Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

Is It Possible to Live in the Present Moment? (Belgrade, 2018)

Tentang Ceramah

Ceramah Dzongsar Khyentse Rinpoche di Beograd (2018) untuk hadirin yang sebagian besar baru mengenal Buddhisme. Rinpoche menjelaskan bahwa Buddhisme tak mudah dikategorikan sebagai agama, filsafat, atau jalan spiritual dalam arti Abrahamik — ia lebih merupakan cara paling matang untuk hidup dengan dunia yang penuh paradoks: segala sesuatu "ada tetapi juga tak ada", seperti pelangi. Ia menguraikan pandangan dasar Buddhis (semua yang tersusun tak kekal, semua emosi adalah penderitaan, penampakan bukanlah kenyataan), tujuannya (menghilangkan kekotoran batin, bukan memperoleh sesuatu — kita sudah sempurna seperti langit di balik awan), dan disiplinnya (kesadaran/awareness akan kebenaran). Dibahas pula peran budaya yang membajak Dharma, ragam praktik lintas tradisi (mandala pasir, upacara teh, ikebana), keutamaan kebijaksanaan di atas moralitas, hubungan Buddhisme dengan sains, roda kehidupan, karma dan pola kebiasaan bawah sadar, serta latihan "embargo ekonomi" terhadap kebiasaan lewat duduk diam (shikantaza) dan belajar mencintai kebosanan dan kesepian. Sesi tanya jawab menyentuh demokrasi dan individualisme, ilusi pencerahan yang tetap diperlukan, Sutra Teratai, dan bodhicitta.

Kesehatan Mental & Kesejahteraan Batinmenunggu tinjauan
Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
untuk mengunjungi kelompok kami. Saya sungguh berharap Anda akan menikmati (ceramah) ini dan saya ingin berkata sedikit lebih banyak tentang
guru agung yang memilih untuk berbagi kebijaksanaannya dengan kami. Tak mudah memperkenalkan Dzongsar Khyentse
Rinpoche tetapi saya akan berusaha sebaik mungkin di sini. Pada awal tahun 1980-an ia melakukan perjalanan pertamanya ke luar negeri untuk mengajar di
Australia dan pada dasarnya ia tak pernah berhenti berkelana sejak itu. Ia mendirikan beberapa
organisasi internasional di sepanjang jalan untuk mendukung dan memperluas cakupan aktivitasnya.
Ia adalah kepala biara Dzongsar dan Dzongsar College dan saat ini bertanggung jawab atas
perawatan dan pendidikan sekitar
300 biarawan di enam biara dan institut di Asia. Saya ingin menyebutkan Siddhartha's Intent
dan Khyentse Foundation yang menyediakan dukungan yang diperlukan. 84000 mengawasi penerjemahan
sabda Buddha ke dalam bahasa-bahasa modern. Saya juga ingin menyebutkan Lotus Outreach
dan Lhomon Society. Rinpoche adalah penulis
beberapa buku tentang Buddhisme yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Misalnya,
"What Makes You Not a Buddhist", "Not for Happiness" dan juga saya harus menyebutkan "The Guru Drinks Bourbon?".
Ia juga terkenal di luar dunia Buddhis untuk film-film layar lebar yang ia tulis dan sutradarai seperti
"The Cup", "Travellers and Magicians",
"Vara: A Blessing" dan "Hema Hema".
Buddha Dharma saat ini sedang diserap ke dalam sejumlah budaya berbeda seiring ajaran
Buddha terus menyebar ke seluruh dunia. Tetapi seperti yang Rinpoche tekankan dengan susah payah, sementara
kemasan budaya yang datang bersama Buddhisme Tibet sering bersifat opsional, Buddha Dharma itu sendiri tak perlu dimodernkan.
Shakyamuni adalah seorang Buddha dan karena itu ia mahatahu (mengetahui segalanya). Jadi setiap kata yang ia ucapkan, setiap tradisi
yang ia lembagakan, setiap aspek dari warisannya sama tepat dan perlunya hari ini sebagaimana pada masa hidupnya.
Inilah pesan yang Rinpoche tekankan terus-menerus ketika ia mengajar, berfokus terutama pada tradisi Buddhis.
Ia seorang Buddhis yang punya pandangan yang sangat kuat, alih-alih latar belakang etnis yang menjadi latarnya.
Tak pernah ragu untuk menarik perhatian pada cacat dan korupsi yang telah merayap masuk ke jalan spiritual kontemporer dan
dengan tanpa takut membeberkan tantangan-tantangan yang dihadapi para guru dan murid Buddha Dharma di abad ke-21.
Setelah semua perjalanan ini, kami sangat berterima kasih bahwa Anda akhirnya mengunjungi kami di sini di Beograd.
Saya percaya kita hidup di dunia di mana nilai-nilai yang sejati langka atau mereka tak ada.
Kita entah telah melupakannya atau kita tak pernah repot untuk mengenali apa nilai-nilai itu.
Kami berharap bahwa kami malam ini akan menggunakan waktu kami bersama Rinpoche dengan bijaksana dan berusaha menempatkan beberapa hal
dalam perspektif dan semoga kami akan berhenti sejenak dan bertanya-tanya.
Apa yang penting dalam hidup dan bagaimana mungkin menjalani hidup di saat kini.
Terakhir, dan untuk menolong Anda merasa lebih nyaman, saya memutuskan untuk membawa dua kartu.
Satu yang merah, dan satu yang kuning kalau-kalau seseorang berperilaku buruk.
Karena saya kira ini gagasan yang sangat bagus.
gagasan yang sangat bagus yang Anda sampaikan pada ceramah Anda baru-baru ini di London.
Terima kasih. Terima kasih.
Terima kasih.
Nah, pertama saya ingin mengungkapkan kebahagiaan saya
dan sekadar, saya tak tahu, kehilangan kata-kata,
berada di sini di sebuah negara yang telah saya dengar banyak,
di kota yang telah saya dengar,
tetapi tak pernah sungguh-sungguh membayangkan bahwa suatu hari saya akan pergi ke sana,
tetapi entah bagaimana, tahu kan, di sinilah saya.
Dan bukan hanya saya di sini sebagai turis,
tetapi sesungguhnya berhasil melakukan percakapan dengan banyak dari Anda di sini.
Saya berterima kasih kepada Anda karena menciptakan kesempatan ini.
Saya yakin, tahu kan, ada begitu banyak hal
yang bisa saya pelajari dari banyak dari Anda.
Saya diberi tahu bahwa banyak dari Anda mungkin tak punya banyak informasi
tentang sesuatu yang disebut Buddhisme,
yang merupakan sedikit tantangan bagi saya
karena...
akan ada banyak asumsi dalam pola kebiasaan saya
bahwa, tahu kan, nuansa yang saya gunakan,
bahasa yang saya gunakan, saya tak tahu,
bahwa... sekadar kata-kata yang saya gunakan,
saya akan punya banyak asumsi
bahwa Anda entah memahaminya sebagaimana saya memahaminya,
atau Anda tak memahaminya sebagaimana saya tak memahaminya.
Misalnya, tahu kan, saya baru saja di Yerusalem,
mengajar di Universitas Ibrani,
dan ada banyak pertanyaan tentang tujuan hidup.
Seperti, apa tujuan hidup dalam Buddhisme?
Begini, ini selalu, tahu kan, membuat saya...
sedikit kehilangan keseimbangan.
Karena pertanyaan itu sendiri, apa tujuan hidup?
Kalau saya tak berhati-hati, saya sungguh bisa menyesatkan orang
ketika berusaha menjelaskan filsafat Buddhis.
Karena saat saya mengenal semakin banyak orang dari Barat,
saya mulai sungguh-sungguh memahami bahwa,
saya mulai menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti tujuan hidup
adalah pertanyaan yang sangat Abrahamik.
Tahu kan, ia pertanyaan yang sangat berdasar pada seperti Yudaisme,
Kristen dan Islam.
Apakah Buddhisme punya tujuan hidup?
Nah di sini kita harus sungguh berhati-hati.
Saya tak berpikir para Buddhis percaya pada tujuan hidup
yang dirancang oleh suatu yang mahakuasa,
tahu kan, pencipta atau suatu kekuatan supernatural.
Bahkan kata "Buddhisme" sangat asing bagi kami.
Saya yakin banyak dari Anda tahu seperti Hinduisme,
yang disebut Hinduisme,
sesungguhnya...
ia istilah yang diciptakan oleh orang-orang Abrahamik,
seperti mungkin barangkali orang Inggris yang mungkin telah menggunakan ini.
Seperti dalam seluruh studi saya tentang filsafat Timur,
terutama ketika saya mempelajari Buddhisme,
kami tak pernah menemukan kata yang disebut Hinduisme.
Jadi dalam konteks ini, ketika orang bertanya...
ketika orang berasumsi bahwa Buddhisme adalah jalan spiritual,
bahkan itu Anda harus agak berhati-hati.
Banyak, tahu kan, Buddhis...
dalam Buddhisme kami tak sungguh-sungguh menegaskan atau...
tak ada teori tentang roh, tahu kan,
ketika kami berbicara tentang jalan spiritual.
Apakah ia jalan duniawi? Mungkin bukan.
Jadi dalam pengertian itu,
Jadi dalam pengertian itu,
Jadi dalam pengertian itu,
Anda bisa berkata ia adalah jalan spiritual.
Tetapi jalan spiritual sebagaimana ia dikenal dalam,
tahu kan, seperti tradisi Yahudi,
tradisi Kristen atau tradisi Islam,
saya tak sungguh bisa mengatakan apakah ia jalan spiritual.
Seperti yang saya bilang, ia tak sungguh punya konsep tentang roh atau jiwa juga.
Jadi ada banyak cendekiawan yang berkata bahwa Buddhisme
sebenarnya bukan agama.
Sekali lagi di sini kita harus berhati-hati karena seperti yang Anda bisa lihat,
di sinilah saya duduk tepat di depan Anda
dan saya sudah... saya mengenakan sesuatu seperti ini.
Jadi Anda akan... Anda akan segera berasumsi
bahwa ia orang yang religius karena ia mengenakan
pakaian yang agak berbeda.
Ia... dan lalu ya, para Buddhis punya semacam
pakaian yang tampak religius ini.
Bukan hanya kami punya pakaian yang tampak religius,
kami punya ikon religius seperti patung-patung dan kalau Anda...
kalau ada dari Anda yang pernah ke Timur seperti di Nepal atau India,
para Buddhis juga punya gerak isyarat seperti ini
dan para Buddhis punya praktik yang disebut meditasi
di mana Anda duduk tegak dan...
dan lalu juga praktik melafalkan mantra, nyanyian, doa.
Para Buddhis punya semua hal ini.
Para Buddhis punya semua itu.
Jadi ada semacam aspek religius itu atau semacam...
saya tak tahu, sebuah fenomena religius.
Tetapi pada saat yang sama, apakah ia sebuah agama?
Kalau agama didefinisikan sebagai jalan yang percaya
pada semacam pencipta mahakuasa yang mistis atau, tahu kan, Tuhan,
maka Buddhisme bukan agama.
Buddhisme tak punya jenis keyakinan itu.
Ada juga pertanyaan apakah Buddhisme adalah sebuah filsafat atau bukan.
Salah satu komentator Buddhis yang paling terkenal
disebut Nagarjuna.
Ia seorang komentator Buddhis yang agung atau seorang filsuf,
kalau Anda menyebutnya filsuf.
Ia... filsafatnya dipuji dengan sangat bangga sebagai filsafat
non-filsafat.
Jadi yang saya coba katakan adalah kalau Anda baru,
kalau Anda belum pernah mendengar tentang Buddhisme,
saya harus memberi Anda...
saya harus memberi tahu Anda bahwa Buddhisme cukup rumit.
Pada saat yang sama, ia sangat sederhana.
Kami percaya bahwa, tahu kan, Buddhisme merosot banyak
di banyak tempat berbeda, terutama...
semacam negara asalnya sendiri, India.
Sebagian besar, meskipun Buddhisme merosot banyak
karena alasan politik, konversi paksa, tahu kan,
seperti tempat seperti Afghanistan atau Indonesia, Pakistan,
ini pernah pada suatu masa negara Buddhis yang berkembang pesat,
tetapi sekarang tak lagi.
Tetapi itu sebenarnya bukan tantangan Buddhisme.
Tantangan Buddhisme yang sebenarnya, saya kira, ada dalam dua bentuk.
Satu yang sungguh, sungguh ganas,
adalah budaya, budaya tuan rumah.
Jadi ketika Buddhisme berkelana ke berbagai bagian dunia
seperti Tiongkok, Jepang, Korea, dan sekarang juga di Barat,
entah bagaimana kita sebagai manusia,
tanpa budaya kita tak tahu bagaimana bahkan melakukan apa pun.
Tahu kan, kita sangat bangga akan budaya
dan budaya sangat erat terkait dengan bahasa.
Dan bahasa sangat erat terkait dengan bagaimana Anda berpikir.
Jadi budaya, banyak kali budaya...
dan ada bukti kuat bahwa budaya pada akhirnya selalu membajak Buddhisme.
Seperti yang, tahu kan, Liana jelaskan,
budaya adalah salah satu semacam rintangan.
Pada saat yang sama, budaya juga adalah wadah.
Faktor lain mengapa Buddhisme tak sungguh, saya tak tahu, tumbuh, populer,
adalah...
semacam Buddhisme dari sudut pandang duniawi
dan dari sudut pandang emosional, Buddhisme semacam tak berguna.
Tahu kan, ia sungguh... ia...
Tahu kan, saya selalu membuat lelucon ini tentang, tahu kan,
dalam seluruh kitab suci Buddhis, tak ada bahkan, seperti,
sesuatu yang berguna seperti upacara pernikahan.
Tak ada...
Tak ada yang namanya upacara pernikahan Buddhis.
Dan alasannya adalah karena Buddhisme konon seluruhnya tentang kebenaran.
Yang disebut Buddhisme sebagaimana kita kenal sekarang sesungguhnya muncul karena ada seorang pangeran.
Dua ribu tahun... dua ribu lima ratus tahun yang lalu,
ada seorang pangeran yang, melihat usia tua, penyakit,
kematian, sungguh, apa Anda menyebutnya, melihat kesia-siaan dari apa yang disebut kehidupan duniawi,
ingin mengetahui kebenaran yang lebih tinggi, apakah ada sesuatu yang melampaui hal yang kita miliki ini?
Dan sang pangeran pada dasarnya melepaskan kehidupan kerajaannya dan ia pergi ke hutan dan di sana ia
memahami kebenaran itu.
Dan ketika kita berbicara tentang kebenaran itu, kita tak sedang berbicara tentang semacam kebenaran
yang mistis, mitis, religius.
Salah satu kebenaran yang paling mendasar yang para Buddhis bicarakan adalah bahwa segala sesuatu yang dibuat
atau tersusun adalah tak kekal.
Jadi, bagaimana kita bahkan bisa punya pernikahan Buddhis?
Tahu kan, katakanlah, tahu kan, sepasang kekasih bertemu
dan sepasang kekasih sekarang di depan Anda dan lalu Anda, saya tak tahu, upacara pernikahan.
Dan lalu di akhir, kalau Anda sungguh harus hidup setia pada filsafat Buddhis,
Anda harus memberi tahu pasangan itu, oke, Anda menikah tetapi, tahu kan, segala sesuatu tak kekal,
Anda mungkin bercerai malam ini.
Tak ada yang akan menyukai ini.
Anda harus selalu berkata, tahu kan, semoga Anda bersama
selamanya sampai kematian memisahkan Anda.
Tetapi para Buddhis tak sungguh semacam percaya pada hal-hal ini.
Tetapi setelah mengatakan ini, saya sendiri telah menikahkan banyak orang.
Kami memang masih, kami memang masih, tahu kan, menabur bunga.
Tahu kan, mereka, Anda tahu maksud saya, mereka sangat rumit.
Ia seperti...
Ia sangat sederhana tetapi pada saat yang sama ia sangat rumit dan ia luas dan ia...
Ia... saya tak tahu.
Saya kira untuk memberi Anda gambaran tentang Buddhisme, kalau Anda bertanya kepada saya,
apa itu... apa yang bisa para Buddhis tawarkan kepada saya, saya akan berkata bahwa Buddhisme punya, mungkin punya
cara-cara yang paling berpengalaman, paling mapan untuk menikmati, hidup dengan kehidupan yang penuh paradoks.
Dan ini mungkin adalah hadiah dari Buddhisme.
Jadi ketika saya berkata ini, tahu kan, ia sesungguhnya, meskipun ia terdengar sangat rumit,
ia sebenarnya tak rumit.
Para Buddhis berpikir bahwa segala sesuatu adalah paradoksikal.
Para Buddhis berpikir bahwa ia sedikit seperti, tahu kan, Anda memandang pelangi yang indah.
Kalau Anda melihat pelangi yang indah, ia ada di sana tetapi ia juga tak ada di sana.
Tahu kan, ia ada di sana tetapi ia, tahu kan, warnanya, tahu kan, bentuk pelangi itu, ia ada di sana.
Anda bisa mengambil foto, Anda bisa berswafoto, Anda bisa berbicara tentangnya, Anda bisa menikmati.
Tetapi Anda sebaiknya jangan...
Anda sebaiknya jangan pergi terlalu dekat dan Anda sebaiknya jangan pergi dengan...
tentu saja dengan gergaji mesin dan memotong pelangi karena tak ada yang namanya pelangi yang sungguh-sungguh ada.
Beginilah para Buddhis percaya kehidupan itu, apa yang kita sebut kehidupan kita.
Ada banyak pasang surut, ada banyak, tahu kan, seperti, harapan dan ketakutan,
banyak...
penghakiman, banyak...
saya tak tahu, sekadar rincian dalam hidup kita.
Tetapi tak peduli jenis kehidupan apa yang sedang kita jalani, ia ada di sana tetapi pada saat yang sama ia tak sungguh ada di sana.
Nah, kalau Anda bisa memahami ini, bukan hanya secara intelektual tetapi secara praktis,
maka Anda adalah apa yang kami sebut orang yang tersadarkan.
Dan kata "tersadarkan" diterjemahkan...
Maksud saya, ia terjemahan dari kata Buddha, berarti tersadarkan.
Nah, ini mungkin... Anda mungkin berpikir ini...
oh, ini semacam sangat filosofis dan ia sangat rumit.
Anda mungkin berpikir begitu tetapi sesungguhnya ia tidak.
Misalnya, seperti ruangan ini, saya tak melihat ada dari Anda yang berjalan-jalan dengan pistol air.
Anda menyebutnya... tahu kan, ketika Anda anak-anak Anda punya pistol air atau boneka Barbie.
Saya tak melihat Anda berjalan-jalan dengan boneka Barbie.
Tetapi ketika Anda berusia enam tahun, ketika Anda berusia tujuh tahun, boneka Barbie adalah segalanya.
Pistol air adalah segalanya.
Atau ketika Anda bermain dengan orang tua Anda di pasir, tahu kan, pantai, Anda membangun sebuah istana
dan lalu Anda menaruh segalanya.
Kalau sesuatu tak beres Anda akan menangis dan seterusnya dan seterusnya.
Tetapi sekarang Anda telah memahami bahwa boneka Barbie sebenarnya tak...
tahu kan, seperti bagaimana ia tampak pada waktu itu.
Tetapi Anda sekarang punya boneka Barbie yang baru.
Anda punya rumah, Anda punya, saya tak tahu, pekerjaan, Anda punya apa yang disebut hubungan.
Hanya saja boneka Barbie dan pistol air telah digantikan oleh sesuatu yang lain.
Dan sekarang juga Anda sedang bermain...
Anda sedang bermain dengan mainan ini dan Anda begitu tersedot ke dalam... mainan-mainan ini.
Dan kalau seseorang berkata, oke, tahu kan, seperti ketika Anda muda dan membangun istana pasir,
menjelang sore ketika orang tua Anda berkata, oke, waktunya pulang, tahu kan, Anda merasa sangat kecewa.
Jadi demikian pula kalau seseorang datang dan berkata, tahu kan, hidup Anda, apa pun yang Anda perjuangkan,
semacam, ada di sana, tetapi tak ada di sana.
Ayo kita sekadar, tahu kan, mengakhirinya untuk hari ini.
Anda... itu sulit.
Itu sulit karena kita sangat percaya pada pengejaran kebahagiaan.
Kita sangat percaya pada definisi kita tentang keberhasilan.
Kita sangat takut... kita sangat takut...
takut pada definisi tentang... tahu kan, kita...
tentang takdir.
tentang takdir.
bagaimana kita... apa pun yang telah kita definisikan, semacam kegagalan,
kehidupan, kematian, semuanya.
Dan ini, yang saya katakan adalah dengan satu cara Anda punya, Anda,
Anda selalu, Anda selalu memang tahu sesuatu itu bermakna
dan tak bermakna pada saat yang sama.
Tetapi hanya saja... masalah dengan kita adalah kita selalu menggantikannya
dengan mainan lain dan lalu kita... ketika kita... mainan yang terbaru,
kita menjadi begitu terobsesi dengannya dan kita mengira ini nyata.
Dan obsesi ini membuat Anda... obsesi ini, keterhanyutan ini,
keadaan pikiran ini membuat Anda sibuk (terkuasai).
Dan ini...
dan ini disebut... ini disebut dalam istilah Buddhis,
kami menyebutnya samsara.
Samsara adalah kata yang sangat penting dalam Buddhisme.
Ia ada hubungannya... samsara berarti berputar dan berputar.
Jadi ia seperti kalau Anda punya seekor kucing dan kalau Anda mengikatkan sepotong kecil daging,
ke ekornya, ia berputar dan berputar berusaha menangkap ini.
Dan Anda adalah yang menarik dan Anda juga yang mengejar.
Jadi samsara berarti berputar dan berputar.
Dan lalu kalau Anda tahu ini hanya sebuah permainan, ini hanya sebuah ilusi.
Tetapi ketika saya berkata kata seperti — sekali lagi di sini, saya harus berhati-hati,
ketika saya menggunakan kata ilusi, saya tak merendahkannya, saya tak meremehkannya.
Ilusi sangat penting dan ilusi sangat kuat.
Terutama kalau Anda tak tahu bahwa ia sebuah ilusi,
Anda bisa terperangkap oleh ilusi ini.
Contoh lain yang bisa saya berikan kepada Anda, yang merupakan contoh Buddhis klasik,
seperti katakanlah Anda sedang bermimpi dan Anda bermimpi Anda sedang jatuh
dari tebing, dari sebuah bangunan besar. Kalau Anda... kalau Anda tak tahu bahwa Anda sedang bermimpi,
kalau Anda tak tahu bahwa Anda sedang bermimpi, kalau Anda tak tahu bahwa Anda sedang bermimpi,
apa yang Anda lakukan? Anda panik. Anda mengira itu dia, aku habis, aku mati sekarang.
Begitu aku jatuh ke tanah, aku habis.
Tetapi apa yang terjadi? Di suatu tempat di tengah, kalau Anda tahu, tidak, ini hanya sebuah mimpi.
Maka sesungguhnya Anda akan bermain dengan pengalaman ini. Karena ini hanya sebuah mimpi,
bagaimana kalau aku sekadar — biar kugerakkan tanganku dan berusaha terbang?
Karena aku toh tak akan mati, karena ini hanya sebuah mimpi.
Jadi hidup dengan... hidup, mengetahui, tahu kan, belajar bagaimana bermain
dengan dunia paradoks ini sangat berkaitan dengan Buddhisme.
Kalau saya... kalau saya berusaha mengungkapkannya secara ringkas, terutama,
untuk mereka yang baru mengenal apa yang disebut Buddhisme ini.
Nah, seperti yang saya bilang, Buddhisme secara tradisional, secara historis, Buddhisme...
Buddhisme semacam berasal di India. India, seperti yang Anda tahu,
India, seperti yang Anda tahu, punya tradisi keagamaan yang sangat kuat.
Ia seperti ibu dari banyak, banyak, banyak yang disebut spiritual...
Sekali lagi, saya menggunakan kata jalan spiritual.
Sebelum Buddhisme, sudah ada banyak yang sebut... oke, spiritual.
Jadi saya sungguh enggan menggunakan kata spiritual, karena sebelum Buddhisme,
ada banyak... tahu kan, ia sedikit seperti ini.
Misalnya, kini kita punya, maksud saya, orang biasa,
mereka punya tradisi keagamaan yang sangat kuat.
Lalu kita juga punya orang yang memandang ke dalam dan mereka ingin tahu lebih banyak tentang matahari dan bulan.
Mereka ingin tahu lebih banyak tentang evolusi bumi.
Mereka ingin tahu lebih banyak tentang penyebab penyakit tertentu.
Mereka ingin tahu lebih banyak tentang, tahu kan, seperti, apa yang akan terjadi setelah 500 tahun atau 50 tahun kemudian.
Jadi Anda bisa berkata bahwa...
apa yang kita sebut agama India... agama India.
Mereka... di India, mereka persis seperti itu.
Mereka seperti ilmuwan. Mereka pencari kebenaran.
Mereka ingin... mereka ingin tahu apa yang sesungguhnya ada di balik semua ini, tahu kan, persepsi.
Lalu datanglah, saya akan berkata, sekitar 2500 tahun (yang lalu),
datang dua revolusioner agung.
Satu adalah Buddha, yang lainnya semacam sepupu jauhnya, Mahavira.
Dan kedua orang ini, saya akan berkata, mereka... secara filosofis,
mereka semacam... mereka melangkah maju.
Mereka merevolusikan.
Mereka... mereka semacam... mereka melangkah maju.
Mereka merevolusikan.
Mereka merevolusikan.
Banyak konsep yang ada sebelum... apa Anda menyebutnya?
Realisasi mereka.
Misalnya, sebelum, saya kira, sebelum Mahavira dan sebelum Buddha,
ada banyak... oke, mari kita sebut mereka agama.
Hindu... oke.
Agama Hindu yang percaya pada Tuhan pencipta.
Tetapi ketika Buddha datang, ia salah satu orang pertama yang berkata,
nah, Tuhan itu, tak ada Tuhan sebelum yang mengetahui Tuhan.
Orang yang mengetahui Tuhan harus datang secara bersamaan.
Ia sedikit seperti, tahu kan, subjek dan objek.
Seperti ketika saya melihat bunga, bunga dan yang mengetahui bunga harus datang bersama-sama.
Jadi Buddha menolak gagasan bahwa pertama Tuhan datang dan lalu ia mencipta.
Buddha... sesungguhnya, lebih ketat berbicara, Buddha berpikir itu adalah kita,
pikiran kita, yang menciptakan Tuhan dan lalu percaya bahwa ia menciptakan kita.
Jadi lalu ia mengajarkan banyak, banyak ajaran berbeda dan banyak dari ajaran-ajaran ini
dilabeli sebagai mazhab ini, mazhab itu.
Misalnya, mazhab yang saya praktikkan atau ikuti adalah apa yang kami sebut
mazhab Madhyamika, yang pada dasarnya bisa Anda katakan adalah mazhab yang berkata tak ada yang ada.
Ia semacam, tahu kan, seperti... kadang-kadang ia sedikit merendahkan,
niḥsvabhāva mereka menyebutnya, yang berarti si-pengucap-kehampaan.
Dan lalu ada mazhab-mazhab lain yang juga saya praktikkan dan saya ikuti,
adalah mazhab hanya-pikiran (Cittamatra).
Mazhab Buddhisme itu percaya hanya pada pikiran.
Hanya pikiran, pikiran kita.
Pikiran kita menciptakan segalanya dan pikiran kita adalah raja, sang pencipta.
Satu-satunya hal yang penting adalah pikiran kita.
Jadi banyak ajaran diajarkan.
Kalau Anda bisa menjinakkan pikiran Anda, kalau Anda bisa memahami apa itu pikiran ini,
kalau Anda bisa, apa Anda menyebutnya, mengendalikan pikiran Anda, segalanya terkendali.
Contoh yang diberikan seperti, tahu kan, seperti, Anda tak bisa membuat seluruh bumi lembut
dan, tahu kan, halus, tetapi kalau Anda memakai sepatu dan lalu berjalan-jalan,
itu setara dengan membuat seluruh bumi lembut dan halus.
Persis seperti itu, Anda tak bisa menyerbu dan menaklukkan musuh Anda,
Anda tak bisa memperoleh segalanya, Anda tak bisa, tahu kan, seperti, mengendalikan semua ini, segalanya secara eksternal.
Tetapi kalau Anda bisa mengendalikan pikiran Anda, Anda bisa mengendalikan segalanya.
Anda bisa mengendalikan segalanya.
Kalau Anda bisa mengendalikan pikiran Anda, maka Anda punya kendali atas segalanya.
Ada juga mazhab-mazhab dan mazhab-mazhab ini mungkin sekarang, tahu kan, seperti yang saya bilang,
Buddhisme merosot banyak di banyak bagian berbeda dunia.
Mazhab-mazhab ini mungkin tak lagi ada di...
Maksud saya, ada studi-studi, tetapi para praktisi, mereka yang sungguh-sungguh mengikuti jalan itu,
mungkin tak ada lagi.
Tetapi ada... mazhab ini mungkin menarik bagi mereka yang semacam tertarik pada filsafat Buddhis.
Kami menyebut mereka partikel-tanpa-bagian.
Dan saya percaya bahwa Einstein, sang fisikawan, saya kira ia sangat terkesan dengan ini,
karena ia... karena mazhab Buddhisme ini percaya bahwa segala sesuatu diciptakan oleh kebenaran,
dan bahwa ada dua hal.
Satu adalah pikiran Anda, yang lain adalah atom yang terkecil, terkecil atau apa pun.
Nah, saya tak tahu, mungkin lebih kecil dari atom.
Partikel yang sangat, sangat halus.
Itulah satu-satunya dua hal yang menciptakan dunia.
Jadi sangat, sangat, sangat...
Saya kira akhir-akhir ini ada banyak percakapan, dialog antara yang disebut ilmuwan dan para Buddhis.
Saya kira banyak dari dialog-dialog ini...
juga berdasar pada filsafat yang ditemukan dalam... apa itu?
Ini... apa yang kami sebut mazhab Vaibhashika dari Buddhisme,
yang semacam partikel-tanpa-bagian itu.
Sangat, sangat ilmiah.
Bagaimanapun, ini hanya sekilas pandang tentang silsilah-silsilah mazhab Buddhis.
Oke, jadi sekarang Anda...
Jadi kalau saya ungkapkan...
secara ringkas, pandangan Buddhis, tahu kan, ketika kita berbicara tentang Buddhisme,
kita sedang berbicara tentang sebuah jalan, betul kan?
Ketika kita berbicara tentang sebuah jalan, Anda punya... mau tak mau,
Anda harus selalu berbicara tentang akhir dari jalan itu,
karena jalan itu harus punya akhir, kalau tidak ia tak berguna.
Akhir dari jalan dan semacam landasan, pandangan dari jalan itu.
Apa yang para Buddhis percayai?
Apa yang para Buddhis sungguh-sungguh percayai?
Jadi ada tiga hal, tiga atau empat hal yang para Buddhis percayai.
Satu, saya sudah memberi tahu Anda bahwa semua hal yang tersusun adalah tak kekal.
Tak ada yang kekal. Itu salah satu keyakinannya.
Dan yang kedua adalah semua pikiran dualistik.
Segala sesuatu yang...
yang keluar dari pikiran dualistik.
Dualistik berarti ini buruk, ini baik, ini tinggi, ini pendek,
ini hitam, ini putih.
Pada dasarnya, pembedaan dualistik, jenis persepsi apa pun yang dipersepsi
oleh pikiran dualistik akan selalu menuntun Anda ke rasa sakit.
Kerangka acuan adalah rasa sakit, pada dasarnya.
Ia sedikit lebih sulit untuk dipahami, terutama pada...
tingkat emosional. Secara intelektual, mungkin lebih mudah.
Dan lalu yang ketiga adalah...
Ini yang sangat penting dalam Buddhisme.
Bagaimana ia tampak. Bagaimana ia tampak bukanlah bagaimana ia sesungguhnya.
Pada dasarnya, tak ada yang sungguh-sungguh ada di luar sana.
Dan ini mungkin salah satu contoh yang para Buddhis selalu berikan.
Misalnya,
saya tak tahu, ada... Apakah itu air?
Ya.
Jadi, misalnya,
Boleh saya...?
Seperti di sini, ketika ini ada di dalam wadah ini, ia air.
Dan ia air yang bisa diminum.
Ketika hal yang sama ini ada di dalam toilet,
tak sungguh air yang bisa diminum. Anda mengerti?
Jadi sudah ada... Karena akibat keadaan
dan situasinya, bagaimana kita mempersepsi air juga berubah.
Dan juga bagi seorang ilmuwan, sungguh, sungguh ilmuwan yang teliti,
mereka bukan hanya melihatnya sebagai air, tetapi mereka melihatnya sebagai H2O.
Tetapi bagi orang biasa, Anda tak bisa pergi ke restoran dan meminta,
boleh saya minta segelas H2O?
Mereka akan sedikit... Tahu kan, mereka akan merasa sedikit aneh.
Bahkan lebih lagi... Nah, Anda dan saya melihat ini sebagai air,
Bahkan lebih lagi... Nah, Anda dan saya melihat ini sebagai air,
Bahkan lebih lagi... Nah, Anda dan saya melihat ini sebagai air,
tetapi kalau ada ikan di dalamnya, kita tak tahu apa yang mereka lihat.
tetapi kalau ada ikan di dalamnya, kita tak tahu apa yang mereka lihat.
Apa yang ikan pikirkan? Mungkin ia bukan air.
Pasti ia tak mungkin air karena mereka bukan manusia.
Nah, apakah kita akan memungut suara siapa yang nyata, apa yang kita lihat dan apa yang mereka lihat?
Kita pasti akan kalah karena ada lebih banyak ikan
di alam semesta daripada kita manusia.
Jadi, apa yang kita lihat...
Jadi, apa yang kita lihat...
Jadi, apa yang kita lihat...
tak sungguh-sungguh ada di sana.
Dan ini terjadi...
Ini tak seperti semacam tingkat filosofis.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, kalau kita melihat seorang pria dan kita menyukainya,
kita melihatnya sebagai pria yang sangat baik, pria yang tampan.
Tetapi pria yang sama bisa dipandang oleh orang lain yang membencinya
dan kita berkata, oh, ia seperti...
Setiap gerakannya seperti menyebalkan, jelek, tak menyenangkan.
Jadi fenomena pada dasarnya, sungguh-sungguh tak ada.
Ini, pada dasarnya, ketiga hal ini adalah pandangan Buddhis secara keseluruhan yang mendasar.
Jadi, itu hanya... Saya ingin...
Karena ia, seperti yang saya bilang, ia sangat rumit.
Jadi, saya sekadar semacam pertama menguraikan sebagian dari ini
dan lalu saya akan membiarkan Anda mengajukan pertanyaan.
Mungkin ini cara terbaik sehingga kita bisa melakukan percakapan.
Jadi, itu pandangan Buddhis.
Nah, tujuan Buddhis...
Ingat, sebuah jalan harus punya tujuan.
Apa hasil akhirnya? Apa yang Anda inginkan?
Apa yang para Buddhis dapatkan?
Nah, ini menarik.
Sesungguhnya, para Buddhis tak mempraktikkan Buddhisme.
Mereka mempraktikkan Buddhisme untuk mendapatkan sesuatu.
Para Buddhis mempraktikkan Buddhisme untuk menghilangkan hal-hal.
Bukan untuk mendapatkan sesuatu, melainkan untuk menghilangkan.
Karena para Buddhis percaya bahwa kita, sebagai Anda dan saya, kita sempurna.
Tak ada yang harus didapatkan.
Sesungguhnya, para Buddhis selalu berkata, Anda dan saya adalah Buddha,
terutama Buddhisme Mahayana.
Anda dan saya di sini,
kita semua adalah Buddha.
Orang itu yang datang ke... datang di India 2500 tahun yang lalu,
ia sesungguhnya adalah Buddha yang simbolik.
Dengan... dengan cara tertentu, ia kurang penting.
Ia... karena ia adalah... ia hanya simbolik.
Buddha yang sesungguhnya sedang duduk di sini dan di sini, di sini dan di sana.
Inilah Buddha yang sesungguhnya, sebagaimana adanya, sempurna.
Tetapi lalu apa yang salah?
Kita rusak.
Kita terbungkus kepompong oleh kekotoran batin, emosi seperti kemarahan.
Saya tak tahu, harapan, ketakutan, depresi, membenci diri sendiri.
Saya tak tahu, seperti berpikir Anda buruk,
berpikir ada sesuatu yang kurang, kurangnya percaya diri, keserakahan.
Hal-hal ini telah menutupi saya.
Hal-hal ini telah menutupi saya.
Jadi yang perlu Anda lakukan hanyalah menghilangkan ini.
Para Buddhis... contoh Buddhis klasiknya
adalah langit dan awan.
Tak peduli berapa banyak awan yang ada di langit,
langit yang sesungguhnya, ruang, tak berubah sama sekali.
Ia sempurna sebagaimana adanya.
Anda hanya harus menghilangkan...
kalau Anda ingin melihat langit biru yang jernih itu,
awan itu harus pergi.
Jadi itulah...
itulah hasil akhir dari Buddhisme, kalau Anda ingin tahu apa itu Buddhisme...
akhir Buddhis.
Nah, bagaimana Anda sampai ke sana? Disiplin apa yang seharusnya saya miliki?
Jenis disiplin apa yang seharusnya saya miliki?
Nah, yang utama... pilar dari disiplin Buddhis adalah kesadaran (awareness).
Kesadaran.
Nah, saat saya menyebut kata kesadaran,
segera sebagian dari Anda mungkin berpikir,
oh, ia sekarang berbicara tentang meditasi.
Tak selalu.
Bahkan kata meditasi, seperti yang saya bilang di awal,
ada banyak, saya kira, salah asumsi, salah tafsir,
karena saat kata meditasi disebut,
segera orang berpikir dalam istilah duduk tegak,
bernapas normal, tahu kan,
seperti yoga, seperti itu.
Yoga, meditasi, dan seterusnya dan seterusnya.
Sesungguhnya, untuk sungguh-sungguh ketat, saya bahkan tak sedang berbicara tentang
jenis ritual seperti itu.
Ritual-ritual itu membantu, tentu saja.
Peluang Anda untuk sadar dengan duduk tegak lebih tinggi
daripada peluang Anda, tahu kan, berbaring di tempat tidur gantung dengan...
apa tadi itu?
Rakija.
Rakija. Rakija.
Tahu kan, minum rakija dan lalu tempat tidur gantung.
Anda punya peluang lebih tinggi duduk tegak,
mungkin di atas gunung atau memandang samudra atau,
saya tak tahu, di ruang tamu, hening, tanpa musik,
tanpa suara lalu lintas.
Anda punya peluang lebih tinggi.
Tetapi itu tak berarti bahwa itulah...
Kalau Anda duduk tegak dengan sempurna, itu tak membuat Anda menjadi
Buddhis yang lebih baik.
Bukan begitu cara kami menilai.
Bukan begitu cara kami menilai.
Anda bisa jadi orang yang paling ahli duduk tegak,
tetapi Anda tak punya kesadaran penuh,
maka, tahu kan, Anda tak punya jalannya.
Jadi praktik Buddhis sangat berkaitan dengan kesadaran.
Dan kesadaran akan apa?
Apa yang sedang kita...
Apa yang sedang kita coba sadari?
Kebenaran yang saya bicarakan tadi.
Jadi mari kita kunjungi kebenaran itu lagi.
Semua hal yang tersusun adalah tak kekal, ingat?
Jadi apa yang seharusnya kita sadari?
Katakanlah saya sedang bertemu pria dari Australia ini, Zell.
Dan lalu saya seharusnya berpikir,
oke, ini mungkin terakhir kalinya saya bertemu dengannya.
Karena itu benar.
Tahu kan, kita tak pernah tahu.
Ia mungkin mati, saya mungkin mati, ini mungkin (yang terakhir).
Jadi kalau saya punya (kesadaran) itu...
Nah di sinilah orang berpikir
bahwa para Buddhis sangat suram, Anda mengerti?
Selalu kabar buruk.
Mengapa mereka berbicara tentang kematian?
Tetapi para Buddhis punya sikap yang berbeda.
Para Buddhis berpikir kalau Anda punya itu,
maka Anda punya pikiran yang sungguh peduli dan penuh kasih.
Karena bagaimana Anda akan memandang...
Tahu kan, seperti kalau Anda punya bayi,
dan kalau bayi Anda punya penyakit yang fatal,
maka sang ibu akan memandang bayi ini dengan cara yang sangat berbeda...
Karena tahu kan,
ia tak akan bertahan lama.
Jadi ada jauh lebih banyak penghargaan.
Dan bukan hanya teman kita di sini, seperti, tahu kan,
saya bisa saja meminum air ini dan berkata,
inilah dia, ini air terakhir saya.
Dan wow!
Tahu kan, biasanya berapa kali kita melewatkan rasa air,
teksturnya, sekadar, tahu kan, ia begitu menakjubkan.
Ia begitu indah dan ia begitu mendalam.
Tahu kan, itu...
Rasa air, berat air,
warna air.
Tetapi biasanya kita tak sadar
karena kita selalu memikirkan sesuatu yang lain.
Seperti saya sedang memikirkan, seperti, penerbangan lusa
yang harus saya tuju, tahu kan, hal-hal seperti ini.
Kita selalu sibuk (terkuasai).
Jadi kita sedang berbicara tentang kesadaran yang sederhana,
sekadar kesadaran.
Dan kalau saya masuk sedikit lebih dalam, kalau-kalau Anda ingin tahu.
Misalnya, kalau Anda punya kemarahan,
kalau Anda orang yang pemarah dan lalu biasanya apa yang terjadi?
Orang yang pemarah, ketika ia marah,
tentu saja mereka mengamuk, mereka lepas kendali.
Tetapi lalu kemudian mereka menghakimi dan mereka mengecam,
oh, betapa mengerikan ini, seperti, tahu kan.
Jadi lalu ia tak sungguh menolong.
Ia berakhir menjadi lebih menghakimi.
Tetapi yang menghakimi membuatnya lebih rumit.
Tetapi alih-alih itu para Buddhis berkata,
ketika Anda punya kemarahan, tak selalu Anda harus duduk tegak,
tentu saja, ia akan terlihat sungguh aneh kalau Anda sedang punya,
tahu kan, perdebatan sengit dengan pasangan Anda
dan lalu tiba-tiba Anda duduk tegak.
Ia mungkin membuat pasangan Anda bahkan lebih marah.
Tetapi hanya untuk sesaat, hanya untuk sesaat,
kalau Anda mengamati kemarahan Anda, kalau Anda sekadar sadar akan kemarahan ini
dan kalau Anda terus melakukannya,
perlahan Anda akan menyadari semua permainan yang Anda mainkan dengan kemarahan itu
persis seperti istana pasir yang dulu Anda bangun.
Ia begitu semacam lucu dan ia seperti, mengapa aku marah dengan ini?
Tentu saja.
Jadi praktik Buddhis atau disiplin Buddhis
semuanya bermuara pada sesuatu yang disebut kesadaran.
Sebaliknya,
sesungguhnya ia sangat, sangat berkaitan.
Anda tahu kata Buddha, yang tersadarkan?
Praktik Buddhis, kesadaran.
Dan Anda sadar akan apa?
Kebenaran.
Dan ketika kita berbicara tentang kebenaran,
seperti yang saya sebutkan tadi,
kita tak sedang berbicara tentang apa pun yang mistis atau ajaib.
Atau nah, mungkin ia ajaib tetapi pastinya ia bukan religius.
Maksud saya,
semua hal yang tersusun adalah tak kekal.
Tak ada yang religius tentangnya.
Anda mengerti?
Nah, yang terakhir, sekadar perilaku Buddhis.
Bagaimana seharusnya perilaku Buddhis itu?
Nah ini akan menarik untuk...
Nah ini hal lain yang juga saya,
saya temui saat saya berbicara dengan banyak dari...
teman-teman Kaukasia saya, mereka yang dipengaruhi oleh...
tahu kan, di Barat.
Dalam Buddhisme, moralitas dan etika adalah sekunder.
Kebijaksanaan adalah yang utama.
Kebijaksanaan adalah yang terpenting.
Moralitas dan etika, tanpa kebijaksanaan,
para Buddhis memandangnya dengan sangat hati-hati karena moralitas dan etika,
tanpa kebijaksanaan,
bisa membuat Anda sangat sombong.
Dan lalu merasa benar sendiri, menghakimi.
Dan lalu, lihat, inilah satu-satunya cara.
Tahu kan, Anda harus...
Anda tak boleh minum, Anda tak boleh...
Tahu kan, ada semua itu.
Dan lalu, tahu kan, Anda memandang seseorang yang merokok atau minum
atau apa pun, lalu Anda memandang rendah.
Nah ini, kalau Anda pergi ke Timur, kalau-kalau ada yang...
Sebagian dari Anda pergi ke Timur, seperti katakanlah biara Buddhis,
Anda bisa mengamati ini cukup jelas.
Anda akan menemui biarawan yang telah mencukur kepala mereka,
yang sungguh, tahu kan, seperti tenang dan bersahaja,
tahu kan, kehidupan yang sangat sederhana.
Kalau Anda pergi ke Burma, Sri Lanka, mereka mengemis makanan.
Mereka hanya makan apa yang diberikan kepada mereka pada hari itu,
dan mereka tak punya ruang penyimpanan, tahu kan.
Jadi besok, mereka kembali lagi dan keluar dan mengemis,
dan Anda akan melihat itu.
Tetapi apakah itu Buddhis yang mendasar,
semacam perilaku Buddhis yang ideal? Tidak.
Anda akan melihat para Buddhis yang berbisnis, pengacara Buddhis,
semua ini sepenuhnya diterima.
Dan bukan hanya itu, dalam situasi kebiaraan,
seperti saya sendiri punya...
Saya punya beberapa biara, sebagian besar dari mereka adalah apa yang kami sebut bhikshu,
maksudnya mereka biarawan, seperti selibat dan semua itu.
Tetapi saya juga punya beberapa biara,
khususnya di Timur, Bhutan.
Mereka semua perumah tangga, jadi mereka punya, tahu kan...
Mereka punya anak, mereka memelihara rambut, mereka tak mencukur rambut.
Mereka memakai anting-anting, tahu kan.
Ya.
Jadi semua ini sedikit membingungkan, Anda mengerti?
Kadang-kadang ia semacam membuat frustrasi, tahu kan, seperti kadang-kadang
seseorang hampir ingin membuat Buddhisme begitu sederhana,
dengan berkata, oke, sebagai seorang Buddhis, Anda tak boleh makan ayam.
Sebagai seorang Buddhis, Anda harus memakai kaus kaki.
Sebagai seorang Buddhis, Anda harus melakukan ini dan itu.
Sesuatu yang sedikit, tahu kan, seperti satu atau dua atau tiga.
Akan ada banyak sekali Buddhis.
Kalau kita punya sesuatu yang sederhana, karena ia sangat aneh,
karena sebanyak apa pun kita manusia berkata bahwa kita ingin kebebasan,
tetapi kita juga menyukai perintah, seperti inilah satu-satunya cara
dan inilah cara terbaik dan Anda tak boleh melakukan apa pun yang lain.
Kita menyukai itu.
Dan Buddhisme, saya tak tahu, sayangnya atau untungnya,
tak punya itu.
Jadi Buddhisme punya semua campuran, tahu kan, Anda pergi ke Burma,
Sri Lanka, Tiongkok, Jepang, mereka segala macam...
Maksud saya, tahu kan, saya sedang berbicara tentang kesadaran,
praktik kesadaran.
Kalau Anda pergi ke biara-biara Tibet, mereka menggambar mandala dari bubuk pasir,
misalnya, mereka membuat, sangat, sangat halus, tahu kan, pasir...
Anda punya mandala.
Anda mungkin bisa mencarinya di Google kalau Anda ingin tahu.
Ia proses yang cukup menarik.
Dan lalu kami punya ritual.
Kami melafalkan, kami membacakan mantra.
Tetapi lalu kalau Anda pergi ke Jepang, mereka mempraktikkan meditasi dengan membuat teh.
Dan saya serius.
Saya pernah menghadiri salah satu upacara minum teh itu dan bagi kami, tahu kan,
datang dari Tibet, tahu kan, kami harus pergi ke kuil,
tahu kan, kami harus pergi ke kuil, tahu kan, kami harus pergi ke kuil, tahu kan,
datang dari Tibet.
Dan tahu kan, orang Jepang sangat, sangat teratur.
Dan saya telah duduk sepanjang beberapa upacara minum teh ini
dan mereka menyakitkan.
Anda harus duduk di sana seperti dua, tiga, empat, lima jam.
Dan teh, dan Anda akan mengira ia upacara minum teh
dan Anda mungkin mengira bahwa tehnya mungkin istimewa.
Sama sekali tidak.
Sesungguhnya, jujur saja, tehnya semacam menjijikkan, tahu kan,
seperti setelah semua itu.
Tetapi lalu ia adalah prosesnya.
Ia sama sekali tak berkaitan dengan tehnya itu sendiri.
Dan lalu, misalnya, dalam tradisi Zen,
kami mengembangkan kesadaran ini dengan membuat rangkaian bunga.
Tahu kan, seperti bagaimana Anda merangkai bunga.
Dan ada seperti begitu banyak, banyak ajaran tentang itu.
Ia disebut ikebana.
Jadi, kadang-kadang keragaman teknik yang tak terhingga ini
yang ditemukan dalam Buddhisme bisa cukup, saya tak tahu, memperkaya.
Tetapi di lain waktu, saya kira banyak murid menjadi begitu bingung.
Seperti yang saya bilang tadi, manusia suka punya semacam keteraturan
bahwa Anda, semua orang harus mengikuti ini dan inilah satu-satunya cara.
Tetapi bukan hanya Buddhisme, dan ini sesuatu yang,
saya akan berkata, sangat pikiran India.
Ia sangat pluralis segalanya, tahu kan,
seperti apa pun yang baik hari ini juga buruk besok.
Tahu kan, ia sangat bisa direntangkan ke sana ke sini
dan ini bisa sangat, sangat membingungkan bagi banyak orang.
Nah,
saya tak tahu apakah saya masuk akal, apakah...
karena agak sulit untuk sekadar memberi Anda dalam waktu singkat
semacam gambaran tentang Buddhisme.
Jadi, kalau Anda punya pertanyaan atau diskusi,
saya, tahu kan, saya akan... saya senang untuk menjawab.
Ya, silakan.
Apakah Anda punya pertanyaan?
Oke.
Dan juga, tolong, tahu kan, ketika kita mempelajari Buddhisme,
yang pertama... kita juga mempelajari sesuatu yang disebut pramana,
yang adalah logika Buddhis, yang melibatkan sebuah argumen.
Dan ini adalah tradisi yang Buddha sendiri katakan
bahwa tak ada yang boleh menerima ajaran-Nya begitu saja (tanpa pemeriksaan).
Anda harus menganalisis, Anda harus mengkritik.
Jadi ini... ini adalah hadiah yang sangat, sangat penting dari Buddha.
Ia mengatakan bahwa Anda harus mengkritik Beliau dan ajaran-Nya.
Jadi tradisi berdebat sangat, sangat kuat.
Jadi saya sangat senang untuk, tahu kan, kalau Anda punya pertanyaan, berdebat...
Oke, saya punya beberapa pertanyaan.
Oke, silakan.
Dan kalau, misalnya, untuk berkata, tahu kan,
dalam pengertian yang benar, meskipun Anda menyebutkan,
dalam istilah umum, untuk menjadi Buddhis hari ini,
saya punya pertanyaan kecil.
Dan apakah Anda akan berkata...
Oh, sangat penting.
Buddha bukan seorang Buddhis. Tentu saja bukan.
Dan sesuatu yang penting yang perlu saya beri tahu Anda.
Tak ada satu pun doa dalam Buddhisme
yang kami panjatkan dengan berkata,
semoga semua menjadi Buddhis.
Tak ada satu pun doa.
Para Buddhis tak sungguh...
Untuk menjadi seorang Buddhis tak begitu penting.
Tahu kan, orang lain menjadi...
Buddhis atau bukan, tetapi untuk tersadarkan.
Jadi kami punya banyak doa,
semoga semua tersadarkan, semoga semua menjadi Buddha,
itu yang kami punya.
Tetapi tak ada satu kalimat pun yang kami panjatkan bahwa
semoga seseorang menjadi Buddhis.
Ya, patung Buddha.
Apakah kami punya satu di sini?
Ya, patung Buddha di belakang saya.
Saya kira, saya cukup yakin saya benar,
tetapi saya kira cara orang berhubungan dengan Buddha
muncul jauh, jauh kemudian.
Dan karena alasan yang baik.
Pertama, tak ada patung atau apa pun seperti itu.
Tetapi setelah 700 tahun kemudian,
tentu saja, tahu kan,
cara orang berhubungan dengan apa pun yang mereka lekati secara emosional,
selalu berakhir berubah, tahu kan.
Saya tak tahu.
Bulan yang akan datang ini, sesungguhnya,
saya akan pergi ke Thailand di sebuah konferensi
dan ia konferensi tentang Buddhisme
dan kecerdasan buatan,
yang sangat menarik.
Dan sesungguhnya banyak cendekiawan dan pemimpin Buddhis
sangat senang tentangnya.
Karena, ya, bagaimanapun,
citra Buddha,
citra Buddha atau semua ikonografi
muncul jauh kemudian.
Saya kira citra Buddhis yang pertama kali ada adalah,
ada sesuatu yang disebut roda kehidupan,
kalau ada dari Anda yang pernah melihat,
roda kehidupan.
Ia bulat dan di tengahnya ada tiga (hewan).
Ada tiga hewan.
Dan ia (menggambarkan tiga racun).
Babi, ular dan seekor burung,
yang mewakili ketidaktahuan, kemarahan dan keinginan.
Dan lalu lingkaran luar,
ada yang putih, setengah putih dan setengah hitam,
yang mewakili apa yang kami sebut karma buruk dan karma baik.
Dan lalu datang lingkaran luar,
yang mewakili apa yang kami sebut karma buruk dan karma baik.
Dan ada enam persepsi berbeda.
Enam persepsi berbeda.
Tahu kan, seperti neraka, saya kira,
seperti agama lain mana pun,
neraka, surga,
para Buddhis juga punya itu.
Tetapi ia sedikit seperti ini.
Saya akan beri tahu Anda,
para Buddhis percaya pada enam alam.
Neraka satu, surga satu,
lalu ada asura, alam binatang,
alam hantu, dan seterusnya dan seterusnya.
terutama Buddhisme Mahayana, mereka tak percaya bahwa ia ada di luar.
Ia proyeksi Anda.
Jadi ia sedikit seperti, katakanlah, setelah pesta larut malam yang sungguh (panjang),
Anda bangun di pagi hari, Anda masih di tempat tidur
dan Anda sungguh limbung dan Anda sungguh...
tak tahu di mana Anda, Anda sungguh, saya tak tahu, lelah,
Anda tak jernih.
Mereka menyebutnya pengalaman binatang, semacam binatang, proyeksi binatang.
Dan lalu Anda mandi, saya tak tahu, Anda mengeringkan rambut Anda dengan benar,
memasang lipstik atau, tahu kan, mencukur jenggot Anda dan memasang apa?
Pelembab, aftershave, dasi, jas, dan Anda merasa Anda terlihat bagus,
tahu kan, Anda puas dengan diri Anda.
Itulah yang para Buddhis akan sebut surgawi.
Proyeksi surgawi, Tuhan (dewa), jadi Anda bangga.
Jadi Tuhan (dewa) diasosiasikan dengan kesombongan dalam Buddhisme.
Oke, sekarang Anda terlihat bagus.
Tetapi lalu Anda pergi ke kantor dan lalu, tahu kan, ada ini,
rekan kerja Anda yang Anda cemburui,
dan, tahu kan, bos Anda, tahu kan, seperti membuat Anda kesulitan, apa pun.
Lalu ada alam hantu, semua alam lainnya,
sekadar untuk memberi Anda sebuah contoh.
Oke, jadi ada itu.
Dan lalu...
Lingkaran luar adalah apa yang kami sebut dua belas sebab-akibat yang saling bergantung,
agak sulit untuk dijelaskan sekarang juga.
Dan lalu yang paling luar adalah monster besar yang memegang lingkaran ini.
Tahu kan, ia ikonografi yang sangat umum.
Ia sungguh indah sesungguhnya.
Monster itu memegang lingkaran ini.
Dan monster ini, kalau Anda bertanya apa monster itu?
Waktu.
Waktu adalah seekor monster.
Segalanya, entah Anda surgawi, manusia,
tak peduli apa, Anda adalah objek dari waktu.
Dan waktu seperti sebuah taring, seperti seekor monster.
Dan waktu, selama Anda korban dari waktu,
itu berarti Anda korban dari ketidakpastian.
Anda tak tahu apa yang berikutnya.
Anda tak sungguh bisa memprediksi.
Dan itu adalah rasa sakit.
Jadi begitulah...
Itu ikonografi yang pertama dan lalu...
Apakah saya terlalu banyak berbicara tentang ini? Oke.
Dan lalu selama masa Ashoka, Raja Ashoka,
salah satu pelindung Buddhis yang paling penting,
ia... sebagian dari strukturnya, seperti arsitektur,
ia sesungguhnya bertanggung jawab membuat banyak stupa,
yang mewakili pikiran Buddha.
Sangat menarik.
Pada masanya, ia punya tiga ikonografi,
yaitu sebuah tempat duduk dengan pohon di belakang,
yang mewakili pencerahan Buddha.
Tetapi tak ada patung, tak ada sosok manusia.
Lalu ada sebuah ranjang dengan dua pohon sala,
yang mewakili parinirwana Buddha, kematian.
Dan lalu ada sebuah pohon dengan seekor rusa dan sebuah roda,
yang mewakili ajaran Buddha.
Itu saja sesungguhnya.
Jadi, tetapi tahu kan, pada saat Anda sampai ke masa Ashoka,
itu seperti sekitar 400 tahun kemudian,
sudah manusia menggunakan jenis hal simbolik ini.
Tahu kan, bahkan ketika saya tumbuh mempelajari Buddhisme,
guru-guru saya akan mencegah saya membuat catatan atau memandang buku.
Kami seharusnya belajar segalanya dengan menghafal.
Oke, dengan satu cara ia baik, tetapi di sisi lain...
dan ini datang dari tradisi kuno India, Upanishad.
Tahu kan, Anda punya... mereka sungguh membenci membuat catatan
dan Anda harus belajar dengan menghafal.
Apa gunanya menuliskannya, tahu kan?
Anda harus menuliskannya di hati Anda dan kepala dan semua itu.
Tetapi saya kira ia menjadi bumerang bagi orang India sedikit
karena di kemudian hari tak ada catatan,
seperti orang Mesir dan orang Tiongkok.
Jadi lalu mungkin nol tambahan ditambahkan setelah 500 tahun,
karena ada penyebutan seperti, oh, Ashoka, sang raja, raja agung.
Istananya... di dalam istananya seperti 500 mil.
Wow, nah itu... seperti kalau ia ingin minum teh
dan bayangkan tak ada seperti pesawat terbang pada masa itu.
Jadi kalau ia ingin minum secangkir teh atau air panas,
akan butuh seperti berbulan-bulan untuk menempuh 500, tahu kan, mil.
Seseorang perlu berpacu di atas kuda, bukan?
Tetapi hal-hal ini terjadi.
Oke, jadi di kemudian hari dan lalu perlahan, perlahan
citra Buddha adalah Buddha.
Jadi tentu saja, kita sekarang harus menggunakan... dan itu tak ditolak.
Ia tak sungguh seperti... Saya tahu seperti dalam agama tertentu seperti Islam,
mereka menganggap penyembahan berhala tak baik.
Tetapi dalam Buddhisme, seperti yang saya bilang, berhala datang kemudian.
Berhala tak pernah didorong, tetapi kemudian ia tak dicegah,
ia sesungguhnya didorong.
Bergantung pada jenis orang seperti apa Anda.
Karena Anda menyebutkan tentang Buddhisme seperti sebuah sains.
Karena saya tahu beberapa fakta tentang India
dan apa yang mereka coba capai dalam sains.
Saya sungguh tertarik bagaimana Anda akan menggambarkan
hubungan antara sains,
berbicara dengan para ilmuwan, dan Buddhisme hari ini,
dan 200 tahun yang lalu, misalnya.
Apakah ia lebih dekat? Anda sedang berbicara atau Anda sedang berbicara dengan mereka?
Saya lupa katanya. Saya kira ada sungguh...
Bagaimanapun, saya kira kita bisa mencari tahu nanti, tetapi saya cukup yakin.
Sains, hal yang hebat tentang sains adalah mereka berkata bahwa
ia berdasar pada ketidaktahuan.
Mereka tak pernah berkata bahwa kami yakin.
Inilah dia. Anda mengerti?
Mereka tak pernah yakin.
Mereka berkata kami sedang dalam proses, tahu kan, memeriksa, menemukan.
Ini semacam dasar dari sains.
Nah, dengan Buddhisme, ia tak seperti itu.
Ada, tahu kan, pandangan Buddhis sudah diputuskan.
Semua hal yang tersusun adalah tak kekal, satu.
Semua emosi adalah rasa sakit, dua, dan seterusnya dan seterusnya.
Oke?
Jadi ada itu.
Sains dan Buddhisme.
Oke, ketika saya...
Tahu kan, kami punya banyak percakapan dengan yang disebut ilmuwan dan fisikawan.
Salah satu keseruan terbesar kadang-kadang, kadang-kadang kami menjadi...
ia menjadi memanas, adalah...
Oke, satu contoh yang sangat sederhana.
Para ilmuwan akan selalu menginginkan sebuah bukti.
Betul kan? Empiris.
Tahu kan, Anda butuh bukti.
Tahu kan, di mana buktinya?
Tetapi bagi telinga Buddhis, saat Anda meminta bukti,
maka Anda sedang berbicara tentang yang subjektif.
Oke, inilah buktinya.
Jadi saya sedang berbicara, tahu kan, saya tak bisa berkata, hei, tahu kan, inilah buktinya.
Tahu kan, ini (benda) tak punya pikiran.
Saya sedang membuktikan kepada Anda.
Inilah buktinya.
Jadi pikiran Anda sedang bekerja.
Jadi para Buddhis akan selalu berpikir bukti ini tak berguna.
Ia tak pernah objektif.
Selalu ada subjek yang terlibat.
Saya kira ini perbedaan besar antara sains dan Buddhisme.
Tetapi seperti yang saya bilang, sains tak pernah membuat, tahu kan, keputusan
dan itu selalu sesuatu yang sungguh kami hormati.
Kami sangat menyukainya.
Dan saya kira...
Jadi, oke, jadi dunia objektif,
para Buddhis sekadar tak pernah membedakan antara dunia objektif
dan dunia subjektif.
Dan ini...
Dan lalu kalau Anda berbicara tentang filologi,
kata-kata seperti pikiran (mind), ketika para ilmuwan menggunakan kata pikiran
dan ketika para Buddhis menggunakan kata pikiran,
ia mungkin berarti dua hal yang berbeda.
Jadi sang ilmuwan mungkin sedang berbicara tentang otak.
Dan sekali lagi di sini, kami tak tahu apa itu otak.
Jadi para Buddhis mungkin berkata, oh ya, otak adalah pikiran.
Sama seperti segala sesuatu adalah pikiran.
Tetapi pikiran bukanlah otak.
Dan ini... hal-hal seperti itu.
Sisi lain sekarang...
Ya.
Saya kira, tahu kan, sebagai seorang Buddhis sendiri, tentu saja,
tahu kan, saya ingin melihat Buddhisme berkembang.
Dan di Barat, saya kira hal yang terhebat...
Dan saya kadang-kadang membuat lelucon tentang ini.
Ia sungguh sebuah lelucon.
Saya selalu berkata bahwa kontribusi terbesar dari Barat
adalah pikiran anaki ini, anaki.
Pikiran anarkis ini.
Dan itu hal yang begitu baik bagi seorang Buddhis.
Karena yang analitis, tak percaya pada nilai permukaan,
Anda sungguh ingin tahu apa ia,
cari, cari, debat, debat.
Dan kalau Anda melakukan itu, para Buddhis cukup senang.
Anda mengerti?
Jadi... dan saya kira hasilnya sudah ada di sana.
Saya kira di antara kaum intelektual, saya kira, tahu kan,
Buddhisme kadang-kadang diakui sebagai setidaknya
sebuah topik percakapan saat makan malam atau saat minum kopi.
Dan saya kira sebagai... bagi seorang Buddhis,
saya kira ia penting karena cara untuk menjaga Buddhisme
adalah melalui apa yang kami sebut mendengar dan merenungkan.
Anda perlu mendengar dan merenungkan.
Dan hal lain adalah...
Dan ini sedikit bermata dua.
Ia hampir seperti bagi saya, ia hampir sukacita, sebuah sukacita
untuk berbicara tentang Buddhisme kepada kalian di sini.
Karena kalian tak punya beban budaya Asia ini.
Anda mengerti?
Jadi saya sungguh... saya sungguh bisa melakukan apa pun yang saya suka
di, tahu kan, semacam kanvas ini, kanvas kosong.
Dan ini cukup baik.
Tetapi tentu saja, saya juga harus sadar
bahwa Anda punya budaya Anda sendiri.
Anda punya bahasa Anda sendiri.
Jadi di situ saya harus selalu...
Di situ saya harus membawa kesadaran saya.
Nah, ini akan menjadi (pertanyaan) terakhir saya.
Dan saya sungguh akan meminta bantuan dari hadirin
kalau mereka punya beberapa pertanyaan.
Tetapi ini sangat...
Dalam suasana ringan, bahkan kalau pertanyaannya terlihat sangat sulit,
tetapi saya kira dalam suasana ringan, selesaikan saja.
Kemerdekaan, kebebasan berbicara,
dan sangat sering Anda menyebut kebenaran politis (political correctness).
Ya.
Demokrasi.
Ini semua sinonim untuk mengukur dan menunjukkan kebebasan yang lengkap.
Betul.
Saya sedang berbicara tentang dunia.
Apakah hal seperti itu bahkan ada?
Atau apakah mereka hanya menyempurnakan pengembangan hal seperti itu?
Pertanyaan yang sangat penting.
Dan ya, seperti yang saya bilang tadi, tepat di awal,
tujuan hidup.
Dan saya selalu mengutip ini.
Ini salah satu komentator terbesar dari Buddhisme.
Namanya Shantideva.
Komentator yang sungguh, sungguh penting.
Dan ia berkata,
para Buddhis, mereka yang menganggap diri mereka sebagai Buddhis,
mereka seharusnya berusaha, tahu kan, melatih pikiran mereka
dan, tahu kan, sungguh mewaspadai emosi-emosi negatif mereka
dan ketidaktahuan.
Tetapi mereka diperbolehkan punya satu ketidaktahuan.
Mereka seharusnya punya satu ketidaktahuan.
Mereka diperbolehkan punya satu ketidaktahuan.
Dan apa itu?
Percaya bahwa ada pencerahan.
Dan mengapa Anda seharusnya punya itu?
Karena Anda sedang menderita.
Jadi, tujuan hidup, demokrasi, hak individu.
Kalau Anda bertanya, kalau Anda sungguh ingin jawaban Buddhis,
para Buddhis akan berkata itu semua adalah mitos.
Dan ia juga kemunculan yang saling bergantung.
Ia objek dari kemunculan yang saling bergantung.
Karena misalnya, maksud saya, Anda bisa lihat, oke, jadi,
bagaimana saya harus mengungkapkannya?
Maksud saya, seperti katakanlah Amerika.
Maksud saya, saya pergi ke Amerika pada tahun 1980-an.
Dan pada tahun 1980-an, kalau Anda pergi ke toko buku,
toko buku itu, 80% dari toko buku diisi oleh
sesuatu yang berkaitan dengan hukum, tahu kan, bagaimana,
bagaimana menghadapi kurangnya harga diri (self-esteem).
Segala sesuatu tentang
tahu kan, rasa percaya diri dan betapa baiknya Anda
dan bagaimana kita harus sungguh menganggap diri kita hebat
dan tahu kan, semua tujuh langkah ini, dua belas langkah itu.
Dan tahun 80-an, 90-an dan sekarang kita berada di, tahu kan, ini.
Jadi sekarang kita punya banyak orang yang pada dasarnya
yang hanya...
yang...
yang tumbuh dan mereka seperti seorang narsisis yang sempurna.
Oke, jadi mungkin pada tahun 60-an dan 50-an mereka menderita
dengan kurangnya harga diri.
Dan sekarang ada jenis penderitaan yang berbeda.
Sekarang semua orang mengira mereka yang terbaik, mereka yang terhebat.
Mereka seperti...
Tetapi ia tak sungguh benar karena kalau Anda satu-satunya
yang mengira Anda yang terhebat dan yang lain sungguh setuju dengan itu,
maka tentu saja tak akan ada masalah.
Tetapi yang lain juga mengira mereka yang terhebat.
Jadi dunia terlalu kecil untuk, tahu kan, orang, kaum muda,
orang modern yang terus-menerus mengira bahwa mereka yang terhebat.
Dan juga hal-hal seperti hak individu, individualisme,
betapa individu begitu...
Itu juga melahirkan keterasingan.
Jadi semua orang menghargai individualisme, oke,
individualisme ini, itu.
Tetapi lalu sekarang masalah modern tampaknya adalah semua orang kesepian,
semua orang terasing.
Dan mengapa Anda kesepian?
Karena Anda telah bekerja begitu keras untuk menjadi individu.
Tahu kan, aku punya hakku sendiri, aku butuh ruangku sendiri.
Oke, sekarang Anda memilikinya.
Tetapi sekarang Anda merasa terasing.
Anda merasa...
Anda merasa bosan dan Anda merasa kesepian dan...
Tetapi kita punya jawabannya di media sosial,
tetapi saya tak tahu ke mana ini akan membawa kita.
Ini akan, saya yakin, membawa kita begitu...
Kalau Anda bertanya kepada saya, sebagai seorang Buddhis,
ini semua mainan baru, ini semua pistol air baru,
ini semua boneka Barbie baru.
Ya, mereka sangat canggih dan mereka sangat meyakinkan,
tetapi saya tak tahu.
Jadi di situlah kebijaksanaan Buddhis tentang bagaimana menghadapi dunia yang penuh paradoks,
saya kira, penting.
Ada pertanyaan.
Ya.
Silakan.
Oke.
Dan ia berkata, dalam segala macam kasus...
Betul.
Ya, ia sangat...
Ya, sekilas ia sangat sensitif, bukan?
Ya.
Nah, buku "Not for Happiness" — saya begitu terkejut bahwa Anda bahkan telah membaca buku-buku itu.
Itu sangat teknis dan...
Para Buddhis berbicara banyak tentang pelatihan pikiran.
Pelatihan pikiran adalah hal besar.
Ada banyak sekali pelatihan pikiran.
Misalnya, saya tak tahu apakah Anda pernah mendengar kata yang disebut vipassana,
yang semacam...
Dan lalu ada semua hal mindfulness ini.
Dan omong-omong, saya seharusnya memberi tahu Anda, ada mindfulness, ada vipassana,
tetapi ada juga sesuatu yang disebut gerakan mindfulness.
Mereka sedikit berbeda.
Saya seharusnya memberi tahu Anda ini.
Jadi, pelatihan pikiran, ya, ada banyak.
Dan saya kira ketika Anda berbicara tentang sesuatu yang disebut bodhicitta,
kita sedang berbicara tentang pelatihan pikiran yang sangat besar.
Dan dalam konteks itu, pelatihan pikiran melalui pengembangan motivasi yang sungguh luas ini
dianggap jauh lebih penting daripada tindakan seperti membangun rumah sakit.
Karena, terutama bagi para pemula, karena seperti membangun rumah sakit bisa sangat membatasi
dan bisa menuntun Anda ke ego, bisa menuntun Anda ke segala macam jebakan.
Anda mengerti, seperti, oh, aku sungguh baik, tahu kan, seperti ini.
Jadi, bagi para pemula,
nasihat bagi para praktisi bodhicitta adalah sungguh-sungguh melatih pikiran Anda
untuk sepenuhnya, sepenuhnya dibaktikan pada kesejahteraan makhluk-makhluk lain.
Kalau Anda sungguh telah mencapai itu, maka Anda bisa membangun rumah sakit, yang kecil.
Rumah sakit itu... rumah sakit itu runtuh karena, saya tak tahu, alasan politik,
kebakaran, gempa bumi, apa pun.
Anda tak akan merasa ragu.
Anda akan membangunnya.
Anda akan membangun yang lain.
Tahu kan, Anda akan...
Atau, tahu kan, seseorang memuji Anda, seseorang mengkritik rumah sakit Anda, apa pun.
Tak masalah karena motivasi Anda berakar sangat, sangat dalam pada pembaktian kepada orang lain.
Tetapi kalau ia tak berakar dalam, maka ia bisa membawa Anda rasa sakit.
Tahu kan, Buddhisme sesungguhnya...
Tahu kan, Anda berbicara tadi tentang sains dan Buddhisme.
Saya kira dalam konteks itu, Buddhisme...
Saya kira sesungguhnya lebih menarik ketika kami, para Buddhis dan para psikolog,
ketika kami berdiskusi, ia cukup menarik.
Para Buddhis...
Begini, di sinilah para Buddhis...
Beginilah cara para Buddhis berpikir.
Saya tak tahu apakah ada psikolog di sini.
Katakanlah...
Tahu kan, saya berbicara tentang bagaimana kebijaksanaan dianggap lebih penting daripada moralitas dan etika.
Jadi katakanlah saya sedang merawat pria ini.
Katakanlah saya sang psikolog dan saya merawatnya.
Ini pasien saya.
Para Buddhis...
Pemahaman Buddhis adalah ini.
Oke, jadi di sinilah saya merawat pria ini.
Merawat berarti saya sudah berasumsi bahwa ia tak normal.
Bukan begitu?
Kalau tidak, mengapa saya merawatnya, betul kan?
Jadi dengan kesadaran Buddhis, saya harus sungguh sadar bahwa,
oke, itu proyeksi saya.
Ingat gelas air itu?
Saya melihatnya sebagai air tetapi ikan melihat sesuatu yang berbeda.
Siapa tahu, mungkin ia yang sesungguhnya normal dan saya bukan...
sayalah yang sakit.
Tetapi bagaimanapun, saya punya gelar sebagai psikolog.
Ia tidak.
Jadi... dan ia entah bagaimana datang kepada saya toh.
Jadi, oke, nah, proyeksi saya, ia terlihat...
Ia tak terlihat normal.
Ia tak berperilaku normal.
Proyeksi saya.
Jadi itu sudah sebuah kebijaksanaan.
Itu sudah...
Itu sudah baik.
Itu sudah membuat saya sangat rendah hati.
Dan besar.
Nah kalau saya tak punya itu dan kalau saya terpaku pada teks saya,
memandangnya, ah, ia tak normal.
Ia tak normal.
Ia tak normal.
Cara ia bergerak, cara ia melakukan ini, tak normal.
Lalu saya memberinya obat dan lalu saya punya sasaran ini.
Saya ingin...
Saya ingin ia melakukan hal-hal tertentu sesuai dengan cara saya.
Dan lalu pria yang malang, ia mungkin bahkan melakukannya.
Dan saya tak puas.
Dan saya terus memberinya obat atau perawatan dan saya mungkin menghancurkannya.
Dan inilah mengapa...
Tahu kan, dalam prinsip Buddhis,
kebijaksanaan jauh lebih penting daripada sarana,
etika dan... apa Anda menyebutnya?
Moralitas.
Saya senang bahwa Anda tak menggunakan kartu ini.
Ia sangat berperilaku baik.
Terima kasih banyak atas...
Oh, saya terlihat begitu...
Oh, wow, itu (pertanyaan) yang besar, ya?
Ilusi bahwa ada pencerahan.
Tentang pencerahan.
Tahu kan, para Buddhis selalu berdoa,
semoga kita memperoleh pencerahan seperti itu.
Tetapi sesungguhnya pada tingkat yang lebih tinggi, itu juga sebuah ilusi.
Oke, ya, karena ia cukup...
Jadi saya menggunakan contoh ini selalu dan saya tak tahu, entah bagaimana...
Saya merasa bahwa ini contoh terbaik.
Katakanlah Anda sedang bermimpi, oke?
Katakanlah Anda sedang bermimpi dan Anda mengalami mimpi buruk.
Katakanlah Anda berada di sebuah ruangan kecil
dan Anda mengalami mimpi buruk seperti buaya-buaya memakan Anda,
akan menyerang Anda.
Dan Anda seperti menjadi gila, Anda panik
dan teman Anda ada di sebelah atau mungkin di samping Anda.
Tahu kan, seperti...
Ia melihat bahwa Anda sedang mengalami mimpi buruk
dan lalu ia mengguncang Anda, menusuk Anda, mencubit Anda,
mungkin air dingin, seember air dingin, Anda terbangun.
Oke?
Nah, masalahnya adalah...
Oke, jadi mimpi buruk itu adalah apa yang kami sebut samsara.
Tahu kan, penderitaan, rasa sakit, semua itu.
Dan air dingin dan Anda terbangun, tak ada buaya, ya?
Itu adalah tersadarkan, tahu kan, pencerahan, nirwana.
Tetapi masalahnya adalah, bahkan sebelum Anda bermimpi,
tak pernah ada buaya, betul kan?
Dan selama mimpi Anda, tak ada buaya yang sungguh-sungguh,
ia semua mimpi, ya?
Jadi, kalau tak ada buaya,
seember air dingin yang disiramkan kepada Anda
tak mengusir buaya apa pun.
Anda paham?
Jadi seluruh gagasan tentang pencerahan, kebebasan, adalah seperti ini.
Ia hanya sebuah ilusi, tetapi ia ilusi yang diperlukan.
Mengapa?
Karena Anda sudah sedang bermimpi.
Kalau Anda tak sedang bermimpi, baik, tak ada masalah.
Oke, satu lagi.
Sutra Teratai adalah sutra yang sangat, sangat penting.
Sesungguhnya, kini ada bahkan sebuah mazhab
yang hanya membacakan judul bukunya, Sutra Teratai.
Saya tak tahu apakah, tahu kan, maksud saya, ia punya latar belakang.
Tetapi oke, Sutra Teratai, alasan mengapa Sutra Teratai,
isi dari Sutra Teratai begitu penting adalah,
ingat saya memberi tahu Anda, Anda sempurna sebagaimana Anda adanya.
Ingat saya memberi tahu Anda tadi?
Satu-satunya hal yang perlu Anda hilangkan adalah semua kotoran yang perlu Anda hilangkan.
Di sinilah Sutra Teratai,
informasi ini ditemukan banyak dalam Sutra Teratai.
Begitu banyak contoh.
Apakah Anda punya teratai di...
Seperti sebuah bunga.
Bunga bakung? Anda punya?
Ya.
Dan juga contohnya adalah teratai selalu tumbuh di air berlumpur.
Dan ia...
Dan Sutra Teratai berkata bahwa...
Jadi kalau airnya sangat, sangat bersih, tak ada teratai,
karena ia tak bisa tumbuh.
Jadi Sutra Teratai sungguh berbicara tentang meskipun Anda punya kemarahan,
keserakahan, nafsu, agresi, kecemburuan,
kalau Anda tahu bagaimana menanganinya, itu seperti air berlumpur.
Teratai akan tumbuh.
Jadi alih-alih melihatnya sebagai kabar buruk atau ada begitu banyak kotoran,
kalau Anda seseorang yang sungguh sedang menanam teratai,
Anda akan sangat senang ada banyak lumpur, banyak kotoran.
Teratai akan menjadi sangat sehat, Anda mengerti.
Jadi ya, Sutra Teratai mengajarkan banyak dari itu.
Ia sutra yang sangat, sangat penting.
Saya tak bisa, tahu kan, saya kira itu hanya sebuah pengantar.
Ya, silakan.
Ketaksadaran (sub-consciousness).
Konsep Buddhis tentang ketaksadaran.
Ya.
Nah, kata ketaksadaran mungkin sesuatu yang perlu kita bahas.
Ketaksadaran.
Tetapi saya kira sang psikolog berbicara banyak,
ketaksadaran, Buddhis.
Apa yang kami bicarakan adalah pikiran arus bawah.
Kami berbicara banyak tentang itu, pikiran arus bawah.
Untuk menjelaskan ini, kita juga perlu menjelaskan sedikit tentang
bagaimana konsep Buddhis yang disebut karma,
konsep karma, bagaimana ia bekerja.
Jadi ia sedikit seperti ini.
Misalnya, oke, siapa nama Anda?
Saya bertanya kepada Anda, siapa nama Anda?
Oke, sekarang Anda tak harus mengingat ini setiap saat.
Anda mengerti?
Anda bisa melupakannya, tetapi saat seseorang menyebut itu,
ia sudah ada di sana.
Anda mengerti?
Anda tak harus selalu mengingat ini.
Aku ini, aku ini, aku ini.
Maaf, saya tak bisa mengucapkan nama Anda, tetapi saya tak bisa.
Tahu kan, Anda tak harus.
Ini adalah jejak yang kuat.
Jejak.
Misalnya, oke, mungkin bukan nama Anda.
Anda kira Anda seorang pria?
Persis.
Ya, saya juga.
Saya kira saya seorang pria.
Tetapi misalnya, meskipun kini saya menjadi linglung,
saat saya melihat tanda pria,
saya berpikir, ah, ini toilet saya.
Saya tak pernah harus berpikir, apakah aku ke sini atau apakah aku ke sini?
Anda mengerti?
Jadi secara tak sadar saya memutuskan,
saya seorang pria.
Dan pola-pola kebiasaan.
Para Buddhis berbicara banyak tentang pola-pola kebiasaan.
Dan ini begitu penting dalam Buddhisme.
Apakah Anda ingat saya berbicara tentang kesadaran?
Betapa pentingnya untuk punya kesadaran?
Karena kalau Anda tak punya kesadaran,
maka Anda tak tahu (ignorant).
Nah, mengapa Anda menjadi tak tahu?
Siapa yang memberi makan ketidaktahuan itu?
Tahu kan, seperti sebuah telepon?
Kalau Anda punya telepon, Anda perlu mengisi ulang baterai.
Siapa yang mengisi ulang ketidaktahuan ini?
Pola kebiasaan bawah sadar ini.
Dan bagaimana?
Jadi sekarang yang para Buddhis lakukan adalah embargo ekonomi.
Anda mengerti?
Jadi kita perlu, apa Anda menyebutnya, membuat kelaparan.
Membuat kelaparan.
Membuat pola kebiasaan itu kelaparan.
Dan bagaimana kita melakukannya?
Begitu banyak ribuan cara.
Bahkan duduk seperti ini, tiga menit sehari.
Tahu kan, bahkan tiga menit sehari.
Tak melakukan apa-apa.
Sekadar duduk.
Dan sesungguhnya ada sebuah kata, ia disebut shikantaza.
Di Jepang mereka melakukan ini banyak.
Pikiran Anda bisa memikirkan apa pun yang Anda inginkan.
Tubuh Anda sekadar duduk seperti ini.
Tiga menit.
Dan selama tiga menit ini,
selama tiga menit ini,
gempa bumi, air terjun, teman-teman mengetuk,
air mendidih meluber, saya tak tahu, jendela, tahu kan, terbanting.
Tak ada respons.
Sekadar duduk.
Bahkan itu, yang ia lakukan adalah ia menciptakan embargo ekonomi.
Memotong jatah untuk menumbuhkan kebiasaan itu.
Jadi kalau kebiasaannya lebih sedikit,
ia tak mengisi ulang kekuatan ketidaktahuan.
Dan ini sesungguhnya tak ada yang religius, sekali lagi.
Tahu kan, misalnya, tetapi ia sulit untuk...
Dengan satu cara ia sulit dilakukan.
Alasannya adalah kita sebagai manusia,
kita benci untuk... menjadi bosan.
Kebosanan, membosankan.
Tetapi sesungguhnya kebosanan dan...
kebijaksanaan seperti sepupu, tahu kan,
tetapi kita benci kebosanan dan kita mencintai kebijaksanaan
meskipun kita tak tahu apa itu.
Tetapi kebosanan sesungguhnya memang kita punya.
Tetapi masalahnya adalah saat kita bosan,
maka kita entah, tahu kan, menggunakan ini atau membaca koran atau,
saya tak tahu, menonton televisi atau menelepon seseorang
atau mengadakan pesta atau...
Kita perlu terlibat.
Tetapi kalau Anda berani dalam pikiran Anda,
kalau Anda cukup berani untuk bosan selama tiga menit
dan saat Anda menjadi bosan, tentu saja Anda menjadi kesepian.
Dan kesepian adalah sepupu lain,
sesungguhnya jauh lebih dekat daripada sepupu,
mungkin saudara laki-laki dari kebijaksanaan, saudara laki-laki, saudara perempuan.
Kesepian.
Jadi Anda harus sungguh mencintai, Anda harus mencintai,
Anda harus belajar mencintai kesepian dan kebosanan.
Dan lalu apa yang terjadi?
Situasi tak akan menyalip Anda.
Saat ini semua sebab dan kondisi,
situasi selalu menyalip Anda.
Jadi lalu Anda menjadi penguasa situasi.
Jadi itulah gagasan Buddhis.
Sekarang atas nama kami semua, terima kasih banyak.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya