0:07 Pertanyaan saya, kalau seseorang terjebak di dalam sebuah pola perkahwinan di mana dia yang dicintai,
0:17 dan yang lebih buruk lagi, setelah pernikahan itu berjalanan berapa tahun,
0:25 si istri atau suami itu yang ditunjukkan cintai tidak lagi menunjukkan kehargaan perkahwinan,
0:33 berkali yang merupakan tidak tambah, kenapa dia bisa menunjukkan apa saja itu.
0:39 Ya, ini memang sulit ya kasusnya, karena sudah dicintai pertamanya,
0:49 dicintai kemudian berubah, apa yang bisa mempertahankan perkahwinan itu?
0:54 Sebetulnya yang nomor satu adalah,
0:56 adalah bahwa menyadari perkahwinan ini kan sebetulnya hanya sekali seumur hidup,
1:02 normalnya ya, normalnya, artinya bisa saja, ada yang dua kali, tiga kali, empat kali, sepuluh kali, silakan.
1:10 Tetapi pada umumnya, perkahwinan ini hanya sekali, lalu kita bertanya,
1:15 visi kita untuk hidup ini apa sebetulnya?
1:19 Hidup berumah tangga adalah mencari teman hidup.
1:24 Sekarang mungkin pasangan saya sudah tidak mencintai,
1:26 mencintai saya lagi, mampukah dia menjadi teman hidup saya, mampukah saya untuk sharing bersama,
1:33 artinya, ya kita saling berbagi masalah lah bersama-sama,
1:37 atau mungkin kalau sudah punya anak, mampukah teman hidup saya ini untuk membesarkan anak bersama-sama?
1:44 Kalau memang masih mampu dikerjakan, jalani.
1:47 Sehingga kita melihat tujuan perkahwinan itu secara yang lebih besar,
1:52 bukan lagi saya mau kumpul dengan pasangan saya,
1:56 ini sekarang, yang sekarang sudah berubah, dulunya mencintai, sekarang sudah tidak mencintai saya lagi,
2:02 tetapi saya sekarang melihat perkahwinan ini dari konteks yang lebih besar,
2:07 yaitu bagaimana mendidik anak saya, atau bagaimana saya menjaga hubungan antara dua keluarga.
2:16 Kenapa demikian?
2:17 Karena perkahwinan bukan hanya menyatukan si A dan si B, dua pribadi,
2:25 tetapi,
2:27 mengenyatukan keluarga si A dan keluarga si B yang cukup besar.
2:33 Jangan sampai nanti karena perkahwinan si A dan si B ini,
2:37 dua keluarga yang dulunya tidak kenal, malah sekarang jadi bermusuhan.
2:42 Anda sering tentu melihat di dalam masyarakat, dalam kehidupan sehari-hari,
2:47 pasangan rumah tangga yang kacau balok, akhirnya antar mertua, antar besan, cek cok.
2:54 Kemudian,
2:55 ada iper-ipernya cek cok.
2:57 Ini kan sayang.
2:58 Kenapa?
2:59 Karena rumah tangga yang dulunya mestinya tidak saling mengenal, akhirnya kenal, dan akhirnya hanya untuk cek cok.
3:06 Nah,
3:07 karena kita lalu melihat visi dan misi kita, visinya apa?
3:13 Saya harus membuat kebahagiaan, karena rumah tangga ini harus dipertahankan.
3:17 Karena ada anak, dan ini menyatukan dua keluarga yang besar.
3:21 Kalau begitu, misinya apa?
3:23 Misinya,
3:24 kalau dulu dia pernah mencintai saya,
3:28 tentu ada unsur-unsur positif yang saya miliki, yang berharga untuk dia cintai.
3:36 Kalau sampai sekarang dia berubah,
3:41 berarti,
3:43 saya harus mengubah perilaku saya.
3:48 Karena tentu kualitas hidup saya, kualitas perilaku saya,
3:53 yang dulunya layak dia cintai itu, mungkin sudah tidak saya lakukan lagi.
4:01 Dulu waktu saya lebih rajin,
4:04 orang itu cinta sama saya.
4:07 Sekarang saya sudah mulai malas karena,
4:09 toh, dia sudah suka sama aku, ya sudah lah aku malas-malasan.
4:13 Nah, akhirnya dia cinta kepada orang yang lain.
4:15 Nah, itulah kita lalu memperbaiki kualitas diri kita, sehingga kita layak dicintai lagi.
4:23 Kalau selalu bertanya, kenapa dia mau tidak cinta aku?
4:26 Kenapa? Kenapa? Kenapa?
4:28 Akhirnya membuat kita harus memaksa orang lain cinta kita.
4:32 Tapi kalau kita mengatakan, oh memang dia sudah tidak cinta aku.
4:36 Kalau begitu, aku harus tingkatkan kualitas diriku,
4:40 sehingga saya layak mendapatkan cinta dia lagi.
4:44 Nah, oleh karena itu, untuk mengatasi kasus seperti itu,
4:48 kasus orang yang mencintai akhirnya berubah,
4:52 yang pertama adalah berusaha mempertahankan perkahwinan dengan unsur eksternal,
4:58 yaitu anak, anak yang sudah ada, atau keluarga, dua orang,
5:05 dua grup keluarga yang harus dipertahankan,
5:08 jangan sampai timbul berjejokan.
5:10 Kemudian yang kedua sebetulnya adalah unsur internal,
5:14 dan itu yang penting, dan itu yang harus terus dikembangkan,
5:17 baik pasangan hidup yang masih akur,
5:20 ataupun yang sudah bermasalah,
5:22 yaitu setiap saat selalu berpikir,
5:24 bagaimana saya meningkatkan kualitas diri saya yang dia paling sukai.
5:31 Kalau dia suka saya senang diajak sharing,
5:36 berarti aku harus terus meningkatkan kemampuan saya
5:41 untuk bisa terus diajak sharing kepada dia,
5:45 mungkin sharing pekerjaan, sharing rumah tangga, dan sebagainya.
5:48 Kalau dia senang saya,
5:50 karena saya bisa memperhatikan kebutuhan dia,
5:55 maka inilah yang harus saya tingkatkan,
5:57 kualitas perhatian saya kepada pasangan hidup kita.
6:01 Dengan demikian, kalau dulu pernah dia cinta pada saya,
6:05 maka dia akan punya kesempatan kembali mencintai saya.
6:10 Kalau sekarang dia masih cinta pada saya,
6:13 maka kesempatan dia untuk tidak cinta kepada orang lain,
6:18 atau kesempatan dia untuk tidak cinta pada diri kita,
6:22 menjadi tidak ada lagi.
6:24 Karena kita akan selalu mengikat dia,
6:26 bukan dengan paksaan, bukan dengan ancaman,
6:32 tetapi kita mengikat dia dengan kebajikan yang kita miliki,
6:37 kualitas hidup kita yang baiklah,
6:39 yang kita terus berikan untuk dia.
6:43 Begitu?
6:45 Cukup atau masih ditambah?
6:47 Silakan.
6:48 Menanggapi masalah yang ini ya,
6:51 bukan menambah masalah yang baru.
7:41 Sebetulnya bukan hanya pasangan itu yang pembosan,
7:45 kita semua itu lho, pembosan.
7:50 Semua makhluk, semua orang itu pembosan.
7:55 Contoh, rambut Anda.
8:01 Kecil sampai hari ini,
8:03 apa tetap potongannya seperti itu?
8:06 Apa dari dulu sisirannya ya begitu, terus?
8:10 Anda sendiri juga bosen lho?
8:12 Hah, bosen ah?
8:13 Nanti rambutnya model begini.
8:16 Apakah sepatu Anda dari dulu sampai hari ini,
8:18 sampai jebual nanti, apakah itu, terus?
8:21 Tidak.
8:23 Apakah makanan Anda?
8:24 Anda suka makan apa?
8:26 Misalnya nasi goreng.
8:27 Setiap hari makan nasi goreng, terus 20 tahun.
8:31 Kalau sampai ada yang tidak bosen dengan nasi goreng,
8:34 makan tiap hari 20 tahun,
8:37 saya mau belajar juga ilmunya sama dia.
8:41 Itu termasuk orang luar biasa.
8:44 Anda sendiri bosen.
8:46 Ada yang buka toko di sini?
8:50 Ada?
8:51 Siapa yang buka toko coba?
8:53 Yang buka toko, bukan yang kerja ikut orang.
8:55 Buka toko, ada?
8:57 Tidak ada?
8:58 Ada, mana ada Pak?
9:00 Satu.
9:01 Hanya satu orang.
9:03 Satu lagi.
9:05 Nah, banyak.
9:06 Para Bapak Ibu yang buka toko,
9:09 Anda kan tahu kalau buka toko itu dapat duit.
9:14 Tetapi, pernah tidak Anda kalau pagi bangun tidur,
9:17 merasa malas buka toko?
9:20 Pernah tidak?
9:22 Aduh, mau buka toko lagi ya?
9:24 Tapi Anda merasa ada tanggung jawab.
9:29 Kalau aku tidak buka toko,
9:31 nanti tidak dapat duit hari ini.
9:34 Saya yakin dalam hidup Anda sekian puluh tahun Anda buka toko,
9:38 perasaan itu pasti ada.
9:40 Tidak mungkin tidak ada.
9:43 Itu yang buka toko yang dapat duit.
9:46 Nah, sekarang dengan pasangan hidup yang di sebelahnya terus,
9:51 melek mata ketemunya ini.
9:53 Melek mata ketemu lagi.
9:55 Melek mata puluhan tahun apa yang tidak bosen.
9:58 Nah, oleh karena itu,
10:01 kembali lagi pada saran saya yang pertama.
10:05 Meningkatkan kualitas diri kita.
10:09 Kenapa demikian?
10:11 Seseorang,
10:13 kalau mengikat pasangan hidupnya hanya dengan fisik,
10:17 dia tidak akan pernah berhasil.
10:21 Karena fisik itu umurnya terbatas sekali.
10:28 Kecantikan seseorang,
10:29 kegantengan seseorang itu hanya terbatas oleh usia.
10:33 Tapi mengikat orang itu adalah dengan kualitas batin.
10:40 Ada hal-hal yang harus kita tingkatkan supaya pasangan hidup kita itu bahagia.
10:46 Bagaimana caranya supaya dia bahagia?
10:49 Dia sukanya apa?
10:51 Kita ikuti.
10:53 Bosen itu pasti.
10:56 Ibu rumah tangga tiap hari mikir masanya ganti terus.
11:01 Kenapa?
11:03 Karena kalau terus,
11:05 masanya hanya nasi goreng tiap hari.
11:07 Mesti bosen.
11:08 Jadi nasi goreng.
11:09 Besoknya masak apa lagi ya?
11:11 Itu kan ibu-ibu mikirnya itu kan sampai rambut rontok lebih awal.
11:15 Mikirin bapaknya ini besok makan apa,
11:18 dimasakkan apa.
11:19 Itu sudah selalu.
11:20 Kenapa?
11:21 Karena manusia adalah pembosan.
11:23 Termasuk dengan pasangan hidupnya.
11:25 Justru karena itu kita mencoba.
11:29 Selalu ada variasi dalam hidup.
11:33 Bagaimana variasi dalam hidup?
11:35 Misalnya diajarkan di dalam dhamma.
11:40 Sebaiknya suami istri itu ada pujiannya.
11:52 Nah.
11:53 Terutama suami sebaiknya sering memuji istri.
11:58 Kenapa?
11:59 Saya dulu pernah berpikir ini kok sang Buddha
12:05 menunjukkan jalan kepada suami tugas yang pertama adalah memuji istri.
12:13 Kenapa ya?
12:15 Itu merenungnya lama.
12:17 Lalu saya renung-renung.
12:18 Oh.
12:20 Memang wanita itu pinknya agak tipis.
12:29 Jadi perlu sedikit perhatian.
12:33 Sayangnya bapak-bapak bibirnya
12:37 terlalu berat.
12:41 Misalnya istri pakai baju yang bagus.
12:48 Kadang-kadang bapak itu diam.
12:49 Pria itu cenderung kalau baik dijiemin.
12:54 Kalau jelek baru diomelin.
12:55 Kalau wanita tidak begitu.
13:00 Baik diomongin.
13:02 Dipuji.
13:04 Jelek meritiknya pelan-pelan.
13:08 Bisa emosi.
13:10 Nah.
13:11 Jadi bagaimana?
13:12 Pakai baju baru.
13:14 Seorang pria harus mengatakan kepada istrinya.
13:19 Wih.
13:20 Hebat bener nih penampilan hari ini.
13:23 Loh.
13:24 Istri sudah happy itu.
13:26 Padahal baru omong begitu.
13:28 Karena kuping itu luar biasa tipis bagi wanita.
13:34 Buktinya apa?
13:35 Bapak-bapak kalau istri sudah bertanya.
13:37 Pak.
13:38 Pak.
13:39 Aku masih cantik enggak pak?
13:42 Kalau bapak-bapak sudah ditanyain istri seperti itu.
13:45 Harus siap jawabnya.
13:48 Aku kecantikan fisik enggak penting.
13:51 Karena kecantikan fisik bersifat sementara.
13:58 Tapi batinmu itu yang happy.
14:01 Aku suka itu karena kamu penuh tanggung jawab.
14:04 Penuh ini, penuh itu.
14:06 Wah itu.
14:06 Baru istri lega.
14:08 Ya sudah pak.
14:09 Besok gigi gue ini sudah ompong semua.
14:10 Enggak usah dipaltu.
14:12 Wah ya kalau ngowos begitu ya.
14:15 Ada batunya dipaltu.
14:17 Jadi sebetulnya pujian ini penting.
14:21 Tetapi sekarang pujian itu jangan tiap hari sama.
14:24 Ini butuh kreativitas.
14:29 Hari ini penampilanmu bagus.
14:33 Tiap hari hari ini penampilanmu bagus.
14:35 Hari ini penampilanmu bagus.
14:37 Lama-lama aku punya pasangan hidup kaset apa ya.
14:43 Ketika hari ini tampilanmu bagus.
14:45 Besok bajunya lain lagi.
14:47 Gimana pak?
14:48 Hari ini bagus gak?
14:50 Hari ini kamu kelihatan lebih seger.
14:55 Besoknya lagi.
14:56 Hari ini bagus dan seger gak pak?
14:58 Enggak.
14:59 Hari ini kau lebih kelihatan menarik.
15:01 Loh.
15:02 Macem-macem bahasanya bisa dibuat yang aneh-aneh.
15:06 Hari ini aku seger, menarik, bagus.
15:13 Loh.
15:14 Hari ini mengagumkan, seger, menarik, bagus.
15:18 Enggak semua.
15:19 Sudah enggak laku itu semua.
15:22 Lalu apa?
15:24 Membuat aku inget 17 tahun yang lalu.
15:29 Ketika kamu masih usia yang lebih muda.
15:31 Aduh, aku lihat kamu ini deg-degan loh.
15:34 Lah.
15:35 Jadi, macem-macem.
15:37 Nanti kalau istrinya pinter sebetulnya loh.
15:39 Apa kamu sekarang enggak deg-degan?
15:41 Orang enggak deg-degan kan berarti mati loh sebetulnya.
15:44 Tapi biasanya wanita sudah enggak berpikir jauh ke situ aja.
15:47 Iya, iya, iya.
15:48 Bagus, jalan terus.
15:49 Nah, ini adalah bahasa yang kreatif.
15:53 Sebetulnya juga disarankan.
15:56 Pria dan wanita, suami istri, gunakanlah waktu 15 menit pagi bangun tidur.
16:02 Dan malam mau tidur, itu berbicara urusan suami istri.
16:07 Anda nanti yang sudah suami istri, coba Anda renungkan di dalam kehidupan Anda hari-hari.
16:12 Anda itu menganggap pasangan Anda sebagai pasangan hidup ataukah sebagai teman kerja.
16:18 Itu dilihat pada waktu bangun tidur dan mau tidur.
16:22 Bangun tidur melek mata.
16:25 Hari ini tukangnya masuk enggak ya?
16:28 Hari ini kiriman barang apa saja ya?
16:32 Hari ini ceknya yang mana ya yang jalan?
16:34 Itu berarti pasangan hidup Anda adalah teman kerja Anda.
16:38 Bukan pasangan hidup Anda.
16:40 Mau tidur, blek.
16:43 Pintu-pintu sudah dikunci belum ya?
16:46 Tadi mobil sudah dimasukkan garasi belum ya?
16:50 Kompor sudah dimatikan belum ya?
16:51 Itu pasangan hidup Anda adalah sopir Anda atau pembantu rumah tangga Anda.
17:04 Kualitas suami istri Anda, kehidupan rumah tangga Anda dicek dari 15 menit mau tidur dan akan tidur.
17:11 Ketika mau tidur ngomong, aduh sebetulnya malam ini aku enggak kepingin tidur.
17:16 Lu kenapa?
17:19 Sayang.
17:20 Dalam bahasa Jawa Timurnya, iman.
17:24 Lu kenapa?
17:25 Karena begitu aku merem, aku enggak lihat wajahmu lagi.
17:32 Waduh itu pasangan itu rasanya tidurnya enak.
17:35 Ngimpinya mesti yang indah-indah.
17:38 Tapi jangan tiap malam yang diomong itu terus.
17:46 Ya yang pertama enak.
17:48 Tapi yang kedua, ketiga lama-lama gombal.
17:52 Jadi besoknya lain lagi.
17:58 Mau tidur, aku senang.
18:03 Punya pasangan hidup kamu dan aku enggak salah.
18:08 Membuat tidurku selalu nyenyak.
18:11 Mimpiku selalu indah.
18:13 Karena aku selalu mimpi jalan-jalan sama kamu.
18:16 Karena engkau orang yang terakhir yang selalu aku lihat dengan mataku ini.
18:20 Dan engkau juga orang pertama yang aku lihat pada pagi hari.
18:25 Nah, jadi kita ganti omongannya.
18:28 Besoknya lagi ganti.
18:29 Itulah kreativitas.
18:30 Hanya dengan modal omongan itu, sebetulnya suami istri itu akan menjadi akrab.
18:36 Lima belas menit pagi.
18:38 Lima belas menit malam.
18:40 Gunakanlah hanya khusus omongan pada suami istri.
18:45 Pertama memang kadang-kadang suami istri yang belum terbiasa.
18:48 Kadang-kadang mengatakan gombal lah apalah.
18:51 Itu normal sekali.
18:52 Tapi hajar terus, ruduk terus, puji terus.
18:55 Lama-lama mau juga pak dia.
18:59 Sebenarnya dasarnya dari itu ya.
19:01 Karena itu sekali lagi.
19:03 Dia harus meningkatkan kualitas diri dia.
19:06 Ya, yang karena dia pembosen.
19:07 Itu normal semua orang.
19:10 Maka kita harus pandai bervariasi.
19:13 Ibu-ibu sebetulnya masak nasi tiap hari ya gitu.
19:16 Nasi goreng ya tiap hari gitu.
19:17 Tapi kan divariasi.
19:18 Hari ini ada timunnya.
19:20 Besok diganti lombok.
19:22 Besok diganti telur.
19:23 Itu sebetulnya adalah variasi supaya manusia itu tidak bosen.
19:28 Ya, kalau mau berbicara dhamma yang lebih tinggi.
19:32 Bosennya itu diamati.
19:34 Bosennya itu diperhatikan.
19:35 Sehingga akhirnya disadari menjadi lenyap.
19:38 Tetapi itu kalau dibahas menjadi cukup ruwet.
19:40 Yang saya sarankan adalah tetap meningkatkan kreativitas.
19:44 Terutama di dalam pembicaraan.
19:47 Ya, pembicaraan apa?
19:49 Pembicaraan pada saat memuji pasangan hidup kita.
19:54 Penting loh memuji itu.
19:56 Suami istri kalau tidak pernah saling memuji.
19:58 Rumah tangganya pasti kering.
20:01 Rumah tangganya itu tidak ada romantisnya.
20:06 Sama sekali.
20:07 Harus saling memuji.
20:10 Wah, engkau rambutnya sudah putih.
20:13 Kelihatan bijaksana loh.
20:16 Itu untuk tampil percaya diri.
20:18 Wah, putih bijaksana.
20:20 Wah, engkau ya kelihatan kerut-kerut mukanya.
20:24 Kamu ya tidak kalah bijaksana juga.
20:27 Tampilannya kelihatan keibuan.
20:29 Nah, dengan demikian akhirnya pujian-pujian itulah yang sebetulnya akan memberi manfaat.
20:34 Bapak-bapak kalau disediakan masaan.
20:35 Sama istri.
20:37 Berapa kali sudah pernah dibuji?
20:42 Biasanya sediakan masaan.
20:43 Ya, itu kan sudah kewajiban mau makan.
20:47 Kalau tidak enak.
20:48 Oh, tidak enak nih ini.
20:49 Baru ngomong.
20:50 Jadi yang enak itu sudah diomong.
20:52 Padahal kan ngomongnya juga tidak boleh.
20:55 Masa kamu hari ini lain loh.
20:58 Luar biasa nih.
20:59 Luar biasanya bagaimana?
21:01 Garamnya kebanyakan.
21:03 Tapi begitu ngomong.
21:05 Luar biasa.
21:06 Wah, itu cewek sudah kaget duluan.
21:07 Happy dia.
21:09 Garamnya kebanyakan.
21:10 Oh iya dah, besok saya kurangin.
21:12 Tapi kalau apa ini masaan kayak gini.
21:15 Guarang banyaknya.
21:16 Protek dia.
21:17 Puji sedikit.
21:18 Kasih kekurangannya.
21:20 Baru dia nanti lebih baik.
21:22 Begitu?
21:23 Ya, jelas?
21:25 Baik, pertanyaan lain.
21:29 Ada tertulis.
21:30 Silahkan.
21:31 Banyak tertulisnya.
21:32 Mau dibacain, boleh?
21:33 Tertulis wanita mungkin aneh.
21:39 Tidak selalu membeli.
21:43 Bukankah bukannya kuno?
21:51 Kuno.
21:52 Laki-laki yang punya hak memilih.
22:01 Salah.
22:03 Sesungguhnya wanita yang punya hak memilih.
22:06 Laki-laki lima orang yang datang.
22:12 Hanya satu yang dia pilih.
22:15 Ya kan?
22:17 Kuno.
22:20 Sebetulnya wanita yang punya hak memilih.
22:23 Wah, wanitanya diseruduk nggak mau.
22:26 Nggak kena kok.
22:29 Saudara-saudara.
22:32 Sekarang memang kadang ada yang sulit.
22:33 Bagaimana, Bante?
22:36 Kan wanita itu kan usia bertambah.
22:39 Pola pikir berbeda.
22:42 Maksudnya gimana?
22:44 Kalau di bawah 17 tahun, siapa saya?
22:48 Ya kan?
22:50 Wah, siapa saya nih?
22:51 Make up.
22:52 Oh, lihat nih.
22:54 Anak kan di bawah 17 tahun, cewek paling sombong-sombongnya.
22:58 Di atas 17 tahun, siapa dia?
23:03 Wih, cowok ganteng.
23:05 Wih, cowok ganteng.
23:06 Wih, cowok ganteng.
23:07 Di atas 17.
23:10 Itu milih, masa memilih.
23:13 Tapi kalau sudah di atas 35 tahun, siapa saja lah.
23:19 Daripada nggak dapet.
23:23 Itu kadang-kadang kan proses wanita bisa seperti itu.
23:27 Nah, mungkin yang jadi pertanyaan tadi adalah,
23:29 Nah, wanita kan nggak bisa milih.
23:31 Wanita kan hanya dicintai.
23:37 Salah, saudara.
23:39 Seorang wanita bisa dicintai karena pria melihat ada beberapa kualitas di dalam dirinya.
23:47 Memang tidak bisa dipungkiri.
23:50 Pria melihat wanita, yang pertama adalah fisik.
23:55 Ya.
23:57 Itu rata-rata.
23:58 Ada pria yang pertama nggak lihat fisik.
24:01 Kalau nggak lihat fisik, berarti di mall, di mana bilang,
24:04 Wah, ngadep ke depan.
24:06 Terus kayak pakai kacamata kuda.
24:10 Pria itu selalu lihat fisik.
24:12 Makanya di mall, di mana ngelirik cewek normal.
24:15 Itu cowok normal artinya.
24:17 Kenapa? Dia nggak harus mau kenalan sama cewek itu.
24:20 Cuma mau lihat.
24:21 Indah juga ya.
24:23 Hanya gitu saja. Simple.
24:25 Nah.
24:27 Karena itu yang dilihat pertama adalah fisik.
24:31 Apakah wanita lalu semua harus tampil luar biasa? Tidak.
24:36 Tapi paling tidak fisiknya jangan keplangetan.
24:42 Luar biasa anehnya.
24:45 Karena jarang pria punya pengen mengkoleksi wanita yang aneh bentuknya.
24:52 Jarang.
24:52 Ya, maunya yang normal-normal diajak kemana-mana pantas.
24:55 Tetapi fisik.
24:57 Itu hanya awal.
24:59 Pada yang berikutnya.
25:02 Level yang lebih dalam.
25:04 Pria bukan mencari fisik.
25:07 Sebetulnya mampu nggak?
25:11 Ceweknya ini diajak ngomong.
25:15 Bisa nggak diajak diskusi?
25:18 Bisa nggak diajak sharing?
25:21 Ketika saya ngomel, marah.
25:25 Bisa nggak dia menenangkan hati saya?
25:28 Ketika saya sedang stres.
25:31 Bisa nggak dia memberikan masukan kepada saya?
25:36 Itu yang paling penting.
25:38 Jangan cewek sudah cantik.
25:41 Hebat.
25:43 Diajak ngomong nggak nyambung.
25:46 Dibawa ke tempat temen-temennya memalukan.
25:50 Cowok maunya di situ.
25:53 Cowok ini soalnya apa?
25:54 Dia kepengen.
25:57 Seorang wanita yang bisa mengerti dirinya.
26:00 Karena itu.
26:01 Kalau tadi dikatakan.
26:03 Bagaimana wanita kan jatuh.
26:05 Jatuhnya dia yang dicintai.
26:07 Tingkatkan kualitas diri anda.
26:09 Yaitu apa?
26:10 Mengurangi ego.
26:11 Merilakan keegoanya.
26:13 Untuk memberikan perhatian kepada calon patangan hidupnya dia.
26:23 Wanita tahu kesenangannya si pria.
26:26 Makanan kesenangannya aja.
26:29 Nempel loh prianya itu.
26:31 Karena pria itu kan kadang-kadang kepengen dirawat.
26:35 Jadi suka makanan ini.
26:37 Seorang istri.
26:38 Ada baiknya.
26:40 Walaupun anda nggak bisa masak.
26:41 Karena istri zaman sekarang yang generasi rice cooker ini.
26:45 Kadang-kadang aja loh.
26:46 Yang masak nasi aja nggak bisa.
26:49 Semua rice cooker semua.
26:51 Sehingga kalau lampu mati nggak bisa bikin nasi.
26:55 Anda nggak perlu bisa masak yang hebat-hebat.
26:58 Satu macam masakan aja.
26:59 Tetapi yang suami anda sukai.
27:02 Dan keluarnya jangan tiap hari.
27:05 Nah tiap hari yang suami anda sukai.
27:08 Ya lama-lama bosen juga.
27:09 Bulan sekali.
27:12 Dua bulan sekali keluarin.
27:14 Kalau anda mengatakan ini loh.
27:16 Aku masak sendiri.
27:17 Spesial loh.
27:18 Aku belajar untuk bikin kamu happy.
27:21 Suami mau pak.
27:22 Ya.
27:23 Oleh karena itu.
27:24 Kembali kepada pertanyaan tadi.
27:27 Sebetulnya.
27:28 Wanita itu bisa milih.
27:31 Yang kedua.
27:33 Bagaimana supaya kita bisa milih pria tertentu?
27:36 Adalah dengan memperhatikan apa sih yang dia sukai.
27:41 Pria cenderung tertarik kepada wanita.
27:45 Yang bisa memberikan apa yang dia sukai.
27:50 Ya.
27:51 Dia sukai apa?
27:52 Terutama adalah perhatian.
27:54 Kemauan untuk sharing.
27:57 Kemampuan untuk sharing.
27:58 Dan bisa menenangkan.
28:00 Ketika gelisah.
28:01 Kadang-kadang kan pria itu begitu.
28:04 Kalau sedang stres.
28:07 Beda pria dengan wanita.
28:08 Kalau pria sedang stres.
28:10 Diam.
28:11 Merengut.
28:11 Kadang-kadang kemana saja.
28:17 Pria tidak diam.
28:18 Nah kadang-kadang.
28:19 Sang wanita itu.
28:21 Ketika pria diam.
28:22 Dia salah.
28:24 Kamu diam sama aku nih.
28:25 Kenapa sih?
28:26 Ngomong.
28:27 Dia makan malah sampai diam.
28:29 Ngomong.
28:29 Kamu marah ya sama aku.
28:30 Jadi dia sebetulnya.
28:32 Tidak marah sama si wanita ini.
28:33 Karena dideset-deset terus.
28:35 Malah jadi marah.
28:36 Jadi.
28:37 Kalau sudah diam begini.
28:39 Duduk saja di sebelahnya.
28:40 Santai-santai.
28:41 Tenang-tenang.
28:42 Nanti di bahasanya.
28:44 Dia akan ngomong sendiri.
28:46 Ya.
28:47 Nah.
28:47 Jadi pria dan wanita itu.
28:49 Sebetulnya punya cara yang berbeda.
28:52 Untuk menyampaikan satu masalahnya.
28:54 Tetapi sebetulnya di dunia ini.
28:56 Yang berkuasa itu.
28:58 Sebetulnya wanita.
28:59 Kalau saya melihat loh.
29:02 Di dalam dhamma sendiri pernah sang Buddha katakan begini.
29:04 Kalau dilihat.
29:06 Dunia ini.
29:09 Semua pria menjadi raja.
29:12 Menjadi nabi.
29:13 Menjadi orang hebat-hebat.
29:16 Binatang di dunia.
29:17 Yang hebat juga seperti yang jantan.
29:19 Gajah yang bergading hebat.
29:21 Jantan.
29:22 Merah yang berbulu hebat.
29:24 Jantan.
29:25 Apalagi.
29:26 Singa yang berbulu hebat.
29:28 Jantan.
29:29 Kijang yang bertanduk bagus.
29:31 Jantan.
29:32 Jantan.
29:32 Tapi sang Buddha mengatakan.
29:35 Semua pimpinan dunia.
29:38 Dan binatang yang bagus-bagus itu.
29:41 Tidak akan ada di dunia kalau tidak ada wanita yang melahirkan.
29:50 Jadi sebetulnya yang pegang kuasa siapa?
29:53 Wanita loh.
29:54 Yang melahirkan orang-orang hebat adalah wanita.
29:58 Yang melahirkan gajah-gajah yang hebat juga gajah betina.
30:02 Ya.
30:03 Nah.
30:03 Yang memilih pasangan hidup.
30:06 Sebetulnya juga wanita.
30:08 Pria itu kan cuma nyoba loh.
30:10 Coba.
30:11 Seruduk.
30:11 Bisa gak?
30:12 Eh ditolak ya.
30:14 Ganti.
30:14 Seruduk yang lain.
30:15 Eh ditolak.
30:16 Ganti.
30:17 Seruduk yang lain.
30:18 Itu.
30:21 Ya.
30:22 Mungkin ini sudah bisa menjawab pertanyaan tadi ya.
30:25 Ya.
30:26 Pertanyaannya itu tadi.
30:27 Ya.
30:32 Bagaimana menyadarkan kata-kata misalnya dari cara berpikir kebiasaan.
30:55 Mengajak pasangan hidup ikut suatu agama tertentu atau mengikuti ritual tertentu.
31:06 Itu sebetulnya harus dengan perubahan perilaku kita sendiri.
31:15 Misalnya sebelum kenal agama Buddha.
31:18 Apakah anda sudah lebih baik?
31:21 Ataukah anda sebelum kenal agama Buddha lebih jahat daripada sekarang?
31:26 Kalau dulu baik.
31:28 Setelah kenal agama Buddha.
31:30 Anda malah menjadi orang yang emosi, galak, pencemburu.
31:35 Orang gak akan tertarik sama agama Buddha.
31:38 Kenapa?
31:39 Nah contohnya sudah jelas.
31:41 Dulu orangnya dulu baik.
31:43 Setelah kenal agama Buddha malah pemarah.
31:45 Emosi cemburuannya besar.
31:46 Egonya besar.
31:48 Kemauannya keras sekali.
31:49 Kalau gak dituruti marah-marah.
31:51 Males ikut agama Buddha.
31:52 Ikut agama lain saja.
31:54 Tapi kalau ketika anda.
31:58 Dulu sebelum ikut agama Buddha.
31:59 Anda lebih jelek.
32:04 Atau yang dulunya sabar.
32:05 Setelah ikut agama Buddha.
32:06 Menjadi lebih sabar.
32:09 Dulunya pemarah.
32:10 Setelah kenal agama Buddha.
32:11 Anda menjadi jarang marah.
32:13 Dulunya anda pendendam.
32:15 Setelah kenal agama Buddha.
32:16 Menjadi tidak mendendam.
32:18 Dulunya tidak jujur.
32:21 Setelah kenal agama Buddha.
32:22 Menjadi lebih jujur.
32:24 Maka pasangan hidup anda pasti akan tertarik.
32:28 Dengan agama Buddha.
32:29 Karena melihat.
32:31 Pasanganku ini dulu jelek.
32:33 Jahat.
32:33 Sekarang kok jadi baik.
32:36 Itu otomatis akan berubah sendiri.
32:38 Tanpa anda harus iklan.
32:40 Ayo ikut agama ini.
32:41 Ikut ikut.
32:42 Ikut perilakunya saja.
32:44 Jelek.
32:44 Itu sama dengan orang tua.
32:46 Yang mengajari anaknya.
32:48 Sambil merokok.
32:49 Dia mengatakan.
32:50 Nak.
32:51 Kamu gak boleh ya.
32:52 Merokok ya.
32:54 Sambil merokok.
32:55 Dia mengatakan.
32:55 Anak gak boleh merokok.
32:57 Siapa anak yang akan murun.
32:59 Tapi.
33:00 Kalau sudah anda merokok.
33:01 Kemudian mengatakan kepada anaknya.
33:04 Jangan merokok.
33:06 Pasti anaknya murun.
33:07 Kalau perilaku anda sudah baik.
33:09 Setelah kenal agama Buddha.
33:11 Orang akan tertarik sendiri.
33:12 Kepada anda.
33:15 Tanpa anda harus menarik.
33:17 Nah.
33:17 Oleh karena itu.
33:18 Sudara-sudara.
33:19 Sekarang renungkanlah.
33:20 Di dalam diri anda masing-masing.
33:23 Berapa lama anda kenal satu agama.
33:26 Kenal agama satu tahun.
33:31 Sudahkah.
33:32 Dalam satu tahun ini.
33:33 Ada perubahan di dalam perilaku anda.
33:37 Kalau ada perubahan di dalam perilaku anda.
33:40 Agama itu bermanfaat untuk anda.
33:43 Tetapi kalau dalam setahun ini.
33:46 Anda tidak ada perubahan perilaku.
33:48 Yang dulunya jelek.
33:50 Ya tetap jelek.
33:51 Yang dulunya pencemburu.
33:52 Ya tetap pencemburu.
33:53 Berarti agama itu.
33:55 Hanya anda jadikan.
33:57 Sasaran upacara.
33:59 Pabja.
34:01 Tidak ada artinya.
34:04 Kalau sudah begitu.
34:06 Orang tidak akan tertarik.
34:07 Kepada anda.
34:08 Oleh karena itu.
34:10 Cobalah.
34:10 Marilah kita sekarang masing-masing.
34:13 Merenungkan.
34:14 Perbuatan apa yang telah kita lakukan.
34:16 Dalam sekian masa kehidupan kita.
34:19 Jangan sampai.
34:21 Umur sudah bertambah setahun.
34:23 Setelah kenal agama.
34:25 Umur tambah.
34:26 Daging bertambah.
34:29 Tetapi.
34:29 Kebijaksanaan kita tidak bertambah.
34:35 Pergita bertambah.
34:37 Dagingnya bertambah.
34:38 Dan kebijaksanaannya bertambah.
34:41 Berarti anda.
34:42 Sudah bisa memanfaatkan kehidupan ini.
34:46 Sekarang hari ini.
34:47 Kita berkumpul di tempat ini.
34:50 Setelah pulang nanti.
34:52 Bisakah anda.
34:54 Menggunakan kemampuan.
34:55 Atau pengetahuan.
34:57 Yang anda peroleh disini.
34:59 Untuk kehidupan rumah tangga anda.
35:01 Anda duduk disini sekian lama.
35:06 Ada manfaatnya.
35:08 Tetapi kalau pulang ke rumah.
35:10 Sama istri.
35:11 Sama suami.
35:11 Masih geger terus.
35:13 Sudah gitu geger-geger.
35:14 Diam-diaman.
35:15 Tidak mau ngomong sama-sama.
35:18 Senyum saja tidak mau.
35:19 Diam.
35:22 Pakatannya.
35:23 Aku kalau senyum.
35:24 Aku kan tidak salah.
35:25 Nanti kalau aku senyum.
35:26 Dia nanti bikin kesalahan lagi.
35:28 Kalau sekarang sama pasangan hidupnya.
35:31 Tidak mau berdana senyuman.
35:33 Senyum itu tidak beli.
35:36 Anda tidak beli.
35:37 Apa-apa senyum.
35:38 Disenyum juga tidak berbiaya.
35:41 Yang tidak beli.
35:43 Anda jual mahal sekali.
35:44 Bahkan kepada pasangan hidup anda.
35:47 Apa rumah tangga mau bahagia.
35:49 Kalau caranya begitu.
35:51 Jadi kalau sekarang.
35:53 Anda sudah bermasalah.
35:55 Kemudian diam-diaman sampai dua hari.
35:57 Tiga hari, seminggu.
35:58 Tidak ada yang mau senyum.
36:00 Berarti pertemuan kita pada siang hari ini.
36:03 Tidak ada manfaatnya.
36:04 Tapi kalau sekarang.
36:05 Diam-diaman.
36:07 Langsung anda senyum dulu.
36:08 Kalau diam begini.
36:12 Aku takut.
36:14 Kamu mengerikan.
36:16 Kalau diam begini.
36:18 Coba senyum.
36:20 Coba ikuti aku senyum.
36:23 Aku tidak mau senyum-senyum.
36:24 Aku tambah takut.
36:28 Kamu jangan senyum-senyum.
36:30 Sekarang senyum di sini mahal.
36:32 Tidak boleh lagi.
36:33 Apa senyum mau dipacekin juga.
36:36 Lama-lama pasangan hidup.
36:38 Kamu ini menjengkelkan.
36:41 Akhirnya senyum.
36:42 Akhirnya akrab.
36:43 Kalau anda bisa mengatasi permasalahannya seperti itu.
36:46 Berarti pertemuan pada siang hari ini.
36:48 Akan bermanfaat.
36:49 Karena senyum itu tidak beli.
36:51 Saudara-saudara punya semua.
36:54 Dari bayi punya.
36:55 Jangan mahal-mahal jual senyuman.
36:59 Berikan senyuman kepada siapapun juga.
37:02 Terutama kepada pasangan hidup kita.
37:06 Apakah perkahwinan pada usia 35 tahun bermasalah?
37:10 Tidak ada batasan usia.
37:12 Masalah bukan karena umur.
37:14 Masalah karena kita tidak mau menerima dia sebagaimana adanya.
37:20 Sehingga walaupun baru 16 tahun.
37:22 Juga bisa bermasalah.
37:24 Kamu kok begini.
37:25 Kamu kok begitu.
37:26 Selama seseorang tidak bisa menerima pasangan hidupnya.
37:30 Sebagaimana adanya.
37:31 Dia pasti bermasalah.
37:33 Walaupun usia perkahwinannya sudah sampai kawin emas.
37:35 Sudah 70 tahun.
37:37 Tetap bisa bermasalah.
37:39 Dan anda ingat.
37:41 Ini satu cerita tentang karma ya.
37:45 Cinta dan benci.
37:48 Sebetulnya mengumpulkan seseorang.
37:53 Kenapa demikian?
37:55 Karena cinta dan benci itu sama-sama mencari.
38:01 Anda senang sama kucing anda.
38:03 Maka begitu nanti pulang dari tempat ini sampai rumah.
38:06 Mana ya kucingmu?
38:08 Cari kucing.
38:09 Ya kan?
38:11 Setelah ketemu, didetek jatengi, dilus-lus.
38:14 Anda cinta sama anak anda.
38:16 Begitu datang ditanya anak anda.
38:19 Atau anda telepon langsung anak anda.
38:21 Bagaimana kabarnya?
38:22 Cinta itu mencari.
38:24 Tapi benci juga mencari.
38:28 Anda benci sama nyamuk.
38:32 Anda masuk kamar.
38:34 Yang dicari pertama adalah.
38:37 Nyamuk.
38:38 Mana nyamuk?
38:40 Tepok.
38:42 Anda benci dengan kecoa.
38:46 Maka ketika anda masuk kamar mandi.
38:48 Yang pertama dicari kecoa.
38:51 Anda benci cicak.
38:54 Mencari adalah cicak.
38:57 Cinta dan benci mencari.
38:59 Karena itu.
39:00 Kalau anda lihat di dalam masyarakat.
39:03 Ada pasangan hidup suami istri.
39:06 Yang dari pacaran akur.
39:10 Terus sampai meninggal.
39:14 Keinginannya sama.
39:15 Ide-idenya sama.
39:17 Tidak pernah tekcok.
39:19 Saling menyayangi.
39:20 Itu umur 35, umur 45 sama saja.
39:24 Tapi di dalam masyarakat.
39:27 Anda juga.
39:29 Sering melihat.
39:30 Sejak pacaran cekcok terus.
39:34 Tapi pacaran.
39:36 Cekcok.
39:37 Tapi pacaran putus.
39:39 Sebentar balik lagi.
39:41 Untuk cekcok lagi.
39:44 Akhirnya kawin.
39:46 Kawin juga.
39:47 Idinya cekcok terus.
39:50 Tapi punya anak.
39:52 Cekcok.
39:54 Punya lagi.
39:56 Terus cekcok.
39:58 Sampai akhirnya meninggal satu.
40:01 Meninggal satu.
40:02 Yang satu kesepian.
40:03 Tidak ada temannya cekcok.
40:05 Meninggal lagi.
40:08 Kenapa bisa demikian?
40:09 Yang pertama itu karena cinta.
40:11 Dia selalu mencari.
40:13 Maka dalam kelahiran yang berikutnya.
40:15 Dia menjadi suami istri yang saling mencari.
40:17 Akhirnya saling memuaskan kebahagiaan.
40:20 Saling melayani.
40:21 Saling mencintai.
40:24 Mencintai.
40:24 Jadi di dalam kehidupannya selalu cekcok.
40:27 Biar puas daripada musuhan beda rumah.
40:31 Kan repot.
40:32 Nyarinya waktu.
40:33 Buang tenaga.
40:35 Sudah.
40:36 Musuhnya ya di sebelah tidurnya ini.
40:38 Cekcok dari pagi sampai malam.
40:40 Melek mata pagi-pagi.
40:42 Ngapain pagi-pagi bangun?
40:44 Mau apa lagi kamu?
40:46 Tidur.
40:48 Sampai siang baru bangun.
40:50 Bangun kok siang-siang?
40:51 Males.
40:52 Bangun tidur 15 menit pagi dan malam.
40:55 Yang bisa untuk cekcok.
40:57 Nah karena itu.
40:59 Itu juga bukan masalah umur.
41:00 Itu adalah masalah pribadi.
41:02 Sekarang saudara-saudara.
41:04 Bagaimana mengatasi kalau terjadi percekcokan terus?
41:06 Kalau cinta terus kan tidak ada problem.
41:09 Tapi kalau cekcokan bermasalah.
41:11 Di dalam dhamma disebutkan.
41:14 Kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian.
41:17 Kalau anda terus dilayani cekcoknya.
41:20 Itu akan bermasalah.
41:21 Lalu gimana?
41:22 Kebencian berakhir dengan cinta kasih.
41:25 Anda bantu dia dengan kata-kata.
41:29 Semoga dia bahagia.
41:31 Semoga semua makhluk berbahagia.
41:33 Itu diucapkan terus.
41:35 Di dalam pikiran kita.
41:37 Walaupun pagi, siang, sore, malam cekcok terus.
41:39 Tapi gunakanlah sedikit waktu.
41:41 Pagi dan malam.
41:42 Untuk mengucap di dalam hati.
41:44 Semoga dia bahagia.
41:46 Semoga semua makhluk berbahagia.
41:50 Semoga dia bahagia.
41:51 Semoga semua makhluk bahagia.
41:53 Ucapkan itu terus.
41:55 Nanti lama-lama.
41:57 Cekcoknya kurang.
41:58 Lahir lagi tidak ketemu sama dia lagi.
42:02 Paling yang ketemu di pesawat.
42:04 Atau di mobil.
42:05 Atau di base.
42:06 Dia duduk di sebelah dan melakukan tindakan yang menjengkelkan.
42:09 Tapi yang ketemunya cuma di situ saja.
42:12 Anda duduk di pesawat sama-sama.
42:14 Sebulannya baunya seperti kambing.
42:18 Satu malam.
42:19 Duduk sama dia.
42:21 Jengkel.
42:23 Untunglah kehidupan ini.
42:24 Cuma ketemu sama dia sekali.
42:26 Sudah selesai.
42:28 Pernahkah Anda mengalami seperti itu?
42:32 Duduk di...
42:33 Di nonton film dan lain-lain.
42:36 Ketemu sebelah yang kalau zaman dulu masih suka merokok.
42:40 Ketemu sebelah yang kalau zaman dulu masih suka merokok.
42:41 Kita sudah tidak suka tapi tidak bisa ngomong.
42:44 Kita sudah tidak suka tapi tidak bisa ngomong.
42:44 Juga, bukan hanya memilih pasangan hidup.
42:47 Juga, bukan hanya memilih pasangan hidup.
42:47 Kalau kita mau lebih luas.
42:49 Anak.
42:50 Anak itu juga bisa karena cinta dan benci dia datang sebagai anak kita.
42:54 Anak itu juga bisa karena cinta dan benci dia datang sebagai anak kita.
42:54 Kalau karena cinta apa?
42:56 Waktu dihamil.
42:59 Dia.
43:00 Anak ini dikandung.
43:03 Usaha orang tua sukses.
43:08 Istrinya baik.
43:09 Semuanya lancar.
43:10 Wah, tambah bahagia.
43:13 Wah, tambah bahagia.
43:15 Sebaliknya, anak dikandung.
43:17 Ibunya sudah sakit-sakitan.
43:19 Masuk rumah sakit
43:21 Muntah-muntah terus di infus dan sebagainya
43:24 Anak lahir
43:26 Hidungnya gak ada
43:29 Kemudian sakit-sakitan
43:30 Biaya rumah sakitnya besar
43:32 Kan juga ada
43:34 Di dalam masyarakat seperti itu
43:35 Anak berani sama orang tua
43:37 Itu karena dulunya ya kumpulnya
43:40 Cek cok terus begitu
43:41 Akhirnya sekarang jadi anaknya
43:43 Bayar hutang itu namanya
43:44 Ya karena itu hati-hati
43:47 Punya perasaan cinta
43:49 Anda boleh kembangkan
43:50 Tapi punya perasaan benci
43:52 Anda harus atasi
43:53 Karena nanti benci itu akan mengenai diri Anda sendiri
43:57 Kenapa demikian
43:59 Nanti kumpul lagi dengan orang yang Anda benci
44:02 Wah itu akan sangat-sangat
44:03 Menderita
44:04 Ya jadi bukan karena
44:07 35 tahun tapi karena memang
44:09 Tidak mau menerima patangannya
44:11 Sebagaimana adanya
44:17 Yang tergantung
44:27 Nyuruhnya ya
44:28 Ayo dicapu
44:32 Ayo dipel
44:33 Emangnya pembantu
44:34 Ya
44:36 Jadi pasangan hidup itu
44:38 Memang kita saling bekerja sama
44:40 Ya suami dan itu-itu punya
44:43 Tugas dan tanggung jawabnya masing-masing
44:45 Ada yang mengelola keluarga
44:47 Mengelola rumah tangga dan sebagainya
44:49 Jadi bisa saja disuruh
44:51 Tolong ya ambilkan minum
44:52 Bisa
44:53 Eh minum bawa sini
44:56 Itu kan pembantunya
44:58 Jadi
44:59 Kita bisa ngomong
45:00 Tolong ambilkan minum
45:01 Bahkan suami pun
45:02 Bisa juga kok cuci piring dan sebagainya
45:04 Itu tidak masalah
45:05 Cuci pakaian pun juga tidak masalah
45:07 Karena sebetulnya cuci pakaian cuci piring itu
45:10 Bukan milik wanita
45:11 Itu adalah milik rumah tangga
45:13 Sehingga pria dan wanita boleh saling bekerja sama
45:16 Saling membantu
45:17 Kenapa demikian
45:19 Di dalam dama disebutkan
45:21 Suami dan istri itu seperti
45:25 Seekor burung
45:26 Yang
45:29 Kepalanya dua
45:30 Di zaman dulu ada seekor burung itu kepalanya dua
45:34 Kiri dan kanan
45:35 Nah yang kanan ini dapet yang enak-enak terus
45:38 Yang kiri dapet yang gak enak-enak terus
45:41 Apakah yang enak
45:43 Misalnya burung ini terbang
45:44 Tinggap di pohon
45:45 Yang kanan ini dapet madu
45:48 Nah yang kiri
45:50 Dapet getah yang
45:52 Yang pahit
45:54 Nanti terbang lagi
45:56 Mendarat di satu pohon lagi
45:57 Yang kanan ini dapet madu
45:59 Yang kanan dapet buah yang manis
46:00 Yang kiri dapet buah yang asem
46:03 Terut begitu
46:04 Lama-lama gergetan kepala kiri ini
46:07 Aku ini hidup kok dapetnya susah
46:10 Terus kamu kok seneng
46:11 Terus udah
46:13 Nanti lain kali aku mau makan ratun
46:14 Bener
46:16 Mendarat lagi di satu pohon
46:18 Yang kanan dapet anggur yang manis
46:20 Yang kiri ada
46:23 Jamur beracun
46:24 Pengaja dia makan aja jamur beracun
46:27 Lagi
46:29 Akhirnya si burung ini sakit perut
46:30 Lalu burung kanan mengatakan
46:32 Kenapa ya kok kita sakit perut
46:34 Ya saya makan jamur beracun
46:36 Biar kamu tau rasanya gak enak itu gimana
46:38 Loh yang gak enak-gak enak kan
46:40 Badan kita kan satu
46:42 Ya kalau sekarang kita makan jamur beracun
46:44 Kita kan mati bareng ini namanya
46:46 Ya sungguhan mereka mati
46:48 Nah itu sama dengan kehidupan rumah tangga
46:50 Suami itu disebetulnya adalah dua kepala
46:53 Dua pribadi yang berbeda
46:55 Tetapi dia terikat
46:56 Di dalam satu ikatan perkahwinan
46:59 Di dalam satu keluarga
47:00 Sehingga perilaku yang satunya
47:02 Kalau bermanfaat
47:03 Dia akan memberikan manfaat untuk keluarga
47:05 Perilaku yang satunya
47:07 Kalau merugikan
47:08 Dia bukan hanya merugikan dirinya sendiri
47:11 Tapi juga merugikan keluarganya
47:13 Dengan demikian
47:14 Sebetulnya
47:16 Kalau kita mau misalnya
47:18 Lihat tadi pakaian kotor
47:20 Atau cuci piring
47:22 Bukan hanya milik wanita
47:24 Pria juga bisa bantu
47:25 Karena bantu menyucikan piring
47:28 Menyucikan pakaian
47:29 Atau ini bantu istrinya
47:30 Ini kan sama-sama kita membangun rumah tangga
47:33 Yang bahagia bersama
47:36 Kalau sekarang mau ngepelkan
47:39 Lantai rumah
47:41 Pria mau ngepel
47:42 Juga tidak apa-apa
47:43 Minggu-minggu libur
47:44 Mau ngepel rumah
47:45 Bantu-bantu istrinya
47:46 Tidak apa-apa
47:47 Itu istrinya sendiri
47:48 Bukan istrinya tetangga
47:49 Tidak ada problem
47:50 Jadi kita bisa bantu dia
47:52 Karena itu kita menyuruh pun
47:54 Juga tidak masalah
47:55 Tinggal caranya
47:56 Tolong ya
47:57 Aku sudah haus
47:59 Misalnya
47:59 Ayo kita sama-sama yuk
48:02 Nyapu
48:03 Bisa diturut demikian
48:05 Itu bukan karma buruk
48:07 Karena karma adalah niat
48:09 Niat kita tidak ingin membuat jahat kepada dia
48:12 Tapi menganggap ini sebagai rumah tangga
48:14 Yang bekerja bersama
48:16 Ya
48:17 Kemudian yang lain
48:30 Yang tidak pernah dia mengatakan kepadamu
48:37 Saya akan mempercayai
48:44 Iya
48:45 Kalau yang namanya cinta
48:47 Karena itu kan anda akan mencintai
48:51 Sebetulnya tidak ada penderitaan
48:53 Kenapa?
48:54 Karena anda berarti menganggap
48:55 Ya itulah
48:56 Memang dia begitu
48:58 Memang dia temperamen
49:00 Kenapa demikian?
49:02 Karena kalau kita lalu
49:03 Kenapa ya kamu kok temperamen?
49:05 Berarti kita tidak cinta
49:06 Karena kita mengharapkan dengan saya
49:09 Baik begini
49:10 Saya mengikuti begini
49:12 Kamu akan begini
49:13 Itu jual beli
49:15 Saya kasih duit
49:17 Kamu kasih barang
49:18 Saya kasih kesabaran
49:19 Saya mengikut
49:20 Saya nurut
49:21 Saya jadi orang baik
49:22 Kamu ngasih sabar
49:25 Itu jual beli
49:27 Padahal kalau mencintai apapun juga dia
49:30 Kita harus perbaiki
49:31 Nah temperamen
49:33 Ini tentu ada sebab
49:35 Kalau marah-marah tidak ada sebab
49:37 Itu orang sudah tidak warah
49:40 Kalau ada sebab
49:41 Berarti pasangan ini
49:43 Atau yang anda merasa mencintai dia
49:46 Anda berusaha menjaga kondisinya dong
49:50 Jangan malah disengaja
49:52 Nah kalau sekarang
49:54 Terlambat
49:55 Kan Jakarta sering macet
49:56 Terlambat
49:58 Anda berhenti sebentar
50:00 Kasih bunga
50:01 Duh kok terlambat
50:06 Aku tadi soalnya belikan kamu bunga ini
50:09 Lah
50:11 Kenapa?
50:12 Karena aku di jalan kok ingatnya?
50:13 Kamu
50:14 Terus jadi aku belikan bunga
50:16 Selesai
50:17 Dia juga merasa
50:19 Ini pasanganku baik juga ya
50:22 Nah dengan demikian apa?
50:24 Temperamennya ini bisa kita tekan sedikit
50:26 Kita tekan sedikit
50:27 Karena kita tidak mengkondisikan dia
50:30 Untuk menjadi orang yang keras
50:34 Ya
50:34 Ini saran saya begitu
50:36 Jadi kalau anda memang mencintai
50:40 Terimalah pasangan anda itu
50:41 Sebagaimana adanya
50:42 Dia galak
50:43 Dia temperamen itu memang adalah
50:45 Wataknya dia
50:47 Tetapi anda masih punya kekuatan
50:49 Untuk tidak mengkondisikan
50:51 Dia marah-marah terus-menerus
50:54 Kan sudah diganti
51:01 Tidak ada masalah
51:02 Ganti agama ya bagaimana lagi
51:04 Orangnya sudah kepastikan
51:05 Ganti agama
51:07 Ya sudah
51:07 Kan yang dia problemkan kan karena temperamennya
51:11 Ganti agama nanti kita akan
51:13 Di proses yang berikutnya
51:14 Sebetulnya agama ganti-ganti itu ya membingungkan
51:17 Karena agama
51:18 Karena agama itu kan bukan baju
51:22 Agama itu sebetulnya adalah kecocokan
51:24 Sehingga kalau kita ganti agama
51:26 Gara-gara pasangan hidup
51:27 Itu sering-sering justru di dalam batin itu
51:30 Menjadi kosong
51:32 Agama di dunia ini
51:34 Banyak macam agama
51:35 Sebetulnya yang benar dan salah kan kita tidak ada yang tahu
51:39 Buktinya apa
51:39 Semua agama dan jika mati masuk surga
51:42 Siapa saja yang mati masuk surga
51:44 Dan balik lapor kepada kita
51:46 Kalau ada yang balik
51:48 Itulah dia agama yang paling benar
51:50 Tapi kan itu kan janji-janji
51:52 Yang kita tidak pernah tahu
51:53 Nah jadi agama itu bukan masalah benar dan salah
51:56 Sebetulnya agama itu adalah kecocokan
51:59 Saya memilih agama Buddha
52:00 Karena saya cocok dengan agama Buddha
52:02 Saya jalani ini
52:03 Apakah yang lain salah itu urusan yang lain
52:06 Saya tidak cocok saja dengan yang lain
52:08 Ya
52:09 Nah kenapa demikian
52:11 Kalau ada agama yang salah
52:12 Pengikutnya agama tertentu itu
52:15 Sarjana ada yang profesor
52:16 Masa semua ikut salah
52:18 Masa semua di dunia ini
52:19 Agama itu tidak ada orang pintarnya
52:21 Enggak loh
52:22 Ya
52:23 Jadi agama bukan masalah benar dan salah
52:25 Tapi agama itu hanya kecocokan
52:27 Kalau sekarang sudah cocok ini
52:29 Kemudian ganti untuk cocok yang lain
52:31 Itu sebetulnya adalah orang yang sebetulnya
52:33 Belum mengerti tentang agamanya sendiri
52:36 Dia menganggap agama itu hanya seperti
52:38 Ya komoditas untuk pergaulan lah
52:41 Ya sehingga kita bergaul dengan si A
52:43 Karena agamanya berbeda
52:45 Jadi menurut si A
52:46 Nanti kalau dia bergaul dengan si B
52:48 Yang agamanya berbeda
52:49 Ya nanti dia ganti dengan si B
52:50 Agamanya si B
52:52 Kalau sejajarannya begini
52:53 Dia bukan beragama lagi
52:54 Dia hanya menganggap agama itu sebagai
52:57 Ya kalau Anda
53:00 Ketempat ini harus pakai pakaian yang sopan
53:03 Ya pakai pakaian sopan
53:04 Kalau nanti Anda di rumah pakai piyama
53:07 Ya pakailah piyama
53:09 Anda tidak bisa pakai piyama di tempat ini
53:11 Kan hanya seperti itu
53:12 Apakah agamanya seperti pakaian
53:14 Padahal agama itu kan jalan hidup
53:16 Untuk bisa menjadi jalan hidup
53:18 Dia harus cocok dulu dengan hati kita
53:22 Ya tapi tadi tidak kita soroti
53:24 Yang kita soroti adalah
53:25 Masalah wanita yang temperamen itu
53:28 Karena itu pertanyaannya
53:31 Iya
53:49 Ini menjadi pertanyaan terakhir
53:51 Atau masih ada pertanyaan tentang rumah tangga dulu
53:54 Kita selesaikan topiknya
53:58 Baru nanti yang di luar ini
54:02 Menjadi yang terakhir
54:04 Mungkin tentang rumah tangga dulu
54:06 Kalau ada
54:07 Ada yang rumah tangga
54:10 Sudah ada pertanyaan rumah tangga
54:14 Berarti semoga Anda bahagia semua
54:17 Nah sekarang tentang agama langit
54:20 Dan agama bumi
54:20 Sebetulnya itu hanya
54:22 Karena dipandang dari sudut yang berbeda
54:25 Fungsi agama sebetulnya apa
54:28 Fungsi agama adalah
54:30 Mengajak mendorong seseorang
54:32 Untuk melakukan perilaku yang baik
54:33 Karena itu
54:35 Seperti yang tadi sudah saya sampaikan
54:37 Selama sekian lama Anda kenal suatu agama
54:40 Sudahkah Anda menjadi baik
54:42 Kalau sekian lama Anda kenal agama
54:44 Sudah menjadi baik
54:45 Maka sebetulnya
54:46 Agama itu cocok untuk Anda
54:48 Nah
54:50 Kalau sekarang
54:50 Agama bumi, agama langit
54:52 Itu sebetulnya hanya karena motivator saja
54:55 Nah
54:56 Seseorang bisa berbuat baik
54:57 Itu motivatornya agama
54:59 Agama ini
55:00 Kemudian
55:01 Dengan ceritanya masing-masing
55:04 Ada agama yang katanya diturunkan dari
55:07 Agama yang diturunkan dari
55:07 Langit
55:08 Berupa wahyu itu
55:09 Ya itu yang disebut agama langit
55:12 Nah agama buddha
55:14 Karena dicapai sendiri
55:15 Itu dianggap sebagai agama bumi
55:18 Diturunkan dari langit
55:20 Ataupun dicapai sendiri
55:21 Itu kan katanya buku
55:23 Siapa yang menjadi saksi
55:27 Itu kan bukunya yang ngomong
55:29 Bukunya mengatakan ini diturunkan dari langit
55:32 Yang bukunya mengatakan
55:34 Ini dicapai sendiri
55:35 Yang penting sekarang agama itu
55:38 Bermanfaatnya
55:39 Tidak untuk anda
55:41 Anda bisa menjadi lebih baik
55:43 Dengan agama itu
55:45 Kalau sudah bisa lebih baik
55:47 Itu sudah bermanfaat dari langit atau tidak
55:49 Tidak tahu kita
55:51 Kalau agama itu dari langit
55:53 Misalnya kita dapat wahyu
55:54 Berapa orang di dunia ini bisa mengatakan
55:57 Juga dapat wahyu
55:59 Lisensi apa yang mengatakan harus si A
56:01 Yang dapat wahyu, si B tidak boleh
56:03 Ya
56:04 Saya tadi malamnya dapat wahyu
56:06 Bisa saja itu
56:08 Tapi kenapa?
56:09 Kenapa tidak boleh?
56:10 Nah, jadi ini sebetulnya hanya motivatornya saja
56:14 Anda percaya itu silahkan
56:16 Tidak percaya ya tidak apa-apa
56:18 Agama langit atau agama bumi
56:20 Itu sebetulnya hanya katanya buku
56:24 Yang paling penting adalah perubahan perilaku
56:31 Mengatakan agama langit
56:33 Kalau perubahan perilakunya tidak ada
56:36 Apakah itu bermanfaat?
56:38 Walaupun dari langit tapi tidak ada manfaatnya?
56:41 Untuk manusia
56:42 Mengatakan dari langit tapi perubahan perilakunya ada
56:45 Baru mereka bermanfaat
56:47 Mengatakan dari bumi
56:50 Dipraktekan tidak ada
56:51 Tidak pernah praktek
56:52 Tidak ada manfaatnya lah
56:53 Untuk apa dari bumi?
56:54 Mestinya kan dari bumi kan untuk manusia di bumi
56:57 Dari langit mestinya kan untuk makhluk langit
56:59 Itu kan lebih gampang
57:01 Ya
57:03 Nah, tapi kan
57:05 Itu pokoknya yang penting sekarang
57:06 Apakah bermanfaat untuk manusianya ini sendiri?
57:09 Ya
57:12 Saya kira begitu saja
57:14 Jadi agama itu kembali kepada ketocokan
57:17 Oleh karena itu
57:19 Di dalam diskusi dan lain sebagainya
57:21 Saya selamanya tidak pernah menanyakan
57:23 Kamu agamanya apa?
57:25 Karena menanyakan agama seseorang
57:27 Itu sama dengan menanyakan
57:29 Gajimu berapa sih?
57:31 Itu terlalu pribadi sekali
57:33 Karena agama itu adalah milik pribadi
57:35 Pendorong manusia
57:37 Seseorang untuk melakukan kebaikan
57:39 Agama apapun juga
57:41 Itu sebetulnya yang penting kita kan kumpulnya orang-orang baik
57:44 Bukan kumpulnya harus agama A atau agama B
57:47 Jangan sampai karena satu pembicaraan
57:49 Dulunya akrab sekali begitu agamanya apa?
57:51 Oh kok gak cocok sama saya ya?
57:54 Kok gak sama?
57:55 Terus diem-dieman
57:56 Terus jauh-jauhan
57:57 Untuk apa?
57:57 Kita dikotak-kotakan oleh agama
58:00 Sudah terlalu banyak pengkotaan yang ada dalam masyarakat
58:03 Ya
58:04 Di kelas dikotakan dengan pinter dan hudu
58:07 Kumpulnya sudah berbeda
58:08 Di dalam masyarakat ada kaya dan miskin
58:11 Di dalam gaulan kadang-kadang ada kotak yang lain, kotak yang lain, kotak yang lain
58:16 Kenapa sekarang harus dikotakkan lagi dengan agama?
58:19 Kalau agama itu bisa mengkotakkan seseorang
58:22 Berarti agama itu tidak bersifat universal
58:25 Oh agama ini hanya cocok untuk kelompok A
58:29 Yang bisa masuk surga hanya kelompok A
58:31 Berarti agama itu tidak universal
58:33 Untuk apa harus diikuti?
58:36 Masuk surga harus ikut kelompok A
58:38 Berarti disana tuh ada
58:39 Surga itu kan ada couplingnya kan?
58:42 Nanti kalau masuk surga ditanya
58:44 Kamu agamanya apa A?
58:45 Oh kamu surganya sana
58:46 Kamu agamanya apa B?
58:48 B surganya sana
58:49 Kamu agamanya apa?
58:50 Agamanya C
58:51 Surganya yang lain lagi
58:53 Kalau surga sudah di coupling-coupling begitu sudah tidak universal
58:57 Berarti gak usah berbuat baikat
58:59 Saya ikut agama tertentu nanti masuk surga
59:01 Itu kan menjadi aneh
59:03 Ya padahal agama kan harusnya universal
59:05 Siapa saja bisa praktek
59:07 Siapa saja bisa pakai
59:08 Siapa saja bisa menghasilkan sesuatu yang sama
59:11 Siapa saja bisa menghasilkan sesuatu yang sama
59:11 Ya karena itu jangan
59:15 Hentikan pertanyaan yang mengatakan
59:17 Kamu agamanya apa?
59:19 Kamu agamanya apa?
59:20 Hentikan ngomongan itu karena itu
59:22 Tidak membawa manfaat apapun juga untuk anda
59:25 Kalau anda senang dengan agama Buddha
59:26 Buktikan bahwa anda bisa lebih baik sebagai umat Buddha
59:29 Orang akan tertarik sendiri dengan anda
59:32 Ya daripada anda dipromosi
59:34 Aku umat Buddha, umat Buddha
59:36 Tapi perilakunya malah tidak karu-karuan
59:37 Malah memalukan agama Buddha
59:39 Ya saya kira begitu saja
59:45 Mungkin ini sebagai pertanyaan
59:46 Pertanyaan terakhir
59:47 Karena mungkin anda harus