:31:03 adalah segalanya dan akhir dari hidup,
1:31:05 maka
1:31:07 kita sekadar menjadi bagian dari proses itu.
1:31:09 Ia akan terus berlanjut dan berlanjut dan berlanjut
1:31:11 kehidupan demi kehidupan.
1:31:13 Kalau kita meskipun demikian
1:31:15 menggunakan semua kualitas ini
1:31:17 untuk mengembangkan jalan (Dharma) —
1:31:19 tempat kerja kita, keluarga kita,
1:31:23 anak-anak kita —
1:31:25 maka
1:31:29 maka semuanya
1:31:31 menuntun
1:31:33 ke
1:31:35 pencerahan akhir kita.
1:31:37 Itu terserah kita
1:31:39 seberapa terganggu kita menjadi,
1:31:41 seberapa terpuruk kita menjadi oleh semua hal ini,
1:31:43 atau apakah kita menggunakannya untuk memupuk
1:31:45 kualitas-kualitas batin
1:31:47 atau apakah kita menggunakannya untuk memupuk kualitas-kualitas batin
1:31:49 yang kita butuhkan
1:31:53 untuk pencerahan.
1:31:55 Untuk mencapai pencerahan
1:31:57 kita membutuhkan kualitas-kualitas
1:31:59 seperti cinta kasih dan welas asih
1:32:01 dan kesabaran dan seterusnya.
1:32:03 Untuk itu kita membutuhkan orang lain.
1:32:05 Kita membutuhkan tantangan-tantangan kehidupan
1:32:07 untuk berkembang
1:32:09 dan seperti yang saya bilang untuk menjadi dewasa.
1:32:11 Kita semua berusaha menjadi matang,
1:32:13 untuk akhirnya menjadi orang dewasa.
1:32:26 Dan untuk itu kita membutuhkan
1:32:28 semua hal ini.
1:32:30 Tahu kan, lingkaran tak berujung ini —
1:32:32 bagaimana keluar.
1:32:34 Bagaimana kita seharusnya bersikap dengan orang-orang yang toksik
1:32:36 dalam hidup kita?
1:32:38 Beri mereka banyak cinta.
1:32:40 Tonglen —
1:32:42 tahu kan, meditasi ini
1:32:44 di mana Anda menarik masuk kegelapan
1:32:46 dan Anda memancarkan cahaya keluar,
1:32:48 itu sangat berguna dengan orang-orang toksik.
1:32:50 Ia mengubah racun menjadi amrita,
1:32:52 menjadi nektar.
1:32:57 Tanpa orang-orang toksik
1:32:59 bagaimana kita akan sungguh-sungguh belajar
1:33:01 cinta kasih
1:33:03 dan welas asih?
1:33:05 Kalau kita hanya punya cinta kasih
1:33:07 dan welas asih kepada orang-orang yang baik,
1:33:09 maka siapa pun
1:33:11 bisa punya itu.
1:33:13 Tantangan yang sebenarnya
1:33:15 adalah untuk punya
1:33:17 cinta kasih dan welas asih
1:33:19 kepada orang-orang yang benar-benar
1:33:21 menyebalkan.
1:33:29 Kalau tidak bagaimana cinta kita bisa tanpa syarat?
1:33:31 Dan cinta yang sejati
1:33:35 adalah tanpa syarat.
1:33:37 Ia bukan soal
1:33:39 apakah orang itu orang yang baik
1:33:41 atau bukan orang yang baik.
1:33:43 Itu tak berarti kita membenarkan
1:33:45 ketoksikan mereka.
1:33:47 Itu tak berarti kita berkata itu tak apa-apa.
1:33:49 Itu tidak baik.
1:33:51 Dan mereka sedang membuat karma buruk.
1:33:53 Jadi kita bisa punya welas asih.
1:33:55 Maksud saya, saya kira kalau Anda,
1:33:57 kalau kita sungguh berjumpa dengan seseorang
1:33:59 yang sangat, sangat sungguh sulit,
1:34:01 kita bisa berpikir,
1:34:03 apakah aku mau (memiliki) pikiran mereka?
1:34:08 Dan kita pasti akan berkata,
1:34:10 oh tidak.
1:34:12 Dan jadi kita bisa merasakan welas asih.
1:34:14 Tetapi terpenjara dalam sebuah pikiran
1:34:16 yang melakukan hal-hal ini,
1:34:18 mengatakan hal-hal ini,
1:34:20 betapa menyedihkan.
1:34:29 Seseorang yang hatinya sungguh-sungguh damai
1:34:31 tak menciptakan
1:34:33 masalah bagi orang lain.
1:34:37 Jadi kalau mereka memang menciptakan masalah
1:34:39 itu karena
1:34:41 di dalam batin
1:34:43 mereka tak damai.
1:34:47 Jadi lalu
1:34:49 tanpa membenarkan apa yang mereka lakukan
1:34:51 kita meskipun demikian bisa merasakan welas asih
1:34:53 dan cinta yang sejati.
1:34:59 Untuk semua makhluk.
1:35:01 Seperti yang saya bilang, matahari bersinar pada semua orang.
1:35:03 Ia tak membeda-bedakan.
1:35:12 Di tempat kerja saya berhadapan
1:35:14 setiap hari dengan para pelamar
1:35:16 yang berbohong, menipu, tidak jujur,
1:35:18 dan (saya) menerapkan Dharma.
1:35:23 Saya tahu bahwa mereka menginginkan kebahagiaan dalam hidup mereka
1:35:25 dan itulah mengapa mereka melakukan tindakan-tindakan ini.
1:35:27 Saya seharusnya menolong mereka.
1:35:29 Namun secara praktis itu salah
1:35:31 dan saya seharusnya tak menolong mereka.
1:35:33 Apa yang harus saya lakukan?
1:35:37 Nah, seperti yang saya bilang,
1:35:39 kenyataan bahwa kita punya kesabaran
1:35:41 dan welas asih terhadap perbuatan salah
1:35:43 tak berarti bahwa kita membenarkannya
1:35:45 atau bahwa kita naif.
1:35:49 Pertama-tama, kalau seseorang melakukan
1:35:51 sesuatu yang salah dan kita membiarkan mereka
1:35:53 melakukannya hanya karena kita berusaha
1:35:55 menjadi praktisi spiritual yang baik,
1:35:57 mungkin itu
1:35:59 tidak baik bagi mereka.
1:36:01 Betul kan? Karena lalu
1:36:03 mereka mengira mereka bisa lolos dari apa pun.
1:36:05 Jadi di satu sisi
1:36:07 kita harus punya
1:36:09 penglihatan yang jernih. Kita harus punya
1:36:11 sedikit kebijaksanaan di sini.
1:36:13 Welas asih berjalan bersama kebijaksanaan
1:36:15 dan kebijaksanaan berarti melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sesungguhnya.
1:36:17 Jadi
1:36:19 kalau kita melihat bahwa orang
1:36:21 berbohong dan menipu dan melakukan hal-hal ini,
1:36:23 itu tak berarti kita begitu saja membiarkan mereka
1:36:25 lolos dari itu.
1:36:27 Tetapi meskipun demikian,
1:36:29 kalau kita bisa mencegahnya atau menangani
1:36:31 situasi itu,
1:36:33 tetapi tanpa dasar
1:36:35 kemarahan
1:36:37 atau keinginan untuk
1:36:39 tahu kan,
1:36:41 intinya adalah,
1:36:43 Buddha berkata
1:36:45 karma
1:36:47 adalah kehendak (niat).
1:36:49 Jadi intinya adalah
1:36:53 bukan bagaimana kita bertindak
1:36:55 melainkan
1:36:57 motivasi dasar
1:36:59 atau niat di balik tindakan itu.
1:37:01 Jadi kita bisa sangat tajam
1:37:03 tetapi kalau niatnya
1:37:07 adalah untuk menolong yang lain
1:37:09 atau muncul
1:37:11 dari melihat bahwa membiarkan
1:37:13 orang itu lolos dari itu
1:37:15 pada akhirnya akan menjadi
1:37:17 masalah bagi orang itu,
1:37:19 maka baik untuk bersikap tajam.
1:37:23 Apakah Anda mengerti?
1:37:25 Maksud saya misalnya
1:37:27 bodhisatwa
1:37:29 welas asih
1:37:31 Avalokiteshvara
1:37:33 ditampilkan
1:37:35 putih
1:37:37 dan memegang teratai
1:37:39 dan tersenyum dan tampak
1:37:41 seperti gambaran semua orang
1:37:43 tentang welas asih. Betul kan?
1:37:45 Manis dan tersenyum.
1:37:47 Tetapi aspek lain
1:37:49 dari
1:37:51 Avalokiteshvara
1:37:53 adalah Mahakala,
1:37:55 sang agung yang hitam.
1:37:57 Ia adalah
1:38:01 kepala dari semua pelindung,
1:38:03 para pelindung Dharma.
1:38:05 Ia sangat murka
1:38:10 tetapi esensinya adalah welas asih.
1:38:12 Ia makhluk yang sama
1:38:14 tetapi
1:38:16 kadang-kadang kita harus
1:38:18 tampil murka
1:38:20 atau keras
1:38:22 demi welas asih.
1:38:26 Tak berarti
1:38:28 bahwa kita
1:38:30 menyerah pada segala sesuatu
1:38:32 atau bahwa kita
1:38:34 tahu kan membiarkan apa pun
1:38:36 begitu saja.
1:38:38 Kalau kita melihat
1:38:40 seseorang yang melakukan sesuatu yang salah
1:38:42 yang menyakiti mereka
1:38:44 sekaligus orang lain.
1:38:46 Jadi
1:38:48 mengevaluasi situasinya,
1:38:50 maka
1:38:52 kita seharusnya memutuskan
1:38:54 bagaimana bertindak
1:38:56 dengan cara
1:38:58 yang akan menjaga integritas
1:39:00 dan pada saat yang sama
1:39:02 memberi manfaat bagi mereka.
1:39:04 Mungkin dengan
1:39:06 mencegah mereka
1:39:08 dari bertindak dengan cara
1:39:10 yang secara karma
1:39:12 akan sangat negatif bagi mereka
1:39:14 atau bahwa mereka di masa depan
1:39:16 akan terus melakukan tindakan-tindakan negatif ini.
1:39:18 Jadi itu tak berarti
1:39:20 bahwa kita harus menjadi lemah.
1:39:22 Maksud saya sesungguhnya
1:39:24 kesabaran dan welas asih
1:39:26 sangatlah kuat.
1:39:30 Ia bukan kelemahan.
1:39:32 Melainkan melihat situasinya
1:39:34 dengan sangat jernih
1:39:36 dan lalu memutuskan
1:39:38 apa cara terbaik
1:39:40 untuk menangani situasi itu.
1:39:42 Jadi kalau Anda berhadapan dalam
1:39:44 hidup Anda dengan orang-orang yang
1:39:46 berbohong, menipu,
1:39:48 dan tidak jujur dan seterusnya,
1:39:50 maka
1:39:52 Anda menerapkan Dharma dengan cara
1:39:54 yang akan membawa manfaat bagi mereka
1:39:56 pada akhirnya.
1:39:58 Bukan hanya saat ini.
1:40:00 Jadi seseorang bisa
1:40:02 sangat tegas.
1:40:04 Seperti orang tua.
1:40:06 Kalau orang tua hanya menuruti anak-anaknya
1:40:08 dan tahu kan
1:40:10 karena anak-anak itu,
1:40:12 kita tak ingin mereka tak bahagia
1:40:14 dan mereka nakal
1:40:16 dan berbohong dan menipu,
1:40:18 Anda akan memarahi anak-anak Anda.
1:40:20 Kalau Anda orang tua yang baik.
1:40:22 Anda tak akan berkata
1:40:26 oh tetapi kalau aku memarahi mereka
1:40:28 maka mereka akan tak bahagia
1:40:30 karena aku seharusnya penuh kasih.
1:40:32 Kalau Anda mencintai mereka maka Anda akan
1:40:34 mendisiplinkan mereka.
1:40:36 Kalau tidak Anda bukan orang tua yang baik.
1:40:38 Bagaimana mungkin?
1:40:40 Jadi kalau orang bersikap
1:40:43 kekanak-kanakan dalam
1:40:45 urusan mereka dengan
1:40:47 masyarakat,
1:40:49 maka seseorang harus
1:40:51 memperlakukan mereka seperti seseorang akan
1:40:53 memperlakukan anaknya sendiri.
1:40:55 Dengan welas asih
1:40:57 dan cinta tetapi dengan
1:40:59 ketegasan yang besar.
1:41:01 Tak membiarkan mereka begitu saja lolos dari apa pun.
1:41:03 Karena pada akhirnya
1:41:05 itu tak menolong mereka.
1:41:11 Jadi Dharma bukanlah menjadi lemah.
1:41:13 Dharma adalah melihat segala sesuatu dengan sangat jernih
1:41:15 dan bagaimana bertindak
1:41:17 dengan tepat.
1:41:21 Yang mungkin secara lahiriah tampak
1:41:23 sangat tegas.
1:41:29 Jadi sekali lagi di sini
1:41:38 ia bertanya bagaimana seseorang menghadapi ketika ditipu?
1:41:40 Nah persis. Anda tak membiarkan
1:41:42 orang lolos dari hal-hal itu.
1:41:44 Kalau mungkin.
1:41:46 Maksud saya menjadi welas asih tak berarti
1:41:48 bahwa Anda bodoh.
1:41:50 Dan itu tak berarti bahwa kita
1:41:52 naif.
1:41:54 Maksud saya kita harus melihat segala sesuatu
1:41:56 dengan sangat jernih.
1:41:58 Dan seperti yang saya bilang seperti dengan seorang anak,
1:42:00 kalau seorang anak mencuri
1:42:02 atau menipu Anda menghentikannya.
1:42:04 Tidak baik hati
1:42:09 kepada anak itu untuk membiarkan mereka
1:42:11 lolos dari jenis perilaku itu.
1:42:13 Anak itu mungkin sangat kesal
1:42:17 pada saat itu tetapi
1:42:19 pada akhirnya bagaimana lagi mereka bisa belajar?
1:42:21 Jadi
1:42:23 kalau seseorang menipu kita
1:42:25 atau sangat kasar maka kita harus
1:42:27 membela diri terhadap itu. Tetapi bukan dari
1:42:29 kemarahan dan ketakutan melainkan dari welas asih
1:42:31 yang sejati dan
1:42:33 kejernihan tentang bagaimana
1:42:35 merespons tindakan mereka
1:42:37 dengan cara yang akan
1:42:39 mencegah mereka menyebabkan lebih banyak kerugian.
1:42:41 Ya, Nak?
1:42:55 Anda mencintai mereka tetapi
1:42:57 itu seperti Anda akan mencintai seorang anak.
1:42:59 Anda mencintai anak Anda tetapi
1:43:01 kalau anak Anda menipu maka Anda
1:43:03 menghentikan anak itu dari melakukan itu.
1:43:05 Itu tak berarti Anda tak mencintai anak itu lagi.
1:43:07 Bukan begitu?
1:43:11 Tahu kan dan Anda juga
1:43:13 punya welas asih bahwa anak itu sampai
1:43:15 bertindak dengan cara seperti itu.
1:43:17 Jadi kalau seseorang bertindak dengan cara
1:43:19 yang menciptakan masalah
1:43:21 bagi Anda dengan cara ini,
1:43:23 maka Anda bisa mencegah itu atau Anda bisa
1:43:25 melakukan sesuatu tentangnya tetapi pada saat yang sama
1:43:27 bukan dari
1:43:29 sikap
1:43:31 kemarahan atau
1:43:33 dendam atau balas dendam
1:43:35 melainkan dari menyadari
1:43:37 bahwa mereka bertindak dengan cara itu karena
1:43:39 tahu kan mereka
1:43:41 tak melihat segala sesuatu
1:43:43 dengan jernih dan mereka bertindak
1:43:45 mungkin dari obsesi ego
1:43:47 mereka sendiri. Jadi lalu Anda merasa
1:43:49 kasihan kepada mereka tetapi Anda menghentikan mereka.
1:43:51 Atau kalau mereka sudah
1:43:53 melakukannya dan Anda tak bisa menghentikan mereka maka
1:43:55 bagaimanapun Anda sekadar memberi mereka banyak
1:43:57 welas asih dan cinta dan berharap bahwa mereka
1:43:59 akan sehat dan bahagia.
1:44:01 Itu tak berarti bahwa Anda
1:44:03 membenarkan apa yang mereka lakukan
1:44:05 tetapi
1:44:07 tahu kan kita bisa mencintai semua makhluk
1:44:09 bukan hanya karena mereka melakukan apa yang kita ingin
1:44:11 mereka lakukan.
1:44:13 Maksud saya betapa menyedihkan tahu kan kalau seseorang melakukan
1:44:15 hal-hal seperti itu mereka membuat karma yang sangat, sangat
1:44:17 negatif untuk diri mereka sendiri.
1:44:19 Itu sangat menyedihkan.
1:44:23 Maksud saya intinya adalah bahwa kita tak hanya mencintai orang
1:44:25 yang melakukan hal-hal yang kita ingin mereka lakukan.
1:44:27 Kita mencintai semua orang apa pun yang terjadi.
1:44:29 Tetapi itu tak berarti bahwa kita
1:44:31 setuju bahwa apa yang mereka lakukan itu benar.
1:44:33 Apakah Anda mengerti?
1:44:36 Ya?
1:44:48 Tak apa untuk berjalan pergi (menghindar)?
1:44:50 Atau setidaknya Anda bisa
1:44:52 menyadari bahwa inilah yang mereka lakukan
1:44:54 dan itu bukan hal yang benar untuk dilakukan
1:44:56 dan Anda sungguh menyesal bahwa mereka melakukannya
1:44:58 tetapi meskipun demikian
1:45:00 Anda tak ingin
1:45:02 balas dendam.
1:45:04 Tahu kan kalau mereka
1:45:06 meskipun demikian tahu kan
1:45:08 Anda mengharapkan mereka bebas dari penderitaan
1:45:10 dan bahagia.
1:45:12 Karena mereka makhluk hidup dan mereka
1:45:14 kacau seperti semua orang lain
1:45:16 dan bukankah itu menyedihkan?
1:45:18 Tahu kan?
1:45:20 Ya ampun tahu kan
1:45:22 kita membuat karma yang begitu mengerikan untuk diri kita sendiri
1:45:24 dan makhluk lain dan menciptakan begitu banyak
1:45:26 masalah dan kita
1:45:28 begitu kacau dan kita sekadar tak melihat
1:45:30 segala sesuatu dengan benar dan betapa menyedihkannya itu.
1:45:34 Dan kalau Anda memikirkan itu maka Anda
1:45:36 cukup mudah untuk merasakan
1:45:38 kehangatan terhadap mereka bahkan kalau mereka
1:45:40 tanpa harapan.
1:45:42 Tahu kan?
1:45:46 Jangan menyimpannya di hati Anda. Itulah intinya.
1:45:48 Karena kalau kita menyimpan dendam
1:45:50 di hati kita maka kita terluka,
1:45:52 kita menyakiti diri kita sendiri. Kita tak menyakiti mereka.
1:45:54 Kita menyakiti diri kita sendiri. Yang tak masuk akal.
1:45:56 Kita melakukan kepada
1:45:58 diri kita sendiri apa yang hanya musuh terburuk kita
1:46:00 yang akan mengharapkannya untuk kita.
1:46:02 Dan itu bodoh.
1:46:04 Jadi lepaskanlah. Biarkan ia pergi.
1:46:06 Jangan menyimpannya.
1:46:10 Itu tak berarti bahwa Anda
1:46:12 setuju bahwa itu hal yang baik. Itu bukan hal yang baik
1:46:14 tetapi Anda tak harus menyimpannya.
1:46:16 Tahu kan? Biarkan ia pergi.
1:46:18 Kita belajar dari segala sesuatu.
1:46:20 Sungguh, Sayang.
1:46:24 Biarkan ia pergi.
1:46:31 Anda harus menyelesaikan yang terakhir ini dan lalu selesai.
1:46:33 Oke? Anda menjadi sepenuhnya terlepas.
1:46:35 Yang saya dengar dari Anda adalah
1:46:37 bahwa apa yang Buddha katakan mirip dengan apa yang
1:46:39 Krishna katakan.
1:46:41 Apakah benar untuk menyimpulkan Krishna
1:46:43 dan Buddha adalah sebuah awatara
1:46:45 dari Wisnu? Tidak, tidak benar.
1:46:47 Sesungguhnya
1:46:49 pandangan
1:46:51 Krishna dalam Bhagavad Gita
1:46:53 sangat berbeda dari Dharma.
1:46:57 Tetapi kita tak akan membahasnya
1:46:59 di sini. Tetapi tentu saja
1:47:01 dari perspektif Buddhis
1:47:03 Buddha
1:47:05 bukanlah awatara dari Wisnu.
1:47:07 Tetapi di sisi lain kalau Anda ingin melihat
1:47:09 Wisnu sebagai
1:47:11 semacam realitas tertinggi,
1:47:13 maka Anda
1:47:15 bisa berkata bahwa kita semua adalah awatara
1:47:17 dari Wisnu. Karena
1:47:19 kita semua adalah
1:47:21 aspek-aspek
1:47:23 dari realitas tertinggi.
1:47:25 Jadi tahu kan dalam hal itu
1:47:27 Wisnu punya miliaran
1:47:29 awatara. Mengapa tidak?
1:47:31 Kita semua adalah awatara dengan satu atau lain cara.
1:47:33 Karena kita semua punya sifat Buddha
1:47:35 yang asali.
1:47:38 Maksud saya sepanjang sejarah makhluk-makhluk agung
1:47:40 telah terlahir ke dunia ini.
1:47:42 Dan karena kita
1:47:44 begitu terbenam dalam ketidaktahuan,
1:47:46 maka tahu kan mereka datang
1:47:48 dan mereka berusaha
1:47:50 membangunkan kita.
1:47:52 Dan lalu
1:47:54 tahu kan untuk sesaat semua orang
1:47:56 mulai bangun sedikit
1:47:58 dan lalu kita semua tertidur kembali lagi.
1:48:00 Dan jadi kita berharap
1:48:02 sekali lagi di masa depan
1:48:04 lebih banyak makhluk agung akan datang dan berusaha
1:48:06 mengguncang kita agar terbangun. Sangat sulit bagi kita
1:48:08 untuk bangun dari tidur
1:48:10 ketidaktahuan kita.
1:48:12 Dan di banyak bagian berbeda dari
1:48:14 dunia makhluk-makhluk agung telah muncul
1:48:16 dan sesuai dengan
1:48:18 budaya negeri-negeri itu mereka
1:48:20 telah tahu kan memberi
1:48:22 pesan pembebasan. Jadi
1:48:24 kita seharusnya sangat, sangat bersyukur akan itu.
1:48:26 Dan India tentu saja
1:48:28 secara khusus sangat kaya
1:48:30 dengan makhluk-makhluk yang sangat agung.
1:48:32 Yang telah terlahir kembali lagi
1:48:34 dan lagi sepanjang sejarah India.
1:48:36 Dan telah punya pengaruh
1:48:38 yang luar biasa
1:48:40 pada seluruh Asia.
1:48:42 Dan jadi Anda bisa sangat
1:48:44 bangga akan itu karena
1:48:46 dari negara mana pun di dunia,
1:48:48 tak ada yang telah menghasilkan lebih banyak makhluk yang tercerahkan
1:48:50 daripada India.
1:48:52 Dan jadi
1:48:54 itu hal yang luar biasa.
1:48:56 Dan maksud saya
1:48:58 saya kira bahwa meskipun segala sesuatu
1:49:00 yang sedang terjadi di India dan juga
1:49:02 di seluruh dunia,
1:49:04 India tetap memegang
1:49:06 pandangan itu
1:49:08 tentang sesuatu yang melampaui
1:49:10 keberadaan duniawi kita yang biasa.
1:49:12 Misalnya seperti yang Anda tahu
1:49:14 di (koran) Times of India mereka selalu punya
1:49:16 pohon kecil yang berbicara itu (kolom "Speaking Tree").
1:49:18 Jadi di tengah semua berita
1:49:20 tentang korupsi
1:49:22 dan pembunuhan dan pemerkosaan dan juga
1:49:24 setiap hari hal yang sama,
1:49:26 ada saja
1:49:28 paragraf-paragraf kecil
1:49:30 kewarasan
1:49:32 di tengah
1:49:34 samsara yang
1:49:36 sekadar ada di sana
1:49:38 untuk mengingatkan kita
1:49:40 apa yang sesungguhnya
1:49:42 apa itu kebenaran
1:49:44 di tengah semua omong kosong
1:49:46 samsara yang mereka beritakan ini.
1:49:48 Dan saya tak tahu
1:49:50 surat kabar lain di mana pun
1:49:52 yang melakukan itu.
1:49:54 Saya kira itu sangat khas India.
1:49:56 Sangat indah
1:49:58 bahwa
1:50:00 setiap hari sudah entah
1:50:02 berapa tahun sekarang
1:50:04 mereka terus menyajikan kembali dari semua
1:50:06 tradisi
1:50:08 cahaya
1:50:10 di tengah semua
1:50:12 kegelapan itu.
1:50:14 Jadi tahu kan
1:50:16 jadi Buddha terlahir,
1:50:18 memilih untuk terlahir di India,
1:50:20 Krishna memilih untuk terlahir di
1:50:22 India, Rama memilih untuk terlahir
1:50:24 di India dan
1:50:26 itu adalah bagian dari
1:50:28 warisan agung Anda
1:50:30 yang untuknya sungguh
1:50:32 kita seharusnya sangat, sangat bangga
1:50:34 karena itu adalah
1:50:36 kebijaksanaan sejati
1:50:38 yang mereka berikan
1:50:40 dan tahu kan
1:50:42 ini adalah sesuatu yang bahkan sampai hari ini
1:50:44 masih hidup
1:50:46 meskipun segala sesuatu
1:50:48 berlangsung di sekelilingnya.
1:50:50 Sifat sejati kita
1:50:52 selalu ada di sana.
1:50:54 Ia tak
1:50:56 berkurang atau bertambah,
1:50:58 ia selalu ada di sana tetapi kita harus
1:51:00 menemukannya. Ia tertutupi
1:51:02 dan jadi
1:51:04 semua makhluk agung ini
1:51:06 mereka sekadar menunjukkan,
1:51:08 lihat, lihatlah ke arah yang benar
1:51:10 dan kita akan melihat
1:51:12 ia karena ia selalu ada di sana
1:51:14 menunggu kita untuk menyingkapnya.
1:51:16 Contoh
1:51:21 tradisionalnya adalah tentang
1:51:23 seorang pengemis yang tinggal
1:51:25 di gubuk reyot,
1:51:27 di pondok kecil yang sangat miskin,
1:51:29 dan pergi keluar setiap hari
1:51:31 untuk mendapat beberapa paisa
1:51:33 dan sepanjang waktu di
1:51:35 bawah tanah gubuknya
1:51:37 ada harta karun besar ini. Ia sesungguhnya seorang
1:51:39 jutawan (crorepati). Ia sekadar tak tahu itu.
1:51:41 Dan jadi
1:51:43 ia mengira dirinya pengemis
1:51:45 tetapi sepanjang waktu ia sangat kaya raya
1:51:47 tetapi ia sekadar tak
1:51:50 mencari kekayaannya di tempat yang benar
1:51:52 dan jadi itu seperti kita —
1:51:56 kita mengira bahwa
1:51:58 kita begitu papa
1:52:00 dan karena itu kita berusaha mencari
1:52:02 di luar untuk kenyamanan
1:52:04 dan kekayaan dan kepuasan
1:52:06 dan sepanjang waktu
1:52:08 sifat terdalam kita
1:52:10 adalah kebahagiaan
1:52:12 dan cahaya yang total
1:52:14 dan cinta dan welas asih
1:52:16 dan kebijaksanaan
1:52:18 tetapi kita mencari ke arah
1:52:20 yang salah.
1:52:22 Jadi inilah cara-cara yang bermakna
1:52:42 untuk memupuk
1:52:44 kualitas-kualitas hati ini
1:52:46 dan pikiran
1:52:48 sehingga seperti yang saya bilang
1:52:50 ketika waktunya tiba
1:52:52 kita bisa mati tanpa penyesalan.
1:52:54 Terima kasih.