Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Menghilangkan Kemelekatan

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Menghilangkan Kemelekatan

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas tentang kemelekatan sebagai sumber penderitaan dalam ajaran Buddha. Pembicara menjelaskan bahwa kemelekatan pada hal-hal yang dicintai, seperti benda fisik dan orang, menyebabkan penderitaan karena kita pasti akan berpisah dengannya. Untuk mengurangi kemelekatan fisik, kita perlu menyadari ketidakkekalan segala sesuatu dan mempersiapkan diri menghadapi perpisahan. Kisah Ananda si kikir yang terlahir kembali sebagai pengemis miskin dan jelek karena kemelekatan pada hartanya menjadi contoh nyata akibat dari kemelekatan. Dari kisah ini, kita belajar pentingnya memotong kemelekatan agar tidak terlahir kembali dalam penderitaan; kita boleh memiliki hal-hal tetapi harus siap melepaskannya. Pembicara mengajarkan praktik perenungan rutin (Abhiṇhapaccavekkhaṇa) tentang ketuaan, sakit, kematian, dan perpisahan sebagai cara untuk mempersiapkan diri dan mengurangi kemelekatan. Ceramah ditutup dengan ajakan untuk bersama-sama mengatasi kemelekatan melalui perenungan dan meditasi, agar dapat mencapai kebahagiaan dan mungkin kebebasan dari kelahiran kembali.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pendahuluan: Kemelekatan sebagai Sumber Penderitaan
    Pembicara memperkenalkan tema kemelekatan sebagai inti ajaran Buddha, menjelaskan bahwa kemelekatan pada hal-hal yang dicintai menyebabkan penderitaan karena kita pasti berpisah dengannya.
  2. Cara Mengurangi Kemelekatan Fisik
    Menjelaskan bahwa dengan menyadari ketidakkekalan segala sesuatu, kita bisa mengurangi kemelekatan pada benda fisik seperti mobil, rumah, dan orang, serta mempersiapkan diri menghadapi perpisahan.
  3. Kisah Ananda si Kikir dan Kelahiran Kembali
    Menceritakan kisah Ananda yang kaya tetapi kikir, yang karena kemelekatan pada hartanya terlahir kembali sebagai pengemis miskin dan jelek, menunjukkan akibat dari kemelekatan.
  4. Pelajaran dari Kisah: Memotong Kemelekatan
    Mengambil pelajaran dari kisah tersebut, menekankan pentingnya memotong kemelekatan agar tidak terlahir kembali dalam penderitaan, dan bahwa kita boleh memiliki hal-hal tetapi harus siap melepaskannya.
  5. Perenungan Abhiṇhapaccavekkhaṇa sebagai Latihan
    Mengajarkan praktik perenungan rutin tentang ketuaan, sakit, kematian, dan perpisahan sebagai cara untuk mempersiapkan diri dan mengurangi kemelekatan.
  6. Penutup: Mengatasi Kemelekatan untuk Kebahagiaan
    Mengajak umat untuk bersama-sama mengatasi kemelekatan melalui perenungan dan meditasi, agar dapat mencapai kebahagiaan dan mungkin kebebasan dari kelahiran kembali.
Mindful LivingAI · suggestedKamma/KarmaAI · suggestedReflectionAI · suggestedImpermanenceAI · suggestedLetting GoAI · suggestedAttachmentAI · suggestedSulit Melepassuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
NAKMU TASA HAKKUATU RAHATU SAMBUTHASA
MUTASA HATU THASA TASA TAMA MELEKATAN SUMBER PENDERITAAN
Kita membaca parita bersama, kemudian bermeditasi.
Tiba saatnya kita membahas ajaran Sang Buddha
yang seperti kita ketahui bersama,
Sang Buddha mengajarkan dhamma selama 45 tahun
sejak beliau berusia 35 pada saat mencapai kesucian
dan sampai beliau wafat umur 80.
Di dalam 45 tahun pengajaran,
dan kemudian setelah beliau wafat
dilanjutkan oleh para generasi penerusnya
sampai saat ini,
ada satu hal yang selalu dibahas,
selalu diulang,
selalu diterangkan oleh Sang Buddha
adalah tentang kemelekat.
Pertama kali diamati oleh Sang Buddha
yang diajarkan pertama kali di dalam
empat kesucian,
kesunyataan mulia,
bahwa sebetulnya kesunyataan yang pertama
hidup berisi ketidakpuasan
yang sumbernya justru dari kemelekatan.
Kemelekatan yang paling sering
adalah kemelekatan pada yang kita cintai,
yang kita sayangi.
Yang kita cintai, yang kita sayangi
bisa berupa fisik,
mungkin mobil,
mungkin rumah,
mungkin benda-benda yang kita sayangi,
juga termasuk orang yang kita cintai,
orang yang kita sayangi,
dan juga termasuk yang bersifat batin,
mungkin suara yang merdu,
bau yang manggih,
pemandangan yang indah.
Inilah
yang menjadikan problem
di dalam kehidupan kita.
Karena kita sangat cinta
baik kepada benda orang
maupun kepada yang bukan fisik tadi,
akhirnya kita tidak rela
melepaskan
yang kita sayangi,
yang kita cintai.
Kalau sekarang kita
senang
dengan bau yang wangi,
maka begitu kita mau berpisah
dengan bau yang wangi,
misalnya saja terus
tercium bau yang tidak enak,
mungkin bau dupa di sini yang wangi,
kemudian tercium bau kenal pot,
mobil yang tidak enak,
muncullah kejengkelan,
muncullah stres karena kita berpisah
dengan yang kita cintai,
walaupun itu hanya bau yang wangi.
Kita cinta dengan kondisi fisik kita
yang bisa duduk di lantai,
yang cukup lama.
Tapi begitu kesemutan,
jengkel.
Kenapa?
Karena kita berpisah
dengan yang kita cintai.
Nah, oleh karena itu di dalam dharma ini
sebetulnya pelajarannya adalah
bagaimana kita menghilangkan kemelekatan.
Sehingga apapun
yang kita sukai,
apapun yang kita sayangi,
baik berupa fisik,
mobil, rumah,
takangan,
orang,
maupun yang bukan bersifat fisik,
bau-bauan,
pendengaran,
pemandangan,
kesenangan,
kebahagiaan,
apapun yang kita alami,
hendaknya kita jangan melekat
karena kita pasti berpisah dengan dia
dan perpisahan itu menimbulkan problem.
Anda sekarang punya pendengaran yang tajam.
Anda punya mata yang tajam.
Itu kalau masih muda.
Tapi kalau umur sudah bertambah,
telinga makin tidak jelas.
Radio, wah tetangganya terradio saja kita sudah dengar.
Sekarang pintu kamar diketuk saja belum tentu dengar.
Kenapa?
Karena telinga kita sudah berpisah dengan diri kita.
Tapi kalau kita jengkel,
kenapa kupingku yang dulu aku sayangi kok sekarang
jadi hilang kekuatannya?
Muncullah tren.
Dulu mata melihat daun bergoyang saja sudah tahu,
wah ini bisa membedakan.
Ini daun yang bergoyang tertiup angin
atau daun yang bergoyang karena terkena binatang.
Tapi makin lama mata untuk baca koran saja
sudah tidak bisa lagi.
Koran ditempelkan di depan mata pun sudah tidak bisa kelihatan.
Bisa muncul jengkel kita.
Karena kita berpisah dengan yang kita cintai.
Nah, oleh karena itu,
ajaran Sang Buddha yang sudah sekian ribu tahun umurnya itu
sebetulnya intinya adalah bagaimana manusia bisa mengendalikan
keinginannya sehingga kemelekatannya bisa dikuasai.
Nah, saudara-saudara,
sekarang bagaimana mengurangi kemelekatan?
Mengurangi kemelekatan secara fisik?
Ya, kita menyadari bahwa segala sesuatunya akan berpisah.
Saya punya mobil,
suatu ketika mobil rusak.
Pada saat saya mengambil, membeli mobil,
saya harus siap bahwa mobil ini baru
suatu ketika rusak.
Ketika saya membangun sebuah rumah,
saya harus siap bahwa bangun rumah
suatu ketika pasti akan hancur.
Ketika saya memulai pertemuan,
saya harus menyadari bahwa ini
suatu ketika akan terjadi perpisahan.
Ketika saya mempunyai pasangan hidup,
pada saat itu saya harus berpikir
pasangan hidup mesti berakhir dengan perceraian.
Cerai mati, cerai hidup itu urusan lain.
Tapi mesti berpisah.
Ketika saya punya anak,
maka saya harus juga merenungkan.
Sekarang saya punya satu ketika,
pasti juga tidak punya lagi.
Kenapa? Karena satu ketika saya harus berpisah.
Bisa jarak, bisa kota, bisa negara,
sampai pisah dunia.
Satu ketika mesti harus dijalani.
Ini semua adalah
merupakan kenyataan hidup.
Bahwa ketika kita lahir ini pun,
satu ketika mengalami kematian.
Inilah yang harus kita renungkan, saudara.
Setiap kali kita memulai sesuatu,
kita harus renungkan
bahwa ini sebetulnya tidak kekal.
Di dalam zaman Sang Buddha ada satu cerita.
Ada orang yang sangat kaya
di kota Sawati.
Kebetulan namanya adalah Ananda.
Tetapi Ananda ini bukan murid Sang Buddha
yang piku.
Tetapi Ananda ini adalah seorang kaya,
seorang pedagang.
Tetapi yang pelit sekali.
Dia selalu merasa
hartanya ini kurang.
Dia tidak pernah menyadari bahwa
satu ketika
pasti akan berpisah dengan hartanya.
Satu ketika kita akan pasti berpisah
dengan yang kita miliki.
Nah,
Ananda ini punya anak.
Namanya Mulasari.
Setiap hari,
Ananda mengatakan kepada anaknya Mulasari,
kata kita ini
jangan dibagi-bagi ya, nak.
Nanti cepat habis.
Kamu harus hemat.
Sedikit-sedikit saja pakainya.
Ya.
Kalau ada pengomis,
minta jangan dikasih.
Penting ngurangi harta kita.
Nah,
Oleh karena itu,
Mulasari ini sejak kecil sudah ditekankan
oleh bapaknya bahwa kita harus hemat,
hemat, hemat, hemat.
Padahal sebetulnya hemat dan kikir
sulit dibedakan.
Hemat itu kalau perlu,
kita bisa keluarkan.
Kalau tidak perlu, kita tidak pakai.
Sedangkan kikir,
perlu atau tidak perlu,
pokoknya tidak keluar.
Bisa masuk,
tidak boleh keluar.
Ya.
Nah,
kemudian, saudara-saudara,
si Ananda yang kaya raya ini,
karena dia mengumpulkan harta,
terus akhirnya punya emas.
Lima guji banyaknya.
Dan zaman dulu belum ada bank.
Belum bisa disimpan di mana-mana,
akhirnya emasnya ini ditanam di kepulauan.
Di belakang rumah,
tanam.
Nah, tetapi anaknya,
si Mullah Sari tidak dikasih tahu
bahwa bapaknya ini punya emas.
Mungkin takut kalau diambil.
Nah, jadi hanya dikasih tahu saja,
uang harus hati-hati.
Nah, saudara-saudara,
apakah sebetulnya yang terjadi
dalam konsep orang kikir?
Apakah pikirannya
orang kikir itu?
Orang kikir itu kan merasa di dalam,
dirinya tidak pernah punya.
Ya kan?
Jadi dia punya seribu.
Dia merasa,
ah, seribu ini masih kurang.
Saya jangan bagi-bagi.
Ini kurang ini seribu.
Jadi dia kikir.
Dia punya sepuluh ribu,
pola pikirnya juga sama.
Ah, jangan bagi-bagilah sepuluh ribu ini
untuk persiapan masa depan saya.
Masih kurang.
Dia punya seratus ribu juga pikirannya gitu.
Dia punya satu juta juga begitu.
Dia punya seratus juta juga begitu.
Nah, akhirnya dia itu selalu punya
pikiran miskin terus.
Maka suatu ketika Ananda ini
meninggal dunia.
Nah, dia meninggal
masih belum sempat ngomong
emas yang disimpan di
lima guci tadi.
Karena hati-hati
sekali dikasih tumpuan tanah,
apa-apa, didelik,
disembunyikan dengan luar biasa
sehingga sampai lupa ngomong sama anaknya,
dia sudah berangkat.
Perpisahan dengan yang dicintai,
hartanya.
Perpisahan dengan keluarganya yang disayangi
membuat Ananda ini lahir kembali
di deket Sawati.
Di desa,
di luar kota Sawati,
tempat Sang Buddha tinggal.
Tapi karena pola pikirnya seumur hidup itu
kikir,
walaupun hartanya banyak,
tapi merasa tidak punya apa-apa,
maka dia lahir
dalam rahim
seorang pengemis.
Supaya keturutan
kikirnya.
Dulu kan selalu ngomong, tidak punya.
Punya duit? Tidak punya.
Anda sering tidak ditanyai orang,
bahwa duit berapa? Cuma sedikit kok.
Di rumahmu ada duit berapa?
Cuma sedikit kok.
Kan kadang-kadang kalau ditanyai gitu,
terus ada jawabnya, keturutan.
Sungguhan.
Ananda ini keturutan, sungguhan.
Karena kalau ditanya,
tidak punya uang.
Eh, akhirnya benar lahir
di rahim seorang pengemis.
Dan sejak
di dalam kandungan itu,
pengemis lingkungan itu
langsung mati pangani.
Apa itu artinya?
Hasil ngemisnya itu
langsung menurun.
Biasanya satu hari
ngemis bisa satu juta
misalnya. Loh, ngemis
sekarang ya?
Hah?
Iya,
pengemis profesional lho, rampok.
Ya, misalnya
pengemisnya dapatnya lima ribu sehari.
Ih,
setelah ananda ini dikandung,
pengemisnya jadi
nurun omsetnya.
Lima ribu
jadi cuma lima puluh rupiah.
Jadi mereka bingung,
siapa ini ya
yang bikin sial?
Apa ini geng pengemis disini?
Apa?
Kelompok pengemis disini?
Siapa ini ya?
Oh, dulu lancar-lancar lho.
Lima ribu, sepuluh ribu sehari
gampang. Ini kok lima puluh rupiah
terus tiap hari ini bagaimana?
Akhirnya pengemis ini punya
akal.
Kita bagi kelompok.
Ya, ada pengemis lima puluh,
kita bagi kelompok.
Lima kelompok.
Kita lihat sekarang, kelompok mana yang paling
sial?
Nah, lima kelompok ini jalan.
Wah, ditanya,
bagaimana nih kelompok satu, gengnya
nih? Oh, sukses.
Hari ini lima ribu dapat, sepuluh ribu
malah dapat. Wah, hebat.
Berarti ini bintang kelompok ini
oke. Kelompok dua
bagaimana? Sukses.
Kelompok tiga sukses,
keempat sukses, lima
wah ini, ambil
duit. Wah,
lima puluh rupiah cuma.
Wah, ini berarti bintang jeleknya
di kelompok lima ini.
Ada sepuluh orang, ayo dibagi
lagi.
Sepuluh orang ini dibagi
jadi lima kelompok lagi.
Dua, dua.
Dari lima puluh orang
tinggal sepuluh, sepuluh
dibagi dua, dua, dua.
Dari situ
baru ketahuan.
Eh,
ibu yang hamil ini loh
yang bikin miskin.
Kalau ibu ini kemana dia pergi
ngikut ngemis? Mesti
gak punya duit.
Nah, kemudian
ibu yang hamil ini karena
sudah jatuh temponya, dia lahirkan anak.
Wah, lahir anaknya jelek,
mendeni elek.
Jadi sudah miskin, jelek,
elek. Sampai ibunya
aja gila.
Ini anakku jadinya kayak gini loh bentuknya
jelek sekali. Tapi yang namanya
ibu ya sudah lah, biopeni.
Nah, heran ya
sudah lah.
Ibu ini kalau pas anaknya ditinggal,
dapat duit.
Wah, lima ribu, sepuluh ribu
dapat ngemis. Tapi
kalau ngejak anaknya, miskin dia
hari itu. Lima puluh rupiah.
Lalu ibu ini tahu,
oh, ini ya
penyebab anaknya ini.
Gara-gara aku
mengandung ini, sekarang aku diusir dari
kelompok pengemis. Gara-gara aku
kalau ngejak anak ini, juga aku jadi miskin.
Kalau begitu anaknya tak buang
aja.
Supaya
rezekiku naik lagi. Nah, sehingga
setelah anaknya diopeni sampai bisa jalan,
kasih nama
di gelangnya,
terus didorong aja
di pinggir jalan.
Nah,
akhirnya
ibu ini ya sukses jadi pengemis.
Anak ini tetap
ngemis dan menderita.
Kenapa? Karena setiap orang yang didatangi
dia takut lihat mukanya.
Nggak beranifikasi.
Nah, jadi kemana-mana ngemis,
ngemis, ngemis, ngemis, menderita.
Tapi ya gitu ya masih hidup.
Bertahun-tahun, tahun-tahun hidup.
Akhirnya ketemu sang Buddha.
Pengemis ini dipanggil.
Kamu
tahu nggak?
Kamu begini ini kenapa?
Kamu jadi
pengemis, mukamu
jelek, semua orang takut.
Tahu nggak kamu?
Lalu sang Buddha cerita, kamu itu
duluan orang kaya itu loh.
Itu anakmu di sana.
Lalu anaknya dipanggil.
Si Mulasari tadi dipanggil.
Mulasari sudah punya keluarga
dan lain sebagainya, dipanggil.
Eh, sini Mulasari.
Sama sang Buddha.
Ini pengemis yang jelek ini.
Yang kamu juga
takut, keluargamu juga takut.
Ini dulu bapak.
Kok bisa lahir jadi pengemis?
Ini karena pelurik.
Apa buktinya kalau dia ini memang bapakku?
Lalu sang Buddha mengatakan, coba
kamu
nunjuk sama si pengemis tadi.
Kamu dulu kan
nyimpen harta dalam kehidupanmu yang
lalu. Ada
5 kuci isi emas.
Ayo coba tunjukkan di mana.
Ya, kebetulan
pengemis ini inget kehidupan lampunya.
Kemudian dia tunjukkan.
Ini loh hartaku yang 5 kuci tadi.
Nah, saudara-saudara.
Dengan demikian
sebetulnya apa? Inilah
kemelekatan tadi. Sumber
kemelekatan ini yang membuat kita menderita.
Dan dalam banyak
kehidupan, sebetulnya
kita itu sudah mengalami
penderitaan berbagai
macam dari
kemelekatan itu.
Apakah masih di dalam kehidupan ini
kita masih mau melekat lagi?
Apakah kita masih mau menjadi
pengemis lagi? Baik pengemis
ini karena fisik, mungkin dia
melekat dengan materinya.
Kalau dia melekat dengan rumahnya
seperti yang berkali-kali saya katakan
bisa lahir jadi tokek.
Dia melekat dengan anaknya, mungkin dia
menjadi anjing penjaga
anak itu. Apakah
kita masih akan melanjutkan
kemelekatan seperti ini? Atau kita
mulai potong?
Atau bahkan kita menambah kemelekatan
kemelekatan yang baru? Sehingga
tiap kali kita ingat harta
kita, aduh gimana deg-degan.
Tiap kali kita ingat
keluarga kita, deg-degan. Tiap
kali kita ingat prestasi-prestasi
kita, wah jantung berdebar-debar.
Takut berpisah dengan yang
dicinta. Kalau selalu demikian
hidup kita tidak akan pernah
bahagia. Nah, oleh
karena itu mestinya kita mulai potong.
Anda mengenal Dharma mulai
hari ini, sebetulnya Anda harus
mulai memotong
kemelekatan-kemelekatan itu.
Kita boleh punya keluarga,
kita boleh punya harta,
kita boleh punya
segalanya, tetapi kita harus
siap menghadapi
perpisahan dengan dia.
Apakah yang harus kita siapkan?
Pola pikir.
Bahwa sekarang telinga saya tajam
satu ketika akan berpisah.
Mulai sekarang, ketika Anda
masih tajam telinganya, mulai
itu disiapkan.
Anda boleh membaca
di dalam
perenungan yang tiap kali kebahagiaan
Abhinha Bajawekana.
Perenungan tiap kelab
harus dilakukan tiap hari.
Aku
akan mengalami sakit,
belum mengatasi
penyakit. Aku akan
mengalami tua, belum bisa
mengatasi ketuaan, bahkan aku akan
mengalami kematian, belum bisa
mengatasi kematian.
Segala milikku yang
kucinta dan kusenangi
akan berpisah dariku.
Kulah pewaris karmaku,
pemilik karmaku, dan seterusnya, dan seterusnya.
Lahir dari karmaku,
terlindung oleh karmaku.
Itu dibaca tiap hari.
Perenungan kelab itu bukan dibaca
seminggu sekali tiap kemis.
Tapi perenungan kelab itu
sebaiknya Anda baca
pagi, sore, pagi, sore.
Kalau perlu Anda tidak pakai bahasa Pali,
Anda tulis terjemahannya.
Anda bawa sebagai
catatan. Tempel di mana
saja. Di kamar Anda,
tempel. Di kamar kecil Anda,
tempel. Sehingga waktu Anda duduk,
Anda terjongkok, Anda lihat
tulisan itu, dan Anda baca
baik-baik.
Aku akan mengalami tua,
sakit, mati, belum bisa mengatasi
ketuaan, sakit, dan mati.
Ucapkan itu
terus-menerus. Karena pada saat
kita nanti berpisah dengan yang
kita sayangi, baik itu benda,
baik itu
orang yang kita cintai, baik
itu pekerjaan, pemandangan,
keindahan, maupun fisik
kita sendiri, kita
sudah siap menghadapi kematian.
Tetapi kalau kita
belum siap,
kita merasalah, aku masih muda,
masih lama, aku mati.
Kalau
kita belum siap pada
saat mati nanti,
jangan salahkan karma
kalau kita
lahir di
alam yang menderita. Kalau
kita dengan kekikiran tadi
dicontohkan oleh
pedagang atau sodagar yang
namanya Ananda, lahir kembali
justru jadi orang miskin,
justru jadi orang menderita.
Nanti di dalam satu
kesempatan, juga saudara bisa
membaca di dalam satu buku,
seorang buku yang melekat
dengan jubahnya.
Maka ketika meninggal, dia jadi kutunya
jubah. Ini semua adalah
karena kemelekatan. Melekat dengan
hartanya, dia bisa jadi orang
miskin. Melekat jubahnya,
dia bisa jadi kutu jubah.
Apa yang anda lekati saat ini?
Apa yang paling berat anda pisah
saat ini? Hati-hati
harus anda belajar berpisah
dari yang anda paling sayangi.
Berpisah secara mental.
Anda siap,
berpisah saat ini.
Tidak harus berpisah secara fisik.
Oh, aku sayang sama rumah ini.
Berarti aku sekarang mau gelandang
sajalah, bambung saja
supaya aku tidak terlahir jadi tekek
di rumah ini. Salah. Bukan
itu yang dimaksudkan. Anda sayang
dengan rumah ini, berarti anda harus siap
berpisah setiap saat.
Kalau hari ini saya mati, saya
pun sudah siap berpisah.
Jadi bukan harus bambung. Bambung
ataupun meninggalkan
rumah. Tapi kalau
pikirannya masih tetap rumah, ya tetap
jadi tekeknya rumah. Oh, aku sayang
dengan pakaianmu. Kalau begitu, aku
tidak mau pakai pakaian apapun juga.
Waduh, itu malah tambah parah nanti.
Nanti harus ke tempat, Pak.
Biasa dikasih celana.
Jadi bukan
begitu. Anda boleh punya rumah
bagus, anda boleh punya baju
bagus, anda boleh punya kendaraan
bagus, anda boleh punya pasangan
hidup yang bagus, anda boleh punya
pekerjaan yang bagus, karir yang
bagus, apa saja boleh. Tetapi
siapkanlah pikiran anda
untuk bisa berpisah
dengan dia dengan membaca
perenungan.
Abhinha pacawekana.
Perenungan kerap
setiap hari, kalau bisa
setiap saat. Tulis
di kertas, bawa kemana-mana.
Renungkan setiap saat
sehingga kematian datang
kapanpun juga.
Umur tua ataupun masih muda.
Sakit ataupun masih sehat.
Kita siap.
Menghadapi kematian
untuk terlahir di alam yang lebih baik
sesuai dengan kebajikan
yang kita miliki atau bahkan
kalau kita sempat melatih meditasi dengan
baik, menghilangkan ketamaan
kebencian dan kegelapan batin
sebagai sumber kemelekatan tadi,
maka kita pun
bisa tak terlahir kembali
di alam manapun juga,
yaitu mencapai kesucian.
Inilah
yang perlu saya sampaikan pada malam hari ini
bahwa kemelekatan
adalah sumber penderitaan.
Marilah kita bersama-sama sebagai
umat buddha mengatasi
kemelekatan ini dengan
salah satunya,
merenungkan, membaca dengan baik
perenungan
krab atau abhinja
pacarvikana sebanyak
yang kita mampu kerjakan
setiap harinya.
Semoga anda semua selalu berbahagia
di dalam mempelajari
dan melaksanakan Dharma.
Semoga semua makhluk, bagi yang
tampak maupun yang tidak tampak,
akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan
sesuai dengan kondisi karmanya
masing-masing.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhi Tatta
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya