Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

濟群法師:認知與心理

Tentang Ceramah

Dialog Master Ji Qun dengan sekelompok pakar psikologi yang berkunjung ke viharanya, membahas dua tema yang saling terkait: kognisi dan psikologi. Beliau memandang Buddhisme sebagai "psikologi Timur" dan menegaskan bahwa kognisi kita selalu dibatasi oleh indra, emosi, pengalaman, dan budaya — bahkan rasionalitas Barat, sampai Kant, mengakui keterbatasannya sendiri. Kognisi yang keliru tentang "aku" dan tentang dunia melahirkan kemelekatan, kebergantungan, kecemasan, dan rasa ketakbermaknaan yang makin merebak di zaman yang berubah cepat. Landasan kehidupan orang awam adalah ketaktahuan (avidyā) dan tiga racun; tetapi hakikat terdalam setiap orang adalah sifat-tersadar — "batin non-dual kekosongan dan keterangan" — sehingga Buddha dan makhluk hidup setara pada tataran itu. Empat Kebenaran Mulia adalah kerangka diagnosis-penyembuhan psikologis. Beliau membedakan Hinayana dan Mahayana (yang berpusat pada bodhicitta), menjelaskan sistem "delapan langkah" dan aplikasi "Navigasi Bodhi"/"Kartu Hitam-Putih" untuk mengubah pengetahuan menjadi kualitas hidup, serta menempatkan mindfulness dan meditasi altruistik dalam kerangka Buddhis yang lebih tuntas daripada penggunaan teknis di psikologi Barat.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Selamat sore semuanya.
Saya sudah melihat perkenalan kalian.
Perkenalan kalian —
kalian semua termasuk
pakar di kalangan psikologi.
Selamat datang di
vihara cabang ini,
untuk berkunjung belajar dan mengalami langsung.
Di masa lalu saya
dengan
kalangan psikologi
juga sudah banyak berdialog dan bertukar pikiran,
termasuk dengan
(program) psikologi Tiongkok-Jerman;
di Universitas Peking,
Universitas Normal Beijing,
juga pernah mengadakan
ceramah,
dialog.
Buddha-Dharma
sebenarnya adalah
psikologi Timur.
Karena Buddha-Dharma,
sejak zaman kuno,
memang merupakan ilmu tentang sifat-batin.
Meskipun Buddhisme punya
banyak mazhab —
misalnya ada
Buddhisme Han, Buddhisme Selatan (Theravada),
Buddhisme Tibet —
tetapi Buddhisme,
di Tiongkok,
sejak zaman kuno,
senantiasa disebut
ilmu tentang sifat-batin.
Sebenarnya intinya
terutama adalah
membantu kita
mengenali ini —
yaitu, dunia sifat-batin
kita manusia,
sampai bagaimana menyelesaikan
persoalan psikologis.
Nah, inilah, bagi Buddha-Dharma,
sebuah
tugas intinya.
Justru berdasarkan sebuah
ini —
sudut pandang semacam ini,
maka,
saya rasa, saya dengan kalangan psikologi
secara alami akan terbentuk sejenis keakraban seketika.
Yaitu, sebenarnya saya pun tak pernah belajar psikologi,
tak pernah meneliti psikologi,
tetapi karena kita punya titik perhatian yang sama,
yaitu sama-sama memperhatikan persoalan psikologis manusia,
menyelesaikan persoalan psikologis manusia.
Maka dari sudut ini,
secara alami akan terbentuk
pertukaran pikiran,
dialog.
Termasuk di masa lalu, di Vihara Xiyuan, Suzhou,
setiap dua tahun
saya mengadakan (kegiatan) berjudul "Buddha-Dharma dan Psikoterapi".
Tetapi ada juga banyak dari kalangan psikologi,
para tokoh besar ini, yang datang ikut serta.
Sekarang saya sudah beberapa tahun tak mengadakannya.
Nah,
nah,
menurut saya,
setelah vihara cabang kami ini dibangun,
ini baru pertama kali kami menyambut orang-orang dari kalangan psikologi.
Maka sangat selamat datang untuk kalian
berkunjung ke sini.
Nah,
menurut saya,
kita membahas persoalan psikologis ini —
saya rasa
kita bisa berpijak pada dua persoalan untuk bertukar pikiran dan berdiskusi.
Dua persoalan ini —
menurut saya,
satu adalah persoalan kognisi,
satu adalah persoalan psikologis.
Karena kehidupan kita, selain tubuh jasmani kita ini,
sebenarnya sisanya semestinya adalah
kognisi dan psikologi.
Nah,
nah, kognisi sebenarnya juga bagian penting yang membentuk psikologi kita.
Maka dari makna tertentu, kognisi juga termasuk persoalan psikologis.
Nah,
juga termasuk
faktor yang sangat krusial
yang menentukan psikologi macam apa yang bisa kita miliki.
Faktor yang krusial.
Nah, pertama-tama dari sudut kognisi:
yaitu, timbulnya kognisi setiap orang kita —
sebenarnya,
ia dibatasi oleh keterbatasan diri kita sendiri.
Misalnya, ia tak lepas dari indra kita.
Nah, kita semua tahu indra kita sendiri
punya keterbatasan yang sangat besar.
Nah,
ini —
nah, ia juga tak lepas dari
indra kita;
indra kita;
nah, ia juga tak lepas dari emosi kita —
emosi akan mempengaruhi kognisi kita.
Nah,
kau suka atau tak suka —
tanpa disadari itu pun akan mempengaruhi kognisi kita.
Selain itu,
misalnya rasionalitas —
rasionalitas ini,
sesungguhnya, ia tak lepas dari perasaan kita,
juga tak lepas dari pengalaman kita.
Nah, selain perasaan dan pengalaman,
sekaligus ia juga akan
ini —
ia juga akan dipengaruhi berbagai pengetahuan budaya.
Nah,
kita akan menerima sangat-sangat banyak pengetahuan budaya,
lalu rasionalitas kita akan, berdasarkan indra kita,
emosi kita,
serta ini —
pengetahuan budaya yang kita terima ini,
dan juga pengalaman kita,
lalu terhadap
pengetahuan yang kita bangun, kita akan melakukan penilaian.
Nah, penilaian ini — meskipun kita mengira rasionalitas cukup objektif,
sebenarnya rasionalitas tetap sangat subjektif.
Karena pengetahuan macam apa yang bisa kau terima —
ini —
yaitu, ketika ada berbagai macam pengetahuan tersaji di depanmu, mana yang kau terima dan mana yang tak kau terima,
sebenarnya,
sebenarnya tetap kau sendiri yang menentukan,
dipilih oleh rasionalitasmu.
Maka pada akhirnya, sebenarnya apakah yang kaupercaya itu kebenaran
atau bukan kebenaran —
sebenarnya pada akhirnya yang dipercaya tetap dirimu sendiri,
yaitu mempercayai penilaianmu sendiri,
tak lepas dari pengalaman kita,
yaitu terhadap ini —
penilaian terhadap dunia ini.
Tetapi kita tahu rasionalitas ini —
filsafat Barat ini —
ia menganggap
manusia adalah sari alam semesta, lord segala makhluk.
Orang Barat sangat
menjunjung rasionalitas.
Ini —
filsafat.
Timbulnya filsafat Barat
sebenarnya pada dasarnya dibangun di atas landasan rasionalitas.
Tetapi, ini —
filsafat Barat, sampai (masa) Kant,
sebenarnya mereka pun melihat keterbatasan rasionalitas.
Karena rasionalitas — ia, dari
pengalaman-pengalaman dan konsep-konsep ini,
membentuk sejenis pemikiran dan pengenalan kita.
Ia tak bisa langsung mengenali
wujud-sejati dunia.
Pengenalan kita sekarang
sesungguhnya tak lepas dari hal-hal ini.
Nah, pengenalan kita sekarang tak lepas dari hal-hal ini.
Kita setiap orang,
kita hidup di dunia ini,
kita akan, dengan (pandangan) kita sendiri —
ini yang sering saya katakan: setiap orang punya dua pola,
satu adalah pola kebutuhan,
satu adalah pola kognisi.
Yaitu pola kebutuhanmu
dan pola kognisimu
akan menentukan dunia macam apa yang kaumiliki,
dunia macam apa yang (akan) ada.
Nah, kita biasanya mempercayai diri sendiri.
Ini sebuah pola pengenalan yang sangat penting pada kita manusia.
Ini sebuah ciri yang sangat penting pada kita manusia.
Kita mempercayai pengenalan kita sendiri,
mempercayai pengalaman kita sendiri,
mempercayai pengalaman kita sendiri semacam ini,
serta, melalui proses pertumbuhan ini,
sejenis pengenalan yang terbentuk.
Kita mempercayai pengenalan kita sendiri,
mempercayai penilaian kita sendiri,
melekat pada
pengenalan kita sendiri.
Nah, pengenalan semacam itu akan membentuk psikologi kita.
Maka timbulnya berbagai aktivitas batin kita
sebenarnya dengan kognisi kita
punya kaitan yang sangat besar.
Tentu dari sudut Buddha-Dharma,
ia, terhadap psikologi kita manusia,
ini —
ini —
melakukan analisis yang luas.
Dunia psikologi (menurutnya)
sangat luas dan mendalam.
Misalnya, dari sudut Buddha-Dharma,
ia terbagi menjadi tataran batin sejati
dan tataran batin yang keliru (妄心).
Tentu batin sejati adalah yang melampaui
sistem kesadaran dan alam bawah sadar kita.
Nah, ada pula tataran batin yang keliru.
Nah, tataran batin yang keliru —
misalnya dalam Buddha-Dharma,
seperti ini —
sebagian mazhab seperti aliran Chan,
seperti sistem Tathāgatagarbha ini —
misalnya seperti Sutra Nirwana,
Sutra Śūraṅgama, Sutra Laṅkāvatāra —
ia lebih (banyak) membahas manusia kita ini seperti apa.
Kita punya batin sejati,
yaitu
ini —
yaitu di dalam kehidupan setiap orang
ada
yaitu Buddha-sifat,
ada sifat-tersadar.
Nah, selain batin sejati,
Buddha-sifat ini sesungguhnya mewakili — Buddha-Dharma menganggap
kita setiap orang,
ini — ia punya
kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
Ia punya kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
Ini mungkin (titik) Buddha-Dharma
yang paling berbeda dengan agama Barat.
Agama Barat,
agama (itu) menganggap manusia tak punya kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
Nah, Buddhisme ini
menganggap setiap orang,
kita punya
ini — pembebasan diri sendiri.
Sebenarnya pembebasan diri sendiri yaitu penyembuhan diri sendiri.
Kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri,
kau sendiri bisa menyelamatkan dirimu sendiri,
tak perlu ada sebuah
tuhan di luar (diri).
Lalu dari sistem batin yang keliru,
ia terbagi lagi menjadi kesadaran dan alam bawah sadar.
Ini dibahas paling jelas dalam mazhab Yogācāra.
Lalu mazhab Yogācāra ini termasuk
(yang) membagi psikologi manusia menjadi berbagai unsur,
sejumlah unsur yang berbeda-beda ini.
Misalnya,
ada ini —
ada ini —
yaitu psikologi yang lazim (netral);
ada psikologi yang membuat kita menimbulkan berbagai kekotoran batin, berbagai emosi,
psikologi emosi negatif;
lalu ada pula (psikologi) yang bisa membantu kita menuju kesadaran dan pembebasan,
psikologi baik semacam itu,
dan psikologi yang bersesuaian dengan kesadaran dan pembebasan.
Sebenarnya psikologi-psikologi ini kira-kira ada beberapa jenis semacam ini.
Nah, kita orang biasa — psikologi macam apa yang bisa kita miliki —
yaitu, kita bisa menimbulkan psikologi macam apa —
sebenarnya kebanyakan orang,
terhadap dunia psikologisnya sendiri, kekurangan pengenalan dan juga kekurangan pengelolaan.
Maka kita kebanyakan mengikuti kognisi kita sendiri.
Nah, kognisi-kognisi ini —
sebenarnya,
ini —
karena di dalam kognisi kita akan tersembunyi kemelekatan semacam itu.
Kemelekatan ini, dalam Buddha-Dharma,
dibaginya menjadi dua macam kemelekatan:
satu adalah kemelekatan pada diri (aku),
satu adalah kemelekatan yang timbul dalam proses mengenali dunia.
Lalu karena kemelekatan semacam ini,
kita mungkin akan —
misalnya serakah,
keserakahan dan kebencian ini.
Buddhisme (menganggap) kita —
ini —
ia menganggap di dalam dunia batin setiap orang kita ada tiga jenis virus.
Tiga jenis virus ini
yaitu, di dalam dunia batin kita,
yaitu keserakahan, kebencian, kebodohan.
Keserakahan-kebencian-kebodohan ini,
ini —
dalam Buddhisme disebut tiga racun.
Keserakahan-kebencian-kebodohan ini sebenarnya —
ini —
di antaranya "kebodohan" ini —
kebodohan ini tentu, kalau dijelaskan dalam istilah awam, yaitu ketolol-tololan.
Ketolol-tololan yaitu tak ada kebijaksanaan.
Nah, "kebodohan" ini dalam Buddhisme juga ada satu konsep lain,
sebenarnya disebut ketaktahuan (avidyā).
Ketaktahuan ini —
ini —
terasa seolah sebuah —
seperti —
seperti ketika di sini tak ada cahaya,
ia sepenuhnya gelap gulita, kau tak bisa melihat apa pun.
Inilah keadaan ketaktahuan semacam ini,
yaitu kau tak bisa melihat dengan jelas —
tak bisa melihat dirimu sendiri dengan jelas,
tak bisa melihat dunia dengan jelas.
Seperti kita di kamar ini —
kalau selama tiga hari tiga malam tempat ini tak ada cahaya,
tak ada lampu,
kita bisa bayangkan kita akan bagaimana,
kita akan (dalam) keadaan apa.
Yaitu, kita mungkin akan — kalau kau pergi ke tempat asing,
lalu tiga hari tiga malam dikurung di kamar gelap,
maka kita mungkin akan
berpikir yang bukan-bukan,
akan punya berbagai kecemasan,
akan punya berbagai ketakutan,
akan punya berbagai kekhawatiran,
akan punya berbagai khayalan,
dan sebagainya.
Maka ini —
ini —
yaitu ini —
"kebodohan" ini mewakili ketaktahuan.
Buddha-Dharma menganggap warna dasar kehidupan kita ini
punya dua unsur yang paling mendasar dan paling pokok.
Karena kalau kita bicara tentang perbedaan Buddha dan makhluk hidup,
akan terasa kedua kepribadian ini —
jaraknya sangat jauh berbeda.
Tetapi sebenarnya,
Buddhisme menganggap
Buddha dan makhluk hidup, pada suatu tataran,
tak berbeda dan tak terpisah.
Ia disebut
"pada (makhluk) awam tak berkurang,
pada (para) suci tak bertambah".
Kau mencapai kebuddhaan — sebenarnya kau tak bertambah apa pun;
kau sekarang dalam keadaan (makhluk) awam pun tak kekurangan apa pun.
Nah, inilah —
sebenarnya yaitu
Buddha-sifat.
Konsep Buddha-sifat ini —
sebenarnya secara sederhana,
ia adalah sebuah —
yaitu,
"Buddha" berarti "tersadar".
Batin yang tersadar,
kesadaran,
yaitu batin yang tersadar.
Batin yang tersadar ini,
setiap orang memilikinya.
Dalam hal ini,
Buddha dan makhluk hidup tak ada bedanya.
Dalam persoalan ini, (mereka) setara.
Buddha pun tak bertambah apa pun,
makhluk hidup pun tak kekurangan apa pun.
Buddha-sifat ini —
sebenarnya,
ia adalah —
secara sederhana, sebenarnya masih ada dua ciri:
satu adalah kosong, satu adalah terang.
Maka dalam Buddhisme ciri ini
disebut "batin non-dual antara kekosongan dan keterangan".
Kosong yaitu lapang,
lapang seperti ruang kosong.
Ia tak seperti aktivitas batin kita —
ia (bukan)
satu getar pikiran demi satu getar pikiran,
ini —
ia (bukan yang) parsial,
terpotong-potong,
ini — ini — ini.
Tetapi Buddha-sifat ini — keberadaannya seperti ruang kosong.
Lalu satu ciri lagi yaitu terang.
Terang yaitu "mengetahui dengan sangat jernih".
Ia punya daya membedakan (discernment),
ia punya daya membedakan — sebuah fungsi semacam ini.
Lalu keterangan ini —
ada lagi:
kita, yaitu ini —
kehidupan kita
dengan kehidupan para Buddha dan bodhisatwa —
ini —
kesamaan dan perbedaannya —
sebenarnya titik cabang yang paling mendasar
terletak pada terang dan taktahu (明 dan 無明).
Terang dan taktahu.
Terang dan taktahu ini —
dengan kata-kata yang cukup awam,
yaitu terang dan taktahu.
Kau lihat, dalam Sutra Panggung Patriark Keenam dibahas:
"getar pikiran sebelumnya bingung —
itulah makhluk hidup;
getar pikiran berikutnya sadar —
itulah Buddha."
Sebenarnya ini juga sebuah —
dari (sudut) kita orang awam,
sesungguhnya ia adalah sebuah saluran (channel) batin:
ada satu saluran kesadaran,
ada satu saluran keterangan.
Sebenarnya yaitu
saluran keterangan dan saluran ketaktahuan.
Ketika kehidupanmu
yaitu
masuk ke saluran keterangan,
kau (menjadi) tersadar.
Kau mengenali batin yang tersadar,
sifat-tersadar,
kau (menjadi) tersadar,
maka kau membuka
kehidupan yang tersadar dan terbebas.
Kehidupanmu,
kalau masuk ke saluran kebingungan,
maka kau masuk ke saluran kelinglungan.
Nah,
meskipun dikatakan
terang dan taktahu,
ia, sebagai
ia, sebagai
yaitu (milik) semua kehidupan yang luas,
dua ciri yang universal,
semua ada (pada kita).
Tetapi bedanya mungkin terletak pada:
Buddha sudah sepenuhnya melenyapkan ketaktahuan;
adapun makhluk hidup —
kita meskipun juga punya keterangan,
tetapi sesungguhnya kita hidup
di dalam saluran ketaktahuan.
Keterangan ini sesungguhnya seperti —
yaitu di dalam batin setiap orang
ada sebuah
pelita kebijaksanaan yang terang.
Tetapi pelita ini
belum dinyalakan,
belum dinyalakan.
Ketika belum dinyalakan,
kehidupanmu
yaitu (berada) dalam sejenis
keadaan ketaktahuan.
Ketaktahuan yaitu
yaitu pelita ini belum dinyalakan,
yaitu tak bisa melihat dengan jelas.
Maka setiap kehidupan —
maka keserakahan-kebencian-kebodohan
yaitu (berlandaskan) kebodohan sebagai landasan,
dengan kebodohan sebagai sebuah landasan kehidupan kita.
Nah, dengan landasan semacam itu,
maka berkembanglah
kehidupan tumimbal lahir ini.
Adapun Buddha dan bodhisatwa —
kalau kita bisa membina diri,
sesungguhnya kita membuka
kekuatan keterangan yang baru ini.
Begitu kita membuka kekuatan keterangan yang baru,
kehidupan kita
akan menuju
kesadaran dan pembebasan.
Nah,
nah, kebingungan kita —
yaitu karena berlandaskan ketaktahuan ini.
Dengan ketaktahuan sebagai landasan,
kita setiap orang datang ke dunia ini,
kehidupan kita
punya banyak sekali semacam ini —
dari kebingungan yang kekal
sampai kebingungan yang nyata (sehari-hari).
Misalnya kebingungan yang kekal —
itulah persoalan yang dikejar para filsuf,
yang dikejar para filsuf.
Misalnya: siapakah aku,
dari mana aku datang,
ke mana aku pergi,
sebenarnya apa wujud-sejati dunia ini?
Yaitu filsafat sepanjang zaman,
ia selalu menyelidiki persoalan-persoalan ini,
memedulikan persoalan-persoalan ini.
Lalu, dari (yang) besar sampai persoalan yang kekal,
(yang) kecil sampai persoalan yang nyata —
persoalan yang nyata yaitu persoalan di depan kita.
Kita setiap hari menghadapi berbagai (persoalan) keluarga, hubungan kasih, hubungan antarmanusia,
berbagai perkara —
bagaimana kau mengenalinya,
bagaimana kau mengenalinya.
Karena setiap orang
akan hidup di dalam sejenis harapan dan penetapannya sendiri,
membawa harapan dan penetapannya sendiri
untuk hidup,
untuk memandang dunia.
Lalu kau akan
ini —
menciptakan banyak persoalan.
Kau akan menciptakan banyak —
ini akan menimbulkan cinta dan benci.
Maka ini —
ini yaitu:
yaitu kita, karena ketaktahuan ini,
kita tak bisa memahami dengan jelas.
Misalnya, yang barusan kita bahas —
pertama-tama, dari akarnya,
kognisi terhadap persoalan hakiki (ultimate) —
ini adalah, dalam timbulnya kehidupan kita, sebuah (hal) yang sangat penting.
Kognisi kita,
sebuah kognisi yang keliru terhadap (persoalan) hakiki,
sejumlah kognisi yang keliru terhadap persoalan hakiki,
adalah, yang menyebabkan kita, dalam hal kognisi,
muncul penyimpangan —
sebuah landasan yang sangat penting.
Misalnya,
dalam filsafat, "siapakah aku" —
sebenarnya apa yang mewakili "aku"?
Ini —
nah,
ini —
kita biasanya
akan punya sejenis penetapan terhadap diri (aku).
Penetapan ini mungkin berasal dari status,
mungkin juga berasal dari rupa,
mungkin juga berasal dari kognisi sendiri.
Ini — kita akan, terhadap diri sendiri,
membangun kognisi,
lalu kognisi semacam ini
kita perluas keluar,
yaitu menjadi "milikku",
benda apa pun yang berkaitan denganku.
Nah, kita —
ini —
kita akan, terhadap sejenis semacam ini —
ini —
ketika kita sudah punya sejenis
kognisi terhadap diri semacam itu,
maka kita
berharap —
kita, di dunia ini,
kita perlu hidup dengan aman.
Kita ingin hidup dengan aman,
maka kita mencari banyak kebergantungan.
Lalu kita, terhadap diri (aku) ini,
kita akan punya banyak harapan,
akan punya banyak kemelekatan —
misalnya status,
kedudukan,
tubuh jasmani.
Yaitu kau (mengambil) hal-hal ini —
yang hanya punya hubungan sementara dengan kita —
sebagai diri (aku) yang hakiki.
Tetapi hal-hal semacam ini
sesungguhnya berubah tak kekal.
Maka dari situ
kita akan —
misalnya menimbulkan keserakahan,
keterlekatan,
kebergantungan.
Lalu, setelah ada kebergantungan semacam ini,
ketika objek kebergantungan kita ini —
ini —
tentu bukan hanya kebergantungan pada yang batiniah,
ada juga kebergantungan pada yang luar,
misalnya kebergantungan pada kekayaan,
kebergantungan pada kedudukan,
kebergantungan pada hubungan kasih,
kebergantungan pada keluarga.
Maka ketika kita, terhadap
tubuh jasmani batiniah kita
serta kehidupan luar,
kita menganggapnya sebagai "aku",
kita akan menimbulkan sejenis harapan akan kekekalan.
Sebenarnya setiap orang,
kau semua akan punya semacam ini —
khayalan tentang kekekalan.
Ketika kau punya khayalan tentang kekekalan semacam ini,
kau tak bisa
menerima perubahan dunia luar ini.
Kita tak bisa menerima tubuh jasmani —
ketidakkekalan semacam ini,
penyakit,
atau merasa diri sendiri (rupanya)
berjarak dengan nilai harapan diri sendiri,
atau (terhadap) segala yang kita miliki,
kita khawatir kehilangannya.
Maka timbullah
yaitu keserakahan.
Keserakahan semacam ini yaitu —
bersamaan dengan keserakahan timbul sejenis kebergantungan.
Lalu kebergantungan semacam ini —
ini —
akan menimbulkan berbagai kecemasan,
akan menimbulkan —
ketika hal yang kita gantungi penuh dengan ketidakpastian,
kita akan menimbulkan kecemasan.
Ketika hal yang kita gantungi
ini — akan hilang,
kita akan melihat perubahan tak kekalnya,
kita mungkin akan menimbulkan rasa ketakbermaknaan.
Mengapa orang zaman sekarang
mudah menimbulkan rasa ketakbermaknaan?
Di masa lalu, di era ketika "tahun-tahun tenang dan indah",
dunia luar yang kita lekati ini —
kita akan merasa
seolah ketidakkekalannya belum datang,
ini —
ketidakkekalan tak sebegitu ganas.
Maka kita akan merasa dunia luar ini sangat stabil.
Tetapi,
sekarang, di masyarakat yang berubah dalam sekejap ini,
kita, ke dunia luar ini,
mencari kebergantungan,
nilai,
makna,
rasa bahagia —
makin lama makin tak mudah.
Mengapa sekarang rasa ketakbermaknaan makin lama makin banyak?
Yaitu karena yang kau sandari,
nilai yang kau gantungi ini,
ia makin lama makin —
yaitu makin lama makin tak dapat diandalkan.
Maka saya berkata —
belakangan ini saya sering berkata kepada mereka,
saya bilang ini —
kita hari ini, di era ini,
kita mungkin juga perlu menilai ulang sejumlah nilai.
Saya punya ceramah berjudul "Menilai Ulang Nilai,
Mencari Jalan Keluar bagi Umat Manusia".
Ini —
"penilaian ulang nilai" yang diserukan Nietzsche pada abad ke-19 ini —
nah, ini —
ini —
peradaban teknologi sekarang,
peradaban materi ini —
ia menilai sejumlah nilai dengan (ukuran) materi.
Seperti kita sekarang menilai sukses atau tidaknya seseorang,
sepenuhnya berdasarkan ini —
kesuksesan kekayaan materi dan karier semacam ini.
Ia tak seperti (tradisi) Tiongkok kita,
yang (menilai) dengan kesuksesan menjadi manusia (yang baik).
Buddha-Dharma (menilai) dengan kesuksesan kehidupan.
Nah,
sebagai sebuah standar penilaian.
Maka dunia luar ini —
yaitu karena keserakahan-kebencian semacam ini,
kita manusia pada dasarnya semua berada dalam
ketiga
tiga
tiga jenis virus ini.
Di dalam kehidupan kita, karena ketaktahuan —
ketaktahuan akan menciptakan keserakahan dan kebencian.
Lalu karena keserakahan,
lalu akan menimbulkan berbagai —
betul, betul —
ini — keterlekatan semacam ini,
ia akan menciptakan berbagai
penyakit psikologis,
yaitu berbagai kecemasan sekarang,
rasa ketakbermaknaan —
sebenarnya semuanya berkaitan dengan keserakahan.
Maka satu (hal) yaitu, terhadap diri (aku) sendiri, (perlu) mengenali:
sebenarnya siapakah aku,
apa yang sungguh-sungguh mewakili dirimu sendiri —
yaitu (hal) yang perlu kita lihat dengan jelas.
Kalau kau melihatnya dengan jelas,
kau akan tahu benda-benda yang kau tetapkan sebagai "diri" itu
sebenarnya semua bukan (dirimu).
Ia hanyalah sejenis diri semu,
hanyalah sejenis ilusi,
hanyalah sejenis benda yang sementara.
Ketika kau bisa melihat benda ini dengan jelas,
maka — karena kemelekatan pada diri (aku) yang membentuk banyak kecemasan —
banyak persoalan psikologis pun lenyap,
lenyap.
Nah, satu (hal) lagi
yaitu terhadap dunia ini,
terhadap dunia materi luar, sejenis kemelekatan.
Nah,
maka ini yaitu — kita, terhadap kekayaan,
terhadap kedudukan,
terhadap keluarga,
terhadap hubungan kasih —
apakah kau hidup di dalam sejenis harapan-penetapan-kemelekatanmu,
atau kau bisa, dari sejenis kebijaksanaan (yang lahir) dari kemunculan bergantungan,
memandang persoalan-persoalan ini?
Kognisi ini sangat penting.
Nah, Buddha-Dharma menganggap:
yaitu kehidupan kita, justru karena ini —
yaitu dengan ketaktahuan sebagai landasan,
dengan ketaktahuan sebagai landasan,
lalu,
terhadap diri (aku) sendiri dan terhadap dunia ini,
kita akan menimbulkan penetapan yang keliru semacam ini.
Lalu karena penetapan dan kemelekatan yang keliru semacam ini,
nah,
kita akan menimbulkan berbagai-berbagai-berbagai psikologi,
berbagai psikologi,
bahkan berbagai (yang) negatif, berbagai emosi,
nah,
berbagai kekotoran batin.
Lalu sekaligus, kita menumpuk lagi, membawa semua kekotoran batin dan emosi ini,
ia akan menjadi lagi pola kognisi kita,
ia akan menjadi lagi bagian dari pola kognisi kita.
Kita akan membawa lagi pola kognisi semacam ini
untuk selangkah lebih jauh memandang dunia.
Lalu dalam proses memandang dunia,
kita membentuk lagi banyak persoalan psikologis.
Lalu persoalan-persoalan psikologis ini menjadi lagi
sebuah akumulasi psikologi kita.
Ia menjadi lagi sebuah penumpukan pada kepribadian kita.
Lalu, selangkah lebih jauh membawa penumpukan ini,
selangkah lebih jauh memandang persoalan.
Maka setiap orang akan tersangkut oleh dirinya sendiri di dalam tumimbal lahir emosi semacam ini.
Nah,
maka Buddha-Dharma
membahas tumimbal lahir ini —
saya sering berkata kepada mereka,
saya bilang tumimbal lahir ini
sebenarnya juga tak harus (soal) kehidupan lampau dan kehidupan sekarang.
Sebenarnya setiap orang
ia bertumimbal lahir di dalam bidang yang berbeda-beda.
Misalnya kalian yang menekuni psikologi,
kalian setiap hari meneliti psikologi,
lalu memikirkan psikologi,
lalu mengerjakan persoalan psikologi,
lalu pengalaman-pengalaman ini membuatmu, selangkah lebih jauh, meneliti persoalan psikologi lagi,
meneliti lagi —
kau bertumimbal lahir di dalam profesi psikologi ini.
Nah,
(yang) menekuni seni,
(yang) menekuni bisnis —
lalu dalam proses kau mengerjakan ini,
ia mungkin membawa banyak pengalaman bagimu,
mungkin juga membawa banyak kecemasan bagimu.
Nah, entah pengalaman atau kecemasan,
ia akan menjadi lagi sebuah "penelitian"-mu,
sebuah landasan pertumbuhan kepribadianmu.
Nah,
maka, yaitu:
kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini,
ia adalah sebuah mesin gerak abadi
yang terus-menerus menciptakan persoalan.
Yaitu karena landasan kehidupan kita memang keliru:
ketaktahuan, keserakahan-kebencian-kebodohan.
Yaitu sejenis kehidupan yang dengan tiga racun,
tiga racun keserakahan-kebencian-kebodohan,
sebagai
landasan kehidupan kita.
Maka Buddha-Dharma membahas —
ada orang berkata, "Nah,
Buddha-Dharma kalian seolah
ini — terlalu pesimistis,
selalu membahas kekosongan,
ketidakkekalan,
penderitaan.
Kita hidup — mengapa harus membahas kekosongan,
membahas ketidakkekalan,
membahas penderitaan?"
Nah, penderitaan ini —
sebenarnya saya ingat, saya pernah di Universitas Normal Beijing
ah,
mengadakan sebuah ceramah.
Ceramah ini berjudul
ini — dari
sudut pandang Buddha-Dharma,
ini —
melihat fenomena psikologis ini, bagaimana mengatakannya —
ya kan?
Dari sudut pandang Buddha-Dharma,
bagaimana memandang — yaitu, memandang persoalan psikologis.
Saya pernah mengadakan sebuah ceramah semacam itu.
Sebenarnya ketika saya (menyampaikan) ceramah ini, saya membahas —
saya bilang:
Buddha-Dharma menganggap hidup adalah penderitaan;
sebenarnya,
sebenarnya Buddha-Dharma juga bisa berkata
hakikat hidup adalah kebahagiaan.
Karena Buddhisme menganggap hakikat tertinggi sebenarnya adalah sifat-tersadar.
Sifat-tersadar adalah sumber timbulnya kebahagiaan.
Kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini —
sifat-tersadar yang sejati barulah hakikat tertinggi kehidupan.
Ketaktahuan bukan hakikat tertinggi kehidupan.
Ketaktahuan adalah
landasan kehidupan kita orang awam.
Kehidupan yang berlandaskan ketaktahuan ini —
dari ketaktahuan
lalu timbul keserakahan, kebencian —
kehidupan yang berlandaskan keserakahan-kebencian,
ia adalah sebuah (mesin) yang terus-menerus menciptakan masalah,
terus-menerus menciptakan penderitaan — mesin gerak abadi.
Maka Buddhisme berkata hidup adalah —
hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan,
hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan.
Penyebabnya adalah kehidupan yang berlandaskan keserakahan-kebencian-kebodohan;
hakikatnya memang penderitaan.
Tetapi kalau kau (menjadi) kehidupan yang berhakikat sifat-tersadar,
hakikatnya memang kebahagiaan.
Saya —
saya punya sebuah ceramah,
saya menyebutnya "Keindahan Nirwana",
khusus membahas kebahagiaan, bukan membahas penderitaan.
Ada buku ini,
yang membahas keindahan Nirwana.
Maka, yaitu, Buddha-Dharma —
misalnya membahas penderitaan, membahas kekosongan —
membahas kekosongan sebenarnya bukan hendak menyangkal
keberadaan fenomena,
(bukan) berkata tak ada apa-apa sama sekali.
Sesungguhnya kekosongan,
yang hendak dikerjakan kekosongan adalah mengosongkan
sejenis penetapan keliru kita terhadap dunia ini,
lalu mengenali (bahwa) segalanya,
semua ini adalah sejenis ilusi (yang muncul) dari kemunculan bergantungan.
Ia sama sekali bukan hendak menyangkal keberadaan yang nyata ini.
Buddhisme membahas ketidakkekalan.
Ketidakkekalan ini sesungguhnya hendak
menghancurkan sejenis harapan kekekalan kita terhadap dunia ini.
Mengapa harus menghancurkan harapan kekekalan kita terhadap dunia?
Karena dunia ini tak ada kekekalan.
Kita melihat segala fenomena —
Buddha berkata: "segala dharma berkondisi
bagaikan mimpi, khayalan, gelembung, bayangan,
bagaikan embun dan juga bagaikan kilat."
Hidup kita sungguh (bagai) percikan api dan kilat.
Di alam semesta yang tak berkesudahan ini,
hidup sebenarnya sangat kecil dan singkat.
Segalanya berada dalam perubahan yang cepat.
Maka yang Buddha-Dharma berikan kepada kita adalah sejenis
wujud-sejati,
sejenis kebijaksanaan.
Yang Buddha-Dharma berikan kepada kita adalah sejenis
penglihatan sesuai kenyataan (yathābhūta),
sesuai kenyataan.
Pengenalan yang sesuai kenyataan bisa menimbulkan kebijaksanaan;
pengenalan yang keliru
bisa menimbulkan kekotoran batin.
Pengenalan yang keliru bisa menimbulkan kekotoran batin;
pengenalan yang sesuai kenyataan
bisa menimbulkan kebijaksanaan.
Maka Buddha-Dharma hendak memberi kita wujud-sejati.
Maka, yaitu:
kehidupan semacam ini
adalah sejenis —
kehidupan tumimbal lahir semacam ini —
Buddha-Dharma, seluruh
garis besar seluruh ajaran-teorinya,
sesungguhnya yaitu pintu-Dharma Empat Kebenaran.
Empat Kebenaran —
pintu-Dharma Empat Kebenaran ini —
ini yaitu penderitaan;
ini yaitu penderitaan, asal-mula;
ini yaitu penderitaan, asal-mula, lenyapnya;
ini yaitu penderitaan, asal-mula, lenyapnya, jalan.
Empat Kebenaran ini —
sesungguhnya ia mengandung dua lapis sebab-akibat.
satu adalah sebab-akibat tumimbal lahir,
satu adalah sebab-akibat pembebasan.
Ini sebenarnya —
kita tahu
ini —
ini —
filsafat Tiongkok kita,
yang terutama kita pedulikan adalah persoalan dunia sekarang.
Ini —
membina diri, menata keluarga, mengurus negara, menenteramkan dunia —
semuanya (soal) dunia sekarang,
semuanya persoalan dunia sekarang.
Tetapi,
India, sebagai (peradaban) lima ribu tahun —
India juga salah satu dari empat peradaban kuno besar —
ia punya —
Tiongkok kita punya "ratusan aliran para pemikir",
sebenarnya India juga punya "ratusan aliran para pemikir".
Kau lihat, pada masa Buddha masih hidup,
ada sembilan puluh enam ajaran luar (heterodoks).
Yang disebut sembilan puluh enam ajaran luar yaitu sembilan puluh enam agama.
Nah, apa yang dipedulikan "ratusan aliran para pemikir" (India) itu?
Intinya adalah tumimbal lahir dan pembebasan.
Yaitu, dari (kitab) awal mereka —
Veda, Upanishad, Bhagavad Gita —
semua agama mereka,
persoalan inti yang dipedulikan adalah tumimbal lahir dan pembebasan.
Tumimbal lahir yaitu (memandang) kehidupan sebagai sesuatu (yang berlanjut):
nah, bagaimana ia, dari masa lalu,
berlanjut ke masa kini,
berlanjut ke masa depan.
Nah, setiap agama
terhadap fenomena kesinambungan kehidupan semacam ini —
titik pijak mereka
adalah kehidupan.
Titik pijak kita orang Tiongkok adalah kehidupan sekali ini (satu masa hidup).
Maka saya ingin menyampaikan kepada kalangan bisnis mereka tentang pandangan kesuksesan ini.
Kita orang Tiongkok membahas kesuksesan (dalam ukuran) satu masa hidup manusia.
Sekarang kalangan bisnis membahas kesuksesan
(dalam ukuran) berapa banyak kekayaan/uang yang kau hasilkan,
seberapa besar karier yang kaubangun.
Orang Tiongkok membahas kesuksesan
(dalam ukuran) satu masa hidup manusia.
Orang India membahas kesuksesan
(dalam ukuran) pembebasan kehidupan,
pembebasan dari tumimbal lahir.
Maka dimensinya berbeda —
yaitu, dimensi mengenai kesuksesan ini berbeda.
Nah, dimensi yang menjadi pijakan orang India
yaitu sudut pandang kehidupan (lintas-kelahiran):
bagaimana kehidupan, dari masa lalu,
terus bertumimbal lahir sampai masa kini,
lalu bertumimbal lahir lagi ke masa depan.
Nah, kesuksesan —
kesuksesan,
apa yang disebut kesuksesan?
Yaitu bagaimana aku bisa melepaskan diri dari tumimbal lahir,
menuntaskan pembebasan kehidupanku semacam ini.
Nah, mengapa harus melepaskan diri dari tumimbal lahir?
Karena orang India merasa hakikat tumimbal lahir memang penderitaan.
Secara umum mereka semua menganggap
hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan.
Lalu mereka punya berbagai macam metode,
berbagai macam metode pembinaan diri.
Kau lihat,
ini — meditasi (dhyāna) yang sangat lazim:
empat dhyāna dan delapan samādhi sebenarnya sama-sama (dimiliki) Buddhisme dan agama-agama India lain.
Pertapaan keras —
kau lihat sekarang dikatakan,
konon di kedua tepi Sungai Gangga di India
masih ada lima juta petapa keras heterodoks.
Mereka pun ini —
berbagai macam pertapaan keras.
Tetapi Buddha —
pada masa itu Ia pun mengalami banyak metode pembinaan diri ini.
Ia merasa
ini semua bukan (jalan) hakiki,
semua tak bisa sungguh-sungguh menuntaskan pembebasan.
Ini —
nah, Buddha —
Ia menemukan:
di dalam diri setiap orang kita ada kemampuan menyelamatkan diri sendiri, membebaskan diri sendiri,
kemampuan menyadarkan diri sendiri.
Asalkan kau menemukan kemampuan semacam ini,
kau bisa —
kau, melalui pengenalan dan pembinaan yang terus-menerus terhadapnya,
kau bisa menuntaskan penyelamatan diri sendiri kehidupan semacam ini,
pembebasan diri sendiri.
Nah, inilah sebuah (ciri) Buddhisme,
yaitu ciri Buddhisme.
Nah, pintu-Dharma Empat Kebenaran ini sebenarnya mengandung
ini —
ini —
(soal) para petapa keras heterodoks —
(soal) para petapa keras heterodoks ini yaitu mengandung sebab-akibat tumimbal lahir
dan sebab-akibat pembebasan.
Satu (soal) bagaimana kehidupan menuju tumimbal lahir —
"penderitaan" mewakili keadaan kehidupan kita sekarang.
Nah, kita —
pertama-tama kita, seperti kita seseorang jatuh sakit,
kita harus menghadapi keadaan kita sendiri:
sebenarnya aku sakit apa,
aku harus memberinya penilaian yang sesuai kenyataan.
Lalu setelah ada penilaian yang sesuai kenyataan,
lalu selangkah lebih jauh harus mencari penyebab:
mengapa aku menimbulkan penderitaan-penderitaan ini?
Itulah asal-mula (samudaya).
"Asal-mula" yaitu sebab timbulnya penderitaan.
Lalu "lenyapnya" (nirodha) —
sesungguhnya, bagaimana aku menyembuhkan (dan) memulihkan?
Nirwana yaitu penyembuhan-pemulihan,
yaitu penyembuhan yang tuntas,
meredakan sepenuhnya penderitaan dalam kehidupan semacam ini.
"Jalan" (magga) yaitu metode:
melalui metode apa aku
menuntaskan penyembuhan tuntas kehidupanku.
Maka pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
sesungguhnya juga mewakili —
kalau dari sudut psikologi kalian —
sebenarnya ia adalah empat langkah
penyembuhan psikologis.
India ini —
ini yaitu dokter ini,
ketika menyembuhkan penyakit,
sesungguhnya ia punya sebuah proses semacam ini:
nah, pertama harus menilai,
punya penilaian terhadap penyakit,
lalu menemukan akarnya,
lalu penilaian terhadap hasilnya,
lalu baru ada metode.
Yaitu, seluruh pembinaan diri Buddha-Dharma —
sesungguhnya yaitu Empat Kebenaran,
yaitu hendak menuntaskan dua lapis sebab-akibat semacam ini:
satu adalah mengenali jelas wujud-sejati tumimbal lahir,
satu adalah menuju
kesadaran dan pembebasan.
Nah, tentu Buddha-Dharma Mahayana ini —
dalam Buddhisme terbagi menjadi —
kalau dalam (istilah) Tiongkok kita,
ada yang disebut Hinayana dan Mahayana.
Nah, Buddhisme Selatan (Theravada) —
ia akan menyebut mereka "aliran Sesepuh" (Sthaviravāda).
Kau tinggal berkata "Hinayana",
(itu) terasa agak merendahkan mereka.
Tetapi,
ia punya — mereka semua punya
Buddha-Dharma Śrāvaka-yāna yang berbeda;
ia akan condong pada pembebasan pribadi.
Nah, Mahayana —
ia yaitu: bukan hanya diri sendiri hendak menuju kesadaran dan pembebasan,
kau juga harus membangkitkan bodhicitta.
Maka satu adalah tekad melepas (niḥsaraṇa), satu adalah bodhicitta.
Tekad melepas yaitu aku sendiri hendak
melepaskan diri sendiri (dari samsara),
aku hendak melepaskan diri dari kehidupan tumimbal lahir semacam ini,
menuju kesadaran,
membuka kehidupan yang tersadar semacam ini.
Nah, bodhicitta ini
yaitu: aku bukan hanya diri sendiri hendak —
aku sendiri hendak tersadar,
aku hendak membantu semua makhluk hidup.
Membangkitkan bodhicitta
yaitu hendak membantu — di bawah bodhicitta ini —
makhluk hidup yang berjubel,
semua makhluk hidup harus menuju kesadaran.
Nah, inilah —
Mahayana dan Hinayana —
di satu sisi, meskipun ia punya banyak ini —
dalam hal kognisi terhadap dunia,
ia punya banyak perbedaan pandangan-pengetahuan.
Misalnya ini —
Buddhisme Śrāvaka-yāna yaitu Buddhisme Hinayana;
sutra dan sastranya
terutama membahas ketidakkekalan,
membahas tanpa-aku,
membahas tumimbal lahir adalah penderitaan,
lalu kekosongan sedikit dibahas.
Yaitu, relatif (bicara),
prinsip-prinsip ini cukup mudah dipahami.
Tetapi Mahayana —
misalnya seperti "Prajñā-Madhyamaka",
yang dibahasnya adalah kekosongan;
seperti Yogācāra,
lalu ada pula Tathāgatagarbha.
Maka Buddha-Dharma Mahayana ini —
ini —
yaitu di satu sisi,
sistem filsafat yang dibangunnya
lebih raksasa (rumit).
Misalnya (kalau) kau hendak menulis (tentang) Yogācāra,
menulis (tentang) Madhyamaka,
sebenarnya itu cukup sulit.
Mengapa sulit?
Karena semua filsafat ini, pada waktunya —
ia juga (dibangun) dari kritik terhadap berbagai pemikiran India pada masa itu,
dari (kritik itu) dibangun.
Maka kau,
menulis (tentang) Madhyamaka,
menulis (tentang) Yogācāra, adalah yang tersulit,
karena kau bukan hanya harus menulis pandangan Yogācāra,
menulis pandangan Madhyamaka,
kau juga harus memahami pandangan-pandangan yang dikritik pada masa itu.
Maka pembelajarannya menjadi cukup sulit.
Nah, sekarang banyak lembaga Buddhis pun membuka kursus-kursus ini —
Yogācāra, Madhyamaka,
banyak kursus ini —
yaitu, satu (perbedaan) adalah dalam hal pandangan.
Yaitu, Buddha —
seperti filsafat Buddhisme Mahayana,
ia akan, terhadap (persoalan) —
ia akan lebih mendalam.
Misalnya terhadap pembahasan kekosongan,
ia akan membahasnya lebih tuntas.
Terhadap Yogācāra —
Yogācāra yaitu hubungan antara pengenalan dan keberadaan:
batin kita dan dunia ini sebenarnya berhubungan seperti apa?
Misalnya seperti dalam Buddha-Dharma Hinayana,
ia mungkin hanya memberitahumu
dunia ini semua diciptakan oleh batinku.
Tetapi Mahayana mungkin akan memberitahumu
Yogācāra mungkin akan memberitahumu
bagaimana aku diciptakan (oleh batin),
ia akan menjelaskan bagaimana (dunia) diciptakan dengan sangat jelas kepadamu:
batin ini sebenarnya berapa tingkatnya,
bagaimana ia menciptakan dunia.
Maka ia —
mengapa, seperti pada masa awal Republik (Tiongkok),
di Universitas Peking, (ada) Liang Shuming,
Xiong Shili —
ada sekelompok besar (tokoh) ini —
yang tadinya, seperti Liang Qichao,
Zhang Taiyan,
sekelompok orang —
mereka, terhadap
filsafat Buddhisme ini,
terutama Yogācāra,
dan hal-hal ini,
mereka semua sangat tertarik.
Maka ini yaitu:
dalam hal pandangan-pengetahuan,
filsafat Buddhisme ini,
pandangan Mahayana ini —
ia, dibanding ini —
pandangan Hinayana ini,
cita rasa filsafatnya lebih kental,
lebih mendalam,
lebih sulit dipahami,
lebih tak mudah dipelajari.
Lalu satu (perbedaan) lagi
yaitu dalam hal
perbedaan tekad (bodhicitta).
Sebenarnya yang sungguh-sungguh membedakan Mahayana dan Hinayana
semestinya bukan pada pandangan-pengetahuan,
melainkan pada ada-tidaknya bodhicitta,
ada atau tidak bodhicitta.
Kau harus punya bodhicitta.
(Kalau) kau sudah membangkitkan bodhicitta —
maka kita orang Tiongkok,
banyak vihara kita,
kita memuja banyak bodhisatwa.
Memuja bodhisatwa ini —
seperti Bodhisatwa Avalokitesvara,
Bodhisatwa Kṣitigarbha —
sebenarnya,
bodhisatwa sebenarnya bukan untuk kaupuja;
sebenarnya bodhisatwa itu untuk kaupelajari.
Mahayana yaitu hendak belajar menjadi bodhisatwa.
(Kalau) kau sudah membangkitkan bodhicitta,
kau yaitu hendak menjadi bodhisatwa,
belajar menjadi bodhisatwa,
belajar (dari) Bodhisatwa Avalokitesvara.
Sesungguhnya (kita) harus belajar (dari) bodhisatwa,
hati welas asih agung Bodhisatwa Avalokitesvara —
kau harus (mempelajarinya).
Karena dari sudut Buddha-Dharma,
para bodhisatwa ini —
kualitas yang dimiliki para Buddha dan bodhisatwa,
hakikat (itu),
kita semua memilikinya.
Dan mental-conduct para Buddha dan bodhisatwa ini
bisa kita pupuk,
bisa kita pelajari.
Ia sama sekali tak sejauh itu.
Maka ini yaitu:
yaitu Mahayana dan Hinayana —
satu condong pada pembebasan diri sendiri,
satu yaitu hendak membantu lebih banyak orang menyembuhkan (diri).
Semua makhluk hidup adalah objek yang hendak kausembuhkan,
objek.
Maka Bodhisatwa Avalokitesvara memiliki (kualitas) yang disebut apa?
Disebut maha welas asih,
disebut "agung".
Maha welas asih ini —
sebenarnya,
ia juga ada standarnya.
Kau bilang (bahwa) para Buddha dan bodhisatwa harus menyeberangkan semua makhluk hidup dengan tuntas
baru bisa mencapai kebuddhaan —
itu tak mungkin.
Makhluk hidup tak (bisa) diseberangkan sampai habis,
(mereka mengisi) seluruh ruang dan seluruh alam-Dharma.
Kau lihat, betapa besar alam semesta ini —
kau, apakah makhluk hidup bisa diseberangkan sampai habis?
Tetapi,
ia punya sebuah standar,
yaitu:
ketika kau bersedia membantu semua makhluk hidup.
Karena sebenarnya tingkat kita menerima makhluk hidup
ditentukan oleh
kondisi psikologis kita.
Ketika kita berpijak pada kemelekatan-aku,
batin kita akan punya serakah dan benci,
punya suka dan tak suka.
Dengan kemelekatan-aku sebagai pusat —
sebuah platform psikologis semacam ini,
sebuah landasan kognitif semacam ini —
sebenarnya kau pasti tidak setara (dalam memperlakukan orang).
Tetapi kalau melampaui diri (ego) semacam ini,
menyadari kebijaksanaan kekosongan (śūnyatā) yang tanpa-aku —
dan kekosongan itu adalah sesuatu yang setara —
pada tataran batin yang setara,
lalu kau membina hati welas asih;
hati welas asih pun harus dibina.
Kau, dari kebijaksanaan yang setara,
kebijaksanaan yang membedakan (dengan jernih) sebagai landasan,
lalu membina hati welas asih —
kau bisa membangun hati welas asih yang luas semacam ini.
Kau bisa menghayati batin yang seperti ruang kosong.
Sebenarnya batin kita punya dua tataran:
keterbatasan dan ketakterbatasan.
Keterbatasan yaitu getar-getar pikiran kita,
yaitu getar pikiran ini —
sebenarnya seperti awan di langit batin,
satu getar pikiran demi satu getar pikiran,
berbagai getar pikiran, silih berganti muncul-tenggelam.
Lalu ketakterbatasan sebenarnya seperti langit cerah tanpa awan.
Maka pembinaan diri
sesungguhnya yaitu hendak melompat keluar dari batin yang terbatas ini,
untuk menghayati batin yang tak terbatas ini.
Ini sebuah —
yaitu,
yaitu kita dalam pembinaan diri —
yaitu pembangunan hati welas asih:
ia punya landasan.
Kalau kau tak menyadari landasan ini,
kau tak bisa melakukannya.
Yang kau kenali pun hanya sebuah pernyataan (teori).
Maka dalam pembinaan diri, metode sangat penting.
(Kalau) kau tak punya metode,
sebanyak apa pun yang kaukatakan
itu pun tak bisa dilakukan.
Lalu,
ini —
dari sudut Buddha-Dharma,
yaitu ini —
yang tadi kita bahas —
sebenarnya yaitu dua persoalan:
satu adalah persoalan kognisi,
satu adalah persoalan psikologis.
Lalu kognisi
akan menentukan
psikologi macam apa yang akan kita timbulkan.
Maka Buddha-Dharma
ini — ia juga sangat mementingkan kognisi,
sangat mementingkan rasionalitas.
Yaitu, dalam Buddha-Dharma —
tentu orang Barat menjunjung rasionalitas,
ini — tetapi Buddha-Dharma
juga bisa mengenali
dua sisi rasionalitas dan keterbatasan rasionalitas.
Misalnya rasionalitas yang kita terima,
ia dibatasi oleh pengetahuan kita,
pengalaman.
Ini —
maka ini —
rasionalitas ini —
ia akan mendatangkan berbagai kekotoran batin dan penderitaan bagi kita;
ia juga akan membuat kita mengejar kebenaran,
menyelidiki siapakah aku,
menyelidiki wujud-sejati dunia.
Buddha-Dharma menganggap keunikan hidup manusia juga terletak pada: karena manusia,
dibanding hewan lain,
karena ia punya rasionalitas.
Lalu,
dari sisi kondisinya,
ia ada penderitaan ada kebahagiaan.
Maka umat manusia,
dalam proses peradaban lima ribu tahun,
kita terus-menerus menyelidiki:
aku ingin hidup lebih baik,
aku ingin mencari makna kehidupan.
Hewan mungkin tak punya kebutuhan akan makna,
tetapi manusia punya kebutuhan akan makna,
ia akan terus-menerus menyelidiki.
Maka Buddhisme menganggap
kebenaran dan kebijaksanaan adalah milik alam manusia,
pada akhirnya tak (ditemukan) di alam surga.
Buddhisme menganggap
para Buddha dan Yang Dijunjungi Dunia,
para Buddha Yang Dijunjungi Dunia semua mencapai kebuddhaan di alam manusia,
dan bukan mencapai kebuddhaan di alam surga.
Maka Buddhisme sangat menghargai status sebagai manusia,
ia sangat menghargai status sebagai manusia.
Karena makhluk di alam surga terlalu berbahagia;
terlalu berbahagia, ia pun tak akan membina diri.
Nah, (ketika) buah-berkahmu habis dinikmati,
toh pada akhirnya masih jatuh (ke alam rendah).
Hewan terlalu tolol,
makhluk di neraka terlalu menderita.
Manusia ada penderitaan ada kebahagiaan.
Maka yang paling krusial masih ada rasionalitas —
ia akan terus-menerus berpikir.
Maka umat manusia,
status ini yaitu sebuah (status) yang bisa mencapai kebuddhaan,
bisa mengejar kebenaran —
sebuah status semacam ini.
Tetapi Buddha-Dharma juga memberi tahu kita:
"aksara 'tahu' —
gerbang segala keajaiban."
Segala kebaikan —
(ia) mendatangkan banyak kebaikan bagimu:
kebijaksanaan,
kebenaran —
karena rasionalitas,
kau baru bisa menempuh jalan ini.
Tetapi Buddha-Dharma juga memberi tahu kita:
"aksara 'tahu' —
akar segala malapetaka."
Coba lihat, mengapa umat manusia bisa menciptakan senjata-senjata nuklir ini,
bisa membuat bumi ini jungkir balik —
karena apa?
Karena rasionalitas.
Manusia (yang sudah) kenyang makan dan minum
bisa membuat dirinya menciptakan banyak kekotoran batin,
menciptakan banyak kecemasan —
karena rasionalitas.
Nah, karena rasionalitas kau bisa memikirkan banyak hal sampai tuntas,
melapangkan pikiran atas banyak hal.
Sekalipun di lingkungan yang sulit kau pun bisa hidup dengan baik,
itu juga karena rasionalitas.
Maka, yaitu, Buddha-Dharma menganggap kita harus
memakai rasionalitas dengan baik.
Dalam pembinaan diri Buddha-Dharma, ia mementingkan:
(harus) mendekati kawan sejati yang jernih (kalyāṇamitra),
menyimak Dharma sejati,
merenung sesuai nalar (yoniso manasikāra),
mempraktikkan dharma selaras dengan dharma.
Kau harus menemukan seorang guru yang baik
untuk mewariskan sejenis (kebijaksanaan).
Di mana makna (mencari) guru yang baik?
Kau harus mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan,
berbagai kebudayaan.
Sebenarnya dari makna tertentu,
pengaruh kebudayaan pada manusia sungguh sangat besar.
Dari makna tertentu,
manusia adalah produk kebudayaan.
Kau menerima —
setiap orang,
kau mungkin menerima kebudayaan yang berbeda,
tanpa kausadari
kau akan menjadi orang macam apa —
sebenarnya kau
tak jelas (akan hal itu).
Tanpa kausadari, kau akan menjadi (pemilik) nilai-nilaimu,
minat dan kegemaranmu,
penilaianmu,
cara berpikirmu ini,
cara hidupmu —
sebenarnya tak ada yang tak dipengaruhi kebudayaan.
Ini —
nah, kebudayaan semacam ini
sebenarnya ia juga membawa —
mendatangkan sejenis keterbatasan bagi kita.
Banyak dari kita,
kita semua hidup di dalam arus masyarakat semacam ini,
arus (tren) ini.
Sebenarnya arus masyarakat ini
sedang menuntun kau mengejar apa,
membangun nilai-nilai,
memilih —
ini —
tentu ada juga sebagian orang
yang akan merenung ulang,
akan berpikir.
Nah, banyak orang,
mungkin kebanyakan orang akan mengikuti arus.
Maka, yaitu:
arus-arus ini
juga sejenis kebudayaan.
Yaitu, kebudayaan semacam ini
ini — mempengaruhi kita.
Buddha-Dharma — mengapa ia menganggap
kau harus bisa menerima Buddha-Dharma?
Ini yaitu —
yaitu yang disebut:
"terlahir sebagai manusia sulit didapat,
Buddha-Dharma sulit didengar."
Kau mendapatkan —
kau mendapatkan status sebagai manusia itu tak mudah.
Yang kedua,
kau mendapatkan —
kau bisa mendengar Buddha-Dharma pun tak mudah.
Persoalan ini —
bagi orang zaman sekarang seperti kita,
seolah juga tak ada istimewanya,
karena di internet di mana-mana ada Buddha-Dharma.
Tetapi coba kita pikirkan,
dari sudut sejarah,
misalnya,
Barat —
dari Sokrates sampai zaman modern,
para filsuf ini,
sampai (tokoh-tokoh) ini —
kau lihat mereka ini —
Kant,
Schopenhauer —
Schopenhauer mungkin sedikit-banyak juga bersentuhan dengan Buddha-Dharma,
(dan tokoh) apa lagi,
dan lain-lain —
kau lihat,
sedemikian banyak filsuf,
orang Barat —
sebenarnya mereka juga sangat punya semangat mencari kebenaran,
mereka terus-menerus memikirkan dunia,
memikirkan kebenaran.
Tetapi mereka selamanya tak bisa melompat keluar dari rasionalitas mereka.
Mereka mengejar kebebasan,
mengejar kesetaraan,
mengejar kebebasan,
mengejar pembebasan individualitas.
Tetapi semua ini
adalah (hal-hal yang) di luar (diri).
Kalian sadar tidak,
segala yang ia kejar —
kebebasan,
kesetaraan —
semuanya di luar (diri).
Tentu tak bisa kita sangkal,
sejenis (upaya) ini —
yaitu melalui sistem kemasyarakatan
membangun sebuah kebebasan dan kesetaraan —
sungguh luar biasa,
sungguh luar biasa.
Tetapi,
sebenarnya kehidupan seseorang —
kalau kau tak memahami kehidupan,
(kalau) pengenalanmu terhadap dunia —
yaitu —
di satu sisi, pengenalanmu terhadap dunia terbatas,
(diperoleh) melalui rasionalitas;
jalan rasionalitas ini —
ia tak bisa
menuju
pengenalan akan kebenaran hakiki.
Lalu di sisi lain,
manusia,
menghadapi berbagai (hal) diri sendiri,
berbagai kekotoran batin,
berbagai kebingungan,
berbagai ketidakbebasan kehidupan,
berbagai kelinglungan —
ia tak punya kemampuan untuk menyelesaikannya.
Sebenarnya psikologi Barat,
psikologi terhadap persoalan ini jelas tak bisa menyelesaikannya.
Psikologi terhadap —
psikologi —
saya sering —
saya bilang psikologi tak memedulikan urusan keserakahan-kebencian-kebodohan,
(ia) menganggap keserakahan-kebencian-kebodohan itu kepribadian normal.
Hanya bila keserakahan-kebencian-kebodohan berlebihan,
barulah menjadi persoalan yang hendak diselesaikan psikologi.
Betul kan?
(Psikologi) tak akan menganggap
(bahwa) kau, orang yang punya keserakahan-kebencian-kebodohan,
kau lalu berpenyakit.
Tidak.
Maka ini —
karena mereka tak punya Buddha-Dharma.
Tak punya Buddha-Dharma —
ini, maka agama Barat dan filsafat,
sains,
agama —
ia senantiasa tak bisa saling menggantikan.
Betapa pun berkembang filsafatnya,
betapa pun berkembang sainsnya,
agama tetap dibutuhkan.
Kau bilang tak ada agama —
sekarang di Barat sebenarnya,
sebenarnya saya melihat sekarang di negara-negara Barat,
agama pun agak merosot.
Banyak gereja
tak sanggup dijalankan lagi.
Ada sebagian gereja
yang dibeli oleh kalangan Buddhis.
Seperti saya pernah ke Manchester,
(vihara) Fo Guang Shan di sana,
vihara Fo Guang di Manchester itu —
saya pergi ke sana kira-kira tiga-empat tahun lalu.
Vihara Fo Guang itu memakai (bekas) gereja,
yaitu banyak gereja yang tak sanggup dijalankan lagi.
Sebenarnya karena orang Barat, yaitu satu —
satu adalah moralitas,
satu adalah hukum.
Agama mengurus moralitas,
lalu moralitas mengurus pikiran manusia;
hukum mengurus moralitas —
(atau lebih tepatnya) perilaku itu.
Asalkan kedua hal ini sudah terkelola,
lalu masalah apa lagi?
Manusia secara alami tak akan terlalu bermasalah.
Tetapi landasan moralitas
sesungguhnya adalah agama.
Agama adalah batu penjuru semua moralitas.
Kalau tak ada agama,
sebenarnya moralitas akan kehilangan daya-ikatnya.
Setelah moralitas kehilangan daya-ikat,
yang tersisa hanyalah hukum.
Hukum —
ia hanya bisa mengurus (hal yang) sangat terbatas.
Di Barat, mereka membahas pembebasan individualitas:
yaitu, kau, orang ini,
sekalipun kau sangat menyimpang,
itu pun kebebasanmu.
Betul kan?
Kau lihat, sekarang karena kemerosotan moralitas Barat semacam ini,
seluruh perilaku manusia ini —
ia makin lama makin tak berbatas,
makin lama makin tanpa batas,
tak berbatas tak bertepi.
Kau mau merosot bagaimana pun,
kau mau mengubah dirimu menjadi hewan,
atau menjadi makhluk rendahan —
semuanya urusan pribadimu sendiri.
Tak ada, tak ada (batasan) semacam itu —
ini juga sangat menakutkan.
Tetapi di dalam Buddha-Dharma,
ia menyatukan filsafat dan
persoalan nyata serta persoalan hakiki.
Melalui Buddha-Dharma —
Buddha-Dharma sekaligus menyelesaikan,
ia sekaligus memedulikan persoalan nyata,
ia sekaligus memedulikan persoalan filsafat,
sekaligus ia juga menyelesaikan persoalan hakiki.
Yaitu Buddhisme —
sebenarnya Buddhisme juga pemikiran humanis.
Saya punya sebuah buku khusus,
nanti akan kuberikan satu kepada kalian —
dialog saya dengan filsuf Zhou Guoping,
"Kita Telah Salah Memahami Dunia Ini".
Nah, di dalamnya ada satu bab —
bab pertama, sepertinya juga bukan bab pertama —
di dalamnya ada satu bab yang membahas
pemikiran humanis Buddhisme dan pemikiran humanis Barat,
sebenarnya di mana letak perbedaannya.
Ini karena saya rasa ada banyak titik kesamaannya.
Pemikiran humanis Barat membahas pembebasan individualitas,
Buddhisme membahas pembebasan individu (dari samsara).
Nah, "pembebasan individualitas" —
tak peduli, (ia) mengeluarkan yang baik maupun yang buruk dari manusia.
Nah, "pembebasan individu" (dalam Buddhisme) —
yaitu menyelesaikan yang buruk dan mengeluarkan yang baik.
Maka perbedaannya sangat besar.
Maka "pembebasan individualitas" pasti harus dilengkapi dengan "pembebasan individu (dari samsara)".
Tanpa "pembebasan individu" sebagai pelengkap,
tanpa pengenalan Buddha-Dharma terhadap sifat manusia —
karena orang Barat membahas pembebasan individualitas
bukan berdasarkan pengenalan terhadap sifat manusia baru membahas pembebasan,
melainkan setelah tertekan lalu hendak mengeluarkannya —
(itulah) membahas pembebasan.
Buddha-Dharma membahas pembebasan karena secara mendalam
mengenali bahwa hakikat tumimbal lahir adalah penderitaan;
hal-hal yang menderita ini harus dilenyapkan,
lalu yang baik dikeluarkan,
(kemampuan) menyelamatkan diri sendiri pada manusia,
potensi manusia dikembangkan.
Maka ini adalah penuntasan,
bukan sebuah konsep (belaka),
bukan sebuah konsep.
Buddha-Dharma dari sisi pembinaan diri,
ia juga —
satu adalah mementingkan rasionalitas,
satu adalah mementingkan rasionalitas,
dan satu lagi
yaitu hendak melampaui rasionalitas —
melampaui rasionalitas untuk mengalami (kebenaran) secara langsung,
melampaui rasionalitas untuk mengalaminya secara langsung, membuktikan-menyadarinya,
melampaui (rasionalitas).
Lalu satu (hal) adalah memakai rasionalitas dengan baik.
Maka, seperti yang barusan saya katakan di depan,
kau harus memakai rasionalitas dengan baik.
Di mana kunci memakai rasionalitas dengan baik?
Yaitu harus mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan,
yaitu kau harus bersentuhan dengan sejenis kebudayaan kebijaksanaan.
Sebenarnya pewarisan kebudayaan menentukan ketinggian (derajat)-mu.
(Kalau) kau mengandalkan diri sendiri untuk tercerahkan di bawah pohon Bodhi,
itu tidak mudah,
itu tidak mudah.
Orang Barat — menurut saya orang cerdas mereka sangat banyak.
Dari diri para filsuf Barat ini,
satu lebih cerdas dari yang lain,
melahirkan sedemikian banyak filsuf,
tetapi tak ada satu pun yang bisa memahami hal ini dengan jelas.
Karena mereka semua (bertumpu) pada rasionalitas,
semua memakai rasionalitas.
Orang India — mereka semua (duduk) di bawah pohon Bodhi,
duduk bermeditasi, berkontemplasi di bawah pohon.
Ia tak mengandalkan pembeda-bedaan semacam itu,
mengandalkan batin pembeda-bedaan,
mengandalkan pemikiran,
mengandalkan batin pembeda-bedaan.
Nah, kita hari ini —
kita hendak mengandalkan diri sendiri untuk berpikir,
hendak menemukan jalan ini —
inilah "jalan para arif purba":
menemukan jalan kesadaran kehidupan ini,
jalan pulang ke rumah.
Mengandalkan diri kita sendiri tidak mudah.
Maka kita perlu —
yaitu harus mengandalkan ini —
mewariskan sejenis kebudayaan kebijaksanaan.
Nah, kita, melalui pewarisan kebudayaan kebijaksanaan —
tentu kita hari ini bisa mempelajari Buddha-Dharma pun
ada banyak kebingungan,
karena Buddha-Dharma luas dan mendalam.
Jalan ini sebenarnya bagaimana ditempuh?
Ini tentu sekaligus juga mencakup pengetahuan dan praktik.
Bagaimana aku — pembelajaranku,
bagaimana aku melakukannya,
bagaimana aku bisa —
ini —
bagaimana mempraktikkannya,
bagaimana mewujudkannya.
Aku, melalui pembelajaran,
bagaimana
menuju jalan kesadaran ini,
bagaimana bisa sungguh-sungguh mengenali kebenaran,
membuka pintu pembebasan ini —
sebenarnya ini semua
cukup tidak mudah.
Maka satu hal yang saya pribadi kerjakan di masa lalu
yaitu saya membuat sebuah (aplikasi)
bernama "Navigasi Bodhi".
Yaitu navigasi ini —
yaitu, kalian pakai navigasi Gaode (Amap), kan?
Navigasi Gaode ini —
yaitu, kau entah di Beijing atau Shanghai,
aku (perlu) memasang navigasi ini.
Karena Buddha-Dharma, meskipun punya banyak mazhab,
tetapi sesungguhnya ia punya sejumlah unsur inti,
unsur dasar yang sama,
dan langkah-langkah dasar (yang sama).
Lalu saya, berdasarkan langkah-langkah ini —
misalnya di dalamnya ada sasaran,
ada alur,
lalu ada metode,
lalu,
ada pemeriksaan hasil ini.
Setiap langkah —
aku sudah sampai di mana,
aku membina apa,
lalu aku hendak mencapai sebuah (keadaan) macam apa,
menuntaskan pembangunan batin macam apa.
Kami membangun sebuah (aplikasi) semacam ini.
Tentu navigasi ini saat ini harus (diunduh) di
ini —
situs luar negeri baru bisa diunduh,
agak internasional.
Ini —
yaitu hal yang ingin saya kerjakan.
Sebenarnya hal yang saya kerjakan di masa lalu,
yang lain ada dua hal.
Satu,
yaitu memakai Buddha-Dharma untuk menyelesaikan
berbagai persoalan yang ada di masyarakat masa kini.
Kami ingin menyediakan sebuah sudut pandang kebijaksanaan Timur
untuk —
misalnya berbagai persoalan psikologis yang kita hadapi hari ini,
persoalan kepercayaan,
persoalan moralitas,
persoalan keyakinan (agama),
persoalan psikologis,
persoalan perusahaan,
persoalan kesehatan masyarakat,
persoalan pendidikan,
persoalan sains,
persoalan filsafat —
saya kira-kira memperhatikan ada dua puluhan kategori.
Hal-hal ini —
ada berbagai dialog,
ada juga berbagai ceramah.
Nah, dari sudut pandang Buddha-Dharma,
sebenarnya bagaimana memandang persoalan-persoalan ini,
bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini,
menyediakan sebuah sudut pandang kebijaksanaan Timur dan jalan penyelesaiannya.
Lalu hal lain yang saya kerjakan
yaitu membuat semua orang tahu jalan pembinaan diri ini sebenarnya bagaimana ditempuh,
gagasan pembinaan diri itu sebenarnya apa.
Misalnya di dalamnya ada (materi) tentang tiga jenis meditasi,
ada (yang) disebut "delapan langkah",
tiga jenis meditasi delapan langkah,
ada pula meditasi mindfulness,
ada pula meditasi altruistik (demi kemanfaatan orang lain).
Meditasi ini terutama:
bagaimana kau, di satu sisi dalam pembinaan diri,
di tataran teori membangun sebuah sistem,
lalu di sisi lain,
di tataran praktik,
ia menuntaskan sebuah (proses) di dalam batinmu:
dari memakai rasionalitas dengan benar sampai bagaimana melampaui rasionalitas.
Dari memakai rasionalitas dengan benar —
nah, tentu itu tak lepas dari pewarisan kebudayaan.
Nah, untuk ini
kami punya seperangkat sistem kursus,
membuatmu, melalui sistem kursus ini, belajar,
kau membangun sejenis rasionalitas yang benar.
Nah, untuk membangun sejenis rasionalitas yang benar,
kami mengajukan seperangkat metode pembinaan diri,
yaitu "delapan langkah",
disebut delapan langkah.
Yaitu kau, dari —
aku memperkenalkan sejenis pembelajaran kebudayaan,
sampai (membuat) kebudayaan ini,
muatan yang hendak diungkapkannya,
sungguh-sungguh menjadi gagasanku,
menjadi kondisi batinku,
menjadi kualitas kehidupanku.
Proses ini ada delapan langkah.
Kami sekarang juga sudah mengembangkan sebuah aplikasi
bernama "Kartu Hitam-Putih".
Kartu Hitam-Putih ini
yaitu kartu hitam dan kartu putih kehidupan.
Kartu hitam mewakili kehidupan tumimbal lahir.
Karena dalam Buddhisme dharma yang baik disebut dharma putih,
dharma yang tak baik disebut dharma hitam.
Maka kehidupan setiap orang kita —
kehidupan tumimbal lahir yaitu ketaktahuan.
Ketaktahuan yaitu gelap gulita, bukan?
Maka (itu) kartu hitam.
Nah, pembangunan Kartu Hitam-Putih ini —
saya, melalui sesuatu yaitu kepribadian —
ini yaitu — saya punya sebuah ceramah berjudul
"Mengenali Kode Kepribadian, Menjalankan (Meditasi Delapan Langkah)".
Menjalankan tiga jenis meditasi delapan langkah,
mengenali kode kepribadian.
Saya membangun sebuah (uraian tentang) kepribadian —
tahapan pembentukannya.
Tahapan pembentukan kepribadian ini
yaitu, kita melalui sejenis —
pertama-tama memperkenalkan sebuah,
sebuah pembelajaran kebudayaan.
Lalu,
yang kedua yaitu cara berpikir,
cara berpikirmu.
Yang ketiga yaitu pembentukan gagasan.
Yang ketiga adalah pembentukan gagasan.
Yang keempat yaitu perilaku.
Karena gagasan macam apa yang kita punya,
kita mungkin punya perilaku macam itu.
Lalu ini —
yang ketiga adalah gagasan,
yang keempat adalah perilaku,
yang kelima — akumulasi perilaku
akan menjadi kebiasaan;
akumulasi kebiasaan akan menjadi watak;
akumulasi watak akan menjadi kepribadian.
Yaitu ada sebuah (rangkaian) tujuh langkah semacam ini,
sebuah "kode kepribadian".
Lalu, berkisar pada tujuh langkah ini,
"kode kepribadian" ini, (kita) melihat kau menerima
kebudayaan macam apa.
Misalnya orang zaman sekarang seperti kita,
kita setiap orang —
yaitu,
banyak orang, misalnya kami punya banyak —
ini —
murid — setelah mereka belajar Buddha-Dharma,
lalu ini —
ia lalu —
kekotoran batinnya berkurang,
kebijaksanaannya bertambah,
persoalan psikologisnya, bahkan rasa ketakbermaknaan dan sebagainya, berkurang.
Ini —
lalu,
kita, dalam proses ini,
kita, berdasarkan
"kode kepribadian" ini, mencari persoalan kita sendiri:
sebenarnya di mana (letaknya) — apakah karena
pengetahuan budaya yang kuterima bermasalah, atau
karena gagasanku bermasalah, atau
watakku bermasalah, atau
kebiasaanku bermasalah, atau
aku punya gangguan kepribadian — kau harus, berdasarkan
tujuh langkah ini, mencari, pada "kartu hitam"-mu,
ini —
penyebab timbulnya persoalan psikologismu.
Lalu,
nah, kemudian, setelah aku belajar —
misalnya, karena kita di masa lalu
punya seperangkat kursus untuk dipelajari semua orang,
yaitu "kode kepribadian bijaksana"-ku ini,
kursus-kursus ini —
setelah dipelajari,
lalu persoalan-persoalan psikologisnya di masa lalu pun lenyap.
Lalu setelah lenyap,
maka sekarang kau adalah "kartu putih" ini.
Yaitu, karena aku
menerima pengetahuan budaya ini,
lalu menjadi —
pengetahuan yang kupelajari ini, bagaimana pengetahuan ini menjadi gagasanku,
lalu aku, melalui penguatan gagasan ini,
lalu mengubah kondisi batinku,
lalu pengulangan kondisi batin ini
akhirnya membentuk sejenis kepribadianku yang sehat —
yaitu ini adalah sebuah
"kartu putih".
Yaitu, dari tataran rasionalitas,
bagaimana
yaitu menuntaskan
perubahan kehidupan kita ini.
Nah, untuk ini kami punya sebuah aplikasi khusus,
yaitu membuat semua orang —
dalam proses kau mempelajari setiap jenis pengetahuan,
bagaimana membuat pengetahuan ini
sungguh-sungguh menjadi
gagasanmu,
kondisi batinmu, kualitas kehidupanmu.
Nah, di dalamnya misalnya seperti langkah pertama,
yaitu kau mempelajari pengetahuan ini,
pemahaman terhadap makna harfiahnya.
Langkah kedua yaitu membuat peta pikiran (mind map):
kau harus tahu ini —
pengetahuan yang kaupelajari ini,
sebenarnya hendak menyelesaikan persoalan apa,
sebenarnya hendak menyelesaikan persoalan apa,
dari sisi mana saja menyelesaikannya.
Lalu di dalam langkah ketiga ini masih mengandung apa?
Dari pemahaman di tataran prinsip
sampai pemahaman di tataran kenyataan.
Misalnya aku membahas ketidakkekalan;
aku sudah mempelajari banyak prinsip ketidakkekalan dari buku,
tetapi aku tak pernah memakainya untuk memikirkan
(dan) memeriksa kenyataan dalam kehidupan.
Harus dikembalikan ke kenyataan untuk diperiksa.
Setiap prinsip Buddha-Dharma, setelah kaupelajari,
kau harus mengembalikannya ke kenyataan untuk diperiksa.
Setelah diperiksa, kau —
kau menerimanya dari lubuk hati,
lalu hal ini akan menjadi gagasanmu.
Lalu mulailah bagaimana kau memakai gagasan ini
untuk mengubah gagasan kelirumu yang sudah mengakar,
lalu menuntaskan perubahan kondisi batinmu,
lalu, melalui pengulangan
kondisi batin yang positif,
akan menuntaskan
pembentukan kepribadianmu.
Yaitu ini —
yaitu ada sebuah logika:
yaitu melalui rasionalitas, bagaimana mengubah kehidupan.
Nah, bagian ini,
dalam pembinaan diri Buddha-Dharma juga sangat penting,
yaitu kau harus memakai batin pembeda-bedaanmu dengan baik,
memakai rasionalitas dengan baik —
ini sebuah sudut pandang pembinaan diri.
Lalu pembinaan mindfulness ini
adalah membantu kita
bagaimana melampaui rasionalitas,
misalnya tidak menilai,
seperti aliran Chan —
ia membuatmu (memahami) "Jalan Agung tak sulit, hanya hindari memilih-milah".
Kau harus menghayati kebenaran ini.
Sebenarnya batin kita manusia
punya rasionalitas, punya intuisi,
punya sifat-tersadar ini.
Punya rasionalitas, punya sifat-tersadar.
Tetapi kita umumnya memakai rasionalitas,
kita sudah terbiasa memakai rasionalitas.
Sebenarnya rasionalitas tak punya kekuatan.
Kekuatan rasionalitas — ia (berada) pada batin yang kacau,
ia dibangun di atas landasan batin yang kacau;
kekuatannya tak kuat.
Tentu, bagaimana kita melompat keluar dari rasionalitas —
sesungguhnya yaitu harus melalui meditasi.
Nah, meditasi —
kau harus membuka penyadaranmu,
untuk menghayati batin yang jernih-terang di dalam diri kita.
Bagaimana kau tertambat pada batin yang jernih-terang ini,
membuat dirimu tak masuk ke dalam sistem rasionalitas.
Nah, untuk ini kami punya seperangkat (materi)
tentang meditasi mindfulness tingkat awal,
meditasi mindfulness tingkat menengah,
dan meditasi mindfulness tingkat tinggi:
bagaimana (mengambil) mindfulness dan nir-pikiran ini
menggabungkannya dengan aliran Chan.
Karena pembinaan mindfulness ini —
memang, mengapa ia bisa menyapu seluruh dunia?
Ia memang,
dari sisi pembinaan diri, sangat intuitif,
dan sangat mudah dijalankan.
Tentu psikologi —
pemakaian mindfulness olehnya
terutama masih condong ke tataran teknis,
tak ada bimbingan di tataran pandangan-pengetahuan,
ia pun tak tuntas.
Maka ia bisa —
hanya bisa menyelesaikan sejumlah persoalan psikologis (saja).
Untuk sungguh-sungguh mendalami
batin asli — yang kita bahas,
pengetahuan-jernih dan mindfulness kembali ke batin asli,
harus kembali ke sifat-tersadar ini,
kembali ke batin jernih-terang yang tanpa rekayasa ini —
dalam hal ini (psikologi) kurang.
Nah,
maka psikologi memakai mindfulness hanya memperoleh sedikit manfaat kecil,
masih ada manfaat yang lebih besar di belakang.
(Kalau) kau hendak memperoleh manfaat yang lebih besar,
kau harus belajar Buddha.
Kau harus (mengambil) Buddha-Dharma ini —
misalnya kita membahas Madhyamaka,
misalnya memakai mindfulness kekosongan (śūnyatā) semacam ini —
bagaimana sungguh-sungguh melampaui dunia pertentangan dualistik,
bagaimana bisa menyelesaikan keserakahan-kebencian-kebodohan,
dari lapisan terdalam kehidupan mengubah hidup kita,
mengubah kehidupan kita.
Sebenarnya ini memerlukan
pembelajaran yang lebih mendalam.
(Kalau hanya) Buddha-Dharma (sepintas),
itu hanya (bagai) gerimis rintik-rintik,
menyelesaikan sedikit persoalan (saja).
Tentu, selain mindfulness ini,
ada pula (materi) tentang altruisme.
Misalnya seperti sekarang —
bukankah masih ada ini —
ini —
masih ada psikologi positif —
yaitu (bagaimana), terhadap sejumlah psikologi positif semacam ini,
memupuknya.
Sebenarnya pembinaan jalan bodhisatwa dalam Buddhisme,
ia adalah (yang) membantu kita membangun psikologi positif semacam ini,
misalnya belajar menghargai orang lain,
belajar,
belajar bersyukur,
belajar memahami, iba, dan menerima orang lain,
dan sebagainya.
Yaitu, psikologi-psikologi ini dalam Buddha-Dharma —
misalnya, berlandaskan pembinaan cinta kasih (mettā),
bagaimana membangun psikologi positif ini —
di dalam
ini —
sistem pembelajaran kami,
kami juga punya seperangkat (metode) yang menyeluruh semacam ini,
metode pembinaan diri.
Maka Buddha-Dharma —
ia ini —
yaitu
berpijak pada sejenis (kerangka) semacam yang tadi dibahas,
yaitu kognisi dan psikologi.
Yaitu,
yaitu Buddha-Dharma akan membuatmu
mengenali dunia —
kognisi dan psikologi semacam ini,
di mana sebenarnya akar persoalannya —
sekaligus menunjukkannya kepadamu:
bagaimana aku sungguh-sungguh membangun sejenis kognisi dan psikologi yang benar.
Nah, sebenarnya di dalamnya,
ia tak lepas dari
Buddha-Dharma semacam ini,
pembelajaran intisari ini,
serta
bagaimana meditasimu sendiri membuka
sifat-tersadar di dalam diri.
Lalu
kau baru mungkin sungguh-sungguh
memperoleh kemampuan semacam ini — kemampuanmu untuk mengenali
hakikat alam semesta, mengenali
sifat sejati kehidupan —
kemampuan semacam ini.
Maka kalian —
sebagai — saya lihat kalian semua dari kalangan psikologi,
ini —
di bidang ini,
para guru,
tenaga profesional —
menurut saya, inilah — kita ini —
Buddha-Dharma adalah psikologi Timur.
Kedalamannya, keluasannya
sama sekali bukan (sesuatu yang) psikologi Barat
psikologi ini
bisa tandingi.
Penyelesaiannya terhadap persoalan psikologis
juga lebih tuntas, lebih menyeluruh.
Maka kalau kalian bisa
berpijak pada psikologi Timur ini
dan kebijaksanaan Buddha-Dharma
untuk meneliti psikologi,
kalian bukan hanya bisa sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan diri sendiri —
banyak praktisi psikologi
pun belum tentu bisa menyelesaikan persoalan psikologis dirinya sendiri,
betul kan?
Kalian bukan hanya bisa menyelesaikan persoalan psikologis diri sendiri,
sekaligus kalian juga bisa sungguh-sungguh membantu lebih banyak orang.
Nah, kalau tak ada
landasan kognitif semacam ini,
banyak hal menjadi tak jelas-tak terang,
tak bisa dikenali dari akarnya:
kehidupan sebenarnya bagaimana —
bagaimana kau bisa menyelesaikan,
menyelesaikan persoalan psikologis dengan jelas?
Pertukaran pikiran hari ini pun sangat bermakna.
Saya sampaikan sekian saja.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya