Ceramah ini membahas tentang harta batin sebagai sumber kebahagiaan sejati, yang melengkapi kebahagiaan materi. Pembicara memulai dengan ucapan selamat kepada keluarga Pak Darsan atas rumah barunya, kemudian mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari materi, tetapi juga dari harta batin. Harta batin yang pertama adalah keyakinan (agama), yang memberikan ketenangan dan kebahagiaan, serta mengajarkan cara mengatasi stres melalui meditasi dan praktik Dhamma. Harta kedua adalah perilaku baik (sila), seperti menghindari lima sila, yang melindungi diri dan membawa kebahagiaan. Harta ketiga adalah keyakinan pada hukum karma, yang mengajarkan bahwa apa yang menjadi milik kita tidak akan hilang, dan apa yang bukan milik kita pasti lepas, sehingga kita bisa menerima kenyataan dengan tenang. Pembicara menutup dengan mengajak merenungkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari harta batin ini, dan menyampaikan doa serta harapan kebahagiaan bagi semua. Pesan utamanya adalah bahwa dengan memiliki keyakinan, perilaku baik, dan pemahaman karma, kita dapat mencapai kebahagiaan yang tidak tergantung pada kondisi eksternal.
Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
Pembukaan dan Ucapan Selamat
Pembicara membuka dengan ucapan selamat kepada keluarga Pak Darsan atas rumah barunya, lalu mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dari materi, tetapi juga dari harta batin.
Harta Pertama: Keyakinan (Agama)
Menjelaskan bahwa keyakinan atau agama adalah harta utama yang memberi ketenangan dan kebahagiaan, serta mengajarkan cara mengatasi stres melalui meditasi dan praktik Dhamma.
Harta Kedua: Perilaku Baik (Sila)
Membahas pentingnya perilaku moral yang baik, seperti menghindari lima sila, sebagai harta yang melindungi diri dan membawa kebahagiaan.
Harta Ketiga: Keyakinan pada Hukum Karma
Menjelaskan bahwa memahami hukum karma adalah harta berharga; apa yang menjadi milik kita tidak akan hilang, dan apa yang bukan milik kita pasti lepas, sehingga kita bisa menerima kenyataan dengan tenang.
Penutup dan Harapan
Mengajak merenungkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari harta batin (keyakinan, sila, dan pemahaman karma), lalu menutup dengan doa dan harapan kebahagiaan bagi semua.
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Bapak, Ibu, cedera-cedera yang berbahagia, khususnya kepada Bapak Darshan Subhagyo dengan Ibu Ifon Bimalalani.
Baru saja kita membacakan parita atau doa-doa di dalam agama Buddha, doa menurut tradisi agama Buddha.
Buddha dalam upacara memasuki rumah baru atau mungkin pemberkahan rumah baru dengan satu harapan.
Agar keluarga memperoleh kebahagiaan, siapapun juga yang tinggal di tempat ini juga memperoleh kebahagiaan sesuai dengan yang diinginkan.
Karena tentu kebahagiaan bermacam-macam.
Dengan sukses di dalam pekerjaannya.
Memang itu yang dimiliki oleh penghuni rumah ini, semoga sukses.
Ada juga kebahagiaan dalam bentuk ingin mendapatkan kesehatan.
Kalau memang itu yang diinginkan oleh penghuni rumah ini, tentu kita mengharapkan semoga apa yang diinginkan bisa tercapai.
Bapak dan Ibu yang berbahagia.
Bapak dan Ibu yang berbahagia, tentu kita sudah seharusnya mengucapkan selamat kepada keluarga Pak Darsan yang mempunyai tempat yang baru ini.
Ini merupakan salah satu perwujudan dari cita-cita yang dimiliki.
Dalam kesempatan malam hari ini, ingatkan kepada kita semua bahwa apa yang kita cari di dunia,
dan hanya yang bersifat materi.
Karena apa yang bersifat materi ini membahagiakan fisik kita.
Karena kita dengan mempunyai materi yang cukup, kita bisa makan enak, bisa berpakaian yang bagus, punya tempat tinggal yang baik.
Tetapi makan enak tidak menjamin.
Kebahagiaan patin.
Pakaian yang bagus tidak menjamin kebahagiaan patin.
Sekolah yang sampai tinggi, lulusan universitas juga tidak menjamin kebahagiaan patin.
Oleh karena itu pada malam hari ini kita bukan membahas tentang bagaimana mencari kegiatan atau kecukupan.
Kita juga bukan membahas tentang bagaimana meningkatkan kesehatan ataupun mencari gelar di perguruan tinggi.
Tetapi malam hari ini kita akan membahas tentang kebutuhan patin kita.
Sehingga kalau di dalam dunia kehidupan sehari-hari, Anda bisa bekerja sehingga kecukupan ekonominya,
sehat,
badannya.
Pada malam hari ini kita akan membahas bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan.
Kebahagiaan yang saya sebutkan pada malam hari ini sebetulnya juga kalau di dalam dhamma dikatakan sebagai harta juga.
Karena di dalam dhamma tidak menyebut harta hanya sebagai materi.
Tetapi hal-hal yang bisa menimbulkan.
Harta yang utama yang membuat seseorang.
Seseorang bisa berbahagia mempunyai keyakinan.
Keyakinan ini adalah harta yang utama.
Atau di dalam bahasa sekarang sebetulnya kalau keyakinan ini punya agama.
Oleh karena itu kadang-kadang tidak jarang kita mendengar di dalam sebuah riwayat atau sejarah.
Bagaimana orang mempertahankan agama sampai bisa dibela sampai mati.
Mati-matian.
Sehingga tidak jarang adanya pertahanan agama sampai dengan mengeluarkan darah dan air mata.
Mungkin ketika Anda menentukan menjadi buddhis pun.
Mungkin juga keluar darah dan air mata.
Kalau yang belum buddhis dari kandungan.
Tapi kalau yang sudah buddhis sejak dalam kandungan.
Keluarnya Anda itulah yang menghabiskan darah dan air mata ibu Anda.
Ini memang kenyataan.
Sejarah sudah mencatat itu.
Sama dengan orang yang diminta duit.
Bisa rela mengorbankan hartanya.
Belum tentu dia.
Dia kadang tidak mau mengorbankan hartanya.
Lebih baik berkelahi.
Sehingga kalau Anda mendengar berita di televisi atau di mana.
Gara-gara uang seribu.
Bikin.
Anda sendiri.
Mungkin ngalami loh.
Gara-gara uang parkir seribu bisa cekcok sama tukang parkir.
Sudah pernah belum?
Pernah?
Seribu rupiah waktu Anda berhenti.
Seribu kemudian waktu Anda mau berangkat lagi kan ditarik uang seribu.
Anda langsung ngomel-ngomel.
Aku kan tidak parkir.
Aku cuma berhenti.
Ini namanya stop.
Kalau stop tidak bayar.
Kalau parkir baru bayar.
Seribu rupiah juga kegeran.
Kenapa kalah kita mempertahankan harta?
Demikian pula agama.
Bahwa kadang diminta agamanya oleh anaknya.
Ayolah kamu ikut agama saya.
Tidak mau.
Keger.
Mudah. Lebih baik.
Tidak usah hubungan orang tua dan anak saja.
Tidak.
Bisa terjadi seperti itu.
Orang yang pacaran yang beda agama ketika pacarnya meminta ayolah kamu ikut agamaku tidak lebih baik bercerai jangan sampai aku ikut kenapa demikian karena agama menjadi harta oleh karena itu di dalam dama ini disampaikan harta yang pertama untuk kebahagiaan kita adalah agama karena agama ini bisa membuat kita tenang.
Coba anda baru stres-stres.
Kemudian baca parita.
Ada leganya itu.
Pernah anda merasakan?
Sudah stres.
Sumpah.
Kemudian langsung membaca dengan keras-keras.
Namu tasa basawatu.
Pokoknya sampai tetangga bingung semua.
Wah sudah teriak begitu rasanya lega.
Pernah ngalami?
Belum?
Semoga jangan sampai stres.
Ya tetapi pernah gak anda merasakan satu ketika tenang di depan di depan antara anda ketika anda membaca parita atau apa saja pernah?
Ya bisa tenang.
Padahal kalau anda punya masalah belum tentu masalahnya itu selesai.
Tapi tenang duluan.
Ada beberapa orang yang punya duet ketika punya masalah dia belanja.
Wah aku pokoknya cenggal sekali beli A, beli B, beli U, beli semua.
Tapi pulang tetap sumpah.
Karena ngitung-ngitungan loh.
Aku tadi duit-duitku kurang banyak ya.
Wah nanti akhir bulan bayar kredit card bagaimana ini?
Nah ini dia.
Karena apa?
Karena uang tidak menyelesaikan masalah.
Atau saking jengkelnya makan banyak-banyak.
Saya sering mendengar sekali itu orang yang stres makan.
Makin stres makannya makin banyak.
Padahal pada umumnya dulu-dulu zaman saya kecil.
Itu kalau orang stres makannya.
Sedikit.
Zaman saya kecil itu.
Aku stres mau makan.
Aku nggak mau makan.
Sekarang lain.
Stres.
Wah lemari kulkas dibukain.
Lemari semua lah bukain.
Makan lagi.
Makan lagi.
Makin cetak.
Makan banyak.
Makin banyak.
Sampai akhirnya makin badannya makin gemuk.
Akhirnya makan keluarin lagi.
Makan.
Pakai jari dimasukkan lagi.
Itu kan sudah stres.
Yang luar biasa.
Makan tidak menyelesaikan.
Stres Anda.
Tapi ketika kita mempunyai agama.
Misalnya mengajarkan.
Di dalam dhamma diajarkan Anda bermeditasi.
Bagi yang suka meditasi tentunya.
Maka.
Stresnya berkurang.
Begitu stres-stres-stres.
Tidak makan yang diajar.
Bukan belanja yang diajar.
Duduk diem meditasi.
Tapi yang sudah bisa.
Karena kalau yang belum bisa.
Stres duduk meditasi.
Setengah jam senyum-senyum sendiri.
Malah kontrak.
Tapi kalau sudah bisa.
Karena pikiran terpusat.
Terfokus.
Batin menjadi tenang.
Makanya orang-orang kemudian.
Aku kalau meditasi kok mesti ngantuk ya.
Sudah pernah Anda ngalami belum?
Kalau meditasi ngantuk.
Sering ya.
Tiap kali meditasi ngantuk.
Itu berarti Anda sudah bisa konsentrasi.
Eh sungguhan ini.
Sungguhan.
Ketika Anda sudah bisa konsentrasi.
Anda mengantuk.
Kenapa?
Karena tenang.
Kalau Anda bisa ngatasi ngantuknya.
Dengan Anda perhatikan konsentrasinya.
Ngantuknya hilang.
Pikiran Anda terang.
Nanti konsentrasinya tinggi.
Repotnya.
Begitu ngantuk.
Menyerah.
Bantal lebih enak.
Langsung nyungsep.
Ya.
Akhirnya.
Keluarnya.
Kalau meditasi kok mesti ngantuk.
Kalau meditasi mesti ngantuk.
Karena Anda tidak berusaha menyelesaikan ngantuknya.
Tapi begitu ngantuknya bisa dikuasai.
Seduduk.
Langsung ngantuk.
Langsung perhatikan obyeknya.
Terus dikuatkan semangatnya pada obyek.
Ngantuknya hilang.
Pikirannya terang.
Sudah tenang.
Kenapa demikian?
Coba Anda buktikan.
Ketika Anda meditasi ngantuk.
Lalu Anda berbaring.
Belum tentu Anda bisa tidur.
Sampai pagi.
Iya kan?
Kenapa begitu?
Karena pikiran Anda ngantuk tadi adalah hasil konsentrasi.
Coba sekarang sambil berbaring.
Anda perhatikan juga obyek.
Napas masuk dan napas keluar tadi.
Anda anggap itu sebagai latihan meditasi.
Nanti tenang lagi.
Mesti tidur.
Karena itu kalau meditasi sambil berbaring.
Itu namanya relaksasi.
Karena nanti.
Waduh.
Aku sudah meditasi semalam suntuk.
Ya.
Meditasinya lima menit pertama.
Enam jam kemudian itu turu sebetulnya.
Alias tidur.
Tidak meditasi.
Tapi kalau Anda duduk dengan tegak.
Kemudian ngantuk.
Itu bisa dikendalikan ngantuknya ini.
Nah.
Ini adalah hasil mempunyai agama.
Mempunyai keyakinan.
Makanya itu harta.
Harta yang pertama itu.
Nah kita harus kembangkan.
Makanya kita mengerti agama Buddha misalnya.
Kita kembangkan.
Kita kembangkan.
Kita kembangkan.
Agama Buddha ini apa saja.
Jangan agama Buddha hanya tahu sembayang.
Sudah sering saya ketemu umat Buddha yang pintar baca parita.
Tapi kalau stres.
Carinya dukun.
Anda sudah ngerti agama Buddha.
Masih cari dukun.
Anak-anak mahasiswa.
Bingung bagaimana besok ujian.
Tukang santet yang dicari.
Padahal ini kan ngerti agama Buddha.
Kenapa saya tidak bisa begini.
Tidak bisa masuk konsentrasi.
Tidak bisa belajar saya.
Latihan meditasi.
Kenapa saya dimusuhi oleh lingkungan.
Latihan memancarkan cinta kasih.
Ini agama mengajarkan seperti itu.
Cuman kita tidak mau menggali.
Kadang kita ini hanya menjadi umat Buddha tradisi.
Anda walaupun sering ikut kebaktian kemana-mana.
Selama cara berpikir Anda isinya masih dukun.
Dan lain-lain.
Sebetulnya Anda masih umat Buddha tradisi.
Walaupun buku parita.
Itu hafal.
Tidak jaminan itu.
Ya manusia kan stres bantai.
Kan boleh cari suhu.
Iya.
Anda sudah tahu penyebab stres.
Bagaimana mengatasi stres.
Itu semua di dalam dharma sudah diulahkan.
Oleh karena itu.
Memiliki agama.
Bukan hanya sekedar KTP.
Memiliki agama sebagai harta adalah.
Ketika kita melaksanakan dharma itu.
Di dalam kehidupan.
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Yang kedua.
Harta yang lain adalah.
Selain kita memiliki agama.
Kita memiliki perilaku yang baik.
Atau lebih jelas.
Mempunyai perilaku yang sesuai.
Dengan aturan kemoralan.
Kalau kita mengenal yang disebut.
Pelaksanaan Pancasila Buddhis.
Tidak membunuh.
Tidak mencuri.
Tidak melanggar kesusilaan.
Tidak bohong.
Tidak mampu-mampuan.
Ini juga harta.
Walaupun harta kita ini tidak bisa diuangkan dalam bentuk cek.
Tapi ini harta.
Ketika Anda.
Mau menjadi menantu seseorang.
Kadang-kadang Anda ditanya loh.
Pernah masuk penjara belum?
Itu harta di sisi yang lain.
Ketika Anda mengatakan.
Ya saya ini kan dulu keluar masuk penjara sebagai sekolah saya.
Belum.
Tentu calon mertua Anda itu mau.
Tapi kalau Anda mengatakan.
Aku menghindari pembunuhan.
Menghindari pencurian.
Menghindari perjinahan.
Menghindari kebohongan.
Menghindari mabu-mabuan.
Wah langsung calon mertua langsung mengatakan.
Sini cepat cari tanggal baik.
Loh kenapa harus cari tanggal baik?
Ini kan tidak sesuai Dharma ini.
Karena hari apa saja baik.
Menurut Dharma.
Setiap kali kita punya kesempatan berbuat baik.
Itulah hari baik.
Kalau memang Anda sudah setuju.
Om dan Tante sudah setuju.
Hari ini saja.
Hari ini hari baik.
Wah ini calon mertua.
Ya begitulah.
Kenapa?
Karena kita memiliki harta.
Coba kalau hartanya ini mau hilang.
Anda juga bingung.
Misalnya.
Anda karena kebutuhan ingin mencuri.
Mencuri tidak usah yang jauh-jauh.
Buka handphonenya teman.
Itu kan bagian dari pencurian kalau tanpa izin.
Buka mau lihat.
SMS nya dari mana saja.
Itu saja tolah-toleh kok Anda.
Ada orang tidak?
Ada orang tidak?
Oh tidak ada orang.
Lalu Anda buka SMS itu.
Tutup lagi.
Untung dari tadi tidak ada orang.
Lupa kalau dirinya sendiri juga orang.
Lupa kalau dirinya sendiri juga orang.
Lupa kalau dirinya sendiri orang.
Dan takut kehilangan hartanya.
Yaitu latihan untuk tidak mencuri.
Sehingga di nolak kanan dan kiri.
Melakukan kesalahan yang pertama.
Mesti takut.
Kalau ada ibu-ibu.
Yang pertama kali menyebeli ayam.
Misalnya untuk mertua.
Atau apa.
Tapi kalau tiap hari sudah lakukan.
Biasa-biasa karena hartanya sudah hilang.
Sungguhan Anda kalau kehilangan sandal.
Anda kalau kehilangan sandal.
Saat pertama kaget-kaget.
Kandalku hilang, tapi kalau 2-3 hari
Yaudahlah, sekarang bebes
Anda sudah terbiasa
Dengan kehilangan itu
Ketika kita kehilangan
Harta kita, melakukan
Pembunuhan, melakukan pencurian
Melakukan percinaan, bohong
Mabu-mabuan
Kalau yang pertama kita stres
Karena itu harta kita hilang
Tapi kalau sudah berulang-ulang
Biasa
Bohong itu yang paling sering
Anda waktu bohong
Yang pertama, takut tadi kok bohong
Aduh gimana ya nanti
Kalau ditanyain orang lagi
Yang pertama
Tapi kalau sudah yang ke-10
Anda pandai sekali
Menutupi kebohongan dengan bohong yang lain
Dengan bohong yang lain, bohong yang lain
Sampai orangnya yang ngomong akhirnya
Bingungin kamu nih yang bener yang bagian mana
Karena dari awal sampai akhir
Bohong terus, kenapa?
Karena awalnya kita sudah bohong
Melailah dengan kejujuran, karena itu harta yang tertinggi juga
Kalau kita
Sudah punya agama sebagai harta
Kita sudah punya
Perilaku yang baik
Sebagai harta
Harta yang ketiga
Yang sebetulnya merupakan bagian
Dari perilaku beragama tadi
Mempunyai keyakinan
Pada hukum karma
Ini juga harta
Berapa kali
Dalam kehidupan kita ini
Melakukan kesalahan
Kejengkelan, kebencian
Emosi
Karena kita tidak mengerti hukum karma
Kita telah kehilangan
Harta kita
Usaha saya kok gagal terus ini bagaimana
Lalu cari dukun
Ini bagian dari hukum karma
Karena apa yang kita miliki
Kalau memang masih milik kita
Dia akan tetap milik kita
Tapi kalau itu bukan milik kita
Dicegah pun
Dia akan hilang
Ini adalah prinsip
Di dalam hukum karma
Satu contoh yang pernah mungkin saya berikan kepada Anda
Dompet Anda
Kalau memang masih milik Anda
Hilang di jalan pun
Akan kembali ke rumah Anda
Anda yang menemukan
Melihat alamat Anda
Melihat foto Anda
Terkagum-kagum dengan foto Anda
Cari Anda untuk mengembalikan
Dompet Anda
Uang satu lembar pun
Tidak berguna
Tapi kalau dompet itu sudah bukan milik Anda
Anda simpen di mana saja yang paling tersembunyi
Malah Anda lupa kok tempatnya
Tak simpen di mana ya
Saking tersembunyinya malah lupa
Pernah jalan itu?
Saking simpennya wah
Takut ketahuan orang
Anda sendiri lupa
Di mana ya dulu dompet Anda?
Dompetku ini
Nah sudah
Nanti puluhan tahun kemudian baru ketemu
Uangnya sudah gak laku
Lah gambarnya Pak Dirman yang masih pakai blangkon itu