Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Diskusi : Dasar Perkawinan Bahagia

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Diskusi : Dasar Perkawinan Bahagia

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas dasar-dasar perkawinan bahagia dari perspektif Buddhis, menjawab berbagai pertanyaan seputar hubungan suami istri. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana menghadapi dinamika pernikahan seperti pasangan yang berubah, kebosanan, pertengkaran, dan perbedaan keyakinan. Pembicara menekankan bahwa tujuan pernikahan lebih luas daripada sekadar cinta, yaitu mendidik anak dan menjaga hubungan antar keluarga. Untuk mengatasi kebosanan, diperlukan kreativitas dan peningkatan kualitas diri, misalnya dengan saling memuji dan meluangkan waktu 15 menit pagi dan malam untuk berbicara dari hati ke hati. Pembicara juga mengoreksi anggapan bahwa pria yang memilih, padahal sebenarnya wanita yang memiliki hak memilih, sehingga pria perlu menarik pasangan melalui kualitas batin, perhatian, dan kemampuan berbagi. Cara terbaik mengajak pasangan beragama adalah melalui perubahan perilaku diri sendiri menjadi lebih baik, bukan dengan paksaan. Masalah pernikahan seringkali muncul karena tidak menerima pasangan apa adanya; kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian, melainkan dengan cinta kasih, serta pentingnya senyum dan komunikasi. Cinta dan benci sama-sama mencari, sehingga pasangan bisa datang karena karma baik atau buruk; oleh karena itu, kebencian harus diatasi karena berdampak pada diri sendiri dan kehidupan mendatang. Terakhir, agama bukan soal benar atau salah, melainkan kecocokan, dan fungsi utamanya adalah mendorong perilaku baik; yang terpenting adalah perubahan perilaku, bukan label agama. Pesan utamanya adalah bahwa kebahagiaan pernikahan bergantung pada penerimaan, pengembangan diri, dan praktik cinta kasih sehari-hari.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Menghadapi Pasangan yang Tidak Lagi Mencintai
    Menjawab pertanyaan tentang pasangan yang berubah tidak lagi mencintai, dengan menekankan pentingnya melihat tujuan pernikahan secara lebih besar, seperti mendidik anak dan menjaga hubungan antar keluarga, serta meningkatkan kualitas diri agar layak dicintai kembali.
  2. Kebosanan dalam Pernikahan dan Pentingnya Kreativitas
    Membahas bahwa semua orang pada dasarnya bosan, termasuk terhadap pasangan, sehingga perlu meningkatkan kualitas diri dan menciptakan variasi, seperti saling memuji dan menggunakan waktu 15 menit pagi dan malam untuk berbicara dari hati ke hati.
  3. Wanita Sebenarnya yang Memilih dan Cara Menarik Pasangan
    Mengoreksi anggapan bahwa pria yang memilih, sebenarnya wanita yang memiliki hak memilih. Menekankan pentingnya kualitas batin, perhatian, dan kemampuan berbagi untuk menarik dan mempertahankan pasangan.
  4. Mengajak Pasangan Beragama Melalui Perilaku Baik
    Menjelaskan bahwa cara terbaik mengajak pasangan mengikuti agama adalah melalui perubahan perilaku diri sendiri menjadi lebih baik, bukan dengan paksaan atau ajakan verbal.
  5. Menerima Pasangan Apa Adanya dan Mengatasi Pertengkaran
    Menekankan bahwa masalah pernikahan bukan karena usia, melainkan karena tidak menerima pasangan apa adanya. Mengajarkan bahwa kebencian tidak berakhir dengan kebencian, melainkan dengan cinta kasih, serta pentingnya senyum dan komunikasi.
  6. Cinta dan Benci dalam Hubungan serta Karma
    Membahas bahwa cinta dan benci sama-sama mencari, sehingga pasangan bisa datang karena karma baik atau buruk. Mengingatkan untuk mengatasi kebencian karena akan berdampak pada diri sendiri dan kehidupan mendatang.
  7. Agama sebagai Kecocokan dan Fungsi Utamanya
    Menjelaskan bahwa agama bukan soal benar atau salah, melainkan kecocokan. Fungsi agama adalah mendorong perilaku baik, dan yang terpenting adalah perubahan perilaku, bukan label agama langit atau bumi.
Kamma/KarmaAI · suggestedAcceptanceAI · suggestedRelationshipsAI · suggestedAttachmentAI · suggestedDaily PracticeAI · suggestedCausalityAI · suggestedSulit Melepassuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Pertanyaan saya, kalau seseorang terjebak di dalam sebuah pola perkahwinan di mana dia yang dicintai,
dan yang lebih buruk lagi, setelah pernikahan itu berjalanan berapa tahun,
si istri atau suami itu yang ditunjukkan cintai tidak lagi menunjukkan kehargaan perkahwinan,
berkali yang merupakan tidak tambah, kenapa dia bisa menunjukkan apa saja itu.
Ya, ini memang sulit ya kasusnya, karena sudah dicintai pertamanya,
dicintai kemudian berubah, apa yang bisa mempertahankan perkahwinan itu?
Sebetulnya yang nomor satu adalah,
adalah bahwa menyadari perkahwinan ini kan sebetulnya hanya sekali seumur hidup,
normalnya ya, normalnya, artinya bisa saja, ada yang dua kali, tiga kali, empat kali, sepuluh kali, silakan.
Tetapi pada umumnya, perkahwinan ini hanya sekali, lalu kita bertanya,
visi kita untuk hidup ini apa sebetulnya?
Hidup berumah tangga adalah mencari teman hidup.
Sekarang mungkin pasangan saya sudah tidak mencintai,
mencintai saya lagi, mampukah dia menjadi teman hidup saya, mampukah saya untuk sharing bersama,
artinya, ya kita saling berbagi masalah lah bersama-sama,
atau mungkin kalau sudah punya anak, mampukah teman hidup saya ini untuk membesarkan anak bersama-sama?
Kalau memang masih mampu dikerjakan, jalani.
Sehingga kita melihat tujuan perkahwinan itu secara yang lebih besar,
bukan lagi saya mau kumpul dengan pasangan saya,
ini sekarang, yang sekarang sudah berubah, dulunya mencintai, sekarang sudah tidak mencintai saya lagi,
tetapi saya sekarang melihat perkahwinan ini dari konteks yang lebih besar,
yaitu bagaimana mendidik anak saya, atau bagaimana saya menjaga hubungan antara dua keluarga.
Kenapa demikian?
Karena perkahwinan bukan hanya menyatukan si A dan si B, dua pribadi,
tetapi,
mengenyatukan keluarga si A dan keluarga si B yang cukup besar.
Jangan sampai nanti karena perkahwinan si A dan si B ini,
dua keluarga yang dulunya tidak kenal, malah sekarang jadi bermusuhan.
Anda sering tentu melihat di dalam masyarakat, dalam kehidupan sehari-hari,
pasangan rumah tangga yang kacau balok, akhirnya antar mertua, antar besan, cek cok.
Kemudian,
ada iper-ipernya cek cok.
Ini kan sayang.
Kenapa?
Karena rumah tangga yang dulunya mestinya tidak saling mengenal, akhirnya kenal, dan akhirnya hanya untuk cek cok.
Nah,
karena kita lalu melihat visi dan misi kita, visinya apa?
Saya harus membuat kebahagiaan, karena rumah tangga ini harus dipertahankan.
Karena ada anak, dan ini menyatukan dua keluarga yang besar.
Kalau begitu, misinya apa?
Misinya,
kalau dulu dia pernah mencintai saya,
tentu ada unsur-unsur positif yang saya miliki, yang berharga untuk dia cintai.
Kalau sampai sekarang dia berubah,
berarti,
saya harus mengubah perilaku saya.
Karena tentu kualitas hidup saya, kualitas perilaku saya,
yang dulunya layak dia cintai itu, mungkin sudah tidak saya lakukan lagi.
Dulu waktu saya lebih rajin,
orang itu cinta sama saya.
Sekarang saya sudah mulai malas karena,
toh, dia sudah suka sama aku, ya sudah lah aku malas-malasan.
Nah, akhirnya dia cinta kepada orang yang lain.
Nah, itulah kita lalu memperbaiki kualitas diri kita, sehingga kita layak dicintai lagi.
Kalau selalu bertanya, kenapa dia mau tidak cinta aku?
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Akhirnya membuat kita harus memaksa orang lain cinta kita.
Tapi kalau kita mengatakan, oh memang dia sudah tidak cinta aku.
Kalau begitu, aku harus tingkatkan kualitas diriku,
sehingga saya layak mendapatkan cinta dia lagi.
Nah, oleh karena itu, untuk mengatasi kasus seperti itu,
kasus orang yang mencintai akhirnya berubah,
yang pertama adalah berusaha mempertahankan perkahwinan dengan unsur eksternal,
yaitu anak, anak yang sudah ada, atau keluarga, dua orang,
dua grup keluarga yang harus dipertahankan,
jangan sampai timbul berjejokan.
Kemudian yang kedua sebetulnya adalah unsur internal,
dan itu yang penting, dan itu yang harus terus dikembangkan,
baik pasangan hidup yang masih akur,
ataupun yang sudah bermasalah,
yaitu setiap saat selalu berpikir,
bagaimana saya meningkatkan kualitas diri saya yang dia paling sukai.
Kalau dia suka saya senang diajak sharing,
berarti aku harus terus meningkatkan kemampuan saya
untuk bisa terus diajak sharing kepada dia,
mungkin sharing pekerjaan, sharing rumah tangga, dan sebagainya.
Kalau dia senang saya,
karena saya bisa memperhatikan kebutuhan dia,
maka inilah yang harus saya tingkatkan,
kualitas perhatian saya kepada pasangan hidup kita.
Dengan demikian, kalau dulu pernah dia cinta pada saya,
maka dia akan punya kesempatan kembali mencintai saya.
Kalau sekarang dia masih cinta pada saya,
maka kesempatan dia untuk tidak cinta kepada orang lain,
atau kesempatan dia untuk tidak cinta pada diri kita,
menjadi tidak ada lagi.
Karena kita akan selalu mengikat dia,
bukan dengan paksaan, bukan dengan ancaman,
tetapi kita mengikat dia dengan kebajikan yang kita miliki,
kualitas hidup kita yang baiklah,
yang kita terus berikan untuk dia.
Begitu?
Cukup atau masih ditambah?
Silakan.
Menanggapi masalah yang ini ya,
bukan menambah masalah yang baru.
Sebetulnya bukan hanya pasangan itu yang pembosan,
kita semua itu lho, pembosan.
Semua makhluk, semua orang itu pembosan.
Contoh, rambut Anda.
Kecil sampai hari ini,
apa tetap potongannya seperti itu?
Apa dari dulu sisirannya ya begitu, terus?
Anda sendiri juga bosen lho?
Hah, bosen ah?
Nanti rambutnya model begini.
Apakah sepatu Anda dari dulu sampai hari ini,
sampai jebual nanti, apakah itu, terus?
Tidak.
Apakah makanan Anda?
Anda suka makan apa?
Misalnya nasi goreng.
Setiap hari makan nasi goreng, terus 20 tahun.
Kalau sampai ada yang tidak bosen dengan nasi goreng,
makan tiap hari 20 tahun,
saya mau belajar juga ilmunya sama dia.
Itu termasuk orang luar biasa.
Anda sendiri bosen.
Ada yang buka toko di sini?
Ada?
Siapa yang buka toko coba?
Yang buka toko, bukan yang kerja ikut orang.
Buka toko, ada?
Tidak ada?
Ada, mana ada Pak?
Satu.
Hanya satu orang.
Satu lagi.
Nah, banyak.
Para Bapak Ibu yang buka toko,
Anda kan tahu kalau buka toko itu dapat duit.
Tetapi, pernah tidak Anda kalau pagi bangun tidur,
merasa malas buka toko?
Pernah tidak?
Aduh, mau buka toko lagi ya?
Tapi Anda merasa ada tanggung jawab.
Kalau aku tidak buka toko,
nanti tidak dapat duit hari ini.
Saya yakin dalam hidup Anda sekian puluh tahun Anda buka toko,
perasaan itu pasti ada.
Tidak mungkin tidak ada.
Itu yang buka toko yang dapat duit.
Nah, sekarang dengan pasangan hidup yang di sebelahnya terus,
melek mata ketemunya ini.
Melek mata ketemu lagi.
Melek mata puluhan tahun apa yang tidak bosen.
Nah, oleh karena itu,
kembali lagi pada saran saya yang pertama.
Meningkatkan kualitas diri kita.
Kenapa demikian?
Seseorang,
kalau mengikat pasangan hidupnya hanya dengan fisik,
dia tidak akan pernah berhasil.
Karena fisik itu umurnya terbatas sekali.
Kecantikan seseorang,
kegantengan seseorang itu hanya terbatas oleh usia.
Tapi mengikat orang itu adalah dengan kualitas batin.
Ada hal-hal yang harus kita tingkatkan supaya pasangan hidup kita itu bahagia.
Bagaimana caranya supaya dia bahagia?
Dia sukanya apa?
Kita ikuti.
Bosen itu pasti.
Ibu rumah tangga tiap hari mikir masanya ganti terus.
Kenapa?
Karena kalau terus,
masanya hanya nasi goreng tiap hari.
Mesti bosen.
Jadi nasi goreng.
Besoknya masak apa lagi ya?
Itu kan ibu-ibu mikirnya itu kan sampai rambut rontok lebih awal.
Mikirin bapaknya ini besok makan apa,
dimasakkan apa.
Itu sudah selalu.
Kenapa?
Karena manusia adalah pembosan.
Termasuk dengan pasangan hidupnya.
Justru karena itu kita mencoba.
Selalu ada variasi dalam hidup.
Bagaimana variasi dalam hidup?
Misalnya diajarkan di dalam dhamma.
Sebaiknya suami istri itu ada pujiannya.
Nah.
Terutama suami sebaiknya sering memuji istri.
Kenapa?
Saya dulu pernah berpikir ini kok sang Buddha
menunjukkan jalan kepada suami tugas yang pertama adalah memuji istri.
Kenapa ya?
Itu merenungnya lama.
Lalu saya renung-renung.
Oh.
Memang wanita itu pinknya agak tipis.
Jadi perlu sedikit perhatian.
Sayangnya bapak-bapak bibirnya
terlalu berat.
Misalnya istri pakai baju yang bagus.
Kadang-kadang bapak itu diam.
Pria itu cenderung kalau baik dijiemin.
Kalau jelek baru diomelin.
Kalau wanita tidak begitu.
Baik diomongin.
Dipuji.
Jelek meritiknya pelan-pelan.
Bisa emosi.
Nah.
Jadi bagaimana?
Pakai baju baru.
Seorang pria harus mengatakan kepada istrinya.
Wih.
Hebat bener nih penampilan hari ini.
Loh.
Istri sudah happy itu.
Padahal baru omong begitu.
Karena kuping itu luar biasa tipis bagi wanita.
Buktinya apa?
Bapak-bapak kalau istri sudah bertanya.
Pak.
Pak.
Aku masih cantik enggak pak?
Kalau bapak-bapak sudah ditanyain istri seperti itu.
Harus siap jawabnya.
Aku kecantikan fisik enggak penting.
Karena kecantikan fisik bersifat sementara.
Tapi batinmu itu yang happy.
Aku suka itu karena kamu penuh tanggung jawab.
Penuh ini, penuh itu.
Wah itu.
Baru istri lega.
Ya sudah pak.
Besok gigi gue ini sudah ompong semua.
Enggak usah dipaltu.
Wah ya kalau ngowos begitu ya.
Ada batunya dipaltu.
Jadi sebetulnya pujian ini penting.
Tetapi sekarang pujian itu jangan tiap hari sama.
Ini butuh kreativitas.
Hari ini penampilanmu bagus.
Tiap hari hari ini penampilanmu bagus.
Hari ini penampilanmu bagus.
Lama-lama aku punya pasangan hidup kaset apa ya.
Ketika hari ini tampilanmu bagus.
Besok bajunya lain lagi.
Gimana pak?
Hari ini bagus gak?
Hari ini kamu kelihatan lebih seger.
Besoknya lagi.
Hari ini bagus dan seger gak pak?
Enggak.
Hari ini kau lebih kelihatan menarik.
Loh.
Macem-macem bahasanya bisa dibuat yang aneh-aneh.
Hari ini aku seger, menarik, bagus.
Loh.
Hari ini mengagumkan, seger, menarik, bagus.
Enggak semua.
Sudah enggak laku itu semua.
Lalu apa?
Membuat aku inget 17 tahun yang lalu.
Ketika kamu masih usia yang lebih muda.
Aduh, aku lihat kamu ini deg-degan loh.
Lah.
Jadi, macem-macem.
Nanti kalau istrinya pinter sebetulnya loh.
Apa kamu sekarang enggak deg-degan?
Orang enggak deg-degan kan berarti mati loh sebetulnya.
Tapi biasanya wanita sudah enggak berpikir jauh ke situ aja.
Iya, iya, iya.
Bagus, jalan terus.
Nah, ini adalah bahasa yang kreatif.
Sebetulnya juga disarankan.
Pria dan wanita, suami istri, gunakanlah waktu 15 menit pagi bangun tidur.
Dan malam mau tidur, itu berbicara urusan suami istri.
Anda nanti yang sudah suami istri, coba Anda renungkan di dalam kehidupan Anda hari-hari.
Anda itu menganggap pasangan Anda sebagai pasangan hidup ataukah sebagai teman kerja.
Itu dilihat pada waktu bangun tidur dan mau tidur.
Bangun tidur melek mata.
Hari ini tukangnya masuk enggak ya?
Hari ini kiriman barang apa saja ya?
Hari ini ceknya yang mana ya yang jalan?
Itu berarti pasangan hidup Anda adalah teman kerja Anda.
Bukan pasangan hidup Anda.
Mau tidur, blek.
Pintu-pintu sudah dikunci belum ya?
Tadi mobil sudah dimasukkan garasi belum ya?
Kompor sudah dimatikan belum ya?
Itu pasangan hidup Anda adalah sopir Anda atau pembantu rumah tangga Anda.
Kualitas suami istri Anda, kehidupan rumah tangga Anda dicek dari 15 menit mau tidur dan akan tidur.
Ketika mau tidur ngomong, aduh sebetulnya malam ini aku enggak kepingin tidur.
Lu kenapa?
Sayang.
Dalam bahasa Jawa Timurnya, iman.
Lu kenapa?
Karena begitu aku merem, aku enggak lihat wajahmu lagi.
Waduh itu pasangan itu rasanya tidurnya enak.
Ngimpinya mesti yang indah-indah.
Tapi jangan tiap malam yang diomong itu terus.
Ya yang pertama enak.
Tapi yang kedua, ketiga lama-lama gombal.
Jadi besoknya lain lagi.
Mau tidur, aku senang.
Punya pasangan hidup kamu dan aku enggak salah.
Membuat tidurku selalu nyenyak.
Mimpiku selalu indah.
Karena aku selalu mimpi jalan-jalan sama kamu.
Karena engkau orang yang terakhir yang selalu aku lihat dengan mataku ini.
Dan engkau juga orang pertama yang aku lihat pada pagi hari.
Nah, jadi kita ganti omongannya.
Besoknya lagi ganti.
Itulah kreativitas.
Hanya dengan modal omongan itu, sebetulnya suami istri itu akan menjadi akrab.
Lima belas menit pagi.
Lima belas menit malam.
Gunakanlah hanya khusus omongan pada suami istri.
Pertama memang kadang-kadang suami istri yang belum terbiasa.
Kadang-kadang mengatakan gombal lah apalah.
Itu normal sekali.
Tapi hajar terus, ruduk terus, puji terus.
Lama-lama mau juga pak dia.
Sebenarnya dasarnya dari itu ya.
Karena itu sekali lagi.
Dia harus meningkatkan kualitas diri dia.
Ya, yang karena dia pembosen.
Itu normal semua orang.
Maka kita harus pandai bervariasi.
Ibu-ibu sebetulnya masak nasi tiap hari ya gitu.
Nasi goreng ya tiap hari gitu.
Tapi kan divariasi.
Hari ini ada timunnya.
Besok diganti lombok.
Besok diganti telur.
Itu sebetulnya adalah variasi supaya manusia itu tidak bosen.
Ya, kalau mau berbicara dhamma yang lebih tinggi.
Bosennya itu diamati.
Bosennya itu diperhatikan.
Sehingga akhirnya disadari menjadi lenyap.
Tetapi itu kalau dibahas menjadi cukup ruwet.
Yang saya sarankan adalah tetap meningkatkan kreativitas.
Terutama di dalam pembicaraan.
Ya, pembicaraan apa?
Pembicaraan pada saat memuji pasangan hidup kita.
Penting loh memuji itu.
Suami istri kalau tidak pernah saling memuji.
Rumah tangganya pasti kering.
Rumah tangganya itu tidak ada romantisnya.
Sama sekali.
Harus saling memuji.
Wah, engkau rambutnya sudah putih.
Kelihatan bijaksana loh.
Itu untuk tampil percaya diri.
Wah, putih bijaksana.
Wah, engkau ya kelihatan kerut-kerut mukanya.
Kamu ya tidak kalah bijaksana juga.
Tampilannya kelihatan keibuan.
Nah, dengan demikian akhirnya pujian-pujian itulah yang sebetulnya akan memberi manfaat.
Bapak-bapak kalau disediakan masaan.
Sama istri.
Berapa kali sudah pernah dibuji?
Biasanya sediakan masaan.
Ya, itu kan sudah kewajiban mau makan.
Kalau tidak enak.
Oh, tidak enak nih ini.
Baru ngomong.
Jadi yang enak itu sudah diomong.
Padahal kan ngomongnya juga tidak boleh.
Masa kamu hari ini lain loh.
Luar biasa nih.
Luar biasanya bagaimana?
Garamnya kebanyakan.
Tapi begitu ngomong.
Luar biasa.
Wah, itu cewek sudah kaget duluan.
Happy dia.
Garamnya kebanyakan.
Oh iya dah, besok saya kurangin.
Tapi kalau apa ini masaan kayak gini.
Guarang banyaknya.
Protek dia.
Puji sedikit.
Kasih kekurangannya.
Baru dia nanti lebih baik.
Begitu?
Ya, jelas?
Baik, pertanyaan lain.
Ada tertulis.
Silahkan.
Banyak tertulisnya.
Mau dibacain, boleh?
Tertulis wanita mungkin aneh.
Tidak selalu membeli.
Bukankah bukannya kuno?
Kuno.
Laki-laki yang punya hak memilih.
Salah.
Sesungguhnya wanita yang punya hak memilih.
Laki-laki lima orang yang datang.
Hanya satu yang dia pilih.
Ya kan?
Kuno.
Sebetulnya wanita yang punya hak memilih.
Wah, wanitanya diseruduk nggak mau.
Nggak kena kok.
Saudara-saudara.
Sekarang memang kadang ada yang sulit.
Bagaimana, Bante?
Kan wanita itu kan usia bertambah.
Pola pikir berbeda.
Maksudnya gimana?
Kalau di bawah 17 tahun, siapa saya?
Ya kan?
Wah, siapa saya nih?
Make up.
Oh, lihat nih.
Anak kan di bawah 17 tahun, cewek paling sombong-sombongnya.
Di atas 17 tahun, siapa dia?
Wih, cowok ganteng.
Wih, cowok ganteng.
Wih, cowok ganteng.
Di atas 17.
Itu milih, masa memilih.
Tapi kalau sudah di atas 35 tahun, siapa saja lah.
Daripada nggak dapet.
Itu kadang-kadang kan proses wanita bisa seperti itu.
Nah, mungkin yang jadi pertanyaan tadi adalah,
Nah, wanita kan nggak bisa milih.
Wanita kan hanya dicintai.
Salah, saudara.
Seorang wanita bisa dicintai karena pria melihat ada beberapa kualitas di dalam dirinya.
Memang tidak bisa dipungkiri.
Pria melihat wanita, yang pertama adalah fisik.
Ya.
Itu rata-rata.
Ada pria yang pertama nggak lihat fisik.
Kalau nggak lihat fisik, berarti di mall, di mana bilang,
Wah, ngadep ke depan.
Terus kayak pakai kacamata kuda.
Pria itu selalu lihat fisik.
Makanya di mall, di mana ngelirik cewek normal.
Itu cowok normal artinya.
Kenapa? Dia nggak harus mau kenalan sama cewek itu.
Cuma mau lihat.
Indah juga ya.
Hanya gitu saja. Simple.
Nah.
Karena itu yang dilihat pertama adalah fisik.
Apakah wanita lalu semua harus tampil luar biasa? Tidak.
Tapi paling tidak fisiknya jangan keplangetan.
Luar biasa anehnya.
Karena jarang pria punya pengen mengkoleksi wanita yang aneh bentuknya.
Jarang.
Ya, maunya yang normal-normal diajak kemana-mana pantas.
Tetapi fisik.
Itu hanya awal.
Pada yang berikutnya.
Level yang lebih dalam.
Pria bukan mencari fisik.
Sebetulnya mampu nggak?
Ceweknya ini diajak ngomong.
Bisa nggak diajak diskusi?
Bisa nggak diajak sharing?
Ketika saya ngomel, marah.
Bisa nggak dia menenangkan hati saya?
Ketika saya sedang stres.
Bisa nggak dia memberikan masukan kepada saya?
Itu yang paling penting.
Jangan cewek sudah cantik.
Hebat.
Diajak ngomong nggak nyambung.
Dibawa ke tempat temen-temennya memalukan.
Cowok maunya di situ.
Cowok ini soalnya apa?
Dia kepengen.
Seorang wanita yang bisa mengerti dirinya.
Karena itu.
Kalau tadi dikatakan.
Bagaimana wanita kan jatuh.
Jatuhnya dia yang dicintai.
Tingkatkan kualitas diri anda.
Yaitu apa?
Mengurangi ego.
Merilakan keegoanya.
Untuk memberikan perhatian kepada calon patangan hidupnya dia.
Wanita tahu kesenangannya si pria.
Makanan kesenangannya aja.
Nempel loh prianya itu.
Karena pria itu kan kadang-kadang kepengen dirawat.
Jadi suka makanan ini.
Seorang istri.
Ada baiknya.
Walaupun anda nggak bisa masak.
Karena istri zaman sekarang yang generasi rice cooker ini.
Kadang-kadang aja loh.
Yang masak nasi aja nggak bisa.
Semua rice cooker semua.
Sehingga kalau lampu mati nggak bisa bikin nasi.
Anda nggak perlu bisa masak yang hebat-hebat.
Satu macam masakan aja.
Tetapi yang suami anda sukai.
Dan keluarnya jangan tiap hari.
Nah tiap hari yang suami anda sukai.
Ya lama-lama bosen juga.
Bulan sekali.
Dua bulan sekali keluarin.
Kalau anda mengatakan ini loh.
Aku masak sendiri.
Spesial loh.
Aku belajar untuk bikin kamu happy.
Suami mau pak.
Ya.
Oleh karena itu.
Kembali kepada pertanyaan tadi.
Sebetulnya.
Wanita itu bisa milih.
Yang kedua.
Bagaimana supaya kita bisa milih pria tertentu?
Adalah dengan memperhatikan apa sih yang dia sukai.
Pria cenderung tertarik kepada wanita.
Yang bisa memberikan apa yang dia sukai.
Ya.
Dia sukai apa?
Terutama adalah perhatian.
Kemauan untuk sharing.
Kemampuan untuk sharing.
Dan bisa menenangkan.
Ketika gelisah.
Kadang-kadang kan pria itu begitu.
Kalau sedang stres.
Beda pria dengan wanita.
Kalau pria sedang stres.
Diam.
Merengut.
Kadang-kadang kemana saja.
Pria tidak diam.
Nah kadang-kadang.
Sang wanita itu.
Ketika pria diam.
Dia salah.
Kamu diam sama aku nih.
Kenapa sih?
Ngomong.
Dia makan malah sampai diam.
Ngomong.
Kamu marah ya sama aku.
Jadi dia sebetulnya.
Tidak marah sama si wanita ini.
Karena dideset-deset terus.
Malah jadi marah.
Jadi.
Kalau sudah diam begini.
Duduk saja di sebelahnya.
Santai-santai.
Tenang-tenang.
Nanti di bahasanya.
Dia akan ngomong sendiri.
Ya.
Nah.
Jadi pria dan wanita itu.
Sebetulnya punya cara yang berbeda.
Untuk menyampaikan satu masalahnya.
Tetapi sebetulnya di dunia ini.
Yang berkuasa itu.
Sebetulnya wanita.
Kalau saya melihat loh.
Di dalam dhamma sendiri pernah sang Buddha katakan begini.
Kalau dilihat.
Dunia ini.
Semua pria menjadi raja.
Menjadi nabi.
Menjadi orang hebat-hebat.
Binatang di dunia.
Yang hebat juga seperti yang jantan.
Gajah yang bergading hebat.
Jantan.
Merah yang berbulu hebat.
Jantan.
Apalagi.
Singa yang berbulu hebat.
Jantan.
Kijang yang bertanduk bagus.
Jantan.
Jantan.
Tapi sang Buddha mengatakan.
Semua pimpinan dunia.
Dan binatang yang bagus-bagus itu.
Tidak akan ada di dunia kalau tidak ada wanita yang melahirkan.
Jadi sebetulnya yang pegang kuasa siapa?
Wanita loh.
Yang melahirkan orang-orang hebat adalah wanita.
Yang melahirkan gajah-gajah yang hebat juga gajah betina.
Ya.
Nah.
Yang memilih pasangan hidup.
Sebetulnya juga wanita.
Pria itu kan cuma nyoba loh.
Coba.
Seruduk.
Bisa gak?
Eh ditolak ya.
Ganti.
Seruduk yang lain.
Eh ditolak.
Ganti.
Seruduk yang lain.
Itu.
Ya.
Mungkin ini sudah bisa menjawab pertanyaan tadi ya.
Ya.
Pertanyaannya itu tadi.
Ya.
Bagaimana menyadarkan kata-kata misalnya dari cara berpikir kebiasaan.
Mengajak pasangan hidup ikut suatu agama tertentu atau mengikuti ritual tertentu.
Itu sebetulnya harus dengan perubahan perilaku kita sendiri.
Misalnya sebelum kenal agama Buddha.
Apakah anda sudah lebih baik?
Ataukah anda sebelum kenal agama Buddha lebih jahat daripada sekarang?
Kalau dulu baik.
Setelah kenal agama Buddha.
Anda malah menjadi orang yang emosi, galak, pencemburu.
Orang gak akan tertarik sama agama Buddha.
Kenapa?
Nah contohnya sudah jelas.
Dulu orangnya dulu baik.
Setelah kenal agama Buddha malah pemarah.
Emosi cemburuannya besar.
Egonya besar.
Kemauannya keras sekali.
Kalau gak dituruti marah-marah.
Males ikut agama Buddha.
Ikut agama lain saja.
Tapi kalau ketika anda.
Dulu sebelum ikut agama Buddha.
Anda lebih jelek.
Atau yang dulunya sabar.
Setelah ikut agama Buddha.
Menjadi lebih sabar.
Dulunya pemarah.
Setelah kenal agama Buddha.
Anda menjadi jarang marah.
Dulunya anda pendendam.
Setelah kenal agama Buddha.
Menjadi tidak mendendam.
Dulunya tidak jujur.
Setelah kenal agama Buddha.
Menjadi lebih jujur.
Maka pasangan hidup anda pasti akan tertarik.
Dengan agama Buddha.
Karena melihat.
Pasanganku ini dulu jelek.
Jahat.
Sekarang kok jadi baik.
Itu otomatis akan berubah sendiri.
Tanpa anda harus iklan.
Ayo ikut agama ini.
Ikut ikut.
Ikut perilakunya saja.
Jelek.
Itu sama dengan orang tua.
Yang mengajari anaknya.
Sambil merokok.
Dia mengatakan.
Nak.
Kamu gak boleh ya.
Merokok ya.
Sambil merokok.
Dia mengatakan.
Anak gak boleh merokok.
Siapa anak yang akan murun.
Tapi.
Kalau sudah anda merokok.
Kemudian mengatakan kepada anaknya.
Jangan merokok.
Pasti anaknya murun.
Kalau perilaku anda sudah baik.
Setelah kenal agama Buddha.
Orang akan tertarik sendiri.
Kepada anda.
Tanpa anda harus menarik.
Nah.
Oleh karena itu.
Sudara-sudara.
Sekarang renungkanlah.
Di dalam diri anda masing-masing.
Berapa lama anda kenal satu agama.
Kenal agama satu tahun.
Sudahkah.
Dalam satu tahun ini.
Ada perubahan di dalam perilaku anda.
Kalau ada perubahan di dalam perilaku anda.
Agama itu bermanfaat untuk anda.
Tetapi kalau dalam setahun ini.
Anda tidak ada perubahan perilaku.
Yang dulunya jelek.
Ya tetap jelek.
Yang dulunya pencemburu.
Ya tetap pencemburu.
Berarti agama itu.
Hanya anda jadikan.
Sasaran upacara.
Pabja.
Tidak ada artinya.
Kalau sudah begitu.
Orang tidak akan tertarik.
Kepada anda.
Oleh karena itu.
Cobalah.
Marilah kita sekarang masing-masing.
Merenungkan.
Perbuatan apa yang telah kita lakukan.
Dalam sekian masa kehidupan kita.
Jangan sampai.
Umur sudah bertambah setahun.
Setelah kenal agama.
Umur tambah.
Daging bertambah.
Tetapi.
Kebijaksanaan kita tidak bertambah.
Pergita bertambah.
Dagingnya bertambah.
Dan kebijaksanaannya bertambah.
Berarti anda.
Sudah bisa memanfaatkan kehidupan ini.
Sekarang hari ini.
Kita berkumpul di tempat ini.
Setelah pulang nanti.
Bisakah anda.
Menggunakan kemampuan.
Atau pengetahuan.
Yang anda peroleh disini.
Untuk kehidupan rumah tangga anda.
Anda duduk disini sekian lama.
Ada manfaatnya.
Tetapi kalau pulang ke rumah.
Sama istri.
Sama suami.
Masih geger terus.
Sudah gitu geger-geger.
Diam-diaman.
Tidak mau ngomong sama-sama.
Senyum saja tidak mau.
Diam.
Pakatannya.
Aku kalau senyum.
Aku kan tidak salah.
Nanti kalau aku senyum.
Dia nanti bikin kesalahan lagi.
Kalau sekarang sama pasangan hidupnya.
Tidak mau berdana senyuman.
Senyum itu tidak beli.
Anda tidak beli.
Apa-apa senyum.
Disenyum juga tidak berbiaya.
Yang tidak beli.
Anda jual mahal sekali.
Bahkan kepada pasangan hidup anda.
Apa rumah tangga mau bahagia.
Kalau caranya begitu.
Jadi kalau sekarang.
Anda sudah bermasalah.
Kemudian diam-diaman sampai dua hari.
Tiga hari, seminggu.
Tidak ada yang mau senyum.
Berarti pertemuan kita pada siang hari ini.
Tidak ada manfaatnya.
Tapi kalau sekarang.
Diam-diaman.
Langsung anda senyum dulu.
Kalau diam begini.
Aku takut.
Kamu mengerikan.
Kalau diam begini.
Coba senyum.
Coba ikuti aku senyum.
Aku tidak mau senyum-senyum.
Aku tambah takut.
Kamu jangan senyum-senyum.
Sekarang senyum di sini mahal.
Tidak boleh lagi.
Apa senyum mau dipacekin juga.
Lama-lama pasangan hidup.
Kamu ini menjengkelkan.
Akhirnya senyum.
Akhirnya akrab.
Kalau anda bisa mengatasi permasalahannya seperti itu.
Berarti pertemuan pada siang hari ini.
Akan bermanfaat.
Karena senyum itu tidak beli.
Saudara-saudara punya semua.
Dari bayi punya.
Jangan mahal-mahal jual senyuman.
Berikan senyuman kepada siapapun juga.
Terutama kepada pasangan hidup kita.
Apakah perkahwinan pada usia 35 tahun bermasalah?
Tidak ada batasan usia.
Masalah bukan karena umur.
Masalah karena kita tidak mau menerima dia sebagaimana adanya.
Sehingga walaupun baru 16 tahun.
Juga bisa bermasalah.
Kamu kok begini.
Kamu kok begitu.
Selama seseorang tidak bisa menerima pasangan hidupnya.
Sebagaimana adanya.
Dia pasti bermasalah.
Walaupun usia perkahwinannya sudah sampai kawin emas.
Sudah 70 tahun.
Tetap bisa bermasalah.
Dan anda ingat.
Ini satu cerita tentang karma ya.
Cinta dan benci.
Sebetulnya mengumpulkan seseorang.
Kenapa demikian?
Karena cinta dan benci itu sama-sama mencari.
Anda senang sama kucing anda.
Maka begitu nanti pulang dari tempat ini sampai rumah.
Mana ya kucingmu?
Cari kucing.
Ya kan?
Setelah ketemu, didetek jatengi, dilus-lus.
Anda cinta sama anak anda.
Begitu datang ditanya anak anda.
Atau anda telepon langsung anak anda.
Bagaimana kabarnya?
Cinta itu mencari.
Tapi benci juga mencari.
Anda benci sama nyamuk.
Anda masuk kamar.
Yang dicari pertama adalah.
Nyamuk.
Mana nyamuk?
Tepok.
Anda benci dengan kecoa.
Maka ketika anda masuk kamar mandi.
Yang pertama dicari kecoa.
Anda benci cicak.
Mencari adalah cicak.
Cinta dan benci mencari.
Karena itu.
Kalau anda lihat di dalam masyarakat.
Ada pasangan hidup suami istri.
Yang dari pacaran akur.
Terus sampai meninggal.
Keinginannya sama.
Ide-idenya sama.
Tidak pernah tekcok.
Saling menyayangi.
Itu umur 35, umur 45 sama saja.
Tapi di dalam masyarakat.
Anda juga.
Sering melihat.
Sejak pacaran cekcok terus.
Tapi pacaran.
Cekcok.
Tapi pacaran putus.
Sebentar balik lagi.
Untuk cekcok lagi.
Akhirnya kawin.
Kawin juga.
Idinya cekcok terus.
Tapi punya anak.
Cekcok.
Punya lagi.
Terus cekcok.
Sampai akhirnya meninggal satu.
Meninggal satu.
Yang satu kesepian.
Tidak ada temannya cekcok.
Meninggal lagi.
Kenapa bisa demikian?
Yang pertama itu karena cinta.
Dia selalu mencari.
Maka dalam kelahiran yang berikutnya.
Dia menjadi suami istri yang saling mencari.
Akhirnya saling memuaskan kebahagiaan.
Saling melayani.
Saling mencintai.
Mencintai.
Jadi di dalam kehidupannya selalu cekcok.
Biar puas daripada musuhan beda rumah.
Kan repot.
Nyarinya waktu.
Buang tenaga.
Sudah.
Musuhnya ya di sebelah tidurnya ini.
Cekcok dari pagi sampai malam.
Melek mata pagi-pagi.
Ngapain pagi-pagi bangun?
Mau apa lagi kamu?
Tidur.
Sampai siang baru bangun.
Bangun kok siang-siang?
Males.
Bangun tidur 15 menit pagi dan malam.
Yang bisa untuk cekcok.
Nah karena itu.
Itu juga bukan masalah umur.
Itu adalah masalah pribadi.
Sekarang saudara-saudara.
Bagaimana mengatasi kalau terjadi percekcokan terus?
Kalau cinta terus kan tidak ada problem.
Tapi kalau cekcokan bermasalah.
Di dalam dhamma disebutkan.
Kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian.
Kalau anda terus dilayani cekcoknya.
Itu akan bermasalah.
Lalu gimana?
Kebencian berakhir dengan cinta kasih.
Anda bantu dia dengan kata-kata.
Semoga dia bahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Itu diucapkan terus.
Di dalam pikiran kita.
Walaupun pagi, siang, sore, malam cekcok terus.
Tapi gunakanlah sedikit waktu.
Pagi dan malam.
Untuk mengucap di dalam hati.
Semoga dia bahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Semoga dia bahagia.
Semoga semua makhluk bahagia.
Ucapkan itu terus.
Nanti lama-lama.
Cekcoknya kurang.
Lahir lagi tidak ketemu sama dia lagi.
Paling yang ketemu di pesawat.
Atau di mobil.
Atau di base.
Dia duduk di sebelah dan melakukan tindakan yang menjengkelkan.
Tapi yang ketemunya cuma di situ saja.
Anda duduk di pesawat sama-sama.
Sebulannya baunya seperti kambing.
Satu malam.
Duduk sama dia.
Jengkel.
Untunglah kehidupan ini.
Cuma ketemu sama dia sekali.
Sudah selesai.
Pernahkah Anda mengalami seperti itu?
Duduk di...
Di nonton film dan lain-lain.
Ketemu sebelah yang kalau zaman dulu masih suka merokok.
Ketemu sebelah yang kalau zaman dulu masih suka merokok.
Kita sudah tidak suka tapi tidak bisa ngomong.
Kita sudah tidak suka tapi tidak bisa ngomong.
Juga, bukan hanya memilih pasangan hidup.
Juga, bukan hanya memilih pasangan hidup.
Kalau kita mau lebih luas.
Anak.
Anak itu juga bisa karena cinta dan benci dia datang sebagai anak kita.
Anak itu juga bisa karena cinta dan benci dia datang sebagai anak kita.
Kalau karena cinta apa?
Waktu dihamil.
Dia.
Anak ini dikandung.
Usaha orang tua sukses.
Istrinya baik.
Semuanya lancar.
Wah, tambah bahagia.
Wah, tambah bahagia.
Sebaliknya, anak dikandung.
Ibunya sudah sakit-sakitan.
Masuk rumah sakit
Muntah-muntah terus di infus dan sebagainya
Anak lahir
Hidungnya gak ada
Kemudian sakit-sakitan
Biaya rumah sakitnya besar
Kan juga ada
Di dalam masyarakat seperti itu
Anak berani sama orang tua
Itu karena dulunya ya kumpulnya
Cek cok terus begitu
Akhirnya sekarang jadi anaknya
Bayar hutang itu namanya
Ya karena itu hati-hati
Punya perasaan cinta
Anda boleh kembangkan
Tapi punya perasaan benci
Anda harus atasi
Karena nanti benci itu akan mengenai diri Anda sendiri
Kenapa demikian
Nanti kumpul lagi dengan orang yang Anda benci
Wah itu akan sangat-sangat
Menderita
Ya jadi bukan karena
35 tahun tapi karena memang
Tidak mau menerima patangannya
Sebagaimana adanya
Yang tergantung
Nyuruhnya ya
Ayo dicapu
Ayo dipel
Emangnya pembantu
Ya
Jadi pasangan hidup itu
Memang kita saling bekerja sama
Ya suami dan itu-itu punya
Tugas dan tanggung jawabnya masing-masing
Ada yang mengelola keluarga
Mengelola rumah tangga dan sebagainya
Jadi bisa saja disuruh
Tolong ya ambilkan minum
Bisa
Eh minum bawa sini
Itu kan pembantunya
Jadi
Kita bisa ngomong
Tolong ambilkan minum
Bahkan suami pun
Bisa juga kok cuci piring dan sebagainya
Itu tidak masalah
Cuci pakaian pun juga tidak masalah
Karena sebetulnya cuci pakaian cuci piring itu
Bukan milik wanita
Itu adalah milik rumah tangga
Sehingga pria dan wanita boleh saling bekerja sama
Saling membantu
Kenapa demikian
Di dalam dama disebutkan
Suami dan istri itu seperti
Seekor burung
Yang
Kepalanya dua
Di zaman dulu ada seekor burung itu kepalanya dua
Kiri dan kanan
Nah yang kanan ini dapet yang enak-enak terus
Yang kiri dapet yang gak enak-enak terus
Apakah yang enak
Misalnya burung ini terbang
Tinggap di pohon
Yang kanan ini dapet madu
Nah yang kiri
Dapet getah yang
Yang pahit
Nanti terbang lagi
Mendarat di satu pohon lagi
Yang kanan ini dapet madu
Yang kanan dapet buah yang manis
Yang kiri dapet buah yang asem
Terut begitu
Lama-lama gergetan kepala kiri ini
Aku ini hidup kok dapetnya susah
Terus kamu kok seneng
Terus udah
Nanti lain kali aku mau makan ratun
Bener
Mendarat lagi di satu pohon
Yang kanan dapet anggur yang manis
Yang kiri ada
Jamur beracun
Pengaja dia makan aja jamur beracun
Lagi
Akhirnya si burung ini sakit perut
Lalu burung kanan mengatakan
Kenapa ya kok kita sakit perut
Ya saya makan jamur beracun
Biar kamu tau rasanya gak enak itu gimana
Loh yang gak enak-gak enak kan
Badan kita kan satu
Ya kalau sekarang kita makan jamur beracun
Kita kan mati bareng ini namanya
Ya sungguhan mereka mati
Nah itu sama dengan kehidupan rumah tangga
Suami itu disebetulnya adalah dua kepala
Dua pribadi yang berbeda
Tetapi dia terikat
Di dalam satu ikatan perkahwinan
Di dalam satu keluarga
Sehingga perilaku yang satunya
Kalau bermanfaat
Dia akan memberikan manfaat untuk keluarga
Perilaku yang satunya
Kalau merugikan
Dia bukan hanya merugikan dirinya sendiri
Tapi juga merugikan keluarganya
Dengan demikian
Sebetulnya
Kalau kita mau misalnya
Lihat tadi pakaian kotor
Atau cuci piring
Bukan hanya milik wanita
Pria juga bisa bantu
Karena bantu menyucikan piring
Menyucikan pakaian
Atau ini bantu istrinya
Ini kan sama-sama kita membangun rumah tangga
Yang bahagia bersama
Kalau sekarang mau ngepelkan
Lantai rumah
Pria mau ngepel
Juga tidak apa-apa
Minggu-minggu libur
Mau ngepel rumah
Bantu-bantu istrinya
Tidak apa-apa
Itu istrinya sendiri
Bukan istrinya tetangga
Tidak ada problem
Jadi kita bisa bantu dia
Karena itu kita menyuruh pun
Juga tidak masalah
Tinggal caranya
Tolong ya
Aku sudah haus
Misalnya
Ayo kita sama-sama yuk
Nyapu
Bisa diturut demikian
Itu bukan karma buruk
Karena karma adalah niat
Niat kita tidak ingin membuat jahat kepada dia
Tapi menganggap ini sebagai rumah tangga
Yang bekerja bersama
Ya
Kemudian yang lain
Yang tidak pernah dia mengatakan kepadamu
Saya akan mempercayai
Iya
Kalau yang namanya cinta
Karena itu kan anda akan mencintai
Sebetulnya tidak ada penderitaan
Kenapa?
Karena anda berarti menganggap
Ya itulah
Memang dia begitu
Memang dia temperamen
Kenapa demikian?
Karena kalau kita lalu
Kenapa ya kamu kok temperamen?
Berarti kita tidak cinta
Karena kita mengharapkan dengan saya
Baik begini
Saya mengikuti begini
Kamu akan begini
Itu jual beli
Saya kasih duit
Kamu kasih barang
Saya kasih kesabaran
Saya mengikut
Saya nurut
Saya jadi orang baik
Kamu ngasih sabar
Itu jual beli
Padahal kalau mencintai apapun juga dia
Kita harus perbaiki
Nah temperamen
Ini tentu ada sebab
Kalau marah-marah tidak ada sebab
Itu orang sudah tidak warah
Kalau ada sebab
Berarti pasangan ini
Atau yang anda merasa mencintai dia
Anda berusaha menjaga kondisinya dong
Jangan malah disengaja
Nah kalau sekarang
Terlambat
Kan Jakarta sering macet
Terlambat
Anda berhenti sebentar
Kasih bunga
Duh kok terlambat
Aku tadi soalnya belikan kamu bunga ini
Lah
Kenapa?
Karena aku di jalan kok ingatnya?
Kamu
Terus jadi aku belikan bunga
Selesai
Dia juga merasa
Ini pasanganku baik juga ya
Nah dengan demikian apa?
Temperamennya ini bisa kita tekan sedikit
Kita tekan sedikit
Karena kita tidak mengkondisikan dia
Untuk menjadi orang yang keras
Ya
Ini saran saya begitu
Jadi kalau anda memang mencintai
Terimalah pasangan anda itu
Sebagaimana adanya
Dia galak
Dia temperamen itu memang adalah
Wataknya dia
Tetapi anda masih punya kekuatan
Untuk tidak mengkondisikan
Dia marah-marah terus-menerus
Kan sudah diganti
Tidak ada masalah
Ganti agama ya bagaimana lagi
Orangnya sudah kepastikan
Ganti agama
Ya sudah
Kan yang dia problemkan kan karena temperamennya
Ganti agama nanti kita akan
Di proses yang berikutnya
Sebetulnya agama ganti-ganti itu ya membingungkan
Karena agama
Karena agama itu kan bukan baju
Agama itu sebetulnya adalah kecocokan
Sehingga kalau kita ganti agama
Gara-gara pasangan hidup
Itu sering-sering justru di dalam batin itu
Menjadi kosong
Agama di dunia ini
Banyak macam agama
Sebetulnya yang benar dan salah kan kita tidak ada yang tahu
Buktinya apa
Semua agama dan jika mati masuk surga
Siapa saja yang mati masuk surga
Dan balik lapor kepada kita
Kalau ada yang balik
Itulah dia agama yang paling benar
Tapi kan itu kan janji-janji
Yang kita tidak pernah tahu
Nah jadi agama itu bukan masalah benar dan salah
Sebetulnya agama itu adalah kecocokan
Saya memilih agama Buddha
Karena saya cocok dengan agama Buddha
Saya jalani ini
Apakah yang lain salah itu urusan yang lain
Saya tidak cocok saja dengan yang lain
Ya
Nah kenapa demikian
Kalau ada agama yang salah
Pengikutnya agama tertentu itu
Sarjana ada yang profesor
Masa semua ikut salah
Masa semua di dunia ini
Agama itu tidak ada orang pintarnya
Enggak loh
Ya
Jadi agama bukan masalah benar dan salah
Tapi agama itu hanya kecocokan
Kalau sekarang sudah cocok ini
Kemudian ganti untuk cocok yang lain
Itu sebetulnya adalah orang yang sebetulnya
Belum mengerti tentang agamanya sendiri
Dia menganggap agama itu hanya seperti
Ya komoditas untuk pergaulan lah
Ya sehingga kita bergaul dengan si A
Karena agamanya berbeda
Jadi menurut si A
Nanti kalau dia bergaul dengan si B
Yang agamanya berbeda
Ya nanti dia ganti dengan si B
Agamanya si B
Kalau sejajarannya begini
Dia bukan beragama lagi
Dia hanya menganggap agama itu sebagai
Ya kalau Anda
Ketempat ini harus pakai pakaian yang sopan
Ya pakai pakaian sopan
Kalau nanti Anda di rumah pakai piyama
Ya pakailah piyama
Anda tidak bisa pakai piyama di tempat ini
Kan hanya seperti itu
Apakah agamanya seperti pakaian
Padahal agama itu kan jalan hidup
Untuk bisa menjadi jalan hidup
Dia harus cocok dulu dengan hati kita
Ya tapi tadi tidak kita soroti
Yang kita soroti adalah
Masalah wanita yang temperamen itu
Karena itu pertanyaannya
Iya
Ini menjadi pertanyaan terakhir
Atau masih ada pertanyaan tentang rumah tangga dulu
Kita selesaikan topiknya
Baru nanti yang di luar ini
Menjadi yang terakhir
Mungkin tentang rumah tangga dulu
Kalau ada
Ada yang rumah tangga
Sudah ada pertanyaan rumah tangga
Berarti semoga Anda bahagia semua
Nah sekarang tentang agama langit
Dan agama bumi
Sebetulnya itu hanya
Karena dipandang dari sudut yang berbeda
Fungsi agama sebetulnya apa
Fungsi agama adalah
Mengajak mendorong seseorang
Untuk melakukan perilaku yang baik
Karena itu
Seperti yang tadi sudah saya sampaikan
Selama sekian lama Anda kenal suatu agama
Sudahkah Anda menjadi baik
Kalau sekian lama Anda kenal agama
Sudah menjadi baik
Maka sebetulnya
Agama itu cocok untuk Anda
Nah
Kalau sekarang
Agama bumi, agama langit
Itu sebetulnya hanya karena motivator saja
Nah
Seseorang bisa berbuat baik
Itu motivatornya agama
Agama ini
Kemudian
Dengan ceritanya masing-masing
Ada agama yang katanya diturunkan dari
Agama yang diturunkan dari
Langit
Berupa wahyu itu
Ya itu yang disebut agama langit
Nah agama buddha
Karena dicapai sendiri
Itu dianggap sebagai agama bumi
Diturunkan dari langit
Ataupun dicapai sendiri
Itu kan katanya buku
Siapa yang menjadi saksi
Itu kan bukunya yang ngomong
Bukunya mengatakan ini diturunkan dari langit
Yang bukunya mengatakan
Ini dicapai sendiri
Yang penting sekarang agama itu
Bermanfaatnya
Tidak untuk anda
Anda bisa menjadi lebih baik
Dengan agama itu
Kalau sudah bisa lebih baik
Itu sudah bermanfaat dari langit atau tidak
Tidak tahu kita
Kalau agama itu dari langit
Misalnya kita dapat wahyu
Berapa orang di dunia ini bisa mengatakan
Juga dapat wahyu
Lisensi apa yang mengatakan harus si A
Yang dapat wahyu, si B tidak boleh
Ya
Saya tadi malamnya dapat wahyu
Bisa saja itu
Tapi kenapa?
Kenapa tidak boleh?
Nah, jadi ini sebetulnya hanya motivatornya saja
Anda percaya itu silahkan
Tidak percaya ya tidak apa-apa
Agama langit atau agama bumi
Itu sebetulnya hanya katanya buku
Yang paling penting adalah perubahan perilaku
Mengatakan agama langit
Kalau perubahan perilakunya tidak ada
Apakah itu bermanfaat?
Walaupun dari langit tapi tidak ada manfaatnya?
Untuk manusia
Mengatakan dari langit tapi perubahan perilakunya ada
Baru mereka bermanfaat
Mengatakan dari bumi
Dipraktekan tidak ada
Tidak pernah praktek
Tidak ada manfaatnya lah
Untuk apa dari bumi?
Mestinya kan dari bumi kan untuk manusia di bumi
Dari langit mestinya kan untuk makhluk langit
Itu kan lebih gampang
Ya
Nah, tapi kan
Itu pokoknya yang penting sekarang
Apakah bermanfaat untuk manusianya ini sendiri?
Ya
Saya kira begitu saja
Jadi agama itu kembali kepada ketocokan
Oleh karena itu
Di dalam diskusi dan lain sebagainya
Saya selamanya tidak pernah menanyakan
Kamu agamanya apa?
Karena menanyakan agama seseorang
Itu sama dengan menanyakan
Gajimu berapa sih?
Itu terlalu pribadi sekali
Karena agama itu adalah milik pribadi
Pendorong manusia
Seseorang untuk melakukan kebaikan
Agama apapun juga
Itu sebetulnya yang penting kita kan kumpulnya orang-orang baik
Bukan kumpulnya harus agama A atau agama B
Jangan sampai karena satu pembicaraan
Dulunya akrab sekali begitu agamanya apa?
Oh kok gak cocok sama saya ya?
Kok gak sama?
Terus diem-dieman
Terus jauh-jauhan
Untuk apa?
Kita dikotak-kotakan oleh agama
Sudah terlalu banyak pengkotaan yang ada dalam masyarakat
Ya
Di kelas dikotakan dengan pinter dan hudu
Kumpulnya sudah berbeda
Di dalam masyarakat ada kaya dan miskin
Di dalam gaulan kadang-kadang ada kotak yang lain, kotak yang lain, kotak yang lain
Kenapa sekarang harus dikotakkan lagi dengan agama?
Kalau agama itu bisa mengkotakkan seseorang
Berarti agama itu tidak bersifat universal
Oh agama ini hanya cocok untuk kelompok A
Yang bisa masuk surga hanya kelompok A
Berarti agama itu tidak universal
Untuk apa harus diikuti?
Masuk surga harus ikut kelompok A
Berarti disana tuh ada
Surga itu kan ada couplingnya kan?
Nanti kalau masuk surga ditanya
Kamu agamanya apa A?
Oh kamu surganya sana
Kamu agamanya apa B?
B surganya sana
Kamu agamanya apa?
Agamanya C
Surganya yang lain lagi
Kalau surga sudah di coupling-coupling begitu sudah tidak universal
Berarti gak usah berbuat baikat
Saya ikut agama tertentu nanti masuk surga
Itu kan menjadi aneh
Ya padahal agama kan harusnya universal
Siapa saja bisa praktek
Siapa saja bisa pakai
Siapa saja bisa menghasilkan sesuatu yang sama
Siapa saja bisa menghasilkan sesuatu yang sama
Ya karena itu jangan
Hentikan pertanyaan yang mengatakan
Kamu agamanya apa?
Kamu agamanya apa?
Hentikan ngomongan itu karena itu
Tidak membawa manfaat apapun juga untuk anda
Kalau anda senang dengan agama Buddha
Buktikan bahwa anda bisa lebih baik sebagai umat Buddha
Orang akan tertarik sendiri dengan anda
Ya daripada anda dipromosi
Aku umat Buddha, umat Buddha
Tapi perilakunya malah tidak karu-karuan
Malah memalukan agama Buddha
Ya saya kira begitu saja
Mungkin ini sebagai pertanyaan
Pertanyaan terakhir
Karena mungkin anda harus
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya