Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

濟群法師:心靈創造幸福(二)

Tentang Ceramah

Bagian kedua ceramah Master Ji Qun "Batin Menciptakan Kebahagiaan", melanjutkan tiga tema. Ketiga: kebahagiaan bergantung pada pengenalan (pandangan) kita — bukan peristiwa yang menentukan pengaruhnya pada kita, melainkan cara kita memandangnya; Buddha-Dharma sebagai "psikologi Timur" membangun pengenalan yang bijaksana dan mengurai kemelekatan-aku. Keempat: kebahagiaan berkaitan dengan kebutuhan — makin banyak kebutuhan dan nafsu keinginan, makin tinggi biaya kebahagiaan; masyarakat konsumsi mengobarkan keinginan lewat pemilikan, perbandingan, dan persaingan, sehingga orang kehilangan kemampuan beristirahat dan rasa aman. Kelima: batin adalah sekaligus sumber penderitaan dan sumber kebahagiaan; kekotoran batin (serakah, benci, bodoh) menciptakan derita, sedangkan potensi tersadar menciptakan sukacita. Pembinaan Buddhis bertujuan memutus kekotoran batin serta mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih. Ceramah ditutup dengan sesi tanya-jawab tentang Nirwana, membedakan Dharma sejati dari yang palsu, membakar dupa, bhiksu palsu, dan sila tentang membunuh makhluk.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Berikutnya, persoalan ketiga yang akan saya bahas —
persoalan ketiga adalah:
kebahagiaan berkaitan dengan pengenalan (pandangan) kita,
berkaitan dengan pengenalan kita.
Karena pengenalan kita terhadap dunia ini,
dunia macam apa yang bisa kita lihat —
sebenarnya
kuncinya di mana?
Kuncinya pada pengenalan kita.
Misalnya, dalam kehidupan nyata,
terhadap seseorang yang kau sukai,
kau memandangnya bagaimana pun terasa enak dilihat.
Punya perasaan ini tidak?
Kalau kita tak menyukai seseorang,
apa pun yang ia lakukan kau memandangnya tak enak dilihat.
Sebenarnya seringkali bukan orang ini baik atau tak baik,
melainkan pola pengenalanmu itulah yang menentukan
bagaimana kau memandang seseorang.
Maka kita punya sebuah pepatah, apa itu?
Disebut "di mata kekasih muncullah Xi Shi (si cantik)".
Tetapi kita mendapati bahwa di dunia ini,
pola berpikir setiap orang berbeda-beda.
Ada orang
yang cara berpikirnya sangat positif,
positif.
Menemui perkara apa pun,
ia akan memikirkannya dari sisi yang baik.
Maka orang semacam ini
kebanyakan lebih mudah riang.
Perkara seburuk apa pun ia akan memikirkannya dari sisi yang baik.
Di Barat ini disebut apa?
Di Barat sekarang cukup populer disebut psikologi positif,
psikologi positif,
psikologi positif.
Karena kehidupan kita, dilihat dari sudut pengenalan —
psikologi positif — karena kehidupan kita, dilihat dari sudut pengenalan —
dari sudut pengenalan,
ia punya sisi positif,
punya sisi negatif.
Dari sisi batin manusia pun ada psikologi positif,
ada pula psikologi negatif.
Nah, psikologi tradisional di masa lalu,
psikologi negatif,
ia hanya
condong pada pengobatan,
membantumu memahami
psikologi yang sakit apa saja yang ada di dalam batin manusia,
lalu bagaimana psikologi-psikologi ini harus diatasi,
bagaimana dituntun,
bagaimana diselesaikan.
Nah, ini adalah
yang dikerjakan
psikologi negatif tradisional.
Nah, psikologi positif
hendak memberi tahu kita
bahwa batin manusia bukan hanya punya psikologi yang sakit dan buruk ini;
kita juga punya banyak psikologi positif.
Bagaimana seharusnya kau mengembangkan psikologi positif ini?
Melalui pengembangan psikologi positif,
untuk menyelesaikan,
mengatasi
psikologi
gelap susulanmu ini.
Maka psikologi positif hendak membuat kita mengembangkan,
hendak membantu kita menemukan,
mengembangkan —
setiap perkara yang kita temui dalam kehidupan,
kita bisa memikirkannya secara positif,
memikirkannya secara positif.
Maka dunia ini sebenarnya menimbulkan pengaruh macam apa pada kita?
Setiap hari kita mengalami sangat banyak perkara.
Perkara-perkara ini menimbulkan pengaruh macam apa pada kita?
Kuncinya di mana, kalian tahu?
Kuncinya bukan pada perkara itu sendiri,
kuncinya pada bagaimana kita memandang perkara-perkara ini.
Maka pengenalan kita sangat penting.
Kebijaksanaan Buddha-Dharma,
pembinaan dirinya,
satu hal yang paling-paling penting yang hendak ia kerjakan
adalah apa?
Sebenarnya adalah membantu kita bagaimana memperbaiki pengenalan kita,
membangun sejenis pengenalan yang bijaksana,
melepaskan diri dari pengenalan keliru
yang (menimbulkan) emosi negatif semacam itu.
Maka dalam Buddhisme ada sebuah kalimat:
"Welas asih tak punya musuh,
kebijaksanaan tak menimbulkan kekotoran batin."
Welas asih —
misalnya kau membawa psikologi kebencian,
kau akan melihat seluruh dunia sebagai musuhmu,
semua musuh.
Nah, kalau kau membawa psikologi welas asih,
kau melihat semua orang akan merasa —
kau melihat semua orang akan merasa —
kau melihat semua orang akan merasa sangat akrab,
kau melihat setiap orang akan merasa sangat akrab,
kau akan merasa aku ingin membantunya,
aku ingin melakukan sesuatu untuknya.
Inilah pengenalanmu
yang menentukan sebuah sifat dari objek pengenalanmu.
Nah, selain itu,
yaitu kebijaksanaan tak menimbulkan kekotoran batin.
Pengenalan kita —
kita perlu belajar sejenis pengenalan yang bijaksana.
Ketika kita punya kebijaksanaan,
ketika kita punya pengenalan yang bijaksana,
ketika kita menghadapi banyak persoalan,
kita tak lagi akan menimbulkan kekotoran batin.
Kalau kita tak punya pengenalan yang bijaksana,
kita akan setiap hari menciptakan kekotoran batin.
Sebenarnya Buddha-Dharma dalam masyarakat Tiongkok kita,
bagi orang Tiongkok kita —
kita (bilang) sekarang Barat punya psikologi;
sebenarnya Buddha-Dharma juga sejenis
psikologi Timur.
Ia, dalam masyarakat Tiongkok kita,
selama ratusan-ribuan tahun,
sebenarnya juga
mengemban peran penuntun psikologis bagi orang Tiongkok.
Timbulnya kekotoran batin pada kita manusia —
penyebabnya banyak.
Sebenarnya,
ada dua penyebab yang sangat penting.
Satu penyebab
dalam Buddhisme disebut kemelekatan-aku,
yaitu disebut kemelekatan-aku.
Apa itu kemelekatan-aku?
Yaitu pengenalan keliru kita
terhadap diri sendiri,
sejenis penetapan keliru terhadap diri sendiri.
Apa masalah terbesar manusia?
Yaitu kehilangan dirinya sendiri.
Apa masalah terbesar dalam hidup?
Manusia kehilangan dirinya sendiri.
Apa kesalahpahaman terbesar dalam hidup?
Kesalahpahaman terbesar dalam hidup adalah pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri,
pengenalan yang keliru terhadap diri sendiri.
Misalnya, kita akan menganggap
status sebagai diri,
akibatnya kita akan sangat bergantung pada status.
Suatu hari,
kalau kita tak punya status ini,
kita tak tahu lagi bagaimana harus hidup,
hidup jadi sangat tak terbiasa.
Kita akan menganggap
emosi sebagai aku,
emosi,
akibatnya kita sering terjerumus ke dalam emosi,
tak tahu (perlu) menjaga jarak tertentu antara diri sendiri dan emosi.
Kita akan menganggap kekayaan sebagai aku,
kita akan menganggap kekayaan sebagai aku,
kita akan sangat melekat pada kekayaan,
akhirnya menderita luka yang besar.
Mengapa ada pengenalan keliru semacam ini?
Penyebabnya adalah karena kita
tak memahami: diri sendiri sebenarnya apa yang mewakili "aku"?
Maka dalam filsafat Barat ada sebuah maksim penting, yaitu:
"Kenalilah dirimu sendiri."
Dalam Buddha-Dharma,
dalam pembinaan diri Buddha-Dharma,
ia menghendaki kita —
ini disebut
menyelidiki huatou,
yaitu berlatih Chan.
Saya bilang "berlatih Chan", mungkin banyak orang cukup akrab.
Dalam berlatih Chan ini, di dalamnya (kita) menyelidiki satu kalimat:
"Siapakah aku?
Siapakah aku?
Apakah wajah asli (kita) sebelum ayah dan ibu melahirkan (kita)?"
Sebelum ayah dan ibu melahirkanmu,
sebenarnya apa yang mewakili dirimu?
Kita sekarang merasa aku adalah Zhang San,
aku adalah Li Si.
Sebelum kau dilahirkan,
kau seperti apa rupamu?
Nah, hal-hal ini
semuanya membantu kita menyelidiki
sebenarnya apakah "aku" itu.
Hanya bila kita memahami diri sendiri —
Buddha-Dharma memberi tahu kita
(bahwa) di dalam kehidupan setiap orang
ada sebuah pelita kebijaksanaan yang terang.
Di dalam kehidupan setiap orang
ada sejenis kebijaksanaan yang tersadarkan.
Hanya bila kau sungguh-sungguh menemukan dirimu sendiri,
kehidupanmu —
barulah kau mungkin
benar-benar melepaskan diri dari
penuaan (dan kematian).
Kalau kau tak menemukan dirimu sendiri,
kehidupanmu akan terus-menerus
menciptakan masalah.
Penciptaan masalah semacam ini
tak habis-habisnya.
Nah, di sisi lain,
misalnya terhadap dunia luar,
kadang kita menganggap kekayaan sangat penting,
kita menganggap kedudukan sangat penting,
kita menganggap karier sangat penting,
kita menganggap keluarga sangat penting,
kita menganggap hubungan kasih sangat penting.
Mengapa kita
hidup sangat lelah?
Penyebabnya adalah karena kita menganggap semua benda ini
sangat-sangat
penting.
Lalu,
kita bahkan menghasilkan sejenis
kebergantungan yang berlebihan terhadapnya,
bahkan kita menghasilkan sejenis
apa —
khayalan tentang keabadian.
Kita berharap umur kita bisa
tak menjadi tua,
kita berharap cinta kita bisa kekal abadi,
kita berharap karier kita bisa (bertahan) turun-temurun selamanya,
dan sebagainya.
Kita punya sangat-sangat banyak khayalan semacam ini.
Mengapa ada khayalan semacam ini?
Penyebabnya adalah karena kita menganggap benda-benda luar ini terlalu penting,
maka kita punya khayalan semacam ini.
Maka dalam Buddha-Dharma
ada beberapa kitab sutra yang sangat mendapat perhatian
masyarakat luas.
Misalnya,
Sutra Intan (Vajracchedika),
Sutra Hati (Prajñāpāramitā-hṛdaya).
Banyak sastrawan dan cendekiawan
suka melafalkan Sutra Hati,
melafalkan Sutra Intan.
Apa manfaat melafalkan sutra-sutra ini?
Misalnya, dalam Sutra Intan ada sebuah gatha yang sangat termasyhur.
Apa isinya?
"Segala dharma berkondisi
bagaikan mimpi, khayalan, gelembung, bayangan,
bagaikan embun dan juga bagaikan kilat.
Demikianlah semestinya
(kita) merenung."
Terhadap dunia nyata ini,
kita akan memandangnya —
tak akan memandangnya sebegitu penting.
Tentu kita tetap akan mengejarnya dengan aktif,
tetapi kita tak akan memandangnya dengan sebegitu melekat.
Nah, tentu ia —
sekalipun ketika (segalanya) berjalan mulus, kita pun tak akan terlalu lelah.
Seandainya menemui kegagalan,
lukanya bagi kita pun tak akan terlalu besar.
Kalau kita bisa memandang
benda-benda ini dengan agak ringan,
kita bisa
duduk menatap awan yang bangkit (bersikap tenang),
kita bisa hidup dengan lebih jernih,
rileks.
Kalau tidak,
kita akan hidup
sangat-sangat lelah,
kita akan hidup sangat lelah.
Maka saya rasa pengenalan Buddha-Dharma ini
bukan hanya hendak
memberi tahu kita bagaimana memandang dunia secara positif;
yang lebih penting, ia hendak membangun bagi kita sejenis
pengenalan yang bijaksana,
yaitu membantu kita bagaimana benar-benar
melenyapkan kekotoran batin.
Saya rasa ini sangat penting.
Kalau kau sudah tak punya kekotoran batin —
tadi di depan bagaimana kita bilang?
Pembunuh nomor satu
kebahagiaan adalah apa?
Kekotoran batin.
Lalu apa
pembunuh nomor satu kekotoran batin?
Kebijaksanaan.
(Bila) punya kebijaksanaan,
bisa
memutus kekotoran batin.
(Bila) punya kebijaksanaan,
barulah kita bisa sungguh-sungguh menjalani hidup yang bahagia.
Maka ini persoalan ketiga yang ingin saya bagikan kepada kalian.
Persoalan keempat —
saya rasa kebahagiaan ini
berkaitan dengan kebutuhan.
Kebutuhan.
Ini —
pemahaman orang di masa lalu tentang kebahagiaan sebenarnya cukup dangkal.
Kebahagiaan semacam itu kebanyakan berkaitan dengan kebutuhan.
Mengapa saya berkata demikian?
Sebenarnya kebahagiaan seringkali —
kita bilang kebahagiaan ini adalah sejenis perasaan,
kebahagiaan adalah sejenis perasaan,
maka disebut "rasa bahagia".
Apa itu rasa bahagia?
Rasa bahagia adalah sejenis rasa puas,
yaitu ada rasa puas.
Yaitu, kebutuhanmu
terpenuhi,
kau lalu merasa bahagia.
Kalau kebutuhanmu
tak terpenuhi,
kau merasa tak bahagia,
kau merasa tak bahagia.
Nah, ini menjelaskan prinsip apa?
Kebahagiaan berkaitan dengan kebutuhan,
kebahagiaan berkaitan dengan
kebutuhan.
Ini poin pertama.
Poin kedua:
kebahagiaan berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan.
Tetapi berapa syarat yang kaubutuhkan?
Kondisi materi macam apa yang harus kumiliki
untuk memenuhi kebutuhanku?
Berapa banyak kondisi materi yang kubutuhkan
untuk mendatangkan kebahagiaan bagiku?
Apakah ada ketentuannya?
Ini tak ada ketentuannya.
Mengapa tak ada ketentuannya?
Mengapa tak ada ketentuannya?
Penyebabnya adalah karena
penyebabnya di mana?
Penyebabnya adalah karena kebutuhan setiap orang berbeda.
Kebutuhan sebagian orang
mungkin seperti sebuah
cangkir kecil sebesar itu,
seperti orang Minnan yang minum teh gongfu,
cangkir teh itu
cuma sekecil ini.
Kau cukup menuang sedikit air, ia sudah penuh.
Maka kita melihat orang-orang yang hidupnya cukup sederhana,
kita melihat orang-orang yang hidupnya cukup sederhana,
kita melihat orang-orang yang hidupnya cukup sederhana,
ini serta anak-anak kecil,
anak-anak di daerah miskin,
sangat mudah bahagia.
Sangat mudah bahagia — saya beri tahu kalian ada dua penyebab,
ada dua penyebab.
Pertama, batinnya cukup polos.
Ini sangat penting.
Kedua,
kebutuhannya cukup sedikit.
Orang zaman sekarang, mengapa banyak yang sangat berduit tetapi tak mudah bahagia?
Saya ingin memberi tahu kalian, itu juga karena penyebab ini,
karena dua syarat.
Pertama, batinmu tak jernih.
Di dalam batinmu terlalu banyak
beban pikiran, kekotoran batin —
hal-hal ini
merusak kebahagiaanmu.
Kedua,
nafsu keinginanmu terlalu banyak,
nafsu keinginanmu terlalu besar.
Sebanyak apa pun uangmu, tetapi nafsu keinginanmu lebih besar lagi.
Maka berapa pun uang yang kauhasilkan, kau selalu merasa belum sekaya orang lain.
Maka sebanyak apa pun uang pun tak bisa mengisi penuh ceruk (nafsu keinginan)-mu itu.
Karena ceruk (nafsu keinginan)-mu itu
seperti empat samudra dan lima benua —
sebanyak apa pun air tak bisa mengisinya penuh.
Maka ia
tak mudah bahagia.
Jadi, nafsu keinginan terlalu banyak.
Nah, di sisi lain,
kita juga harus melihat kebahagiaan
yang didatangkan nafsu keinginan bagi kita
sebenarnya adalah sejenis kebahagiaan semu,
bukan sejenis wujud-sejati.
Kita sama-sama menyantap makanan enak —
apakah kita cukup makan lalu bisa bahagia?
Tidak.
Pasti (harus) kau sangat ingin makan,
kau sangat butuh makan — saat itu kau makan baru bisa bahagia.
Kalau kau tak ingin makan, kau sudah kenyang, kau makan lagi — bisakah kau bahagia?
Itu tak bahagia.
Sama halnya,
misalnya kau merasa tidur akan mendatangkan kebahagiaan bagimu.
Tetapi kalau kau berbaring di ranjang selama 24 jam,
hari ini 24 jam ini kau disuruh tidur, harus berbaring tidur, tak boleh bergerak —
apakah bahagia?
Pasti tak akan bahagia.
Maka nafsu keinginan semacam ini —
kebahagiaan yang didatangkan nafsu keinginan bukanlah kebahagiaan yang sejati.
Ia hanya (berarti) suatu kebutuhanmu diredakan,
lalu setelah (peredaan) itu kau baru bisa menghasilkan sejenis rasa bahagia.
Sebenarnya ini sejenis kebahagiaan semu,
bukan sejenis
bukan sejenis kebahagiaan yang hakiki.
Ia adalah, dalam sebuah fenomena tertentu,
sejenis rasa bahagia yang timbul.
Maka kebahagiaan semacam ini sebenarnya
tak dapat diandalkan,
ia tak dapat diandalkan.
Nah, ini yang semestinya kita semua kenali.
Maka kebahagiaan semacam ini bukan kawan sejati kita.
Kawan palsu kita
bukan kawan sejati.
Nah, di sisi lain,
kita juga perlu tahu:
nafsu keinginan sebenarnya mendatangkan bagi kita manusia
penderitaan
yang selalu melebihi kebahagiaan.
Misalnya, masyarakat kita hari ini, seluruh masyarakat berada dalam keadaan apa?
Seluruh masyarakat kita ini adalah sebuah (mesin)
yang terus-menerus mengobarkan nafsu keinginan kita.
Semua pedagang
menciptakan hasrat membeli,
mengobarkan nafsu keinginan kita; setiap pabrik pun terus-menerus bersaing.
Maka seluruh masyarakat berada dalam sejenis
pemilikan,
saling membandingkan,
dan
persaingan.
Kita bukan hanya ingin memiliki banyak kekayaan;
setelah memiliki, kita terus-menerus saling membandingkan — aku harus lebih baik darimu, aku harus lebih kaya darimu.
Lalu setelah saling membandingkan,
terus-menerus bersaing,
terus-menerus bersaing.
Manusia dalam pemilikan, perbandingan, dan persaingan semacam ini
sebenarnya
sangat susah payah,
sangat lelah.
Maka saya rasa manusia yang hidup hari ini punya sebuah
ciri yang sangat penting, yaitu apa?
Manusia yang hidup hari ini punya sebuah ciri yang sangat penting,
yaitu banyak dari kita hidup sangat lelah.
Betul kan?
Kelelahan ini adalah fenomena yang sangat umum di masyarakat kita hari ini.
Mengapa sangat lelah?
Tentu, di satu sisi, ini berkaitan dengan lingkungan masyarakat,
persaingan,
perbandingan.
Masyarakat kita di masa lalu — "negara kecil, penduduk sedikit" —
semua menjalani hidup tanpa perbandingan.
Ini seperti yang dikatakan Laozi, "negara kecil, penduduk sedikit":
semua hidup sangat polos, juga tak perlu saling membandingkan,
hidup sangat santai.
Tetapi hari ini, di zaman globalisasi semacam ini,
kita bisa melihat terlalu-terlalu banyak hal,
maka kita sangat mudah menimbulkan sejenis
perbandingan semacam ini.
Nah, perbandingan semacam ini,
di satu sisi,
kita perlu — yaitu kita saling membandingkan dengan orang lain,
kita perlu terus-menerus membandingkan, terus-menerus bersaing.
Nah,
ini sendiri sudah merupakan hal yang sangat susah payah,
sangat susah payah.
Banyak perusahaan setiap tahun menuntut terus-menerus
(kenaikan) berapa persen —
dua puluh persen, tiga puluh persen, lima puluh persen,
setiap tahun meningkat.
Ini sangat susah payah.
Nah, ada juga satu sisi lain:
kita —
informasi kita sekarang sedemikian berkembang,
membuat orang zaman sekarang setiap hari —
kita, selain kesibukan pekerjaan,
kita —
kita punya komputer, televisi, ponsel ini;
setiap hari kita sudah tak bisa diam.
Kita setiap saat dan di mana pun harus
selalu sibuk mengurus sesuatu di ponsel.
Apa itu "kaum menunduk" (pecandu ponsel) dan sebagainya —
sekarang semua menjadi (begitu).
Kau tak melihat seorang pun yang duduk diam dengan tenang di sana;
setiap orang pasti sedang sibuk mengurus sesuatu.
Kalau ia tak sibuk,
ia akan merasa
seolah
tak tahu harus berbuat apa,
tak tahu harus berbuat apa.
Maka asalkan kita punya waktu,
asalkan (kita) terjaga,
asalkan (kita) punya perasaan,
kita perlu terus-menerus sibuk.
Kesibukan kita sudah menjadi sejenis kebiasaan.
Kebiasaan semacam ini,
masalah terbesar yang ditimbulkannya apa?
Ia membuat kita
tak bisa beristirahat.
Seringkali fisik kita sudah sangat ingin beristirahat,
tetapi batin kita belum ingin beristirahat.
Batin —
kita terus-menerus menggenggam-genggam.
Yang dikatakan orang kuno "batin bagai monyet, pikiran bagai kuda liar" —
terus-menerus menggenggam-genggam,
ia sudah terbiasa menggenggam-genggam.
Maka orang zaman sekarang, asalkan (kita) terjaga, kita harus sibuk.
Lalu kapan tak sibuk?
Saat tertidur.
Saat tertidur baru tak sibuk.
Tetapi begitu terjaga kita mulai sibuk,
sibuk tanpa henti.
Maka orang zaman sekarang —
begini bisakah kita hidup tak lelah?
Maka saya sering berkata,
saya bilang, ke depan (bila) kita menilai apakah seseorang bisa hidup bahagia,
ada sebuah syarat yang sangat penting,
yaitu:
apakah kau bisa beristirahat,
apakah kau punya kemampuan beristirahat.
Karena (bila) punya kemampuan beristirahat baru punya jasmani-rohani yang sehat.
(Bila) punya jasmani-rohani yang sehat kau baru mungkin hidup bahagia.
Maka belajar membuat tubuh sendiri (dan) jasmani-rohani yang sehat baru mungkin hidup bahagia.
Maka belajar membuat tubuh sendiri (dan) jasmani-rohani yang sehat baru mungkin hidup bahagia.
Maka belajar membuat tubuh sendiri (dan) jasmani-rohani yang sehat baru mungkin hidup bahagia.
Menenangkan batin sendiri, belajar mengelola batin sendiri —
ini juga sebuah isi yang sangat penting dalam pembinaan diri Buddha-Dharma.
Nah, ini —
ini adalah kebutuhan yang membuat kita
sangat sibuk,
sangat lelah.
Nah, di sisi lain,
kebutuhan kita makin lama makin banyak, sekaligus juga berarti apa?
Sekaligus juga berarti kebergantungan kita makin lama makin banyak.
Terhadap dunia luar,
kita punya sejenis —
terhadap dunia luar kita punya kebergantungan yang makin lama makin banyak.
Lalu ketika semua yang kita gantungi mengalami perubahan,
kita akan merasa sedih,
akan khawatir.
Maka mengapa orang zaman sekarang tak punya rasa aman?
Cemas, takut, tak punya rasa aman —
itu karena seluruh —
kehidupan kita sudah makin lama makin tak mandiri.
Setelah kita terlalu banyak bergantung pada dunia luar,
kehidupan kita sudah makin lama makin tak mandiri.
Karena tak mandiri,
maka kita akan khawatir segala sesuatu di luar berubah.
Maka itu membuat orang zaman sekarang hidup tanpa rasa aman.
Nah, ada satu sisi lain dari kebutuhan yang juga membuat orang zaman sekarang —
biaya bertahan hidup kita makin lama makin tinggi,
biaya bertahan hidup.
Orang di masa lalu,
menghidupi diri sendiri sangat sederhana.
Tetapi orang zaman sekarang, menghidupi satu keluarga tak mudah,
menghidupi beberapa anak
tak mudah.
Dulu, melahirkan berapa anak pun —
tiga, lima —
semua sangat mudah.
Bahkan tujuh, delapan, sembilan, sepuluh
pun bukan soal.
Orang zaman sekarang kadang menghidupi satu anak saja tak mudah.
Mengapa?
Karena biaya bertahan hidup terlalu tinggi.
Nah, ada satu sisi lain: biaya kebahagiaan pun makin lama makin tinggi.
(Kalau) kebutuhan kita sedikit, kita sangat mudah bahagia.
Inilah yang dikatakan orang kuno:
"Tahu cukup selalu bahagia";
"sedikit pun tahu cukup".
(Kalau) kebutuhanmu sedikit, kau mudah puas.
(Kalau) kau mudah puas,
kau pun mudah bahagia.
Sebaliknya, orang zaman sekarang —
kebutuhannya banyak,
maka tak mudah puas,
tak mudah puas,
maka pun tak mudah bahagia.
Maka ini yang dirangkum orang kuno.
Kita mendengarnya hari ini — masuk akal atau tidak?
Tentu masuk akal.
Karena kenyataannya memang begini.
Maka kebutuhan yang banyak membuat biaya kebahagiaan orang hari ini pun makin lama makin tinggi,
bahkan
kebahagiaan menjadi makin lama makin tak mudah,
makin lama makin tak mudah.
Maka bagaimana kita menyikapi kebutuhan?
Saya rasa ini semestinya sebuah
persoalan yang sangat krusial bagi kebahagiaan hidup kita,
persoalan yang sangat krusial.
(Bila) kita bisa menyikapi kebutuhan dengan benar,
kita baru mungkin sungguh-sungguh hidup bahagia.
Kalau kita tak bisa menyikapi kebutuhan dengan benar,
kita akan disiksa mati oleh kebutuhan,
kita tetap hidup tak bahagia.
Maka ini yang saya bagikan kepada kalian,
persoalan keempat.
Berikutnya persoalan terakhir —
ini persoalan kelima,
yaitu kebahagiaan kita berkaitan dengan batin kita.
Yaitu, kita ingin hidup kita dijalani dengan bahagia —
sebenarnya
kita perlu membangun sebuah
batin yang sehat.
Karena batin manusia
sekaligus adalah
sumber penderitaan,
sekaligus juga
sumber kebahagiaan.
Hal ini kita semua harus tahu.
Mengapa dikatakan batin kita adalah sumber penderitaan?
Mengapa?
Karena di dalam batin kita ada banyak kekotoran batin.
Kekotoran batin adalah
mesin gerak abadi yang menciptakan penderitaan.
Batin kita —
misalnya keserakahan,
kebencian,
kecemasan,
ketakutan,
kedengkian,
keegoisan,
hal-hal ini.
Hal-hal ini,
setiap jenis
fenomena batin (semacam itu),
semuanya mendatangkan penderitaan bagi kita.
Saya kira hal ini semestinya dialami setiap orang.
Ketika batinmu terjerumus ke dalam keadaan-keadaan ini,
terjerumus ke dalam emosi-emosi negatif ini,
kau akan sangat tak nyaman,
kau akan sangat menderita, sangat sedih.
Maka kekotoran batin ini —
(bila) di dalam batin kita ada kekotoran batin,
kehidupan kita akan terus-menerus menciptakan penderitaan.
Saya kira hal ini, bukankah banyak orang punya pengenalan semacam ini?
Nah, saya juga ingin memberi tahu kalian:
batin kita sekaligus juga sumber kebahagiaan.
Sebenarnya ketika batin kita tak ada kekotoran batin,
itulah saat kita sangat mudah riang.
Sebenarnya, kalau mau bicara riang, sebenarnya juga sangat sederhana:
asalkan batinmu tak ada kekotoran batin,
kau akan sangat mudah riang.
Mengapa? Keriangan ini datang dari mana?
Seringkali keriangan tak ada kaitannya dengan kondisi materi,
juga tak perlu ada kondisi materi apa pun,
kau sudah merasa sangat riang.
Kau tak ada kekotoran batin,
kau akan merasa sangat riang.
Mengapa?
Karena Buddha-Dharma memberi tahu kita
(bahwa) di dalam batin setiap orang ada potensi untuk tersadarkan (bodhi),
ada Buddha-sifat.
Buddha-sifat ini terus-menerus menciptakan kebahagiaan.
Maka pernah, ketika membahas di Universitas Normal Beijing
hubungan Buddhisme dan psikologi,
saya menulis sebuah pos Weibo.
Membahas persoalan apa?
Membahas: kita umumnya menganggap Buddhisme berpendapat hidup adalah penderitaan.
Sebenarnya Buddhisme berkata hidup adalah penderitaan —
pernyataan ini sebenarnya tak lengkap.
Ia menunjuk pada kehidupan kita, orang awam, yang berlandaskan kebingungan dan kekotoran batin;
hidup semacam itu adalah penderitaan.
Tetapi sebenarnya Buddha-Dharma sekaligus juga memberi tahu kita
(bahwa) hakikat setiap kehidupan bukanlah penderitaan,
hakikat setiap kehidupan bukanlah penderitaan.
Setiap kehidupan —
hakikat kehidupan adalah bebas dan bahagia.
Mengapa?
Karena di dalam kehidupan kita, di balik kebingungan dan kekotoran batin,
masih ada potensi untuk tersadarkan.
Dan potensi untuk tersadarkan ini
terus-menerus menciptakan kebahagiaan,
menciptakan kebebasan, sukacita, ketenangan.
Ia mendatangkan bagi kita (kebahagiaan) yang tak habis-habisnya,
terus-menerus menghasilkan kebahagiaan.
Maka kita harus mengenali dua tataran kehidupan kita.
Maka dalam aktivitas batin kita,
aktivitas psikologis kita — dalam istilah Buddhis disebut pikiran (getar pikiran).
Pikiran kita,
aktivitas psikologis ini adalah pikiran.
Sebagian pikiran adalah musuh kita,
sebagian pikiran adalah kawan kita,
sebagian pikiran adalah kawan kita,
sebagian pikiran adalah kawan kita.
Maka pikiran kita ada pikiran yang baik,
ada pula psikologi kekotoran batin.
Psikologi kekotoran batin adalah musuh kita,
ia terus-menerus menciptakan penderitaan bagi kita,
menciptakan masalah.
Maka kita harus mengenali dengan jelas batinmu:
di dalam batinmu, kekotoran batin mana yang merupakan musuhmu.
Maka dalam Buddhisme juga ada sebuah kalimat.
Membahas apa?
Musuh terbesar dalam hidup
adalah apa?
Adalah dirimu sendiri.
"Dirimu sendiri" ini sebenarnya menunjuk pada apa?
Sebenarnya menunjuk pada apa?
Sebenarnya bukan dirimu sendiri yang sesungguhnya,
melainkan kekotoran batin di dalam batinmu.
Musuh terbesar dalam hidup
sebenarnya adalah kekotoran batin di dalam batinmu.
Karena kekotoran batin di dalam batinmu
terus-menerus menciptakan masalah bagimu.
Banyak-banyak fenomena kejahatan dalam kehidupan kita,
penderitaan,
hubungan antarmanusia yang tak harmonis,
semuanya diciptakan oleh kekotoran batin di dalam batin kita.
Kau bilang, apakah ia musuhmu?
Sekaligus, di dalam batin kita
juga ada banyak psikologi yang baik,
psikologi yang sehat,
yang dalam Buddhisme disebut psikologi yang baik.
Psikologi baik ini
adalah kawan kita.
Ia membuat kehidupan kita meningkat,
ia membuat kehidupan kita meningkat,
ia membuat kehidupan kita meningkat.
Ia terus-menerus menciptakan kebahagiaan bagi hidup kita,
menciptakan keriangan.
Ia mendatangkan ketenteraman dan keharmonisan bagi masyarakat ini.
Maka kita perlu mengenali (bahwa) manusia punya dua sisi:
ada psikologi yang baik,
ada psikologi yang buruk;
ada Buddha-sifat,
dan ada apa lagi?
Ada pula sifat-iblis.
Lihatlah, Mengzi berkata
setiap orang bisa menjadi (bijak seperti) Yao dan Shun, seketika menjadi Buddha,
setiap orang bisa menjadi (bijak seperti) Yao dan Shun, seketika menjadi Buddha.
Tetapi Mengzi sekaligus juga berkata,
Mengzi sekaligus juga berkata,
(yang membedakan) manusia dari hewan sangatlah tipis —
manusia dekat dengan hewan,
bahkan lebih menakutkan daripada hewan.
Manusia punya dua sisi semacam ini.
Kita dari pagi sampai malam —
tak sedikit dari kita yang hadir di sini
mungkin orang-orang sukses.
Kita tahu memahami masyarakat,
memedulikan masyarakat,
mengelola masyarakat.
Tetapi kita tak pernah memikirkan
(bahwa) kita semestinya memahami masyarakat,
kita semestinya memahami diri sendiri,
kita semestinya mengelola diri sendiri,
kita semestinya mengenali diri sendiri.
Sebenarnya mengenali diri sendiri —
ini adalah perkara besar nomor satu dalam hidup.
Buddha-Dharma justru membantu kita mengenali diri sendiri,
memahami kekuatan positif apa saja yang ada di batin kita,
psikologi negatif apa saja.
Kita membahas Buddha.
Apa yang mewakili Buddha?
(Buddha) adalah sasaran yang didambakan dalam pembinaan diri Buddhis kita,
pencapaian kepribadian sebagai Buddha dan bodhisatwa.
Ia punya ciri apa?
Kualitas Buddha punya tiga kebajikan (guṇa).
Yang pertama adalah kebajikan pemutusan,
"putus" yaitu kebajikan memutus (kekotoran batin).
Yang kedua adalah kebajikan kebijaksanaan,
yaitu kebajikan kebijaksanaan.
Yang ketiga adalah kebajikan welas asih,
yaitu kebajikan welas asih.
Dengan kata lain, sebagai pembinaan diri Buddhis,
apa yang hendak ia kerjakan?
Yaitu, di satu sisi,
ia perlu melenyapkan psikologi negatif di dalam batin manusia.
Psikologi negatif ini diwakili oleh keserakahan, kebencian, kebodohan.
Buddhisme menganggap dalam kehidupan setiap orang ada tiga jenis virus.
Tiga jenis virus ini adalah keserakahan, kebencian, kebodohan.
Semua penderitaan,
semua emosi negatif,
semuanya berkembang dari tiga virus ini.
Maka yang hendak diselesaikan pembinaan diri adalah keserakahan, kebencian, kebodohan.
Maka dalam Buddhisme dikatakan:
"Tekun membina sila, samadhi, dan kebijaksanaan;
memadamkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan."
Nah, di sisi lain,
yang hendak dikerjakan pembinaan diri Buddhis
adalah bagaimana mengembangkan potensi baik kehidupan kita ini.
Yang akhirnya hendak dicapai adalah dua kualitas:
satu adalah kualitas kebijaksanaan,
dan satu lagi adalah kualitas welas asih.
Mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih yang ada di dalam kehidupan kita.
Kebijaksanaan ini bukan kebijaksanaan biasa, melainkan kebijaksanaan agung.
Ia cukup untuk menyelesaikan kekotoran batin,
cukup untuk membuat kita benar-benar melenyapkan kebingungan kehidupan.
Dan satu lagi adalah welas asih,
yaitu bukan hanya kau sendiri harus terbebas dari kekotoran batin;
sekaligus kau juga harus membimbing makhluk hidup yang tak terhitung ini,
(bagian rekaman tidak jelas)
membimbing makhluk hidup yang tak terhitung dan tak terbatas ini.
Karena kau juga melihat setiap kehidupan mereka punya keserakahan, kebencian, kebodohan,
punya kebingungan, punya kekotoran batin.
Maka kau harus menumbuhkan hati welas asih yang luas terhadap mereka,
lalu pergi membantu mereka, satu per satu makhluk hidup,
agar bisa menyelesaikan kekotoran batin.
Ketika kau dalam proses berbuat begitu —
itulah pembinaan hati welas asih —
hati welas asihmu akan menjadi luar biasa luas.
Maka dalam Buddhisme dikatakan
Bodhisatwa Avalokitesvara maha welas asih.
Apa itu maha welas asih?
Yaitu, ketika kau bisa menumbuhkan hati welas asih terhadap semua makhluk hidup,
kau (menjadi) maha welas asih.
(Kalau) masih ada satu makhluk hidup
yang tak kaubersedia bantu,
itu menunjukkan kau belum maha welas asih.
Maka kita memahami pembinaan diri Buddha-Dharma
adalah untuk membantu kita sungguh-sungguh membangun hidup yang bahagia.
Bukan hanya diri sendiri yang harus membangun hidup bahagia;
sekaligus juga harus membantu (orang lain) sungguh-sungguh membangun hidup bahagia,
sekaligus juga harus membantu
ini —
seluruh makhluk hidup yang berjubel di kolong langit ini
membangun hidup yang bahagia.
Kebahagiaan bukan hanya sejenis fenomena;
yang lebih penting adalah
kita perlu membuat kebahagiaan ini
menjadi sejenis keberadaan yang hakiki.
Yang disebut keberadaan yang hakiki ini
yaitu kita harus benar-benar
melenyapkan (psikologi) di dalam kehidupan kita
yang merusak batin bahagia,
melenyapkannya sama sekali;
lalu kita benar-benar mengembangkan
potensi baik semacam ini
yang ada di dalam kehidupan kita,
yaitu
sifat-tersadar (bodhi) di dalam kehidupan kita.
Begitu kita mengembangkan sifat semacam ini,
kehidupan kita
menjadi sejenis keberadaan yang bahagia,
karena ia terus-menerus menciptakan kebahagiaan.
Sekaligus juga bisa terus-menerus
mendatangkan kebahagiaan bagi makhluk hidup yang tak terhitung dan tak terbatas.
Maka,
maka suatu hari saya memikirkan
topik semacam ini:
apa itu kebahagiaan.
Apa itu kebahagiaan?
Kebahagiaan yang sering kita sebut
sebenarnya hanya sejenis kebahagiaan semu.
Apa sebenarnya kebahagiaan yang sejati?
Yaitu,
kebahagiaan ini semestinya
mewakili sejenis keberadaan kehidupan.
Keberadaan ini sebenarnya berasal dari
hakikat kehidupanmu.
Ia sendiri adalah sejenis mesin gerak abadi yang menciptakan kebahagiaan.
Ia terus-menerus menciptakan kebahagiaan,
membuat diri sendiri menciptakan kebahagiaan,
sekaligus juga bisa, bagi makhluk hidup yang tak terhitung dan tak terbatas,
mendatangkan kebahagiaan.
Nah, sasaran itulah
sasaran yang hendak dicapai.
Saya sampaikan sampai di sini.
Terima kasih, Bhante.
Tadi Bhante juga membahas hati welas asih.
Kami menyiapkan kegiatan semacam ini
juga (memakan) waktu yang lama,
dan (kami sediakan) satu sesi (khusus).
Biasanya,
untuk bisa, dari jarak dekat dengan bhiksu agung yang berbudi luhur seperti ini,
menyimak,
kesempatannya sudah sangat sedikit.
Nah, hari ini,
Bhante juga dengan hati welas asih yang istimewa
berkata: setelah selesai (ceramah),
kita yang hadir di sini,
kalau ada
kekotoran batin atau kebingungan apa pun —
dalam melafalkan sutra dan bersujud pada Buddha,
atau dalam kehidupan dan pekerjaan —
semua boleh diajukan untuk dijawab,
diajukan.
Nah, saya bilang,
saya pun punya setumpuk kekotoran batin,
bolehkah saya bertanya?
Lalu pemimpin perusahaan berkata:
hari ini
kau harus mendahulukan orang lain,
yaitu kau tak boleh bertanya,
orang lain semua boleh bertanya.
Nah, saya kira kesempatan berharga ini
saya lepaskan (untuk kalian).
Sekalian,
kalau kalian membutuhkannya,
silakan terima (kesempatan ini).
Entah (soal) melafalkan sutra dan bersujud pada Buddha,
atau (soal) kekotoran batin
dan kebingungan dalam pekerjaan dan kehidupan.
Nah, sekarang Bhante ada di tempat,
memberi kalian jawaban.
Rebutlah kesempatan ini,
waktunya terbatas.
Terima kasih telah memberi saya kesempatan ini.
Tadi Bhante
menyinggung
tiga kebajikan Buddha:
kebajikan pemutusan, kebajikan kebijaksanaan, kebajikan welas asih.
Terhadap kebajikan pemutusan ini,
bagaimana pemahamannya —
saya agak bingung.
Terima kasih.
Kebajikan pemutusan yaitu kebajikan Nirwana.
Apa itu kebajikan Nirwana?
Ia adalah kebajikan yang dicapai
melalui pemutusan kekotoran batin.
"Putus" yaitu memutus kekotoran batin,
yaitu keserakahan, kebencian, kebodohan.
Setelah kekotoran batin ini diputus,
lalu bisa merealisasi Nirwana.
Maka kebajikan pemutusan
sebenarnya juga kebajikan merealisasi Nirwana.
Baik, terima kasih, Bhante.
Terima kasih atas kesempatan ini
untuk bisa bertanya kepada Anda.
Saya ingin bertanya:
dalam pendidikan sekolah,
pendidikan keluarga,
dan pendidikan masyarakat,
bagaimana (kita) bisa —
karena saya seorang pelajar —
bagaimana menyebarluaskan Buddha-Dharma
dengan cara yang lebih baik,
untuk memberi tahu lebih banyak orang,
agar bisa mencapai kebijaksanaan agung dan welas asih agung,
agar bisa (tak perlu) berjerih payah lagi.
Terima kasih.
Pertama-tama harus belajar sendiri.
Setelah belajar sendiri,
lalu tentu pertama-tama
dengan tutur kata dan teladan perbuatanmu sendiri
mempengaruhi orang di sekitarmu.
Lalu kalau ada kondisi yang lebih memadai,
kita mungkin bisa mencari sejumlah
buku-buku yang dibabarkan para bhiksu ini,
buku-buku "Buddhisme untuk kehidupan manusia".
Kita bisa, dengan kawan-kawan di sekitar,
sesuai jodoh dan kadar, menjalin jodoh (Dharma),
membuat mereka —
"ini ada sebuah buku,
kau bisa membacanya."
Tentu, pihak lain pun harus punya minat tertentu.
Selain itu, kami sekarang di Shanghai
juga punya beberapa salon (kelompok diskusi).
Bisa mengajak mereka
datang ke salon untuk ikut serta,
misalnya
bersama-sama membahas sejumlah persoalan hidup:
apa itu kebahagiaan,
apa itu pelestarian lingkungan,
bagaimana menyikapi kekayaan.
Ini bisa dilakukan sebagai keikutsertaan semacam itu.
Saya rasa kira-kira bisa mulai berbuat begitu dulu.
Tentu, kalau ada kondisi yang lebih memadai,
bisa juga membuat orang-orang di sekitarmu
menjalin jodoh lebih lanjut dengan kalangan Buddhis,
ikut serta dalam beberapa
ceramah seperti ini,
kegiatan serupa —
semua bisa.
Salam, Bhante.
Saya ingin menanyakan sebuah persoalan kepada Anda.
Yaitu, pada zaman (akhir) Dharma,
dikatakan ada Buddha yang menyeberangkan makhluk hidup,
ada pula Mara yang "menyeberangkan" makhluk hidup.
Di dalam masyarakat kita sekarang,
bagaimana kita membedakan Buddha dan Mara?
Karena seringkali saya melihat
banyak bhiksu, setelah meninggalkan rumah,
kadang ia berbicara (baik),
tetapi kadang ia berbicara (lain),
kadang ia membicarakan hal-hal lain,
sehingga menjadi tak jelas dibedakan.
Mohon Bhante menjelaskannya kepada saya, terima kasih.
Kau harus tahu apa itu Buddha,
baru kau tahu apa itu Mara.
Maka ini perlu ada sebuah pembelajaran Buddha-Dharma
yang benar,
yang tepat.
Kami di Shanghai juga punya beberapa kelompok (belajar) semacam ini.
Kau bisa ikut serta melakukan pembelajaran.
Setelah belajar,
seperti masyarakat kita sekarang yang mementingkan standar —
produk harus punya standar —
sama halnya belajar Buddha-Dharma,
membedakan apa yang —
apa yang sungguh-sungguh Buddha-Dharma,
apa yang menyerupai Buddha-Dharma,
ajaran luar yang menempel pada Buddha,
bahkan ajaran sesat dan iblis —
kau harus punya sebuah standar.
Standar ini harus kauperoleh melalui sebuah
kelompok Buddhis yang cukup benar,
kelompok belajar (Dharma).
Setelah kau menerima pendidikan ini,
baru kau bisa membangun standar semacam ini.
Setelah punya standar ini,
baru kau punya kemampuan untuk menilai
para "master" itu.
Karena sekarang saya, ke vihara di banyak tempat, melihat
banyak orang —
saya merasa Buddha-Dharma,
kita menyebarluaskan Buddha-Dharma —
atau keyakinan kita:
punya keyakinan, saya rasa itu sungguh
bisa membuat kita penuh (dan)
sangat puas.
Tetapi saya merasa
banyak vihara, banyak tempat, semua berkata —
ada beberapa hal yang terasa seolah berbeda dengan Buddha-Dharma (yang sebenarnya),
agak berbau takhayul.
Saya merasa: bagaimana kita menyebarluaskan Buddha-Dharma,
membuat setiap orang punya keyakinan,
yang berbeda dengan sebagian tindakan sekarang,
tidak sama.
Seperti banyak vihara menyuruhmu mengejar —
kau ke sini, ke sana, ke sana —
pokoknya membuatmu merasa segalanya sangat menguntungkan (secara materi).
Kalau (kami ingin) menyebarluaskan (Dharma yang benar) —
ini memang sebuah persoalan.
Kalangan Buddhis kita sekarang,
tentu di satu sisi penyebaran Dharma juga cukup lemah,
lalu memang juga ada tak sedikit vihara —
vihara-vihara ini punya berbagai macam keadaan.
Ada tak sedikit vihara yang bahkan
(dikelola) semacam perusahaan,
bahkan sebagian vihara di tempat-tempat kecil
dikontrakkan kepada biksu-biksu palsu.
Lalu, sekalipun ada sebagian vihara yang normal,
dalam hal penyebaran Dharma pun cukup lemah.
Kita masuk ke sana berkeliling sekali,
tetap tak tahu apa itu Buddha-Dharma.
Maka dalam hal ini kami juga merasa sangat menyesal,
karena Buddha-Dharma —
vihara semestinya sebuah (tempat) yang menyebarluaskan Buddha-Dharma,
sebuah kelompok pengajaran semacam itu.
Tetapi sekarang dalam hal ini yang dikerjakan sebenarnya agak kurang.
Tetapi tetap ada banyak orang yang mengerjakannya,
kami sedang mengerjakan hal semacam ini.
Maka kalau kau sungguh-sungguh berhati untuk belajar Buddha,
tentu harus (mencari) kawan sejati yang jernih (kalyāṇa-mitra),
harus bersentuhan dengan sebuah kelompok belajar (Dharma).
Kami di Shanghai punya kelompok semacam itu.
Kalau kau menjalin jodoh dengan mereka,
kau bisa, melalui pembelajaran semacam itu —
setelah menjalin (jodoh) kau akan tahu Buddha-Dharma sebenarnya bagaimana.
Dan ia bisa, melalui pembelajaran,
menyelesaikan sebuah —
bisa menyelesaikan banyak kegundahanmu,
juga bisa membuatmu mengurangi kekotoran batin.
Saya bertanya sekali lagi.
Sekarang kita sering melihat vihara ramai dengan pembakaran dupa.
Sebenarnya mungkin mereka —
seperti Anda datang hari ini pasti untuk menjernihkan batin kami —
tetapi orang yang saya lihat membakar dupa
ternyata (demi urusan) pekerjaan.
Sebenarnya mereka membawa sejenis hati yang egois,
yaitu memohon perlindungan agar dirinya naik jabatan dan menjadi kaya,
lulus masuk universitas —
semuanya demi kepentingan diri sendiri.
Sebenarnya, dari yang sungguh-sungguh membakar dupa,
90% orang tidak memikirkan kebaikan (batin) dirinya sendiri,
dan bukan seperti yang Anda maksudkan,
"Aduh, aku harus membawa hati welas asih."
Maka saya berpendapat Buddha-Dharma sekarang —
banyak pembakar dupa, tamu pembakar dupa,
semuanya sangat utilitarian semacam itu.
Apakah ini sungguh-sungguh Buddhisme?
Maka saya ajukan pemikiran ini,
bagaimana pandangan Anda?
Tentu, persoalan ini
juga harus dilihat dari dua sisi.
Banyak orang membakar dupa —
saya kira
ia punya sejenis psikologi utilitarian semacam ini,
misalnya ia berharap naik jabatan,
menjadi kaya,
karier lancar,
anak selamat sentosa.
Nah,
kebutuhan-kebutuhan semacam ini
semuanya sejenis kebutuhan yang wajar,
karena setiap orang punya kebutuhan semacam ini.
Seringkali dalam kehidupan,
ia memang menghadapi keadaan (sulit) itu,
maka ia punya permohonan itu.
Saya rasa terhadap ini
kita tetap harus punya sikap memahami.
Tentu, sebagai kalangan Buddhis kami,
perlu memberi bimbingan kepada orang-orang ini,
membuat ia tahu (bahwa) ia harus meningkatkan kebutuhannya.
Semua harus tahu Buddha-Dharma
bukan hanya membantumu memohon perlindungan dan keselamatan;
yang lebih utama adalah —
yang terpenting dari Buddha-Dharma adalah memperbaiki batinmu,
meningkatkan kepribadianmu,
membuatmu menjadi lebih bijaksana,
lebih welas asih.
Ini perlu kita bimbing,
saya rasa inilah yang semestinya kita kerjakan.
Dua persoalan terakhir.
Salam, Master Ji Qun.
Master Ji Qun hari ini membuat saya memperoleh manfaat Dharma, sangat berbahagia.
Saya ingin menanyakan sebuah persoalan.
Hari ini dalam perjalanan saya ke sini,
saya melihat satu —
dua orang berpakaian jubah bhiksu,
seperti sepasang perempuan muda seperti kami,
sama-sama (memegang) rupang Buddha.
Sekali lihat saya tahu itu palsu.
Saya sering menemui yang seperti ini.
Mereka tak pernah (menerima ajaran) seperti yang kuterima.
Saya melihat yang palsu ini —
bolehkah saya maju menegur atau melaporkannya?
Terima kasih.
Saya rasa pengaruh Buddhisme terlalu besar.
Ada orang yang tak tahu, jadi sangat salah paham terhadap bhiksu Buddhis.
Sebenarnya bhiksu yang sejati tidak seperti itu.
Masyarakat sekarang apa pun ada yang palsu dan berkualitas buruk,
maka ini pun terhitung fenomena yang wajar.
Tetapi kuncinya adalah:
entah pemerintah atau kalangan Buddhis,
dalam hal ini harus melakukan sejumlah upaya.
Karena kalau pemerintah dan kalangan Buddhis tak berupaya,
kita mengandalkan kekuatan perorangan untuk mencegah
sebenarnya juga sangat terbatas.
Kau mencegah di sini sekali,
kau juga tak bisa dari pagi sampai malam mengikutinya.
Maka kau punya rasa keadilan semacam ini,
punya hati membela Dharma semacam ini —
itu patut disukacitai.
(bagian rekaman tidak jelas)
Salam, Master Ji Qun.
Saya Zhilin dari kelas belajar.
Saya ingin bertanya:
dalam komunikasi di antara para kakak-Dharma di kelas,
ada sebuah persoalan.
Mungkin setelah setahun berkomunikasi,
mereka memang mengalami perubahan besar,
hati welas asih mereka meningkat.
Tetapi kadang ada seorang kakak-Dharma yang menarik,
ia tiba-tiba datang ke kelas menyampaikan beberapa persoalan.
Ia berkata, "Kakak-Dharma,
hari ini aku tak sengaja membunuh seekor nyamuk."
"Kakak-Dharma,
hari ini aku tak sengaja membunuh seekor cacing tanah."
Saya rasa, seperti yang kita katakan —
menjalankan lima sila, mempraktikkan sepuluh perbuatan baik —
di dalamnya (soal) membunuh makhluk, kalau tak sengaja —
mungkin kakak-Dharma memang
tak sengaja menepuk mati seekor nyamuk.
Saya rasa ini bagaimana memahami
persoalan membunuh makhluk (semacam ini)?
Tentu, pertama-tama juga patut disukacitai.
Ini juga sebuah kemajuan.
Karena terhadap hewan-hewan ini,
kita biasanya kurang menganggap mereka sebagai (sesuatu),
kita (kurang) menganggapnya sebagai sebuah kehidupan.
Nyamuk, cacing tanah,
bahkan kita menyembelih ayam, menyembelih babi,
kita semua merasa itu sangat wajar.
Nah, setelah kita belajar Buddha,
kita pun mengenali bahwa ia sebuah kehidupan,
juga patut kita hormati.
Kita punya pengenalan semacam ini —
sebenarnya ini sebuah peningkatan pengenalan.
Tentu, dalam kehidupan,
tak terhindarkan tetap akan ada sejumlah luka terhadap kehidupan-kehidupan ini.
Kalau dari sudut menjalankan sila,
kalau kau tak sengaja melukai,
sebenarnya itu tak melanggar sila.
Tetapi kita tetap harus punya hati bertobat.
Setiap kali kita melukai orang lain,
kita harus punya hati bertobat.
Kita harus punya hati welas asih terhadap hewan.
Kita punya hati welas asih terhadap hewan,
setelah kita punya hati welas asih,
baru kita bisa punya hati welas asih terhadap lebih banyak orang.
Karena ciri terbesar orang zaman sekarang adalah sangat mati rasa.
Entah terhadap manusia, entah terhadap hewan,
melukai orang lain bagi kita menjadi
hal yang lazim.
Sebenarnya hati welas asih yang sejati, dalam kehidupan,
harus kita pupuk sedikit demi sedikit.
Entah terhadap manusia, entah terhadap hewan,
kita setiap saat bisa memupuk hati welas asih semacam ini.
Dengan begitu, hati welas asih kita,
hati cinta kasih kita baru akan terus-menerus menguat,
baru bisa menjadi lebih berdaya.
Maka saya rasa —
punya kewaspadaan semacam ini,
itu juga sebuah kemajuan.
Tetapi jangan sampai menjadi sejenis penyakit batin,
jangan sampai menjadi sejenis simpul batin.
Kita perlu punya hati welas asih;
setelah bertobat, kita lepaskan saja,
dan selesai.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya