Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

Learning to Love Openly and Wisely

Tentang Ceramah

Sesi tanya-jawab bersama Jetsunma Tenzin Palmo membahas buku terbarunya "Heroic Heart", sebuah komentar atas Lojong — latihan batin dari Gyalse Tokme Zangpo (37 Bait Praktik Bodhisatwa). Inti Lojong adalah mengambil segala hal yang terjadi dalam hidup, terutama keadaan yang tidak menguntungkan dan orang-orang yang menyulitkan, lalu menjadikannya bahan latihan — bukan mengubah keadaan luar, melainkan mengubah respons batin kita. Ia mengibaratkannya sebagai ragi yang meringankan adonan berat kehidupan sehari-hari: hidup sehari-hari adalah praktiknya, bukan rintangannya. Jetsunma menjelaskan perbedaan antara cinta dan kelekatan lewat analogi kupu-kupu, makna berlindung pada Tiga Permata sebagai "pengungsi" dari samsara, praktik memandang semua makhluk sebagai ibu, cara memaafkan dan menyikapi orang yang menyakiti kita sebagai "sahabat spiritual terbesar", serta pentingnya keseimbangan antara menolong diri sendiri dan menolong orang lain — disertai akal sehat, karena sebagian besar instruksi ditujukan untuk bodhisatwa tingkat tinggi. Ditutup dengan pelimpahan jasa.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Kami senang sekali, Jetsunma, Anda bisa hadir di sini.
Kami sungguh merasa terhormat.
Kami sangat akrab dengan musim hujan di daerah ini.
Untuk saat ini, langit sedang cerah dan sore ini berkilau matahari.
Kami berharap hal yang sama untuk Anda secepatnya.
Tetapi bagaimanapun, selamat datang.
Semoga kita bisa melanjutkan sesi ini sebaik mungkin.
Terima kasih banyak telah hadir.
Terima kasih banyak, Jetsunma.
Bolehkah kami minta Anda membuka dengan doa aspirasi?
Dan kami menyambut Yang Mulia Ruby Gordon juga, yang ikut bergabung dengan kami.
Kami sangat senang.
Bisakah Anda menutup mikrofon Anda?
Jetsunma, apakah Anda bisa mendengar saya?
Ya.
Apa yang Anda inginkan?
Kalau Anda berkenan menetapkan motivasi untuk sesi ini.
Nah, motivasi utama kita adalah bahwa kita semua hendaknya tetap saling terhubung setiap saat.
Dan semoga demikianlah adanya.
Jetsunma, sebagian dari...
Sebagian pertanyaan — dan saya kira kita langsung saja masuk, mengingat koneksi internet kita.
Mari kita lihat sejauh mana kita bisa tetap terhubung, Jetsunma.
Jadi pertanyaan pertama kami adalah mengenai penerbitan buku terbaru Anda, "Heroic Heart" (Hati yang Berani).
Mengapa topik ini?
Dari semua buku yang bisa ditulis, mengapa Anda memilih ini?
Oh, begini, ini buku (berdasarkan karya) oleh Gyalse Tokme Zangpo tentang apa yang disebut Lojong.
Dan ini buku tentang latihan batin.
Gagasan Lojong ini diperkenalkan ke Tibet pada abad ke-11 oleh Dipankara Atisha.
Lalu para pengikutnya kemudian menulis banyak teks yang sangat istimewa tentang topik ini.
Jadi ini teks yang sangat termasyhur di Tibet.
Namanya "Gyalse Laglen", artinya praktik para putra Sang Penakluk —
Para Yang Menang, yakni para Buddha.
Dan ia sudah punya banyak sekali komentar oleh hampir semua lama yang sangat agung.
Saya juga pernah mendengar komentar langsung oleh Dilgo Khyentse Rinpoche dan Gyalwang Karmapa,
dan juga oleh Yang Mulia Dalai Lama.
Jadi ini teks yang sangat-sangat penting.
Dan mengapa ia penting menurut saya adalah karena Lojong berkaitan dengan mengambil segala hal
yang terjadi pada kita dalam hidup, yang baik dan yang buruk,
dan terutama keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan, lalu memakainya sebagai jalan (latihan).
Ini bukan tentang pandangan-pandangan filosofis yang tinggi.
Ini bukan tentang, tahu kan, realisasi Dzogchen yang mendalam.
Ini tentang bagaimana orang biasa seperti kita dengan kehidupan yang biasa bisa memanfaatkan hidup kita,
dan segala yang terjadi dalam hidup kita dan setiap orang yang kita jumpai dalam hidup kita
menjadi penunjang di jalan spiritual.
Jadi ini tentang bagaimana mengubah respons kita, sikap kita —
bukan mengubah keadaan luar, melainkan respons batin kita terhadap keadaan-keadaan itu,
sehingga segala sesuatu diambil dan dipakai untuk kemanfaatan
baik diri kita sendiri maupun orang lain.
Jadi ini ajaran yang sangat-sangat praktis.
Maksud saya, biasanya sekarang ketika seseorang memberi ceramah,
itu bukan kepada hadirin yang terdiri dari para bhiksu atau pertapa dan yogi.
Itu kepada orang biasa yang punya pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial,
tetapi yang ingin melakukan sesuatu yang bermakna dan mengubah diri mereka.
Nah, inilah cara memulai — dengan mengubah,
mengubah batin kita dan sikap kita.
Jadi harapan saya setiap kali memberi ceramah adalah agar seseorang bisa mengambil sesuatu dari situ
dan membawanya ke dalam hidup mereka.
Bagaimana mereka menghadapi keluarga yang sulit, situasi kerja yang sulit,
dan, tahu kan, sangat banyak masalah yang dihadapi setiap orang setiap hari.
Bagaimana mengambil itu — dan ia seperti ragi dalam adonan yang berat, tahu kan.
Ketika kau punya adonan yang berat, lalu kau campurkan sedikit ragi,
dan seluruhnya menjadi ringan.
Kita tak membuang adonannya.
Kita butuh adonannya, tetapi kita butuh raginya.
Lalu kita bisa memanggangnya dan membuat sesuatu yang sangat lezat dan bergizi.
Jadi raginya adalah cara mengubah sikap-sikap kita yang biasa
terhadap orang dan situasi yang sulit.
Dan adonan yang berat — (bagian rekaman tidak jelas)
— adalah kehidupan sehari-hari kita dan hubungan sehari-hari kita.
Jadi kita hanya perlu meringankan keseluruhannya.
Adonan itu, kehidupan sehari-hari itu, adalah praktiknya.
Ia bukan rintangan bagi praktik.
Dan hal ini tak pernah ditunjukkan lebih jelas daripada dalam teks-teks yang luar biasa ini
tentang bagaimana mengubah batin, bagaimana mengubah sikap kita
dan membawa segala hal dan setiap orang bersama kita ke jalan (latihan).
Jadi itulah mengapa saya memilihnya.
Maksud saya, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar ceramah saya adalah tentang berbagai teks Lojong,
karena menurut saya teks-teks itu sungguh luar biasa secara ajaib
dan sesuatu yang bisa kita semua praktikkan.
Kita tak perlu menunggu sampai menjadi bodhisatwa tingkat kedelapan.
Maka itulah alasannya buku ini —
ia tentang itu.
Tiga puluh tujuh bait latihan batin yang luar biasa ini.
Jadi, ya, saya baru saja membacanya sendiri sedikit.
Dan ia juga memuat sebagian komentar oleh Dilgo Khyentse Rinpoche.
Dan sungguh, ia benar-benar sangat, sangat berguna, menurut saya.
Jadi sangat-sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari kita, untuk kita semua.
Tahu kan, entah kita Buddhis atau bukan Buddhis,
ia adalah nasihat yang sangat-sangat luar biasa tentang bagaimana mengubah kehidupan sehari-hari kita
menjadi praktik spiritual kita.
Jadi begitulah.
Terima kasih, Jetsunma.
Anda baru saja menyebutkan bahwa Anda sedang membacanya sebagian.
Adakah bagian tertentu yang ingin Anda bagikan kepada kami?
Tidak, tidak juga.
Saya baru mulai membacanya dan sekadar membaca sekilas untuk melihat seperti apa bunyinya.
Dan selalu terpikir oleh saya bahwa ia sungguh luar biasa —
akal sehat yang luar biasa, akal sehat yang tercerahkan, begitu saya menyebutnya,
karena ia tak begitu umum.
Tetapi bagaimana sungguh-sungguh melihat situasi hidup kita dari perspektif yang berbeda,
dan menyadari bahwa, tahu kan, apa pun yang terjadi pada kita,
kita sungguh bisa memanfaatkannya.
Tak ada yang perlu dibuang.
Dan itu adalah dorongan yang luar biasa bagi kita semua,
karena orang-orang
mengeluh, "Aku tak punya waktu untuk berlatih." Tetapi begitu mereka menyadari bahwa setiap tarikan napas yang kita ambil adalah sebuah praktik,
maka itu mengubah seluruh sikap kita terhadap hidup kita dan terhadap orang-orang yang berbagi hidup dengan kita —
yang sulit maupun yang mudah. Terima kasih. Jadi, ini salah satu dari pertanyaan-pertanyaan lain:
inti praktik adalah mengamati batin kita sendiri. Bisakah Anda memberi sedikit nasihat tentang bagaimana kita
bisa melakukan ini tanpa menjadi terobsesi pada diri sendiri? Salah satu diskusi yang kami adakan tepat sebelum
ini adalah, tahu kan, ada yang berkata, "Mengapa aku harus berfokus pada diriku sendiri padahal ada begitu banyak
penderitaan di dunia? Aku seharusnya keluar saja dan menolong semua orang." Jadi bagaimana kita bisa membenarkan (ini)? Nah, saya kira
Rabina sudah membahas itu kemarin. Faktanya adalah bahwa kita mungkin punya apa yang kita anggap welas asih,
tetapi kalau tak ada kebijaksanaan sejati —
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
Maksud saya, kita semua kenal orang yang sangat baik hati dan sungguh mengabdikan diri untuk orang lain dengan sangat sedikit memikirkan diri sendiri, dengan akibat mereka kelelahan total (burn out) dan akhirnya menjadi sama sekali tak mampu memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, karena ada ketidakseimbangan — tak ada wawasan yang sejati, tak ada pemahaman yang sejati
tentang bagaimana memberi manfaat bagi orang lain sekaligus bagi diri sendiri.
Jadi itulah mengapa saya bilang ini seperti kita harus menarik napas
sekaligus mengembuskan napas.
Keduanya perlu seimbang.
Kalau kita hanya mengembuskan napas, maka pada akhirnya
kita akan sesak napas dan tak bisa berfungsi sama sekali.
Dan demikian pula kalau kita hanya menarik napas.
Tetapi kalau kita mendapatkan — dari mana semuanya berasal?
Ucapan dan perbuatan kita bergantung pada batin kita.
Dan selama batin kita di luar kendali,
sepenuhnya terpencar, sama sekali tak terjinakkan,
seberapa dalam kita mampu menolong orang lain
ketika kita sendiri begitu berantakan?
Maka itu masuk akal untuk lebih dulu (membereskan) rumah kita sendiri
sedikit.
Lalu kita bisa membuatnya bersih dan tertata
sebelum kita mulai memberi tahu semua orang lain
bagaimana mereka harus membersihkan rumah mereka.
Betul kan?
Jadi, maksud saya, keduanya berjalan bersama.
Inilah inti seluruh Lojong:
kita melakukan praktik batin kita sendiri
untuk membantu menjinakkan batin dan melatih batin secara bertahap.
Tetapi pada saat yang sama,
kita juga memakai semua keadaan di dunia luar —
yang disebut demikian — untuk memurnikan
batin kita.
Batin kita.
Bodhicitta kita, welas asih kita, dan kebijaksanaan kita.
Jadi keduanya tidak bertentangan satu sama lain.
Keduanya adalah dua aspek dari perjalanan yang sama.
Tetapi kalau kita hanya memikirkan orang lain
dan kita berpura-pura tak pernah memikirkan diri sendiri,
kemungkinan besar pada akhirnya kita, seperti yang saya katakan,
akan runtuh total, atau membuat banyak keputusan
yang kita anggap sangat welas asih
tetapi ternyata sangat-sangat-sangat-sangat
tidak terampil dan menciptakan banyak masalah bagi orang lain.
Jadi kita hendaknya sabar, tahu kan?
Batin kita begitu penuh dengan segala macam gagasan yang tak membantu
dan proyek dan aspirasi.
Kita perlu menjernihkan batin kita sendiri agar bisa memahami
dengan jelas bagaimana memberi manfaat bagi orang lain.
Maksud saya, tahu kan, semua orang yang sibuk (mengurusi ini-itu)
dan berlari ke sana kemari,
dan kebanyakan orang (bereaksi)
dan berusaha menjauh.
Mengapa begitu?
Karena, tahu kan, mereka kekurangan welas asih yang sejati.
Mereka mengira itu welas asih, tetapi sebenarnya bukan.
Itu hanya soal ikut campur
dan ingin mengendalikan orang lain.
Jadi kita harus terampil.
Dan keterampilan kita dimulai dengan menatap batin kita sendiri
dan motivasi kita sendiri dan sumber daya kita sendiri.
Dan respons kita sendiri.
Dan, tahu kan, memeriksa bahwa semuanya sungguh-sungguh terampil.
Bagaimanapun, tahu kan, ini sebuah sukacita.
Maksud saya, seperti yang dikatakan Rubina kemarin,
ini bukan sesuatu yang jadi begitu dalam semalam.
Tahu kan, ini butuh waktu.
Seperti keterampilan apa pun, ini butuh latihan.
Kita sebagai Buddhis selalu bicara tentang "praktik", betul kan?
Tetapi memang persis itulah maksudnya, betul kan?
Kita — performa kita tidak hebat,
tetapi kita sedang berlatih.
Betul kan?
Itulah intinya.
Berlatih, berlatih, berlatih.
Dan seperti kata orang, latihan membuat sempurna, tetapi tidak dalam semalam.
Terima kasih, Jetsunma.
Sekadar memberi tahu hadirin,
jadi saya sedang menelusuri daftar pertanyaan
yang kami ajukan kepada Jetsunma sebelumnya,
tetapi kalau Anda ingin mengacungkan tangan,
acungkan tangan elektronik Anda, kalau kami punya waktu.
Dan juga mengambil pertanyaan langsung dari hadirin,
dan Anda juga bisa menaruhnya di kolom chat.
Jetsunma,
salah satu bait yang saya taruh di kolom chat di sini
untuk dilihat semua orang,
berkaitan dengan (ini):
"Di tanah kelahiranku,
gelombang kelekatan pada kawan dan sanak membuncah,
kebencian terhadap musuh berkobar seperti api,
kegelapan kebodohan —
tak peduli apa yang harus dijalani atau dihindari — mengental.
Meninggalkan tanah kelahiranku adalah praktik seorang bodhisatwa."
Bagaimana kita mengaitkan diri dengan bait ini, Jetsunma,
tanpa meninggalkan atau menjauhkan,
menjauhkan diri secara emosional dari orang-orang yang kita kasihi?
Dan pertanyaan nomor lima berhubungan dengan itu.
Bisakah Anda menjelaskan lebih jauh perbedaan antara kelekatan dan cinta,
dan bagaimana kita bisa mengenali kelekatan dalam hidup kita
dan tidak memakainya untuk menjadi acuh tak acuh?
Nah, maksud saya, poinnya adalah, entahlah,
menurut saya bait ini berurusan dengan ketiga racun ini,
betul kan, yang duduk di dasar kesadaran kita yang terpelintir,
senantiasa siap bertindak.
Kita sebenarnya belum siap menguasai pikiran kita
dan emosi kita dan perbuatan kita.
Jadi karena kita tumbuh di dalam keluarga,
kita karenanya mudah punya respons kebiasaan yang sangat negatif
seperti kemarahan atau kelekatan,
yang tak akan kita tampilkan terhadap tamu
atau orang yang tak kita kenal dengan baik.
Di dalam keluarga, ia memunculkan banyak emosi yang sangat berat,
jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang dari luar.
Jadi masalah yang mereka angkat di sini
adalah bahwa kita salah mengira kelekatan dan cinta,
dan kita mengira keduanya sama.
Jadi, maksud saya, ini sesuatu yang muncul lagi
dan lagi dan lagi.
Biasanya saya akan memberi semacam analogi kupu-kupu, betul kan?
Jadi, kau punya kupu-kupu yang indah hinggap di tanganmu,
dan, tahu kan, kau gugup,
dan kau lelah,
dan kau berpikir kupu-kupu itu sangat indah.
Kau mencintai kupu-kupu itu, betapa indahnya ia,
sayapnya yang berkilau dan begitu indah, begitu rapuh.
Lalu kau berpikir, oh, jangan khawatir, kupu-kupu.
Aku akan melindungimu.
Aku sangat mencintaimu dan kau milikku dan aku akan menjagamu.
Lalu kita (menggenggam), nah, di situ kau, kupu-kupu, kau aman sekarang.
Dan kita sudah membunuh kupu-kupu itu, betul kan?
Cengkeraman itu sesungguhnya kebalikan dari yang Buddha maksudkan
ketika Beliau berbicara tentang cinta.
Satu masalah adalah bahwa dalam bahasa Inggris, kita hanya punya kata "love" (cinta), betul kan?
Aku cinta es krim.
Aku cinta, entahlah, berjalan-jalan.
Aku cinta bunga-bunga yang indah.
Aku cinta anak-anakku.
Aku cinta keluargaku.
Aku cinta menonton film laga.
Maksud saya...
"Aku cinta es krim" dan "aku cinta anak-anakku"
adalah emosi yang sangat berbeda.
Begitu pula "aku cinta pacarku" dengan "aku cinta anak-anakku".
Itu emosi yang berbeda juga.
Namun kita hanya punya satu kata ini.
Dalam bahasa-bahasa lain, dan tentu dalam bahasa Sanskerta dan Tibet dan bahasa-bahasa Asia,
ada sangat-sangat banyak kata untuk cinta, semuanya sangat-sangat berbeda.
Dan kata untuk "aku cinta es krim" sangat,
sangat berbeda dari "aku cinta meditasi" atau "aku cinta semua makhluk hidup", betul kan?
Itu kata yang sangat-sangat berbeda dan ia sama sekali tak memberimu gagasan yang sama.
Dalam bahasa Inggris, masalahnya adalah kita memakai satu kata ini.
Jadi kelekatan — maksud saya, sekali lagi, kelekatan berarti "aku mencintaimu dan aku bergantung padamu untuk membuatku bahagia".
Jadi aku menginginkanmu.
Jadi kelekatan — maksud saya, dua kata itu.
Jadi kelekatan berarti "kau dekat denganku".
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
Jadi kelekatan adalah hal pertama yang kita pakai.
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
(bagian rekaman tidak jelas)
Jadi kelekatan ada di sana.
(bagian rekaman tidak jelas)
yang Buddha katakan sebagai sebab penderitaan kita. Jadi ini tidak dingin, tidak
acuh tak acuh. Buddha berbicara sepanjang waktu tentang cinta dan welas asih, tetapi
cinta dan welas asih yang sejati, yaitu mengharapkan kesejahteraan orang lain, menginginkan
mereka bahagia — apa pun yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka bahagia, maka itulah
kebahagiaan kita. Kebahagiaanku ada dalam kebahagiaanmu, bukan dalam kau mampu membuat
aku bahagia. Jadi ini sangat berbeda, dan untuk keluarga dan terutama untuk
para ibu dengan anak-anak, ini poin yang sangat penting, karena begitu sering orang tua
mengira mereka memiliki anak-anak dan karena itu anak-anak harus melakukan apa yang aku
ingin mereka lakukan. Tetapi itu bukan cinta. Maksud saya, entah bagaimana kita pernah
mengira itu (cinta) — itu kendali, itu kelekatan, itu cengkeraman.
…
Dan ia mendatangkan penderitaan bagi keturunan dan bagi orang tua ketika ada
pertentangan. Jadi itulah mengapa bukan cinta yang menyebabkan masalah, melainkan
batin kita yang menggenggam dan mencengkeram yang menciptakan masalah. Nah, cinta sejati itu seperti
matahari yang bersinar — ia bersinar di mana-mana, dan ia tak meminta agar kita
menghargainya, dan ia tak memiliki apa pun. Ia hanya
bersinar, karena bersinar adalah sifatnya. Jadi cinta sejati seperti itu —
ia hanya bersinar, dan ia tak bersinar pada yang ini dan tidak pada yang itu. Ia hanya bersinar,
dan siapa pun yang berdiri di dalam cahaya matahari akan menerima sinar matahari. Kalau kau menutup
pintu dan menutup jendela lalu kau berkata gelap, maka itu bukan kesalahan
matahari. Tetapi matahari tak merasa ia memiliki cahayanya dan kehangatannya. Itu hanya
sifatnya.
Jadi semua meditasi tentang cinta kasih dan kesejahteraan dan welas asih, dan seterusnya,
adalah untuk membuka hati kita dari keadaan yang begitu tertutup dan terbatas,
untuk sungguh-sungguh membiarkan kebaikan alami kita, yang ada di dalam diri kita semua,
dilepaskan dan memancar keluar.
Inilah mengapa Buddha berkata kau memulai dari dirimu sendiri,
lalu orang-orang yang kaukasihi, orang-orang yang kepadanya kau acuh, orang-orang yang kaurasa sulit,
lalu semua makhluk secara umum.
Tetapi Beliau berkata kau mulai dengan — Beliau berkata, seperti seorang ibu mencintai anaknya atau anak mana pun,
begitulah cinta tanpa-pamrih yang dirasakan seorang ibu untuk anaknya —
bahwa kalau anaknya sakit, ia akan memberikan apa saja,
termasuk nyawanya sendiri, demi nyawa anak itu.
Keterbukaan itu, tetapi tanpa hasrat untuk menggenggam.
Itulah tantangan kita.
Dan itu tantangan bagi semua anggota keluarga,
terutama orang tua dan pasangan dalam hubungan.
Bagaimana mencintai tanpa ingin memiliki.
Jadi, itulah tantangan kita, oke?
Ini menuntun ke pertanyaan berikutnya, karena ketika kita mendengarkan,
dan ketika saya mendengar pertanyaannya, ketika kita membaca slogan-slogan ini,
dan ketika kita memikirkannya, semuanya masuk akal,
dan kita menyadari bahwa berperilaku sebaliknya adalah konyol.
Tetapi bagaimana kita mengingatnya?
Bagaimana kita mengingat ajaran-ajaran itu di saat krisis?
Dan apa yang terjadi ketika keadaan benar-benar kacau,
entah jangka pendek atau jangka panjang, kalau hidup kita rumit?
Nah, sekali lagi, tahu kan, poinnya adalah kesabaran dan ketekunan, betul kan?
Maksud saya, kecenderungan kebiasaan kita, betul kan?
Yang terbiasa menjadi marah dan kesal dan penuh dendam
ketika kita bertemu orang yang menyulitkan dan keadaan yang tidak menguntungkan.
Bahwa kita memprogram diri kita sendiri sepanjang kehidupan yang tak terhitung untuk melakukan itu.
Jalur-jalur saraf kita menuju langsung ke kejengkelan, kekesalan, depresi,
ketika apa pun menentang aku, rasa "aku"-ku, apa yang kuinginkan, betul kan?
Jadi, kita harus melatih ulang batin kita.
Maksud saya, hanya itu.
Kita harus melatih ulang batin kita untuk membuat respons yang baru.
Kita harus membuat jalur yang baru.
Maksud saya, itulah mengapa ia disebut praktik (latihan), betul kan?
Maksud saya, kalau kita mau, tahu kan, tak cukup hanya berpikir,
oh, wah, itu gagasan yang hebat.
Ya, wah, slogan-slogan Lojong ini fantastis.
Lalu mengira bahwa, tahu kan, itu akan mengubah apa pun.
Karena pada dirinya sendiri, ya, itu mulai membuka pintu sedikit.
Tetapi lalu apa?
Tahu kan, kita sudah secara kebiasaan merespons dengan cara yang selalu kita gunakan.
Betul kan?
Jadi, kita harus berlatih.
Betul kan?
Ini semua sebuah program pelatihan.
Jadi, kita bisa mulai dengan situasi yang mudah.
Hal-hal yang mengganggu kita sedikit, tetapi tidak amat sangat.
Lalu kita bisa berlatih merespons lebih terampil terhadap hal-hal itu,
tidak jengkel ketika komputer kita melakukan hal-hal yang seharusnya tak dilakukannya.
Atau cuaca tidak seperti yang kita inginkan.
Atau seseorang mengatakan sesuatu.
Seseorang mengatakan sesuatu yang tak ingin kita dengar.
Tahu kan, hal-hal sederhana.
Kita bisa berlatih — mengamati respons kita yang tidak terampil muncul.
Mengenalinya.
Menerima bahwa itulah yang kita lakukan.
Lalu mengubahnya.
Betul kan?
Menjadi respons yang terampil.
Betul kan?
Lalu, lambat laun, lambat laun kita menjadi lebih (terampil) — tahu kan, ini seperti berlatih (angkat beban).
Tahu kan?
Kau berlatih dengan beban kecil lalu naik ke beban yang lebih besar seiring ototmu menjadi lebih kuat.
Jadi, demikian pula, tahu kan, seiring kita menghadapi situasi-situasi kecil dan mengubah — dengan sangat sadar mengubah respons kita menjadi respons yang terampil,
lambat laun ia berkembang, sehingga ketika sesuatu yang sungguh sangat sulit datang,
kita mendapati, hampir dengan terkejut,
bahwa kita sebenarnya merespons dengan cukup terampil.
Kita tidak menjadi kesal.
Kita tidak menjadi murka.
Kita tidak jatuh ke dalam kemarahan.
Kita sebenarnya menatap situasi itu dengan tenang dan memutuskan bagaimana menangani situasi itu dan membawanya ke jalan (latihan).
Jadi itulah poinnya.
Betul kan?
Maksud saya, seperti kalau kita ingin menjadi musisi, kita tidak memulai dengan Beethoven atau Rachmaninoff.
Betul kan?
Kita memulai dengan tangga nada yang sederhana.
Betul kan?
Lalu potongan-potongan yang sangat sederhana.
Lalu lambat laun, seiring jari-jari kita mulai memahami bagaimana memainkan instrumen itu, bagaimana memakai instrumen itu dengan terampil, kita naik.
Tetapi kita harus mulai dari tempat kita berada.
Dan mulai dengan sedikit kesederhanaan, dengan sedikit kerendahan hati.
Untuk menyadari bahwa kita belum (sama) —
betul kan?
Bahwa kita belum sama.
Kita menyadari bahwa sebagian besar respons kita tidak terampil.
Tetapi ini membantu kita untuk belajar, untuk berlatih, untuk menjadi atlet spiritual.
Semua pada waktunya.
Jadi, kesabaran, ketekunan.
Itulah nama permainannya.
(Terima kasih), Jitimala.
Jadi, Jitimala, kami punya satu yang masuk di kolom chat.
Mungkin kalau Tenzin Paldron bisa membacakannya.
Ini juga ditanyakan kemarin kepada Yang Mulia Rubina dan kami tak sempat menjawabnya.
Saya harap ini bukan salah satu pertanyaan sulit yang dijawab Yang Mulia Rubina dengan begitu terampil.
Saya kira saya tak akan sanggup melakukan itu.
Saya tak melihat pertanyaannya, Eileen.
Katanya, dikirim ke saya sebagai pesan langsung.
Ya.
Sebentar.
Akan saya kirimkan kepada Anda.
Apa pendapat Yang Mulia tentang semua orang terkena COVID pada saat yang sama?
Apakah ini karma kolektif atau akhir dunia?
Apakah ini karma kolektif seluruh populasi dunia?
Nah, tahu kan, siapa yang tahu?
Saya tak tahu.
Saya bukan Buddha.
Jadi saya tak bisa mengatakan, ya, ini karma dunia, atau tidak, ini bukan karma dunia.
Siapa yang tahu?
Tetapi secara umum, dunia belakangan ini tidak menciptakan karma yang terlalu terampil, bahkan di
masa lalu.
Maksud saya, di mana kita menciptakan karma yang terampil?
Dan salah satu hal yang saya rasakan —
maksud saya, ini pandangan pribadi saya.
Jadi ini bukan, tahu kan, Buddha-vacana.
Ini bukan sabda Buddha.
Ini sabda Tenzin Palmo.
— adalah bahwa semua eksperimen di seluruh dunia terhadap hewan untuk riset medis dan semua jutaan
dan jutaan makhluk hidup tak berdosa yang dikorbankan dan sering disiksa dan dibunuh
atas nama manusia.
Maksud saya, ini bukan karma dunia (secara umum).
Ini karma dunia dari kemajuan medis manusia.
Saya kira itu tidak menciptakan karma yang sangat baik untuk kesehatan umat manusia.
Maksud saya, bagaimana kita bisa mengharapkan bahwa kita akan sehat dan baik-baik saja ketika kita mendasarkan
itu pada penderitaan, sakit, dan kematian semua makhluk ini yang tak pernah berbuat apa-apa kepada kita,
sejauh yang bisa kita ketahui sekarang di kehidupan ini.
Maksud saya, kita menciptakan banyak karma negatif hanya dari sudut pandang kesehatan.
Jadi saya kira seiring kita menyembuhkan satu jenis wabah, wabah lain akan datang karena kita
tidak menciptakan sebab dan kondisi bagi kesehatan yang baik.
Tahu kan, jadi kalau bukan satu hal, ia akan menjadi hal lain.
Suatu kuman atau virus yang tak dikenal atau sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Tetapi ia akan tak berkesudahan.
Karena kita sekadar tidak menciptakan sebab dan kondisi bagi kesehatan.
Secara langsung, hanya dengan (perlakuan terhadap) makhluk-makhluk itu, tahu kan, yang dikorbankan atas nama kita tanpa
menanyakan kepada mereka apakah mereka bersedia dikorbankan.
Jadi siapa yang tahu, tahu kan, tetapi saya kira tak akan pernah ada akhir bagi masalah-masalah ini.
Mereka akan muncul dalam sangat-sangat banyak bentuk yang berbeda, selama kita manusia
bertindak dengan sedemikian sepenuhnya tidak terampil
dan menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi spesies kita sendiri dan bagi semua spesies lain dan planet itu sendiri.
Maksud saya, sungguh, kita luar biasa bodoh melampaui kata-kata.
Dan kita menganggap diri kita Homo sapiens.
Tetapi di mana "sapiens"-nya?
Sungguh, tahu kan, kita bahkan tak belajar dari kesalahan kita.
Jadi saya tak tahu soal, tahu kan.
Saya harus jujur.
Saya tak tahu apakah ini karma umum atau apa,
tetapi saya memang merasa bahwa kita tanpa henti menanam benih
bagi bencana masa depan untuk diri kita sendiri dan planet ini,
kecuali kita sangat-sangat cepat terbangun,
yang sangat kecil kemungkinannya.
Ada pertanyaan lain di kolom chat.
Apa artinya "mengambil" atau "berlindung" (pada Tiga Permata)?
Nah, berlindung adalah gerbang masuk ke jalan Buddhis.
Ia bermula dari zaman Buddha sendiri.
Setelah orang bertemu Buddha dan Beliau memberi mereka sebuah wejangan,
lalu pada akhirnya, banyak wejangan tradisional
mengatakan bahwa sejak sekarang sampai akhir hayat,
aku berlindung pada Buddha, aku berlindung pada Dharma,
aku berlindung pada Sangha.
Jadi dengan kata lain, kita mengenali diri kita sebagai pengungsi.
Pengungsi melarikan diri dari bahaya.
Mereka melarikan diri dari situasi yang begitu tak tertahankan
sehingga mereka berusaha melarikan diri ke tempat yang aman,
tempat yang bisa mereka percayai,
tempat di mana mereka bisa merasa nyaman
dan tak lagi merasa dikejar-kejar.
Nah, gagasannya...
Gagasannya adalah bahwa kita, kita semua,
terjebak dalam situasi yang mengerikan ini
yang dalam Buddhisme disebut samsara,
dan di sinilah kita semua.
Kita tak punya...
Apa yang akan kita lakukan?
Bagaimana kita akan keluar darinya?
Kita semua terperangkap dalam ketuaan, sakit, kematian,
ketidakkekalan segala sesuatu,
ketidakpuasan yang mendasari,
ketidakpuasan yang mendasari,
dan ketidakamanan,
karena, tahu kan, kalau tak ada hal lain yang menimpa kita,
setidaknya kita semua tahu kita akan mati.
Dan sementara itu, kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Hari ini kita baik-baik saja, besok kita dapati kita terkena kanker.
Kita tak tahu.
Hari ini kita bersama orang-orang yang kita kasihi, besok mereka meninggal.
Siapa yang kita kenal (benar)?
Kita tak tahu.
Dunia ini sangat-sangat tak aman.
Di mana kita bisa menemukan keamanan?
Nah, solusi Buddhis adalah:
kita menemukan keamanan pada apa yang disebut Tiga Permata.
Buddha, karena kebijaksanaan dan welas asih-Nya yang agung,
menunjukkan jalan.
Apa jalan itu?
Jalan itu adalah Dharma.
Lalu Sangha adalah mereka yang bertindak sebagai pemandu di jalan itu.
Sangha berarti komunitas.
Komunitas berunsur empat terdiri dari para monastik dan umat awam dari kedua gender.
Tetapi terutama ia berarti Arya Sangha,
yaitu...
para insan mulia yang sungguh-sungguh telah memiliki persepsi sejati
akan hakikat kenyataan, akan bagaimana segala sesuatu sebenarnya.
Karena masalah kita bukan di luar sana,
masalah kita ada di dalam batin kita sendiri.
Bahwa kita begitu terkelabui
sehingga kita sekadar tak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.
Dan akibatnya, kita dikuasai oleh emosi-emosi negatif,
seperti kemarahan dan keserakahan dan kecemburuan, kedengkian, ketakutan.
Begitu banyak orang begitu cemas sekarang.
Dan mereka tak tahu ke mana harus mencari keamanan.
Jadi Tiga Permata dipandang...
Ini seperti kalau kau berkata semua orang sakit.
Kita semua menderita penyakit yang mematikan ini.
Tetapi Buddha seperti seorang dokter, seperti tabib tertinggi.
Dan Beliau berkata: kau sakit, tetapi kabar baik,
kau pada dasarnya sehat.
Kau hanya perlu mengikuti jalan ini —
inilah obatnya di sini.
Kalau kau minum obat ini dan kau mengikuti pola hidup sehat ini,
kau akan memperoleh kembali kesehatanmu yang hakiki.
Jadi jangan khawatir.
Tetapi sementara itu, kau harus tahu kau sungguh sangat sakit.
Nah, itulah poinnya.
Bahwa kita menyadari kita punya masalah.
Bahwa dunia tempat kita hidup ini begitu tak aman.
Kita sekadar tak tahu.
Dan kita berusaha membuat segalanya sangat aman dengan rumah yang lebih besar
dan lebih banyak hubungan dan segalanya,
berusaha membuatnya tampak sangat nyaman.
Tetapi sebenarnya, itu tak berhasil.
Nah, lalu kita menyadari masalah yang sebenarnya ada di dalam hati kita sendiri,
di dalam batin kita sendiri.
Masalahnya dan solusinya semua ada di dalam diri kita.
Dan pada dasarnya, Buddha menunjukkan sebuah jalan yang sangat-sangat-sangat
jelas.
Beliau tak hanya berkata, ya, kau harus terbebaskan.
Beliau menunjukkan kepadamu caranya.
Beliau tak hanya berkata kau harus punya hati yang baik.
Beliau menunjukkan kepada kita caranya.
Inilah, menurut saya, keajaiban Buddha,
bahwa Beliau begitu jelas tentang bagaimana kita bisa membebaskan hati kita
dan dengan cara itu membantu membebaskan hati semua yang lain.
Jadi kita berlindung.
Poinnya adalah kita merasa di sini ada pelabuhan keamanan
yang bisa kita percayai.
Ia tak akan mengecewakan kita.
Dan bahwa di dalam Tiga Permata itulah rumah kita yang sejati,
keamanan kita yang sejati.
Jadi di semua aliran Buddhis di seluruh dunia Buddhis,
langkah pertama, membuka pintu ke istana semua ajaran,
adalah berlindung pada Buddha,
ajaran-Nya, dan komunitas yang mengikuti ajaran-ajaran itu.
Langkah nomor satu.
Jadi Jetsunma, ada satu pertanyaan terkait yang saya sampaikan kepada Anda.
Dan saya kira ini mungkin merujuk, atau setidaknya terpikir oleh saya
ketika Anda berbicara tentang, tahu kan,
apa yang kita lakukan terhadap begitu banyak makhluk hidup lain
dengan eksperimen dan sebagainya.
Jadi pertanyaan ini, dengan tujuh poin sebab dan akibat,
yang merupakan teks Lojong lain —
saya bisa melakukan semua langkahnya kecuali yang pertama,
yaitu mengenali semua makhluk sebagai ibu kita.
Saya tak bisa percaya bahwa kita sudah menjalani sangat-sangat banyak kehidupan
sejak waktu tanpa-awal dan kelahiran ulang tanpa-awal sampai sekarang.
Oh, maaf, saya bisa percaya.
Saya juga bisa percaya bahwa kita akan butuh banyak ibu
untuk membuat ini terjadi.
Tetapi saya kesulitan percaya bahwa semua makhluk hidup
pernah menjadi ibu saya, karena kita bisa terlahir kembali
dari kelompok ibu yang sama lagi dan lagi dan lagi terus-menerus.
Bagaimana saya memperbaiki pandangan ini?
Nah, tahu kan, maksud saya, alasannya, maksud saya,
bisa saja (dikatakan) semua makhluk hidup pernah menjadi saudara saya
atau semua makhluk hidup pernah menjadi bibi saya
atau apa pun yang kau mau.
Tetapi "ibu" dipilih karena kita tak akan punya
keberadaan yang berjasad seandainya bukan karena ibu kita.
Jadi entah ibu kita adalah ibu yang baik atau ibu yang sulit,
tanpa ibu kita, kita tak akan ada di sini.
Dan karena itu, rasa syukur yang luar biasa kepada ibu kita
karena melahirkan kita.
Betapa sangat-sangat baiknya.
Dan tentu selama masa ketika kita masih bayi —
tahu kan, coba pikirkan bayi, apa yang dilakukan bayi?
Nah, mereka makan, mereka buang air, mereka banyak menangis,
mereka membuat kita terjaga di malam hari, mereka merengek terus,
lalu mereka tersenyum dan hati sang ibu meleleh.
Dan ia berpikir, oh, sayangku.
Dan ia akan melakukan apa saja untuk bayi itu.
Ia akan memberikan nyawanya untuk bayi itu.
Bayi itu tak melakukan apa-apa selain mengambil.
Tak banyak memberi pada tahap itu.
Tetapi sang ibu mencintainya.
Ia tak membuangnya dan berkata, "Nah, kau sungguh merepotkan.
Kau membuatku terjaga sepanjang malam dan kau tak berbuat apa-apa untuk nafkahmu.
Keluar sana."
Sang ibu mencintai bayi itu.
Nah, gagasan bahwa sang ibu —
sang ibu memberi kita cinta yang paling tanpa-pamrih yang mungkin ada —
pada masa ketika kita bahkan kebanyakan tak mengingatnya.
Tetapi ibu, tahu kan, bisa jadi laba-laba adalah ibu kita,
yang dalam hal itu kau punya ratusan dan ratusan bayi.
Atau ikan yang punya ribuan bayi.
Saya baca tempo hari bahwa tikus,
seekor tikus betina bisa melahirkan 5.000 bayi dalam satu tahun.
Jadi, maksud saya, kita tak harus selalu memikirkannya sebagai satu ibu satu bayi,
tahu kan, satu ibu, satu bayi.
Maksud saya, bisa jadi miliaran bayi yang ia lahirkan,
tetapi entitas itu memperoleh kelahirannya melalui sang ibu,
sekalipun ia hanya, tahu kan, seekor ikan hering atau laba-laba.
Maksud saya, saya melihat di buku itu dan ia menyebutkan bagaimana saya pernah melihat kalajengking ini,
kalajengking betina, dan di punggungnya semua bayi kalajengking kecil ini.
Masing-masing bayi kecil yang sempurna, mungil-mungil.
Setiap kalajengking kecil mungil yang sempurna,
semua menunggang di punggung ibunya.
Tahu kan, kau tak membayangkan kalajengking sebagai, tahu kan,
ibu yang penuh perhatian, tetapi begitulah adanya.
Jadi, entah benar secara harfiah semua makhluk hidup pernah menjadi ibu kita
atau tidak, itu bukan poinnya.
Poinnya adalah bahwa kita jauh lebih saling terhubung
dengan semua makhluk di planet ini
daripada yang mungkin bisa kita bayangkan.
Dan sebagaimana kita, sepanjang kehidupan yang tak terhitung di masa lalu,
di masa kini, dan di masa depan,
kita semua sangat mendalam saling terhubung.
Dan sebagaimana kita tak akan mengharapkan ibu kita sendiri,
semoga saja, menderita,
dan kita pasti akan mengharapkan ibu kita baik-baik saja
dan terbebas dari penderitaan,
dan kalau kita punya akal sehat,
kita sangat bersyukur bahwa ia melahirkan kita.
Demikian pula, kita bisa berpikir kita punya keterhubungan itu dengan semua makhluk,
kita hanya tak mengingatnya.
Kita bahkan tak mengingat siapa kita sendiri di kehidupan lampau kita.
Kalau kita bertemu diri kita sendiri di kehidupan lampau kita,
kita tak akan tahu siapa itu.
Ketika tiba di kehidupan kita berikutnya,
kita tak akan mengenali makhluk itu,
apa pun ia.
Siapa itu?
Kita bahkan tak mengenali arus batin yang sama
dan hubungan-hubungan karma yang sama.
Jadi apa lagi bicara tentang makhluk lain dan hubungan dekat mereka dengan kita
di kehidupan-kehidupan lampau?
Tetapi sebagaimana kita akan mengharapkan yang baik bagi ibu kita di kehidupan ini,
karena itu kita hendaknya dipenuhi rasa syukur itu
kepada semua makhluk lain dan keterhubungan
yang kita miliki dengan mereka di kehidupan-kehidupan lampau.
Begitu banyak kehidupan lampau yang tak bisa kita hitung.
Banyak kehidupan lampau yang bahkan tak bisa kita bayangkan,
yang tak kita ingat.
Jadi ini hanya sebuah metode,
sebuah cara terampil untuk membantu kita mengisi (rasa) keterhubungan
dan tidak berpikir bahwa semua makhluk lain ini,
karena aku tak mengenal mereka di kehidupan ini,
karena itu mereka tak penting bagiku.
Karena mungkin di kehidupan-kehidupan lampau mereka adalah makhluk yang paling penting dalam hidup kita.
Kita hanya tak mengingatnya lagi.
Oke?
Maksud saya, semua orang yang begitu dekat dengan kita di kehidupan ini —
mungkin kita kenal mereka sebelumnya, mungkin tidak.
Terima kasih, Jetsunma.
Dan saya baru saja menerima pertanyaan lain di kolom chat yang berkaitan langsung dengan itu.
Tahu kan, dan ini pengalaman yang umum,
ketika begitu banyak ibu tidak mencintai dan tidak berbuat apa-apa untuk bayi mereka.
Mereka memberi mereka kehidupan.
Mereka tidak menggugurkan mereka.
Kalau kau ada di sini, itu karena ibumu mengandungmu selama sembilan bulan di rahimnya
dan melahirkanmu.
Ia tidak menggugurkanmu.
Tak peduli apa yang terjadi setelahnya,
faktanya ia memberimu kehidupan.
Dan untuk itu kau tak akan pernah bisa membalas rasa syukurmu,
tak peduli apa pun yang kaulakukan.
Jadi apa pun yang datang setelah itu, nah, itu masalah dia,
karena mungkin ia sendiri pernah menjalani hidup yang sangat sulit bagi dirinya.
Kita tak tahu.
Tetapi faktanya, meskipun demikian, di sinilah kau,
karena, langsung karena ibumu.
Kontribusi ayahmu
minimal.
Maksud saya, penting, tetapi sangat sementara.
Tetapi apa yang ibumu lakukan untukmu,
tak akan pernah bisa kaubalas.
Jadi, bolehkah kita lanjut ke pertanyaan lain dalam daftar?
Bagaimana seseorang melihat lalu menangani —
ini nomor sembilan —
batin yang mementingkan diri sendiri, apa adanya?
Pertanyaan saya bermula dari kebingungan tentang apa yang sah (untuk dirasakan).
Yaitu, saudara-saudara yang berperilaku buruk di masa lalu dan karenanya menyakiti saya,
dan apa yang termasuk narasi lama di mana saya adalah korban.
Nah, maksud saya, soal saudara yang berbuat buruk kepadamu di masa lalu,
kau bisa bertanya pada dirimu sendiri apa yang kaulakukan pada saudara-saudara itu di kehidupan lain,
sehingga di kehidupan ini mereka datang kembali dan menyebabkanmu masalah.
Jadi ini bukan hanya soal kehidupan ini dan dendam kita terhadap orang lain yang tak adil pada kita.
Karena mengapa mereka tak adil pada kita?
Tahu kan, apa yang kita lakukan pada mereka?
Sehingga sekarang di kehidupan ini
kita menerima ganjarannya.
Itu karma.
Betul kan?
Jadi berhentilah mengasihani diri sendiri
dan hargailah bahwa saudara-saudaramu memberimu kesempatan yang luar biasa
untuk mengembangkan cinta dan welas asih yang sejati
dan mempraktikkan Lojong, sebenarnya.
Tahu kan, kalau kau tak punya orang yang mengganggumu, membuatmu kesal,
dan yang kepadanya kau merasa, tahu kan, punya dendam,
kau tak punya siapa pun untuk berlatih.
Jadi jauh dari menganggap mereka buruk,
kau hendaknya menyadari bahwa mereka adalah kesempatan besarmu.
Itulah inti keseluruhannya.
Bahwa orang-orang yang kita anggap rintangan utama kita
sebenarnya adalah kesempatan terbesar kita untuk mengubah batin dan sikap kita.
Sikapmu sepenuhnya keliru.
Ia menyakitimu.
Ia tak menyakiti mereka.
Jadi apa gunanya?
Ia tak membuatmu lebih baik.
Ia tak membuatmu lebih bahagia.
Ia sama sekali tak menyebabkan mereka masalah apa pun.
Jadi yang perlu kaulakukan adalah menatap sikap itu,
melihat bagaimana ia sama sekali tidak membantu,
dan bagaimana sebaliknya
kau bisa membuatnya membantu dengan memakainya untuk mengubah sikapmu.
Jadi dalam hal itu, kau bisa sangat bersyukur kepada saudara-saudaramu
karena memberimu kesempatan itu.
Kalau kita tak punya siapa pun yang tak kita sukai,
kita tak punya siapa pun untuk dijadikan bahan latihan.
Jadi, bagus.
Terima kasih, saudara-saudara.
Ada pertanyaan yang masuk,
dari seseorang yang mirip dengan ini,
tentang bagaimana kita memaafkan seseorang yang terus-menerus...
Saya akan cepat-cepat menelusuri, dan ini yang terakhir.
Dan saya bisa lihat tanganmu terangkat, Diana,
dan saya punya sebuah pesan, tetapi kita tetap dengan ini sebentar.
Bagaimana kita memaafkan seseorang yang terus-menerus menyakiti kita?
Bagaimana kita menjadi lebih welas asih sambil tetap punya batasan?
Dan bagaimana kita menangani perasaan dendam terhadap sang ibu
karena telah membawa diri kita ke dalam samsara?
Seolah kita tak memintanya, dan tiba-tiba kita di sini menderita.
Lalu satu pertanyaan lain yang terkait adalah, sekali lagi,
apakah kita hendaknya berjarak dari orang-orang terkasih yang memicu segala emosi kita?
Kapan menutrisi diri sendiri menjadi hal yang egois?
Nah, maksud saya, tahu kan,
bersama semua ajaran yang luar biasa ini
tentang mengubah emosi negatif kita menjadi emosi positif,
dan membentuk ulang respons kita terhadap situasi yang sulit,
kita tetap harus menjalankan sedikit akal sehat, betul kan?
Maksud saya, misalnya, tadi malam kami menonton
film dokumenter yang luar biasa tentang (Dalai Lama) Keempat Belas Yang Agung,
tentang Yang Mulia Dalai Lama.
Nah, ketika (tekanan) Tiongkok menjadi terlalu berat,
Beliau tak hanya berkata, "Nah, tahu kan,
aku akan duduk di sini dan mengembangkan cinta dan kebaikan dan welas asih."
Beliau berkata —
Beliau melarikan diri ke India,
karena Beliau bisa melihat bahwa sekadar punya cinta kasih dan welas asih
terhadap orang Tiongkok tak akan menyelesaikan masalah,
dan Beliau punya tanggung jawab atas seluruh rakyatnya,
yang tak bisa Beliau laksanakan kalau Beliau tetap tinggal di Lhasa.
Jadi Beliau pergi, betul kan?
Maksud saya, Beliau memakai akal sehatnya.
Jadi kita semua punya akal sehat kita, betul kan?
Dan karena itu kita hendaknya, tahu kan,
ya, kita hendaknya berusaha mengembangkan
kualitas-kualitas di jalan (latihan).
Tetapi banyak dari instruksi ini ditujukan untuk, tahu kan,
bodhisatwa tingkat sangat tinggi —
bagaimana kita hendaknya bertindak seandainya kita bodhisatwa tingkat tinggi,
bagaimana seorang bodhisatwa tingkat tinggi akan bertindak.
Tetapi kita pada umumnya bukan bodhisatwa tingkat tinggi
atau bahkan bodhisatwa kecil yang baru tumbuh.
Jadi kita harus memakai akal sehat kita.
Dan kalau, misalnya, kita berada dalam situasi keluarga
di mana keluarga sungguh-sungguh kewalahan,
maka tak ada salahnya menciptakan jarak
dan sementara itu berlatih pada situasi yang lebih sulit —
pada situasi yang kurang sulit —
sampai kita merasa telah memperoleh cukup kekuatan batin
untuk berusaha menghadapi situasi keluarga sekali lagi
dari sudut pandang yang, tahu kan,
lebih terubahkan.
Tetapi selama kita masih terjebak di tengah-tengahnya,
itu mungkin terlalu sulit bagi kita.
Jadi, tahu kan, kita punya, maksud saya,
seperti kalau kau dalam situasi kekerasan
dan kau punya pasangan yang selalu mabuk
dan datang lalu memukulimu,
maksud saya, sangat bodoh hanya duduk di sana sambil berkata,
"Semoga semua makhluk baik dan bahagia."
Maksud saya, kau harus melakukan sesuatu, betul kan?
Maksud saya, bahkan Tara punya aspek-aspek murkanya.
Jadi bukan berarti kita naif dan bodoh, betul kan?
Kita harus — dan kita harus melihat kapasitas kita sendiri.
Seberapa banyak yang bisa kita tangani pada saat tertentu ini?
Seperti yang saya bilang, kau tak, tahu kan,
mengira kau bisa memainkan Beethoven
hanya karena kau ingin memainkan piano.
Kau mulai dengan potongan yang lebih kecil, lebih mudah
sampai kau naik.
Jadi begitulah, tahu kan.
Tetapi soal sang ibu — ia memberimu kehidupan,
jadi berhentilah mengeluh.
Semua makhluk di alam roh
akan memberikan apa saja untuk kehidupan manusia,
betapa pun sulitnya ia.
Itu akan menjadi praktikmu —
mengambil kesulitan-kesulitan hidupmu
dan mengubahnya.
Kesulitan-kesulitan itu sebenarnya tidak di luar sana.
Kesulitan-kesulitan itu sebenarnya ada di dalam batin kita sendiri.
Dan kalau kita tak — kalau kita tak memaafkan,
lalu siapa yang menderita?
Bukan orang yang tak kita maafkan
yang menderita.
Kita-lah yang menderita.
Jadi kita hanya menahan (dendam) —
kita melakukan pada diri kita sendiri
apa yang hanya akan diharapkan musuh terburuk kita bagi kita.
Betapa bodohnya itu?
Jadi kau harus mulai mengerjakannya.
Maksud saya, siapa pun orang
yang secara khusus kaudendami
dan kepadanya kau merasa marah,
itu adalah hadiah terbesarmu.
Karena itulah orang
yang akan kaukerjakan
sampai akhirnya kau bisa melepaskan
dan membiarkannya pergi.
Lalu seluruh energi ini muncul,
energi sukacita,
yang selama ini tertekan
karena kau menyimpannya di dalam sangkar
dendammu.
Jadi orang itu,
objek dendammu,
akan menjadi sahabat spiritual terbesarmu,
kalau kita menyikapinya dengan terampil.
(Terima kasih), Jetsunma, terima kasih banyak.
Saya akan —
saya akan menyorot Ling lagi.
Dan saya juga akan memunculkan Yang Mulia Rubina,
karena kami sangat —
ini kesempatan langka
untuk memiliki Anda semua di sini.
Jadi, Tenzin Paldron-la,
terima kasih banyak
dari lubuk hati saya
kepada Anda berdua karena telah hadir.
Maksud saya, ini
akhir pekan yang sangat-sangat istimewa.
Dan kami punya banyak untuk dicerna,
untuk sungguh-sungguh dikerjakan
dan mengubah batin kami.
Terima kasih.
Terima kasih, Paldron-la.
Anda berdua.
Terima kasih atas —
Jetsunma, atas doa aspirasi pembuka Anda hari ini,
yang saya kira menopang kami.
Internetnya bertahan kuat.
Jadi bolehkah kami minta Anda
melimpahkan jasa (dedikasi), Jetsunma?
Ya, maksud saya, sungguh,
semoga seluruh berkumpulnya
kita semua ini untuk menyimak Dharma,
semoga ia menyalakan api di dalam hati kita.
Semoga ia mengubah hati kita,
karena inilah awal
dan akhir dari jalan (latihan).
Ia ada di dalam diri kita.
Jadi sekalipun kita mengambil satu percik
dari semua yang telah Anda dengar
sepanjang akhir pekan
dan sungguh-sungguh mengembangkannya,
maka percik itu akan menyulut
nyala api di dalam hati kita.
Dan nyala api itu lalu akan menerangi
melampaui dirinya sendiri
untuk memberi manfaat bagi sangat-sangat banyak makhluk.
Kau tak pernah tahu
siapa yang akan kaumanfaati.
Ketika kita bertemu orang
sepanjang hari
dan sepanjang hidup kita,
siapa yang tahu kapan percik itu
akan menyalakan sesuatu
di dalam diri mereka juga.
Jadi sungguh, seperti di semua aliran Buddhis,
kita semua berkata,
semoga semua makhluk baik dan bahagia.
Dan dari hati kita, kita mengharapkan itu.
Semoga semua makhluk di mana-mana
di semua tataran keberadaan
akhirnya baik dan bahagia.
Sadhu, sadhu, sadhu.
Terima kasih banyak, Jetsunma
dan Yang Mulia Rubina
dan kepada seluruh tim.
Ya, terima kasih semuanya.
Terima kasih semuanya.
Dan terima kasih, Tenzin Sangmo juga
karena telah menyiapkan semuanya.
Dan terima kasih, Aileen,
karena telah melanjutkannya.
Luar biasa.
Senang bertemu Anda, Rubina.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya