0:00 NAKMU TASA HAKKUATU RAHATU SAMBUTHASA
0:14 MUTASA HATU THASA TASA TAMA MELEKATAN SUMBER PENDERITAAN
0:45 Kita membaca parita bersama, kemudian bermeditasi.
1:02 Tiba saatnya kita membahas ajaran Sang Buddha
1:15 yang seperti kita ketahui bersama,
1:17 Sang Buddha mengajarkan dhamma selama 45 tahun
1:24 sejak beliau berusia 35 pada saat mencapai kesucian
1:32 dan sampai beliau wafat umur 80.
1:41 Di dalam 45 tahun pengajaran,
1:44 dan kemudian setelah beliau wafat
1:50 dilanjutkan oleh para generasi penerusnya
1:53 sampai saat ini,
1:59 ada satu hal yang selalu dibahas,
2:03 selalu diulang,
2:05 selalu diterangkan oleh Sang Buddha
2:07 adalah tentang kemelekat.
2:17 Pertama kali diamati oleh Sang Buddha
2:19 yang diajarkan pertama kali di dalam
2:21 empat kesucian,
2:23 kesunyataan mulia,
2:26 bahwa sebetulnya kesunyataan yang pertama
2:29 hidup berisi ketidakpuasan
2:31 yang sumbernya justru dari kemelekatan.
2:39 Kemelekatan yang paling sering
2:41 adalah kemelekatan pada yang kita cintai,
2:45 yang kita sayangi.
2:48 Yang kita cintai, yang kita sayangi
2:51 bisa berupa fisik,
2:53 mungkin mobil,
2:56 mungkin rumah,
2:59 mungkin benda-benda yang kita sayangi,
3:02 juga termasuk orang yang kita cintai,
3:05 orang yang kita sayangi,
3:08 dan juga termasuk yang bersifat batin,
3:12 mungkin suara yang merdu,
3:16 bau yang manggih,
3:18 pemandangan yang indah.
3:21 Inilah
3:24 yang menjadikan problem
3:27 di dalam kehidupan kita.
3:30 Karena kita sangat cinta
3:32 baik kepada benda orang
3:34 maupun kepada yang bukan fisik tadi,
3:39 akhirnya kita tidak rela
3:41 melepaskan
3:42 yang kita sayangi,
3:45 yang kita cintai.
3:48 Kalau sekarang kita
3:49 senang
3:51 dengan bau yang wangi,
3:55 maka begitu kita mau berpisah
3:58 dengan bau yang wangi,
4:00 misalnya saja terus
4:03 tercium bau yang tidak enak,
4:06 mungkin bau dupa di sini yang wangi,
4:10 kemudian tercium bau kenal pot,
4:13 mobil yang tidak enak,
4:14 muncullah kejengkelan,
4:16 muncullah stres karena kita berpisah
4:19 dengan yang kita cintai,
4:21 walaupun itu hanya bau yang wangi.
4:26 Kita cinta dengan kondisi fisik kita
4:28 yang bisa duduk di lantai,
4:30 yang cukup lama.
4:31 Tapi begitu kesemutan,
4:34 jengkel.
4:35 Kenapa?
4:36 Karena kita berpisah
4:37 dengan yang kita cintai.
4:41 Nah, oleh karena itu di dalam dharma ini
4:43 sebetulnya pelajarannya adalah
4:45 bagaimana kita menghilangkan kemelekatan.
4:50 Sehingga apapun
4:53 yang kita sukai,
4:55 apapun yang kita sayangi,
4:57 baik berupa fisik,
5:00 mobil, rumah,
5:02 takangan,
5:05 orang,
5:06 maupun yang bukan bersifat fisik,
5:10 bau-bauan,
5:12 pendengaran,
5:13 pemandangan,
5:15 kesenangan,
5:16 kebahagiaan,
5:18 apapun yang kita alami,
5:21 hendaknya kita jangan melekat
5:22 karena kita pasti berpisah dengan dia
5:25 dan perpisahan itu menimbulkan problem.
5:31 Anda sekarang punya pendengaran yang tajam.
5:34 Anda punya mata yang tajam.
5:38 Itu kalau masih muda.
5:41 Tapi kalau umur sudah bertambah,
5:45 telinga makin tidak jelas.
5:51 Radio, wah tetangganya terradio saja kita sudah dengar.
5:55 Sekarang pintu kamar diketuk saja belum tentu dengar.
6:00 Kenapa?
6:00 Karena telinga kita sudah berpisah dengan diri kita.
6:05 Tapi kalau kita jengkel,
6:07 kenapa kupingku yang dulu aku sayangi kok sekarang
6:10 jadi hilang kekuatannya?
6:13 Muncullah tren.
6:15 Dulu mata melihat daun bergoyang saja sudah tahu,
6:18 wah ini bisa membedakan.
6:20 Ini daun yang bergoyang tertiup angin
6:23 atau daun yang bergoyang karena terkena binatang.
6:27 Tapi makin lama mata untuk baca koran saja
6:30 sudah tidak bisa lagi.
6:31 Koran ditempelkan di depan mata pun sudah tidak bisa kelihatan.
6:35 Bisa muncul jengkel kita.
6:38 Karena kita berpisah dengan yang kita cintai.
6:41 Nah, oleh karena itu,
6:44 ajaran Sang Buddha yang sudah sekian ribu tahun umurnya itu
6:48 sebetulnya intinya adalah bagaimana manusia bisa mengendalikan
6:54 keinginannya sehingga kemelekatannya bisa dikuasai.
6:58 Nah, saudara-saudara,
7:00 sekarang bagaimana mengurangi kemelekatan?
7:08 Mengurangi kemelekatan secara fisik?
7:12 Ya, kita menyadari bahwa segala sesuatunya akan berpisah.
7:17 Saya punya mobil,
7:19 suatu ketika mobil rusak.
7:21 Pada saat saya mengambil, membeli mobil,
7:24 saya harus siap bahwa mobil ini baru
7:28 suatu ketika rusak.
7:30 Ketika saya membangun sebuah rumah,
7:32 saya harus siap bahwa bangun rumah
7:36 suatu ketika pasti akan hancur.
7:39 Ketika saya memulai pertemuan,
7:42 saya harus menyadari bahwa ini
7:45 suatu ketika akan terjadi perpisahan.
7:49 Ketika saya mempunyai pasangan hidup,
7:53 pada saat itu saya harus berpikir
7:55 pasangan hidup mesti berakhir dengan perceraian.
7:59 Cerai mati, cerai hidup itu urusan lain.
8:02 Tapi mesti berpisah.
8:04 Ketika saya punya anak,
8:06 maka saya harus juga merenungkan.
8:08 Sekarang saya punya satu ketika,
8:10 pasti juga tidak punya lagi.
8:11 Kenapa? Karena satu ketika saya harus berpisah.
8:14 Bisa jarak, bisa kota, bisa negara,
8:17 sampai pisah dunia.
8:20 Satu ketika mesti harus dijalani.
8:23 Ini semua adalah
8:27 merupakan kenyataan hidup.
8:29 Bahwa ketika kita lahir ini pun,
8:31 satu ketika mengalami kematian.
8:35 Inilah yang harus kita renungkan, saudara.
8:38 Setiap kali kita memulai sesuatu,
8:40 kita harus renungkan
8:42 bahwa ini sebetulnya tidak kekal.
8:45 Di dalam zaman Sang Buddha ada satu cerita.
8:49 Ada orang yang sangat kaya
8:53 di kota Sawati.
8:56 Kebetulan namanya adalah Ananda.
9:00 Tetapi Ananda ini bukan murid Sang Buddha
9:03 yang piku.
9:05 Tetapi Ananda ini adalah seorang kaya,
9:08 seorang pedagang.
9:11 Tetapi yang pelit sekali.
9:16 Dia selalu merasa
9:18 hartanya ini kurang.
9:21 Dia tidak pernah menyadari bahwa
9:24 satu ketika
9:25 pasti akan berpisah dengan hartanya.
9:28 Satu ketika kita akan pasti berpisah
9:30 dengan yang kita miliki.
9:32 Nah,
9:33 Ananda ini punya anak.
9:39 Namanya Mulasari.
9:44 Setiap hari,
9:46 Ananda mengatakan kepada anaknya Mulasari,
9:49 kata kita ini
9:53 jangan dibagi-bagi ya, nak.
9:56 Nanti cepat habis.
9:59 Kamu harus hemat.
10:02 Sedikit-sedikit saja pakainya.
10:05 Ya.
10:06 Kalau ada pengomis,
10:08 minta jangan dikasih.
10:10 Penting ngurangi harta kita.
10:14 Nah,
10:16 Oleh karena itu,
10:18 Mulasari ini sejak kecil sudah ditekankan
10:20 oleh bapaknya bahwa kita harus hemat,
10:22 hemat, hemat, hemat.
10:24 Padahal sebetulnya hemat dan kikir
10:29 sulit dibedakan.
10:31 Hemat itu kalau perlu,
10:33 kita bisa keluarkan.
10:35 Kalau tidak perlu, kita tidak pakai.
10:37 Sedangkan kikir,
10:38 perlu atau tidak perlu,
10:39 pokoknya tidak keluar.
10:41 Bisa masuk,
10:42 tidak boleh keluar.
10:44 Ya.
10:44 Nah,
10:46 kemudian, saudara-saudara,
10:48 si Ananda yang kaya raya ini,
10:52 karena dia mengumpulkan harta,
10:54 terus akhirnya punya emas.
10:58 Lima guji banyaknya.
11:01 Dan zaman dulu belum ada bank.
11:03 Belum bisa disimpan di mana-mana,
11:06 akhirnya emasnya ini ditanam di kepulauan.
11:08 Di belakang rumah,
11:10 tanam.
11:13 Nah, tetapi anaknya,
11:14 si Mullah Sari tidak dikasih tahu
11:16 bahwa bapaknya ini punya emas.
11:19 Mungkin takut kalau diambil.
11:22 Nah, jadi hanya dikasih tahu saja,
11:24 uang harus hati-hati.
11:25 Nah, saudara-saudara,
11:28 apakah sebetulnya yang terjadi
11:31 dalam konsep orang kikir?
11:33 Apakah pikirannya
11:34 orang kikir itu?
11:37 Orang kikir itu kan merasa di dalam,
11:40 dirinya tidak pernah punya.
11:43 Ya kan?
11:44 Jadi dia punya seribu.
11:46 Dia merasa,
11:47 ah, seribu ini masih kurang.
11:49 Saya jangan bagi-bagi.
11:51 Ini kurang ini seribu.
11:54 Jadi dia kikir.
11:56 Dia punya sepuluh ribu,
11:57 pola pikirnya juga sama.
11:59 Ah, jangan bagi-bagilah sepuluh ribu ini
12:02 untuk persiapan masa depan saya.
12:04 Masih kurang.
12:06 Dia punya seratus ribu juga pikirannya gitu.
12:08 Dia punya satu juta juga begitu.
12:10 Dia punya seratus juta juga begitu.
12:12 Nah, akhirnya dia itu selalu punya
12:15 pikiran miskin terus.
12:17 Maka suatu ketika Ananda ini
12:19 meninggal dunia.
12:23 Nah, dia meninggal
12:25 masih belum sempat ngomong
12:27 emas yang disimpan di
12:31 lima guci tadi.
12:33 Karena hati-hati
12:35 sekali dikasih tumpuan tanah,
12:37 apa-apa, didelik,
12:38 disembunyikan dengan luar biasa
12:41 sehingga sampai lupa ngomong sama anaknya,
12:43 dia sudah berangkat.
12:47 Perpisahan dengan yang dicintai,
12:50 hartanya.
12:52 Perpisahan dengan keluarganya yang disayangi
12:56 membuat Ananda ini lahir kembali
12:59 di deket Sawati.
13:03 Di desa,
13:04 di luar kota Sawati,
13:06 tempat Sang Buddha tinggal.
13:09 Tapi karena pola pikirnya seumur hidup itu
13:12 kikir,
13:15 walaupun hartanya banyak,
13:16 tapi merasa tidak punya apa-apa,
13:19 maka dia lahir
13:21 dalam rahim
13:23 seorang pengemis.
13:28 Supaya keturutan
13:29 kikirnya.
13:30 Dulu kan selalu ngomong, tidak punya.
13:32 Punya duit? Tidak punya.
13:34 Anda sering tidak ditanyai orang,
13:36 bahwa duit berapa? Cuma sedikit kok.
13:39 Di rumahmu ada duit berapa?
13:41 Cuma sedikit kok.
13:42 Kan kadang-kadang kalau ditanyai gitu,
13:44 terus ada jawabnya, keturutan.
13:47 Sungguhan.
13:48 Ananda ini keturutan, sungguhan.
13:50 Karena kalau ditanya,
13:51 tidak punya uang.
13:53 Eh, akhirnya benar lahir
13:56 di rahim seorang pengemis.
13:58 Dan sejak
14:01 di dalam kandungan itu,
14:05 pengemis lingkungan itu
14:07 langsung mati pangani.
14:09 Apa itu artinya?
14:12 Hasil ngemisnya itu
14:13 langsung menurun.
14:15 Biasanya satu hari
14:16 ngemis bisa satu juta
14:18 misalnya. Loh, ngemis
14:20 sekarang ya?
14:23 Hah?
14:26 Iya,
14:26 pengemis profesional lho, rampok.
14:29 Ya, misalnya
14:30 pengemisnya dapatnya lima ribu sehari.
14:33 Ih,
14:34 setelah ananda ini dikandung,
14:37 pengemisnya jadi
14:39 nurun omsetnya.
14:41 Lima ribu
14:42 jadi cuma lima puluh rupiah.
14:44 Jadi mereka bingung,
14:46 siapa ini ya
14:47 yang bikin sial?
14:51 Apa ini geng pengemis disini?
14:54 Apa?
14:55 Kelompok pengemis disini?
14:57 Siapa ini ya?
14:58 Oh, dulu lancar-lancar lho.
15:01 Lima ribu, sepuluh ribu sehari
15:03 gampang. Ini kok lima puluh rupiah
15:05 terus tiap hari ini bagaimana?
15:08 Akhirnya pengemis ini punya
15:09 akal.
15:10 Kita bagi kelompok.
15:12 Ya, ada pengemis lima puluh,
15:17 kita bagi kelompok.
15:18 Lima kelompok.
15:22 Kita lihat sekarang, kelompok mana yang paling
15:25 sial?
15:26 Nah, lima kelompok ini jalan.
15:29 Wah, ditanya,
15:30 bagaimana nih kelompok satu, gengnya
15:33 nih? Oh, sukses.
15:34 Hari ini lima ribu dapat, sepuluh ribu
15:37 malah dapat. Wah, hebat.
15:39 Berarti ini bintang kelompok ini
15:40 oke. Kelompok dua
15:43 bagaimana? Sukses.
15:45 Kelompok tiga sukses,
15:46 keempat sukses, lima
15:48 wah ini, ambil
15:50 duit. Wah,
15:52 lima puluh rupiah cuma.
15:54 Wah, ini berarti bintang jeleknya
15:56 di kelompok lima ini.
15:58 Ada sepuluh orang, ayo dibagi
16:00 lagi.
16:03 Sepuluh orang ini dibagi
16:04 jadi lima kelompok lagi.
16:07 Dua, dua.
16:11 Dari lima puluh orang
16:14 tinggal sepuluh, sepuluh
16:16 dibagi dua, dua, dua.
16:18 Dari situ
16:19 baru ketahuan.
16:20 Eh,
16:23 ibu yang hamil ini loh
16:24 yang bikin miskin.
16:27 Kalau ibu ini kemana dia pergi
16:30 ngikut ngemis? Mesti
16:32 gak punya duit.
16:35 Nah, kemudian
16:36 ibu yang hamil ini karena
16:38 sudah jatuh temponya, dia lahirkan anak.
16:41 Wah, lahir anaknya jelek,
16:42 mendeni elek.
16:45 Jadi sudah miskin, jelek,
16:47 elek. Sampai ibunya
16:50 aja gila.
16:51 Ini anakku jadinya kayak gini loh bentuknya
16:54 jelek sekali. Tapi yang namanya
16:56 ibu ya sudah lah, biopeni.
16:59 Nah, heran ya
17:00 sudah lah.
17:02 Ibu ini kalau pas anaknya ditinggal,
17:04 dapat duit.
17:06 Wah, lima ribu, sepuluh ribu
17:08 dapat ngemis. Tapi
17:10 kalau ngejak anaknya, miskin dia
17:12 hari itu. Lima puluh rupiah.
17:15 Lalu ibu ini tahu,
17:16 oh, ini ya
17:18 penyebab anaknya ini.
17:21 Gara-gara aku
17:22 mengandung ini, sekarang aku diusir dari
17:24 kelompok pengemis. Gara-gara aku
17:26 kalau ngejak anak ini, juga aku jadi miskin.
17:28 Kalau begitu anaknya tak buang
17:30 aja.
17:32 Supaya
17:34 rezekiku naik lagi. Nah, sehingga
17:36 setelah anaknya diopeni sampai bisa jalan,
17:39 kasih nama
17:40 di gelangnya,
17:41 terus didorong aja
17:43 di pinggir jalan.
17:46 Nah,
17:48 akhirnya
17:49 ibu ini ya sukses jadi pengemis.
17:51 Anak ini tetap
17:53 ngemis dan menderita.
17:55 Kenapa? Karena setiap orang yang didatangi
17:57 dia takut lihat mukanya.
17:59 Nggak beranifikasi.
18:01 Nah, jadi kemana-mana ngemis,
18:03 ngemis, ngemis, ngemis, menderita.
18:04 Tapi ya gitu ya masih hidup.
18:07 Bertahun-tahun, tahun-tahun hidup.
18:09 Akhirnya ketemu sang Buddha.
18:13 Pengemis ini dipanggil.
18:16 Kamu
18:16 tahu nggak?
18:18 Kamu begini ini kenapa?
18:21 Kamu jadi
18:22 pengemis, mukamu
18:24 jelek, semua orang takut.
18:27 Tahu nggak kamu?
18:30 Lalu sang Buddha cerita, kamu itu
18:32 duluan orang kaya itu loh.
18:34 Itu anakmu di sana.
18:35 Lalu anaknya dipanggil.
18:38 Si Mulasari tadi dipanggil.
18:40 Mulasari sudah punya keluarga
18:42 dan lain sebagainya, dipanggil.
18:44 Eh, sini Mulasari.
18:46 Sama sang Buddha.
18:47 Ini pengemis yang jelek ini.
18:50 Yang kamu juga
18:52 takut, keluargamu juga takut.
18:53 Ini dulu bapak.
18:55 Kok bisa lahir jadi pengemis?
19:00 Ini karena pelurik.
19:07 Apa buktinya kalau dia ini memang bapakku?
19:11 Lalu sang Buddha mengatakan, coba
19:13 kamu
19:15 nunjuk sama si pengemis tadi.
19:18 Kamu dulu kan
19:19 nyimpen harta dalam kehidupanmu yang
19:21 lalu. Ada
19:23 5 kuci isi emas.
19:25 Ayo coba tunjukkan di mana.
19:28 Ya, kebetulan
19:29 pengemis ini inget kehidupan lampunya.
19:32 Kemudian dia tunjukkan.
19:33 Ini loh hartaku yang 5 kuci tadi.
19:36 Nah, saudara-saudara.
19:38 Dengan demikian
19:40 sebetulnya apa? Inilah
19:41 kemelekatan tadi. Sumber
19:43 kemelekatan ini yang membuat kita menderita.
19:45 Dan dalam banyak
19:47 kehidupan, sebetulnya
19:49 kita itu sudah mengalami
19:52 penderitaan berbagai
19:53 macam dari
19:54 kemelekatan itu.
19:57 Apakah masih di dalam kehidupan ini
19:59 kita masih mau melekat lagi?
20:01 Apakah kita masih mau menjadi
20:02 pengemis lagi? Baik pengemis
20:05 ini karena fisik, mungkin dia
20:07 melekat dengan materinya.
20:09 Kalau dia melekat dengan rumahnya
20:11 seperti yang berkali-kali saya katakan
20:13 bisa lahir jadi tokek.
20:14 Dia melekat dengan anaknya, mungkin dia
20:17 menjadi anjing penjaga
20:19 anak itu. Apakah
20:21 kita masih akan melanjutkan
20:23 kemelekatan seperti ini? Atau kita
20:25 mulai potong?
20:27 Atau bahkan kita menambah kemelekatan
20:29 kemelekatan yang baru? Sehingga
20:31 tiap kali kita ingat harta
20:33 kita, aduh gimana deg-degan.
20:35 Tiap kali kita ingat
20:37 keluarga kita, deg-degan. Tiap
20:39 kali kita ingat prestasi-prestasi
20:41 kita, wah jantung berdebar-debar.
20:43 Takut berpisah dengan yang
20:45 dicinta. Kalau selalu demikian
20:47 hidup kita tidak akan pernah
20:49 bahagia. Nah, oleh
20:51 karena itu mestinya kita mulai potong.
20:53 Anda mengenal Dharma mulai
20:55 hari ini, sebetulnya Anda harus
20:57 mulai memotong
20:59 kemelekatan-kemelekatan itu.
21:01 Kita boleh punya keluarga,
21:03 kita boleh punya harta,
21:05 kita boleh punya
21:07 segalanya, tetapi kita harus
21:09 siap menghadapi
21:11 perpisahan dengan dia.
21:13 Apakah yang harus kita siapkan?
21:15 Pola pikir.
21:17 Bahwa sekarang telinga saya tajam
21:19 satu ketika akan berpisah.
21:21 Mulai sekarang, ketika Anda
21:23 masih tajam telinganya, mulai
21:25 itu disiapkan.
21:27 Anda boleh membaca
21:29 di dalam
21:31 perenungan yang tiap kali kebahagiaan
21:33 Abhinha Bajawekana.
21:35 Perenungan tiap kelab
21:37 harus dilakukan tiap hari.
21:40 Aku
21:41 akan mengalami sakit,
21:43 belum mengatasi
21:44 penyakit. Aku akan
21:46 mengalami tua, belum bisa
21:49 mengatasi ketuaan, bahkan aku akan
21:51 mengalami kematian, belum bisa
21:53 mengatasi kematian.
21:55 Segala milikku yang
21:57 kucinta dan kusenangi
21:59 akan berpisah dariku.
22:01 Kulah pewaris karmaku,
22:04 pemilik karmaku, dan seterusnya, dan seterusnya.
22:07 Lahir dari karmaku,
22:08 terlindung oleh karmaku.
22:10 Itu dibaca tiap hari.
22:12 Perenungan kelab itu bukan dibaca
22:14 seminggu sekali tiap kemis.
22:16 Tapi perenungan kelab itu
22:18 sebaiknya Anda baca
22:20 pagi, sore, pagi, sore.
22:22 Kalau perlu Anda tidak pakai bahasa Pali,
22:24 Anda tulis terjemahannya.
22:26 Anda bawa sebagai
22:28 catatan. Tempel di mana
22:30 saja. Di kamar Anda,
22:32 tempel. Di kamar kecil Anda,
22:34 tempel. Sehingga waktu Anda duduk,
22:36 Anda terjongkok, Anda lihat
22:38 tulisan itu, dan Anda baca
22:40 baik-baik.
22:42 Aku akan mengalami tua,
22:44 sakit, mati, belum bisa mengatasi
22:46 ketuaan, sakit, dan mati.
22:49 Ucapkan itu
22:50 terus-menerus. Karena pada saat
22:52 kita nanti berpisah dengan yang
22:54 kita sayangi, baik itu benda,
22:57 baik itu
22:58 orang yang kita cintai, baik
23:00 itu pekerjaan, pemandangan,
23:02 keindahan, maupun fisik
23:04 kita sendiri, kita
23:06 sudah siap menghadapi kematian.
23:09 Tetapi kalau kita
23:10 belum siap,
23:11 kita merasalah, aku masih muda,
23:14 masih lama, aku mati.
23:17 Kalau
23:18 kita belum siap pada
23:20 saat mati nanti,
23:22 jangan salahkan karma
23:24 kalau kita
23:26 lahir di
23:28 alam yang menderita. Kalau
23:30 kita dengan kekikiran tadi
23:32 dicontohkan oleh
23:34 pedagang atau sodagar yang
23:36 namanya Ananda, lahir kembali
23:38 justru jadi orang miskin,
23:40 justru jadi orang menderita.
23:43 Nanti di dalam satu
23:44 kesempatan, juga saudara bisa
23:46 membaca di dalam satu buku,
23:48 seorang buku yang melekat
23:50 dengan jubahnya.
23:52 Maka ketika meninggal, dia jadi kutunya
23:54 jubah. Ini semua adalah
23:56 karena kemelekatan. Melekat dengan
23:58 hartanya, dia bisa jadi orang
24:00 miskin. Melekat jubahnya,
24:02 dia bisa jadi kutu jubah.
24:04 Apa yang anda lekati saat ini?
24:06 Apa yang paling berat anda pisah
24:08 saat ini? Hati-hati
24:10 harus anda belajar berpisah
24:12 dari yang anda paling sayangi.
24:15 Berpisah secara mental.
24:17 Anda siap,
24:19 berpisah saat ini.
24:20 Tidak harus berpisah secara fisik.
24:22 Oh, aku sayang sama rumah ini.
24:24 Berarti aku sekarang mau gelandang
24:26 sajalah, bambung saja
24:28 supaya aku tidak terlahir jadi tekek
24:30 di rumah ini. Salah. Bukan
24:32 itu yang dimaksudkan. Anda sayang
24:35 dengan rumah ini, berarti anda harus siap
24:36 berpisah setiap saat.
24:38 Kalau hari ini saya mati, saya
24:40 pun sudah siap berpisah.
24:42 Jadi bukan harus bambung. Bambung
24:44 ataupun meninggalkan
24:46 rumah. Tapi kalau
24:48 pikirannya masih tetap rumah, ya tetap
24:50 jadi tekeknya rumah. Oh, aku sayang
24:53 dengan pakaianmu. Kalau begitu, aku
24:54 tidak mau pakai pakaian apapun juga.
24:56 Waduh, itu malah tambah parah nanti.
24:58 Nanti harus ke tempat, Pak.
25:00 Biasa dikasih celana.
25:03 Jadi bukan
25:04 begitu. Anda boleh punya rumah
25:06 bagus, anda boleh punya baju
25:08 bagus, anda boleh punya kendaraan
25:10 bagus, anda boleh punya pasangan
25:12 hidup yang bagus, anda boleh punya
25:14 pekerjaan yang bagus, karir yang
25:16 bagus, apa saja boleh. Tetapi
25:18 siapkanlah pikiran anda
25:20 untuk bisa berpisah
25:22 dengan dia dengan membaca
25:24 perenungan.
25:26 Abhinha pacawekana.
25:29 Perenungan kerap
25:30 setiap hari, kalau bisa
25:32 setiap saat. Tulis
25:34 di kertas, bawa kemana-mana.
25:37 Renungkan setiap saat
25:38 sehingga kematian datang
25:40 kapanpun juga.
25:42 Umur tua ataupun masih muda.
25:45 Sakit ataupun masih sehat.
25:47 Kita siap.
25:48 Menghadapi kematian
25:49 untuk terlahir di alam yang lebih baik
25:52 sesuai dengan kebajikan
25:54 yang kita miliki atau bahkan
25:56 kalau kita sempat melatih meditasi dengan
25:58 baik, menghilangkan ketamaan
26:00 kebencian dan kegelapan batin
26:02 sebagai sumber kemelekatan tadi,
26:04 maka kita pun
26:06 bisa tak terlahir kembali
26:08 di alam manapun juga,
26:10 yaitu mencapai kesucian.
26:13 Inilah
26:13 yang perlu saya sampaikan pada malam hari ini
26:16 bahwa kemelekatan
26:18 adalah sumber penderitaan.
26:20 Marilah kita bersama-sama sebagai
26:22 umat buddha mengatasi
26:24 kemelekatan ini dengan
26:26 salah satunya,
26:28 merenungkan, membaca dengan baik
26:30 perenungan
26:32 krab atau abhinja
26:33 pacarvikana sebanyak
26:36 yang kita mampu kerjakan
26:38 setiap harinya.
26:40 Semoga anda semua selalu berbahagia
26:42 di dalam mempelajari
26:44 dan melaksanakan Dharma.
26:46 Semoga semua makhluk, bagi yang
26:48 tampak maupun yang tidak tampak,
26:50 akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan
26:52 sesuai dengan kondisi karmanya
26:54 masing-masing.
26:55 Sabbe Satta Bhavantu Sukhi Tatta