0:00 Pertemuan sebelumnya
0:30 meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi kalian,
0:42 sehingga pengumuman (kegiatan) ini pun disebarkan.
0:47 Maka pada pertemuan kali ini
0:53 kalian mengajukan permohonan.
1:08 Studi berjenjang tiga tingkat —
1:11 pada tahap awal kita pun sudah, dalam studi seluruh sistem,
1:31 meletakkan landasan yang baik.
1:38 Dari sisi pembinaan diri,
1:42 sebaiknya kita pun
1:50 memasuki
1:51 (tahap) membina secara menyeluruh faktor-faktor penawar (kekotoran batin),
1:57 yaitu pembelajaran tentang tiga puluh tujuh faktor pencerahan (bodhipakṣa).
2:04 Banyak orang merasa (ini) seolah "gatal-gatal",
2:13 ingin sekali mencobanya.
2:21 Tetapi karena tempat pembinaan,
2:24 termasuk berbagai sebab sekarang,
2:26 ya —
2:28 maka
2:30 sampai sekarang belum,
2:33 belum mulai memberikan bimbingan yang terstruktur.
2:43 Hari ini jodohnya cukup baik.
2:50 Bagian "meditasi mindfulness" ini —
2:52 pada tahap awal kita pun, mengenai hubungannya dengan studi berjenjang tiga tingkat,
3:00 sudah cukup banyak dibahas.
3:03 Terutama,
3:07 sejak tahun lalu atau tahun sebelumnya,
3:15 tujuh tahun ini,
3:16 kami terus-menerus membimbing kalian
3:20 melakukan meditasi jalan (caṅkrama) ini,
3:25 meditasi jalan mindfulness.
3:28 Mengenai wejangan tentang sisi ini,
3:41 saya sudah menyampaikan —
3:42 sekarang di internet
3:45 kira-kira ada lebih dari dua ratus ceramah.
3:50 Sebenarnya mindfulness sekarang menyapu seluruh dunia.
3:59 Tetapi mindfulness semacam ini,
4:03 meskipun berasal dari Buddhisme,
4:11 seolah-olah
4:13 tak punya banyak kaitan dengan Buddhisme lagi.
4:16 Ia menjadi sejenis (hal yang) bersifat teknis:
4:19 bagaimana, melalui sebuah teknik semacam ini,
4:22 lalu menyelesaikan berbagai persoalan orang zaman sekarang —
4:26 apa itu mindfulness untuk mengurangi stres,
4:31 apa itu (mindfulness) dalam bidang medis,
4:34 manajemen perusahaan,
4:37 riset ilmiah,
4:40 pendidikan.
4:41 Tetapi mindfulness Buddha-Dharma harus mengarah pada pembebasan,
4:50 harus mengarah pada kesadaran,
4:52 harus mengarah pada kesadaran dan pembebasan.
5:00 Ia perlu, dengan
5:03 Buddha-Dharma,
5:04 seluruh Buddha-Dharma ini,
5:09 menjalin kaitan.
5:11 Karena, secara sederhana,
5:21 mindfulness ini adalah salah satu mata rantai Jalan Berunsur Delapan.
5:26 Meditasi mindfulness
5:27 adalah salah satu mata rantai Jalan Berunsur Delapan.
5:31 Nah, sebenarnya Jalan Berunsur Delapan juga ada pandangan benar,
5:33 ada pula niat benar,
5:35 ada pula perbuatan benar,
5:37 penghidupan benar,
5:39 upaya benar,
5:40 perhatian benar (mindfulness),
5:43 sampai konsentrasi benar.
5:48 Sebenarnya pembinaan diri Buddha-Dharma
5:50 adalah sebuah sistem.
5:56 Tentu,
5:58 kita hari ini di sini membahas mindfulness
6:00 bukan berarti semata-mata hanya sebuah mindfulness.
6:04 Ia semestinya seluruh meditasi,
6:08 Chan dari samadhi —
6:09 sebuah meditasi semacam ini,
6:12 di dalamnya
6:13 ada bagian mindfulness,
6:18 ada pula ini —
6:22 bagian nir-pikiran (tanpa-pikiran)
6:23 yang hendak dicapai
6:29 Chan ini.
6:30 Dari mindfulness
6:33 sampai nir-pikiran —
6:35 sebenarnya, dari makna tertentu,
6:39 nir-pikiran itu sendiri
6:45 juga adalah mindfulness tertinggi.
6:49 Nir-pikiran
6:50 adalah mindfulness tertinggi.
6:59 Nah,
7:00 di masa lalu,
7:02 aliran Chan ini —
7:05 kita tahu aliran Chan pada masa Dinasti Tang dan Song
7:12 sempat berjaya untuk suatu masa.
7:15 Waktu itu para "naga dan gajah" (guru besar) bermunculan.
7:20 Kau lihat, kalau kita membuka ini —
7:22 membuka ini —
7:27 ada beberapa kitab yang mencatat pencerahan para patriark ini,
7:32 misalnya seperti
7:37 ini —
7:38 "Catatan Menunjuk Bulan" (Zhiyue Lu),
7:41 "Catatan Penerusan Pelita Era Jingde" (Jingde Chuandeng Lu),
7:42 "Kumpulan Lima Pelita" (Wudeng Huiyuan),
7:45 yang mencatat lebih dari seribu tujuh ratus gong'an.
7:53 Yaitu, kita melihat
7:54 pada waktu itu
7:56 pembinaan aliran Chan —
7:59 ada banyak patriark aliran Chan
8:02 yang, melalui pembinaan Chan,
8:04 tercerahkan,
8:06 tersadarkan,
8:08 terbebaskan.
8:10 Tetapi
8:12 Buddha-Dharma, sampai
8:14 setelah Dinasti Song-Yuan-Ming-Qing,
8:16 kembali menuju kemunduran.
8:19 Karena aliran Chan
8:20 langsung menunjuk hati manusia,
8:23 langsung menunjuk pada hati manusia,
8:26 ini langsung dan tegas.
8:28 Pembinaan diri
8:29 yaitu hendak menghayati hal yang paling inti ini,
8:32 yaitu hati asli kita.
8:39 Tetapi
8:43 ini, terhadap
8:48 akar (batin) manusia, ada tuntutannya.
8:51 Tentu, sekaligus harus ada guru yang baik.
8:57 Maka pembinaan diri —
9:00 ini —
9:02 kalau tak punya kemampuan,
9:04 yaitu tak bisa mencapai (titik itu) —
9:05 bagaimana?
9:06 Terhadap titik yang hendak dihayati aliran Chan ini,
9:10 perkara "melampaui ke atas" —
9:12 kalau tak bisa dicapai, bagaimana?
9:16 Maka kita bisa menambahkan sebuah tangga untuknya.
9:17 Maka inilah
9:21 (pembinaan) bertahap,
9:24 pandangan dan pembinaan (secara bertahap).
9:28 Ini —
9:30 mengapa tak bisa dicapai?
9:31 Penyebabnya adalah debu dan grime pada hati kita terlalu tebal.
9:40 Maka kita perlu, melalui pembinaan bertahap,
9:46 terus-menerus
9:48 menyapu debu dan membersihkan grime,
9:49 grime batin dibersihkan sedikit demi sedikit,
9:52 lalu debu-grime batin kita makin lama makin tipis.
10:00 Pada saat itu,
10:03 untuk menghayati hati asli
10:06 pun tak sulit lagi.
10:10 Maka akar (batin) —
10:11 tajam dan tumpul —
10:13 sebenarnya juga tak ada yang pasti.
10:20 Ini seperti sebilah
10:21 pedang yang sangat tumpul:
10:23 terus-menerus diasah,
10:26 diasah dan diasah,
10:27 ia menjadi sebilah pedang yang tajam.
10:31 Akar (batin) pun sama.
10:34 Maka studi berjenjang tiga tingkat kita
10:37 sebenarnya yaitu (bertujuan) membuat
10:41 setiap orang —
10:43 asalkan kita melalui sebuah keyakinan semacam ini,
10:45 studi (ini),
10:48 akar (batin) kita,
10:50 kita semua bisa, dari akar yang tumpul,
10:52 menuju akar yang tajam.
10:56 Nah, pada saat itu, datang lagi
10:58 menghayati hati asli —
11:00 pun tak sulit lagi.
11:02 Maka sulitnya aliran Chan terletak pada:
11:06 yaitu,
11:08 tak ada tempat untuk mulai (bertindak),
11:11 tak tahu dari mana harus mulai.
11:13 Kau boleh bilang ini
11:14 (seperti) nyamuk menggigit sapi besi —
11:17 tak ada tempat untuk menancapkan (gigitan).
11:21 Nah, kita —
11:22 maka dalam pembinaan diri ini,
11:25 ini —
11:26 banyak hal yang mendasar,
11:28 hal-hal bertahap,
11:29 juga cukup penting.
11:33 Landasan dan tahapan ini
11:35 juga bukan hanya sebuah
11:39 tataran ajaran-teori.
11:40 Kita membahas ini —
11:45 perlindungan (kepada Tiga Permata),
11:46 pembangkitan tekad (bodhicitta),
11:48 tahapan jalan,
11:51 pandangan benar ini —
11:55 ini satu tataran.
11:57 Ada lagi satu tataran,
11:59 yaitu dalam
12:03 pembinaan diri yang nyata,
12:07 dalam
12:09 pembinaan śamatha-vipaśyanā (ketenangan dan pandangan terang) ini,
12:13 bagaimana kita bisa,
12:17 selangkah demi selangkah,
12:19 mencapai inti ini.
12:20 Yaitu,
12:27 bukan berarti —
12:28 mengenai suatu sasaran,
12:32 banyak orang
12:33 begitu memikirkan aliran Chan
12:34 langsung memikirkan tercerahkan,
12:36 melihat sifat sejati.
12:37 Tetapi tercerahkan dan melihat sifat sejati ini,
12:46 kalau tak ada metodenya,
12:49 sebenarnya ia juga sangat mudah menjadi
12:52 Chan bibir belaka (口頭禪).
12:53 Maka pada tahap awal kita,
12:59 di satu sisi kita, dalam
13:02 sisi ajaran-teori,
13:04 termasuk meditasi delapan langkah,
13:07 menyelesaikan kekotoran batin kita yang kasar,
13:10 bahkan kelak setelah kita punya
13:12 meditasi mindfulness ini,
13:17 meditasi analitis dari meditasi delapan langkah semacam itu
13:21 juga bisa menjadi bagi kita sebuah cara terampil untuk menembus
13:23 kekosongan (śūnyatā).
13:29 Ini —
13:34 nah, kita,
13:36 ini —
13:38 malam ini,
13:40 tentu kita ini —
13:44 tetap perlu memahami sedikit
13:46 pengetahuan tentang meditasi,
13:49 serta kelak, dalam meditasi
13:51 pada tahap studi ini,
13:52 poin mana saja yang mungkin akan kita pentingkan.
13:57 Ada satu sisi
13:59 yang perlu diperkenalkan dulu kepada kalian.
14:04 Nah, meditasi
14:06 terutama tetap
14:08 ini —
14:12 berkaitan dengan
14:14 ini —
14:17 penyesuaian tubuh,
14:19 sisi tubuh —
14:20 pengetahuan
14:21 ini,
14:23 landasan (pengetahuan) —
14:25 dan
14:28 serta bagaimana kita memakai batin.
14:31 Di masa lalu, membahas Chan selalu ada penyesuaian tubuh,
14:33 penyesuaian napas,
14:36 penyesuaian batin.
14:40 Tentu secara sederhana,
14:42 yaitu tubuh dan batin,
14:45 dua sisi.
14:46 Di masa lalu, banyak dari kita —
14:49 kita terpengaruh oleh aliran Chan ini,
14:51 ini —
14:52 yaitu (anggapan) "kan ini Chan":
14:54 karena
14:55 "berjalan pun Chan,
14:56 duduk pun Chan",
14:57 "mengangkut kayu dan menimba air pun Chan",
14:59 "berpakaian dan makan pun Chan" —
15:01 maka terhadap hal "duduk bersila" ini
15:04 kurang dipentingkan.
15:07 Duduk —
15:10 sebenarnya duduk bersila ini,
15:13 duduk dengan baik,
15:14 sebenarnya adalah landasan yang sangat penting
15:18 untuk kita bermeditasi dengan baik.
15:22 Tentu meditasi tak terbatas pada duduk bersila,
15:25 tetapi duduk bersila
15:28 akan menjadi sebuah
15:31 kondisi pendukung
15:32 yang sangat baik.
15:34 Ia membuat batin kita
15:36 lebih tenang,
15:37 lebih bisa menenangkan diri,
15:43 membuka —
15:43 membuka kebijaksanaan.
15:45 Ini —
15:46 duduk,
15:46 duduk dengan baik,
15:49 ini adalah sebuah bagian yang sangat penting.
15:54 Nah, dalam Buddhisme dibahas ini —
16:00 mengenai
16:01 ini —
16:03 meditasi,
16:07 bagaimana menyesuaikan tubuh kita —
16:10 yaitu ada "metode tujuh titik".
16:13 Apa itu "metode tujuh titik"?
16:14 Sebenarnya yaitu:
16:16 ketika duduk bersila,
16:16 terhadap tubuh,
16:22 tuntutan terhadap tubuh ada tujuh poin penting.
16:24 Ketika kalian duduk bersila, pernah merasakan
16:27 gangguan yang ditimbulkan tubuh?
16:29 Kaki tak tahan duduk,
16:32 pinggang pegal punggung nyeri,
16:36 berbagai masalah.
16:39 Tetapi kalau duduk dengan baik,
16:40 maka masalah-masalah ini
16:43 perlahan akan berkurang.
16:47 Dan sendi-sendi (aliran qi) tubuh yang duduk dengan baik ini
16:48 akan lebih lancar.
16:50 (Bila) qi dan darah lancar,
16:53 di satu sisi tubuh akan menjadi lebih sehat,
16:55 di satu sisi batin
16:58 juga akan
17:00 mudah masuk ke dalam samadhi,
17:02 batin mudah menenangkan diri,
17:05 memusat.
17:07 Maka ini, di masa lalu,
17:09 yang dibahas dalam Buddha-Dharma yaitu
17:13 "metode tujuh titik duduk Buddha Vairocana",
17:16 yaitu ketika duduk bersila harus mementingkan tujuh (hal),
17:20 dari sisi fisiologis harus mementingkan tujuh titik.
17:23 Pertama-tama, yang pertama adalah menyilangkan kaki.
17:26 Menyilangkan kaki ini —
17:30 keadaan setiap orang berbeda,
17:36 ini pun tak bisa diseragamkan.
17:39 Ini yaitu setiap orang melihat keadaannya sendiri.
17:40 Dalam Buddhisme,
17:41 tentu yang dikatakan,
17:43 posisi silang kaki yang paling ideal adalah sebuah
17:45 (yang) disebut duduk bersila (paryaṅka),
17:49 silang kaki penuh (dua kaki).
17:52 Silang kaki penuh ini —
17:53 kaki kiri di atas:
17:56 taruh dulu kaki kiri ke atas,
17:57 lalu taruh kaki kanan ke atas.
18:06 Duduk itu — kita
18:07 sebenarnya duduk harus —
18:08 sebenarnya ketika seseorang duduk bersila,
18:09 harus nyaman.
18:11 Bantal duduk yang kaupakai ini
18:14 tetap harus nyaman.
18:16 Tentu bantal ini tak boleh terlalu —
18:17 tak boleh terlalu lembut,
18:19 juga tak boleh terlalu keras,
18:21 sedikit ada tingkat kelembutan.
18:23 Terlalu lembut, (badan) mudah terbenam ke dalam;
18:24 terlalu keras,
18:27 diduduki juga akan menyakiti kaki.
18:30 Mengapa di bagian belakang perlu diganjal sesuatu?
18:32 Terutama bagi kita yang baru belajar duduk bersila,
18:34 setelah diganjal,
18:35 kaki ini
18:38 membentuk sebuah bentuk segitiga.
18:42 Kau lihat, kedua lutut ini akan menyentuh lantai,
18:44 tak akan begitu duduk (langsung goyah).
18:46 Dan pinggang mudah tegak lurus.
18:47 (Bila) ada bantal,
18:48 pinggang mudah tegak lurus.
18:50 Kalau tak ada bantal,
18:52 ia sangat mudah —
18:58 orang biasa mungkin akan (membungkuk) begini.
19:00 Tetapi kalau kau sering duduk,
19:01 kalau kau sudah duduk sampai tahap tertentu,
19:04 sebenarnya tanpa bantal dan dengan bantal berbeda —
19:09 yaitu, bagi orang yang terhadap duduk bersila punya
19:10 pembinaan yang terlatih,
19:13 itu bukan masalah besar.
19:15 Tetapi bagi orang biasa,
19:17 kita baru mulai, diganjal sedikit,
19:22 jadi lebih mantap.
19:25 Maka inilah duduk bersila (paryaṅka).
19:26 Adapun duduk silang kaki penuh,
19:28 tentu umumnya bukan berarti siapa pun bisa melakukannya.
19:29 Lagi pula, duduk sebentar
19:31 kaki langsung kesemutan,
19:33 tak bisa duduk lama.
19:37 Maka bukan berarti harus duduk silang kaki penuh —
19:39 silang kaki tunggal pun boleh.
19:40 Silang kaki tunggal —
19:41 tentu setiap orang,
19:43 kau lihat kau bagaimana duduk yang lebih nyaman.
19:45 Nah, dalam keadaan normal,
19:47 kalau kaki kiri di bawah
19:50 dan kaki kanan di atas —
19:53 banyak rupang Buddha begitu.
19:56 Misalnya tangan kita (begini),
19:59 ini adalah silang kaki tunggal,
20:01 yaitu termasuk posisi vajra (金剛坐).
20:05 Posisi vajra sangat mantap.
20:07 Tentu bukan berarti harus begini.
20:08 Tetapi ada orang
20:11 yang tendon kakinya pendek atau kebiasaannya berbeda —
20:11 (kalau) kau memaksa duduk begini,
20:13 kau akan sangat menderita.
20:16 Tetapi duduk begini akan sedikit lebih baik.
20:20 Lalu tangan ini
20:21 yaitu membentuk sebuah mudra samadhi (定印),
20:30 sangat rileks,
20:38 ditaruh di depan kaki.
20:40 Mudra samadhi ini pun sangat penting.
20:42 Mudra samadhi yaitu: ketika kau duduk begini,
20:45 jasmani-rohanimu mudah memusat.
20:47 Pemusatan semacam ini sebenarnya
20:49 berkaitan dengan sejumlah postur kita.
20:50 Postur akan menuntun ke —
20:55 akan mempengaruhi qi di tubuh kita,
20:57 aliran napas ini —
20:59 kelancaran (napas).
21:01 (Bila) qi lancar, batin pun mudah
21:03 menenangkan diri.
21:05 Maka mudra samadhi ini,
21:06 postur-postur ini,
21:07 sebenarnya juga cukup penting.
21:11 Ini adalah tangan yang membentuk mudra samadhi.
21:15 Ada lagi satu poin penting,
21:16 yaitu tulang belakang ini.
21:22 Ini sangat penting.
21:24 Tulang belakang harus —
21:26 harus bagaimana?
21:28 Ditegakkan.
21:31 Harus ditegakkan,
21:36 "duduk seperti lonceng",
21:38 seperti sebuah lonceng,
21:39 seperti sebatang anak panah.
21:42 Harus ditegakkan.
21:44 Tetapi menegakkan ini —
21:45 karena
21:47 ini —
21:49 bagi banyak dari kita, menegakkan sebenarnya tidak mudah.
21:51 Kalau kau dengan sangat sengaja menegakkannya, sebenarnya sangat menyiksa.
21:56 Tetapi kita tahu ini —
21:58 tulang belakang ini adalah salah satu sasaran kita,
22:01 sebuah sasaran.
22:02 Ketika kita melakukannya,
22:03 perlahan-lahan harus (menuju itu).
22:04 Tentu melalui bantal duduk di bagian belakang ini,
22:07 ini —
22:09 akan relatif lebih mudah menegakkannya,
22:12 relatif lebih mudah menegakkannya.
22:15 Nah,
22:19 yaitu kita juga bisa melalui sejumlah napas dalam,
22:22 bisa melalui sejumlah napas dalam.
22:25 Seperti balon atau ban itu,
22:27 ketika tak ada udaranya ia mudah kempis.
22:30 (Ketika) kau menarik napas dalam,
22:31 semestinya terasa seperti mengisi udara ini ke dalam tubuh.
22:33 Menarik napas dalam, mengirim udara ke dantian,
22:41 lalu mengembuskannya keluar lewat mulut.
22:47 Kita bisa menarik napas dalam sekali.
23:07 Terasa tidak, ketika kita menarik napas dalam,
23:09 tubuh mudah tertopang tegak?
23:14 Ini sebuah (poin) —
23:17 yaitu bagaimana membuat
23:19 punggung sebisa mungkin duduk tegak.
23:21 Tetapi pada awalnya juga tak perlu terlalu sengaja.
23:24 Namun duduk tegak
23:25 adalah salah satu sasaran kita,
23:27 sasaran.
23:34 Lalu berikutnya,
23:39 poin penting berikutnya adalah ini —
23:41 bahu.
23:43 Bahu juga sangat penting.
23:46 Tentu tadi kita bahas,
23:47 ketika punggung tegak,
23:48 yaitu ketika kita duduk harus duduk
23:49 dengan tegap.
23:51 Tegap yaitu menghindari
23:55 menyandar ke belakang.
23:56 Kita menyandar, lebih nyaman,
23:59 tapi menyandar-menyandar lalu tertidur.
24:02 Nah,
24:03 lalu tak urung
24:05 jadi begini (membungkuk).
24:11 Ini semua cukup mudah
24:13 terjadi.
24:16 Maka duduk tegak,
24:18 "duduk seperti lonceng",
24:19 sungguh seperti sebuah lonceng duduk di sana —
24:22 terasa sangat profesional.
24:24 Kau akan merasakan kehidupan (dalam) sejenis
24:26 keprofesionalan semacam ini.
24:27 Ketika kau duduk sangat tegak,
24:30 sejenis ini —
24:31 tubuh tegak,
24:33 tubuh tegak,
24:34 tubuh lurus.
24:36 Di masa lalu disebut "duduk tegak dengan jubah rapi";
24:38 (bila) tubuhmu tegak,
24:40 qi pun lancar;
24:41 (bila) qi lancar,
24:42 batin pun tenang.
24:44 Maka ketika duduk,
24:45 sebisa mungkin menjaga sebuah
24:49 posisi tengah-tegak;
24:51 menjaga posisi tengah-tegak ini penting.
24:55 Lalu tadi dibahas bahu ini.
24:59 Bahu ini —
25:00 tentu kita bisa sedikit —
25:02 yaitu bahu sebenarnya harus rata-rata,
25:05 jangan membungkuk ke depan,
25:08 juga jangan ke
25:10 belakang.
25:12 Tentu ketika kami memberi bimbingan,
25:14 kami akan merasa tubuh ini
25:15 seolah sedikit seperti
25:17 rasa (condong) ke belakang.
25:19 Tetapi ia tak akan (condong) ke belakang terlalu banyak.
25:23 Yaitu bahu ini
25:25 yaitu rata-rata saja.
25:29 Kedua tangan kita ini,
25:30 tangan ini disatukan dengan lembut,
25:32 sebenarnya ia akan —
25:34 tangan ini bisa menopang tubuh ini tegak,
25:39 bisa menopangnya tegak.
25:40 Tentu tangan ini,
25:42 ketika ditaruh di lutut,
25:45 jangan terlalu bertenaga,
25:46 sebisa mungkin ditaruh rileks,
25:48 yaitu ditaruh di atasnya saja,
25:50 dengan sangat rileks,
25:53 ini —
25:54 ditaruh di atas lutut.
25:59 Lalu kepala ini juga sangat penting.
26:02 Kepala —
26:03 kepala ini bagaimana
26:05 ditaruh cukup tegap di atas leher —
26:10 yaitu jangan mendongak,
26:12 juga jangan begini menunduk.
26:14 Nah,
26:16 kepala ini harus tegap,
26:17 kepala harus tegap.
26:18 Kita membayangkan puncak kepala seolah
26:20 ditarik ke atas.
26:23 Kita merasa puncak kepala ditarik ke atas.
26:26 Nah, kita merasa,
26:26 ketika puncak kepala ditarik ke atas,
26:29 terasa puncak kepala menyentuh langit-langit,
26:33 dan tubuh ini secara alami akan tertarik lurus.
26:37 Lalu ketika kita melakukannya,
26:38 dagu ini sedikit harus (ditarik)
26:40 ke dalam sedikit.
26:43 Tentu juga tak perlu terlalu sengaja.
26:45 Tentu karena kita —
26:46 karena kadang terbentuk sejumlah kebiasaan buruk.
26:50 Tetapi yaitu, proses kita duduk bersila
26:52 yaitu
26:54 yaitu menyesuaikan tubuh dan batin.
26:56 Yang disebut "menyesuaikan" —
26:58 "menyesuaikan" yaitu pada awalnya
27:01 kita perlu membangun sebuah
27:03 pengetahuan yang benar.
27:05 Seperti seorang atlet, dikatakan
27:07 ia —
27:10 ini —
27:11 setiap cabang olahraga,
27:14 kalau kau perlu, di bidang ini,
27:16 pencapaian (yang) cukup besar,
27:18 sebenarnya
27:19 pada awalnya
27:21 gerakan-gerakan dasar ini sangat penting.
27:25 Kalau kau membakukan gerakan dasar,
27:28 kau baru bisa melangkah jauh.
27:32 Maka pengetahuan tentang (posisi) kepala ini.
27:38 Lalu berikutnya
27:41 adalah mata ini.
27:44 Mata ini, normalnya,
27:47 yaitu sedikit
27:49 agak dipejamkan,
27:52 yaitu
27:54 bisa menyisakan sepertiga cahaya (celah pandang).
27:57 Tentu sebenarnya ini tak ada yang pasti.
27:59 Misalnya, orang zaman sekarang seperti kita,
28:01 kalau kita merasa batin cukup kacau,
28:02 kita bisa memejamkannya seluruhnya.
28:03 Tetapi kadang kalau kau memejamkannya seluruhnya,
28:06 kau mungkin
28:08 mudah mengantuk.
28:11 Sebenarnya membukanya seluruhnya juga boleh,
28:15 untuk melawan kantuk.
28:18 Tetapi kadang,
28:19 (bila) dibuka,
28:20 ia juga mudah menjadi kacau melantur.
28:22 Maka (tradisi) menganggap ini —
28:23 yaitu mata ini perlu diturunkan (pandangannya) sedikit,
28:26 yaitu
28:26 kelopak mata ini diturunkan,
28:30 diturunkan sampai tingkat tertentu.
28:34 Nah, dengan begitu,
28:35 kita berada dalam sejenis —
28:38 yaitu pandangan mata ini,
28:41 menurut ungkapan tradisional,
28:42 misalnya (memandang) tiga bata atau lima bata (jauhnya),
28:44 kira-kira sebuah jarak semacam itu.
28:46 Nah, kalau kita merasa
28:48 (bila) dipejamkan,
28:50 sebenarnya batin lebih tenang,
28:52 lebih baik memusatkan batin,
28:53 sebenarnya kita memejamkannya juga boleh.
28:55 Maka mata ini juga bukan poin utama.
29:01 Nah, setiap orang
29:02 mungkin harus sesuai keadaan nyata (masing-masing).
29:10 Nah, ada lagi —
29:11 sebenarnya cara duduk masih ada satu poin penting,
29:14 yaitu lidah.
29:16 Lidah menyentuh langit-langit mulut,
29:21 yaitu ujung lidah menyentuh langit-langit mulut,
29:22 yaitu sedikit di belakang gusi.
29:29 Nah, ini yaitu —
29:30 ini, dalam tradisi Buddhisme,
29:34 yang dirangkum yaitu:
29:39 dalam proses meditasi kita,
29:43 bagaimana kita menyesuaikan
29:46 tubuh ini.
29:49 (Bila) tubuh sudah baik,
29:51 mantap seperti Gunung Tai,
29:54 duduk di sana bisa (dalam keadaan) tak tergoyahkan.
29:57 Tetapi proses ini yaitu:
30:00 pada awalnya,
30:01 kita perlu latihan selama suatu waktu.
30:04 Mungkin (terasa) tak terbiasa.
30:06 Tetapi kalau waktu latihan sudah lama,
30:08 duduk bersila kita
30:10 akan makin lama makin leluasa,
30:12 makin lama makin nyaman.
30:14 Ini —
30:16 waktu duduk
30:18 akan makin lama makin panjang.
30:21 Nah, berikutnya kita
30:27 akan membahas lagi
30:28 mengenai sisi penyesuaian batin ini.
30:32 Sisi penyesuaian batin ini —
30:37 sisi penyesuaian batin ini —
30:39 juga bisa punya
30:44 tiga poin penting,
30:47 tiga tingkatan,
30:50 tiga tingkatan.
30:53 Nah,
30:54 pertama-tama,
30:57 yaitu kita dalam
30:59 biasanya, dalam proses meditasi ini,
31:03 kita perlu memilih sebuah
31:08 sasaran,
31:11 yaitu memilih sebuah objek renungan (ālambana),
31:19 memilih sebuah objek renungan.
31:21 Objek renungan ini —
31:27 adakah yang pasti?
31:28 Sebenarnya juga tak ada yang pasti,
31:32 sebenarnya juga tak ada yang pasti.
31:34 Misalnya,
31:36 kita
31:38 setiap hari melakukan (sesuatu) —
31:41 objek renungan ini apa?
31:45 Yaitu berjalan,
31:49 berjalan.
31:52 Melalui objek renungan ini,
31:53 melalui objek renungan ini,
31:54 (kita) —
31:56 membantu kita melatih
32:00 daya pemusatan
32:02 dan
32:04 daya penyadaran.
32:07 Karena kita perlu punya sebuah objek,
32:09 yaitu ada yang direnungkan.
32:10 Dalam (meditasi) ketenangan ini ada dua macam renungan:
32:12 satu adalah ada objek renungan,
32:14 satu adalah tanpa objek renungan.
32:16 Tentu meditasi tanpa objek renungan
32:18 adalah sejenis meditasi
32:19 yang lebih tinggi tingkatnya.
32:22 Nah,
32:24 meditasi biasa
32:26 biasanya harus
32:32 memilih sebuah objek,
32:35 sebuah objek.
32:37 Misalnya mencuci mangkuk —
32:38 mangkuk ini adalah objek renunganmu.
32:40 (Misalnya) mencabut rumput —
32:45 rumput ini
32:46 adalah
32:48 ini —
32:50 objek renunganmu,
32:52 objek renungan meditasi.
32:55 Nah,
32:56 (misalnya) melafalkan nama Buddha —
32:59 nama Buddha adalah objek renungan.
33:02 Nah,
33:05 ketika kita membina perlindungan (kepada Tiga Permata),
33:08 ini —
33:10 juga disediakan dua metode.
33:12 Satu,
33:12 yaitu kita bisa membayangkan sebuah rupang Buddha,
33:16 ketika melafalkan Tiga Perlindungan,
33:18 melalui sebuah
33:20 rupang Buddha ini,
33:23 menambatkan batin pada rupang Buddha ini.
33:30 Atau,
33:32 menambatkan batin
33:35 pada
33:38 Buddha,
33:40 Buddha,
33:44 ini —
33:45 nama-Nya.
33:52 Secara keseluruhan,
33:54 objek renungan ini,
33:57 yaitu dalam proses meditasi,
33:59 objek renungan ini —
34:01 ia tak ada yang pasti.
34:05 Begini, kita kira-kira memahami:
34:06 kau memilih sebuah objek renungan yang baik
34:08 sudah cukup,
34:09 yang tak ada efek sampingnya.
34:11 Nah,
34:12 kau tak boleh memilih orang yang kaubenci,
34:14 atau orang yang kausukai secara khusus —
34:17 itu mungkin punya efek samping.
34:19 Maka ia harus (berupa) objek renungan
34:23 yang tak ada efek sampingnya.
34:28 Nah,
34:28 meskipun dikatakan tak ada yang pasti,
34:30 tetapi kita, dalam latihan ini —
34:35 kita, dalam proses latihan ini —
34:38 ia tetap perlu punya objek tertentu,
34:40 tak boleh tanpa objek.
34:45 Misalnya,
34:45 kita sekarang duduk (bermeditasi);
34:49 saat kita meditasi jalan,
34:50 kita dengan berjalan ini —
34:53 mengangkat kaki,
34:55 menggerakkan,
34:57 menurunkan kaki,
34:59 mengangkat kaki,
35:00 menggerakkan,
35:02 menurunkan kaki —
35:05 ini kita
35:07 menambatkan batin pada
35:09 sebuah objek berjalan semacam ini,
35:12 pada proses ini.
35:15 Nah, ketika kita duduk,
35:17 saat duduk bersila,
35:18 kita bisa memilih napas,
35:22 bisa memilih napas
35:23 sebagai objek renungan kita.
35:28 Nah, misalnya seperti ini —
35:29 di dalam Satipaṭṭhāna Sutta,
35:31 tentang persoalan ini
35:33 dibahas dengan sangat jelas.
35:37 Napas ini —
35:42 sebenarnya sebisa mungkin menjaga sejenis
35:44 keadaan napas yang alami,
35:46 jangan terlalu sengaja,
35:50 tak perlu terlalu sengaja.
35:54 Nah, ketika bernapas,
35:56 kita yaitu
35:59 bernapas dengan penuh pemusatan,
36:02 dengan sepenuh hati menaruh batin,
36:03 memusatkan pada,
36:06 menaruh batin memusat pada,
36:07 menaruh batin memusat pada
36:13 hal bernapas ini.
36:17 Nah, misalnya napas panjang —
36:21 kau tahu napas panjang;
36:24 napas pendek —
36:27 kau tahu napas pendek;
36:30 napas kasar —
36:34 kau tahu napas kasar;
36:37 napas halus —
36:39 kau tahu napas halus;
36:42 napas dingin —
36:46 kau tahu napas ini dingin;
36:49 napas panas —
36:51 kau tahu
36:53 napas panas.
36:58 Dalam proses ini
37:06 sebenarnya terkandung dua sisi,
37:14 terkandung dua sisi.
37:17 Satu,
37:19 yaitu menaruh batin kita
37:24 memusat pada sasaran ini,
37:27 memusat pada
37:33 tambatan napas ini.
37:34 Sebenarnya "samadhi" itu konsep apa?
37:38 Samadhi itu konsep apa?
37:42 Samadhi —
37:43 sebenarnya yaitu batin kita
37:48 secara berkelanjutan
37:50 tertambat pada sebuah objek,
37:53 tertambat pada sebuah objek,
37:57 bisa tertambat secara berkelanjutan,
38:00 lalu sampai seluruh batin
38:03 menenangkan diri,
38:05 kekotoran batin pun tak akan bangkit —
38:08 yaitu memusat (samadhi) dalam keadaan semacam ini.
38:11 Maka dalam "sembilan tahap batin yang berdiam" dibahas
38:15 ini —
38:16 yaitu berdiam ke dalam,
38:18 berdiam berlanjut,
38:20 berdiam mantap,
38:21 berdiam dekat,
38:23 lalu sampai apa: menjinakkan,
38:25 sampai menenteramkan (keheningan).
38:28 Yaitu batinmu,
38:29 setelah tertambat secara berkelanjutan,
38:31 perlahan-lahan
38:32 kekotoran batinmu tak akan bangkit,
38:34 batinmu pun menenangkan diri.
38:40 Tetapi sebenarnya,
38:42 tertambat pada keadaan ini
38:44 sebenarnya bukanlah
38:48 tujuan terpenting
38:50 meditasi kita.
38:52 Misalnya,
38:54 dalam proses meditasi,
38:56 kita mungkin —
39:03 ini —
39:05 kita sedang bernapas,
39:06 bernapas.
39:09 Nah, kita sekarang,
39:10 ini —
39:12 di atas (bantal) duduk,
39:13 kita mungkin tertambat pada
39:15 napas ini.
39:18 Tetapi kalau turun dari duduk,
39:20 kita mungkin
39:22 berjalan —
39:24 kita mungkin tertambat pada berjalan.
39:26 Kalau kita sedang mengerjakan sesuatu,
39:29 mungkin kita menambatkan batin pada
39:32 pekerjaan itu.
39:34 Yaitu, objek renungan ini
39:37 sebenarnya dalam kehidupan akan terus-menerus berubah.
39:40 Termasuk ketika kita di atas (bantal) duduk pun sama.
39:44 Misalnya kita duduk, duduk,
39:47 ini —
39:47 ini —
39:49 getar pikiran ini lari,
39:51 menjadi kacau melantur,
39:52 memikirkan banyak hal.
39:57 Nah,
39:59 nah, saat itu bagaimana?
40:02 Tentu sebenarnya, dalam proses meditasi,
40:05 karena setiap orang di antara kita —
40:07 kekacauan batin
40:13 sebenarnya itu sendiri
40:15 adalah sebuah kebiasaan batin kita.
40:19 Maka,
40:20 kau mengira begitu duduk bersila,
40:21 duduk di sana,
40:22 angan-angan apa pun sudah tak ada —
40:28 itu sangat jarang.
40:31 Terutama ketika kita baru mulai duduk bersila,
40:34 setiap orang yang duduk bersila,
40:35 sebenarnya yang perlu ditangani adalah
40:38 dua hal.
40:41 Satu,
40:43 yaitu
40:46 kekacauan (batin),
40:47 penyesuaiannya.
40:49 Dan satu lagi yaitu
40:50 kekantukan (kelesuan batin).
40:52 Kekantukan yaitu (keadaan) mengantuk-samar.
40:57 Termasuk (keadaan) tanpa sadar tanpa waspada.
40:58 Tanpa sadar tanpa waspada, dari makna tertentu,
41:01 ia juga sejenis kekantukan.
41:10 Nah, satu lagi yaitu
41:12 kekacauan —
41:15 yaitu berhamburan ke sana kemari,
41:17 berhamburan ke sana kemari.
41:23 Nah, bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini?
41:26 Sebenarnya inilah yang kita bahas tentang meditasi ini —
41:30 yang kedua:
41:32 tempat yang perlu kita tambatkan (batin),
41:35 sebenarnya yaitu
41:36 penyadaran (kesadaran),
41:38 penyadaran.
41:41 Meditasi —
41:45 (mengejar objek) —
41:47 poin utama kita sebenarnya bukan (untuk itu),
41:49 tujuan kita
41:50 bukan sungguh-sungguh hendak mengejar objek renungan ini.
41:57 Sebenarnya yang terpenting adalah mengembangkan
42:01 daya penyadaran kita,
42:01 mengembangkan daya penyadaran kita.
42:08 Yaitu,
42:10 sebenarnya ketika kita dalam kekantukan,
42:14 tak ada penyadaran.
42:17 Sebenarnya bukan hanya saat kekantukan —
42:19 saat kekantukan biasa,
42:20 kau mengantuk, apakah masih punya penyadaran?
42:24 Kau tertidur, apakah masih punya penyadaran?
42:26 Tak ada penyadaran.
42:28 Selain itu,
42:31 seringkali kita
42:33 berada dalam keadaan ketaktahuan,
42:35 keadaan ketaktahuan —
42:38 juga tak ada penyadaran.
42:40 Lalu ada kekacauan.
42:41 Kekacauan yaitu kau jatuh ke dalam ini,
42:46 jatuh ke dalam
42:49 getar-getar pikiran itu,
42:50 jatuh ke dalam angan-angan,
42:52 jatuh ke dalam emosi,
42:54 jatuh ke dalam berbagai macam pikiran.
42:59 Maka,
43:02 bagaimana kita bisa, dari keadaan-keadaan ini —
43:06 keadaan ketaktahuan,
43:07 yaitu keadaan tanpa sadar tanpa waspada,
43:10 keadaan kekantukan,
43:14 ini —
43:15 keadaan kekacauan,
43:17 keadaan (yang perlu) dibereskan —
43:19 bagaimana tak masuk ke keadaan-keadaan ini,
43:22 sekaligus bagaimana bisa keluar dari keadaan-keadaan ini?
43:26 Maka itu
43:30 memerlukan penyadaran.
43:35 Maka kita, dalam
43:37 Bodhi (Institute) —
43:40 asesmen psikologis bimbingannya —
43:46 yaitu,
43:47 menguji kekotoran batin seseorang,
43:51 sebenarnya
43:53 ini —
43:55 berat,
43:57 sedang,
43:59 atau
44:01 ringan —
44:01 sebenarnya ada tiga dimensi,
44:07 tiga dimensi.
44:09 Dimensi pertama —
44:12 ia memeriksa seberapa lama waktunya (kekotoran batin bertahan):
44:17 misalnya sesekali terjadi,
44:20 atau
44:21 sering terjadi.
44:22 Dimensi kedua
44:30 yaitu setelah (kekotoran batin) terjadi,
44:34 kau —
44:35 kapan kau menyadarinya:
44:39 apakah sudah lama sekali baru kau menyadarinya,
44:42 atau kau sama sekali tak bisa menyadarinya,
44:45 atau kau bisa segera menyadarinya.
44:49 Sebenarnya penyadaran ini,
44:51 dengan batin kita —
44:57 di satu sisi berkaitan dengan tingkat ketaktahuan,
45:02 di sisi lain
45:04 berkaitan dengan
45:08 tingkat terang batin,
45:09 tingkat cahaya (batin), ada kaitannya.
45:13 Kalau batinmu,
45:18 tingkat ketaktahuan ini
45:19 sangat tebal,
45:22 sebenarnya
45:25 kau mungkin selalu berada dalam keadaan tanpa sadar tanpa waspada,
45:27 kau sulit menyadari.
45:29 Tetapi kalau kau, melalui meditasi,
45:31 batinmu punya pegangan yang jelas,
45:33 atau bisa dikatakan lampu batinmu sudah menyala sampai tingkat tertentu,
45:37 bahkan lampu batin senantiasa menyala,
45:40 setiap saat menyala,
45:42 setiap saat menyala —
45:45 begitu getar pikiran apa pun muncul,
45:47 kau segera
45:49 mengetahuinya.
45:53 Yaitu, ini —
45:56 terhadap getar pikiran,
45:58 penyadaran (ini),
46:00 dengan
46:01 kekuatan pengetahuan-jernih (samprajñā) kita,
46:03 kekuatan mindfulness kita —
46:06 ia,
46:08 kuat atau tidaknya kekuatan ini,
46:11 punya kaitan yang sangat besar.
46:13 Maka meditasi kita sebenarnya perlu
46:16 mengembangkan sejenis
46:19 daya penyadaran semacam ini.
46:20 Nah, daya penyadaran semacam itu —
46:21 kekuatannya makin lama makin kuat.
46:26 Tentu sekarang,
46:27 ini —
46:28 mindfulness di masyarakat pun membahas daya penyadaran.
46:31 Tetapi kalau dari sudut Buddha-Dharma,
46:35 penyadaran yang kita bahas sekarang
46:37 sebenarnya di dalamnya terkandung pandangan benar,
46:39 niat benar,
46:41 mengandung unsur kebijaksanaan di dalamnya.
46:44 Maka,
46:45 (hanya) punya penyadaran —
46:46 itu tak cukup.
46:49 Yaitu harus,
46:50 dengan pandangan benar semacam ini,
46:52 dengan kebijaksanaan,
46:53 di atas landasan (itu),
46:54 penyadaran yang dibangun —
46:56 penyadaran semacam itulah
46:57 yang akan membawa kita menuju
46:59 pembebasan,
47:03 barulah
47:03 yang berdaya,
47:06 barulah yang berdaya.
47:09 Nah,
47:13 proses meditasi
47:15 yaitu di satu sisi kita perlu,
47:22 terhadap
47:24 sasaran ini,
47:27 terhadap sasaran objek renungan kita,
47:30 menjaga penyadaran;
47:33 sekaligus,
47:35 yang lebih penting apa?
47:39 Yang lebih penting adalah, terhadap kita —
47:41 dalam proses meditasi,
47:44 (segala) yang timbul —
47:51 semua aktivitas batin,
47:54 proses batin,
47:56 peristiwa batin —
47:57 semua bisa menjaga penyadaran,
48:02 bukan berada dalam
48:05 ketaktahuan
48:06 ketakwaspadaan.
48:10 Kita sekarang membahas proses batin,
48:11 peristiwa batin —
48:15 dengan
48:16 kehidupan nyata,
48:19 proses batin yang timbul pada kita,
48:22 serta, dalam kehidupan nyata,
48:26 berbagai
48:27 peristiwa batin —
48:31 sebenarnya sama atau tidak?
48:39 Tentu kita bisa bilang sama,
48:40 bisa juga bilang tak sama.
48:42 Sebenarnya semuanya adalah batin kita,
48:44 semuanya tak lepas dari batin kita,
48:47 semuanya tak lepas dari batin kita,
48:49 semuanya adalah kerja batin kita.
48:52 Nah, sebenarnya,
48:55 entah proses batin yang timbul di atas (bantal) duduk,
48:59 peristiwa batin,
49:00 atau setelah turun dari duduk,
49:03 menghadapi berbagai peristiwa
49:07 serta berbagai keadaan batin —
49:15 keadaan semacam ini,
49:16 proses batin semacam ini,
49:19 peristiwa kehidupan semacam ini
49:23 mungkin
49:25 sangat beragam berbeda-beda,
49:28 mungkin sangat beragam berbeda-beda.
49:31 Kita, di dalam —
49:32 seseorang, di dalam batinnya —
49:35 misalnya,
49:35 kau, dalam proses (hidup) yang panjang,
49:37 punya banyak pengalaman yang indah,
49:40 dan juga punya banyak pengalaman yang menyakitkan,
49:42 juga punya banyak berbagai angan-angan,
49:45 bahkan angan-angan yang tak terbayangkan.
49:50 Nah, sama halnya, dalam kehidupan nyata kita
49:54 juga demikian.
50:01 Nah, kalau kita tak
50:05 melalui latihan (yang diwariskan) ini,
50:09 kita mungkin, dengan membawa kebiasaan tumimbal lahir,
50:14 dengan membawa kebiasaan tumimbal lahir,
50:16 pola pengenalan tumimbal lahir,
50:20 menangani peristiwa-peristiwa ini.
50:24 Nah, apa pola pengenalan tumimbal lahir itu?
50:27 Yaitu keserakahan, kebencian, kebodohan.
50:30 Kalau tidak —
50:31 wah,
50:32 (kalau) suka,
50:33 lalu sangat melekat,
50:34 sangat menikmati,
50:36 sangat terlena.
50:39 Ini —
50:41 (kalau) tak suka,
50:42 lalu sangat menderita,
50:44 sangat
50:46 sedih.
50:49 Yaitu,
50:51 nah,
50:53 penyadaran,
50:55 daya penyadaran —
50:57 sejenis ini,
50:57 dalam proses meditasi kita,
50:59 penyadaran yang hendak kita kembangkan —
51:01 yang terutama yaitu, terhadap peristiwa-peristiwa ini,
51:03 menjaga sejenis
51:05 "mengetahui",
51:07 dengan sangat jelas
51:09 mengetahui.
51:11 Asalkan tahu, sudah cukup;
51:14 jangan masuk ke
51:17 sistem penilaian,
51:18 jangan masuk ke sistem pemikiran dan pembeda-bedaan pikiran ini.
51:25 Maka ini, dalam tradisi Vipassana, disebut
51:29 tak melekat,
51:31 tak terlena,
51:33 juga tak menilai,
51:34 juga tak membenci —
51:35 yaitu,
51:39 hal semacam ini
51:43 sebenarnya, dengan yang dikatakan aliran Chan,
51:45 dari makna tertentu,
51:47 cukup selaras,
51:52 cukup sepadan.
51:55 Misalnya seperti
51:56 "Prasasti Keyakinan Batin" (Xinxin Ming) dari Patriark Ketiga —
51:59 bagian pembukanya,
52:00 bagaimana bunyinya?
52:02 Disebut:
52:04 "Jalan Agung
52:05 tak sulit,
52:08 hanya hindari
52:09 memilih
52:11 dan memilah;
52:12 asalkan jangan (ada)
52:13 benci dan cinta,
52:17 dengan gamblang
52:21 (semuanya) jelas.
52:24 Seujung rambut
52:25 ada beda,
52:27 langit dan bumi
52:29 terpisah jauh."
52:29 Ia berkata, Jalan Agung ini —
52:33 Jalan tertinggi ini,
52:35 kebenaran ini —
52:36 sebenarnya tak ada yang sulit.
52:37 Ia memang sudah ada di sana.
52:41 Setiap orang,
52:42 sebenarnya,
52:44 ini —
52:47 semua memilikinya, bukan?
52:49 Semua memilikinya.
52:51 Tetapi "hanya hindari memilih-milah" —
52:54 yaitu (ketika) kita masuk ke dalam
52:55 pertentangan dualistik,
52:56 benar-salah,
52:57 penilaian.
53:00 Begitu ada "memilih-milah" ini,
53:04 yaitu hal-hal ini datang,
53:05 kita masuk ke dalam sistem pembeda-bedaan pikiran ini,
53:10 masuk ke sistem pembeda-bedaan pikiran.
53:16 Tentu,
53:18 ini —
53:19 tentu (jika) kita sudah menghayati Jalan Agung,
53:22 sebenarnya sudah membeda-bedakan pun,
53:23 membeda-bedakan pun tak apa;
53:25 kau tak akan terjerumus ke dalam kemelekatan pada pembeda-bedaan.
53:29 Misalnya seperti yang dikatakan dalam Sutra Vimalakīrti:
53:31 "Mampu dengan cermat membeda-bedakan tanda segala dharma,
53:34 namun pada makna hakiki (paramārtha) tak tergoyahkan."
53:37 (Kalau) kau tertambat pada tataran kekosongan,
53:40 kau membeda-bedakan pun
53:41 sebenarnya kau tak akan terjerumus ke dalam (nya),
53:43 tak akan melekat.
53:45 Pembeda-bedaan kita orang awam pasti akan disertai kemelekatan,
53:48 maka kau akan tersangkut di
53:50 dunia pertentangan dualistik,
53:51 kau tak bisa menghayati
53:53 batin asli yang jernih.
54:02 Maka yaitu,
54:04 yaitu menghadapi (semua itu) —
54:06 entah di atas (bantal) duduk,
54:10 atau setelah turun dari duduk —
54:17 di satu sisi,
54:18 meditasi ini —
54:20 ini, mengapa aliran Chan —
54:24 ia,
54:25 ia,
54:26 ia —
54:27 (mengajarkan) membina diri di tengah kehidupan.
54:30 Karena, sesungguhnya, meditasi
54:35 adalah sejenis mind-dharma (metode batin).
54:37 Ia menghendaki kita menghayati batin asli.
54:42 Maka bukan berarti kita cukup hanya membina diri di atas (bantal) duduk.
54:46 Kuncinya adalah kita harus membawa mindfulness semacam ini
54:50 ke dalam kehidupan,
54:55 menghadapi setiap orang dan setiap perkara,
55:00 kau bisa membawa sejenis penyadaran semacam ini,
55:05 daya penyadaran.
55:06 Penyadaran yaitu (mengetahui) dengan sangat jelas;
55:09 batinmu senantiasa dalam keadaan jernih-terang,
55:13 menjaga sejenis keadaan penyadaran.
55:19 Ketika batinmu tertambat pada penyadaran ini,
55:24 dalam proses penyadaran semacam ini,
55:25 daya perenungan ini
55:25 akan membuatmu tak terjerumus ke dalam objek renungan,
55:33 karena ia sudah melompat keluar dari keadaan itu.
55:35 Nah, di sisi lain, kekuatan Vipassana yang penuh penyadaran semacam ini
55:40 punya kemampuan untuk meredakan dan meluruhkan keadaan-keadaan ini,
55:53 gangguan yang ditimbulkan getar-getar pikiran ini pada kita.
55:59 Maka mengapa proses meditasi ini harus punya pandangan benar?
56:02 Sebenarnya dalam proses meditasi kita,
56:04 mengapa kita tak bisa menghayati batin asli?
56:09 Sebenarnya yang perlu kita tangani ada dua hal.
56:17 Satu adalah bayangan-bayangan yang muncul di dalam batin kita,
56:21 dan satu lagi adalah berbagai getar pikiran kita,
56:28 berbagai aktivitas batin.
56:31 Tentu berbagai aktivitas batin itu ada;
56:32 berbagai aktivitas batin meliputi berbagai kekotoran batin,
56:34 berbagai emosi.
56:38 Sebenarnya manusia hidup di dalam bayangan dan getar pikiran semacam itu.
56:44 Kau akan tersangkut pada kemelekatan terhadap bayangan-bayangan ini,
56:47 kau akan tersangkut di dalam getar pikiran,
56:54 terjerumus ke dalam berbagai emosi,
56:57 berbagai kemelekatan,
56:59 berbagai kebencian,
57:01 berbagai keterlekatan,
57:05 kau akan tersangkut di dalam emosi semacam itu.
57:06 Maka seluruh kebijaksanaan kekosongan (śūnyatā) Buddha-Dharma
57:09 semuanya sedang membantu kita.
57:11 Misalnya kita —
57:18 karena seringkali keadaan-keadaan ini,
57:21 seberapa besar sebenarnya pengaruhnya pada kita,
57:23 serta keterlekatan
57:31 dan kebencian
57:32 yang ditimbulkan keadaan-keadaan ini —
57:34 seberapa besar sebenarnya kekuatannya?
57:38 Sebenarnya
57:40 berkaitan dengan
57:42 seberapa besar tingkat kita menganggap penting
57:43 keadaan itu.
57:46 (Terhadap) hal yang kaupedulikan —
57:49 misalnya di keluargamu,
57:51 apa kemelekatan yang paling penting?
57:55 Apa itu — anak,
57:58 ini —
57:59 ini — suami-istri,
58:00 hubungan suami-istri,
58:02 ini — dan juga kariermu.
58:06 Hal-hal ini semua yang paling mudah kaupedulikan.
58:10 Ia, di dalam batinmu,
58:12 yang terakumulasi —
58:14 emosi-emosi ini,
58:15 kekuatannya pun sangat besar.
58:17 sangat besar.
58:20 Maka di masa lalu, dalam Buddhisme Tiongkok,
58:22 dalam sejarah Tiongkok, seperti Sutra Intan,
58:25 Sutra Hati —
58:26 mengapa sutra-sutra ini, banyak (orang) —
58:27 ia menjadi
58:29 kitab yang digemari masyarakat luas?
58:34 Yaitu, kebanyakan orang membaca-baca
58:37 "segala dharma berkondisi bagaikan mimpi, khayalan, gelembung, bayangan,
58:39 bagaikan embun dan juga bagaikan kilat;
58:41 demikianlah semestinya (kita) merenung."
58:43 Kau memandang hal-hal ini dengan ringan;
58:46 setelah memandangnya dengan ringan,
58:50 maka keadaan-keadaan ini, di dalam batinmu,
58:53 kekuatan yang ditimbulkannya tak lagi sekuat itu.
58:58 Ketika (kekuatannya) tak sekuat itu,
59:01 sebenarnya,
59:03 nah, pada saat itu,
59:05 ini —
59:07 daya penyadaran kita,
59:10 daya penyadaran ini punya kemampuan untuk cepat meluruhkan
59:14 keadaan-keadaan ini,
59:15 persoalan-persoalan batin ini.
59:18 Nah, daya penyadaran ini akan makin lama makin kuat.
59:23 Maka,
59:25 melatih pengetahuan-jernih dan mindfulness semacam ini,
59:30 pemupukan daya penyadaran semacam ini,
59:32 adalah, dalam meditasi kita, sebuah
59:35 poin yang sangat
59:36 penting,
59:38 poin.
59:40 Maka poin pertama yang tadi kita bahas adalah kita memilih sebuah objek renungan.
59:44 Poin kedua
59:45 yaitu
59:47 poin utama kita
59:48 sebenarnya yaitu hendak mengembangkan,
59:52 hendak mengembangkan penyadaran semacam ini.
59:55 Sebenarnya memilih sebuah objek
59:57 itu hanya sebuah
59:59 kondisi pendukung.
1:00:02 (Kita) harus membawa penyadaran ke dalam
1:00:07 setiap
1:00:09 saat kini kehidupan.
1:00:12 Nah, ini
1:00:13 yang kedua,
1:00:16 poin penting yang kedua.
1:00:18 Poin penting yang ketiga
1:00:24 yaitu kita,
1:00:27 setelah melalui meditasi sampai tingkat tertentu,
1:00:30 kita harus melepaskan penyadaran ini,
1:00:34 melepaskan penyadaran ini.
1:00:36 Termasuk
1:00:38 kita sekarang duduk bersila,
1:00:40 kita harus melepaskan
1:00:42 berbagai
1:00:44 penetapan,
1:00:46 sasaran,
1:00:48 pengejaran.
1:00:51 Semua ini
1:00:52 semuanya
1:00:55 dilepaskan,
1:00:57 termasuk penyadaran ini
1:01:00 pun dilepaskan.
1:01:02 Kita perlu —
1:01:04 ketika kau melepaskan semua ini,
1:01:14 kau bisa menghayati
1:01:16 sejenis (batin) yang seperti
1:01:18 batin yang seperti ruang kosong,
1:01:21 batin yang seperti ruang kosong.
1:01:29 Batin yang seperti ruang kosong ini —
1:01:31 sebenarnya penyadaran batin kita —
1:01:36 tentu sebenarnya penyadaran ini terbagi menjadi dua tataran:
1:01:39 satu adalah tataran yang disadari,
1:01:40 satu adalah
1:01:41 tataran yang melampaui kesadaran (yang disadari).
1:01:44 Batin kita
1:01:45 dengan sendirinya sudah memiliki fungsi "mengetahui dengan sangat jernih" semacam ini.
1:01:52 Batin ini,
1:01:57 kekosongan ini sebenarnya memiliki dua ciri:
1:02:00 satu adalah kosong,
1:02:03 satu adalah
1:02:06 terang.
1:02:08 Kita, ketika melakukan ini —
1:02:12 ketika membina perlindungan,
1:02:14 ketika membina perlindungan,
1:02:19 kita —
1:02:20 ini —
1:02:23 ini —
1:02:24 ini —
1:02:25 ini — membuat kalian
1:02:27 pergi
1:02:29 mengenali batin sendiri.
1:02:31 Batin sebenarnya seperti apa?
1:02:35 Batin sebenarnya seperti apa?
1:02:37 Misalnya,
1:02:38 getar pikiran kita sekarang —
1:02:40 sebenarnya ada atau tidak
1:02:42 warna?
1:02:44 Ada atau tidak
1:02:46 bentuk?
1:02:50 Nah, kita, melalui
1:02:53 pengamatan,
1:02:58 sebenarnya pada saat itu
1:02:59 kau akan mendapati
1:03:06 sebenarnya batin
1:03:10 adalah
1:03:12 tanpa bentuk tanpa tanda.
1:03:15 Batin tanpa bentuk tanpa tanda.
1:03:18 Batin seperti apa?
1:03:19 Kau tanya dirimu sendiri, batin seperti apa?
1:03:29 Nah, pada saat itu
1:03:33 kau akan menghayati sisi kosong batin ini,
1:03:37 sisi yang tak dapat digenggam sama sekali.
1:03:41 Tetapi ketakdapatan digenggam semacam ini,
1:03:50 ia juga bukan berarti tak ada apa-apa sama sekali.
1:03:54 Sekaligus,
1:03:56 ia juga memiliki
1:03:58 "mengetahui dengan sangat jernih",
1:04:01 dengan sangat jelas.
1:04:03 Maka pembinaan diri yang sejati,
1:04:06 pembinaan diri yang piawai — ia tak perlu melakukan apa pun.
1:04:11 Ketika kau tak lagi terjerumus ke dalam
1:04:13 kebingungan,
1:04:14 kekotoran batin,
1:04:16 angan-angan yang terbalik —
1:04:18 sebenarnya kau bisa menghayati
1:04:21 kejernihan
1:04:25 batin asli.
1:04:26 Batin jernih ini
1:04:28 sebenarnya
1:04:29 memang sudah ada di sana.
1:04:31 Maka kita, dalam proses meditasi ini,
1:04:35 sebenarnya kita bisa —
1:04:38 ini —
1:04:41 yang tadi dibahas,
1:04:43 tiga
1:04:44 tiga tataran ini,
1:04:48 tiga sisi.
1:04:50 Kita bisa —
1:04:51 tiga sisi — sebenarnya dua sisi yang di depan,
1:04:54 ia adalah —
1:04:56 dalam proses kita bermeditasi:
1:04:58 satu adalah
1:04:59 memilih sebuah objek renungan.
1:05:01 Kita —
1:05:05 yaitu
1:05:07 melalui memilih sebuah objek renungan,
1:05:09 yang terpenting adalah
1:05:13 membantu kita melatih
1:05:16 daya pemusatan,
1:05:18 melatih daya pemusatan.
1:05:19 Setiap peristiwa dalam kehidupan,
1:05:22 setiap perkara,
1:05:24 semua bisa menjadi
1:05:28 pembinaan meditasi ketenangan (śamatha)
1:05:28 untuk melatih daya pemusatan kita.
1:05:31 Nah, ini bukan hanya
1:05:34 di
1:05:35 atas (bantal) duduk;
1:05:38 yang lebih penting adalah
1:05:40 kita harus memperluasnya ke setelah turun dari duduk,
1:05:45 memperluasnya ke setelah turun dari duduk,
1:05:46 memperluasnya ke
1:05:49 dalam kehidupan.
1:05:53 Nah,
1:05:55 langkah kedua
1:05:57 sebenarnya adalah:
1:06:02 di atas landasan meditasi ketenangan ini,
1:06:11 lalu
1:06:13 kita harus punya daya penyadaran,
1:06:15 pembinaan daya penyadaran,
1:06:17 yaitu penyadaran,
1:06:18 penyadaran —
1:06:20 pembinaan kekuatan
1:06:23 semacam ini.
1:06:24 Ini
1:06:26 sangat penting.
1:06:28 Ini adalah
1:06:30 sebuah poin utama
1:06:31 dalam
1:06:32 meditasi kita.
1:06:34 Meditasi
1:06:36 sebenarnya yaitu hendak membawa sejenis
1:06:40 kekuatan penyadaran
1:06:42 ke dalam
1:06:45 segala aspek kehidupan.
1:06:48 Tentu, ini yang tadi dibahas —
1:06:50 penyadaran ini bukan hanya menyadari kita —
1:06:55 yaitu, dalam proses kita mengenali dunia,
1:06:58 ia senantiasa
1:06:59 mengandung
1:07:01 dua sisi:
1:07:03 subjek (grāhaka) dan objek (grāhya).
1:07:05 "Objek"
1:07:07 yaitu objek (sasaran);
1:07:08 "subjek"
1:07:09 yaitu (yang) bersifat batin.
1:07:11 Ketika kita menghadapi setiap objek,
1:07:16 semua akan menimbulkan
1:07:20 (yang) bersesuaian —
1:07:21 (proses) batin,
1:07:23 serangkaian proses batin.
1:07:26 Nah, penyadaran kita,
1:07:28 daya penyadaran —
1:07:29 ia bukan hanya hendak menyadari
1:07:32 sebuah objek;
1:07:34 sebenarnya yang lebih penting adalah menyadari
1:07:38 berbagai
1:07:40 fenomena batin kita,
1:07:43 melihat kita masuk ke keadaan apa —
1:07:45 masuk ke batin serakah,
1:07:46 atau masuk ke batin benci,
1:07:48 atau masuk ke batin dengki,
1:07:50 atau masuk ke batin apa.
1:07:52 Kita bisa dengan cepat menyadarinya,
1:07:54 termasuk terhadap batin kita —
1:07:56 (yang) timbul,
1:07:56 dalam proses timbulnya,
1:07:58 berbagai perasaan yang timbul:
1:07:59 apakah kita melekat atau tidak,
1:08:01 apakah kita menyukai atau tidak,
1:08:02 apakah kita menentang atau tidak,
1:08:04 apakah kita membenci atau tidak —
1:08:07 semua bisa
1:08:09 dengan sangat jelas
1:08:13 diketahui.
1:08:18 Nah,
1:08:21 sebenarnya kita, dalam proses (menghadapi) nafsu keinginan ini,
1:08:24 termasuk ketika membina ketenangan (śamatha) —
1:08:25 kadang boleh juga, yaitu,
1:08:30 ini —
1:08:32 memusat pada sebuah objek.
1:08:34 Nah, kadang boleh juga memupuk sejenis pemusatan yang terbuka,
1:08:37 pemusatan yang terbuka —
1:08:39 yaitu kita tertambat di atas landasan penyadaran ini,
1:08:42 kita tak menetapkan objek apa pun,
1:08:45 tetapi terhadap segala sesuatu di sekeliling
1:08:48 serta proses batin
1:08:50 diri sendiri.
1:08:52 Ini, kalau dilukiskan dengan sebuah kalimat dari Buddhisme, yaitu:
1:08:58 bagaimana membuat batinmu
1:09:00 senantiasa bisa menjaga (keadaan)
1:09:03 "batin bagai cermin terang",
1:09:06 seperti sebuah cermin.
1:09:09 Cermin ini —
1:09:13 ia bisa
1:09:15 memantulkan-menerangi
1:09:16 berbagai benda,
1:09:20 tetapi
1:09:22 ia tak akan menyukai,
1:09:23 juga tak akan membenci.
1:09:27 Nah, kadang kita merasa,
1:09:29 "Aduh, kita harus memusat lagi harus menyadari lagi,
1:09:32 setiap hari berlatih begini sebenarnya cukup melelahkan."
1:09:35 Maka dari waktu ke waktu
1:09:37 kita bisa melakukan sejumlah pembinaan (dengan cara) "melepaskan".
1:09:39 Misalnya kau berbaring di ranjang untuk tidur,
1:09:43 kau berbaring —
1:09:44 itu pun sama bisa (menjadi) meditasi.
1:09:47 Cuma, tak sengaja lekas tertidur.
1:09:51 Yaitu, kau merasa —
1:09:52 kau tidur, kan, kau tak punya sasaran apa pun,
1:09:55 tak punya penetapan apa pun.
1:09:57 Batinmu,
1:09:58 kau sangat mudah
1:09:59 melepaskan segalanya sama sekali.
1:10:01 Nah, kadang kita —
1:10:03 misalnya,
1:10:05 ini —
1:10:06 di suatu tempat, tak melakukan (apa pun),
1:10:07 seperti kita di acara minum teh malam pertengahan musim gugur (Zhongqiu) ini,
1:10:12 kita —
1:10:13 kita —
1:10:14 membuat kalian belajar tidak melakukan apa pun,
1:10:17 lalu menghayati batin yang tak melakukan apa pun ini.
1:10:21 Tentu "tak melakukan apa pun" yang saya maksud
1:10:24 yaitu (tak) dengan sengaja melakukan apa pun.
1:10:27 Tentu batinmu mungkin akan punya getar pikiran;
1:10:29 ini pun tak kita tolak,
1:10:31 kita menjaga penyadaran.
1:10:33 (Kalau) kau (memaksa) dirimu tak memikirkan apa pun,
1:10:35 memaksa dirimu tak memikirkan apa pun,
1:10:37 sebenarnya kadang ada kesulitannya.
1:10:38 Tetapi sebenarnya berpikir tak apa,
1:10:41 kita semua cukup tahu (saja) —
1:10:42 tahu (saja) sudah cukup, tak berlebihan;
1:10:44 tahu — tak masalah.
1:10:47 Nah, kita bisa melakukan sejumlah,
1:10:49 yaitu,
1:10:51 pembinaan "tak melakukan apa pun".
1:10:54 "Tak melakukan apa pun" yaitu melampaui segala konsep.
1:10:57 Meditasi, mencapai kebuddhaan, tercerahkan, terbebaskan —
1:11:01 semuanya dilepaskan.
1:11:04 Sebenarnya, karena semua benda ini sesungguhnya adalah sebuah
1:11:08 pengandaian yang bersifat cara terampil (sementara),
1:11:10 yang pada akhirnya semuanya membantu kita
1:11:11 menghayati batin jernih — sebuah cara terampil.
1:11:17 Di dalam batin jernih ini sebenarnya tak ada benda-benda ini.
1:11:22 Tetapi,
1:11:23 Buddha perlu membimbing kita makhluk hidup,
1:11:26 menyasar kekotoran batin, kelahiran-kematian,
1:11:30 kemelekatan kita —
1:11:31 maka Ia baru punya sedemikian banyak pengandaian terampil.
1:11:35 Maka ketika kita
1:11:36 belajar tak melakukan apa pun,
1:11:38 mungkin pada saat itu kita sungguh-sungguh akan
1:11:41 menghayati batin telanjang kita ini,
1:11:44 batin yang tak terbungkus.
1:11:48 Ini, yang dikatakan dalam Sutra Śūraṅgama:
1:11:49 "Batin gila seketika berhenti;
1:11:54 berhenti, itulah bodhi (pencerahan)."
1:11:56 Batinmu beristirahat,
1:11:58 beristirahat,
1:11:59 sebenarnya kau bisa
1:12:01 merasakan,
1:12:03 yaitu,
1:12:07 sangat jernih dan hening,
1:12:10 sangat jelas,
1:12:11 "mengetahui dengan sangat jernih",
1:12:13 lalu juga kosong melompong.
1:12:15 Menghayati batin semacam ini —
1:12:17 batin ini tampak sangat biasa,
1:12:20 seolah sangat biasa,
1:12:23 tetapi pembinaan diri —
1:12:24 yang hendak ia hayati justru adalah batin ini.
1:12:26 Kau perlu terus-menerus mengakrabinya,
1:12:29 kau harus membawa keadaan semacam ini ke dalam kehidupan.
1:12:32 Kalau kau tak membina diri dengan sangat sungguh-sungguh,
1:12:33 kau belum bisa melakukannya,
1:12:35 tidak mudah.
1:12:36 Karena
1:12:37 ketaktahuan, kekotoran batin, debu-grime, kebiasaan (samsara) kita semacam ini —
1:12:40 kekuatannya terlalu kuat.
1:12:42 Maka kita punya kedua langkah di depan ini
1:12:45 sebagai landasan;
1:12:47 kita, saat sungguh —
1:12:48 ada kesempatan, ada (langkah) ketiga:
1:12:50 membina diri (dengan cara) tak melakukan apa pun.
1:12:52 Lalu (kalau) kita merasa, membina diri dengan tak melakukan apa pun,
1:12:55 dibina-dibina, terasa tak ada kekuatan,
1:12:57 maka kita
1:12:58 masuk lagi ke (langkah) pertama,
1:13:00 kedua,
1:13:01 dibina baik-baik.
1:13:01 Lalu setelah dibina-dibina,
1:13:03 batin kita,
1:13:04 debu-grime ini,
1:13:05 sudah terkelupas sampai tingkat tertentu.
1:13:08 Nah, pada saat itu kita
1:13:10 dengan wajar melepaskan,
1:13:11 mengosongkan,
1:13:12 merilekskan,
1:13:13 mengosongkan
1:13:15 ini —
1:13:17 diri sendiri.
1:13:17 Nah, kita pun
1:13:22 punya kemampuan,
1:13:25 kita pun punya kemampuan untuk menghayati batin yang seperti ruang kosong ini.
1:13:33 Nah, ini —
1:13:34 tiga proses —
1:13:38 yaitu,
1:13:41 saya rasa, sebagai meditasi,
1:13:43 kalau bisa menggabungkan ketiga proses ini
1:13:46 dalam pemakaiannya,
1:13:47 dengan langkah pertama dan langkah kedua sebagai landasan,
1:13:50 langkah ketiga yaitu menghayati
1:13:53 keadaan-batin nir-pikiran ini
1:13:55 sebagai
1:13:56 dasar ajaran (zong).
1:13:56 Seperti yang dikatakan dalam Sutra Panggung (Platform Sutra):
1:13:58 "nir-pikiran sebagai dasar ajaran,
1:14:01 nir-tanda
1:14:03 sebagai
1:14:04 wujud,
1:14:05 nir-diam (tanpa melekat)
1:14:07 sebagai akar."
1:14:08 Nir-pikiran
1:14:09 yaitu batin yang seperti ruang kosong, yang melampaui getar pikiran.
1:14:14 Menghayati batin ini
1:14:16 adalah tujuan pokok pembinaan diri.
1:14:19 "Nir-tanda sebagai wujud":
1:14:22 batin yang seperti ruang kosong ini —
1:14:23 ia tanpa tanda,
1:14:25 tak berada dalam wujud apa pun.
1:14:28 Batin yang seperti ruang kosong ini —
1:14:30 ia menerangi tanpa melekat,
1:14:32 ia tak ada kelekatan,
1:14:34 ia tak dibebani oleh dharma-dharma yang keliru,
1:14:38 ia bisa mencapai (keadaan) "melewati serumpun ratusan bunga,
1:14:41 tak sehelai daun pun melekat di badan".
1:14:43 Ia adalah sejenis kekuatan
1:14:45 tak-melekat yang sejati.
1:14:46 Nah, hari ini kita memperkenalkan metode-metode ini.
1:14:54 Nah,
1:14:54 nah,
1:14:57 sudah bicara sekian lama, toh tetap harus duduk bersila.
1:15:10 Berikutnya kita tetap akan melakukannya sebentar.
1:15:12 Kita tetap ini —
1:15:15 dengan metode pertama dan
1:15:19 metode kedua,
1:15:21 yaitu:
1:15:22 pertama pilih
1:15:24 daya pemusatan.
1:15:25 Daya pemusatan yaitu
1:15:27 ini — dengan napas ini,
1:15:30 dengan napas alami.
1:15:31 Tentu kita bisa juga menarik napas dalam beberapa kali dulu.
1:15:35 Nah, ketika mengikuti napas ini,
1:15:35 kita akan melihat ini —
1:15:38 yang disebut ajaran Mahasi (Sayadaw) dari (tradisi) Selatan:
1:15:40 ia menganggap napas ini,
1:15:42 kita memperhatikan naik-turunnya perut ini,
1:15:44 dalam proses bernapas.
1:15:47 Tentu karena napas orang zaman sekarang cukup pendek,
1:15:50 kebanyakan hanya sampai ke dada,
1:15:51 maka bagimu masuk ke perut agak tak mudah.
1:15:54 Maka ini perlu latihan selama suatu waktu.
1:15:56 Pada awalnya boleh saja menaruh tangan di perut
1:15:59 sebentar,
1:16:01 lalu ditaruh (di tempat lain) lagi.
1:16:02 Nah, kadang kita bisa juga melakukan sejumlah latihan berbaring di ranjang;
1:16:06 berbaring di ranjang kau merasakan perut ini,
1:16:09 sekali naik sekali embus,
1:16:10 sekali naik sekali embus.
1:16:13 Lakukan sejumlah (latihan) seperti ini,
1:16:13 dengan penuh perhatian lakukan sejumlah latihan seperti ini.
1:16:17 Lalu, dalam proses naik-turun ini, kita menjaga sejenis
1:16:21 yaitu "mengetahui dengan jernih",
1:16:22 yaitu
1:16:23 daya penyadaran,
1:16:23 dengan sangat jelas.
1:16:26 Termasuk,
1:16:27 kalau dalam latihan kita timbul (sesuatu),
1:16:30 angan-angan datang,
1:16:31 kita juga jangan
1:16:32 menolaknya;
1:16:33 kita cukup menjaga daya penyadaran,
1:16:35 lalu membawa batin
1:16:36 kembali ke
1:16:38 napas,
1:16:40 melanjutkan bernapas.