0:00 NAKMU TASA
0:03 PAKUWATO
0:06 ARAHATO
0:08 SAMA TASA
0:14 NAKMU TASA
0:28 MOTASA
0:41 Pelaksanakan Dharma
0:43 Di dalam kehidupan sehari-hari
0:47 Para Buja Bhakti
1:13 Pagi hari ini
1:15 Saya mencoba untuk
1:22 Merenungkan atau mengajak Anda
1:25 Merenung bersama
1:26 Tentang
1:28 Hidupan kita
1:32 Sebagai seorang
1:34 Umat Buddha
1:35 Di dalam banyak kesempatan
1:41 Kadang seorang umat Buddha ini
1:44 Mempunyai
1:46 Pandangan salah
1:47 Identitas
1:53 Buddhis
1:54 Yang kita miliki
1:57 Pandangan salah
2:01 Pada identitas Buddhis
2:07 Kadang-kadang kita menjadi umat Buddha
2:09 Tapi
2:11 Hanya karena
2:12 Saya yakin sebagian besar diantara Anda
2:23 Menjadi umat Buddha
2:25 Adalah karena orang tua Anda
2:32 Berapa banyak
2:35 Diantara Anda yang orang tuanya
2:37 Buddhis
2:39 Yang mendorong Anda
2:40 Ke wihara
2:42 7 kali
2:44 Yang orang tuanya Buddhis
2:46 3
2:49 4
2:50 Oh ini sedikit
2:53 Coba
2:54 Yang orang tuanya Buddhis
2:55 Yang mendorong Anda ke wihara coba
2:57 Ya
3:03 Bagus
3:04 Cukup banyak
3:05 Yang orang tuanya bukan Buddhis
3:08 1
3:11 2
3:12 3
3:13 Nah
3:14 Jadi Anda bisa merasakan
3:16 Bahwa pemilihan agama itu
3:19 Kadang hanya karena
3:21 Sehingga kalau sudah orang tua Buddhis
3:30 Ya sudahlah
3:31 Saya ya ikut Buddhis
3:33 Daripada saya
3:35 Tidak dikasih makan
3:39 Loh kenapa
3:40 Wah orang tua saya kejam
3:42 Kalau saya ke wihara
3:45 Baru dikasih makan
3:46 Kalau saya tidak pergi ke wihara
3:49 Wah langsung sudah
3:52 Makan dan uang saku
3:54 Dipotong
3:55 Tidak dikasih
3:56 Sehingga saya terpaksa
3:58 Ke wihara
4:00 Sehingga kadang kita mengaku umat Buddha
4:05 Karena apa?
4:05 Karena saya sudah
4:08 Dipaksa
4:09 Ke wihara
4:10 Saya sudah ditugaskan oleh orang tua
4:14 Ke wihara
4:15 Bahkan ada yang lebih parah lagi
4:18 Saya sudah diharuskan orang tua saya
4:21 Ke wihara
4:22 Maka saya
4:25 Beragama Buddha
4:26 Anda yang sudah mulai gede
4:30 Karena Anda nampaknya juga
4:32 Ada sebagian yang
4:34 Masih di bawah 17 tahun
4:37 Tetapi sudah ada
4:39 Sebagian kecil yang 17 tahun ke atas
4:41 Sebagian yang kecil yang 17 tahun ke atas
4:42 Anda mengatakan beragama Buddha
4:45 Mungkin hanya karena
4:47 KTP-nya Buddhis
4:50 Anda bisa bangga
4:53 Oh saya punya KTP
4:56 Agama Buddha
4:57 Sehingga Anda menganggap cukup
5:02 Bahwa Anda itu beragama Buddha
5:04 Karena KTP
5:06 Atau kadang ada sebagian
5:09 Di antara kita yang
5:10 Menganggap cukup beragama Buddha
5:12 Karena kita sekolah
5:15 Dan mendapatkan pelajaran
5:19 Agama Buddha
5:19 Di sekolah
5:22 Atau kita menganggap beragama Buddha cukup
5:26 Karena
5:26 Saya hafal parita
5:29 Nah banyak sekali
5:32 Motivasi seseorang menjadi seorang
5:34 Pak Buddha
5:34 Banyak sekali orang menganggap dirinya
5:37 Umat Buddha padahal sesungguhnya
5:40 Orang tua
5:42 Anda Buddhis atau tidak
5:43 KTP Anda Buddhis
5:46 Atau tidak
5:47 Anda mendapat pelajaran agama Buddha
5:50 Atau tidak di sekolah
5:51 Itu sebetulnya bukan jaminan
5:54 Belum jaminan
5:56 Anda menjadi seorang
6:03 Apakah
6:04 Yang menjadi kunci
6:08 Apakah yang menjadi
6:11 Tanda bahwa kita menjadi
6:14 Seorang umat Buddha
6:17 Seseorang menjadi seorang umat Buddha
6:19 Itu adalah kalau kita melihat
6:21 Riwayat Sang Buddha
6:23 Dulu ada seorang Biku
6:25 Yang sangat kagum kepada Sang Buddha
6:28 Ketika Sang Buddha pergi
6:33 Biku ini mengikuti di belakangnya
6:37 Bahkan tersentuh
6:39 Bayangan Sang Buddha saja
6:41 Senangnya luar biasa
6:44 Pokoknya ngikut
6:45 Kemana-mana
6:47 Kalau perlu kadang pegang jubahnya
6:52 Sang Buddha sedikit
6:54 Dan menganggap
6:56 Bahwa dengan memegang jubah Sang Buddha ini
6:58 Merasa
7:00 Sudah menjadi murid
7:04 Tetapi apa kata Sang Buddha
7:08 Sang Buddha menyatakan bahwa
7:10 Bukan dengan begitu caranya
7:13 Kamu menghormati atau menyatakan diri
7:16 Sebagai murid
7:17 Hanya berlindung di bawah bayangan Sang Buddha
7:20 Apa bisa memegang jubah Sang Buddha
7:23 Itu bukan tanda
7:26 Dia menjadi murid
7:28 Sang Buddha
7:30 Tetapi
7:31 Kalau bisa melaksanakan Dharma
7:35 Di dalam kehidupan sehari-hari
7:38 Itulah murid Sang Buddha
7:40 Sehingga Sang Buddha mengatakan
7:43 Walaupun
7:45 Orang bertemu dengan Sang Buddha
7:49 Tetapi tidak melaksanakan Dharma
7:51 Maka sesungguhnya
7:54 Dia belum
7:55 Murid Sang Buddha
7:58 Tetapi walaupun
8:00 Di satu masa
8:01 Nanti ketika kita
8:02 Tidak pernah bertemu dengan Sang Buddha
8:06 Namun kita melaksanakan
8:08 Ajaran Sang Buddha
8:12 Itulah kita sesungguhnya
8:15 Murid Sang Buddha
8:17 Nah saudara-saudara
8:19 Kita pada hari ini
8:22 Sebetulnya
8:24 Walaupun melakunya sebagai
8:25 Murid Sang Buddha
8:28 Anda tentu
8:29 Belum pernah bertemu dengan Sang Buddha
8:31 Ada yang pernah bertemu
8:34 Pernah
8:36 Pernah belum
8:38 Belum
8:40 Nah Anda paling bertemu dengan
8:42 Buddha Rupang
8:44 Atau Patung Sang Buddha
8:46 Ketemu Patung Sang Buddha
8:48 Saja Anda bingung
8:49 Karena Patung Sang Buddha ini
8:52 Sekarang sudah tambah satu lagi
8:53 Ini dua modal
8:56 Patung dan dua macam
8:58 Mukanya
9:03 Sehingga
9:04 Untuk orang-orang yang masih baru
9:05 Kan berpikirkan
9:06 Kadang-kadang bingung
9:07 Ini yang Buddha yang atas
9:09 Atau yang bawah ya
9:10 Nanti kalau tambah lagi kiri kanan
9:14 Nanti yang Buddha ini di kiri
9:16 Atau yang kanan ya
9:17 Kalau nanti ada atas dan bawah lagi
9:20 Ini yang di latai atau yang di atas ya
9:23 Coba
9:26 Saya tanya kepada Anda sekarang
9:30 Dari dua patung yang saya lihat hari ini
9:34 Mana yang patung Sang Buddha
9:35 Yang atas atau yang bawah
9:39 Dua-dua patung yang saya lihat hari ini
9:43 ítut dengan
9:43 Dua-duanya
9:44 Mukanya lain kok
9:46 Apa Anda kalau sudah dipotong
9:50 Dengan tetangga Anda
9:52 Apakah sama
9:53 Yang mana itu pak
9:58 Patung Sang Buddha-nya
9:59 Yang atas atau yang bawah
10:02 Yang atas atau yang bawah
10:06 Siapa ada yang milih
10:09 Yang atas
10:10 Anda ini kan sudah umat Buddha
10:18 Anda sudah kebaktian
10:21 Sudah capek-capek duduk di Damasawa
10:27 Lalu ketika sudah Vajra
10:27 Kalau sekarang yang di depan Anda ini bukan patung Sang Buddha, bukan Buddha Rupang,
10:32 ngapain Anda namaskara? Capek-capek.
10:35 Karena Anda ini kan berarti hanya mengikuti tradisi, tahu?
10:40 Semua namaskara, namaskara.
10:43 Semua baca parita, baca parita.
10:45 Ditanya mana Buddha Rupang?
10:47 Mana patungnya Sang Buddha? Yang atas.
10:49 Atau yang bawah? Dua-duanya.
10:52 Ditanya lagi dua-duanya kalau Anda difoto dengan tetangga Anda, apakah sama?
10:56 Sama, bingung.
10:58 Oh iya, ini yang mana ya jadinya ini patung Sang Buddha?
11:03 Kan kita sudah umat Buddha, kita mestinya mengerti bahwa patung Sang Buddha itu
11:09 bukan foto Sang Buddha.
11:14 Jadi muka Sang Buddha itu tidak seperti patung yang Anda lihat ini.
11:23 Patung itu dibuat ratusan tahun setelah Sang Buddha meninggal.
11:32 Dan patung itu disesuaikan.
11:35 Dengan kebudayaan setelah Sang Buddha.
11:43 Jadi kalau patung model India, dimodel seperti orang India.
11:53 Patung model Tiongkok, dimodel seperti orang Tiongkok.
12:02 Nah, jadi Buddha Rupang yang besar itu, yang dari batu,
12:08 itu.
12:10 Itu.
12:11 Sebetulnya juga patung Sang Buddha.
12:14 Tetapi model, model Indonesia.
12:25 Yang di depannya, itu juga patung Sang Buddha.
12:33 Bukan patung tetangganya.
12:35 Sang Buddha tapi model Thailand.
12:45 Untuk satu masa kerajaan tertentu.
12:50 Kalau nanti di sini ada sepuluh patung, atau mungkin kalau saya datang lagi,
12:54 ada dua puluh patung.
12:57 Itu mungkin patung Sang Buddha semua dengan berbagai macam model.
13:00 Model India, model Sri Lanka, model Jepang, model Tiongkok.
13:05 Macem-macem.
13:10 Kenapa kok mukanya lain?
13:12 Ini kan problemnya sekarang.
13:14 Kenapa model Tiongkok, model Jepang, model Taiwan, model Borobudur, model Thailand, kok tidak sama?
13:22 Karena memang bukan foto Sang Buddha.
13:25 Ini hanya melambangkan kebuddhaan itu sendiri.
13:34 Oleh karena itu, kita sebagai seorang rumah Buddha,
13:37 kita tidak pernah ketemu dengan Sang Buddha aslinya.
13:40 Maka Anda jadi bingung.
13:42 Jawablah kalau Anda pernah ketemu Sang Buddha.
13:44 Anda bisa menegaskan,
13:45 oh, yang patungnya Sang Buddha yang atas atau yang bawah.
13:50 Tetapi karena kita semua belum pernah ketemu dengan Sang Buddha,
13:53 maka kita tidak bisa menentukan yang mana patung Sang Buddha.
13:58 Tetapi sebetulnya,
13:59 memang patung Sang Buddha bukan foto Sang Buddha.
14:03 Bukan merupakan ukiran muka Sang Buddha, badan Sang Buddha.
14:09 Tetapi sebetulnya hanya sebagai lambang kebuddhaan.
14:13 Sehingga lambang kebuddhaan itu dilambangkan misalnya kepala menonjol.
14:20 Itu bukan gelungan.
14:22 Bukan sanggul.
14:25 Memang bentuk kepalanya nonjol.
14:28 Anda boleh pegang kepala Anda sendiri di bagian atas.
14:31 Ini kan ada yang tidak rata.
14:33 Nah, itu kalau Sang Buddha nonjolnya luar biasa.
14:37 Jadi itu bukan sanggul.
14:41 Kemudian telinga yang panjang.
14:44 Itu bukan penduduk putai sana.
14:50 Dia dipanjangin pakai anting yang berat.
14:55 Ya kan panjang itu.
14:56 Itu bukan orang putai.
14:58 Jangan Anda melihat.
14:59 Begitu melihat foto atau patung Sang Buddha.
15:01 Oh, Sang Buddha pasti orang putai ini dulu.
15:03 Orang daya ini.
15:05 Apa tandanya?
15:06 Kupingnya panjang.
15:10 Ya, bukan begitu.
15:13 Ini melambangkan panjang itu sebetulnya adalah
15:18 orang yang usianya panjang,
15:22 punya kebijaksanaannya juga panjang.
15:25 Kalau usianya panjang, tidak bijaksana,
15:29 percuma.
15:30 Tapi usia panjang dan bijaksana.
15:33 Kemudian di lehernya itu juga ada garis tiga.
15:39 Ya, lehernya ada garis tiga.
15:41 Itu juga sebetulnya lambang kebijaksanaan.
15:43 Jadi sebetulnya patung Sang Buddha itu hanya lambang kebijaksanaan.
15:46 Kita tidak pernah bertemu dengan Sang Buddha.
15:49 Oleh karena itu,
15:51 ketika ada biku yang suka memegang jubah Sang Buddha
15:54 ataupun tadi suka bernaung di bawah bayang,
15:58 Sang Buddha menganggap bahwa ini bukan cara penghormatan yang benar.
16:03 Walaupun ketemu dengan Sang Buddha tapi tidak melaksanakan Dharma,
16:07 sebetulnya tidak ada artinya.
16:10 Tetapi di masa yang akan datang,
16:12 walaupun ada orang tidak bertemu dengan Sang Buddha seperti kita sekarang ini,
16:18 tetapi kita mau melaksanakan Dharma,
16:22 inilah sesungguhnya murid Sang Buddha.
16:25 Jadi murid Sang Buddha itu bukan di,
16:28 ditunjukkan dengan KPP Buddhis,
16:31 bukan ditunjukkan dengan orang tua yang Buddhis,
16:35 bukan ditunjukkan mendapat pelajaran agama Buddha di sekolah,
16:40 bukan ditunjukkan dengan hafal parita,
16:43 kuat duduk bersila berjam-jam,
16:47 bukan.
16:48 Tetapi murid Sang Buddha itu adalah orang yang melaksanakan Dharma.
16:56 Sekarang,
16:57 saat yang penting untuk membahas Dharma adalah,
17:01 Dharma apa yang kita bisa praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari?
17:08 Apa yang menjadi cermin?
17:14 Apa yang menjadi identitas sebagai seorang umat Buddha?
17:23 Nah,
17:24 Saudara-saudara,
17:25 umat Buddha ini sebetulnya dikenal dengan kasih sayang.
17:39 Penyebaran ajaran Sang Buddha,
17:43 penyebar luasan Dharma ke seluruh penjuru dunia,
17:48 tidak pernah meneteskan darah,
17:52 setetes pun,
17:53 demi penyebaran Dharma.
17:56 Karena itu ketika Sang Buddha mengutus 60 orang bhikkhu,
18:02 menyebarkan Dharma,
18:04 Sang Buddha hanya bersabda bahwa,
18:05 Pergilah ke seluruh penjuru dunia,
18:07 ajarkanlah Dharma,
18:08 demi kebahagiaan semua makhluk.
18:17 Jadi sebetulnya,
18:18 ajaran Dharma ini dibabarkan adalah supaya semua makhluk berbahagia.
18:24 Sehingga kalau sekarang ajaran Sang Buddha ini dibabarkan dengan teror,
18:28 dibabarkan dengan pembunuhan,
18:30 dibabarkan dengan penyiksaan,
18:34 maka jelas,
18:36 ajaran Sang Buddha ini,
18:38 tidak memberikan kebahagiaan untuk semua makhluk.
18:42 Tapi justru karena ajaran Sang Buddha ini diberikan dengan penuh kasih sayang,
18:49 menghindari dari penyiksaan dan pembunuhan dan teror,
18:53 maka justru agama Buddha ini tidak pernah meneteskan setetes darah pun,
19:00 untuk pembahbaran Dharma.
19:03 Saya tegaskan,
19:04 tidak pernah meneteskan darah setetes pun demi pembahbaran Dharma,
19:08 karena mungkin anda akan suka nonton film silap,
19:13 Saulin.
19:15 Oh itu kan banyak biku berkelahi,
19:18 gebuk-gebukan,
19:19 walaupun pakai toya benjol juga kepala,
19:22 walaupun pakai tongkat juga benjol.
19:26 Jangan lupa,
19:28 mereka berkelahi,
19:30 bukan karena demi agama Buddha.
19:34 Bukan, ayo kamu Buddha juga,
19:36 mau gak ikut agama Buddha?
19:38 Enggak mau,
19:38 kalau enggak mau buat toya kepalamu,
19:40 sampai benjol.
19:42 Enggak.
19:42 Tidak ada itu cerita itu.
19:44 Bukan seperti itu.
19:46 Cerita-cerita silap yang anda lihat,
19:49 sebetulnya itu adalah cerita kebutuhan pribadinya.
19:55 Kebutuhan pribadi membalas dendam,
19:58 kebutuhan perguruannya membalas sakit hati,
20:02 atau cinta yang tertolak kungfu bertindak,
20:05 nah semacam begitu.
20:07 Pokoknya macam-macam lah,
20:09 tapi kan rumusnya ya selalu begitu-begitu kira-kira.
20:12 Nah, jadi,
20:14 tidak pernah demi agama Buddha membenjolkan kepala orang,
20:18 demi agama Buddha melukai orang.
20:20 Bukan.
20:21 Nah,
20:22 oleh karena itu,
20:23 inti sari ajaran Sang Buddha ini,
20:25 sebetulnya adalah cinta kasih.
20:28 Nah, cinta kasih apa yang kita bisa kembangkan
20:31 di dalam kehidupan kita sehari-hari?
20:34 Salah satu baed di dalam
20:37 sutta tentang cinta kasih,
20:39 yang disebut kalangnya metasutta.
20:41 Itu ada satu baed yang sangat mengesankan sekali.
20:46 Jangan karena marah dan benci,
20:49 mengharap orang lain celaka.
20:52 Pernah dengar itu?
20:54 Pernah praktek?
20:57 Pernah bagaimana coba prakteknya?
21:00 Ketika anda disalip orang,
21:02 mati lu.
21:07 Disalip orang langsung mati lu.
21:09 Karena marah dan benci,
21:11 mengharap orang lain celaka.
21:13 Baru nyebrang di depan EGP,
21:16 apa itu?
21:16 Eh, SCP.
21:19 Baru nyebrang,
21:22 langsung mau ditabrak orang,
21:24 mati lu.
21:27 Kata mati lu itu,
21:29 waduh lancar sekali bibir kita mengucapkan.
21:33 Padahal secara Dharma,
21:35 itu sebetulnya bukan agama Buddha.
21:39 Bukan ajaran Sang Buddha.
21:41 Karena ajaran Sang Buddha adalah penuh cinta kasih.
21:44 Jangan karena marah dan benci,
21:46 mengharap orang lain celaka.
21:48 Apalagi kalau tidak pakai mati-mati.
21:51 Tapi apalagi kalau pakai nama binatang.
21:55 Mengeluarkan jurus pengetahuan tentang sio.
22:01 Sio tidak hanya dua belas,
22:04 bisa belasan.
22:06 Sio yang ada,
22:08 sio anjing lu.
22:11 Menjengkelkan, menjengkelkan,
22:12 sio anjing ya kamu.
22:16 Itu sebetulnya,
22:19 mengharap orang lain celaka.
22:23 Menganggap bahwa kamu berkaki dua ini tidak cocok dengan perilakumu.
22:27 Lebih bagus kamu berkaki empat.
22:29 Lebih stabil seperti meja.
22:32 Tapi ya berkaki empat bukan meja,
22:34 anjing lah, ini kan repot.
22:37 Kalau jadi anjing sungguhan,
22:40 kaget loh anda.
22:42 Marah-marah-marah sio anjing lu.
22:44 Eh, mas gugup-gugup lu.
22:48 Apa anda gak nyesel?
22:50 Karena marah dan benci,
22:52 mengharap orang lain celaka.
22:56 Ada anjing,
22:57 itu siapa lagi?
22:59 Orang sini ngomong apa?
23:01 Monyet, eh?
23:02 Babi,
23:03 ya sio ya, masih dua belas.
23:05 Ada yang di luar dua belas sio itu?
23:08 Ada?
23:11 Hah?
23:12 Kucing.
23:12 Jarang orang maki.
23:14 Saking jengelnya.
23:16 Kucing lu.
23:16 Hah?
23:18 Jarang.
23:19 Ya paling gajah lah.
23:23 Jadi sebetulnya kita suka memaki.
23:25 Bahkan memakinya kadang nyampe di sekolah.
23:29 Nomor lima itu jawabnya apa?
23:36 Jangan ditutupi tangan dong.
23:38 Nomor lima jawabnya apa?
23:40 Aku gak bisa.
23:42 Ditutupi terus.
23:44 Oh, sio dua belas.
23:46 Macem model kamu.
23:50 Ulangan ditanya aja gak mau.
23:52 Dua belas macem sio lah kamu.
23:56 Saking jengkelnya gak bisa milih salah satu.
23:59 Udah pilih sendiri.
24:00 Cocokanmu kamu.
24:01 Dua belas itu.
24:02 Yang mana?
24:05 Kenapa, saudara?
24:06 Karena kita marah dan benci
24:09 mengharap orang lain celaka.
24:12 Padahal secara dharma,
24:14 kalau anda ulangan dan bertanya
24:17 dan tidak dikasih tahu dan marah,
24:20 anda sudah melakukan kesalahan beberapa.
24:24 Lipat.
24:25 Yang pertama, ulangan mau kerjasama.
24:29 Itu sudah melanggar sila.
24:33 Sila yang kedua yaitu pencurian.
24:38 Nyuri.
24:39 Melirik.
24:43 Sehingga kalau ulangan pakai kacamata hitam
24:45 supaya meliriknya jelas.
24:47 Kok temennya tidak datang untuk dicuri?
24:57 Malah dibuka.
25:00 Jawabannya,
25:02 kalau anda meniru memfoto kopi kaya gerak cepat
25:06 dan diserahkan,
25:08 sebetulnya anda telah menipu.
25:13 Jadi itu sudah dua lipat.
25:15 Anda menipu.
25:16 Menipu guru anda sendiri satu lipat.
25:20 Yang menipu lainnya adalah menipu diri anda sendiri.
25:25 Anda gak bisa,
25:27 tapi menipu seolah-olah bisa.
25:29 Padahal yang bisa temen anda.
25:32 Di akhir semester,
25:35 anda menipu orang tua anda.
25:38 Nih, aku dapat delapan.
25:40 Gak salah kan aku CS terus.
25:42 Delapan loh nilainya.
25:47 Tidak ada hubungannya.
25:49 Karena anda CS tidak belajar,
25:52 delapannya dapatnya dari nyontek.
25:54 Kok sekarang membenarkan delapannya untuk CS-nya?
25:58 Ini kan gak benar sudah.
25:59 Anda sudah menipu orang tua anda lagi.
26:03 Berapa lipat penipuan itu?
26:09 Belum lagi kalau memaki.
26:12 Wah dua belas.
26:14 Sio kamu ini sudah saya contek baik-baik.
26:18 Salah jawabnya.
26:20 Sudah tinggal nyontek,
26:21 salah ngomel lagi.
26:23 Ini kan orang dalam bahasa luar aja sudah mengatakan,
26:27 ini orang gak tahu budi.
26:29 Sudah dibiarkan nyontek,
26:31 ya salah ngomel maki-maki lagi.
26:35 Kalau tahu salah,
26:36 jangan kasih orang contekan dong.
26:38 Ini kan bikin nama baik saya jatuh ini.
26:41 Kok enak ya.
26:43 Enggak pengen nama baiknya jatuh,
26:44 ya pikirkan diri.
26:47 Coba saudara.
26:49 Sekali anda nyontek sebetulnya sebagai seorang pelajar budi,
26:54 anda itu sudah melakukan berapa pelanggaran kesusilaan.
26:59 Dari Pancasila Budi itu berapa yang sudah anda langgar?
27:04 Kan rugi.
27:08 Apalagi kalau anda memaki,
27:10 mengharap orang lain celaka.
27:13 Nah, oleh karena itu saudara-saudara,
27:16 secara sederhana,
27:18 Dharma untuk dipakai di dalam kehidupan sehari-hari,
27:21 sebagai anda sebagai anak muda, generasi muda, para pelajar,
27:27 mulailah dari jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
27:32 Ingat baik-baik.
27:33 Ketika anda mendapatkan nilai yang lebih buruk daripada teman anda,
27:38 jangan anda memaki dia.
27:39 Oh, lain kali kamu sakit kamu kalau ulangan.
27:44 Biar aku dapat nilai yang tertinggi.
27:46 Jangan begitu.
27:48 Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
27:51 Katakan hal itu di dalam pikiran anda sesering mungkin.
27:57 Supaya anda ini nanti muncul rasa melas hasilnya,
28:00 muncul rasa kasiannya,
28:04 sehingga anda bisa menjadi seorang umat budaya yang baik.
28:12 Sesungguhnya ajaran Dharma ini sangat sederhana.
28:15 Anda bisa praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari.
28:18 Ketika anda tidak dikasih uang meminta uang kepada orang tua,
28:23 orang tua tidak kasih, malah marah-marah kepada anda.
28:28 Berapa kali di dalam hati anda,
28:32 memaki orang tua?
28:34 Pernah maki orang tua?
28:39 Tidak dikasih duit?
28:40 Tidak berani mengaku.
28:44 Tidak berani mengaku nih, padahal mesti itu.
28:48 Orang tua tidak tahu diri, sudah tua.
28:53 Ngomel-ngomel sendiri.
28:57 Sain kamu nanti kalau satu ketika.
29:00 Sudah, ngomel-ngomel-ngomel-ngomel lagi.
29:03 Keluar kata-kata itu.
29:05 Kenapa saudara?
29:06 Karena kita marah, kita benci.
29:11 Kita lalu mengharap orang lain menderita.
29:14 Bahkan orang tua kita sendiri.
29:17 Pertama dari orang yang tidak kita kenal.
29:19 Kita nyebrang di mal kemudian mau ketabrak kita ngomel.
29:22 Kita keinjak kakinya.
29:24 Kalau pernah ke mal dan diinjak kaki, terinjak kaki.
29:30 Apa sikap anda?
29:37 Keluar siuk.
29:43 Kamsah.
29:45 Kamsah.
29:48 Bagus, kalau anda bisa begitu.
29:50 Tapi saya pikir anda pertama lihat orangnya dulu.
29:55 Siapa yang ija?
29:57 Kalau yang ija anak kecil, sipak.
30:01 Kalau yang ija lebih besar dari anda, kamu siap.
30:07 Karena anda takut sama dia.
30:11 Tapi kalau yang ija orang tua,
30:14 matanya kemana?
30:17 Bisa kejadian seperti itu, saudara.
30:20 Kenapa?
30:21 Karena kita tidak kenal.
30:22 Kita marah dan benci mengharap orang menderita.
30:26 Kemudian teman kita sebanggu yang tidak mau kasih nilai ulangannya.
30:30 Atau kita tidak mau dikasih tahu jawaban ulangannya.
30:33 Kita memaki dia.
30:35 Orang tua kita bahkan sekalipun.
30:38 Dia tidak memberi uang kepada kita.
30:40 Tidak memberi kebahagiaan kepada kita.
30:43 Langsung kita memaki.
30:45 Nah, saudara-saudara.
30:47 Jadi sekarang kita sebagai seorang umat Buddha merenungkan.
30:50 Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain menderita atau celaka.
30:55 Lalu kenapa saya marah?
30:58 Kenapa saya benci?
31:00 Apa sebab saya marah?
31:03 Apa sebab saya benci?
31:10 Bencian itu sebetulnya timbul dari pikiran kita sendiri.
31:15 Kita menggunakan kacamata negatif menilai seseorang.
31:26 Ketika teman kita tadi ujiannya tidak mau ditunjukkan jawabannya.
31:33 Lalu kita menilai dia dari sudut pandangan kita.
31:38 Aku mau.
31:39 Kenapa kamu tidak mau berikan kepadaku?
31:44 Kita marah karena keinginan kita tertolak.
31:49 Kita marah karena harapan kita dikecewakan.
31:54 Coba kalau ulangannya.
31:56 Eh, nomor lima.
31:58 Nih, nih. Lihat.
31:59 Nomor enamnya sekalian.
32:01 Uh, senangnya luar biasa.
32:02 Tidak maki-maki kita.
32:04 Bukan keluar dua belas jauh sudah ujian yang baik-baik.
32:09 Kenapa?
32:09 Karena harapan kita terpenuhi.
32:11 Keinginan kita tercapai.
32:13 Padahal di dalam kehidupan kita menurut Dharma.
32:16 Apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kenyataan.
32:22 Apa yang menjadi kenyataan tidak harus selalu sesuai dengan keinginan.
32:29 Maka sebetulnya kita tidak bisa mengubah kenyataan.
32:34 Yang kita bisa ubah adalah kepikiran kita.
32:38 Ketika anda bertanya kepada teman anda.
32:42 Jawaban nomor soal tertentu.
32:45 Teman anda tidak kasih.
32:47 Kenapa harus memakai?
32:48 Anda bisa berdekat.
32:49 Oh, kamu tidak kasih saya.
32:52 Bagus.
32:53 Saya akan jawab sendiri.
32:55 Dan jawab saya harus lebih baik.
33:00 Nah, ini bukan mengharap orang lain celaka.
33:03 Tapi kita mengharap peningkatan kualitas diri saya.
33:06 Saya harus jawabnya lebih baik.
33:09 Mikir.
33:10 Ngawurnya yang bagaimana nih.
33:12 Karena tidak mengerti.
33:13 Ya tidak apa-apa sudah.
33:15 Terpaksa ini ngawur berat ini.
33:17 Nul.
33:18 Ya sudah.
33:19 Tapi nanti lain kesempatan ulangan lagi.
33:21 Saya hajar habis-habisan pelajarannya.
33:24 Saya mesti lebih bisa.
33:26 Nah, di dalam Dharma.
33:28 Kalau ada orang lebih hebat daripada kita.
33:31 Kalau ada orang menjengkelkan kita.
33:34 Maka kita meningkatkan kualitas diri kita.
33:38 Supaya kita bisa menjadi lebih baik.
33:42 Supaya.
33:42 Supaya kita tidak di jengkelkan lagi oleh dia.
33:49 Ini kunci Dharma saudara.
33:51 Kemudian ketika kita di mall.
33:54 Nyebrang.
33:55 Mau ketabrak.
33:58 Kita hanya merenung.
34:00 Oh, kalau begitu.
34:02 Memang tidak enak ya.
34:04 Mau nyebrang, mau ditabrak.
34:06 Kalau begitu lain kesempatan saya kalau nyetir kendaraan sendiri.
34:10 Saya harus lebih hati-hati.
34:13 Karena ternyata orang yang kaget.
34:15 Waktu nyebrang.
34:17 Itu ternyata tidak nyaman.
34:19 Nah, itu menjadi pelajaran untuk kita.
34:21 Sehingga kita punya kualitas yang baik.
34:24 Sehingga di masa depan kita tidak dimaki orang.
34:27 Dan kita juga tidak memaki orang.
34:30 Ketika orang tua kita.
34:34 Dimintain uang.
34:35 Kok tidak mau?
34:37 Bukan kita lalu maki-maki dia.
34:39 Tapi kita lalu merenungkan.
34:41 Kalau orang tua saya tidak mau kasih.
34:43 Tidak apa-apa.
34:44 Saya harus bisa tunjukkan prestasi saya.
34:48 Sehingga suatu saat nanti.
34:50 Orang tua saya justru akan memberi saya.
34:52 Tanpa saya harus meminta.
34:54 Nah, dengan perubahan perilaku seperti ini.
34:58 Sebetulnya secara Dharma.
35:00 Kita akan lebih meningkat.
35:03 Meningkat dan meningkat.
35:05 Kualitas diri kita meningkat.
35:08 Diputus cinta.
35:09 Jangan pernah dimaki.
35:11 Pacar yang meninggalkan kita.
35:13 Jangan dimaki.
35:14 Oh berani meninggalkan aku.
35:16 Dua belas siu tambah.
35:18 Dua kali lipatlah apalah.
35:20 Jangan.
35:21 Atau kebun binatang kamu ya.
35:23 Kalau dua belas siu masih kurang.
35:25 Seluruh kebun binatang.
35:26 Mukanya samalah dengan kamu.
35:29 Jangan.
35:30 Tetapi kita lalu merenungkan.
35:32 Kalau kamu bisa meninggalkan aku.
35:34 Kalau sampai percintaan ini putus.
35:37 Saya harus buktikan.
35:39 Bahwa saya menjadi orang yang lebih baik.
35:41 Sehingga kamu cari dimanapun juga pengganti saya.
35:45 Selalu levelnya lebih rendah.
35:48 Kenapa?
35:49 Karena aku kualitasnya bagus.
35:51 Jangan aduh aku putus cinta.
35:53 Kalau gitu aku minum obat saja terus.
35:56 Nah kualitas malah tambah jelek.
35:58 Akhirnya nilai kita juga tambah rendah.
36:00 Tapi ketika kita bisa meningkatkan kualitas diri kita.
36:03 Akhirnya membuat orang lain yang memutuskan kita itu.
36:08 Menjadi nyesel.
36:10 Duh sayang ya.
36:11 Dulu barang bagus.
36:13 Kok aku buang.
36:14 Aku mau kembali lagi.
36:16 Aduh sudah tertutup pintu depannya.
36:20 Sudah ada anjing galak menjaga di sana.
36:25 Nah dengan begitu kita akhirnya bagaimana?
36:27 Di dalam kehidupan ini semua kesulitan.
36:31 Semua kejengkelan.
36:33 Akhirnya kita bisa apasi dengan semangat hidup yang tinggi.
36:36 Untuk mengubah diri.
36:38 Akhirnya kata-kata.
36:40 Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
36:43 Itu betul-betul kita bisa laksanakan.
36:46 Karena hilang kemarahan.
36:47 Hilang kebencian.
36:49 Karena kita harapan kepada orang kita selalu bisa ubah.
36:52 Sesuai dengan kenyataan.
36:54 Kita mengharapkan pacar kita ini bisa kumpul dengan kita untuk waktu yang panjang.
36:58 Ternyata tidak bisa.
36:59 Maka pikiran kita kita ubah.
37:01 Untuk meningkatkan kualitas diri kita.
37:03 Sehingga pacaran di masa yang akan datang.
37:06 Saya akan lebih mendapatkan yang baik.
37:08 Kualitas diri saya juga baik.
37:10 Sehingga akhirnya usia pacarannya pun.
37:13 Menjadi bisa lebih panjang lagi.
37:15 Bahkan bisa memasuki kehidupan rumah tangga yang baik.
37:19 Nah oleh karena itu saudara-saudara.
37:21 Di dalam Dharma ini.
37:23 Semua kembali kepada diri kita.
37:26 Hidup kita ini seperti bercermin.
37:29 Anda kalau pagi bangun tidur.
37:31 Coba lihat di cermin.
37:33 Muka anda itu seperti apa.
37:36 Rambut anda.
37:36 Muka anda.
37:39 Rambut dan muka anda itu di cermin jelek.
37:43 Jangan cerminnya yang disisiri.
37:46 Jangan cerminnya yang dibedakin.
37:50 Salah.
37:51 Cermin anda gambarnya jelek.
37:53 Muka anda sendiri yang diperbaiki.
37:56 Anda sisiri rambut anda.
37:58 Anda bedakin muka anda.
38:00 Maka gambar di cermin itu akan bagus.
38:03 Ketika masyarakat itu menjengkelkan anda.
38:05 Ketika teman-teman anda membuat anda benci.
38:08 Bukan mereka yang diperbaiki.
38:11 Karena mereka hanyalah cerminan diri anda.
38:15 Tetapi yang anda perbaiki.
38:17 Adalah diri kita masing-masing.
38:20 Kita memperbaiki rambut kita.
38:23 Kita berbeda lebih rapi.
38:25 Artinya kita memperbaiki perilaku pikiran kita.
38:29 Ucapan kita dan perbuatan kita.
38:31 Sehingga kita memiliki kualitas.
38:33 Untuk disayangi.
38:35 Dicintai lingkungan kita.
38:38 Inilah yang perlu saya sampaikan pada pagi hari ini.
38:41 Bahwa sesungguhnya Dharma ini.
38:44 Kalau kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
38:47 Akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan.
38:50 Dharma yang singkat.
38:52 Bahwa inti cari ajaran Sang Buddha adalah.
38:55 Kasih sayang atau Meta.
38:57 Itu hendaknya diwujudkan dalam pengertian.
39:01 Jangan karena marah dan benci.
39:03 Mengharap orang lain selaka.
39:05 Kemarahan dan kebencian muncul.
39:07 Karena harapan kita kepada orang lain terlalu tinggi.
39:11 Dan kita kecewa oleh harapan orang lain.
39:14 Kita harus berusaha mengubah selalu keinginan kita.
39:17 Untuk menyesuaikan dengan keadaan.
39:20 Dan akhirnya.
39:21 Kita bisa selalu memperbaiki diri kita.
39:24 Meningkatkan kualitas diri kita.
39:26 Mengurangi kebencian.
39:28 Mengurangi kejengkelan.
39:30 Sehingga akhirnya kita pun bisa selalu.
39:33 Mengharapkan orang lain berbahagia.
39:36 Dengan selalu mengucap.
39:37 Semoga dia bahagia.
39:39 Semoga semua makhluk berbahagia.
39:41 Inilah sesungguhnya.
39:43 Kunci kita menjadi seorang umat Buddha.
39:46 Anda kenal atau tidak dengan Sang Buddha.
39:49 KTP Anda Buddhis atau tidak.
39:51 Anda mendapat pelajaran agama Buddha atau tidak.
39:54 Anda sering kebihara atau tidak.
39:56 Sesungguhnya yang paling penting.
39:58 Perilaku Anda itu.
40:00 Harus mencerminkan cinta kasih.
40:03 Karena itulah.
40:04 Merk dasar.
40:07 Ajaran Sang Buddha.
40:09 Semoga Anda selalu.
40:11 Yakin di dalam Dharma.
40:12 Semoga Anda bersemangat di dalam melaksanakan Dharma.
40:16 Semoga Anda berbahagia di dalam pelaksanaan Dharma.
40:19 Semoga semua makhluk.
40:21 Bagi yang tampak maupun yang tidak tampak.
40:23 Memperoleh kebaikan dan kebahagiaan.
40:25 Sesuai dengan kondisi.
40:27 Karmanya masing-masing.
40:28 Sati.
40:29 Satwi.
40:29 Sata.
40:31 Pawantu.
40:32 Sukibata.