Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Identitas Buddhis

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Identitas Buddhis

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas tentang identitas Buddhis yang sejati, dimulai dengan kritik terhadap identitas Buddhis yang dangkal karena faktor eksternal seperti orang tua, KTP, atau pelajaran sekolah. Pembicara menegaskan bahwa menjadi Buddhis sejati bukanlah sekadar label, melainkan pelaksanaan Dharma, sebagaimana dicontohkan oleh kisah bhikkhu yang memegang jubah Buddha. Patung Buddha dijelaskan sebagai lambang kebuddhaan, bukan representasi fisik yang akurat, sehingga perbedaan model patung tidak perlu membingungkan. Inti ajaran Buddha adalah cinta kasih (metta), yang diwujudkan dalam praktik sehari-hari dengan menghindari kebencian dan keinginan agar orang lain celaka. Pembicara memberikan contoh konkret seperti saat disalip, tidak diberi contekan, atau tidak diberi uang oleh orang tua, untuk melatih diri agar tidak marah atau memaki. Alih-alih marah, kita diajak untuk mengubah pikiran, meningkatkan kualitas diri, dan menjadikan setiap kesulitan sebagai pelajaran. Hidup diibaratkan seperti bercermin: jika lingkungan buruk, kita harus memperbaiki diri sendiri, bukan orang lain. Dengan memperbaiki perilaku, pikiran, dan ucapan, kita akan dicintai dan bahagia. Pesan utamanya adalah bahwa identitas Buddhis yang sejati terletak pada praktik cinta kasih dan perbaikan diri, bukan pada faktor eksternal atau sekadar simbol.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Identitas Buddhis yang Salah
    Pembicara mengajak merenungkan bahwa menjadi Buddhis seringkali karena faktor eksternal seperti orang tua, KTP, atau pelajaran sekolah, bukan karena pemahaman dan pelaksanaan Dharma.
  2. Murid Buddha Sejati
    Melalui kisah bhikkhu yang memegang jubah Buddha, dijelaskan bahwa murid Buddha sejati adalah yang melaksanakan Dharma, bukan sekadar bertemu atau dekat dengan Buddha.
  3. Patung Buddha sebagai Lambang
    Patung Buddha bukanlah foto, melainkan lambang kebuddhaan; perbedaan model patung disebabkan budaya, dan kita tidak pernah bertemu Buddha asli sehingga tidak perlu bingung.
  4. Cinta Kasih sebagai Inti Ajaran
    Ajaran Buddha disebarkan tanpa kekerasan, dan intinya adalah cinta kasih (metta); contoh nyata adalah menghindari keinginan agar orang lain celaka karena marah atau benci.
  5. Praktik Sehari-hari: Menghindari Kebencian
    Pembicara memberikan contoh konkret seperti saat disalip, teman tidak memberi contekan, atau orang tua tidak memberi uang, agar tidak memaki atau mengharap celaka, melainkan memperbaiki diri.
  6. Mengubah Pikiran dan Meningkatkan Kualitas Diri
    Daripada marah, kita harus mengubah harapan dan meningkatkan kualitas diri; semua kesulitan dijadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik, seperti saat putus cinta atau menghadapi orang menyebalkan.
  7. Hidup seperti Bercermin
    Hidup adalah cermin; jika lingkungan buruk, perbaiki diri sendiri, bukan orang lain. Dengan memperbaiki perilaku, pikiran, dan ucapan, kita akan dicintai dan bahagia.
Mindful LivingAI · suggestedMettā/Loving-kindnessAI · suggestedEthical LifeAI · suggestedDaily PracticeAI · suggestedSelf-CompassionAI · suggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
NAKMU TASA
PAKUWATO
ARAHATO
SAMA TASA
NAKMU TASA
MOTASA
Pelaksanakan Dharma
Di dalam kehidupan sehari-hari
Para Buja Bhakti
Pagi hari ini
Saya mencoba untuk
Merenungkan atau mengajak Anda
Merenung bersama
Tentang
Hidupan kita
Sebagai seorang
Umat Buddha
Di dalam banyak kesempatan
Kadang seorang umat Buddha ini
Mempunyai
Pandangan salah
Identitas
Buddhis
Yang kita miliki
Pandangan salah
Pada identitas Buddhis
Kadang-kadang kita menjadi umat Buddha
Tapi
Hanya karena
Saya yakin sebagian besar diantara Anda
Menjadi umat Buddha
Adalah karena orang tua Anda
Berapa banyak
Diantara Anda yang orang tuanya
Buddhis
Yang mendorong Anda
Ke wihara
7 kali
Yang orang tuanya Buddhis
3
4
Oh ini sedikit
Coba
Yang orang tuanya Buddhis
Yang mendorong Anda ke wihara coba
Ya
Bagus
Cukup banyak
Yang orang tuanya bukan Buddhis
1
2
3
Nah
Jadi Anda bisa merasakan
Bahwa pemilihan agama itu
Kadang hanya karena
Sehingga kalau sudah orang tua Buddhis
Ya sudahlah
Saya ya ikut Buddhis
Daripada saya
Tidak dikasih makan
Loh kenapa
Wah orang tua saya kejam
Kalau saya ke wihara
Baru dikasih makan
Kalau saya tidak pergi ke wihara
Wah langsung sudah
Makan dan uang saku
Dipotong
Tidak dikasih
Sehingga saya terpaksa
Ke wihara
Sehingga kadang kita mengaku umat Buddha
Karena apa?
Karena saya sudah
Dipaksa
Ke wihara
Saya sudah ditugaskan oleh orang tua
Ke wihara
Bahkan ada yang lebih parah lagi
Saya sudah diharuskan orang tua saya
Ke wihara
Maka saya
Beragama Buddha
Anda yang sudah mulai gede
Karena Anda nampaknya juga
Ada sebagian yang
Masih di bawah 17 tahun
Tetapi sudah ada
Sebagian kecil yang 17 tahun ke atas
Sebagian yang kecil yang 17 tahun ke atas
Anda mengatakan beragama Buddha
Mungkin hanya karena
KTP-nya Buddhis
Anda bisa bangga
Oh saya punya KTP
Agama Buddha
Sehingga Anda menganggap cukup
Bahwa Anda itu beragama Buddha
Karena KTP
Atau kadang ada sebagian
Di antara kita yang
Menganggap cukup beragama Buddha
Karena kita sekolah
Dan mendapatkan pelajaran
Agama Buddha
Di sekolah
Atau kita menganggap beragama Buddha cukup
Karena
Saya hafal parita
Nah banyak sekali
Motivasi seseorang menjadi seorang
Pak Buddha
Banyak sekali orang menganggap dirinya
Umat Buddha padahal sesungguhnya
Orang tua
Anda Buddhis atau tidak
KTP Anda Buddhis
Atau tidak
Anda mendapat pelajaran agama Buddha
Atau tidak di sekolah
Itu sebetulnya bukan jaminan
Belum jaminan
Anda menjadi seorang
Apakah
Yang menjadi kunci
Apakah yang menjadi
Tanda bahwa kita menjadi
Seorang umat Buddha
Seseorang menjadi seorang umat Buddha
Itu adalah kalau kita melihat
Riwayat Sang Buddha
Dulu ada seorang Biku
Yang sangat kagum kepada Sang Buddha
Ketika Sang Buddha pergi
Biku ini mengikuti di belakangnya
Bahkan tersentuh
Bayangan Sang Buddha saja
Senangnya luar biasa
Pokoknya ngikut
Kemana-mana
Kalau perlu kadang pegang jubahnya
Sang Buddha sedikit
Dan menganggap
Bahwa dengan memegang jubah Sang Buddha ini
Merasa
Sudah menjadi murid
Tetapi apa kata Sang Buddha
Sang Buddha menyatakan bahwa
Bukan dengan begitu caranya
Kamu menghormati atau menyatakan diri
Sebagai murid
Hanya berlindung di bawah bayangan Sang Buddha
Apa bisa memegang jubah Sang Buddha
Itu bukan tanda
Dia menjadi murid
Sang Buddha
Tetapi
Kalau bisa melaksanakan Dharma
Di dalam kehidupan sehari-hari
Itulah murid Sang Buddha
Sehingga Sang Buddha mengatakan
Walaupun
Orang bertemu dengan Sang Buddha
Tetapi tidak melaksanakan Dharma
Maka sesungguhnya
Dia belum
Murid Sang Buddha
Tetapi walaupun
Di satu masa
Nanti ketika kita
Tidak pernah bertemu dengan Sang Buddha
Namun kita melaksanakan
Ajaran Sang Buddha
Itulah kita sesungguhnya
Murid Sang Buddha
Nah saudara-saudara
Kita pada hari ini
Sebetulnya
Walaupun melakunya sebagai
Murid Sang Buddha
Anda tentu
Belum pernah bertemu dengan Sang Buddha
Ada yang pernah bertemu
Pernah
Pernah belum
Belum
Nah Anda paling bertemu dengan
Buddha Rupang
Atau Patung Sang Buddha
Ketemu Patung Sang Buddha
Saja Anda bingung
Karena Patung Sang Buddha ini
Sekarang sudah tambah satu lagi
Ini dua modal
Patung dan dua macam
Mukanya
Sehingga
Untuk orang-orang yang masih baru
Kan berpikirkan
Kadang-kadang bingung
Ini yang Buddha yang atas
Atau yang bawah ya
Nanti kalau tambah lagi kiri kanan
Nanti yang Buddha ini di kiri
Atau yang kanan ya
Kalau nanti ada atas dan bawah lagi
Ini yang di latai atau yang di atas ya
Coba
Saya tanya kepada Anda sekarang
Dari dua patung yang saya lihat hari ini
Mana yang patung Sang Buddha
Yang atas atau yang bawah
Dua-dua patung yang saya lihat hari ini
ítut dengan
Dua-duanya
Mukanya lain kok
Apa Anda kalau sudah dipotong
Dengan tetangga Anda
Apakah sama
Yang mana itu pak
Patung Sang Buddha-nya
Yang atas atau yang bawah
Yang atas atau yang bawah
Siapa ada yang milih
Yang atas
Anda ini kan sudah umat Buddha
Anda sudah kebaktian
Sudah capek-capek duduk di Damasawa
Lalu ketika sudah Vajra
Kalau sekarang yang di depan Anda ini bukan patung Sang Buddha, bukan Buddha Rupang,
ngapain Anda namaskara? Capek-capek.
Karena Anda ini kan berarti hanya mengikuti tradisi, tahu?
Semua namaskara, namaskara.
Semua baca parita, baca parita.
Ditanya mana Buddha Rupang?
Mana patungnya Sang Buddha? Yang atas.
Atau yang bawah? Dua-duanya.
Ditanya lagi dua-duanya kalau Anda difoto dengan tetangga Anda, apakah sama?
Sama, bingung.
Oh iya, ini yang mana ya jadinya ini patung Sang Buddha?
Kan kita sudah umat Buddha, kita mestinya mengerti bahwa patung Sang Buddha itu
bukan foto Sang Buddha.
Jadi muka Sang Buddha itu tidak seperti patung yang Anda lihat ini.
Patung itu dibuat ratusan tahun setelah Sang Buddha meninggal.
Dan patung itu disesuaikan.
Dengan kebudayaan setelah Sang Buddha.
Jadi kalau patung model India, dimodel seperti orang India.
Patung model Tiongkok, dimodel seperti orang Tiongkok.
Nah, jadi Buddha Rupang yang besar itu, yang dari batu,
itu.
Itu.
Sebetulnya juga patung Sang Buddha.
Tetapi model, model Indonesia.
Yang di depannya, itu juga patung Sang Buddha.
Bukan patung tetangganya.
Sang Buddha tapi model Thailand.
Untuk satu masa kerajaan tertentu.
Kalau nanti di sini ada sepuluh patung, atau mungkin kalau saya datang lagi,
ada dua puluh patung.
Itu mungkin patung Sang Buddha semua dengan berbagai macam model.
Model India, model Sri Lanka, model Jepang, model Tiongkok.
Macem-macem.
Kenapa kok mukanya lain?
Ini kan problemnya sekarang.
Kenapa model Tiongkok, model Jepang, model Taiwan, model Borobudur, model Thailand, kok tidak sama?
Karena memang bukan foto Sang Buddha.
Ini hanya melambangkan kebuddhaan itu sendiri.
Oleh karena itu, kita sebagai seorang rumah Buddha,
kita tidak pernah ketemu dengan Sang Buddha aslinya.
Maka Anda jadi bingung.
Jawablah kalau Anda pernah ketemu Sang Buddha.
Anda bisa menegaskan,
oh, yang patungnya Sang Buddha yang atas atau yang bawah.
Tetapi karena kita semua belum pernah ketemu dengan Sang Buddha,
maka kita tidak bisa menentukan yang mana patung Sang Buddha.
Tetapi sebetulnya,
memang patung Sang Buddha bukan foto Sang Buddha.
Bukan merupakan ukiran muka Sang Buddha, badan Sang Buddha.
Tetapi sebetulnya hanya sebagai lambang kebuddhaan.
Sehingga lambang kebuddhaan itu dilambangkan misalnya kepala menonjol.
Itu bukan gelungan.
Bukan sanggul.
Memang bentuk kepalanya nonjol.
Anda boleh pegang kepala Anda sendiri di bagian atas.
Ini kan ada yang tidak rata.
Nah, itu kalau Sang Buddha nonjolnya luar biasa.
Jadi itu bukan sanggul.
Kemudian telinga yang panjang.
Itu bukan penduduk putai sana.
Dia dipanjangin pakai anting yang berat.
Ya kan panjang itu.
Itu bukan orang putai.
Jangan Anda melihat.
Begitu melihat foto atau patung Sang Buddha.
Oh, Sang Buddha pasti orang putai ini dulu.
Orang daya ini.
Apa tandanya?
Kupingnya panjang.
Ya, bukan begitu.
Ini melambangkan panjang itu sebetulnya adalah
orang yang usianya panjang,
punya kebijaksanaannya juga panjang.
Kalau usianya panjang, tidak bijaksana,
percuma.
Tapi usia panjang dan bijaksana.
Kemudian di lehernya itu juga ada garis tiga.
Ya, lehernya ada garis tiga.
Itu juga sebetulnya lambang kebijaksanaan.
Jadi sebetulnya patung Sang Buddha itu hanya lambang kebijaksanaan.
Kita tidak pernah bertemu dengan Sang Buddha.
Oleh karena itu,
ketika ada biku yang suka memegang jubah Sang Buddha
ataupun tadi suka bernaung di bawah bayang,
Sang Buddha menganggap bahwa ini bukan cara penghormatan yang benar.
Walaupun ketemu dengan Sang Buddha tapi tidak melaksanakan Dharma,
sebetulnya tidak ada artinya.
Tetapi di masa yang akan datang,
walaupun ada orang tidak bertemu dengan Sang Buddha seperti kita sekarang ini,
tetapi kita mau melaksanakan Dharma,
inilah sesungguhnya murid Sang Buddha.
Jadi murid Sang Buddha itu bukan di,
ditunjukkan dengan KPP Buddhis,
bukan ditunjukkan dengan orang tua yang Buddhis,
bukan ditunjukkan mendapat pelajaran agama Buddha di sekolah,
bukan ditunjukkan dengan hafal parita,
kuat duduk bersila berjam-jam,
bukan.
Tetapi murid Sang Buddha itu adalah orang yang melaksanakan Dharma.
Sekarang,
saat yang penting untuk membahas Dharma adalah,
Dharma apa yang kita bisa praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari?
Apa yang menjadi cermin?
Apa yang menjadi identitas sebagai seorang umat Buddha?
Nah,
Saudara-saudara,
umat Buddha ini sebetulnya dikenal dengan kasih sayang.
Penyebaran ajaran Sang Buddha,
penyebar luasan Dharma ke seluruh penjuru dunia,
tidak pernah meneteskan darah,
setetes pun,
demi penyebaran Dharma.
Karena itu ketika Sang Buddha mengutus 60 orang bhikkhu,
menyebarkan Dharma,
Sang Buddha hanya bersabda bahwa,
Pergilah ke seluruh penjuru dunia,
ajarkanlah Dharma,
demi kebahagiaan semua makhluk.
Jadi sebetulnya,
ajaran Dharma ini dibabarkan adalah supaya semua makhluk berbahagia.
Sehingga kalau sekarang ajaran Sang Buddha ini dibabarkan dengan teror,
dibabarkan dengan pembunuhan,
dibabarkan dengan penyiksaan,
maka jelas,
ajaran Sang Buddha ini,
tidak memberikan kebahagiaan untuk semua makhluk.
Tapi justru karena ajaran Sang Buddha ini diberikan dengan penuh kasih sayang,
menghindari dari penyiksaan dan pembunuhan dan teror,
maka justru agama Buddha ini tidak pernah meneteskan setetes darah pun,
untuk pembahbaran Dharma.
Saya tegaskan,
tidak pernah meneteskan darah setetes pun demi pembahbaran Dharma,
karena mungkin anda akan suka nonton film silap,
Saulin.
Oh itu kan banyak biku berkelahi,
gebuk-gebukan,
walaupun pakai toya benjol juga kepala,
walaupun pakai tongkat juga benjol.
Jangan lupa,
mereka berkelahi,
bukan karena demi agama Buddha.
Bukan, ayo kamu Buddha juga,
mau gak ikut agama Buddha?
Enggak mau,
kalau enggak mau buat toya kepalamu,
sampai benjol.
Enggak.
Tidak ada itu cerita itu.
Bukan seperti itu.
Cerita-cerita silap yang anda lihat,
sebetulnya itu adalah cerita kebutuhan pribadinya.
Kebutuhan pribadi membalas dendam,
kebutuhan perguruannya membalas sakit hati,
atau cinta yang tertolak kungfu bertindak,
nah semacam begitu.
Pokoknya macam-macam lah,
tapi kan rumusnya ya selalu begitu-begitu kira-kira.
Nah, jadi,
tidak pernah demi agama Buddha membenjolkan kepala orang,
demi agama Buddha melukai orang.
Bukan.
Nah,
oleh karena itu,
inti sari ajaran Sang Buddha ini,
sebetulnya adalah cinta kasih.
Nah, cinta kasih apa yang kita bisa kembangkan
di dalam kehidupan kita sehari-hari?
Salah satu baed di dalam
sutta tentang cinta kasih,
yang disebut kalangnya metasutta.
Itu ada satu baed yang sangat mengesankan sekali.
Jangan karena marah dan benci,
mengharap orang lain celaka.
Pernah dengar itu?
Pernah praktek?
Pernah bagaimana coba prakteknya?
Ketika anda disalip orang,
mati lu.
Disalip orang langsung mati lu.
Karena marah dan benci,
mengharap orang lain celaka.
Baru nyebrang di depan EGP,
apa itu?
Eh, SCP.
Baru nyebrang,
langsung mau ditabrak orang,
mati lu.
Kata mati lu itu,
waduh lancar sekali bibir kita mengucapkan.
Padahal secara Dharma,
itu sebetulnya bukan agama Buddha.
Bukan ajaran Sang Buddha.
Karena ajaran Sang Buddha adalah penuh cinta kasih.
Jangan karena marah dan benci,
mengharap orang lain celaka.
Apalagi kalau tidak pakai mati-mati.
Tapi apalagi kalau pakai nama binatang.
Mengeluarkan jurus pengetahuan tentang sio.
Sio tidak hanya dua belas,
bisa belasan.
Sio yang ada,
sio anjing lu.
Menjengkelkan, menjengkelkan,
sio anjing ya kamu.
Itu sebetulnya,
mengharap orang lain celaka.
Menganggap bahwa kamu berkaki dua ini tidak cocok dengan perilakumu.
Lebih bagus kamu berkaki empat.
Lebih stabil seperti meja.
Tapi ya berkaki empat bukan meja,
anjing lah, ini kan repot.
Kalau jadi anjing sungguhan,
kaget loh anda.
Marah-marah-marah sio anjing lu.
Eh, mas gugup-gugup lu.
Apa anda gak nyesel?
Karena marah dan benci,
mengharap orang lain celaka.
Ada anjing,
itu siapa lagi?
Orang sini ngomong apa?
Monyet, eh?
Babi,
ya sio ya, masih dua belas.
Ada yang di luar dua belas sio itu?
Ada?
Hah?
Kucing.
Jarang orang maki.
Saking jengelnya.
Kucing lu.
Hah?
Jarang.
Ya paling gajah lah.
Jadi sebetulnya kita suka memaki.
Bahkan memakinya kadang nyampe di sekolah.
Nomor lima itu jawabnya apa?
Jangan ditutupi tangan dong.
Nomor lima jawabnya apa?
Aku gak bisa.
Ditutupi terus.
Oh, sio dua belas.
Macem model kamu.
Ulangan ditanya aja gak mau.
Dua belas macem sio lah kamu.
Saking jengkelnya gak bisa milih salah satu.
Udah pilih sendiri.
Cocokanmu kamu.
Dua belas itu.
Yang mana?
Kenapa, saudara?
Karena kita marah dan benci
mengharap orang lain celaka.
Padahal secara dharma,
kalau anda ulangan dan bertanya
dan tidak dikasih tahu dan marah,
anda sudah melakukan kesalahan beberapa.
Lipat.
Yang pertama, ulangan mau kerjasama.
Itu sudah melanggar sila.
Sila yang kedua yaitu pencurian.
Nyuri.
Melirik.
Sehingga kalau ulangan pakai kacamata hitam
supaya meliriknya jelas.
Kok temennya tidak datang untuk dicuri?
Malah dibuka.
Jawabannya,
kalau anda meniru memfoto kopi kaya gerak cepat
dan diserahkan,
sebetulnya anda telah menipu.
Jadi itu sudah dua lipat.
Anda menipu.
Menipu guru anda sendiri satu lipat.
Yang menipu lainnya adalah menipu diri anda sendiri.
Anda gak bisa,
tapi menipu seolah-olah bisa.
Padahal yang bisa temen anda.
Di akhir semester,
anda menipu orang tua anda.
Nih, aku dapat delapan.
Gak salah kan aku CS terus.
Delapan loh nilainya.
Tidak ada hubungannya.
Karena anda CS tidak belajar,
delapannya dapatnya dari nyontek.
Kok sekarang membenarkan delapannya untuk CS-nya?
Ini kan gak benar sudah.
Anda sudah menipu orang tua anda lagi.
Berapa lipat penipuan itu?
Belum lagi kalau memaki.
Wah dua belas.
Sio kamu ini sudah saya contek baik-baik.
Salah jawabnya.
Sudah tinggal nyontek,
salah ngomel lagi.
Ini kan orang dalam bahasa luar aja sudah mengatakan,
ini orang gak tahu budi.
Sudah dibiarkan nyontek,
ya salah ngomel maki-maki lagi.
Kalau tahu salah,
jangan kasih orang contekan dong.
Ini kan bikin nama baik saya jatuh ini.
Kok enak ya.
Enggak pengen nama baiknya jatuh,
ya pikirkan diri.
Coba saudara.
Sekali anda nyontek sebetulnya sebagai seorang pelajar budi,
anda itu sudah melakukan berapa pelanggaran kesusilaan.
Dari Pancasila Budi itu berapa yang sudah anda langgar?
Kan rugi.
Apalagi kalau anda memaki,
mengharap orang lain celaka.
Nah, oleh karena itu saudara-saudara,
secara sederhana,
Dharma untuk dipakai di dalam kehidupan sehari-hari,
sebagai anda sebagai anak muda, generasi muda, para pelajar,
mulailah dari jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
Ingat baik-baik.
Ketika anda mendapatkan nilai yang lebih buruk daripada teman anda,
jangan anda memaki dia.
Oh, lain kali kamu sakit kamu kalau ulangan.
Biar aku dapat nilai yang tertinggi.
Jangan begitu.
Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
Katakan hal itu di dalam pikiran anda sesering mungkin.
Supaya anda ini nanti muncul rasa melas hasilnya,
muncul rasa kasiannya,
sehingga anda bisa menjadi seorang umat budaya yang baik.
Sesungguhnya ajaran Dharma ini sangat sederhana.
Anda bisa praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika anda tidak dikasih uang meminta uang kepada orang tua,
orang tua tidak kasih, malah marah-marah kepada anda.
Berapa kali di dalam hati anda,
memaki orang tua?
Pernah maki orang tua?
Tidak dikasih duit?
Tidak berani mengaku.
Tidak berani mengaku nih, padahal mesti itu.
Orang tua tidak tahu diri, sudah tua.
Ngomel-ngomel sendiri.
Sain kamu nanti kalau satu ketika.
Sudah, ngomel-ngomel-ngomel-ngomel lagi.
Keluar kata-kata itu.
Kenapa saudara?
Karena kita marah, kita benci.
Kita lalu mengharap orang lain menderita.
Bahkan orang tua kita sendiri.
Pertama dari orang yang tidak kita kenal.
Kita nyebrang di mal kemudian mau ketabrak kita ngomel.
Kita keinjak kakinya.
Kalau pernah ke mal dan diinjak kaki, terinjak kaki.
Apa sikap anda?
Keluar siuk.
Kamsah.
Kamsah.
Bagus, kalau anda bisa begitu.
Tapi saya pikir anda pertama lihat orangnya dulu.
Siapa yang ija?
Kalau yang ija anak kecil, sipak.
Kalau yang ija lebih besar dari anda, kamu siap.
Karena anda takut sama dia.
Tapi kalau yang ija orang tua,
matanya kemana?
Bisa kejadian seperti itu, saudara.
Kenapa?
Karena kita tidak kenal.
Kita marah dan benci mengharap orang menderita.
Kemudian teman kita sebanggu yang tidak mau kasih nilai ulangannya.
Atau kita tidak mau dikasih tahu jawaban ulangannya.
Kita memaki dia.
Orang tua kita bahkan sekalipun.
Dia tidak memberi uang kepada kita.
Tidak memberi kebahagiaan kepada kita.
Langsung kita memaki.
Nah, saudara-saudara.
Jadi sekarang kita sebagai seorang umat Buddha merenungkan.
Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain menderita atau celaka.
Lalu kenapa saya marah?
Kenapa saya benci?
Apa sebab saya marah?
Apa sebab saya benci?
Bencian itu sebetulnya timbul dari pikiran kita sendiri.
Kita menggunakan kacamata negatif menilai seseorang.
Ketika teman kita tadi ujiannya tidak mau ditunjukkan jawabannya.
Lalu kita menilai dia dari sudut pandangan kita.
Aku mau.
Kenapa kamu tidak mau berikan kepadaku?
Kita marah karena keinginan kita tertolak.
Kita marah karena harapan kita dikecewakan.
Coba kalau ulangannya.
Eh, nomor lima.
Nih, nih. Lihat.
Nomor enamnya sekalian.
Uh, senangnya luar biasa.
Tidak maki-maki kita.
Bukan keluar dua belas jauh sudah ujian yang baik-baik.
Kenapa?
Karena harapan kita terpenuhi.
Keinginan kita tercapai.
Padahal di dalam kehidupan kita menurut Dharma.
Apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kenyataan.
Apa yang menjadi kenyataan tidak harus selalu sesuai dengan keinginan.
Maka sebetulnya kita tidak bisa mengubah kenyataan.
Yang kita bisa ubah adalah kepikiran kita.
Ketika anda bertanya kepada teman anda.
Jawaban nomor soal tertentu.
Teman anda tidak kasih.
Kenapa harus memakai?
Anda bisa berdekat.
Oh, kamu tidak kasih saya.
Bagus.
Saya akan jawab sendiri.
Dan jawab saya harus lebih baik.
Nah, ini bukan mengharap orang lain celaka.
Tapi kita mengharap peningkatan kualitas diri saya.
Saya harus jawabnya lebih baik.
Mikir.
Ngawurnya yang bagaimana nih.
Karena tidak mengerti.
Ya tidak apa-apa sudah.
Terpaksa ini ngawur berat ini.
Nul.
Ya sudah.
Tapi nanti lain kesempatan ulangan lagi.
Saya hajar habis-habisan pelajarannya.
Saya mesti lebih bisa.
Nah, di dalam Dharma.
Kalau ada orang lebih hebat daripada kita.
Kalau ada orang menjengkelkan kita.
Maka kita meningkatkan kualitas diri kita.
Supaya kita bisa menjadi lebih baik.
Supaya.
Supaya kita tidak di jengkelkan lagi oleh dia.
Ini kunci Dharma saudara.
Kemudian ketika kita di mall.
Nyebrang.
Mau ketabrak.
Kita hanya merenung.
Oh, kalau begitu.
Memang tidak enak ya.
Mau nyebrang, mau ditabrak.
Kalau begitu lain kesempatan saya kalau nyetir kendaraan sendiri.
Saya harus lebih hati-hati.
Karena ternyata orang yang kaget.
Waktu nyebrang.
Itu ternyata tidak nyaman.
Nah, itu menjadi pelajaran untuk kita.
Sehingga kita punya kualitas yang baik.
Sehingga di masa depan kita tidak dimaki orang.
Dan kita juga tidak memaki orang.
Ketika orang tua kita.
Dimintain uang.
Kok tidak mau?
Bukan kita lalu maki-maki dia.
Tapi kita lalu merenungkan.
Kalau orang tua saya tidak mau kasih.
Tidak apa-apa.
Saya harus bisa tunjukkan prestasi saya.
Sehingga suatu saat nanti.
Orang tua saya justru akan memberi saya.
Tanpa saya harus meminta.
Nah, dengan perubahan perilaku seperti ini.
Sebetulnya secara Dharma.
Kita akan lebih meningkat.
Meningkat dan meningkat.
Kualitas diri kita meningkat.
Diputus cinta.
Jangan pernah dimaki.
Pacar yang meninggalkan kita.
Jangan dimaki.
Oh berani meninggalkan aku.
Dua belas siu tambah.
Dua kali lipatlah apalah.
Jangan.
Atau kebun binatang kamu ya.
Kalau dua belas siu masih kurang.
Seluruh kebun binatang.
Mukanya samalah dengan kamu.
Jangan.
Tetapi kita lalu merenungkan.
Kalau kamu bisa meninggalkan aku.
Kalau sampai percintaan ini putus.
Saya harus buktikan.
Bahwa saya menjadi orang yang lebih baik.
Sehingga kamu cari dimanapun juga pengganti saya.
Selalu levelnya lebih rendah.
Kenapa?
Karena aku kualitasnya bagus.
Jangan aduh aku putus cinta.
Kalau gitu aku minum obat saja terus.
Nah kualitas malah tambah jelek.
Akhirnya nilai kita juga tambah rendah.
Tapi ketika kita bisa meningkatkan kualitas diri kita.
Akhirnya membuat orang lain yang memutuskan kita itu.
Menjadi nyesel.
Duh sayang ya.
Dulu barang bagus.
Kok aku buang.
Aku mau kembali lagi.
Aduh sudah tertutup pintu depannya.
Sudah ada anjing galak menjaga di sana.
Nah dengan begitu kita akhirnya bagaimana?
Di dalam kehidupan ini semua kesulitan.
Semua kejengkelan.
Akhirnya kita bisa apasi dengan semangat hidup yang tinggi.
Untuk mengubah diri.
Akhirnya kata-kata.
Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka.
Itu betul-betul kita bisa laksanakan.
Karena hilang kemarahan.
Hilang kebencian.
Karena kita harapan kepada orang kita selalu bisa ubah.
Sesuai dengan kenyataan.
Kita mengharapkan pacar kita ini bisa kumpul dengan kita untuk waktu yang panjang.
Ternyata tidak bisa.
Maka pikiran kita kita ubah.
Untuk meningkatkan kualitas diri kita.
Sehingga pacaran di masa yang akan datang.
Saya akan lebih mendapatkan yang baik.
Kualitas diri saya juga baik.
Sehingga akhirnya usia pacarannya pun.
Menjadi bisa lebih panjang lagi.
Bahkan bisa memasuki kehidupan rumah tangga yang baik.
Nah oleh karena itu saudara-saudara.
Di dalam Dharma ini.
Semua kembali kepada diri kita.
Hidup kita ini seperti bercermin.
Anda kalau pagi bangun tidur.
Coba lihat di cermin.
Muka anda itu seperti apa.
Rambut anda.
Muka anda.
Rambut dan muka anda itu di cermin jelek.
Jangan cerminnya yang disisiri.
Jangan cerminnya yang dibedakin.
Salah.
Cermin anda gambarnya jelek.
Muka anda sendiri yang diperbaiki.
Anda sisiri rambut anda.
Anda bedakin muka anda.
Maka gambar di cermin itu akan bagus.
Ketika masyarakat itu menjengkelkan anda.
Ketika teman-teman anda membuat anda benci.
Bukan mereka yang diperbaiki.
Karena mereka hanyalah cerminan diri anda.
Tetapi yang anda perbaiki.
Adalah diri kita masing-masing.
Kita memperbaiki rambut kita.
Kita berbeda lebih rapi.
Artinya kita memperbaiki perilaku pikiran kita.
Ucapan kita dan perbuatan kita.
Sehingga kita memiliki kualitas.
Untuk disayangi.
Dicintai lingkungan kita.
Inilah yang perlu saya sampaikan pada pagi hari ini.
Bahwa sesungguhnya Dharma ini.
Kalau kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan.
Dharma yang singkat.
Bahwa inti cari ajaran Sang Buddha adalah.
Kasih sayang atau Meta.
Itu hendaknya diwujudkan dalam pengertian.
Jangan karena marah dan benci.
Mengharap orang lain selaka.
Kemarahan dan kebencian muncul.
Karena harapan kita kepada orang lain terlalu tinggi.
Dan kita kecewa oleh harapan orang lain.
Kita harus berusaha mengubah selalu keinginan kita.
Untuk menyesuaikan dengan keadaan.
Dan akhirnya.
Kita bisa selalu memperbaiki diri kita.
Meningkatkan kualitas diri kita.
Mengurangi kebencian.
Mengurangi kejengkelan.
Sehingga akhirnya kita pun bisa selalu.
Mengharapkan orang lain berbahagia.
Dengan selalu mengucap.
Semoga dia bahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Inilah sesungguhnya.
Kunci kita menjadi seorang umat Buddha.
Anda kenal atau tidak dengan Sang Buddha.
KTP Anda Buddhis atau tidak.
Anda mendapat pelajaran agama Buddha atau tidak.
Anda sering kebihara atau tidak.
Sesungguhnya yang paling penting.
Perilaku Anda itu.
Harus mencerminkan cinta kasih.
Karena itulah.
Merk dasar.
Ajaran Sang Buddha.
Semoga Anda selalu.
Yakin di dalam Dharma.
Semoga Anda bersemangat di dalam melaksanakan Dharma.
Semoga Anda berbahagia di dalam pelaksanaan Dharma.
Semoga semua makhluk.
Bagi yang tampak maupun yang tidak tampak.
Memperoleh kebaikan dan kebahagiaan.
Sesuai dengan kondisi.
Karmanya masing-masing.
Sati.
Satwi.
Sata.
Pawantu.
Sukibata.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya