Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

濟群法師:心理學視角的佛學世界(一)

Tentang Ceramah

Bagian pertama seri Master Ji Qun "Dunia Buddhisme dari Sudut Pandang Psikologi". Beliau memandang Buddhisme sebagai sistem psikologi Timur yang matang: hubungan Buddha–makhluk hidup diibaratkan dokter–pasien, dan setiap orang yang masih menyimpan tiga "virus" — serakah, benci, bodoh — adalah pasien yang belum sehat. Kerangka utamanya adalah Empat Kebenaran Mulia sebagai alur diagnosis: mengenali penderitaan, menemukan akarnya (kebingungan dan kekotoran batin), menetapkan kesembuhan (Nirwana sebagai peredaan), dan menempuh jalannya (Jalan Berunsur Delapan yang terangkum dalam sila-samadhi-kebijaksanaan). Beliau membedakan pendekatan Hinayana dan Mahayana, menolak jalan mengumbar nafsu maupun pertapaan ekstrem yang hanya "menekan rumput dengan batu", lalu menguraikan ajaran kesadaran (Yogācāra): delapan kesadaran, benih dalam ālaya-vijñāna, kesadaran-diri laten (manas) sebagai sumber kemelekatan-aku, dan makna sejati "tanpa-aku" — bukan menyangkal keberadaanmu, melainkan menyangkal pengenalan keliru tentang dirimu agar kau menemukan wajah aslimu.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Karena Buddhisme dipandang (sebagai) pembinaan diri dan pemupukan sifat batin,
itu adalah pembinaan pada bidang ini —
persoalan inti yang paling diperhatikan.
Pembinaan batin yaitu membina hati.
Membina hati mencakup:
pengenalan yang benar terhadap batin manusia kita,
sampai evolusi batin ini,
perbaikan, peningkatan.
Nah, ini semua termasuk isi pembinaan hati.
Mengenai teori pembinaan hati dalam Buddhisme,
sangat kaya.
Bisa dikatakan begini:
kita (bilang) Buddhisme punya (aliran) Selatan (Theravada),
Buddhisme Han (Tionghoa),
ini —
yang berbeda-beda —
semuanya bisa juga dianggap sebagai
aliran-aliran psikologi Buddhis
yang berbeda.
Masing-masing, bagi kita —
bagaimana mengenali batin kita dengan benar,
sampai
perubahan batin kita —
semuanya punya sebuah sistem yang sangat utuh,
sistem yang sangat utuh.
Maka psikologi Buddhis
memang sangat-sangat kaya dalam hal teori ini.
Semestinya dikatakan, bagi orang Tiongkok kita,
ini —
pembangunan kondisi batin yang baik —
dalam proses penyebarannya selama ribuan tahun di kebudayaan Tiongkok,
ia, terhadap pembangunan kondisi batin yang baik pada orang Tiongkok kita,
bahkan
apa yang disebut dalam aliran Chan
"menerangi batin dan melihat sifat sejati" —
ia semua
berperan sangat penting.
Nah, kita tahu
ini —
Tuan Liang Qichao ini,
pada tahun 20-an juga pernah berkata
(bahwa) Buddhisme adalah
ilmu batin
Timur.
Nah,
dari —
Buddhisme ini,
terhadap psikologi Barat,
juga punya pengaruh yang sangat penting.
Yaitu, psikologi Barat sejak
zaman modern
juga banyak menyerap pemikiran Buddhis.
Yang cukup terkenal misalnya seperti Jung,
seperti para master dari banyak aliran psikologi —
mereka juga terus-menerus
menyerap
psikologi Buddhis,
lalu menjadikannya
pembangunan teori psikologi Barat
serta psikoterapi.
Terutama seperti ajaran mindfulness (sati),
pengaruhnya terhadap psikologi Barat
juga sangat-sangat besar.
Yaitu,
dengan kata lain,
bukan hanya membantu kita lebih baik
mengenali
psikologi Barat,
sekaligus
juga membantu kita lebih baik memahami
psikologi Timur kita,
yaitu Tiongkok kita,
psikologi Timur kita —
sebenarnya bagaimana.
Nah, persoalan ini,
saya ingin, berikutnya,
dari beberapa sisi,
bersama kalian
memperkenalkannya,
memperkenalkannya kepada kalian.
Nah, pertama-tama,
persoalan pertama yang ingin saya perkenalkan adalah
tentang Buddhisme —
prinsip psikoterapi ini,
prinsip psikoterapi Buddhis.
Buddhisme,
ia bisa dikatakan sebuah ajaran doktrin,
tetapi
kita juga bisa menyebutnya sebuah psikologi,
sebuah psikologi.
Dalam sutra-sutra Buddhis,
sering hubungan
antara Buddha
dan makhluk hidup
disebut sebagai
ini —
hubungan dokter
dan pasien.
Buddha,
dalam sutra Buddhis,
sering disebut sebagai
Raja Tabib Agung,
atau disebut sebagai seorang dokter.
Nah, makhluk hidup,
makhluk hidup yang berjubel,
biasanya juga disebut sebagai —
disebut sebagai
ini —
pasien.
Pasien ini adalah sebuah
konsep macam apa?
Tentu, kita orang awam,
kita tak bersedia menyebut
kita —
kita —
kita biasanya
tak akan menganggap diri sendiri sebagai pasien.
Ia —
ia sebenarnya sebuah
definisi macam apa?
Definisi Buddhisme tentang pasien adalah:
yaitu (dengan) keserakahan,
kebencian,
kebodohan —
(dan) perasaan (keliru).
Buddhisme menganggap kita makhluk hidup,
di dalam kehidupan kita
ada tiga penyakit: keserakahan, kebencian, kebodohan.
Asalkan kita belum melepaskan diri dari keserakahan-kebencian-kebodohan ini,
tiga virus ini,
maka kita semua termasuk pasien.
Nah, Buddha
juga (dulunya) pasien keserakahan-kebencian-kebodohan,
yaitu pasien tiga racun keserakahan-kebencian-kebodohan.
Karena Ia, melalui pembinaan diri,
melalui pembinaan jalan,
melepaskan diri dari keserakahan-kebencian-kebodohan ini,
tiga virus ini,
memancarkan
potensi tersadar
yang ada di dalam kehidupan-Nya,
menjadi seorang
ini —
yang tersadar,
yang bijaksana,
menjadi seorang
yang tersadarkan,
menjadi seorang yang bijaksana.
Nah, Buddhisme —
yaitu Buddha —
yang Ia telaah dan temukan
adalah bagaimana
menyembuhkan
penyakit tiga (racun) keserakahan-kebencian-kebodohan
yang ada di dalam kehidupan makhluk hidup ini,
metode (menyembuhkan) penyakit ini.
Maka,
Buddha-Dharma,
Buddha-Dharma,
ia sendiri juga termasuk sejenis
metode menyembuhkan penyakit.
Buddha-Dharma
adalah metode menyembuhkan penyakit
keserakahan-kebencian-kebodohan
yang ada di dalam kehidupan kita ini.
Nah, Buddhisme menganggap dalam
proses pembinaan diri
manusia kita,
proses pembinaan diri,
proses pembinaan diri yaitu
proses menyembuhkan penyakit.
Nah, dari makna ini,
dengan kata lain,
di dalam kehidupan setiap orang kita,
asalkan ada keserakahan-kebencian-kebodohan,
kita adalah —
kita adalah —
bukan orang yang sehat dalam makna yang sesungguhnya,
kita adalah seorang
yang berpenyakit.
Ini yang perlu kita akui,
terima —
sebuah
kenyataan semacam ini.
Maka,
ini —
inilah Buddhisme:
ia (memandang) kita —
yaitu,
dari sudut psikologi,
metode semacam ini untuk menyembuhkan persoalan psikologis,
metode semacam ini,
ilmu,
dan kebijaksanaan.
Nah,
nah, Buddha-Dharma ini —
ini —
metode menyembuhkan persoalan psikologis manusia
banyak,
banyak.
Sebanyak apa?
Ini —
dalam sutra Buddhis sering disebut delapan puluh empat ribu pintu-Dharma,
delapan puluh empat ribu pintu-Dharma.
Yaitu ia —
tentu delapan puluh empat ribu pintu-Dharma ini
sebenarnya ia adalah
sebuah ungkapan konvensional,
bukan (angka) yang sebenarnya.
Yaitu, menjelaskan bahwa metode ini,
metode ini,
pintu-Dharma ini banyak.
Metode ini ada
berbagai macam mazhab.
Yang barusan kita bahas,
termasuk seperti Buddhisme Selatan (Theravada),
misalnya meditasi mindfulness sekarang,
pengaruhnya terhadap psikologi Barat
sangat besar.
Mindfulness ini sebenarnya dengan (aliran) Selatan,
dengan Buddhisme Selatan, punya kaitan yang sangat besar.
Nah, selain Buddhisme Selatan,
ada pula Buddhisme Han (Tionghoa),
Buddhisme Tibet.
Setiap Buddhisme tradisional
punya banyak mazhab,
punya banyak sutra dan sastra.
Maka dalam keadaan semacam ini,
kita —
bagaimana kita memahami Buddhisme,
mempelajari Buddhisme?
Buddhisme,
Buddha-Dharma yang luas dan mendalam —
adakah sebuah garis besar yang mendasar?
Adakah sebuah garis besar yang mendasar?
Sebenarnya ada.
Buddha, mula-mula di bawah pohon Bodhi,
setelah tercerahkan,
berdasarkan pengalaman pembinaan diri-Nya sendiri,
Ia merangkum ini —
pintu-Dharma Empat Kebenaran (Mulia).
Pintu-Dharma Empat Kebenaran yaitu
garis besar Buddha-Dharma.
Maka Buddha ini,
Ia sangat bijaksana.
Ia (mengambil) ini —
seluruh persoalan keberadaan kehidupan ini,
serta penyelesaian persoalan ini,
Ia merangkumnya menjadi empat aksara.
Empat aksara ini —
empat aksara ini
yaitu penderitaan, asal-mula, lenyapnya, jalan (dukkha, samudaya, nirodha, magga),
penderitaan-asal-lenyap-jalan.
Di dalam penderitaan-asal-lenyap-jalan ini
ia —
ia —
tersembunyi dua lapis sebab-akibat kehidupan.
Dua lapis sebab-akibat ini
yaitu sebab-akibat lingkaran tumimbal lahir (samsara)
dan sebab-akibat pembebasan.
Kita membahas ini —
persoalan ini —
sebenarnya,
yaitu,
ini berkaitan dengan seluruh kebudayaan India.
Nah, seluruh kebudayaan India —
persoalan paling inti yang dipedulikan seluruh kebudayaan India
adalah apa?
Persoalan paling inti yang dipedulikannya
adalah tumimbal lahir dan pembebasan.
Orang India secara umum menganggap
kehidupan ini
adalah sejenis tumimbal lahir yang tak berkesudahan,
dan kehidupan dalam tumimbal lahir semacam itu penuh dengan
kekotoran batin dan penderitaan,
penuh dengan ketidakbebasan,
ketidakleluasaan.
Kita tahu filsafat dan agama India sangat berkembang.
Maka semua filsafat
dan agama itu
hendak menyelesaikan satu persoalan,
yaitu bagaimana bisa punya pengenalan yang benar terhadap tumimbal lahir ini,
punya pengenalan yang benar terhadap tumimbal lahir.
Sekaligus,
bagaimana bisa dari tumimbal lahir ini —
bagaimana bisa mengakhiri,
mengakhiri tumimbal lahir ini.
Nah, kita tahu
Buddha,
seluruh Buddhisme,
juga sedang menyelesaikan persoalan ini,
juga sedang menyelesaikan persoalan ini.
Nah, menyelesaikan persoalan ini —
persoalan ini sebenarnya mengandung dua sisi.
Satu sisi
adalah memberi penjelasan yang benar terhadap tumimbal lahir ini —
tumimbal lahir sebenarnya bagaimana.
Sisi kedua
adalah mengajukan
sebuah metode penyelesaian yang tuntas terhadap tumimbal lahir ini,
bukan yang tak tuntas,
metode yang tuntas untuk menyelesaikan tumimbal lahir kita.
Nah, kita sekarang membahas ini —
empat aksara pintu-Dharma Empat Kebenaran ini —
sebenarnya ia mengandung
pengenalan terhadap wujud-sejati tumimbal lahir,
serta bagaimana (keluar) dari tumimbal lahir ini.
Nah, terhadap wujud-sejati tumimbal lahir ini,
pengenalan semacam ini,
di dalam pintu-Dharma Empat Kebenaran ini,
yaitu
dua aksara di depan,
yaitu
penderitaan
dan
asal-mula.
Penderitaan,
asal-mula —
yaitu penyebab timbulnya penderitaan ini.
Di satu sisi kau harus mengenali kenyataan bahwa hidup adalah penderitaan;
di sisi kedua,
kau harus mengenali
apa penyebab sejati timbulnya penderitaan hidup ini.
Karena hanya bila kau menemukan penyebab sejatinya,
kau baru bisa
menyelesaikan penderitaan hidup secara tuntas.
Ini sebuah poin kunci.
Nah, ini —
banyak dari kita tahu ini —
Buddhisme berkata hidup adalah penderitaan.
Membahas "hidup adalah penderitaan" —
konsep ini
sangat mudah menimbulkan perasaan apa pada orang?
Sangat mudah membuat orang merasa hidup adalah (penderitaan);
pernyataan semacam ini
cukup pesimistis,
negatif.
Maka pagi ini,
ini —
menyangkut persoalan ini,
saya juga mengunggah sebuah pos Weibo.
Ini —
sebenarnya kita membahas "hidup adalah penderitaan" ini,
pernyataan ini sebenarnya tak menyeluruh,
sebenarnya cukup negatif.
Kalau bicara sungguh-sungguh tentang hakikat kehidupan,
ia jernih,
bahagia,
bebas.
Karena apa hakikat kehidupan?
Hakikat kehidupan yaitu sifat-tersadar di dalam kehidupan setiap orang kita.
Sifat-tersadar ini
penuh dengan —
ia sendiri jernih.
Sekaligus,
ia sendiri —
ia bahagia,
ia terus-menerus menciptakan kebahagiaan,
menciptakan sukacita,
penuh dengan sukacita.
Sekaligus ia sendiri mandiri,
bebas,
bebas.
Baik,
ini yang saya anggap —
saya menganggap "hidup adalah penderitaan" ini,
pelajaran bagian ini
juga bisa dijelaskan.
Ini —
(bagian rekaman tidak jelas)
ini —
ini —
ini —
ini —
ini —
ini —
ini —
ini —
kebingungan dan kekotoran batin.
Nah, apa yang disebut kebingungan?
"Bingung" (mi) ini —
"bingung" yaitu —
dalam Buddhisme ada (istilah)
yang disebut ketaktahuan (avidya),
ketaktahuan,
seperti hari ini cuaca sangat baik,
seperti hari berkabut asap yang parah ini,
kau melihat apa pun
tak jelas.
Ketaktahuan ini yaitu
yaitu tak bisa melihat dengan jelas.
Setiap kehidupan berada dalam
keadaan ketaktahuan semacam ini.
Yaitu kabut asap di dalam kehidupanmu sangat parah,
yang membuatmu tak bisa melihat dengan jelas
wujud-sejati kehidupanmu sendiri.
Setiap kehidupan
penuh dengan ketaktahuan terhadap dirinya sendiri,
tak bisa melihat dengan jelas
wujud-sejati kehidupannya sendiri.
Sekaligus,
itu juga membuatmu tak bisa melihat dengan jelas
wujud-sejati dunia.
Apa wujud-sejati kehidupan?
Apa wujud-sejati dunia?
Manusia tak bisa melihat dirinya sendiri dengan jelas.
Maka dalam filsafat Barat dikatakan "kenalilah dirimu sendiri".
Mengapa dikatakan "kenalilah dirimu sendiri"?
Karena kau tak bisa melihat dirimu sendiri dengan jelas.
Karena kita
tak bisa melihat diri sendiri dengan jelas,
kita akan, terhadap diri sendiri,
menghasilkan sejenis penetapan yang keliru,
pengenalan yang keliru.
Maka kesalahpahaman terbesar dalam hidup
adalah apa?
Kau tahu apa kesalahpahaman terbesar dalam hidup?
Kesalahpahaman terbesar dalam hidup
adalah pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri,
pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri,
sejenis penetapan yang keliru terhadap diri sendiri,
sejenis pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri.
Lalu sekaligus,
kita juga akan menghasilkan sejenis pengenalan yang keliru terhadap dunia ini,
kita juga akan menghasilkan sejenis pengenalan yang keliru terhadap dunia ini.
Lalu sekaligus kita juga akan melekat
pada pengenalan yang keliru semacam itu.
Lalu dari kebingungan dan kekotoran batin ini,
lalu dari kebingungan dan kekotoran batin ini,
terbentuklah landasan tempat kehidupan kita sekarang dibangun.
Kehidupan kita sekarang dibangun di atas pengenalan yang keliru semacam itu.
Dari pengenalan yang keliru ini timbul kekotoran batin,
lalu dari kekotoran batin ini tersusun kehidupan kita saat ini.
Nah, kehidupan semacam itu, dari hakikatnya, adalah penderitaan.
Yaitu, kebingungan dan kekotoran batin
adalah mesin gerak abadi yang menciptakan penderitaan bagi kehidupan setiap orang kita.
Ia terus-menerus menciptakan (penderitaan).
Sebenarnya, Buddhisme berkata hidup adalah penderitaan —
sesungguhnya condong pada: hidup yang berlandaskan kebingungan dan kekotoran batin
adalah penderitaan.
Nah, sebaliknya,
kalau kita berpijak pada sifat-tersadar,
berpijak pada kesadaran di dalam kehidupan kita,
hidup yang dibangun di atas sifat sejati kita,
maka hidup semacam itu penuh dengan ketenangan,
kebebasan, sukacita, kebahagiaan.
Nah, inilah yang memberi tahu kita: Buddhisme membahas sebab-akibat tumimbal lahir,
yaitu penderitaan.
Kita hendak menyelesaikan persoalan penderitaan;
sesungguhnya yang paling utama adalah menemukan (asal) penderitaan.
Maka dalam pintu-Dharma Empat Kebenaran yang dibahas Buddhisme,
penderitaan, asal-mula, lenyapnya, jalan —
"lenyapnya" ini yaitu Nirwana.
Apa arti Nirwana?
Yaitu meredakan, memadamkan,
yaitu melenyapkan.
Melenyapkan apa?
Yaitu melenyapkan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita.
Kau hendak melenyapkan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita,
hendak melenyapkan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita —
kuncinya adalah meredakan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupanmu.
Kalau kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupanmu mereda,
maka gejala penderitaanmu itu baru bisa reda.
Seperti kita jatuh sakit —
kita jatuh sakit itu menderita.
Asalkan kita berpenyakit,
entah punya berbagai macam penyakit jasmani semacam itu,
atau punya penyakit psikologis,
nah, penyakit tubuh
atau penyakit psikologis,
penyakit ini
pasti terus-menerus menciptakan penyakit,
pasti terus-menerus menciptakan penyakit.
Nah, bagaimana kita
baru bisa melenyapkan penderitaan sakit semacam ini?
Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah pengobatan.
Setelah penyakit tubuh kita diobati sampai sembuh,
dilenyapkan,
penyakit itu dilenyapkan,
atau penyakit psikologis semacam itu dilenyapkan —
setelah penyakit semacam itu lenyap,
penderitaan itu pun akhirnya reda.
Maka Nirwana yaitu peredaan,
ketenangan,
keheningan,
keheningan.
Yaitu kehidupan kita
memasuki sejenis keadaan tenang
dan sukacita.
Ketika kehidupan kita melenyapkan
hal-hal ini,
ini —
kebingungan dan kekotoran batin ini,
maka penderitaan hidup kita pun terlenyapkan.
Nah, melenyapkan penderitaan ini
memerlukan metode macam apa?
Memerlukan metode macam apa?
Metode ini
sebenarnya yaitu jalan (magga).
Penderitaan, asal-mula, lenyapnya,
jalan,
jalan,
jalan —
yaitu metode.
Maka pintu-Dharma Empat Kebenaran ini pertama-tama menyebut hasil,
lalu mencari sebab;
lalu menyebut hasil dulu,
baru mencari sebab.
Menyebut hasil dulu yaitu mewakili kenyataan penderitaan.
Kita memahami penderitaan,
kita mengakui hidup yang berlandaskan kebingungan dan kekotoran batin penuh dengan penderitaan.
Di mana akar penderitaan ini?
Sebab yang kautemukan berasal dari kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita.
Lalu, "lenyapnya" yaitu sejenis kehidupan yang sehat,
yaitu sejenis kehidupan tanpa kebingungan,
sejenis kehidupan tanpa kebingungan, tanpa kekotoran batin,
yaitu kehidupan yang batinnya penuh dengan kesadaran, kebebasan, sukacita, kebahagiaan —
itulah Nirwana.
Nah, timbulnya Nirwana
perlu melalui metode apa?
Perlu melalui jalan,
yaitu Kebenaran tentang Jalan,
Jalan Berunsur Delapan.
Sebenarnya
Buddha-Dharma ini,
dalam
mazhab-mazhab yang berbeda ini —
kita membahas ini —
ini —
Buddhisme Selatan (Theravada),
Buddhisme Han (Tionghoa),
Buddhisme Tibet —
terhadap penderitaan ini,
penderitaan ini,
dan sebab timbulnya penderitaan —
berlandaskan kebingungan dan kekotoran batin ini,
menimbulkan berbagai penderitaan hidup semacam itu, sebuah
sebab-akibat,
analisis sebab-kondisi —
dalam hal ini,
pada dasarnya semua sama.
Di mana letak perbedaannya?
Yaitu, tiap mazhab yang berbeda,
dalam Kebenaran tentang Jalan ini,
dalam metode ini —
bagaimana melenyapkan penderitaan tumimbal lahir ini —
ada Mahayana,
ada Hinayana,
ada Madhyamaka,
ada Yogācāra (Kesadaran-saja),
ada Tanah Suci,
ada Chan.
Ini terwujud dalam
perbedaan metode,
perbedaan metode.
Yaitu,
nah, yang disebut
semua metode ini,
ia juga punya sebuah
garis besar inti,
yaitu Jalan Berunsur Delapan.
Jalan Berunsur Delapan ini —
Jalan Berunsur Delapan yaitu dari
pandangan benar,
niat benar,
ucapan benar,
perbuatan benar,
penghidupan benar,
upaya benar,
perhatian benar,
konsentrasi benar.
Jalan Berunsur Delapan ini pada dasarnya
mengandung
tiga jenis isi pembinaan diri.
Misalnya,
pandangan benar,
niat benar —
ia
ia mengandung (upaya):
kita hendak menyelesaikan kebingungan dan kekotoran batin kehidupan ini.
Kau memerlukan
pengenalan yang benar semacam ini.
Pandangan benar — ini adalah
ajaran Buddha-Dharma yang paling khas (tak dimiliki ajaran lain).
Pandangan benar —
apa itu pandangan benar?
Pandangan benar yaitu
pengenalanmu harus selaras dengan wujud-sejati dunia,
yaitu mengenali dunia sebagaimana adanya,
mengenali dunia sebagaimana adanya.
Nah, itulah pandangan benar.
Nah, Buddhisme menganggap,
yaitu,
pengenalan yang benar
bisa membuka (kebijaksanaan);
dengan kata lain,
kekotoran batin kita semuanya karena kebingungan,
semuanya timbul karena pengenalan yang keliru.
Sebaliknya, kalau kita hendak melenyapkan kebingungan
dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita,
kita perlu membangun sejenis metode kebijaksanaan,
kita perlu membangun sejenis metode kebijaksanaan.
Melalui metode kebijaksanaan semacam ini
barulah bisa membantu kita membangun sejenis pengenalan yang benar.
Ketika kita punya
pengenalan yang bijaksana semacam itu,
barulah kita bisa mencapai kebenaran,
barulah kita bisa
melenyapkan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita.
Maka dalam pembinaan diri setiap mazhab,
pandangan benar selalu sangat penting.
Misalnya Buddhisme membahas kemunculan bergantungan (pratītyasamutpāda),
membahas ketidakkekalan, membahas tanpa-aku,
membahas semua makhluk hidup memiliki Buddha-sifat —
ini semua termasuk
cara pandangan benar
yang berbeda-beda.
Sisi kedua Jalan Berunsur Delapan adalah membantu kita membangun sejenis
kehidupan yang sehat,
yang benar —
seperti ucapan benar,
perbuatan benar,
penghidupan benar.
Misalnya kita harus punya sejenis
kehidupan yang sehat,
yang sesuai Dharma.
Cara hidup ini, bagi dunia kita —
dunia ekologis, dan bagi batin setiap orang kita — sebenarnya pengaruhnya sangat besar.
Mengapa hari ini batin manusia sekacau ini?
Mengapa lingkungan ekologis memburuk dengan parah?
Sebenarnya berkaitan dengan
cara hidup kita,
punya kaitan yang sangat besar.
Karena cara hidup kita
sangat kacau.
Maka Buddhisme menganggap kita membangun sejenis kehidupan yang sederhana,
yang sehat,
adalah landasan yang sangat penting untuk membangun kondisi batin yang baik,
serta
lingkungan ekologis yang baik.
Nah, mengenai kehidupan ini, dalam Buddhisme termasuk
isi (pembinaan) sila.
Pandangan benar termasuk isi (pembinaan) kebijaksanaan.
Nah, ada pula
mengenai perhatian benar dan konsentrasi benar,
yang termasuk (pembinaan) samadhi:
setelah kita punya pandangan benar, kita masih perlu meditasi Chan.
Yaitu, kau perlu —
kita di sekolah ini, banyak dari kita melakukan riset akademis,
riset
tentang ini —
filsafat Timur,
filsafat Barat.
Berbagai filsafat kuno dan modern, dalam dan luar negeri — kita menguasai banyak pengetahuan filsafat.
Tetapi mungkin kita —
menjadi manusia dan mempelajari filsafat seringkali dua hal yang berbeda.
Mengapa dua hal yang berbeda?
Kita tak mampu mengubah kebijaksanaan filsafat semacam itu menjadi pengenalan diri sendiri yang sesungguhnya,
menjadi sejenis cara diri sendiri memperlakukan orang dan menangani perkara.
Yaitu, kita
kekurangan sejenis
(kepedulian) terhadap persoalan kehidupan,
terhadap hakikat kehidupan semacam ini,
ini —
pencarian kebenaran,
yaitu (kepedulian) untuk menyelesaikan kebingungan kehidupan, menyelesaikan persoalan kehidupan —
sebuah titik-pemicu semacam itu.
Maka kita sangat mudah menjadikan
filsafat yang dipelajari ini
filsafat ini
sebagai sejenis pengetahuan budaya untuk dipelajari.
Nah, Buddha-Dharma yaitu: setelah kau, melalui pembelajaran Buddha-Dharma, membangun sejenis
pandangan benar tentang hidup,
yang paling krusial masih harus melalui meditasi Chan,
harus melalui meditasi Chan
untuk mengubah pengenalan semacam itu menjadi —
mengubah kebijaksanaan semacam itu
menjadi pengenalanmu,
menjadi sejenis kekuatan batinmu.
Melalui sejenis
meditasi Chan semacam ini,
akhirnya mengembangkan kebijaksanaan
yang senantiasa lengkap di dalam kehidupanmu.
Nah, inilah
inti pembinaan diri Buddha-Dharma.
Pada dasarnya juga ada
sila,
samadhi,
kebijaksanaan —
(tiga hal ini),
tiga sisi ini.
Kita sekarang membahas —
entah membahas
Buddhisme Selatan (Theravada),
Buddhisme Han,
Buddhisme Tibet —
sebenarnya semua tak lepas dari inti ini.
Nah, inti ini yaitu:
melalui pembinaan jalan ini,
akhirnya yaitu Kebenaran tentang Jalan,
yaitu melalui pembinaan Jalan Berunsur Delapan,
yaitu hendak,
akhirnya, membantu kita meredakan
kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan kita,
kebingungan dan kekotoran batin —
maka mencapai "lenyapnya",
Nirwana.
Nah, "lenyapnya" (Nirwana) ini —
dalam hal ini,
Hinayana dan Mahayana
pun tidak sama.
Misalnya,
Buddhisme Hinayana
condong pada sejenis
(penekanan pada) kualitas negatif (kehidupan).
Misalnya, dalam proses kita mempelajari Buddhisme,
banyak dari kita merasa Buddhisme cukup pesimistis.
Mengapa terasa cukup pesimistis?
Karena yang kau lihat semuanya adalah
sisi yang bersifat penyangkalan (kritik), lebih banyak.
Misalnya membahas ketidakkekalan,
membahas penderitaan,
membahas kekosongan —
ia condong pada,
termasuk Nirwana,
Nirwana yaitu berhentinya tumimbal lahir.
Nah, kita —
kalau kita semata-mata memperkenalkan sisi ini,
kita akan merasa
apakah Buddhisme cukup pesimistis?
Bagaimana ini?
Karena kita, di dunia ini,
terhadap dunia ini kita penuh dengan kemelekatan,
penuh dengan penegasan (afirmasi).
Tetapi Buddhisme, terhadap
dunia ini,
punya banyak penyangkalan.
Tetapi sebenarnya penyangkalan-penyangkalan ini —
yang ia sangkal itu apa?
Yang ia sangkal adalah sisi negatif yang ada di dalam kehidupan kita,
yaitu hidup yang berlandaskan kebingungan dan kekotoran batin;
ia sendiri, pada hakikatnya, adalah penderitaan.
Maka yang hendak Buddhisme beri tahu kita adalah sebuah wujud-sejati.
Kita menganggap (sesuatu itu) abadi,
sesungguhnya tak ada yang abadi —
Buddhisme memberi tahu kita: ketidakkekalan.
Kita menganggap (sesuatu itu) bahagia,
tetapi sesungguhnya kehidupan yang berlandaskan kebingungan
dan kekotoran batin,
hakikatnya adalah penderitaan.
Nah, kita menganggap
ini —
yaitu,
abadi;
tetapi sesungguhnya
kehidupan ini
berada dalam perubahan tak kekal
yang terus-menerus semacam ini.
Kita menganggap segalanya adalah keberadaan yang nyata,
segalanya adalah keberadaan yang sejati dan tak berubah.
Tetapi Buddhisme memberi tahu kita:
dunia yang kauanggap ada ini,
(anggapan bahwa) ada suatu entitas yang tak terbagi,
yang tak berubah dan tak terbagi —
pada dasarnya tidak ada.
Segala keberadaan di dunia adalah sejenis ilusi yang bersyarat,
sejenis perpaduan sebab-kondisi,
ia adalah sejenis ilusi yang bersyarat.
Nah, sebenarnya penyangkalan Buddhisme hendak menyangkal sejenis pengenalan awal kita (yang keliru).
Nah, Buddha-Dharma Mahayana —
di mana letak perbedaannya?
Ia bukan hanya mementingkan penyangkalan terhadap sisi negatif ini;
ia juga mementingkan sebuah pengenalan positif terhadap kehidupan,
menyingkap yang positif,
menyingkap yang positif.
Kehidupan kita punya dua tataran:
satu adalah, dengan kebingungan
dan kekotoran batin sebagai landasan, berkembang menjadi satu bagian;
dan satu lagi adalah, dengan sifat-tersadar,
menyingkapkan sejenis (kehidupan) semacam ini —
(kehidupan) yang bebas dan bahagia, satu bagian.
Nah, Buddha-Dharma Mahayana bukan hanya mementingkan penyangkalan terhadap sisi negatif;
ia juga lebih mementingkan sejenis
penyingkapan yang positif,
penyingkapan yang positif.
Kehidupan bukan hanya perlu menyangkal emosi negatif;
yang lebih utama adalah menyingkapkan kehidupan kita,
kekuatan positif semacam ini di dalam kehidupan kita.
Maka dalam Buddha-Dharma Mahayana dibahas keagungan Tanah Suci semacam itu,
dan dibahas ikrar welas asih bodhisatwa yang tak berkesudahan.
Ikrar welas asih yang tak berkesudahan yaitu selamanya memberi manfaat bagi makhluk hidup,
ikrar welas asih yang tak berkesudahan.
Nah, semangat-semangat ini membuat
kehidupan setiap orang kita penuh dengan harapan dan cahaya.
Ia membuat kita terus bertumbuh tanpa henti.
Nah, saya rasa ini adalah, antara Buddha-Dharma Mahayana dan Buddha-Dharma Hinayana,
dalam hal pembinaan diri,
satu titik perbedaan.
Ada lagi satu titik perbedaan, di mana?
Buddha-Dharma Hinayana membahas Nirwana —
asalkan diri sendiri (mencapai) Nirwana sudah cukup.
Aku sendiri, kebingungan dan kekotoran batin
di dalam kehidupanku sendiri,
ini kuselesaikan,
maka kehidupanku pun
sudah selesai (tuntas),
perkara yang harus kukerjakan pun berakhir.
Nah,
Buddha-Dharma Mahayana —
ia hendak memberi manfaat bagi semua makhluk hidup.
Ia bukan hanya sendiri hendak melenyapkan kebingungan dan kekotoran batin di dalam kehidupan;
ia bukan hanya sendiri hendak menuju kesadaran;
ia juga hendak membantu semua makhluk hidup menuju kesadaran,
hendak memberi manfaat bagi semua makhluk hidup.
Maka disebut Mahayana (kendaraan besar),
Hinayana (kendaraan kecil).
"Yana" (kendaraan) itu seperti,
seperti sebuah kendaraan —
ada sepeda,
ada sedan kecil,
ada pula bus besar,
ada pula kapal besar.
Yaitu, Mahayana yaitu (yang) bisa mengangkut semua makhluk hidup
dari
lautan penderitaan yang membingungkan dalam tumimbal lahir ini,
menuju
pantai seberang kesadaran semacam ini,
menuju pantai seberang kesadaran.
Nah, ini termasuk
Mahayana.
Nah, secara keseluruhan, pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
mengandung:
dari mengenali (bahwa) hidup —
hidup yang berlandaskan kebingungan
dan kekotoran batin,
hidup semacam itu
adalah penderitaan,
lalu sampai bagaimana menyelesaikannya,
menyelesaikan secara tuntas
penderitaan hidup ini.
Nah, di dalamnya
yaitu,
yaitu mengandung
yaitu
penderitaan,
asal-mula, lenyapnya, jalan.
Maka penetapan penderitaan-asal-lenyap-jalan ini
seperti orang India ini,
dokter India ini menyembuhkan penyakit —
ia juga punya empat tahap.
Misalnya kau melihat seorang pasien,
pertama-tama harus memberinya sebuah diagnosis:
sebenarnya ia terkena penyakit apa?
Kau perlu memberinya diagnosis yang sesuai kenyataan.
Ini poin pertama.
Poin kedua
yaitu
menemukan akar penyakit ini.
Kau harus menemukan sebab yang sesungguhnya.
Hanya bila kau menemukan penyebab penyakit yang sesungguhnya,
kau baru bisa mencapai penyelesaian yang sesungguhnya.
(Menemukan penyebab yang) menentukan.
Kedua yaitu
membuat diagnosis yang benar terhadap penyebab penyakitnya.
Ketiga
yaitu terhadap hasil setelah pengobatannya perlu dilakukan penilaian.
Apa hasil setelah pengobatannya?
Bisa disembuhkan atau tidak,
sembuh dengan baik atau tidak sembuh dengan baik.
Ini yang ketiga.
Keempat
yaitu harus menyediakan
sebuah rencana pengobatan yang baik.
Inilah jalan (magga).
Nah, Buddha —
Ia berkata pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
juga berdasarkan sebuah alur-pikir pengobatan semacam ini terhadap penyakit kehidupan,
membangun
pintu-Dharma Empat Kebenaran ini:
penderitaan,
asal-mula,
lenyapnya,
jalan.
Nah, kita membahas pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
terutama hendak
memberi tahu kalian
yaitu prinsip
psikoterapi Buddhis ini.
Nah, saya rasa dalam pintu-Dharma Empat Kebenaran ini
sesungguhnya ada dua poin yang perlu kita
ini —
perhatikan.
Ada dua poin yang perlu kita perhatikan.
Poin pertama:
penyelesaian Buddhisme terhadap penyakit manusia —
ia dibangun di atas landasan prinsip macam apa?
Penjelasan Buddhisme terhadap
dunia ini,
pada dasarnya
bisa kita jelaskan dengan empat aksara.
Empat aksara ini yaitu sebab (hetu),
kondisi (pratyaya),
sebab-akibat,
sebab-kondisi,
sebab.
Ini —
Buddha dalam Āgama-sutra berkata,
Ia berkata: ada sebab ada kondisi,
dunia bermula;
ada sebab ada kondisi,
dunia lenyap.
Yaitu,
ini —
timbulnya fenomena apa pun di dunia
memiliki sebab-kondisinya,
memiliki sebab-dahulu dan akibat-kemudiannya.
Kau harus menemukan sebab-kondisinya,
baru bisa sungguh-sungguh memahami
sebab-akibat pada dirinya sendiri.
Nah, sama halnya (bila) kau menyelesaikan sebuah persoalan —
bagaimana kau baru bisa menyelesaikannya dari akar?
Juga kau harus menemukan sebabnya yang sesungguhnya.
Hanya bila kau menyelesaikan sebab yang sesungguhnya ini,
persoalan ini baru bisa terhitung
terselesaikan sampai batas tertentu.
Maka di dalam
ajaran dasar Buddha ini
ada empat kalimat,
ada empat kalimat.
Empat kalimat ini yaitu:
"Ini ada, maka itu ada;
ini muncul,
maka itu muncul;
ini tiada,
maka itu tiada;
ini lenyap,
maka itu lenyap."
Karena ada sejenis sebab-kondisi yang muncul,
maka baru ada sejenis hasil yang timbul.
Kalau sejenis sebab-kondisi
lenyap seperti itu,
sejenis hasil
pun lenyap.
Begitulah prinsipnya.
Nah, sama halnya, dalam menyelesaikan persoalan kehidupan,
kita juga sama harus memakai prinsip semacam ini,
memakai sebuah (prinsip) semacam ini —
seperti menghadapi kenyataan penderitaan.
Peradaban manusia kita selama lima ribu tahun,
peradaban manusia kita selama lima ribu tahun,
sedang mengerjakan hal apa?
Semua sedang mengerjakan satu hal,
yaitu hendak membantu (menyelesaikan) persoalan kehidupan kita:
bagaimana kita melepaskan diri dari penderitaan hidup.
Dalam bahasa Buddhis yaitu melepaskan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan,
melepaskan penderitaan,
membuat hidup kita bisa dijalani dengan bahagia dan riang.
Saya rasa ini semestinya sebuah
sasaran bersama peradaban manusia kita selama lima ribu tahun.
Nah, coba kita (bayangkan) dari manusia purba —
tentu dalam peradaban lima ribu tahun ini ada filsafat,
agama,
ini —
berbagai macam
ilmu,
ilmu ini termasuk pengenalan terhadap dunia luar,
tentu sekaligus juga mengandung pengenalan terhadap sisi dalam kehidupan kita,
pengenalan terhadap sisi dalam kehidupan.
Nah, terutama,
sejak abad keenam belas, peradaban materi berkembang sangat tinggi.
Kau lihat, dari pisau dan busur-panah manusia purba
sampai perkembangan teknologi tinggi kita hari ini,
kita terus-menerus memperbaiki lingkungan materi luar,
memperkaya kehidupan materi.
Nah, orang zaman sekarang seolah —
penderitaan kita tidak berkurang karenanya.
Malah orang zaman sekarang mungkin hidup lebih linglung,
lebih lelah,
lebih menderita.
Penyebab lebih menderita adalah karena kekotoran batin di dalam kita lebih banyak.
Penyebab lebih lelah adalah karena keluhan (batin) kita terlalu banyak.
Hal yang kita butuhkan terlalu banyak,
membuat kita menjadi lebih lelah.
Lalu hal yang kita lekati terlalu banyak,
membuat kita menjadi lebih dikuasai kekotoran batin.
Maka bagaimana kita hendak menyelesaikan penderitaan?
Kalau kita hanya
memperbaiki lingkungan luar tanpa menemukan
akar timbulnya penderitaan ini,
menyelesaikan penderitaan hidup dari akarnya,
maka upaya yang kita lakukan
semuanya termasuk sejenis "menciduk air mendidih untuk menghentikan didihnya",
yaitu menciduk air mendidih untuk menghentikan didihnya,
bukan "menarik kayu bakar dari bawah kuali".
Buddha menganggap, yaitu:
kita perlu sungguh-sungguh menyelesaikan penderitaan,
kita perlu menemukan penyebab penderitaan yang sesungguhnya,
asal-mula penderitaan.
Dan lagi,
kita juga harus menemukan
metode penyelesaian penderitaan ini yang sesungguhnya,
menyelesaikannya sampai tuntas,
bukan sejenis penyelesaian sementara,
bukan sejenis
yang seperti menekan rumput dengan batu.
Misalnya,
India ini juga punya berbagai agama.
Mereka pun sedang membahas
bagaimana menyelesaikan penderitaan manusia.
Misalnya mereka menganggap ada dua hal
yang membuat kita menimbulkan penderitaan,
yang membuat manusia menimbulkan penderitaan,
ini —
akar yang penting.
Satu adalah nafsu keinginan,
satu adalah pikiran (pandangan).
Nafsu keinginan,
nafsu keinginan ini dan pikiran yang keliru.
Kau lihat orang zaman sekarang,
mengapa hidup sangat lelah,
sangat susah payah,
punya banyak kekotoran batin?
Sebenarnya ini berkaitan dengan nafsu keinginan kita yang terlalu berkembang,
ada kaitannya.
Nafsu keinginan yang terlalu berkembang, ada kaitannya.
Dan lagi, berkaitan dengan sejenis
pikiran manusia kita yang bukan pikiran ngawur (yang liar).
Maka rasionalitas ini —
sebenarnya,
kalau dipakai dengan buruk, ia pun sangat merepotkan.
Saya sering mengatakan rasionalitas ini adalah pisau bermata dua.
Dalam Buddhisme dikatakan
"aksara 'tahu' —
gerbang segala keajaiban."
Tetapi juga dikatakan:
"aksara 'tahu' —
akar segala malapetaka."
Rasionalitas —
kalau kita kekurangan sejenis
kebudayaan yang benar,
kita akan membangun sejenis rasionalitas yang keliru,
rasionalitas yang tak sehat,
pengenalan yang keliru.
Nah, pengenalan semacam itu
mungkin akan, bagi kehidupan pribadi kita dan dunia ini,
sama-sama mendatangkan
bencana yang sangat besar,
sama-sama mendatangkan bencana yang sangat besar.
Maka kita manusia perlu ini —
pergi
dengan benar
pergi mengenali dengan benar
rasionalitas kita,
pergi mengenali dengan benar rasionalitas kita.
Maka ini —
mengenali rasionalitas dengan benar yaitu: kita, melalui membangun sejenis kebudayaan kebijaksanaan,
lalu membangun sejenis gagasan yang benar.
Nah, gagasan yang benar semacam itu
bisa membantu kita melenyapkan
kekotoran batin,
melenyapkan penderitaan.
Yaitu,
ia bisa —
ia akan menjadi sejenis
kekuatan untuk membuka kebijaksanaan kita.
Maka pikiran manusia,
ini —
ini kalau kita pakai dengan buruk,
kalau kita tak punya pikiran yang benar,
ia pun akan mendatangkan bencana bagi kita manusia.
Maka orang India,
dalam menyelesaikan persoalan ini, mereka menetapkan (dua cara),
misalnya ada dua cara.
Satu adalah cara mengumbar nafsu,
dan satu lagi adalah cara pertapaan keras.
Kita, dalam sutra Buddhis, melihat orang India ini —
sutra Buddhis menggambarkan para petapa keras ajaran luar itu,
mereka sungguh, terhadap diri sendiri, sejenis
penyiksaan diri sendiri tingkat tinggi.
Kalian hari ini, kalau lagi melalui situs internet,
kalian
coba cari "biksu petapa India".
Orang ini —
kalian tak bisa membayangkan
tingkat penderitaan yang mereka timpakan pada diri sendiri.
Misalnya, di antara mereka ada seorang
yang mengangkat satu tangan,
mengangkatnya selama 37 tahun,
tak pernah menurunkannya.
Tentu belakangan sudah tak bisa diturunkan lagi.
Mereka menganggap melalui pertapaan keras —
(bahwa) setelah seseorang menjalani pertapaan keras,
nafsu keinginan itu tak akan timbul lagi.
Memang begitu:
(bila) kau menjalani pertapaan keras yang berat,
nafsu keinginan tentu pun hilang,
pikiran pun hilang.
Nah,
lalu ada satu lagi, yaitu cara meditasi (dhyāna).
Tetapi Buddha melihat bahwa, entah memakai cara pertapaan keras
atau
cara meditasi,
cara meditasi semata —
semuanya sejenis apa?
Menekan rumput dengan batu.
Kau untuk sementara,
karena tak ada kondisinya,
membuat nafsu keinginanmu ini
tak bisa dipakai dalam jangka panjang.
Hari ini kau menjalani pertapaan keras,
nafsu keinginanmu tertekan;
besok begitu hidup membaik,
nafsu keinginan pun keluar lagi.
Nah,
hari ini kau tak punya kondisinya,
saat tak ada kondisi kau tak punya pikiran (keinginan) apa pun;
besok begitu ada kondisinya, pikiranmu datang lagi.
Jadi kuncinya kau harus melenyapkan benih di dalam ini,
yaitu persoalan di dalam alam bawah sadar harus kauselesaikan.
(Kalau) persoalan di dalam alam bawah sadarmu belum terselesaikan,
kau hanya, melalui kondisi (luar),
membuat hal-hal di dalam dirimu ini,
ini —
ini persoalan,
penyebab-penyebab timbulnya penderitaan ini,
untuk sementara tak bisa bekerja —
itu tak ada gunanya,
itu tak ada gunanya.
Maka Buddha dalam Buddhisme,
Ia justru menelusuri sejenis
ini —
penyebab yang sesungguhnya
dari penderitaan hidup,
yaitu menemukan penyebabnya yang sesungguhnya,
lalu
mengajukan
metode penyelesaian yang bijaksana ini.
Saya rasa ini adalah, dalam Buddha-Dharma
menyelesaikan persoalan psikologis kita, sebuah alur-pikir yang sangat penting.
Alur-pikir ini
sebenarnya
sangat penting,
sangat penting.
Nah, selain itu,
yaitu —
Buddha ini,
Ia di bawah pohon Bodhi
punya sebuah penemuan yang sangat besar.
Penemuan ini —
ia adalah, bagi kita dalam menyelesaikan persoalan psikologis,
sebuah persoalan yang sangat krusial.
Ia menemukan bahwa setiap makhluk hidup memiliki Buddha-sifat,
memiliki potensi untuk tersadarkan.
Setiap kehidupan memiliki
kemampuan menyelamatkan diri sendiri.
Setiap kehidupan bisa menuntaskan sendiri
pengobatan atas kehidupannya sendiri.
Kau punya, kau sendiri punya kemampuan untuk mengobati dirimu sendiri.
Nah, penemuan ini —
tak diragukan ia mendatangkan harapan bagi kehidupan kita,
kehidupan.
Kita — tadi saya bilang, kehidupan pada dasarnya
jernih,
bahagia,
bebas.
Sebenarnya ini adalah temuan Buddha.
Buddha menemukan bahwa kehidupan setiap orang kita
pada dasarnya jernih,
bahagia,
bebas.
Nah, penemuan ini —
saya rasa lebih penting daripada penemuan apa pun dalam sejarah sains,
karena ia mendatangkan harapan bagi kehidupan kita,
mendatangkan harapan bagi kehidupan kita.
Maka ini —
yaitu Buddha,
di satu sisi Ia menemukan akar penderitaan kita,
membantu kita mengenali penderitaan dengan benar,
yaitu akar penderitaan ini
adalah kebingungan dan kekotoran batin.
Akar penderitaan kehidupan kita adalah kebingungan dan kekotoran batin.
Nah,
di sisi lain,
yaitu,
Ia menemukan bahwa setiap kehidupan kita
memiliki
potensi untuk tersadarkan,
memiliki potensi untuk tersadarkan,
memiliki (kemampuan) menyelamatkan diri sendiri,
kemampuan mengobati diri sendiri.
Sebenarnya, yaitu, seluruh Buddha-Dharma dalam Buddhisme —
yang terpenting hendak mencapai apa?
Sasaran inti terpenting yang hendak dicapainya apa?
Sasaran inti terpenting adalah membantu kita mengembangkan potensi sifat-tersadar semacam ini di dalam kehidupan kita.
Maka Buddha, pada masa tua-Nya saat membabarkan Dharma, membahas sebuah sutra bernama Sutra Teratai (Saddharmapuṇḍarīka).
Dalam Sutra Teratai ini dikatakan:
"Para Buddha Yang Dijunjungi Dunia muncul di dunia karena satu perkara besar."
Yaitu, para Buddha Yang Dijunjungi Dunia,
Beliau datang ke dunia demi satu perkara yang sangat-sangat penting.
Datang ke dunia ini untuk apa?
Yaitu untuk menyingkapkan (kepada) makhluk hidup, membuat mereka masuk ke dalam pengetahuan-pandangan Buddha.
Yaitu, hendak menyingkapkan,
hendak membimbing,
membimbing makhluk hidup.
Membimbing makhluk hidup untuk apa?
Yaitu hendak (membuat mereka) menyadari
pengetahuan-pandangan Buddha, yaitu kebijaksanaan Buddha.
Di mana kebijaksanaan Buddha ini?
Kebijaksanaan Buddha ada di dalam hati setiap orang kita.
Di dalam hati setiap orang kita ada kebijaksanaan seperti Buddha,
ada kebijaksanaan seperti Buddha,
ada Buddha-sifat,
ada potensi untuk tersadarkan.
Seluruh Buddha-Dharma pada akhirnya mengarah pada sebuah inti semacam ini,
yaitu membantu kita
mengembangkan (potensi) tersadar di dalam kehidupan kita,
lalu menuntaskan pengobatan atas kehidupan kita,
membuat kita menjadi orang yang sehat dalam makna yang sesungguhnya,
orang yang sehat dalam makna yang sesungguhnya.
Apa yang disebut orang yang sehat dalam makna yang sesungguhnya?
Didefinisikan dari sudut Buddha-Dharma:
yaitu, di satu sisi, kebingungan dan kekotoran batin dalam kehidupanmu
terselesaikan sampai tuntas;
di sisi lain, potensi positif dalam kehidupanmu,
potensi tersadar,
sepenuhnya dikembangkan.
Potensi tersadar semacam ini punya dua muatan besar,
yaitu kebijaksanaan agung,
welas asih dan kebijaksanaan,
welas asih dan kebijaksanaan —
kedua kualitas ini
sepenuhnya dikembangkan,
maka kau akan menjadi orang yang sehat dalam makna yang sesungguhnya.
Nah, ini yang kita bahas mengenai prinsip psikoterapi Buddhis.
Berikutnya kita akan membahas
yang kedua:
pandangan Buddhisme tentang batin.
Mengenai Buddhisme —
dalam sutra Buddhis dibahas ini —
dibahas pemahaman tentang batin kita,
perkenalan tentang batin,
serta isi pembinaan diri yang berkaitan dengan batin —
sangat-sangat kaya.
Kalau kita merangkumnya secara sederhana,
bisa dibagi menjadi:
membahas batin yang keliru (妄心),
membahas batin sejati (真心).
Misalnya seperti Āgama-sutra,
dan sistem Yogācāra —
sutra dan sastra sistem Yogācāra —
yang terutama dibahasnya adalah
batin yang keliru,
yaitu batin yang keliru.
Apa itu batin yang keliru?
Yaitu batin yang dibangun
dengan kebingungan sebagai landasan,
dengan kebingungan
sebagai landasan,
psikologi yang berkembang dari (kebingungan) —
disebut batin yang keliru.
Nah, ada pula yang membahas batin sejati.
Di balik batin yang keliru ini —
seperti langit kita,
mungkin ada
ini —
lapisan awan yang sangat tebal;
tetapi di balik lapisan awan
masih ada langit cerah tanpa awan,
sehamparan langit biru pekat.
Maka batin pun punya dua tataran semacam ini:
ada tataran yang keliru dan bingung,
tataran yang sepenuhnya jernih,
tataran yang sepenuhnya jernih.
Nah, yang hendak kita bahas ini —
kita orang awam,
pada dasarnya semua hidup dalam
sistem batin yang keliru ini.
Mengenai sistem batin yang keliru ini,
ini —
yang membahasnya paling rinci
semestinya terhitung
Yogācāra.
Yang dibahas dalam Buddhisme,
dalam Yogācāra,
dibagi menjadi
delapan kesadaran,
delapan kesadaran,
yaitu delapan (jenis) kesadaran,
serta lima puluh satu jenis aktivitas batin (faktor batin).
Tentu di sini kita hanya bisa memberi kalian sedikit perkenalan secara sangat sederhana.
Delapan kesadaran —
ini —
"kesadaran" (vijñāna) yaitu batin (citta).
"Kesadaran" —
dalam Buddhisme, "kesadaran" juga konsep batin.
Delapan kesadaran yaitu delapan (jenis) batin,
lima puluh satu jenis aktivitas batin.
Kira-kira semestinya bisa dikatakan begini:
ada delapan (jenis) batin,
dan ada lima puluh satu jenis aktivitas batin.
Nah, batin ini semestinya bisa disebut
subjek
ini —
batin,
dan aktivitas batin
yaitu (yang) berpadu dengan batin ini,
membentuk sejumlah —
menyusun —
satu kelompok demi satu kelompok
aktivitas batin ini.
Ini —
delapan (jenis) batin ini,
yaitu delapan kesadaran,
kita bisa juga membaginya menjadi dua bagian: kesadaran (sadar) dan alam bawah sadar.
Sebenarnya Buddhisme, dalam
ini —
dalam sutra dan sastra ini, sudah sejak lama membahas gagasan alam bawah sadar ini.
Di dalam delapan kesadaran ini,
ini —
enam kesadaran yang di depan,
meliputi kesadaran-mata,
kesadaran-telinga,
kesadaran-hidung,
kesadaran-lidah,
serta kesadaran-pikiran kita:
mata, telinga, hidung, lidah,
badan, pikiran —
keenam ini
semuanya termasuk lingkup kesadaran (yang disadari).
Apa arti "kesadaran yang disadari"?
Yaitu kita bisa menyadari aktivitasnya,
kita bisa menyadari aktivitasnya.
Nah,
di dalam enam kesadaran ini,
pemikiran kita,
perilaku kita,
pada dasarnya semua termasuk lingkup kesadaran (yang disadari).
Maka di dalam ini —
di dalam enam kesadaran depan ini, aktivitas kesadaran-pikiran —
energinya sangat besar,
sangat merata (dominan).
Lalu di balik kesadaran (yang disadari) ini masih ada kesadaran ketujuh dan kesadaran kedelapan.
Kesadaran ketujuh, dalam Buddhisme,
disebut manas (末那識).
Kesadaran kedelapan,
dalam Buddhisme disebut ālaya-vijñāna (阿賴耶識).
Manas ini —
kita bisa memakai istilah psikologi masa kini,
kita bisa menyebutnya sejenis
kesadaran-diri yang laten,
kesadaran-diri yang laten.
Mengapa kehidupan kita
di mana-mana penuh dengan berpusat pada diri (ego)?
Mengapa di mana-mana selalu berpusat pada diri,
menampilkan diri sebagai berpusat pada ego?
Penyebabnya adalah karena kita punya sebuah diri yang laten,
kesadaran-diri yang laten.
Nah, kesadaran-diri yang laten ini
bagaimana timbulnya?
Ia berlandaskan —
kesadaran ketujuh ini, terhadap wadah kehidupan kita —
ālaya-vijñāna ini adalah wadah kehidupan kita —
wadah kehidupan ini,
yaitu (wadah) kehidupan kita.
Ini — apa arti ālaya-vijñāna ini?
Ālaya-vijñāna,
diterjemahkan ke bahasa Tionghoa kita, yaitu sebuah "gudang",
sebuah gudang,
seperti sebuah ruang penyimpanan.
Yaitu, sebuah ruang penyimpanan yang sangat-sangat besar dalam kehidupan kita,
ruang penyimpanan.
Ia adalah —
kehidupan kita, dalam proses berkelanjutan yang tak berkesudahan ini,
semua perbuatan kita ini
akan, di dalam batin kita, membentuk sejenis
rekaman,
membentuk sejenis kekuatan batin,
semua akan menanam benih di dalam batin kita.
(Konsep) benih —
ini —
dalam Yogācāra ada sebuah konsep
yang disebut benih.
Dengan kata lain,
setiap hari,
setiap getar pikiran kita,
setiap kalimat yang kita ucapkan,
setiap perkara yang kita lakukan,
semua sedang menanam (benih) di dalam batin kita,
semua menanam di dalam batin kita.
Dengan kata lain, semua perbuatan kita akan, di dalam batin kita,
membentuk sejenis
kekuatan batin.
Lalu (kekuatan-kekuatan) ini,
kekuatan batin ini,
akan terus-menerus bekerja,
akan terus-menerus diulang.
Setelah diulang, psikologi semacam itu,
kekuatannya akan makin lama makin kuat,
makin lama makin kuat.
Proses ini, dalam Yogācāra ada istilahnya yang disebut "benih menghasilkan aktivitas nyata" (種子生現行).
Aktivitas nyata,
batin,
benih —
yaitu, setelah aktivitas-aktivitas batin di dalam dirimu ini menghasilkan aktivitas nyata, sekaligus
setelah ia menghasilkan aktivitas nyata di dalam batinmu,
di dalam batinmu tertinggal lagi (jejak yang) membentuk sejenis (dorongan) yang membuat aktivitas batin semacam itu menjadi kekuatan batin yang lebih kuat.
Maka setiap jenis aktivitas batin,
dalam pengulangan yang terus-menerus,
kekuatan batin semacam ini akan makin lama makin kuat,
makin lama makin kuat.
Benih ini seperti terus-menerus disiram air,
terus-menerus disiram air,
kekuatannya dalam kehidupanmu akan makin lama makin kuat.
Maka sejenis kekuatan batin yang sama,
setelah terus-menerus diulang,
akhirnya mungkin menjadi, di dalam kehidupanmu,
sejenis kekuatan dominan di dunia batinmu.
Seperti seseorang,
kalau kau terus-menerus serakah,
batin serakahmu akan makin lama makin besar.
Kalau kau suka melampiaskan amarah,
batin kebencianmu akan makin lama makin besar.
Kalau kau suka iri hati,
benih kedengkianmu ini,
kekuatannya akan terus-menerus membesar.
Kalau kau terus-menerus memupuk hati welas asih,
hati welas asih ini di dalam batinmu —
benihnya akan makin lama makin kuat.
Yaitu, setiap jenis kekuatan batin,
setelah terus-menerus diulang padamu,
ia akan, di dalam batinmu,
menempati porsi yang makin lama makin penting.
Menempati porsi yang makin lama makin penting ini
berarti apa?
Berarti ia, terhadap kehidupanmu,
akan punya pengaruh yang makin lama makin besar,
dan pengaruh,
punya pengaruh yang makin lama makin besar.
Maka ālaya-vijñāna ini —
di satu sisi,
ia menyimpan informasi
kehidupan kita yang tak berkesudahan ini.
Gudang itu
sungguh sangat besar,
gudang yang teramat besar.
Kau tanya seberapa besar?
Ini sungguh tak bisa diukur dengan angka apa pun.
Karena dari sudut Buddhisme,
kehidupan adalah sebuah kesinambungan yang tak berkesudahan,
dari masa lalu yang tak terhingga
berlanjut ke masa depan yang tak berkesudahan.
Lalu setiap kehidupan kita
akan membentuk
kekuatan batin,
yang tersimpan ke dalam ālaya-vijñāna kita.
Lalu sekaligus, justru karena kekuatan-kekuatan batin ini,
ia mendorong berlanjutnya kehidupan kita.
Maka kesinambungan kehidupan punya keberlangsungannya (yang lestari).
Tetapi isinya
justru tidak tetap tak berubah.
Ia bukan (sesuatu yang) abadi.
Ia punya keberlangsungan,
tetapi bukan (sesuatu yang) abadi dan tak berubah.
Muatan kehidupan
akan, seiring dengan
pengalaman,
akumulasi (pengalaman) dalam hidupmu,
membentuk rekaman yang berbeda-beda.
Lalu rekaman yang berbeda-beda semacam itu
akan mempengaruhi
kehidupanmu di masa depan.
Maka ālaya-vijñāna ini,
fungsinya —
yaitu menyimpan (informasi) kita.
Fungsi pertamanya adalah menyimpan
kekuatan-kekuatan batin,
benih-benih dalam kehidupan kita.
Lalu,
nah, benih-benih ini
akan menjadi landasan aktivitas batin kita.
Kita hari ini, misalnya,
kita punya berbagai macam psikologi,
kita punya berbagai macam kemampuan,
berbagai macam minat,
berbagai macam kegemaran.
Kita akan bergaul dengan orang yang berbeda-beda,
kadang kita menyukai orang ini,
tak menyukai orang itu.
Mengapa?
Mengapa?
Semua karena di dalam batinmu benih-benih yang berbeda yang ditanam sedang bekerja.
Ketika kau memasuki keadaan tempat benih itu bekerja,
kau mungkin melihat orang itu dan merasa sangat menjengkelkan.
Sebenarnya ada sejenis kekuatan
yang membuatmu merasa ia sangat menjengkelkan.
Yaitu,
maka benih di dalam batin kita ini
akan menjadi landasan timbulnya kekuatan batin kita.
Maka benih di dalam batin kita ini akan menjadi landasan timbulnya kekuatan batin kita.
Nah, di sisi lain,
ālaya-vijñāna ini
berperan sebagai wadah tumimbal lahir kita.
Ia menembusi kesinambungan kehidupan kita.
Misalnya kesadaran kita,
aktivitas kesadaran ini bisa terputus.
Tetapi ketika kesadaranmu terputus, kau bukan orang mati.
Misalnya ketika kau tidur sangat nyenyak,
itu seperti orang mati,
tetapi sebenarnya bukan orang mati.
Mengapa?
Misalnya kau pingsan,
ada orang pingsan,
tak sadarkan diri.
Sebenarnya saat itu kesadaran pun tak bekerja,
sebenarnya saat itu kesadaran pun tak bekerja.
Tetapi kau juga bukan orang mati.
Mengapa?
Ada lagi, sebagian orang membina meditasi,
memasuki keadaan semacam "samadhi tanpa pencerapan",
"samadhi lenyapnya (pencerapan dan perasaan)",
meditasi tingkat tinggi semacam itu —
ia pun bisa membuat kesadaran sama sekali
tak bekerja.
Tetapi
kau bukan orang mati.
Mengapa?
Yaitu karena ada ālaya-vijñāna ini,
ia sedang menopang tubuh kita,
sedang bekerja.
Maka ālaya-vijñāna ini
berperan sebagai wadah sebuah kehidupan.
Ia — kita membahas ālaya-vijñāna ini —
banyak orang mungkin berkata Buddhisme tak membahas jiwa (roh),
tak mengakui ada sebuah jiwa yang kekal dan tak berubah.
Nah, tetapi Buddhisme membahas ālaya-vijñāna,
yaitu ālaya-vijñāna-lah yang mengemban peran yang mirip dengan jiwa semacam itu,
dari sudut ini.
Tetapi apa beda ālaya-vijñāna dengan jiwa?
Ini —
jiwa ini —
dalam filsafat dan agama mereka menganggap jiwa adalah sesuatu yang kekal dan tak berubah.
Tetapi ālaya-vijñāna yang dibahas Buddhisme ini,
ia adalah
serupa dan berkesinambungan (相似相續),
tidak kekal dan tidak terputus,
serupa dan berkesinambungan.
Dengan kata lain,
meskipun ia adalah kesinambungan yang lestari,
tetapi isinya akan terus-menerus berubah.
Karena isinya terus-menerus berubah,
maka tubuh kita akan terus-menerus berubah.
Ia bisa diperbarui,
bisa dibentuk,
bisa disesuaikan,
bukan tak berubah.
Ia bisa (dibuat) bukan tak berubah.
Karena bukan tak berubah,
maka pembinaan diri kita
baru punya nilai.
Pembinaan diri kita baru mungkin mengubah
kualitas kehidupan kita yang buruk semacam ini.
Nah, itulah —
itulah ālaya-vijñāna ini.
Nah, tadi kita membahas fungsi manas.
Manas ini —
ia menjadikan wadah kehidupan kita ini,
ālaya-vijñāna ini,
sebagai objek pengenalannya,
menjadikannya objek pengenalannya.
Ini —
manas ini,
ia terhadap ālaya-vijñāna,
yaitu terhadap wadah kehidupannya sendiri,
ia tak bisa mengenalinya dengan benar.
Ia menganggapnya sebagai sesuatu yang kekal dan tak berubah.
Maka timbullah sejenis kemelekatan-aku semacam ini.
Ia adalah sejenis kemelekatan-aku.
Nah, kemelekatan-aku semacam ini
yaitu sejenis (yang ada) dalam kehidupan kita,
membentuk sejenis
landasan-diri yang laten dalam kehidupan kita.
Nah, di sini ada satu hal yang perlu kita jelaskan.
Dalam pemikiran Buddhisme, (ada yang) juga sangat mudah membuat orang
salah paham.
Persoalan apa? Yaitu tanpa-aku (anātman).
Banyak orang, terhadap
konsep tanpa-aku ini,
punya sejenis rasa takut,
punya sejenis rasa takut.
Tanpa-aku —
bukankah tanpa-aku berarti
aku lalu tak ada?
Kalau tanpa-aku, siapa yang membina diri?
Siapa yang mencapai kebuddhaan?
Kalau tanpa-aku,
siapa yang bertumimbal lahir?
Betul kan?
Akan muncul setumpuk persoalan semacam ini.
Tetapi sebenarnya Buddhisme membahas tanpa-aku
bukan hendak menyangkal
keberadaanmu — ini harus kita ingat.
Buddhisme membahas tanpa-aku bukan hendak menyangkal keberadaanmu.
Buddhisme membahas tanpa-aku terutama hendak menjelaskan
(bahwa) "aku"
yang kau tetapkan sekarang ini
sebenarnya bukan dirimu yang sesungguhnya.
Ini dibangun di atas landasan sejenis pengenalan yang keliru terhadap dirimu sendiri.
Misalnya, kita mungkin melekat pada
status sebagai "aku",
kita melekat pada kedudukan sebagai "aku",
kita melekat pada
tubuh sebagai "aku",
kita melekat pada
karier sebagai "aku".
Tetapi benda-benda ini —
apakah benar-benar bisa mewakili dirimu?
Benda-benda ini semuanya hanya
punya hubungan sementara denganmu.
Hubungan sementara semacam ini —
kalau kau menganggap benda-benda ini sebagai dirimu yang sesungguhnya,
itu sangat merepotkan.
Mengapa dikatakan sangat merepotkan?
Misalnya, ketika kita menganggap tubuh jasmani ini
sebagai "aku" yang sesungguhnya,
kita akan menghasilkan kebergantungan yang kuat terhadapnya
dan kemelekatan.
Kita akan takut ia menua,
takut ia mati.
Kalau kita tahu ini hanya sebuah alat yang aku pakai untuk sementara,
kau akan menghadapi (kematian) dengan lebih bahagia.
Mati ya berarti aku sekadar berganti (kendaraan),
seperti mobil (atau) berganti rumah.
Persoalan ini jadi tak sebegitu serius.
Kalau kita menganggap status dan kedudukan sebagai "aku",
kita berlebihan melekat pada status dan kedudukan,
begitu status dan kedudukan ini dilepas,
kita akan sangat sedih.
Kehidupan kita akan kehilangan titik tumpu.
Yaitu, benda-benda yang sekarang kita tetapkan,
yang kita kira adalah dirimu —
(bila) kau menghasilkan kebergantungan dan kemelekatan,
semua itu adalah penyebab timbulnya kekotoran batin dan penderitaan dalam hidup kita.
Sekaligus,
karena sejenis
penetapan yang keliru terhadap diri sendiri semacam ini, kau tak bisa sungguh-sungguh mengenali wajah aslimu sendiri.
Maka Buddhisme membahas tanpa-aku,
membahas "aku" —
sebenarnya hendak menyangkal sejenis pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri.
Menyangkal pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri —
tujuannya adalah membantu kita
menemukan dirimu yang sesungguhnya.
Maka pembinaan diri aliran Chan yaitu menghendaki kita mengenali,
mengenali wajah asli diri sendiri.
Melalui meditasi Chan ini —
sebenarnya pembinaan diri berbagai (mazhab dan tahap)
semuanya hendak membantu kita mengenali
ini —
ini —
wajah asli
diri sendiri,
agar bisa punya pengenalan yang benar terhadap kehidupan sendiri.
Nah, aktivitas kesadaran kita
dipengaruhi oleh alam bawah sadar kita.
Pengaruh alam bawah sadar ini
yaitu meliputi
ini —
pengaruh kesadaran-diri yang laten ini,
meliputi ālaya-vijñāna ini,
pengaruh informasi yang kita simpan.
Maka alam bawah sadar setiap orang justru adalah bagian terpenting kehidupan kita.
Kesadaran (yang disadari) hanyalah kehidupan kita —
bagian yang ditampilkan oleh alam bawah sadar,
sebagian kecil yang sangat tak berarti.
Maka para (ahli) psikoanalisis Barat ini,
seperti Freud, mereka juga punya perumpamaan semacam ini:
dunia kesadaran ini seperti gunung es di laut —
alam bawah sadar berada di bawah air,
sedangkan yang tersembul (di atas),
bagian kesadaran ini,
sebenarnya
adalah sebagian yang sangat kecil.
Apakah (kita) mau —
istirahat sebentar, ya?
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya