Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

濟群法師:正念禪修的要領

Tentang Ceramah

Ceramah Master Ji Qun tentang "Pokok-Pokok Meditasi Mindfulness". Beliau menegaskan bahwa mindfulness yang kini menyapu dunia sebagai teknik pereda stres berasal dari Buddhisme, dan mindfulness Buddha-Dharma harus mengarah pada kesadaran dan pembebasan — ia satu mata rantai Jalan Berunsur Delapan, bukan alat lepas. Meditasi mencakup penyesuaian tubuh dan batin. Untuk tubuh: metode tujuh titik duduk (silang kaki, tulang belakang tegak, bahu rata, mudra samadhi, kepala tegap, mata, lidah) sebagai landasan agar qi lancar dan batin mudah memusat. Untuk batin, tiga langkah: (1) memilih objek renungan seperti napas untuk melatih daya pemusatan (śamatha); (2) mengembangkan daya penyadaran — mengetahui setiap keadaan batin dengan jernih tanpa masuk ke sistem penilaian, seperti "batin bagai cermin"; (3) melepaskan bahkan penyadaran itu sendiri untuk menghayati "batin bagai ruang kosong" — nir-pikiran, nir-tanda, nir-diam, seperti "melewati serumpun bunga tanpa sehelai daun pun melekat".

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Pertemuan sebelumnya
meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi kalian,
sehingga pengumuman (kegiatan) ini pun disebarkan.
Maka pada pertemuan kali ini
kalian mengajukan permohonan.
Studi berjenjang tiga tingkat —
pada tahap awal kita pun sudah, dalam studi seluruh sistem,
meletakkan landasan yang baik.
Dari sisi pembinaan diri,
sebaiknya kita pun
memasuki
(tahap) membina secara menyeluruh faktor-faktor penawar (kekotoran batin),
yaitu pembelajaran tentang tiga puluh tujuh faktor pencerahan (bodhipakṣa).
Banyak orang merasa (ini) seolah "gatal-gatal",
ingin sekali mencobanya.
Tetapi karena tempat pembinaan,
termasuk berbagai sebab sekarang,
ya —
maka
sampai sekarang belum,
belum mulai memberikan bimbingan yang terstruktur.
Hari ini jodohnya cukup baik.
Bagian "meditasi mindfulness" ini —
pada tahap awal kita pun, mengenai hubungannya dengan studi berjenjang tiga tingkat,
sudah cukup banyak dibahas.
Terutama,
sejak tahun lalu atau tahun sebelumnya,
tujuh tahun ini,
kami terus-menerus membimbing kalian
melakukan meditasi jalan (caṅkrama) ini,
meditasi jalan mindfulness.
Mengenai wejangan tentang sisi ini,
saya sudah menyampaikan —
sekarang di internet
kira-kira ada lebih dari dua ratus ceramah.
Sebenarnya mindfulness sekarang menyapu seluruh dunia.
Tetapi mindfulness semacam ini,
meskipun berasal dari Buddhisme,
seolah-olah
tak punya banyak kaitan dengan Buddhisme lagi.
Ia menjadi sejenis (hal yang) bersifat teknis:
bagaimana, melalui sebuah teknik semacam ini,
lalu menyelesaikan berbagai persoalan orang zaman sekarang —
apa itu mindfulness untuk mengurangi stres,
apa itu (mindfulness) dalam bidang medis,
manajemen perusahaan,
riset ilmiah,
pendidikan.
Tetapi mindfulness Buddha-Dharma harus mengarah pada pembebasan,
harus mengarah pada kesadaran,
harus mengarah pada kesadaran dan pembebasan.
Ia perlu, dengan
Buddha-Dharma,
seluruh Buddha-Dharma ini,
menjalin kaitan.
Karena, secara sederhana,
mindfulness ini adalah salah satu mata rantai Jalan Berunsur Delapan.
Meditasi mindfulness
adalah salah satu mata rantai Jalan Berunsur Delapan.
Nah, sebenarnya Jalan Berunsur Delapan juga ada pandangan benar,
ada pula niat benar,
ada pula perbuatan benar,
penghidupan benar,
upaya benar,
perhatian benar (mindfulness),
sampai konsentrasi benar.
Sebenarnya pembinaan diri Buddha-Dharma
adalah sebuah sistem.
Tentu,
kita hari ini di sini membahas mindfulness
bukan berarti semata-mata hanya sebuah mindfulness.
Ia semestinya seluruh meditasi,
Chan dari samadhi —
sebuah meditasi semacam ini,
di dalamnya
ada bagian mindfulness,
ada pula ini —
bagian nir-pikiran (tanpa-pikiran)
yang hendak dicapai
Chan ini.
Dari mindfulness
sampai nir-pikiran —
sebenarnya, dari makna tertentu,
nir-pikiran itu sendiri
juga adalah mindfulness tertinggi.
Nir-pikiran
adalah mindfulness tertinggi.
Nah,
di masa lalu,
aliran Chan ini —
kita tahu aliran Chan pada masa Dinasti Tang dan Song
sempat berjaya untuk suatu masa.
Waktu itu para "naga dan gajah" (guru besar) bermunculan.
Kau lihat, kalau kita membuka ini —
membuka ini —
ada beberapa kitab yang mencatat pencerahan para patriark ini,
misalnya seperti
ini —
"Catatan Menunjuk Bulan" (Zhiyue Lu),
"Catatan Penerusan Pelita Era Jingde" (Jingde Chuandeng Lu),
"Kumpulan Lima Pelita" (Wudeng Huiyuan),
yang mencatat lebih dari seribu tujuh ratus gong'an.
Yaitu, kita melihat
pada waktu itu
pembinaan aliran Chan —
ada banyak patriark aliran Chan
yang, melalui pembinaan Chan,
tercerahkan,
tersadarkan,
terbebaskan.
Tetapi
Buddha-Dharma, sampai
setelah Dinasti Song-Yuan-Ming-Qing,
kembali menuju kemunduran.
Karena aliran Chan
langsung menunjuk hati manusia,
langsung menunjuk pada hati manusia,
ini langsung dan tegas.
Pembinaan diri
yaitu hendak menghayati hal yang paling inti ini,
yaitu hati asli kita.
Tetapi
ini, terhadap
akar (batin) manusia, ada tuntutannya.
Tentu, sekaligus harus ada guru yang baik.
Maka pembinaan diri —
ini —
kalau tak punya kemampuan,
yaitu tak bisa mencapai (titik itu) —
bagaimana?
Terhadap titik yang hendak dihayati aliran Chan ini,
perkara "melampaui ke atas" —
kalau tak bisa dicapai, bagaimana?
Maka kita bisa menambahkan sebuah tangga untuknya.
Maka inilah
(pembinaan) bertahap,
pandangan dan pembinaan (secara bertahap).
Ini —
mengapa tak bisa dicapai?
Penyebabnya adalah debu dan grime pada hati kita terlalu tebal.
Maka kita perlu, melalui pembinaan bertahap,
terus-menerus
menyapu debu dan membersihkan grime,
grime batin dibersihkan sedikit demi sedikit,
lalu debu-grime batin kita makin lama makin tipis.
Pada saat itu,
untuk menghayati hati asli
pun tak sulit lagi.
Maka akar (batin) —
tajam dan tumpul —
sebenarnya juga tak ada yang pasti.
Ini seperti sebilah
pedang yang sangat tumpul:
terus-menerus diasah,
diasah dan diasah,
ia menjadi sebilah pedang yang tajam.
Akar (batin) pun sama.
Maka studi berjenjang tiga tingkat kita
sebenarnya yaitu (bertujuan) membuat
setiap orang —
asalkan kita melalui sebuah keyakinan semacam ini,
studi (ini),
akar (batin) kita,
kita semua bisa, dari akar yang tumpul,
menuju akar yang tajam.
Nah, pada saat itu, datang lagi
menghayati hati asli —
pun tak sulit lagi.
Maka sulitnya aliran Chan terletak pada:
yaitu,
tak ada tempat untuk mulai (bertindak),
tak tahu dari mana harus mulai.
Kau boleh bilang ini
(seperti) nyamuk menggigit sapi besi —
tak ada tempat untuk menancapkan (gigitan).
Nah, kita —
maka dalam pembinaan diri ini,
ini —
banyak hal yang mendasar,
hal-hal bertahap,
juga cukup penting.
Landasan dan tahapan ini
juga bukan hanya sebuah
tataran ajaran-teori.
Kita membahas ini —
perlindungan (kepada Tiga Permata),
pembangkitan tekad (bodhicitta),
tahapan jalan,
pandangan benar ini —
ini satu tataran.
Ada lagi satu tataran,
yaitu dalam
pembinaan diri yang nyata,
dalam
pembinaan śamatha-vipaśyanā (ketenangan dan pandangan terang) ini,
bagaimana kita bisa,
selangkah demi selangkah,
mencapai inti ini.
Yaitu,
bukan berarti —
mengenai suatu sasaran,
banyak orang
begitu memikirkan aliran Chan
langsung memikirkan tercerahkan,
melihat sifat sejati.
Tetapi tercerahkan dan melihat sifat sejati ini,
kalau tak ada metodenya,
sebenarnya ia juga sangat mudah menjadi
Chan bibir belaka (口頭禪).
Maka pada tahap awal kita,
di satu sisi kita, dalam
sisi ajaran-teori,
termasuk meditasi delapan langkah,
menyelesaikan kekotoran batin kita yang kasar,
bahkan kelak setelah kita punya
meditasi mindfulness ini,
meditasi analitis dari meditasi delapan langkah semacam itu
juga bisa menjadi bagi kita sebuah cara terampil untuk menembus
kekosongan (śūnyatā).
Ini —
nah, kita,
ini —
malam ini,
tentu kita ini —
tetap perlu memahami sedikit
pengetahuan tentang meditasi,
serta kelak, dalam meditasi
pada tahap studi ini,
poin mana saja yang mungkin akan kita pentingkan.
Ada satu sisi
yang perlu diperkenalkan dulu kepada kalian.
Nah, meditasi
terutama tetap
ini —
berkaitan dengan
ini —
penyesuaian tubuh,
sisi tubuh —
pengetahuan
ini,
landasan (pengetahuan) —
dan
serta bagaimana kita memakai batin.
Di masa lalu, membahas Chan selalu ada penyesuaian tubuh,
penyesuaian napas,
penyesuaian batin.
Tentu secara sederhana,
yaitu tubuh dan batin,
dua sisi.
Di masa lalu, banyak dari kita —
kita terpengaruh oleh aliran Chan ini,
ini —
yaitu (anggapan) "kan ini Chan":
karena
"berjalan pun Chan,
duduk pun Chan",
"mengangkut kayu dan menimba air pun Chan",
"berpakaian dan makan pun Chan" —
maka terhadap hal "duduk bersila" ini
kurang dipentingkan.
Duduk —
sebenarnya duduk bersila ini,
duduk dengan baik,
sebenarnya adalah landasan yang sangat penting
untuk kita bermeditasi dengan baik.
Tentu meditasi tak terbatas pada duduk bersila,
tetapi duduk bersila
akan menjadi sebuah
kondisi pendukung
yang sangat baik.
Ia membuat batin kita
lebih tenang,
lebih bisa menenangkan diri,
membuka —
membuka kebijaksanaan.
Ini —
duduk,
duduk dengan baik,
ini adalah sebuah bagian yang sangat penting.
Nah, dalam Buddhisme dibahas ini —
mengenai
ini —
meditasi,
bagaimana menyesuaikan tubuh kita —
yaitu ada "metode tujuh titik".
Apa itu "metode tujuh titik"?
Sebenarnya yaitu:
ketika duduk bersila,
terhadap tubuh,
tuntutan terhadap tubuh ada tujuh poin penting.
Ketika kalian duduk bersila, pernah merasakan
gangguan yang ditimbulkan tubuh?
Kaki tak tahan duduk,
pinggang pegal punggung nyeri,
berbagai masalah.
Tetapi kalau duduk dengan baik,
maka masalah-masalah ini
perlahan akan berkurang.
Dan sendi-sendi (aliran qi) tubuh yang duduk dengan baik ini
akan lebih lancar.
(Bila) qi dan darah lancar,
di satu sisi tubuh akan menjadi lebih sehat,
di satu sisi batin
juga akan
mudah masuk ke dalam samadhi,
batin mudah menenangkan diri,
memusat.
Maka ini, di masa lalu,
yang dibahas dalam Buddha-Dharma yaitu
"metode tujuh titik duduk Buddha Vairocana",
yaitu ketika duduk bersila harus mementingkan tujuh (hal),
dari sisi fisiologis harus mementingkan tujuh titik.
Pertama-tama, yang pertama adalah menyilangkan kaki.
Menyilangkan kaki ini —
keadaan setiap orang berbeda,
ini pun tak bisa diseragamkan.
Ini yaitu setiap orang melihat keadaannya sendiri.
Dalam Buddhisme,
tentu yang dikatakan,
posisi silang kaki yang paling ideal adalah sebuah
(yang) disebut duduk bersila (paryaṅka),
silang kaki penuh (dua kaki).
Silang kaki penuh ini —
kaki kiri di atas:
taruh dulu kaki kiri ke atas,
lalu taruh kaki kanan ke atas.
Duduk itu — kita
sebenarnya duduk harus —
sebenarnya ketika seseorang duduk bersila,
harus nyaman.
Bantal duduk yang kaupakai ini
tetap harus nyaman.
Tentu bantal ini tak boleh terlalu —
tak boleh terlalu lembut,
juga tak boleh terlalu keras,
sedikit ada tingkat kelembutan.
Terlalu lembut, (badan) mudah terbenam ke dalam;
terlalu keras,
diduduki juga akan menyakiti kaki.
Mengapa di bagian belakang perlu diganjal sesuatu?
Terutama bagi kita yang baru belajar duduk bersila,
setelah diganjal,
kaki ini
membentuk sebuah bentuk segitiga.
Kau lihat, kedua lutut ini akan menyentuh lantai,
tak akan begitu duduk (langsung goyah).
Dan pinggang mudah tegak lurus.
(Bila) ada bantal,
pinggang mudah tegak lurus.
Kalau tak ada bantal,
ia sangat mudah —
orang biasa mungkin akan (membungkuk) begini.
Tetapi kalau kau sering duduk,
kalau kau sudah duduk sampai tahap tertentu,
sebenarnya tanpa bantal dan dengan bantal berbeda —
yaitu, bagi orang yang terhadap duduk bersila punya
pembinaan yang terlatih,
itu bukan masalah besar.
Tetapi bagi orang biasa,
kita baru mulai, diganjal sedikit,
jadi lebih mantap.
Maka inilah duduk bersila (paryaṅka).
Adapun duduk silang kaki penuh,
tentu umumnya bukan berarti siapa pun bisa melakukannya.
Lagi pula, duduk sebentar
kaki langsung kesemutan,
tak bisa duduk lama.
Maka bukan berarti harus duduk silang kaki penuh —
silang kaki tunggal pun boleh.
Silang kaki tunggal —
tentu setiap orang,
kau lihat kau bagaimana duduk yang lebih nyaman.
Nah, dalam keadaan normal,
kalau kaki kiri di bawah
dan kaki kanan di atas —
banyak rupang Buddha begitu.
Misalnya tangan kita (begini),
ini adalah silang kaki tunggal,
yaitu termasuk posisi vajra (金剛坐).
Posisi vajra sangat mantap.
Tentu bukan berarti harus begini.
Tetapi ada orang
yang tendon kakinya pendek atau kebiasaannya berbeda —
(kalau) kau memaksa duduk begini,
kau akan sangat menderita.
Tetapi duduk begini akan sedikit lebih baik.
Lalu tangan ini
yaitu membentuk sebuah mudra samadhi (定印),
sangat rileks,
ditaruh di depan kaki.
Mudra samadhi ini pun sangat penting.
Mudra samadhi yaitu: ketika kau duduk begini,
jasmani-rohanimu mudah memusat.
Pemusatan semacam ini sebenarnya
berkaitan dengan sejumlah postur kita.
Postur akan menuntun ke —
akan mempengaruhi qi di tubuh kita,
aliran napas ini —
kelancaran (napas).
(Bila) qi lancar, batin pun mudah
menenangkan diri.
Maka mudra samadhi ini,
postur-postur ini,
sebenarnya juga cukup penting.
Ini adalah tangan yang membentuk mudra samadhi.
Ada lagi satu poin penting,
yaitu tulang belakang ini.
Ini sangat penting.
Tulang belakang harus —
harus bagaimana?
Ditegakkan.
Harus ditegakkan,
"duduk seperti lonceng",
seperti sebuah lonceng,
seperti sebatang anak panah.
Harus ditegakkan.
Tetapi menegakkan ini —
karena
ini —
bagi banyak dari kita, menegakkan sebenarnya tidak mudah.
Kalau kau dengan sangat sengaja menegakkannya, sebenarnya sangat menyiksa.
Tetapi kita tahu ini —
tulang belakang ini adalah salah satu sasaran kita,
sebuah sasaran.
Ketika kita melakukannya,
perlahan-lahan harus (menuju itu).
Tentu melalui bantal duduk di bagian belakang ini,
ini —
akan relatif lebih mudah menegakkannya,
relatif lebih mudah menegakkannya.
Nah,
yaitu kita juga bisa melalui sejumlah napas dalam,
bisa melalui sejumlah napas dalam.
Seperti balon atau ban itu,
ketika tak ada udaranya ia mudah kempis.
(Ketika) kau menarik napas dalam,
semestinya terasa seperti mengisi udara ini ke dalam tubuh.
Menarik napas dalam, mengirim udara ke dantian,
lalu mengembuskannya keluar lewat mulut.
Kita bisa menarik napas dalam sekali.
Terasa tidak, ketika kita menarik napas dalam,
tubuh mudah tertopang tegak?
Ini sebuah (poin) —
yaitu bagaimana membuat
punggung sebisa mungkin duduk tegak.
Tetapi pada awalnya juga tak perlu terlalu sengaja.
Namun duduk tegak
adalah salah satu sasaran kita,
sasaran.
Lalu berikutnya,
poin penting berikutnya adalah ini —
bahu.
Bahu juga sangat penting.
Tentu tadi kita bahas,
ketika punggung tegak,
yaitu ketika kita duduk harus duduk
dengan tegap.
Tegap yaitu menghindari
menyandar ke belakang.
Kita menyandar, lebih nyaman,
tapi menyandar-menyandar lalu tertidur.
Nah,
lalu tak urung
jadi begini (membungkuk).
Ini semua cukup mudah
terjadi.
Maka duduk tegak,
"duduk seperti lonceng",
sungguh seperti sebuah lonceng duduk di sana —
terasa sangat profesional.
Kau akan merasakan kehidupan (dalam) sejenis
keprofesionalan semacam ini.
Ketika kau duduk sangat tegak,
sejenis ini —
tubuh tegak,
tubuh tegak,
tubuh lurus.
Di masa lalu disebut "duduk tegak dengan jubah rapi";
(bila) tubuhmu tegak,
qi pun lancar;
(bila) qi lancar,
batin pun tenang.
Maka ketika duduk,
sebisa mungkin menjaga sebuah
posisi tengah-tegak;
menjaga posisi tengah-tegak ini penting.
Lalu tadi dibahas bahu ini.
Bahu ini —
tentu kita bisa sedikit —
yaitu bahu sebenarnya harus rata-rata,
jangan membungkuk ke depan,
juga jangan ke
belakang.
Tentu ketika kami memberi bimbingan,
kami akan merasa tubuh ini
seolah sedikit seperti
rasa (condong) ke belakang.
Tetapi ia tak akan (condong) ke belakang terlalu banyak.
Yaitu bahu ini
yaitu rata-rata saja.
Kedua tangan kita ini,
tangan ini disatukan dengan lembut,
sebenarnya ia akan —
tangan ini bisa menopang tubuh ini tegak,
bisa menopangnya tegak.
Tentu tangan ini,
ketika ditaruh di lutut,
jangan terlalu bertenaga,
sebisa mungkin ditaruh rileks,
yaitu ditaruh di atasnya saja,
dengan sangat rileks,
ini —
ditaruh di atas lutut.
Lalu kepala ini juga sangat penting.
Kepala —
kepala ini bagaimana
ditaruh cukup tegap di atas leher —
yaitu jangan mendongak,
juga jangan begini menunduk.
Nah,
kepala ini harus tegap,
kepala harus tegap.
Kita membayangkan puncak kepala seolah
ditarik ke atas.
Kita merasa puncak kepala ditarik ke atas.
Nah, kita merasa,
ketika puncak kepala ditarik ke atas,
terasa puncak kepala menyentuh langit-langit,
dan tubuh ini secara alami akan tertarik lurus.
Lalu ketika kita melakukannya,
dagu ini sedikit harus (ditarik)
ke dalam sedikit.
Tentu juga tak perlu terlalu sengaja.
Tentu karena kita —
karena kadang terbentuk sejumlah kebiasaan buruk.
Tetapi yaitu, proses kita duduk bersila
yaitu
yaitu menyesuaikan tubuh dan batin.
Yang disebut "menyesuaikan" —
"menyesuaikan" yaitu pada awalnya
kita perlu membangun sebuah
pengetahuan yang benar.
Seperti seorang atlet, dikatakan
ia —
ini —
setiap cabang olahraga,
kalau kau perlu, di bidang ini,
pencapaian (yang) cukup besar,
sebenarnya
pada awalnya
gerakan-gerakan dasar ini sangat penting.
Kalau kau membakukan gerakan dasar,
kau baru bisa melangkah jauh.
Maka pengetahuan tentang (posisi) kepala ini.
Lalu berikutnya
adalah mata ini.
Mata ini, normalnya,
yaitu sedikit
agak dipejamkan,
yaitu
bisa menyisakan sepertiga cahaya (celah pandang).
Tentu sebenarnya ini tak ada yang pasti.
Misalnya, orang zaman sekarang seperti kita,
kalau kita merasa batin cukup kacau,
kita bisa memejamkannya seluruhnya.
Tetapi kadang kalau kau memejamkannya seluruhnya,
kau mungkin
mudah mengantuk.
Sebenarnya membukanya seluruhnya juga boleh,
untuk melawan kantuk.
Tetapi kadang,
(bila) dibuka,
ia juga mudah menjadi kacau melantur.
Maka (tradisi) menganggap ini —
yaitu mata ini perlu diturunkan (pandangannya) sedikit,
yaitu
kelopak mata ini diturunkan,
diturunkan sampai tingkat tertentu.
Nah, dengan begitu,
kita berada dalam sejenis —
yaitu pandangan mata ini,
menurut ungkapan tradisional,
misalnya (memandang) tiga bata atau lima bata (jauhnya),
kira-kira sebuah jarak semacam itu.
Nah, kalau kita merasa
(bila) dipejamkan,
sebenarnya batin lebih tenang,
lebih baik memusatkan batin,
sebenarnya kita memejamkannya juga boleh.
Maka mata ini juga bukan poin utama.
Nah, setiap orang
mungkin harus sesuai keadaan nyata (masing-masing).
Nah, ada lagi —
sebenarnya cara duduk masih ada satu poin penting,
yaitu lidah.
Lidah menyentuh langit-langit mulut,
yaitu ujung lidah menyentuh langit-langit mulut,
yaitu sedikit di belakang gusi.
Nah, ini yaitu —
ini, dalam tradisi Buddhisme,
yang dirangkum yaitu:
dalam proses meditasi kita,
bagaimana kita menyesuaikan
tubuh ini.
(Bila) tubuh sudah baik,
mantap seperti Gunung Tai,
duduk di sana bisa (dalam keadaan) tak tergoyahkan.
Tetapi proses ini yaitu:
pada awalnya,
kita perlu latihan selama suatu waktu.
Mungkin (terasa) tak terbiasa.
Tetapi kalau waktu latihan sudah lama,
duduk bersila kita
akan makin lama makin leluasa,
makin lama makin nyaman.
Ini —
waktu duduk
akan makin lama makin panjang.
Nah, berikutnya kita
akan membahas lagi
mengenai sisi penyesuaian batin ini.
Sisi penyesuaian batin ini —
sisi penyesuaian batin ini —
juga bisa punya
tiga poin penting,
tiga tingkatan,
tiga tingkatan.
Nah,
pertama-tama,
yaitu kita dalam
biasanya, dalam proses meditasi ini,
kita perlu memilih sebuah
sasaran,
yaitu memilih sebuah objek renungan (ālambana),
memilih sebuah objek renungan.
Objek renungan ini —
adakah yang pasti?
Sebenarnya juga tak ada yang pasti,
sebenarnya juga tak ada yang pasti.
Misalnya,
kita
setiap hari melakukan (sesuatu) —
objek renungan ini apa?
Yaitu berjalan,
berjalan.
Melalui objek renungan ini,
melalui objek renungan ini,
(kita) —
membantu kita melatih
daya pemusatan
dan
daya penyadaran.
Karena kita perlu punya sebuah objek,
yaitu ada yang direnungkan.
Dalam (meditasi) ketenangan ini ada dua macam renungan:
satu adalah ada objek renungan,
satu adalah tanpa objek renungan.
Tentu meditasi tanpa objek renungan
adalah sejenis meditasi
yang lebih tinggi tingkatnya.
Nah,
meditasi biasa
biasanya harus
memilih sebuah objek,
sebuah objek.
Misalnya mencuci mangkuk —
mangkuk ini adalah objek renunganmu.
(Misalnya) mencabut rumput —
rumput ini
adalah
ini —
objek renunganmu,
objek renungan meditasi.
Nah,
(misalnya) melafalkan nama Buddha —
nama Buddha adalah objek renungan.
Nah,
ketika kita membina perlindungan (kepada Tiga Permata),
ini —
juga disediakan dua metode.
Satu,
yaitu kita bisa membayangkan sebuah rupang Buddha,
ketika melafalkan Tiga Perlindungan,
melalui sebuah
rupang Buddha ini,
menambatkan batin pada rupang Buddha ini.
Atau,
menambatkan batin
pada
Buddha,
Buddha,
ini —
nama-Nya.
Secara keseluruhan,
objek renungan ini,
yaitu dalam proses meditasi,
objek renungan ini —
ia tak ada yang pasti.
Begini, kita kira-kira memahami:
kau memilih sebuah objek renungan yang baik
sudah cukup,
yang tak ada efek sampingnya.
Nah,
kau tak boleh memilih orang yang kaubenci,
atau orang yang kausukai secara khusus —
itu mungkin punya efek samping.
Maka ia harus (berupa) objek renungan
yang tak ada efek sampingnya.
Nah,
meskipun dikatakan tak ada yang pasti,
tetapi kita, dalam latihan ini —
kita, dalam proses latihan ini —
ia tetap perlu punya objek tertentu,
tak boleh tanpa objek.
Misalnya,
kita sekarang duduk (bermeditasi);
saat kita meditasi jalan,
kita dengan berjalan ini —
mengangkat kaki,
menggerakkan,
menurunkan kaki,
mengangkat kaki,
menggerakkan,
menurunkan kaki —
ini kita
menambatkan batin pada
sebuah objek berjalan semacam ini,
pada proses ini.
Nah, ketika kita duduk,
saat duduk bersila,
kita bisa memilih napas,
bisa memilih napas
sebagai objek renungan kita.
Nah, misalnya seperti ini —
di dalam Satipaṭṭhāna Sutta,
tentang persoalan ini
dibahas dengan sangat jelas.
Napas ini —
sebenarnya sebisa mungkin menjaga sejenis
keadaan napas yang alami,
jangan terlalu sengaja,
tak perlu terlalu sengaja.
Nah, ketika bernapas,
kita yaitu
bernapas dengan penuh pemusatan,
dengan sepenuh hati menaruh batin,
memusatkan pada,
menaruh batin memusat pada,
menaruh batin memusat pada
hal bernapas ini.
Nah, misalnya napas panjang —
kau tahu napas panjang;
napas pendek —
kau tahu napas pendek;
napas kasar —
kau tahu napas kasar;
napas halus —
kau tahu napas halus;
napas dingin —
kau tahu napas ini dingin;
napas panas —
kau tahu
napas panas.
Dalam proses ini
sebenarnya terkandung dua sisi,
terkandung dua sisi.
Satu,
yaitu menaruh batin kita
memusat pada sasaran ini,
memusat pada
tambatan napas ini.
Sebenarnya "samadhi" itu konsep apa?
Samadhi itu konsep apa?
Samadhi —
sebenarnya yaitu batin kita
secara berkelanjutan
tertambat pada sebuah objek,
tertambat pada sebuah objek,
bisa tertambat secara berkelanjutan,
lalu sampai seluruh batin
menenangkan diri,
kekotoran batin pun tak akan bangkit —
yaitu memusat (samadhi) dalam keadaan semacam ini.
Maka dalam "sembilan tahap batin yang berdiam" dibahas
ini —
yaitu berdiam ke dalam,
berdiam berlanjut,
berdiam mantap,
berdiam dekat,
lalu sampai apa: menjinakkan,
sampai menenteramkan (keheningan).
Yaitu batinmu,
setelah tertambat secara berkelanjutan,
perlahan-lahan
kekotoran batinmu tak akan bangkit,
batinmu pun menenangkan diri.
Tetapi sebenarnya,
tertambat pada keadaan ini
sebenarnya bukanlah
tujuan terpenting
meditasi kita.
Misalnya,
dalam proses meditasi,
kita mungkin —
ini —
kita sedang bernapas,
bernapas.
Nah, kita sekarang,
ini —
di atas (bantal) duduk,
kita mungkin tertambat pada
napas ini.
Tetapi kalau turun dari duduk,
kita mungkin
berjalan —
kita mungkin tertambat pada berjalan.
Kalau kita sedang mengerjakan sesuatu,
mungkin kita menambatkan batin pada
pekerjaan itu.
Yaitu, objek renungan ini
sebenarnya dalam kehidupan akan terus-menerus berubah.
Termasuk ketika kita di atas (bantal) duduk pun sama.
Misalnya kita duduk, duduk,
ini —
ini —
getar pikiran ini lari,
menjadi kacau melantur,
memikirkan banyak hal.
Nah,
nah, saat itu bagaimana?
Tentu sebenarnya, dalam proses meditasi,
karena setiap orang di antara kita —
kekacauan batin
sebenarnya itu sendiri
adalah sebuah kebiasaan batin kita.
Maka,
kau mengira begitu duduk bersila,
duduk di sana,
angan-angan apa pun sudah tak ada —
itu sangat jarang.
Terutama ketika kita baru mulai duduk bersila,
setiap orang yang duduk bersila,
sebenarnya yang perlu ditangani adalah
dua hal.
Satu,
yaitu
kekacauan (batin),
penyesuaiannya.
Dan satu lagi yaitu
kekantukan (kelesuan batin).
Kekantukan yaitu (keadaan) mengantuk-samar.
Termasuk (keadaan) tanpa sadar tanpa waspada.
Tanpa sadar tanpa waspada, dari makna tertentu,
ia juga sejenis kekantukan.
Nah, satu lagi yaitu
kekacauan —
yaitu berhamburan ke sana kemari,
berhamburan ke sana kemari.
Nah, bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini?
Sebenarnya inilah yang kita bahas tentang meditasi ini —
yang kedua:
tempat yang perlu kita tambatkan (batin),
sebenarnya yaitu
penyadaran (kesadaran),
penyadaran.
Meditasi —
(mengejar objek) —
poin utama kita sebenarnya bukan (untuk itu),
tujuan kita
bukan sungguh-sungguh hendak mengejar objek renungan ini.
Sebenarnya yang terpenting adalah mengembangkan
daya penyadaran kita,
mengembangkan daya penyadaran kita.
Yaitu,
sebenarnya ketika kita dalam kekantukan,
tak ada penyadaran.
Sebenarnya bukan hanya saat kekantukan —
saat kekantukan biasa,
kau mengantuk, apakah masih punya penyadaran?
Kau tertidur, apakah masih punya penyadaran?
Tak ada penyadaran.
Selain itu,
seringkali kita
berada dalam keadaan ketaktahuan,
keadaan ketaktahuan —
juga tak ada penyadaran.
Lalu ada kekacauan.
Kekacauan yaitu kau jatuh ke dalam ini,
jatuh ke dalam
getar-getar pikiran itu,
jatuh ke dalam angan-angan,
jatuh ke dalam emosi,
jatuh ke dalam berbagai macam pikiran.
Maka,
bagaimana kita bisa, dari keadaan-keadaan ini —
keadaan ketaktahuan,
yaitu keadaan tanpa sadar tanpa waspada,
keadaan kekantukan,
ini —
keadaan kekacauan,
keadaan (yang perlu) dibereskan —
bagaimana tak masuk ke keadaan-keadaan ini,
sekaligus bagaimana bisa keluar dari keadaan-keadaan ini?
Maka itu
memerlukan penyadaran.
Maka kita, dalam
Bodhi (Institute) —
asesmen psikologis bimbingannya —
yaitu,
menguji kekotoran batin seseorang,
sebenarnya
ini —
berat,
sedang,
atau
ringan —
sebenarnya ada tiga dimensi,
tiga dimensi.
Dimensi pertama —
ia memeriksa seberapa lama waktunya (kekotoran batin bertahan):
misalnya sesekali terjadi,
atau
sering terjadi.
Dimensi kedua
yaitu setelah (kekotoran batin) terjadi,
kau —
kapan kau menyadarinya:
apakah sudah lama sekali baru kau menyadarinya,
atau kau sama sekali tak bisa menyadarinya,
atau kau bisa segera menyadarinya.
Sebenarnya penyadaran ini,
dengan batin kita —
di satu sisi berkaitan dengan tingkat ketaktahuan,
di sisi lain
berkaitan dengan
tingkat terang batin,
tingkat cahaya (batin), ada kaitannya.
Kalau batinmu,
tingkat ketaktahuan ini
sangat tebal,
sebenarnya
kau mungkin selalu berada dalam keadaan tanpa sadar tanpa waspada,
kau sulit menyadari.
Tetapi kalau kau, melalui meditasi,
batinmu punya pegangan yang jelas,
atau bisa dikatakan lampu batinmu sudah menyala sampai tingkat tertentu,
bahkan lampu batin senantiasa menyala,
setiap saat menyala,
setiap saat menyala —
begitu getar pikiran apa pun muncul,
kau segera
mengetahuinya.
Yaitu, ini —
terhadap getar pikiran,
penyadaran (ini),
dengan
kekuatan pengetahuan-jernih (samprajñā) kita,
kekuatan mindfulness kita —
ia,
kuat atau tidaknya kekuatan ini,
punya kaitan yang sangat besar.
Maka meditasi kita sebenarnya perlu
mengembangkan sejenis
daya penyadaran semacam ini.
Nah, daya penyadaran semacam itu —
kekuatannya makin lama makin kuat.
Tentu sekarang,
ini —
mindfulness di masyarakat pun membahas daya penyadaran.
Tetapi kalau dari sudut Buddha-Dharma,
penyadaran yang kita bahas sekarang
sebenarnya di dalamnya terkandung pandangan benar,
niat benar,
mengandung unsur kebijaksanaan di dalamnya.
Maka,
(hanya) punya penyadaran —
itu tak cukup.
Yaitu harus,
dengan pandangan benar semacam ini,
dengan kebijaksanaan,
di atas landasan (itu),
penyadaran yang dibangun —
penyadaran semacam itulah
yang akan membawa kita menuju
pembebasan,
barulah
yang berdaya,
barulah yang berdaya.
Nah,
proses meditasi
yaitu di satu sisi kita perlu,
terhadap
sasaran ini,
terhadap sasaran objek renungan kita,
menjaga penyadaran;
sekaligus,
yang lebih penting apa?
Yang lebih penting adalah, terhadap kita —
dalam proses meditasi,
(segala) yang timbul —
semua aktivitas batin,
proses batin,
peristiwa batin —
semua bisa menjaga penyadaran,
bukan berada dalam
ketaktahuan
ketakwaspadaan.
Kita sekarang membahas proses batin,
peristiwa batin —
dengan
kehidupan nyata,
proses batin yang timbul pada kita,
serta, dalam kehidupan nyata,
berbagai
peristiwa batin —
sebenarnya sama atau tidak?
Tentu kita bisa bilang sama,
bisa juga bilang tak sama.
Sebenarnya semuanya adalah batin kita,
semuanya tak lepas dari batin kita,
semuanya tak lepas dari batin kita,
semuanya adalah kerja batin kita.
Nah, sebenarnya,
entah proses batin yang timbul di atas (bantal) duduk,
peristiwa batin,
atau setelah turun dari duduk,
menghadapi berbagai peristiwa
serta berbagai keadaan batin —
keadaan semacam ini,
proses batin semacam ini,
peristiwa kehidupan semacam ini
mungkin
sangat beragam berbeda-beda,
mungkin sangat beragam berbeda-beda.
Kita, di dalam —
seseorang, di dalam batinnya —
misalnya,
kau, dalam proses (hidup) yang panjang,
punya banyak pengalaman yang indah,
dan juga punya banyak pengalaman yang menyakitkan,
juga punya banyak berbagai angan-angan,
bahkan angan-angan yang tak terbayangkan.
Nah, sama halnya, dalam kehidupan nyata kita
juga demikian.
Nah, kalau kita tak
melalui latihan (yang diwariskan) ini,
kita mungkin, dengan membawa kebiasaan tumimbal lahir,
dengan membawa kebiasaan tumimbal lahir,
pola pengenalan tumimbal lahir,
menangani peristiwa-peristiwa ini.
Nah, apa pola pengenalan tumimbal lahir itu?
Yaitu keserakahan, kebencian, kebodohan.
Kalau tidak —
wah,
(kalau) suka,
lalu sangat melekat,
sangat menikmati,
sangat terlena.
Ini —
(kalau) tak suka,
lalu sangat menderita,
sangat
sedih.
Yaitu,
nah,
penyadaran,
daya penyadaran —
sejenis ini,
dalam proses meditasi kita,
penyadaran yang hendak kita kembangkan —
yang terutama yaitu, terhadap peristiwa-peristiwa ini,
menjaga sejenis
"mengetahui",
dengan sangat jelas
mengetahui.
Asalkan tahu, sudah cukup;
jangan masuk ke
sistem penilaian,
jangan masuk ke sistem pemikiran dan pembeda-bedaan pikiran ini.
Maka ini, dalam tradisi Vipassana, disebut
tak melekat,
tak terlena,
juga tak menilai,
juga tak membenci —
yaitu,
hal semacam ini
sebenarnya, dengan yang dikatakan aliran Chan,
dari makna tertentu,
cukup selaras,
cukup sepadan.
Misalnya seperti
"Prasasti Keyakinan Batin" (Xinxin Ming) dari Patriark Ketiga —
bagian pembukanya,
bagaimana bunyinya?
Disebut:
"Jalan Agung
tak sulit,
hanya hindari
memilih
dan memilah;
asalkan jangan (ada)
benci dan cinta,
dengan gamblang
(semuanya) jelas.
Seujung rambut
ada beda,
langit dan bumi
terpisah jauh."
Ia berkata, Jalan Agung ini —
Jalan tertinggi ini,
kebenaran ini —
sebenarnya tak ada yang sulit.
Ia memang sudah ada di sana.
Setiap orang,
sebenarnya,
ini —
semua memilikinya, bukan?
Semua memilikinya.
Tetapi "hanya hindari memilih-milah" —
yaitu (ketika) kita masuk ke dalam
pertentangan dualistik,
benar-salah,
penilaian.
Begitu ada "memilih-milah" ini,
yaitu hal-hal ini datang,
kita masuk ke dalam sistem pembeda-bedaan pikiran ini,
masuk ke sistem pembeda-bedaan pikiran.
Tentu,
ini —
tentu (jika) kita sudah menghayati Jalan Agung,
sebenarnya sudah membeda-bedakan pun,
membeda-bedakan pun tak apa;
kau tak akan terjerumus ke dalam kemelekatan pada pembeda-bedaan.
Misalnya seperti yang dikatakan dalam Sutra Vimalakīrti:
"Mampu dengan cermat membeda-bedakan tanda segala dharma,
namun pada makna hakiki (paramārtha) tak tergoyahkan."
(Kalau) kau tertambat pada tataran kekosongan,
kau membeda-bedakan pun
sebenarnya kau tak akan terjerumus ke dalam (nya),
tak akan melekat.
Pembeda-bedaan kita orang awam pasti akan disertai kemelekatan,
maka kau akan tersangkut di
dunia pertentangan dualistik,
kau tak bisa menghayati
batin asli yang jernih.
Maka yaitu,
yaitu menghadapi (semua itu) —
entah di atas (bantal) duduk,
atau setelah turun dari duduk —
di satu sisi,
meditasi ini —
ini, mengapa aliran Chan —
ia,
ia,
ia —
(mengajarkan) membina diri di tengah kehidupan.
Karena, sesungguhnya, meditasi
adalah sejenis mind-dharma (metode batin).
Ia menghendaki kita menghayati batin asli.
Maka bukan berarti kita cukup hanya membina diri di atas (bantal) duduk.
Kuncinya adalah kita harus membawa mindfulness semacam ini
ke dalam kehidupan,
menghadapi setiap orang dan setiap perkara,
kau bisa membawa sejenis penyadaran semacam ini,
daya penyadaran.
Penyadaran yaitu (mengetahui) dengan sangat jelas;
batinmu senantiasa dalam keadaan jernih-terang,
menjaga sejenis keadaan penyadaran.
Ketika batinmu tertambat pada penyadaran ini,
dalam proses penyadaran semacam ini,
daya perenungan ini
akan membuatmu tak terjerumus ke dalam objek renungan,
karena ia sudah melompat keluar dari keadaan itu.
Nah, di sisi lain, kekuatan Vipassana yang penuh penyadaran semacam ini
punya kemampuan untuk meredakan dan meluruhkan keadaan-keadaan ini,
gangguan yang ditimbulkan getar-getar pikiran ini pada kita.
Maka mengapa proses meditasi ini harus punya pandangan benar?
Sebenarnya dalam proses meditasi kita,
mengapa kita tak bisa menghayati batin asli?
Sebenarnya yang perlu kita tangani ada dua hal.
Satu adalah bayangan-bayangan yang muncul di dalam batin kita,
dan satu lagi adalah berbagai getar pikiran kita,
berbagai aktivitas batin.
Tentu berbagai aktivitas batin itu ada;
berbagai aktivitas batin meliputi berbagai kekotoran batin,
berbagai emosi.
Sebenarnya manusia hidup di dalam bayangan dan getar pikiran semacam itu.
Kau akan tersangkut pada kemelekatan terhadap bayangan-bayangan ini,
kau akan tersangkut di dalam getar pikiran,
terjerumus ke dalam berbagai emosi,
berbagai kemelekatan,
berbagai kebencian,
berbagai keterlekatan,
kau akan tersangkut di dalam emosi semacam itu.
Maka seluruh kebijaksanaan kekosongan (śūnyatā) Buddha-Dharma
semuanya sedang membantu kita.
Misalnya kita —
karena seringkali keadaan-keadaan ini,
seberapa besar sebenarnya pengaruhnya pada kita,
serta keterlekatan
dan kebencian
yang ditimbulkan keadaan-keadaan ini —
seberapa besar sebenarnya kekuatannya?
Sebenarnya
berkaitan dengan
seberapa besar tingkat kita menganggap penting
keadaan itu.
(Terhadap) hal yang kaupedulikan —
misalnya di keluargamu,
apa kemelekatan yang paling penting?
Apa itu — anak,
ini —
ini — suami-istri,
hubungan suami-istri,
ini — dan juga kariermu.
Hal-hal ini semua yang paling mudah kaupedulikan.
Ia, di dalam batinmu,
yang terakumulasi —
emosi-emosi ini,
kekuatannya pun sangat besar.
sangat besar.
Maka di masa lalu, dalam Buddhisme Tiongkok,
dalam sejarah Tiongkok, seperti Sutra Intan,
Sutra Hati —
mengapa sutra-sutra ini, banyak (orang) —
ia menjadi
kitab yang digemari masyarakat luas?
Yaitu, kebanyakan orang membaca-baca
"segala dharma berkondisi bagaikan mimpi, khayalan, gelembung, bayangan,
bagaikan embun dan juga bagaikan kilat;
demikianlah semestinya (kita) merenung."
Kau memandang hal-hal ini dengan ringan;
setelah memandangnya dengan ringan,
maka keadaan-keadaan ini, di dalam batinmu,
kekuatan yang ditimbulkannya tak lagi sekuat itu.
Ketika (kekuatannya) tak sekuat itu,
sebenarnya,
nah, pada saat itu,
ini —
daya penyadaran kita,
daya penyadaran ini punya kemampuan untuk cepat meluruhkan
keadaan-keadaan ini,
persoalan-persoalan batin ini.
Nah, daya penyadaran ini akan makin lama makin kuat.
Maka,
melatih pengetahuan-jernih dan mindfulness semacam ini,
pemupukan daya penyadaran semacam ini,
adalah, dalam meditasi kita, sebuah
poin yang sangat
penting,
poin.
Maka poin pertama yang tadi kita bahas adalah kita memilih sebuah objek renungan.
Poin kedua
yaitu
poin utama kita
sebenarnya yaitu hendak mengembangkan,
hendak mengembangkan penyadaran semacam ini.
Sebenarnya memilih sebuah objek
itu hanya sebuah
kondisi pendukung.
(Kita) harus membawa penyadaran ke dalam
setiap
saat kini kehidupan.
Nah, ini
yang kedua,
poin penting yang kedua.
Poin penting yang ketiga
yaitu kita,
setelah melalui meditasi sampai tingkat tertentu,
kita harus melepaskan penyadaran ini,
melepaskan penyadaran ini.
Termasuk
kita sekarang duduk bersila,
kita harus melepaskan
berbagai
penetapan,
sasaran,
pengejaran.
Semua ini
semuanya
dilepaskan,
termasuk penyadaran ini
pun dilepaskan.
Kita perlu —
ketika kau melepaskan semua ini,
kau bisa menghayati
sejenis (batin) yang seperti
batin yang seperti ruang kosong,
batin yang seperti ruang kosong.
Batin yang seperti ruang kosong ini —
sebenarnya penyadaran batin kita —
tentu sebenarnya penyadaran ini terbagi menjadi dua tataran:
satu adalah tataran yang disadari,
satu adalah
tataran yang melampaui kesadaran (yang disadari).
Batin kita
dengan sendirinya sudah memiliki fungsi "mengetahui dengan sangat jernih" semacam ini.
Batin ini,
kekosongan ini sebenarnya memiliki dua ciri:
satu adalah kosong,
satu adalah
terang.
Kita, ketika melakukan ini —
ketika membina perlindungan,
ketika membina perlindungan,
kita —
ini —
ini —
ini —
ini — membuat kalian
pergi
mengenali batin sendiri.
Batin sebenarnya seperti apa?
Batin sebenarnya seperti apa?
Misalnya,
getar pikiran kita sekarang —
sebenarnya ada atau tidak
warna?
Ada atau tidak
bentuk?
Nah, kita, melalui
pengamatan,
sebenarnya pada saat itu
kau akan mendapati
sebenarnya batin
adalah
tanpa bentuk tanpa tanda.
Batin tanpa bentuk tanpa tanda.
Batin seperti apa?
Kau tanya dirimu sendiri, batin seperti apa?
Nah, pada saat itu
kau akan menghayati sisi kosong batin ini,
sisi yang tak dapat digenggam sama sekali.
Tetapi ketakdapatan digenggam semacam ini,
ia juga bukan berarti tak ada apa-apa sama sekali.
Sekaligus,
ia juga memiliki
"mengetahui dengan sangat jernih",
dengan sangat jelas.
Maka pembinaan diri yang sejati,
pembinaan diri yang piawai — ia tak perlu melakukan apa pun.
Ketika kau tak lagi terjerumus ke dalam
kebingungan,
kekotoran batin,
angan-angan yang terbalik —
sebenarnya kau bisa menghayati
kejernihan
batin asli.
Batin jernih ini
sebenarnya
memang sudah ada di sana.
Maka kita, dalam proses meditasi ini,
sebenarnya kita bisa —
ini —
yang tadi dibahas,
tiga
tiga tataran ini,
tiga sisi.
Kita bisa —
tiga sisi — sebenarnya dua sisi yang di depan,
ia adalah —
dalam proses kita bermeditasi:
satu adalah
memilih sebuah objek renungan.
Kita —
yaitu
melalui memilih sebuah objek renungan,
yang terpenting adalah
membantu kita melatih
daya pemusatan,
melatih daya pemusatan.
Setiap peristiwa dalam kehidupan,
setiap perkara,
semua bisa menjadi
pembinaan meditasi ketenangan (śamatha)
untuk melatih daya pemusatan kita.
Nah, ini bukan hanya
di
atas (bantal) duduk;
yang lebih penting adalah
kita harus memperluasnya ke setelah turun dari duduk,
memperluasnya ke setelah turun dari duduk,
memperluasnya ke
dalam kehidupan.
Nah,
langkah kedua
sebenarnya adalah:
di atas landasan meditasi ketenangan ini,
lalu
kita harus punya daya penyadaran,
pembinaan daya penyadaran,
yaitu penyadaran,
penyadaran —
pembinaan kekuatan
semacam ini.
Ini
sangat penting.
Ini adalah
sebuah poin utama
dalam
meditasi kita.
Meditasi
sebenarnya yaitu hendak membawa sejenis
kekuatan penyadaran
ke dalam
segala aspek kehidupan.
Tentu, ini yang tadi dibahas —
penyadaran ini bukan hanya menyadari kita —
yaitu, dalam proses kita mengenali dunia,
ia senantiasa
mengandung
dua sisi:
subjek (grāhaka) dan objek (grāhya).
"Objek"
yaitu objek (sasaran);
"subjek"
yaitu (yang) bersifat batin.
Ketika kita menghadapi setiap objek,
semua akan menimbulkan
(yang) bersesuaian —
(proses) batin,
serangkaian proses batin.
Nah, penyadaran kita,
daya penyadaran —
ia bukan hanya hendak menyadari
sebuah objek;
sebenarnya yang lebih penting adalah menyadari
berbagai
fenomena batin kita,
melihat kita masuk ke keadaan apa —
masuk ke batin serakah,
atau masuk ke batin benci,
atau masuk ke batin dengki,
atau masuk ke batin apa.
Kita bisa dengan cepat menyadarinya,
termasuk terhadap batin kita —
(yang) timbul,
dalam proses timbulnya,
berbagai perasaan yang timbul:
apakah kita melekat atau tidak,
apakah kita menyukai atau tidak,
apakah kita menentang atau tidak,
apakah kita membenci atau tidak —
semua bisa
dengan sangat jelas
diketahui.
Nah,
sebenarnya kita, dalam proses (menghadapi) nafsu keinginan ini,
termasuk ketika membina ketenangan (śamatha) —
kadang boleh juga, yaitu,
ini —
memusat pada sebuah objek.
Nah, kadang boleh juga memupuk sejenis pemusatan yang terbuka,
pemusatan yang terbuka —
yaitu kita tertambat di atas landasan penyadaran ini,
kita tak menetapkan objek apa pun,
tetapi terhadap segala sesuatu di sekeliling
serta proses batin
diri sendiri.
Ini, kalau dilukiskan dengan sebuah kalimat dari Buddhisme, yaitu:
bagaimana membuat batinmu
senantiasa bisa menjaga (keadaan)
"batin bagai cermin terang",
seperti sebuah cermin.
Cermin ini —
ia bisa
memantulkan-menerangi
berbagai benda,
tetapi
ia tak akan menyukai,
juga tak akan membenci.
Nah, kadang kita merasa,
"Aduh, kita harus memusat lagi harus menyadari lagi,
setiap hari berlatih begini sebenarnya cukup melelahkan."
Maka dari waktu ke waktu
kita bisa melakukan sejumlah pembinaan (dengan cara) "melepaskan".
Misalnya kau berbaring di ranjang untuk tidur,
kau berbaring —
itu pun sama bisa (menjadi) meditasi.
Cuma, tak sengaja lekas tertidur.
Yaitu, kau merasa —
kau tidur, kan, kau tak punya sasaran apa pun,
tak punya penetapan apa pun.
Batinmu,
kau sangat mudah
melepaskan segalanya sama sekali.
Nah, kadang kita —
misalnya,
ini —
di suatu tempat, tak melakukan (apa pun),
seperti kita di acara minum teh malam pertengahan musim gugur (Zhongqiu) ini,
kita —
kita —
membuat kalian belajar tidak melakukan apa pun,
lalu menghayati batin yang tak melakukan apa pun ini.
Tentu "tak melakukan apa pun" yang saya maksud
yaitu (tak) dengan sengaja melakukan apa pun.
Tentu batinmu mungkin akan punya getar pikiran;
ini pun tak kita tolak,
kita menjaga penyadaran.
(Kalau) kau (memaksa) dirimu tak memikirkan apa pun,
memaksa dirimu tak memikirkan apa pun,
sebenarnya kadang ada kesulitannya.
Tetapi sebenarnya berpikir tak apa,
kita semua cukup tahu (saja) —
tahu (saja) sudah cukup, tak berlebihan;
tahu — tak masalah.
Nah, kita bisa melakukan sejumlah,
yaitu,
pembinaan "tak melakukan apa pun".
"Tak melakukan apa pun" yaitu melampaui segala konsep.
Meditasi, mencapai kebuddhaan, tercerahkan, terbebaskan —
semuanya dilepaskan.
Sebenarnya, karena semua benda ini sesungguhnya adalah sebuah
pengandaian yang bersifat cara terampil (sementara),
yang pada akhirnya semuanya membantu kita
menghayati batin jernih — sebuah cara terampil.
Di dalam batin jernih ini sebenarnya tak ada benda-benda ini.
Tetapi,
Buddha perlu membimbing kita makhluk hidup,
menyasar kekotoran batin, kelahiran-kematian,
kemelekatan kita —
maka Ia baru punya sedemikian banyak pengandaian terampil.
Maka ketika kita
belajar tak melakukan apa pun,
mungkin pada saat itu kita sungguh-sungguh akan
menghayati batin telanjang kita ini,
batin yang tak terbungkus.
Ini, yang dikatakan dalam Sutra Śūraṅgama:
"Batin gila seketika berhenti;
berhenti, itulah bodhi (pencerahan)."
Batinmu beristirahat,
beristirahat,
sebenarnya kau bisa
merasakan,
yaitu,
sangat jernih dan hening,
sangat jelas,
"mengetahui dengan sangat jernih",
lalu juga kosong melompong.
Menghayati batin semacam ini —
batin ini tampak sangat biasa,
seolah sangat biasa,
tetapi pembinaan diri —
yang hendak ia hayati justru adalah batin ini.
Kau perlu terus-menerus mengakrabinya,
kau harus membawa keadaan semacam ini ke dalam kehidupan.
Kalau kau tak membina diri dengan sangat sungguh-sungguh,
kau belum bisa melakukannya,
tidak mudah.
Karena
ketaktahuan, kekotoran batin, debu-grime, kebiasaan (samsara) kita semacam ini —
kekuatannya terlalu kuat.
Maka kita punya kedua langkah di depan ini
sebagai landasan;
kita, saat sungguh —
ada kesempatan, ada (langkah) ketiga:
membina diri (dengan cara) tak melakukan apa pun.
Lalu (kalau) kita merasa, membina diri dengan tak melakukan apa pun,
dibina-dibina, terasa tak ada kekuatan,
maka kita
masuk lagi ke (langkah) pertama,
kedua,
dibina baik-baik.
Lalu setelah dibina-dibina,
batin kita,
debu-grime ini,
sudah terkelupas sampai tingkat tertentu.
Nah, pada saat itu kita
dengan wajar melepaskan,
mengosongkan,
merilekskan,
mengosongkan
ini —
diri sendiri.
Nah, kita pun
punya kemampuan,
kita pun punya kemampuan untuk menghayati batin yang seperti ruang kosong ini.
Nah, ini —
tiga proses —
yaitu,
saya rasa, sebagai meditasi,
kalau bisa menggabungkan ketiga proses ini
dalam pemakaiannya,
dengan langkah pertama dan langkah kedua sebagai landasan,
langkah ketiga yaitu menghayati
keadaan-batin nir-pikiran ini
sebagai
dasar ajaran (zong).
Seperti yang dikatakan dalam Sutra Panggung (Platform Sutra):
"nir-pikiran sebagai dasar ajaran,
nir-tanda
sebagai
wujud,
nir-diam (tanpa melekat)
sebagai akar."
Nir-pikiran
yaitu batin yang seperti ruang kosong, yang melampaui getar pikiran.
Menghayati batin ini
adalah tujuan pokok pembinaan diri.
"Nir-tanda sebagai wujud":
batin yang seperti ruang kosong ini —
ia tanpa tanda,
tak berada dalam wujud apa pun.
Batin yang seperti ruang kosong ini —
ia menerangi tanpa melekat,
ia tak ada kelekatan,
ia tak dibebani oleh dharma-dharma yang keliru,
ia bisa mencapai (keadaan) "melewati serumpun ratusan bunga,
tak sehelai daun pun melekat di badan".
Ia adalah sejenis kekuatan
tak-melekat yang sejati.
Nah, hari ini kita memperkenalkan metode-metode ini.
Nah,
nah,
sudah bicara sekian lama, toh tetap harus duduk bersila.
Berikutnya kita tetap akan melakukannya sebentar.
Kita tetap ini —
dengan metode pertama dan
metode kedua,
yaitu:
pertama pilih
daya pemusatan.
Daya pemusatan yaitu
ini — dengan napas ini,
dengan napas alami.
Tentu kita bisa juga menarik napas dalam beberapa kali dulu.
Nah, ketika mengikuti napas ini,
kita akan melihat ini —
yang disebut ajaran Mahasi (Sayadaw) dari (tradisi) Selatan:
ia menganggap napas ini,
kita memperhatikan naik-turunnya perut ini,
dalam proses bernapas.
Tentu karena napas orang zaman sekarang cukup pendek,
kebanyakan hanya sampai ke dada,
maka bagimu masuk ke perut agak tak mudah.
Maka ini perlu latihan selama suatu waktu.
Pada awalnya boleh saja menaruh tangan di perut
sebentar,
lalu ditaruh (di tempat lain) lagi.
Nah, kadang kita bisa juga melakukan sejumlah latihan berbaring di ranjang;
berbaring di ranjang kau merasakan perut ini,
sekali naik sekali embus,
sekali naik sekali embus.
Lakukan sejumlah (latihan) seperti ini,
dengan penuh perhatian lakukan sejumlah latihan seperti ini.
Lalu, dalam proses naik-turun ini, kita menjaga sejenis
yaitu "mengetahui dengan jernih",
yaitu
daya penyadaran,
dengan sangat jelas.
Termasuk,
kalau dalam latihan kita timbul (sesuatu),
angan-angan datang,
kita juga jangan
menolaknya;
kita cukup menjaga daya penyadaran,
lalu membawa batin
kembali ke
napas,
melanjutkan bernapas.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya