0:15 Selamat sore semuanya.
0:16 Saya sudah melihat perkenalan kalian.
0:23 Perkenalan kalian —
0:25 kalian semua termasuk
0:27 pakar di kalangan psikologi.
0:30 Selamat datang di
0:33 vihara cabang ini,
0:36 untuk berkunjung belajar dan mengalami langsung.
0:38 Di masa lalu saya
0:44 dengan
0:45 kalangan psikologi
0:47 juga sudah banyak berdialog dan bertukar pikiran,
0:53 termasuk dengan
0:53 (program) psikologi Tiongkok-Jerman;
0:57 di Universitas Peking,
1:00 Universitas Normal Beijing,
1:01 juga pernah mengadakan
1:04 ceramah,
1:06 dialog.
1:08 Buddha-Dharma
1:12 sebenarnya adalah
1:15 psikologi Timur.
1:17 Karena Buddha-Dharma,
1:20 sejak zaman kuno,
1:22 memang merupakan ilmu tentang sifat-batin.
1:24 Meskipun Buddhisme punya
1:28 banyak mazhab —
1:30 misalnya ada
1:32 Buddhisme Han, Buddhisme Selatan (Theravada),
1:34 Buddhisme Tibet —
1:35 tetapi Buddhisme,
1:38 di Tiongkok,
1:40 sejak zaman kuno,
1:43 senantiasa disebut
1:44 ilmu tentang sifat-batin.
1:45 Sebenarnya intinya
1:48 terutama adalah
1:50 membantu kita
1:52 mengenali ini —
1:54 yaitu, dunia sifat-batin
1:56 kita manusia,
1:58 sampai bagaimana menyelesaikan
2:01 persoalan psikologis.
2:03 Nah, inilah, bagi Buddha-Dharma,
2:04 sebuah
2:06 tugas intinya.
2:09 Justru berdasarkan sebuah
2:12 ini —
2:14 sudut pandang semacam ini,
2:16 maka,
2:19 saya rasa, saya dengan kalangan psikologi
2:21 secara alami akan terbentuk sejenis keakraban seketika.
2:24 Yaitu, sebenarnya saya pun tak pernah belajar psikologi,
2:28 tak pernah meneliti psikologi,
2:30 tetapi karena kita punya titik perhatian yang sama,
2:33 yaitu sama-sama memperhatikan persoalan psikologis manusia,
2:36 menyelesaikan persoalan psikologis manusia.
2:38 Maka dari sudut ini,
2:42 secara alami akan terbentuk
2:44 pertukaran pikiran,
2:46 dialog.
2:48 Termasuk di masa lalu, di Vihara Xiyuan, Suzhou,
2:51 setiap dua tahun
2:53 saya mengadakan (kegiatan) berjudul "Buddha-Dharma dan Psikoterapi".
2:57 Tetapi ada juga banyak dari kalangan psikologi,
3:00 para tokoh besar ini, yang datang ikut serta.
3:03 Sekarang saya sudah beberapa tahun tak mengadakannya.
3:06 Nah,
3:09 nah,
3:11 menurut saya,
3:13 setelah vihara cabang kami ini dibangun,
3:15 ini baru pertama kali kami menyambut orang-orang dari kalangan psikologi.
3:18 Maka sangat selamat datang untuk kalian
3:21 berkunjung ke sini.
3:23 Nah,
3:24 menurut saya,
3:28 kita membahas persoalan psikologis ini —
3:31 saya rasa
3:32 kita bisa berpijak pada dua persoalan untuk bertukar pikiran dan berdiskusi.
3:40 Dua persoalan ini —
3:42 menurut saya,
3:43 satu adalah persoalan kognisi,
3:44 satu adalah persoalan psikologis.
3:47 Karena kehidupan kita, selain tubuh jasmani kita ini,
3:54 sebenarnya sisanya semestinya adalah
3:55 kognisi dan psikologi.
3:58 Nah,
3:59 nah, kognisi sebenarnya juga bagian penting yang membentuk psikologi kita.
4:04 Maka dari makna tertentu, kognisi juga termasuk persoalan psikologis.
4:09 Nah,
4:10 juga termasuk
4:11 faktor yang sangat krusial
4:16 yang menentukan psikologi macam apa yang bisa kita miliki.
4:18 Faktor yang krusial.
4:20 Nah, pertama-tama dari sudut kognisi:
4:22 yaitu, timbulnya kognisi setiap orang kita —
4:25 sebenarnya,
4:32 ia dibatasi oleh keterbatasan diri kita sendiri.
4:34 Misalnya, ia tak lepas dari indra kita.
4:40 Nah, kita semua tahu indra kita sendiri
4:43 punya keterbatasan yang sangat besar.
4:46 Nah,
4:49 ini —
4:50 nah, ia juga tak lepas dari
4:51 indra kita;
4:55 indra kita;
4:55 nah, ia juga tak lepas dari emosi kita —
5:00 emosi akan mempengaruhi kognisi kita.
5:03 Nah,
5:04 kau suka atau tak suka —
5:05 tanpa disadari itu pun akan mempengaruhi kognisi kita.
5:08 Selain itu,
5:09 misalnya rasionalitas —
5:11 rasionalitas ini,
5:13 sesungguhnya, ia tak lepas dari perasaan kita,
5:17 juga tak lepas dari pengalaman kita.
5:20 Nah, selain perasaan dan pengalaman,
5:23 sekaligus ia juga akan
5:24 ini —
5:25 ia juga akan dipengaruhi berbagai pengetahuan budaya.
5:28 Nah,
5:29 kita akan menerima sangat-sangat banyak pengetahuan budaya,
5:33 lalu rasionalitas kita akan, berdasarkan indra kita,
5:37 emosi kita,
5:38 serta ini —
5:41 pengetahuan budaya yang kita terima ini,
5:43 dan juga pengalaman kita,
5:45 lalu terhadap
5:47 pengetahuan yang kita bangun, kita akan melakukan penilaian.
5:51 Nah, penilaian ini — meskipun kita mengira rasionalitas cukup objektif,
5:55 sebenarnya rasionalitas tetap sangat subjektif.
5:58 Karena pengetahuan macam apa yang bisa kau terima —
6:02 ini —
6:03 yaitu, ketika ada berbagai macam pengetahuan tersaji di depanmu, mana yang kau terima dan mana yang tak kau terima,
6:08 sebenarnya,
6:09 sebenarnya tetap kau sendiri yang menentukan,
6:12 dipilih oleh rasionalitasmu.
6:14 Maka pada akhirnya, sebenarnya apakah yang kaupercaya itu kebenaran
6:17 atau bukan kebenaran —
6:18 sebenarnya pada akhirnya yang dipercaya tetap dirimu sendiri,
6:21 yaitu mempercayai penilaianmu sendiri,
6:24 tak lepas dari pengalaman kita,
6:25 yaitu terhadap ini —
6:27 penilaian terhadap dunia ini.
6:30 Tetapi kita tahu rasionalitas ini —
6:33 filsafat Barat ini —
6:36 ia menganggap
6:37 manusia adalah sari alam semesta, lord segala makhluk.
6:41 Orang Barat sangat
6:44 menjunjung rasionalitas.
6:47 Ini —
6:48 filsafat.
6:49 Timbulnya filsafat Barat
6:52 sebenarnya pada dasarnya dibangun di atas landasan rasionalitas.
6:55 Tetapi, ini —
6:58 filsafat Barat, sampai (masa) Kant,
7:00 sebenarnya mereka pun melihat keterbatasan rasionalitas.
7:03 Karena rasionalitas — ia, dari
7:06 pengalaman-pengalaman dan konsep-konsep ini,
7:09 membentuk sejenis pemikiran dan pengenalan kita.
7:12 Ia tak bisa langsung mengenali
7:15 wujud-sejati dunia.
7:18 Pengenalan kita sekarang
7:20 sesungguhnya tak lepas dari hal-hal ini.
7:24 Nah, pengenalan kita sekarang tak lepas dari hal-hal ini.
7:25 Kita setiap orang,
7:27 kita hidup di dunia ini,
7:29 kita akan, dengan (pandangan) kita sendiri —
7:32 ini yang sering saya katakan: setiap orang punya dua pola,
7:36 satu adalah pola kebutuhan,
7:37 satu adalah pola kognisi.
7:39 Yaitu pola kebutuhanmu
7:41 dan pola kognisimu
7:43 akan menentukan dunia macam apa yang kaumiliki,
7:48 dunia macam apa yang (akan) ada.
7:50 Nah, kita biasanya mempercayai diri sendiri.
7:53 Ini sebuah pola pengenalan yang sangat penting pada kita manusia.
7:55 Ini sebuah ciri yang sangat penting pada kita manusia.
7:57 Kita mempercayai pengenalan kita sendiri,
7:59 mempercayai pengalaman kita sendiri,
8:00 mempercayai pengalaman kita sendiri semacam ini,
8:03 serta, melalui proses pertumbuhan ini,
8:06 sejenis pengenalan yang terbentuk.
8:09 Kita mempercayai pengenalan kita sendiri,
8:11 mempercayai penilaian kita sendiri,
8:12 melekat pada
8:14 pengenalan kita sendiri.
8:17 Nah, pengenalan semacam itu akan membentuk psikologi kita.
8:21 Maka timbulnya berbagai aktivitas batin kita
8:24 sebenarnya dengan kognisi kita
8:29 punya kaitan yang sangat besar.
8:32 Tentu dari sudut Buddha-Dharma,
8:34 ia, terhadap psikologi kita manusia,
8:36 ini —
8:38 ini —
8:40 melakukan analisis yang luas.
8:42 Dunia psikologi (menurutnya)
8:44 sangat luas dan mendalam.
8:47 Misalnya, dari sudut Buddha-Dharma,
8:51 ia terbagi menjadi tataran batin sejati
8:53 dan tataran batin yang keliru (妄心).
8:54 Tentu batin sejati adalah yang melampaui
9:00 sistem kesadaran dan alam bawah sadar kita.
9:02 Nah, ada pula tataran batin yang keliru.
9:05 Nah, tataran batin yang keliru —
9:06 misalnya dalam Buddha-Dharma,
9:08 seperti ini —
9:11 sebagian mazhab seperti aliran Chan,
9:15 seperti sistem Tathāgatagarbha ini —
9:17 misalnya seperti Sutra Nirwana,
9:19 Sutra Śūraṅgama, Sutra Laṅkāvatāra —
9:22 ia lebih (banyak) membahas manusia kita ini seperti apa.
9:24 Kita punya batin sejati,
9:26 yaitu
9:27 ini —
9:29 yaitu di dalam kehidupan setiap orang
9:31 ada
9:32 yaitu Buddha-sifat,
9:33 ada sifat-tersadar.
9:35 Nah, selain batin sejati,
9:36 Buddha-sifat ini sesungguhnya mewakili — Buddha-Dharma menganggap
9:39 kita setiap orang,
9:41 ini — ia punya
9:43 kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
9:46 Ia punya kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
9:48 Ini mungkin (titik) Buddha-Dharma
9:50 yang paling berbeda dengan agama Barat.
9:54 Agama Barat,
9:54 agama (itu) menganggap manusia tak punya kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
9:57 Nah, Buddhisme ini
9:59 menganggap setiap orang,
10:01 kita punya
10:02 ini — pembebasan diri sendiri.
10:05 Sebenarnya pembebasan diri sendiri yaitu penyembuhan diri sendiri.
10:07 Kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri,
10:10 kau sendiri bisa menyelamatkan dirimu sendiri,
10:11 tak perlu ada sebuah
10:13 tuhan di luar (diri).
10:15 Lalu dari sistem batin yang keliru,
10:17 ia terbagi lagi menjadi kesadaran dan alam bawah sadar.
10:19 Ini dibahas paling jelas dalam mazhab Yogācāra.
10:22 Lalu mazhab Yogācāra ini termasuk
10:24 (yang) membagi psikologi manusia menjadi berbagai unsur,
10:30 sejumlah unsur yang berbeda-beda ini.
10:33 Misalnya,
10:34 ada ini —
10:36 ada ini —
10:37 yaitu psikologi yang lazim (netral);
10:40 ada psikologi yang membuat kita menimbulkan berbagai kekotoran batin, berbagai emosi,
10:44 psikologi emosi negatif;
10:46 lalu ada pula (psikologi) yang bisa membantu kita menuju kesadaran dan pembebasan,
10:49 psikologi baik semacam itu,
10:52 dan psikologi yang bersesuaian dengan kesadaran dan pembebasan.
10:54 Sebenarnya psikologi-psikologi ini kira-kira ada beberapa jenis semacam ini.
10:58 Nah, kita orang biasa — psikologi macam apa yang bisa kita miliki —
11:02 yaitu, kita bisa menimbulkan psikologi macam apa —
11:05 sebenarnya kebanyakan orang,
11:07 terhadap dunia psikologisnya sendiri, kekurangan pengenalan dan juga kekurangan pengelolaan.
11:12 Maka kita kebanyakan mengikuti kognisi kita sendiri.
11:15 Nah, kognisi-kognisi ini —
11:17 sebenarnya,
11:19 ini —
11:20 karena di dalam kognisi kita akan tersembunyi kemelekatan semacam itu.
11:24 Kemelekatan ini, dalam Buddha-Dharma,
11:26 dibaginya menjadi dua macam kemelekatan:
11:29 satu adalah kemelekatan pada diri (aku),
11:31 satu adalah kemelekatan yang timbul dalam proses mengenali dunia.
11:35 Lalu karena kemelekatan semacam ini,
11:38 kita mungkin akan —
11:39 misalnya serakah,
11:41 keserakahan dan kebencian ini.
11:43 Buddhisme (menganggap) kita —
11:46 ini —
11:47 ia menganggap di dalam dunia batin setiap orang kita ada tiga jenis virus.
11:51 Tiga jenis virus ini
11:53 yaitu, di dalam dunia batin kita,
11:54 yaitu keserakahan, kebencian, kebodohan.
11:57 Keserakahan-kebencian-kebodohan ini,
12:00 ini —
12:03 dalam Buddhisme disebut tiga racun.
12:07 Keserakahan-kebencian-kebodohan ini sebenarnya —
12:09 ini —
12:12 di antaranya "kebodohan" ini —
12:17 kebodohan ini tentu, kalau dijelaskan dalam istilah awam, yaitu ketolol-tololan.
12:20 Ketolol-tololan yaitu tak ada kebijaksanaan.
12:24 Nah, "kebodohan" ini dalam Buddhisme juga ada satu konsep lain,
12:27 sebenarnya disebut ketaktahuan (avidyā).
12:30 Ketaktahuan ini —
12:32 ini —
12:35 terasa seolah sebuah —
12:36 seperti —
12:38 seperti ketika di sini tak ada cahaya,
12:42 ia sepenuhnya gelap gulita, kau tak bisa melihat apa pun.
12:44 Inilah keadaan ketaktahuan semacam ini,
12:45 yaitu kau tak bisa melihat dengan jelas —
12:46 tak bisa melihat dirimu sendiri dengan jelas,
12:48 tak bisa melihat dunia dengan jelas.
12:51 Seperti kita di kamar ini —
12:53 kalau selama tiga hari tiga malam tempat ini tak ada cahaya,
12:54 tak ada lampu,
12:56 kita bisa bayangkan kita akan bagaimana,
12:58 kita akan (dalam) keadaan apa.
13:03 Yaitu, kita mungkin akan — kalau kau pergi ke tempat asing,
13:06 lalu tiga hari tiga malam dikurung di kamar gelap,
13:09 maka kita mungkin akan
13:11 berpikir yang bukan-bukan,
13:13 akan punya berbagai kecemasan,
13:14 akan punya berbagai ketakutan,
13:16 akan punya berbagai kekhawatiran,
13:18 akan punya berbagai khayalan,
13:19 dan sebagainya.
13:22 Maka ini —
13:23 ini —
13:24 yaitu ini —
13:27 "kebodohan" ini mewakili ketaktahuan.
13:31 Buddha-Dharma menganggap warna dasar kehidupan kita ini
13:34 punya dua unsur yang paling mendasar dan paling pokok.
13:38 Karena kalau kita bicara tentang perbedaan Buddha dan makhluk hidup,
13:40 akan terasa kedua kepribadian ini —
13:42 jaraknya sangat jauh berbeda.
13:43 Tetapi sebenarnya,
13:46 Buddhisme menganggap
13:49 Buddha dan makhluk hidup, pada suatu tataran,
13:53 tak berbeda dan tak terpisah.
13:54 Ia disebut
13:55 "pada (makhluk) awam tak berkurang,
13:57 pada (para) suci tak bertambah".
13:59 Kau mencapai kebuddhaan — sebenarnya kau tak bertambah apa pun;
14:01 kau sekarang dalam keadaan (makhluk) awam pun tak kekurangan apa pun.
14:04 Nah, inilah —
14:07 sebenarnya yaitu
14:08 Buddha-sifat.
14:09 Konsep Buddha-sifat ini —
14:11 sebenarnya secara sederhana,
14:13 ia adalah sebuah —
14:15 yaitu,
14:17 "Buddha" berarti "tersadar".
14:18 Batin yang tersadar,
14:21 kesadaran,
14:22 yaitu batin yang tersadar.
14:23 Batin yang tersadar ini,
14:24 setiap orang memilikinya.
14:27 Dalam hal ini,
14:28 Buddha dan makhluk hidup tak ada bedanya.
14:30 Dalam persoalan ini, (mereka) setara.
14:33 Buddha pun tak bertambah apa pun,
14:35 makhluk hidup pun tak kekurangan apa pun.
14:37 Buddha-sifat ini —
14:40 sebenarnya,
14:45 ia adalah —
14:46 secara sederhana, sebenarnya masih ada dua ciri:
14:48 satu adalah kosong, satu adalah terang.
14:51 Maka dalam Buddhisme ciri ini
14:53 disebut "batin non-dual antara kekosongan dan keterangan".
14:54 Kosong yaitu lapang,
14:56 lapang seperti ruang kosong.
14:57 Ia tak seperti aktivitas batin kita —
15:00 ia (bukan)
15:02 satu getar pikiran demi satu getar pikiran,
15:03 ini —
15:07 ia (bukan yang) parsial,
15:08 terpotong-potong,
15:09 ini — ini — ini.
15:10 Tetapi Buddha-sifat ini — keberadaannya seperti ruang kosong.
15:12 Lalu satu ciri lagi yaitu terang.
15:16 Terang yaitu "mengetahui dengan sangat jernih".
15:18 Ia punya daya membedakan (discernment),
15:20 ia punya daya membedakan — sebuah fungsi semacam ini.
15:22 Lalu keterangan ini —
15:24 ada lagi:
15:26 kita, yaitu ini —
15:28 kehidupan kita
15:31 dengan kehidupan para Buddha dan bodhisatwa —
15:33 ini —
15:35 kesamaan dan perbedaannya —
15:38 sebenarnya titik cabang yang paling mendasar
15:40 terletak pada terang dan taktahu (明 dan 無明).
15:43 Terang dan taktahu.
15:45 Terang dan taktahu ini —
15:47 dengan kata-kata yang cukup awam,
15:50 yaitu terang dan taktahu.
15:53 Kau lihat, dalam Sutra Panggung Patriark Keenam dibahas:
15:54 "getar pikiran sebelumnya bingung —
15:57 itulah makhluk hidup;
16:01 getar pikiran berikutnya sadar —
16:02 itulah Buddha."
16:04 Sebenarnya ini juga sebuah —
16:06 dari (sudut) kita orang awam,
16:09 sesungguhnya ia adalah sebuah saluran (channel) batin:
16:11 ada satu saluran kesadaran,
16:13 ada satu saluran keterangan.
16:16 Sebenarnya yaitu
16:18 saluran keterangan dan saluran ketaktahuan.
16:19 Ketika kehidupanmu
16:23 yaitu
16:25 masuk ke saluran keterangan,
16:26 kau (menjadi) tersadar.
16:28 Kau mengenali batin yang tersadar,
16:29 sifat-tersadar,
16:32 kau (menjadi) tersadar,
16:33 maka kau membuka
16:35 kehidupan yang tersadar dan terbebas.
16:37 Kehidupanmu,
16:39 kalau masuk ke saluran kebingungan,
16:41 maka kau masuk ke saluran kelinglungan.
16:44 Nah,
16:47 meskipun dikatakan
16:48 terang dan taktahu,
16:50 ia, sebagai
16:51 ia, sebagai
16:52 yaitu (milik) semua kehidupan yang luas,
16:56 dua ciri yang universal,
16:58 semua ada (pada kita).
16:59 Tetapi bedanya mungkin terletak pada:
17:02 Buddha sudah sepenuhnya melenyapkan ketaktahuan;
17:04 adapun makhluk hidup —
17:06 kita meskipun juga punya keterangan,
17:08 tetapi sesungguhnya kita hidup
17:10 di dalam saluran ketaktahuan.
17:12 Keterangan ini sesungguhnya seperti —
17:14 yaitu di dalam batin setiap orang
17:17 ada sebuah
17:20 pelita kebijaksanaan yang terang.
17:21 Tetapi pelita ini
17:23 belum dinyalakan,
17:24 belum dinyalakan.
17:24 Ketika belum dinyalakan,
17:25 kehidupanmu
17:26 yaitu (berada) dalam sejenis
17:28 keadaan ketaktahuan.
17:29 Ketaktahuan yaitu
17:30 yaitu pelita ini belum dinyalakan,
17:32 yaitu tak bisa melihat dengan jelas.
17:34 Maka setiap kehidupan —
17:36 maka keserakahan-kebencian-kebodohan
17:37 yaitu (berlandaskan) kebodohan sebagai landasan,
17:39 dengan kebodohan sebagai sebuah landasan kehidupan kita.
17:43 Nah, dengan landasan semacam itu,
17:46 maka berkembanglah
17:48 kehidupan tumimbal lahir ini.
17:50 Adapun Buddha dan bodhisatwa —
17:53 kalau kita bisa membina diri,
17:54 sesungguhnya kita membuka
17:56 kekuatan keterangan yang baru ini.
17:58 Begitu kita membuka kekuatan keterangan yang baru,
18:01 kehidupan kita
18:03 akan menuju
18:04 kesadaran dan pembebasan.
18:06 Nah,
18:08 nah, kebingungan kita —
18:09 yaitu karena berlandaskan ketaktahuan ini.
18:11 Dengan ketaktahuan sebagai landasan,
18:13 kita setiap orang datang ke dunia ini,
18:16 kehidupan kita
18:18 punya banyak sekali semacam ini —
18:20 dari kebingungan yang kekal
18:22 sampai kebingungan yang nyata (sehari-hari).
18:24 Misalnya kebingungan yang kekal —
18:26 itulah persoalan yang dikejar para filsuf,
18:27 yang dikejar para filsuf.
18:30 Misalnya: siapakah aku,
18:32 dari mana aku datang,
18:33 ke mana aku pergi,
18:35 sebenarnya apa wujud-sejati dunia ini?
18:38 Yaitu filsafat sepanjang zaman,
18:40 ia selalu menyelidiki persoalan-persoalan ini,
18:44 memedulikan persoalan-persoalan ini.
18:47 Lalu, dari (yang) besar sampai persoalan yang kekal,
18:51 (yang) kecil sampai persoalan yang nyata —
18:53 persoalan yang nyata yaitu persoalan di depan kita.
18:54 Kita setiap hari menghadapi berbagai (persoalan) keluarga, hubungan kasih, hubungan antarmanusia,
18:59 berbagai perkara —
19:00 bagaimana kau mengenalinya,
19:02 bagaimana kau mengenalinya.
19:03 Karena setiap orang
19:04 akan hidup di dalam sejenis harapan dan penetapannya sendiri,
19:07 membawa harapan dan penetapannya sendiri
19:09 untuk hidup,
19:10 untuk memandang dunia.
19:11 Lalu kau akan
19:13 ini —
19:14 menciptakan banyak persoalan.
19:16 Kau akan menciptakan banyak —
19:18 ini akan menimbulkan cinta dan benci.
19:22 Maka ini —
19:23 ini yaitu:
19:25 yaitu kita, karena ketaktahuan ini,
19:28 kita tak bisa memahami dengan jelas.
19:29 Misalnya, yang barusan kita bahas —
19:31 pertama-tama, dari akarnya,
19:33 kognisi terhadap persoalan hakiki (ultimate) —
19:35 ini adalah, dalam timbulnya kehidupan kita, sebuah (hal) yang sangat penting.
19:37 Kognisi kita,
19:39 sebuah kognisi yang keliru terhadap (persoalan) hakiki,
19:41 sejumlah kognisi yang keliru terhadap persoalan hakiki,
19:43 adalah, yang menyebabkan kita, dalam hal kognisi,
19:46 muncul penyimpangan —
19:48 sebuah landasan yang sangat penting.
19:50 Misalnya,
19:52 dalam filsafat, "siapakah aku" —
19:54 sebenarnya apa yang mewakili "aku"?
19:56 Ini —
19:58 nah,
20:00 ini —
20:02 kita biasanya
20:03 akan punya sejenis penetapan terhadap diri (aku).
20:05 Penetapan ini mungkin berasal dari status,
20:07 mungkin juga berasal dari rupa,
20:09 mungkin juga berasal dari kognisi sendiri.
20:13 Ini — kita akan, terhadap diri sendiri,
20:15 membangun kognisi,
20:16 lalu kognisi semacam ini
20:18 kita perluas keluar,
20:19 yaitu menjadi "milikku",
20:20 benda apa pun yang berkaitan denganku.
20:22 Nah, kita —
20:24 ini —
20:25 kita akan, terhadap sejenis semacam ini —
20:28 ini —
20:30 ketika kita sudah punya sejenis
20:32 kognisi terhadap diri semacam itu,
20:34 maka kita
20:36 berharap —
20:37 kita, di dunia ini,
20:39 kita perlu hidup dengan aman.
20:41 Kita ingin hidup dengan aman,
20:42 maka kita mencari banyak kebergantungan.
20:44 Lalu kita, terhadap diri (aku) ini,
20:46 kita akan punya banyak harapan,
20:47 akan punya banyak kemelekatan —
20:49 misalnya status,
20:50 kedudukan,
20:51 tubuh jasmani.
20:52 Yaitu kau (mengambil) hal-hal ini —
20:53 yang hanya punya hubungan sementara dengan kita —
20:56 sebagai diri (aku) yang hakiki.
20:59 Tetapi hal-hal semacam ini
21:00 sesungguhnya berubah tak kekal.
21:02 Maka dari situ
21:05 kita akan —
21:06 misalnya menimbulkan keserakahan,
21:08 keterlekatan,
21:09 kebergantungan.
21:10 Lalu, setelah ada kebergantungan semacam ini,
21:13 ketika objek kebergantungan kita ini —
21:16 ini —
21:18 tentu bukan hanya kebergantungan pada yang batiniah,
21:20 ada juga kebergantungan pada yang luar,
21:21 misalnya kebergantungan pada kekayaan,
21:23 kebergantungan pada kedudukan,
21:24 kebergantungan pada hubungan kasih,
21:25 kebergantungan pada keluarga.
21:27 Maka ketika kita, terhadap
21:29 tubuh jasmani batiniah kita
21:32 serta kehidupan luar,
21:34 kita menganggapnya sebagai "aku",
21:36 kita akan menimbulkan sejenis harapan akan kekekalan.
21:39 Sebenarnya setiap orang,
21:40 kau semua akan punya semacam ini —
21:42 khayalan tentang kekekalan.
21:44 Ketika kau punya khayalan tentang kekekalan semacam ini,
21:46 kau tak bisa
21:48 menerima perubahan dunia luar ini.
21:51 Kita tak bisa menerima tubuh jasmani —
21:53 ketidakkekalan semacam ini,
21:54 penyakit,
21:56 atau merasa diri sendiri (rupanya)
21:58 berjarak dengan nilai harapan diri sendiri,
22:01 atau (terhadap) segala yang kita miliki,
22:05 kita khawatir kehilangannya.
22:07 Maka timbullah
22:10 yaitu keserakahan.
22:12 Keserakahan semacam ini yaitu —
22:13 bersamaan dengan keserakahan timbul sejenis kebergantungan.
22:15 Lalu kebergantungan semacam ini —
22:17 ini —
22:19 akan menimbulkan berbagai kecemasan,
22:23 akan menimbulkan —
22:25 ketika hal yang kita gantungi penuh dengan ketidakpastian,
22:27 kita akan menimbulkan kecemasan.
22:29 Ketika hal yang kita gantungi
22:31 ini — akan hilang,
22:33 kita akan melihat perubahan tak kekalnya,
22:35 kita mungkin akan menimbulkan rasa ketakbermaknaan.
22:37 Mengapa orang zaman sekarang
22:39 mudah menimbulkan rasa ketakbermaknaan?
22:41 Di masa lalu, di era ketika "tahun-tahun tenang dan indah",
22:44 dunia luar yang kita lekati ini —
22:47 kita akan merasa
22:49 seolah ketidakkekalannya belum datang,
22:51 ini —
22:53 ketidakkekalan tak sebegitu ganas.
22:55 Maka kita akan merasa dunia luar ini sangat stabil.
22:59 Tetapi,
23:00 sekarang, di masyarakat yang berubah dalam sekejap ini,
23:03 kita, ke dunia luar ini,
23:05 mencari kebergantungan,
23:08 nilai,
23:10 makna,
23:11 rasa bahagia —
23:13 makin lama makin tak mudah.
23:15 Mengapa sekarang rasa ketakbermaknaan makin lama makin banyak?
23:18 Yaitu karena yang kau sandari,
23:20 nilai yang kau gantungi ini,
23:22 ia makin lama makin —
23:23 yaitu makin lama makin tak dapat diandalkan.
23:25 Maka saya berkata —
23:27 belakangan ini saya sering berkata kepada mereka,
23:28 saya bilang ini —
23:29 kita hari ini, di era ini,
23:30 kita mungkin juga perlu menilai ulang sejumlah nilai.
23:33 Saya punya ceramah berjudul "Menilai Ulang Nilai,
23:36 Mencari Jalan Keluar bagi Umat Manusia".
23:38 Ini —
23:39 "penilaian ulang nilai" yang diserukan Nietzsche pada abad ke-19 ini —
23:43 nah, ini —
23:45 ini —
23:46 peradaban teknologi sekarang,
23:47 peradaban materi ini —
23:49 ia menilai sejumlah nilai dengan (ukuran) materi.
23:51 Seperti kita sekarang menilai sukses atau tidaknya seseorang,
23:54 sepenuhnya berdasarkan ini —
23:56 kesuksesan kekayaan materi dan karier semacam ini.
23:59 Ia tak seperti (tradisi) Tiongkok kita,
24:01 yang (menilai) dengan kesuksesan menjadi manusia (yang baik).
24:03 Buddha-Dharma (menilai) dengan kesuksesan kehidupan.
24:05 Nah,
24:06 sebagai sebuah standar penilaian.
24:10 Maka dunia luar ini —
24:13 yaitu karena keserakahan-kebencian semacam ini,
24:17 kita manusia pada dasarnya semua berada dalam
24:19 ketiga
24:20 tiga
24:21 tiga jenis virus ini.
24:22 Di dalam kehidupan kita, karena ketaktahuan —
24:24 ketaktahuan akan menciptakan keserakahan dan kebencian.
24:26 Lalu karena keserakahan,
24:27 lalu akan menimbulkan berbagai —
24:29 betul, betul —
24:30 ini — keterlekatan semacam ini,
24:32 ia akan menciptakan berbagai
24:34 penyakit psikologis,
24:36 yaitu berbagai kecemasan sekarang,
24:38 rasa ketakbermaknaan —
24:39 sebenarnya semuanya berkaitan dengan keserakahan.
24:42 Maka satu (hal) yaitu, terhadap diri (aku) sendiri, (perlu) mengenali:
24:45 sebenarnya siapakah aku,
24:47 apa yang sungguh-sungguh mewakili dirimu sendiri —
24:50 yaitu (hal) yang perlu kita lihat dengan jelas.
24:52 Kalau kau melihatnya dengan jelas,
24:54 kau akan tahu benda-benda yang kau tetapkan sebagai "diri" itu
24:57 sebenarnya semua bukan (dirimu).
24:58 Ia hanyalah sejenis diri semu,
25:00 hanyalah sejenis ilusi,
25:01 hanyalah sejenis benda yang sementara.
25:03 Ketika kau bisa melihat benda ini dengan jelas,
25:06 maka — karena kemelekatan pada diri (aku) yang membentuk banyak kecemasan —
25:09 banyak persoalan psikologis pun lenyap,
25:11 lenyap.
25:13 Nah, satu (hal) lagi
25:14 yaitu terhadap dunia ini,
25:15 terhadap dunia materi luar, sejenis kemelekatan.
25:18 Nah,
25:19 maka ini yaitu — kita, terhadap kekayaan,
25:23 terhadap kedudukan,
25:24 terhadap keluarga,
25:25 terhadap hubungan kasih —
25:26 apakah kau hidup di dalam sejenis harapan-penetapan-kemelekatanmu,
25:29 atau kau bisa, dari sejenis kebijaksanaan (yang lahir) dari kemunculan bergantungan,
25:33 memandang persoalan-persoalan ini?
25:35 Kognisi ini sangat penting.
25:37 Nah, Buddha-Dharma menganggap:
25:39 yaitu kehidupan kita, justru karena ini —
25:43 yaitu dengan ketaktahuan sebagai landasan,
25:47 dengan ketaktahuan sebagai landasan,
25:49 lalu,
25:51 terhadap diri (aku) sendiri dan terhadap dunia ini,
25:55 kita akan menimbulkan penetapan yang keliru semacam ini.
25:57 Lalu karena penetapan dan kemelekatan yang keliru semacam ini,
26:01 nah,
26:02 kita akan menimbulkan berbagai-berbagai-berbagai psikologi,
26:06 berbagai psikologi,
26:07 bahkan berbagai (yang) negatif, berbagai emosi,
26:10 nah,
26:11 berbagai kekotoran batin.
26:12 Lalu sekaligus, kita menumpuk lagi, membawa semua kekotoran batin dan emosi ini,
26:17 ia akan menjadi lagi pola kognisi kita,
26:19 ia akan menjadi lagi bagian dari pola kognisi kita.
26:21 Kita akan membawa lagi pola kognisi semacam ini
26:23 untuk selangkah lebih jauh memandang dunia.
26:25 Lalu dalam proses memandang dunia,
26:27 kita membentuk lagi banyak persoalan psikologis.
26:29 Lalu persoalan-persoalan psikologis ini menjadi lagi
26:31 sebuah akumulasi psikologi kita.
26:32 Ia menjadi lagi sebuah penumpukan pada kepribadian kita.
26:35 Lalu, selangkah lebih jauh membawa penumpukan ini,
26:37 selangkah lebih jauh memandang persoalan.
26:39 Maka setiap orang akan tersangkut oleh dirinya sendiri di dalam tumimbal lahir emosi semacam ini.
26:43 Nah,
26:44 maka Buddha-Dharma
26:45 membahas tumimbal lahir ini —
26:46 saya sering berkata kepada mereka,
26:47 saya bilang tumimbal lahir ini
26:48 sebenarnya juga tak harus (soal) kehidupan lampau dan kehidupan sekarang.
26:50 Sebenarnya setiap orang
26:52 ia bertumimbal lahir di dalam bidang yang berbeda-beda.
26:55 Misalnya kalian yang menekuni psikologi,
26:58 kalian setiap hari meneliti psikologi,
27:00 lalu memikirkan psikologi,
27:01 lalu mengerjakan persoalan psikologi,
27:03 lalu pengalaman-pengalaman ini membuatmu, selangkah lebih jauh, meneliti persoalan psikologi lagi,
27:07 meneliti lagi —
27:08 kau bertumimbal lahir di dalam profesi psikologi ini.
27:10 Nah,
27:11 (yang) menekuni seni,
27:12 (yang) menekuni bisnis —
27:13 lalu dalam proses kau mengerjakan ini,
27:15 ia mungkin membawa banyak pengalaman bagimu,
27:18 mungkin juga membawa banyak kecemasan bagimu.
27:20 Nah, entah pengalaman atau kecemasan,
27:22 ia akan menjadi lagi sebuah "penelitian"-mu,
27:24 sebuah landasan pertumbuhan kepribadianmu.
27:29 Nah,
27:31 maka, yaitu:
27:33 kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini,
27:39 ia adalah sebuah mesin gerak abadi
27:42 yang terus-menerus menciptakan persoalan.
27:44 Yaitu karena landasan kehidupan kita memang keliru:
27:48 ketaktahuan, keserakahan-kebencian-kebodohan.
27:50 Yaitu sejenis kehidupan yang dengan tiga racun,
27:52 tiga racun keserakahan-kebencian-kebodohan,
27:54 sebagai
27:56 landasan kehidupan kita.
27:58 Maka Buddha-Dharma membahas —
27:59 ada orang berkata, "Nah,
28:00 Buddha-Dharma kalian seolah
28:02 ini — terlalu pesimistis,
28:04 selalu membahas kekosongan,
28:06 ketidakkekalan,
28:08 penderitaan.
28:10 Kita hidup — mengapa harus membahas kekosongan,
28:12 membahas ketidakkekalan,
28:13 membahas penderitaan?"
28:15 Nah, penderitaan ini —
28:17 sebenarnya saya ingat, saya pernah di Universitas Normal Beijing
28:19 ah,
28:20 mengadakan sebuah ceramah.
28:22 Ceramah ini berjudul
28:24 ini — dari
28:26 sudut pandang Buddha-Dharma,
28:28 ini —
28:31 melihat fenomena psikologis ini, bagaimana mengatakannya —
28:33 ya kan?
28:34 Dari sudut pandang Buddha-Dharma,
28:36 bagaimana memandang — yaitu, memandang persoalan psikologis.
28:39 Saya pernah mengadakan sebuah ceramah semacam itu.
28:40 Sebenarnya ketika saya (menyampaikan) ceramah ini, saya membahas —
28:42 saya bilang:
28:44 Buddha-Dharma menganggap hidup adalah penderitaan;
28:46 sebenarnya,
28:47 sebenarnya Buddha-Dharma juga bisa berkata
28:49 hakikat hidup adalah kebahagiaan.
28:51 Karena Buddhisme menganggap hakikat tertinggi sebenarnya adalah sifat-tersadar.
28:55 Sifat-tersadar adalah sumber timbulnya kebahagiaan.
28:58 Kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini —
29:03 sifat-tersadar yang sejati barulah hakikat tertinggi kehidupan.
29:07 Ketaktahuan bukan hakikat tertinggi kehidupan.
29:09 Ketaktahuan adalah
29:11 landasan kehidupan kita orang awam.
29:14 Kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini —
29:17 dari ketaktahuan
29:19 lalu timbul keserakahan, kebencian —
29:23 kehidupan yang berlandaskan keserakahan-kebencian,
29:25 ia adalah sebuah (mesin) yang terus-menerus menciptakan masalah,
29:27 terus-menerus menciptakan penderitaan — mesin gerak abadi.
29:32 Maka Buddhisme berkata hidup adalah —
29:34 hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan,
29:37 hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan.
29:39 Penyebabnya adalah kehidupan yang berlandaskan keserakahan-kebencian-kebodohan;
29:42 hakikatnya memang penderitaan.
29:44 Tetapi kalau kau (menjadi) kehidupan yang berhakikat sifat-tersadar,
29:47 hakikatnya memang kebahagiaan.
29:50 Saya —
29:51 saya punya sebuah ceramah,
29:53 saya menyebutnya "Keindahan Nirwana",
29:55 khusus membahas kebahagiaan, bukan membahas penderitaan.
29:58 Ada buku ini,
30:00 yang membahas keindahan Nirwana.
30:03 Maka, yaitu, Buddha-Dharma —
30:07 misalnya membahas penderitaan, membahas kekosongan —
30:09 membahas kekosongan sebenarnya bukan hendak menyangkal
30:12 keberadaan fenomena,
30:13 (bukan) berkata tak ada apa-apa sama sekali.
30:15 Sesungguhnya kekosongan,
30:17 yang hendak dikerjakan kekosongan adalah mengosongkan
30:19 sejenis penetapan keliru kita terhadap dunia ini,
30:21 lalu mengenali (bahwa) segalanya,
30:23 semua ini adalah sejenis ilusi (yang muncul) dari kemunculan bergantungan.
30:26 Ia sama sekali bukan hendak menyangkal keberadaan yang nyata ini.
30:30 Buddhisme membahas ketidakkekalan.
30:32 Ketidakkekalan ini sesungguhnya hendak
30:34 menghancurkan sejenis harapan kekekalan kita terhadap dunia ini.
30:37 Mengapa harus menghancurkan harapan kekekalan kita terhadap dunia?
30:42 Karena dunia ini tak ada kekekalan.
30:44 Kita melihat segala fenomena —
30:46 Buddha berkata: "segala dharma berkondisi
30:49 bagaikan mimpi, khayalan, gelembung, bayangan,
30:51 bagaikan embun dan juga bagaikan kilat."
30:52 Hidup kita sungguh (bagai) percikan api dan kilat.
30:55 Di alam semesta yang tak berkesudahan ini,
30:57 hidup sebenarnya sangat kecil dan singkat.
31:00 Segalanya berada dalam perubahan yang cepat.
31:02 Maka yang Buddha-Dharma berikan kepada kita adalah sejenis
31:05 wujud-sejati,
31:07 sejenis kebijaksanaan.
31:09 Yang Buddha-Dharma berikan kepada kita adalah sejenis
31:11 penglihatan sesuai kenyataan (yathābhūta),
31:13 sesuai kenyataan.
31:15 Pengenalan yang sesuai kenyataan bisa menimbulkan kebijaksanaan;
31:19 pengenalan yang keliru
31:21 bisa menimbulkan kekotoran batin.
31:23 Pengenalan yang keliru bisa menimbulkan kekotoran batin;
31:26 pengenalan yang sesuai kenyataan
31:28 bisa menimbulkan kebijaksanaan.
31:31 Maka Buddha-Dharma hendak memberi kita wujud-sejati.
31:34 Maka, yaitu:
31:36 kehidupan semacam ini
31:38 adalah sejenis —
31:40 kehidupan tumimbal lahir semacam ini —
31:45 Buddha-Dharma, seluruh
31:51 garis besar seluruh ajaran-teorinya,
31:56 sesungguhnya yaitu pintu-Dharma Empat Kebenaran.
31:58 Empat Kebenaran —
32:00 pintu-Dharma Empat Kebenaran ini —
32:02 ini yaitu penderitaan;
32:04 ini yaitu penderitaan, asal-mula;
32:05 ini yaitu penderitaan, asal-mula, lenyapnya;
32:06 ini yaitu penderitaan, asal-mula, lenyapnya, jalan.
32:08 Empat Kebenaran ini —
32:10 sesungguhnya ia mengandung dua lapis sebab-akibat.
32:13 satu adalah sebab-akibat tumimbal lahir,
32:15 satu adalah sebab-akibat pembebasan.
32:18 Ini sebenarnya —
32:20 kita tahu
32:21 ini —
32:22 ini —
32:23 filsafat Tiongkok kita,
32:25 yang terutama kita pedulikan adalah persoalan dunia sekarang.
32:28 Ini —
32:30 membina diri, menata keluarga, mengurus negara, menenteramkan dunia —
32:32 semuanya (soal) dunia sekarang,
32:34 semuanya persoalan dunia sekarang.
32:36 Tetapi,
32:37 India, sebagai (peradaban) lima ribu tahun —
32:39 India juga salah satu dari empat peradaban kuno besar —
32:43 ia punya —
32:44 Tiongkok kita punya "ratusan aliran para pemikir",
32:47 sebenarnya India juga punya "ratusan aliran para pemikir".
32:50 Kau lihat, pada masa Buddha masih hidup,
32:52 ada sembilan puluh enam ajaran luar (heterodoks).
32:54 Yang disebut sembilan puluh enam ajaran luar yaitu sembilan puluh enam agama.
32:58 Nah, apa yang dipedulikan "ratusan aliran para pemikir" (India) itu?
33:02 Intinya adalah tumimbal lahir dan pembebasan.
33:06 Yaitu, dari (kitab) awal mereka —
33:11 Veda, Upanishad, Bhagavad Gita —
33:16 semua agama mereka,
33:18 persoalan inti yang dipedulikan adalah tumimbal lahir dan pembebasan.
33:21 Tumimbal lahir yaitu (memandang) kehidupan sebagai sesuatu (yang berlanjut):
33:24 nah, bagaimana ia, dari masa lalu,
33:26 berlanjut ke masa kini,
33:28 berlanjut ke masa depan.
33:30 Nah, setiap agama
33:31 terhadap fenomena kesinambungan kehidupan semacam ini —
33:33 titik pijak mereka
33:35 adalah kehidupan.
33:38 Titik pijak kita orang Tiongkok adalah kehidupan sekali ini (satu masa hidup).
33:41 Maka saya ingin menyampaikan kepada kalangan bisnis mereka tentang pandangan kesuksesan ini.
33:44 Kita orang Tiongkok membahas kesuksesan (dalam ukuran) satu masa hidup manusia.
33:47 Sekarang kalangan bisnis membahas kesuksesan
33:49 (dalam ukuran) berapa banyak kekayaan/uang yang kau hasilkan,
33:51 seberapa besar karier yang kaubangun.
33:53 Orang Tiongkok membahas kesuksesan
33:55 (dalam ukuran) satu masa hidup manusia.
33:58 Orang India membahas kesuksesan
34:00 (dalam ukuran) pembebasan kehidupan,
34:01 pembebasan dari tumimbal lahir.
34:03 Maka dimensinya berbeda —
34:07 yaitu, dimensi mengenai kesuksesan ini berbeda.
34:10 Nah, dimensi yang menjadi pijakan orang India
34:12 yaitu sudut pandang kehidupan (lintas-kelahiran):
34:14 bagaimana kehidupan, dari masa lalu,
34:16 terus bertumimbal lahir sampai masa kini,
34:18 lalu bertumimbal lahir lagi ke masa depan.
34:20 Nah, kesuksesan —
34:22 kesuksesan,
34:23 apa yang disebut kesuksesan?
34:25 Yaitu bagaimana aku bisa melepaskan diri dari tumimbal lahir,
34:28 menuntaskan pembebasan kehidupanku semacam ini.
34:31 Nah, mengapa harus melepaskan diri dari tumimbal lahir?
34:34 Karena orang India merasa hakikat tumimbal lahir memang penderitaan.
34:37 Secara umum mereka semua menganggap
34:39 hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan.
34:41 Lalu mereka punya berbagai macam metode,
34:45 berbagai macam metode pembinaan diri.
34:49 Kau lihat,
34:50 ini — meditasi (dhyāna) yang sangat lazim:
34:52 empat dhyāna dan delapan samādhi sebenarnya sama-sama (dimiliki) Buddhisme dan agama-agama India lain.
34:57 Pertapaan keras —
34:58 kau lihat sekarang dikatakan,
34:59 konon di kedua tepi Sungai Gangga di India
35:01 masih ada lima juta petapa keras heterodoks.
35:05 Mereka pun ini —
35:08 berbagai macam pertapaan keras.
35:11 Tetapi Buddha —
35:12 pada masa itu Ia pun mengalami banyak metode pembinaan diri ini.
35:15 Ia merasa
35:16 ini semua bukan (jalan) hakiki,
35:18 semua tak bisa sungguh-sungguh menuntaskan pembebasan.
35:20 Ini —
35:22 nah, Buddha —
35:25 Ia menemukan:
35:27 di dalam diri setiap orang kita ada kemampuan menyelamatkan diri sendiri, membebaskan diri sendiri,
35:30 kemampuan menyadarkan diri sendiri.
35:31 Asalkan kau menemukan kemampuan semacam ini,
35:33 kau bisa —
35:34 kau, melalui pengenalan dan pembinaan yang terus-menerus terhadapnya,
35:37 kau bisa menuntaskan penyelamatan diri sendiri kehidupan semacam ini,
35:40 pembebasan diri sendiri.
35:41 Nah, inilah sebuah (ciri) Buddhisme,
35:44 yaitu ciri Buddhisme.
35:46 Nah, pintu-Dharma Empat Kebenaran ini sebenarnya mengandung
35:49 ini —
35:50 ini —
35:51 (soal) para petapa keras heterodoks —
35:53 (soal) para petapa keras heterodoks ini yaitu mengandung sebab-akibat tumimbal lahir
35:56 dan sebab-akibat pembebasan.
35:58 Satu (soal) bagaimana kehidupan menuju tumimbal lahir —
36:00 "penderitaan" mewakili keadaan kehidupan kita sekarang.
36:04 Nah, kita —
36:06 pertama-tama kita, seperti kita seseorang jatuh sakit,
36:09 kita harus menghadapi keadaan kita sendiri:
36:12 sebenarnya aku sakit apa,
36:14 aku harus memberinya penilaian yang sesuai kenyataan.
36:16 Lalu setelah ada penilaian yang sesuai kenyataan,
36:18 lalu selangkah lebih jauh harus mencari penyebab:
36:19 mengapa aku menimbulkan penderitaan-penderitaan ini?
36:21 Itulah asal-mula (samudaya).
36:23 "Asal-mula" yaitu sebab timbulnya penderitaan.
36:25 Lalu "lenyapnya" (nirodha) —
36:26 sesungguhnya, bagaimana aku menyembuhkan (dan) memulihkan?
36:29 Nirwana yaitu penyembuhan-pemulihan,
36:30 yaitu penyembuhan yang tuntas,
36:31 meredakan sepenuhnya penderitaan dalam kehidupan semacam ini.
36:36 "Jalan" (magga) yaitu metode:
36:38 melalui metode apa aku
36:40 menuntaskan penyembuhan tuntas kehidupanku.
36:43 Maka pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
36:44 sesungguhnya juga mewakili —
36:46 kalau dari sudut psikologi kalian —
36:48 sebenarnya ia adalah empat langkah
36:50 penyembuhan psikologis.
36:52 India ini —
36:54 ini yaitu dokter ini,
36:57 ketika menyembuhkan penyakit,
36:58 sesungguhnya ia punya sebuah proses semacam ini:
37:00 nah, pertama harus menilai,
37:02 punya penilaian terhadap penyakit,
37:03 lalu menemukan akarnya,
37:05 lalu penilaian terhadap hasilnya,
37:07 lalu baru ada metode.
37:09 Yaitu, seluruh pembinaan diri Buddha-Dharma —
37:13 sesungguhnya yaitu Empat Kebenaran,
37:14 yaitu hendak menuntaskan dua lapis sebab-akibat semacam ini:
37:17 satu adalah mengenali jelas wujud-sejati tumimbal lahir,
37:19 satu adalah menuju
37:20 kesadaran dan pembebasan.
37:22 Nah, tentu Buddha-Dharma Mahayana ini —
37:25 dalam Buddhisme terbagi menjadi —
37:27 kalau dalam (istilah) Tiongkok kita,
37:28 ada yang disebut Hinayana dan Mahayana.
37:30 Nah, Buddhisme Selatan (Theravada) —
37:32 ia akan menyebut mereka "aliran Sesepuh" (Sthaviravāda).
37:34 Kau tinggal berkata "Hinayana",
37:36 (itu) terasa agak merendahkan mereka.
37:38 Tetapi,
37:39 ia punya — mereka semua punya
37:41 Buddha-Dharma Śrāvaka-yāna yang berbeda;
37:42 ia akan condong pada pembebasan pribadi.
37:44 Nah, Mahayana —
37:46 ia yaitu: bukan hanya diri sendiri hendak menuju kesadaran dan pembebasan,
37:49 kau juga harus membangkitkan bodhicitta.
37:51 Maka satu adalah tekad melepas (niḥsaraṇa), satu adalah bodhicitta.
37:53 Tekad melepas yaitu aku sendiri hendak
37:55 melepaskan diri sendiri (dari samsara),
37:56 aku hendak melepaskan diri dari kehidupan tumimbal lahir semacam ini,
37:59 menuju kesadaran,
38:01 membuka kehidupan yang tersadar semacam ini.
38:04 Nah, bodhicitta ini
38:06 yaitu: aku bukan hanya diri sendiri hendak —
38:09 aku sendiri hendak tersadar,
38:10 aku hendak membantu semua makhluk hidup.
38:13 Membangkitkan bodhicitta
38:14 yaitu hendak membantu — di bawah bodhicitta ini —
38:17 makhluk hidup yang berjubel,
38:18 semua makhluk hidup harus menuju kesadaran.
38:21 Nah, inilah —
38:23 Mahayana dan Hinayana —
38:26 di satu sisi, meskipun ia punya banyak ini —
38:30 dalam hal kognisi terhadap dunia,
38:32 ia punya banyak perbedaan pandangan-pengetahuan.
38:35 Misalnya ini —
38:37 Buddhisme Śrāvaka-yāna yaitu Buddhisme Hinayana;
38:40 sutra dan sastranya
38:41 terutama membahas ketidakkekalan,
38:43 membahas tanpa-aku,
38:44 membahas tumimbal lahir adalah penderitaan,
38:45 lalu kekosongan sedikit dibahas.
38:48 Yaitu, relatif (bicara),
38:49 prinsip-prinsip ini cukup mudah dipahami.
38:51 Tetapi Mahayana —
38:53 misalnya seperti "Prajñā-Madhyamaka",
38:54 yang dibahasnya adalah kekosongan;
38:55 seperti Yogācāra,
38:57 lalu ada pula Tathāgatagarbha.
38:59 Maka Buddha-Dharma Mahayana ini —
39:01 ini —
39:02 yaitu di satu sisi,
39:03 sistem filsafat yang dibangunnya
39:04 lebih raksasa (rumit).
39:07 Misalnya (kalau) kau hendak menulis (tentang) Yogācāra,
39:08 menulis (tentang) Madhyamaka,
39:09 sebenarnya itu cukup sulit.
39:11 Mengapa sulit?
39:13 Karena semua filsafat ini, pada waktunya —
39:15 ia juga (dibangun) dari kritik terhadap berbagai pemikiran India pada masa itu,
39:18 dari (kritik itu) dibangun.
39:20 Maka kau,
39:21 menulis (tentang) Madhyamaka,
39:22 menulis (tentang) Yogācāra, adalah yang tersulit,
39:23 karena kau bukan hanya harus menulis pandangan Yogācāra,
39:26 menulis pandangan Madhyamaka,
39:27 kau juga harus memahami pandangan-pandangan yang dikritik pada masa itu.
39:30 Maka pembelajarannya menjadi cukup sulit.
39:35 Nah, sekarang banyak lembaga Buddhis pun membuka kursus-kursus ini —
39:38 Yogācāra, Madhyamaka,
39:39 banyak kursus ini —
39:42 yaitu, satu (perbedaan) adalah dalam hal pandangan.
39:44 Yaitu, Buddha —
39:45 seperti filsafat Buddhisme Mahayana,
39:46 ia akan, terhadap (persoalan) —
39:47 ia akan lebih mendalam.
39:49 Misalnya terhadap pembahasan kekosongan,
39:51 ia akan membahasnya lebih tuntas.
39:52 Terhadap Yogācāra —
39:53 Yogācāra yaitu hubungan antara pengenalan dan keberadaan:
39:55 batin kita dan dunia ini sebenarnya berhubungan seperti apa?
39:58 Misalnya seperti dalam Buddha-Dharma Hinayana,
40:01 ia mungkin hanya memberitahumu
40:03 dunia ini semua diciptakan oleh batinku.
40:07 Tetapi Mahayana mungkin akan memberitahumu
40:08 Yogācāra mungkin akan memberitahumu
40:09 bagaimana aku diciptakan (oleh batin),
40:11 ia akan menjelaskan bagaimana (dunia) diciptakan dengan sangat jelas kepadamu:
40:13 batin ini sebenarnya berapa tingkatnya,
40:15 bagaimana ia menciptakan dunia.
40:17 Maka ia —
40:19 mengapa, seperti pada masa awal Republik (Tiongkok),
40:21 di Universitas Peking, (ada) Liang Shuming,
40:24 Xiong Shili —
40:25 ada sekelompok besar (tokoh) ini —
40:28 yang tadinya, seperti Liang Qichao,
40:30 Zhang Taiyan,
40:32 sekelompok orang —
40:33 mereka, terhadap
40:35 filsafat Buddhisme ini,
40:37 terutama Yogācāra,
40:38 dan hal-hal ini,
40:39 mereka semua sangat tertarik.
40:41 Maka ini yaitu:
40:43 dalam hal pandangan-pengetahuan,
40:45 filsafat Buddhisme ini,
40:47 pandangan Mahayana ini —
40:49 ia, dibanding ini —
40:51 pandangan Hinayana ini,
40:53 cita rasa filsafatnya lebih kental,
40:55 lebih mendalam,
40:57 lebih sulit dipahami,
40:58 lebih tak mudah dipelajari.
41:00 Lalu satu (perbedaan) lagi
41:01 yaitu dalam hal
41:03 perbedaan tekad (bodhicitta).
41:04 Sebenarnya yang sungguh-sungguh membedakan Mahayana dan Hinayana
41:06 semestinya bukan pada pandangan-pengetahuan,
41:08 melainkan pada ada-tidaknya bodhicitta,
41:11 ada atau tidak bodhicitta.
41:13 Kau harus punya bodhicitta.
41:14 (Kalau) kau sudah membangkitkan bodhicitta —
41:16 maka kita orang Tiongkok,
41:18 banyak vihara kita,
41:19 kita memuja banyak bodhisatwa.
41:21 Memuja bodhisatwa ini —
41:24 seperti Bodhisatwa Avalokitesvara,
41:26 Bodhisatwa Kṣitigarbha —
41:27 sebenarnya,
41:28 bodhisatwa sebenarnya bukan untuk kaupuja;
41:30 sebenarnya bodhisatwa itu untuk kaupelajari.
41:32 Mahayana yaitu hendak belajar menjadi bodhisatwa.
41:34 (Kalau) kau sudah membangkitkan bodhicitta,
41:36 kau yaitu hendak menjadi bodhisatwa,
41:38 belajar menjadi bodhisatwa,
41:39 belajar (dari) Bodhisatwa Avalokitesvara.
41:40 Sesungguhnya (kita) harus belajar (dari) bodhisatwa,
41:41 hati welas asih agung Bodhisatwa Avalokitesvara —
41:43 kau harus (mempelajarinya).
41:45 Karena dari sudut Buddha-Dharma,
41:47 para bodhisatwa ini —
41:49 kualitas yang dimiliki para Buddha dan bodhisatwa,
41:51 hakikat (itu),
41:52 kita semua memilikinya.
41:54 Dan mental-conduct para Buddha dan bodhisatwa ini
41:56 bisa kita pupuk,
41:58 bisa kita pelajari.
42:00 Ia sama sekali tak sejauh itu.
42:02 Maka ini yaitu:
42:05 yaitu Mahayana dan Hinayana —
42:07 satu condong pada pembebasan diri sendiri,
42:09 satu yaitu hendak membantu lebih banyak orang menyembuhkan (diri).
42:12 Semua makhluk hidup adalah objek yang hendak kausembuhkan,
42:14 objek.
42:15 Maka Bodhisatwa Avalokitesvara memiliki (kualitas) yang disebut apa?
42:18 Disebut maha welas asih,
42:20 disebut "agung".
42:22 Maha welas asih ini —
42:24 sebenarnya,
42:26 ia juga ada standarnya.
42:28 Kau bilang (bahwa) para Buddha dan bodhisatwa harus menyeberangkan semua makhluk hidup dengan tuntas
42:31 baru bisa mencapai kebuddhaan —
42:32 itu tak mungkin.
42:33 Makhluk hidup tak (bisa) diseberangkan sampai habis,
42:35 (mereka mengisi) seluruh ruang dan seluruh alam-Dharma.
42:37 Kau lihat, betapa besar alam semesta ini —
42:38 kau, apakah makhluk hidup bisa diseberangkan sampai habis?
42:40 Tetapi,
42:41 ia punya sebuah standar,
42:43 yaitu:
42:44 ketika kau bersedia membantu semua makhluk hidup.
42:46 Karena sebenarnya tingkat kita menerima makhluk hidup
42:49 ditentukan oleh
42:50 kondisi psikologis kita.
42:52 Ketika kita berpijak pada kemelekatan-aku,
42:55 batin kita akan punya serakah dan benci,
42:57 punya suka dan tak suka.
43:00 Dengan kemelekatan-aku sebagai pusat —
43:02 sebuah platform psikologis semacam ini,
43:04 sebuah landasan kognitif semacam ini —
43:05 sebenarnya kau pasti tidak setara (dalam memperlakukan orang).
43:07 Tetapi kalau melampaui diri (ego) semacam ini,
43:10 menyadari kebijaksanaan kekosongan (śūnyatā) yang tanpa-aku —
43:12 dan kekosongan itu adalah sesuatu yang setara —
43:13 pada tataran batin yang setara,
43:16 lalu kau membina hati welas asih;
43:18 hati welas asih pun harus dibina.
43:20 Kau, dari kebijaksanaan yang setara,
43:24 kebijaksanaan yang membedakan (dengan jernih) sebagai landasan,
43:26 lalu membina hati welas asih —
43:28 kau bisa membangun hati welas asih yang luas semacam ini.
43:30 Kau bisa menghayati batin yang seperti ruang kosong.
43:33 Sebenarnya batin kita punya dua tataran:
43:36 keterbatasan dan ketakterbatasan.
43:38 Keterbatasan yaitu getar-getar pikiran kita,
43:40 yaitu getar pikiran ini —
43:42 sebenarnya seperti awan di langit batin,
43:48 satu getar pikiran demi satu getar pikiran,
43:49 berbagai getar pikiran, silih berganti muncul-tenggelam.
43:52 Lalu ketakterbatasan sebenarnya seperti langit cerah tanpa awan.
43:59 Maka pembinaan diri
44:01 sesungguhnya yaitu hendak melompat keluar dari batin yang terbatas ini,
44:04 untuk menghayati batin yang tak terbatas ini.
44:08 Ini sebuah —
44:10 yaitu,
44:12 yaitu kita dalam pembinaan diri —
44:15 yaitu pembangunan hati welas asih:
44:17 ia punya landasan.
44:18 Kalau kau tak menyadari landasan ini,
44:20 kau tak bisa melakukannya.
44:21 Yang kau kenali pun hanya sebuah pernyataan (teori).
44:23 Maka dalam pembinaan diri, metode sangat penting.
44:25 (Kalau) kau tak punya metode,
44:26 sebanyak apa pun yang kaukatakan
44:28 itu pun tak bisa dilakukan.
44:30 Lalu,
44:32 ini —
44:33 dari sudut Buddha-Dharma,
44:35 yaitu ini —
44:37 yang tadi kita bahas —
44:39 sebenarnya yaitu dua persoalan:
44:41 satu adalah persoalan kognisi,
44:42 satu adalah persoalan psikologis.
44:43 Lalu kognisi
44:44 akan menentukan
44:45 psikologi macam apa yang akan kita timbulkan.
44:47 Maka Buddha-Dharma
44:49 ini — ia juga sangat mementingkan kognisi,
44:52 sangat mementingkan rasionalitas.
44:54 Yaitu, dalam Buddha-Dharma —
44:56 tentu orang Barat menjunjung rasionalitas,
44:59 ini — tetapi Buddha-Dharma
45:01 juga bisa mengenali
45:04 dua sisi rasionalitas dan keterbatasan rasionalitas.
45:07 Misalnya rasionalitas yang kita terima,
45:10 ia dibatasi oleh pengetahuan kita,
45:14 pengalaman.
45:16 Ini —
45:18 maka ini —
45:21 rasionalitas ini —
45:23 ia akan mendatangkan berbagai kekotoran batin dan penderitaan bagi kita;
45:26 ia juga akan membuat kita mengejar kebenaran,
45:31 menyelidiki siapakah aku,
45:33 menyelidiki wujud-sejati dunia.
45:35 Buddha-Dharma menganggap keunikan hidup manusia juga terletak pada: karena manusia,
45:39 dibanding hewan lain,
45:41 karena ia punya rasionalitas.
45:43 Lalu,
45:44 dari sisi kondisinya,
45:45 ia ada penderitaan ada kebahagiaan.
45:47 Maka umat manusia,
45:48 dalam proses peradaban lima ribu tahun,
45:49 kita terus-menerus menyelidiki:
45:50 aku ingin hidup lebih baik,
45:52 aku ingin mencari makna kehidupan.
45:54 Hewan mungkin tak punya kebutuhan akan makna,
45:56 tetapi manusia punya kebutuhan akan makna,
45:59 ia akan terus-menerus menyelidiki.
46:01 Maka Buddhisme menganggap
46:03 kebenaran dan kebijaksanaan adalah milik alam manusia,
46:05 pada akhirnya tak (ditemukan) di alam surga.
46:07 Buddhisme menganggap
46:08 para Buddha dan Yang Dijunjungi Dunia,
46:10 para Buddha Yang Dijunjungi Dunia semua mencapai kebuddhaan di alam manusia,
46:14 dan bukan mencapai kebuddhaan di alam surga.
46:17 Maka Buddhisme sangat menghargai status sebagai manusia,
46:21 ia sangat menghargai status sebagai manusia.
46:23 Karena makhluk di alam surga terlalu berbahagia;
46:25 terlalu berbahagia, ia pun tak akan membina diri.
46:27 Nah, (ketika) buah-berkahmu habis dinikmati,
46:29 toh pada akhirnya masih jatuh (ke alam rendah).
46:31 Hewan terlalu tolol,
46:33 makhluk di neraka terlalu menderita.
46:35 Manusia ada penderitaan ada kebahagiaan.
46:37 Maka yang paling krusial masih ada rasionalitas —
46:40 ia akan terus-menerus berpikir.
46:42 Maka umat manusia,
46:45 status ini yaitu sebuah (status) yang bisa mencapai kebuddhaan,
46:48 bisa mengejar kebenaran —
46:50 sebuah status semacam ini.
46:52 Tetapi Buddha-Dharma juga memberi tahu kita:
46:54 "aksara 'tahu' —
46:56 gerbang segala keajaiban."
46:59 Segala kebaikan —
47:01 (ia) mendatangkan banyak kebaikan bagimu:
47:02 kebijaksanaan,
47:03 kebenaran —
47:04 karena rasionalitas,
47:05 kau baru bisa menempuh jalan ini.
47:07 Tetapi Buddha-Dharma juga memberi tahu kita:
47:09 "aksara 'tahu' —
47:11 akar segala malapetaka."
47:13 Coba lihat, mengapa umat manusia bisa menciptakan senjata-senjata nuklir ini,
47:16 bisa membuat bumi ini jungkir balik —
47:20 karena apa?
47:22 Karena rasionalitas.
47:24 Manusia (yang sudah) kenyang makan dan minum
47:27 bisa membuat dirinya menciptakan banyak kekotoran batin,
47:29 menciptakan banyak kecemasan —
47:31 karena rasionalitas.
47:32 Nah, karena rasionalitas kau bisa memikirkan banyak hal sampai tuntas,
47:35 melapangkan pikiran atas banyak hal.
47:37 Sekalipun di lingkungan yang sulit kau pun bisa hidup dengan baik,
47:40 itu juga karena rasionalitas.
47:42 Maka, yaitu, Buddha-Dharma menganggap kita harus
47:44 memakai rasionalitas dengan baik.
47:46 Dalam pembinaan diri Buddha-Dharma, ia mementingkan:
47:49 (harus) mendekati kawan sejati yang jernih (kalyāṇamitra),
47:52 menyimak Dharma sejati,
47:54 merenung sesuai nalar (yoniso manasikāra),
47:56 mempraktikkan dharma selaras dengan dharma.
47:58 Kau harus menemukan seorang guru yang baik
48:01 untuk mewariskan sejenis (kebijaksanaan).
48:02 Di mana makna (mencari) guru yang baik?
48:04 Kau harus mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan,
48:06 berbagai kebudayaan.
48:08 Sebenarnya dari makna tertentu,
48:10 pengaruh kebudayaan pada manusia sungguh sangat besar.
48:12 Dari makna tertentu,
48:14 manusia adalah produk kebudayaan.
48:16 Kau menerima —
48:18 setiap orang,
48:20 kau mungkin menerima kebudayaan yang berbeda,
48:22 tanpa kausadari
48:23 kau akan menjadi orang macam apa —
48:25 sebenarnya kau
48:28 tak jelas (akan hal itu).
48:30 Tanpa kausadari, kau akan menjadi (pemilik) nilai-nilaimu,
48:32 minat dan kegemaranmu,
48:33 penilaianmu,
48:34 cara berpikirmu ini,
48:35 cara hidupmu —
48:37 sebenarnya tak ada yang tak dipengaruhi kebudayaan.
48:40 Ini —
48:43 nah, kebudayaan semacam ini
48:44 sebenarnya ia juga membawa —
48:45 mendatangkan sejenis keterbatasan bagi kita.
48:47 Banyak dari kita,
48:49 kita semua hidup di dalam arus masyarakat semacam ini,
48:51 arus (tren) ini.
48:53 Sebenarnya arus masyarakat ini
48:56 sedang menuntun kau mengejar apa,
48:58 membangun nilai-nilai,
49:00 memilih —
49:01 ini —
49:03 tentu ada juga sebagian orang
49:05 yang akan merenung ulang,
49:07 akan berpikir.
49:08 Nah, banyak orang,
49:09 mungkin kebanyakan orang akan mengikuti arus.
49:12 Maka, yaitu:
49:13 arus-arus ini
49:14 juga sejenis kebudayaan.
49:16 Yaitu, kebudayaan semacam ini
49:18 ini — mempengaruhi kita.
49:20 Buddha-Dharma — mengapa ia menganggap
49:22 kau harus bisa menerima Buddha-Dharma?
49:24 Ini yaitu —
49:26 yaitu yang disebut:
49:28 "terlahir sebagai manusia sulit didapat,
49:30 Buddha-Dharma sulit didengar."
49:32 Kau mendapatkan —
49:33 kau mendapatkan status sebagai manusia itu tak mudah.
49:35 Yang kedua,
49:36 kau mendapatkan —
49:37 kau bisa mendengar Buddha-Dharma pun tak mudah.
49:39 Persoalan ini —
49:40 bagi orang zaman sekarang seperti kita,
49:42 seolah juga tak ada istimewanya,
49:43 karena di internet di mana-mana ada Buddha-Dharma.
49:46 Tetapi coba kita pikirkan,
49:48 dari sudut sejarah,
49:51 misalnya,
49:53 Barat —
49:55 dari Sokrates sampai zaman modern,
49:59 para filsuf ini,
50:01 sampai (tokoh-tokoh) ini —
50:02 kau lihat mereka ini —
50:03 Kant,
50:04 Schopenhauer —
50:05 Schopenhauer mungkin sedikit-banyak juga bersentuhan dengan Buddha-Dharma,
50:07 (dan tokoh) apa lagi,
50:08 dan lain-lain —
50:09 kau lihat,
50:10 sedemikian banyak filsuf,
50:12 orang Barat —
50:13 sebenarnya mereka juga sangat punya semangat mencari kebenaran,
50:16 mereka terus-menerus memikirkan dunia,
50:18 memikirkan kebenaran.
50:20 Tetapi mereka selamanya tak bisa melompat keluar dari rasionalitas mereka.
50:22 Mereka mengejar kebebasan,
50:24 mengejar kesetaraan,
50:26 mengejar kebebasan,
50:27 mengejar pembebasan individualitas.
50:29 Tetapi semua ini
50:31 adalah (hal-hal yang) di luar (diri).
50:34 Kalian sadar tidak,
50:36 segala yang ia kejar —
50:38 kebebasan,
50:39 kesetaraan —
50:41 semuanya di luar (diri).
50:43 Tentu tak bisa kita sangkal,
50:45 sejenis (upaya) ini —
50:49 yaitu melalui sistem kemasyarakatan
50:51 membangun sebuah kebebasan dan kesetaraan —
50:54 sungguh luar biasa,
50:56 sungguh luar biasa.
50:58 Tetapi,
51:00 sebenarnya kehidupan seseorang —
51:04 kalau kau tak memahami kehidupan,
51:07 (kalau) pengenalanmu terhadap dunia —
51:09 yaitu —
51:11 di satu sisi, pengenalanmu terhadap dunia terbatas,
51:13 (diperoleh) melalui rasionalitas;
51:14 jalan rasionalitas ini —
51:16 ia tak bisa
51:17 menuju
51:19 pengenalan akan kebenaran hakiki.
51:21 Lalu di sisi lain,
51:22 manusia,
51:23 menghadapi berbagai (hal) diri sendiri,
51:25 berbagai kekotoran batin,
51:28 berbagai kebingungan,
51:30 berbagai ketidakbebasan kehidupan,
51:32 berbagai kelinglungan —
51:33 ia tak punya kemampuan untuk menyelesaikannya.
51:36 Sebenarnya psikologi Barat,
51:38 psikologi terhadap persoalan ini jelas tak bisa menyelesaikannya.
51:40 Psikologi terhadap —
51:41 psikologi —
51:42 saya sering —
51:43 saya bilang psikologi tak memedulikan urusan keserakahan-kebencian-kebodohan,
51:45 (ia) menganggap keserakahan-kebencian-kebodohan itu kepribadian normal.
51:48 Hanya bila keserakahan-kebencian-kebodohan berlebihan,
51:50 barulah menjadi persoalan yang hendak diselesaikan psikologi.
51:52 Betul kan?
51:54 (Psikologi) tak akan menganggap
51:55 (bahwa) kau, orang yang punya keserakahan-kebencian-kebodohan,
51:56 kau lalu berpenyakit.
51:57 Tidak.
52:00 Maka ini —
52:02 karena mereka tak punya Buddha-Dharma.
52:03 Tak punya Buddha-Dharma —
52:05 ini, maka agama Barat dan filsafat,
52:09 sains,
52:10 agama —
52:11 ia senantiasa tak bisa saling menggantikan.
52:14 Betapa pun berkembang filsafatnya,
52:17 betapa pun berkembang sainsnya,
52:20 agama tetap dibutuhkan.
52:21 Kau bilang tak ada agama —
52:23 sekarang di Barat sebenarnya,
52:24 sebenarnya saya melihat sekarang di negara-negara Barat,
52:26 agama pun agak merosot.
52:28 Banyak gereja
52:29 tak sanggup dijalankan lagi.
52:31 Ada sebagian gereja
52:33 yang dibeli oleh kalangan Buddhis.
52:35 Seperti saya pernah ke Manchester,
52:40 (vihara) Fo Guang Shan di sana,
52:41 vihara Fo Guang di Manchester itu —
52:44 saya pergi ke sana kira-kira tiga-empat tahun lalu.
52:47 Vihara Fo Guang itu memakai (bekas) gereja,
52:50 yaitu banyak gereja yang tak sanggup dijalankan lagi.
52:53 Sebenarnya karena orang Barat, yaitu satu —
52:56 satu adalah moralitas,
52:58 satu adalah hukum.
52:59 Agama mengurus moralitas,
53:01 lalu moralitas mengurus pikiran manusia;
53:04 hukum mengurus moralitas —
53:05 (atau lebih tepatnya) perilaku itu.
53:06 Asalkan kedua hal ini sudah terkelola,
53:08 lalu masalah apa lagi?
53:09 Manusia secara alami tak akan terlalu bermasalah.
53:11 Tetapi landasan moralitas
53:13 sesungguhnya adalah agama.
53:14 Agama adalah batu penjuru semua moralitas.
53:16 Kalau tak ada agama,
53:18 sebenarnya moralitas akan kehilangan daya-ikatnya.
53:20 Setelah moralitas kehilangan daya-ikat,
53:23 yang tersisa hanyalah hukum.
53:24 Hukum —
53:26 ia hanya bisa mengurus (hal yang) sangat terbatas.
53:28 Di Barat, mereka membahas pembebasan individualitas:
53:30 yaitu, kau, orang ini,
53:31 sekalipun kau sangat menyimpang,
53:33 itu pun kebebasanmu.
53:34 Betul kan?
53:35 Kau lihat, sekarang karena kemerosotan moralitas Barat semacam ini,
53:38 seluruh perilaku manusia ini —
53:40 ia makin lama makin tak berbatas,
53:42 makin lama makin tanpa batas,
53:43 tak berbatas tak bertepi.
53:44 Kau mau merosot bagaimana pun,
53:45 kau mau mengubah dirimu menjadi hewan,
53:47 atau menjadi makhluk rendahan —
53:49 semuanya urusan pribadimu sendiri.
53:51 Tak ada, tak ada (batasan) semacam itu —
53:53 ini juga sangat menakutkan.
53:55 Tetapi di dalam Buddha-Dharma,
53:57 ia menyatukan filsafat dan
54:00 persoalan nyata serta persoalan hakiki.
54:03 Melalui Buddha-Dharma —
54:05 Buddha-Dharma sekaligus menyelesaikan,
54:06 ia sekaligus memedulikan persoalan nyata,
54:08 ia sekaligus memedulikan persoalan filsafat,
54:12 sekaligus ia juga menyelesaikan persoalan hakiki.
54:15 Yaitu Buddhisme —
54:16 sebenarnya Buddhisme juga pemikiran humanis.
54:18 Saya punya sebuah buku khusus,
54:19 nanti akan kuberikan satu kepada kalian —
54:21 dialog saya dengan filsuf Zhou Guoping,
54:24 "Kita Telah Salah Memahami Dunia Ini".
54:26 Nah, di dalamnya ada satu bab —
54:27 bab pertama, sepertinya juga bukan bab pertama —
54:30 di dalamnya ada satu bab yang membahas
54:32 pemikiran humanis Buddhisme dan pemikiran humanis Barat,
54:37 sebenarnya di mana letak perbedaannya.
54:41 Ini karena saya rasa ada banyak titik kesamaannya.
54:45 Pemikiran humanis Barat membahas pembebasan individualitas,
54:48 Buddhisme membahas pembebasan individu (dari samsara).
54:51 Nah, "pembebasan individualitas" —
54:52 tak peduli, (ia) mengeluarkan yang baik maupun yang buruk dari manusia.
54:55 Nah, "pembebasan individu" (dalam Buddhisme) —
54:57 yaitu menyelesaikan yang buruk dan mengeluarkan yang baik.
55:00 Maka perbedaannya sangat besar.
55:02 Maka "pembebasan individualitas" pasti harus dilengkapi dengan "pembebasan individu (dari samsara)".
55:08 Tanpa "pembebasan individu" sebagai pelengkap,
55:10 tanpa pengenalan Buddha-Dharma terhadap sifat manusia —
55:13 karena orang Barat membahas pembebasan individualitas
55:15 bukan berdasarkan pengenalan terhadap sifat manusia baru membahas pembebasan,
55:18 melainkan setelah tertekan lalu hendak mengeluarkannya —
55:21 (itulah) membahas pembebasan.
55:23 Buddha-Dharma membahas pembebasan karena secara mendalam
55:25 mengenali bahwa hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan;
55:28 hal-hal yang menderita ini harus dilenyapkan,
55:30 lalu yang baik dikeluarkan,
55:32 (kemampuan) menyelamatkan diri sendiri pada manusia,
55:34 potensi manusia dikembangkan.
55:36 Maka ini adalah penuntasan,
55:38 bukan sebuah konsep (belaka),
55:40 bukan sebuah konsep.
55:42 Buddha-Dharma dari sisi pembinaan diri,
55:46 ia juga —
55:48 satu adalah mementingkan rasionalitas,
55:50 satu adalah mementingkan rasionalitas,
55:53 dan satu lagi
55:55 yaitu hendak melampaui rasionalitas —
55:57 melampaui rasionalitas untuk mengalami (kebenaran) secara langsung,
56:00 melampaui rasionalitas untuk mengalaminya secara langsung, membuktikan-menyadarinya,
56:02 melampaui (rasionalitas).
56:04 Lalu satu (hal) adalah memakai rasionalitas dengan baik.
56:06 Maka, seperti yang barusan saya katakan di depan,
56:08 kau harus memakai rasionalitas dengan baik.
56:10 Di mana kunci memakai rasionalitas dengan baik?
56:12 Yaitu harus mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan,
56:16 yaitu kau harus bersentuhan dengan sejenis kebudayaan kebijaksanaan.
56:20 Sebenarnya pewarisan kebudayaan menentukan ketinggian (derajat)-mu.
56:23 (Kalau) kau mengandalkan diri sendiri untuk tercerahkan di bawah pohon Bodhi,
56:28 itu tidak mudah,
56:30 itu tidak mudah.
56:31 Orang Barat — menurut saya orang cerdas mereka sangat banyak.
56:34 Dari diri para filsuf Barat ini,
56:37 satu lebih cerdas dari yang lain,
56:40 melahirkan sedemikian banyak filsuf,
56:41 tetapi tak ada satu pun yang bisa memahami hal ini dengan jelas.
56:43 Karena mereka semua (bertumpu) pada rasionalitas,
56:45 semua memakai rasionalitas.
56:47 Orang India — mereka semua (duduk) di bawah pohon Bodhi,
56:49 duduk bermeditasi, berkontemplasi di bawah pohon.
56:52 Ia tak mengandalkan pembeda-bedaan semacam itu,
56:54 mengandalkan batin pembeda-bedaan,
56:55 mengandalkan pemikiran,
56:56 mengandalkan batin pembeda-bedaan.
56:57 Nah, kita hari ini —
56:58 kita hendak mengandalkan diri sendiri untuk berpikir,
56:59 hendak menemukan jalan ini —
57:01 inilah "jalan para arif purba":
57:03 menemukan jalan kesadaran kehidupan ini,
57:05 jalan pulang ke rumah.
57:06 Mengandalkan diri kita sendiri tidak mudah.
57:08 Maka kita perlu —
57:09 yaitu harus mengandalkan ini —
57:11 mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan.
57:14 Nah, kita, melalui pewarisan kebudayaan kebijaksanaan —
57:16 tentu kita hari ini bisa mempelajari Buddha-Dharma pun
57:18 ada banyak kebingungan,
57:20 karena Buddha-Dharma luas dan mendalam.
57:22 Jalan ini sebenarnya bagaimana ditempuh?
57:24 Ini tentu sekaligus juga mencakup pengetahuan dan praktik.
57:29 Bagaimana aku — pembelajaranku,
57:30 bagaimana aku melakukannya,
57:31 bagaimana aku bisa —
57:32 ini —
57:33 bagaimana mempraktikkannya,
57:35 bagaimana mewujudkannya.
57:36 Aku, melalui pembelajaran,
57:38 bagaimana
57:39 menuju jalan kesadaran ini,
57:41 bagaimana bisa sungguh-sungguh mengenali kebenaran,
57:44 membuka pintu pembebasan ini —
57:46 sebenarnya ini semua
57:47 cukup tidak mudah.
57:48 Maka satu hal yang saya pribadi kerjakan di masa lalu
57:51 yaitu saya membuat sebuah (aplikasi)
57:53 bernama "Navigasi Bodhi".
57:55 Yaitu navigasi ini —
57:56 yaitu, kalian pakai navigasi Gaode (Amap), kan?
58:02 Navigasi Gaode ini —
58:04 yaitu, kau entah di Beijing atau Shanghai,
58:06 aku (perlu) memasang navigasi ini.
58:08 Karena Buddha-Dharma, meskipun punya banyak mazhab,
58:11 tetapi sesungguhnya ia punya sejumlah unsur inti,
58:14 unsur dasar yang sama,
58:15 dan langkah-langkah dasar (yang sama).
58:16 Lalu saya, berdasarkan langkah-langkah ini —
58:18 misalnya di dalamnya ada sasaran,
58:20 ada alur,
58:21 lalu ada metode,
58:22 lalu,
58:23 ada pemeriksaan hasil ini.
58:25 Setiap langkah —
58:26 aku sudah sampai di mana,
58:28 aku membina apa,
58:30 lalu aku hendak mencapai sebuah (keadaan) macam apa,
58:32 menuntaskan pembangunan batin macam apa.
58:33 Kami membangun sebuah (aplikasi) semacam ini.
58:36 Tentu navigasi ini saat ini harus (diunduh) di
58:38 ini —
58:40 situs luar negeri baru bisa diunduh,
58:43 agak internasional.
58:45 Ini —
58:48 yaitu hal yang ingin saya kerjakan.
58:51 Sebenarnya hal yang saya kerjakan di masa lalu,
58:52 yang lain ada dua hal.
58:54 Satu,
58:55 yaitu memakai Buddha-Dharma untuk menyelesaikan
58:57 berbagai persoalan yang ada di masyarakat masa kini.
58:59 Kami ingin menyediakan sebuah sudut pandang kebijaksanaan Timur
59:02 untuk —
59:03 misalnya berbagai persoalan psikologis yang kita hadapi hari ini,
59:06 persoalan kepercayaan,
59:07 persoalan moralitas,
59:08 persoalan keyakinan (agama),
59:09 persoalan psikologis,
59:10 persoalan perusahaan,
59:11 persoalan kesehatan masyarakat,
59:12 persoalan pendidikan,
59:13 persoalan sains,
59:14 persoalan filsafat —
59:15 saya kira-kira memperhatikan ada dua puluhan kategori.
59:18 Hal-hal ini —
59:20 ada berbagai dialog,
59:22 ada juga berbagai ceramah.
59:23 Nah, dari sudut pandang Buddha-Dharma,
59:24 sebenarnya bagaimana memandang persoalan-persoalan ini,
59:26 bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini,
59:27 menyediakan sebuah sudut pandang kebijaksanaan Timur dan jalan penyelesaiannya.
59:32 Lalu hal lain yang saya kerjakan
59:35 yaitu membuat semua orang tahu jalan pembinaan diri ini sebenarnya bagaimana ditempuh,
59:38 gagasan pembinaan diri itu sebenarnya apa.
59:41 Misalnya di dalamnya ada (materi) tentang tiga jenis meditasi,
59:46 ada (yang) disebut "delapan langkah",
59:50 tiga jenis meditasi delapan langkah,
59:52 ada pula meditasi mindfulness,
59:54 ada pula meditasi altruistik (demi kemanfaatan orang lain).
59:56 Meditasi ini terutama:
59:58 bagaimana kau, di satu sisi dalam pembinaan diri,
1:00:01 di tataran teori membangun sebuah sistem,
1:00:03 lalu di sisi lain,
1:00:04 di tataran praktik,
1:00:06 ia menuntaskan sebuah (proses) di dalam batinmu:
1:00:09 dari memakai rasionalitas dengan benar sampai bagaimana melampaui rasionalitas.
1:00:13 Dari memakai rasionalitas dengan benar —
1:00:17 nah, tentu itu tak lepas dari pewarisan kebudayaan.
1:00:19 Nah, untuk ini
1:00:20 kami punya seperangkat sistem kursus,
1:00:22 membuatmu, melalui sistem kursus ini, belajar,
1:00:25 kau membangun sejenis rasionalitas yang benar.
1:00:28 Nah, untuk membangun sejenis rasionalitas yang benar,
1:00:31 kami mengajukan seperangkat metode pembinaan diri,
1:00:33 yaitu "delapan langkah",
1:00:34 disebut delapan langkah.
1:00:36 Yaitu kau, dari —
1:00:37 aku memperkenalkan sejenis pembelajaran kebudayaan,
1:00:39 sampai (membuat) kebudayaan ini,
1:00:42 muatan yang hendak diungkapkannya,
1:00:44 sungguh-sungguh menjadi gagasanku,
1:00:46 menjadi kondisi batinku,
1:00:47 menjadi kualitas kehidupanku.
1:00:49 Proses ini ada delapan langkah.
1:00:51 Kami sekarang juga sudah mengembangkan sebuah aplikasi
1:00:54 bernama "Kartu Hitam-Putih".
1:00:57 Kartu Hitam-Putih ini
1:00:58 yaitu kartu hitam dan kartu putih kehidupan.
1:01:01 Kartu hitam mewakili kehidupan tumimbal lahir.
1:01:05 Karena dalam Buddhisme dharma yang baik disebut dharma putih,
1:01:08 dharma yang tak baik disebut dharma hitam.
1:01:10 Maka kehidupan setiap orang kita —
1:01:12 kehidupan tumimbal lahir yaitu ketaktahuan.
1:01:14 Ketaktahuan yaitu gelap gulita, bukan?
1:01:16 Maka (itu) kartu hitam.
1:01:17 Nah, pembangunan Kartu Hitam-Putih ini —
1:01:21 saya, melalui sesuatu yaitu kepribadian —
1:01:25 ini yaitu — saya punya sebuah ceramah berjudul
1:01:28 "Mengenali Kode Kepribadian, Menjalankan (Meditasi Delapan Langkah)".
1:01:30 Menjalankan tiga jenis meditasi delapan langkah,
1:01:32 mengenali kode kepribadian.
1:01:34 Saya membangun sebuah (uraian tentang) kepribadian —
1:01:36 tahapan pembentukannya.
1:01:38 Tahapan pembentukan kepribadian ini
1:01:41 yaitu, kita melalui sejenis —
1:01:43 pertama-tama memperkenalkan sebuah,
1:01:45 sebuah pembelajaran kebudayaan.
1:01:48 Lalu,
1:01:50 yang kedua yaitu cara berpikir,
1:01:52 cara berpikirmu.
1:01:54 Yang ketiga yaitu pembentukan gagasan.
1:01:57 Yang ketiga adalah pembentukan gagasan.
1:02:00 Yang keempat yaitu perilaku.
1:02:02 Karena gagasan macam apa yang kita punya,
1:02:04 kita mungkin punya perilaku macam itu.
1:02:06 Lalu ini —
1:02:08 yang ketiga adalah gagasan,
1:02:11 yang keempat adalah perilaku,
1:02:12 yang kelima — akumulasi perilaku
1:02:14 akan menjadi kebiasaan;
1:02:16 akumulasi kebiasaan akan menjadi watak;
1:02:18 akumulasi watak akan menjadi kepribadian.
1:02:20 Yaitu ada sebuah (rangkaian) tujuh langkah semacam ini,
1:02:23 sebuah "kode kepribadian".
1:02:24 Lalu, berkisar pada tujuh langkah ini,
1:02:26 "kode kepribadian" ini, (kita) melihat kau menerima
1:02:28 kebudayaan macam apa.
1:02:30 Misalnya orang zaman sekarang seperti kita,
1:02:32 kita setiap orang —
1:02:34 yaitu,
1:02:36 banyak orang, misalnya kami punya banyak —
1:02:38 ini —
1:02:40 murid — setelah mereka belajar Buddha-Dharma,
1:02:42 lalu ini —
1:02:44 ia lalu —
1:02:46 kekotoran batinnya berkurang,
1:02:48 kebijaksanaannya bertambah,
1:02:50 persoalan psikologisnya, bahkan rasa ketakbermaknaan dan sebagainya, berkurang.
1:02:52 Ini —
1:02:54 lalu,
1:02:56 kita, dalam proses ini,
1:02:58 kita, berdasarkan
1:03:00 "kode kepribadian" ini, mencari persoalan kita sendiri:
1:03:02 sebenarnya di mana (letaknya) — apakah karena
1:03:04 pengetahuan budaya yang kuterima bermasalah, atau
1:03:06 karena gagasanku bermasalah, atau
1:03:08 watakku bermasalah, atau
1:03:10 kebiasaanku bermasalah, atau
1:03:12 aku punya gangguan kepribadian — kau harus, berdasarkan
1:03:14 tujuh langkah ini, mencari, pada "kartu hitam"-mu,
1:03:16 ini —
1:03:18 penyebab timbulnya persoalan psikologismu.
1:03:20 Lalu,
1:03:22 nah, kemudian, setelah aku belajar —
1:03:24 misalnya, karena kita di masa lalu
1:03:26 punya seperangkat kursus untuk dipelajari semua orang,
1:03:28 yaitu "kode kepribadian bijaksana"-ku ini,
1:03:30 kursus-kursus ini —
1:03:32 setelah dipelajari,
1:03:34 lalu persoalan-persoalan psikologisnya di masa lalu pun lenyap.
1:03:36 Lalu setelah lenyap,
1:03:38 maka sekarang kau adalah "kartu putih" ini.
1:03:40 Yaitu, karena aku
1:03:42 menerima pengetahuan budaya ini,
1:03:44 lalu menjadi —
1:03:46 pengetahuan yang kupelajari ini, bagaimana pengetahuan ini menjadi gagasanku,
1:03:48 lalu aku, melalui penguatan gagasan ini,
1:03:50 lalu mengubah kondisi batinku,
1:03:52 lalu pengulangan kondisi batin ini
1:03:54 akhirnya membentuk sejenis kepribadianku yang sehat —
1:03:56 yaitu ini adalah sebuah
1:03:58 "kartu putih".
1:04:00 Yaitu, dari tataran rasionalitas,
1:04:02 bagaimana
1:04:04 yaitu menuntaskan
1:04:06 perubahan kehidupan kita ini.
1:04:08 Nah, untuk ini kami punya sebuah aplikasi khusus,
1:04:10 yaitu membuat semua orang —
1:04:12 dalam proses kau mempelajari setiap jenis pengetahuan,
1:04:14 bagaimana membuat pengetahuan ini
1:04:16 sungguh-sungguh menjadi
1:04:18 gagasanmu,
1:04:20 kondisi batinmu, kualitas kehidupanmu.
1:04:22 Nah, di dalamnya misalnya seperti langkah pertama,
1:04:24 yaitu kau mempelajari pengetahuan ini,
1:04:26 pemahaman terhadap makna harfiahnya.
1:04:28 Langkah kedua yaitu membuat peta pikiran (mind map):
1:04:30 kau harus tahu ini —
1:04:32 pengetahuan yang kaupelajari ini,
1:04:34 sebenarnya hendak menyelesaikan persoalan apa,
1:04:36 sebenarnya hendak menyelesaikan persoalan apa,
1:04:38 dari sisi mana saja menyelesaikannya.
1:04:40 Lalu di dalam langkah ketiga ini masih mengandung apa?
1:04:42 Dari pemahaman di tataran prinsip
1:04:44 sampai pemahaman di tataran kenyataan.
1:04:46 Misalnya aku membahas ketidakkekalan;
1:04:48 aku sudah mempelajari banyak prinsip ketidakkekalan dari buku,
1:04:50 tetapi aku tak pernah memakainya untuk memikirkan
1:04:52 (dan) memeriksa kenyataan dalam kehidupan.
1:04:54 Harus dikembalikan ke kenyataan untuk diperiksa.
1:04:56 Setiap prinsip Buddha-Dharma, setelah kaupelajari,
1:04:58 kau harus mengembalikannya ke kenyataan untuk diperiksa.
1:05:00 Setelah diperiksa, kau —
1:05:02 kau menerimanya dari lubuk hati,
1:05:04 lalu hal ini akan menjadi gagasanmu.
1:05:06 Lalu mulailah bagaimana kau memakai gagasan ini
1:05:08 untuk mengubah gagasan kelirumu yang sudah mengakar,
1:05:10 lalu menuntaskan perubahan kondisi batinmu,
1:05:12 lalu, melalui pengulangan
1:05:14 kondisi batin yang positif,
1:05:16 akan menuntaskan
1:05:18 pembentukan kepribadianmu.
1:05:20 Yaitu ini —
1:05:22 yaitu ada sebuah logika:
1:05:24 yaitu melalui rasionalitas, bagaimana mengubah kehidupan.
1:05:26 Nah, bagian ini,
1:05:28 dalam pembinaan diri Buddha-Dharma juga sangat penting,
1:05:30 yaitu kau harus memakai batin pembeda-bedaanmu dengan baik,
1:05:32 memakai rasionalitas dengan baik —
1:05:34 ini sebuah sudut pandang pembinaan diri.
1:05:36 Lalu pembinaan mindfulness ini
1:05:38 adalah membantu kita
1:05:40 bagaimana melampaui rasionalitas,
1:05:42 misalnya tidak menilai,
1:05:44 seperti aliran Chan —
1:05:46 ia membuatmu (memahami) "Jalan Agung tak sulit, hanya hindari memilih-milah".
1:05:48 Kau harus menghayati kebenaran ini.
1:05:50 Sebenarnya batin kita manusia
1:05:52 punya rasionalitas, punya intuisi,
1:05:54 punya sifat-tersadar ini.
1:05:56 Punya rasionalitas, punya sifat-tersadar.
1:05:58 Tetapi kita umumnya memakai rasionalitas,
1:06:00 kita sudah terbiasa memakai rasionalitas.
1:06:02 Sebenarnya rasionalitas tak punya kekuatan.
1:06:04 Kekuatan rasionalitas — ia (berada) pada batin yang kacau,
1:06:06 ia dibangun di atas landasan batin yang kacau;
1:06:08 kekuatannya tak kuat.
1:06:10 Tentu, bagaimana kita melompat keluar dari rasionalitas —
1:06:12 sesungguhnya yaitu harus melalui meditasi.
1:06:14 Nah, meditasi —
1:06:16 kau harus membuka penyadaranmu,
1:06:18 untuk menghayati batin yang jernih-terang di dalam diri kita.
1:06:20 Bagaimana kau tertambat pada batin yang jernih-terang ini,
1:06:22 membuat dirimu tak masuk ke dalam sistem rasionalitas.
1:06:26 Nah, untuk ini kami punya seperangkat (materi)
1:06:28 tentang meditasi mindfulness tingkat awal,
1:06:30 meditasi mindfulness tingkat menengah,
1:06:32 dan meditasi mindfulness tingkat tinggi:
1:06:34 bagaimana (mengambil) mindfulness dan nir-pikiran ini
1:06:36 menggabungkannya dengan aliran Chan.
1:06:38 Karena pembinaan mindfulness ini —
1:06:40 memang, mengapa ia bisa menyapu seluruh dunia?
1:06:42 Ia memang,
1:06:44 dari sisi pembinaan diri, sangat intuitif,
1:06:46 dan sangat mudah dijalankan.
1:06:48 Tentu psikologi —
1:06:50 pemakaian mindfulness olehnya
1:06:52 terutama masih condong ke tataran teknis,
1:06:54 tak ada bimbingan di tataran pandangan-pengetahuan,
1:06:56 ia pun tak tuntas.
1:06:58 Maka ia bisa —
1:07:00 hanya bisa menyelesaikan sejumlah persoalan psikologis (saja).
1:07:02 Untuk sungguh-sungguh mendalami
1:07:04 batin asli — yang kita bahas,
1:07:06 pengetahuan-jernih dan mindfulness kembali ke batin asli,
1:07:08 harus kembali ke sifat-tersadar ini,
1:07:10 kembali ke batin jernih-terang yang tanpa rekayasa ini —
1:07:12 dalam hal ini (psikologi) kurang.
1:07:14 Nah,
1:07:16 maka psikologi memakai mindfulness hanya memperoleh sedikit manfaat kecil,
1:07:18 masih ada manfaat yang lebih besar di belakang.
1:07:20 (Kalau) kau hendak memperoleh manfaat yang lebih besar,
1:07:22 kau harus belajar Buddha.
1:07:24 Kau harus (mengambil) Buddha-Dharma ini —
1:07:26 misalnya kita membahas Madhyamaka,
1:07:28 misalnya memakai mindfulness kekosongan (śūnyatā) semacam ini —
1:07:30 bagaimana sungguh-sungguh melampaui dunia pertentangan dualistik,
1:07:32 bagaimana bisa menyelesaikan keserakahan-kebencian-kebodohan,
1:07:34 dari lapisan terdalam kehidupan mengubah hidup kita,
1:07:36 mengubah kehidupan kita.
1:07:38 Sebenarnya ini memerlukan
1:07:40 pembelajaran yang lebih mendalam.
1:07:42 (Kalau hanya) Buddha-Dharma (sepintas),
1:07:44 itu hanya (bagai) gerimis rintik-rintik,
1:07:46 menyelesaikan sedikit persoalan (saja).
1:07:48 Tentu, selain mindfulness ini,
1:07:50 ada pula (materi) tentang altruisme.
1:07:52 Misalnya seperti sekarang —
1:07:54 bukankah masih ada ini —
1:07:56 ini —
1:07:58 masih ada psikologi positif —
1:08:00 yaitu (bagaimana), terhadap sejumlah psikologi positif semacam ini,
1:08:02 memupuknya.
1:08:04 Sebenarnya pembinaan jalan bodhisatwa dalam Buddhisme,
1:08:06 ia adalah (yang) membantu kita membangun psikologi positif semacam ini,
1:08:08 misalnya belajar menghargai orang lain,
1:08:10 belajar,
1:08:12 belajar bersyukur,
1:08:14 belajar memahami, iba, dan menerima orang lain,
1:08:16 dan sebagainya.
1:08:18 Yaitu, psikologi-psikologi ini dalam Buddha-Dharma —
1:08:20 misalnya, berlandaskan pembinaan cinta kasih (mettā),
1:08:22 bagaimana membangun psikologi positif ini —
1:08:24 di dalam
1:08:26 ini —
1:08:28 sistem pembelajaran kami,
1:08:30 kami juga punya seperangkat (metode) yang menyeluruh semacam ini,
1:08:32 metode pembinaan diri.
1:08:34 Maka Buddha-Dharma —
1:08:36 ia ini —
1:08:38 yaitu
1:08:40 berpijak pada sejenis (kerangka) semacam yang tadi dibahas,
1:08:42 yaitu kognisi dan psikologi.
1:08:44 Yaitu,
1:08:46 yaitu Buddha-Dharma akan membuatmu
1:08:48 mengenali dunia —
1:08:50 kognisi dan psikologi semacam ini,
1:08:52 di mana sebenarnya akar persoalannya —
1:08:54 sekaligus menunjukkannya kepadamu:
1:08:56 bagaimana aku sungguh-sungguh membangun sejenis kognisi dan psikologi yang benar.
1:08:58 Nah, sebenarnya di dalamnya,
1:09:00 ia tak lepas dari
1:09:02 Buddha-Dharma semacam ini,
1:09:04 pembelajaran intisari ini,
1:09:06 serta
1:09:08 bagaimana meditasimu sendiri membuka
1:09:10 sifat-tersadar di dalam diri.
1:09:12 Lalu
1:09:14 kau baru mungkin sungguh-sungguh
1:09:16 memperoleh kemampuan semacam ini — kemampuanmu untuk mengenali
1:09:18 hakikat alam semesta, mengenali
1:09:20 sifat sejati kehidupan —
1:09:22 kemampuan semacam ini.
1:09:24 Maka kalian —
1:09:26 sebagai — saya lihat kalian semua dari kalangan psikologi,
1:09:28 ini —
1:09:30 di bidang ini,
1:09:32 para guru,
1:09:34 tenaga profesional —
1:09:36 menurut saya, inilah — kita ini —
1:09:38 Buddha-Dharma adalah psikologi Timur.
1:09:40 Kedalamannya, keluasannya
1:09:42 sama sekali bukan (sesuatu yang) psikologi Barat
1:09:44 psikologi ini
1:09:46 bisa tandingi.
1:09:48 Penyelesaiannya terhadap persoalan psikologis
1:09:50 juga lebih tuntas, lebih menyeluruh.
1:09:52 Maka kalau kalian bisa
1:09:54 berpijak pada psikologi Timur ini
1:09:56 dan kebijaksanaan Buddha-Dharma
1:09:58 untuk meneliti psikologi,
1:10:00 kalian bukan hanya bisa sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan diri sendiri —
1:10:02 banyak praktisi psikologi
1:10:04 pun belum tentu bisa menyelesaikan persoalan psikologis dirinya sendiri,
1:10:06 betul kan?
1:10:08 Kalian bukan hanya bisa menyelesaikan persoalan psikologis diri sendiri,
1:10:10 sekaligus kalian juga bisa sungguh-sungguh membantu lebih banyak orang.
1:10:12 Nah, kalau tak ada
1:10:14 landasan kognitif semacam ini,
1:10:16 banyak hal menjadi tak jelas-tak terang,
1:10:18 tak bisa dikenali dari akarnya:
1:10:20 kehidupan sebenarnya bagaimana —
1:10:22 bagaimana kau bisa menyelesaikan,
1:10:24 menyelesaikan persoalan psikologis dengan jelas?
1:10:26 Pertukaran pikiran hari ini pun sangat bermakna.
1:10:28 Saya sampaikan sekian saja.