0:00 Begini Bante saya mau menanyakan yaitu, bahwa sekarang ini kayaknya sudah tren bahwa banyak pasangan rumah tangga yang bercerai atau pisah.
0:12 Lalu yang saya tanyakan adalah, di mana posisi agama Buddha mengenai hal ini apakah sependapat atau tidak sependapat atau mungkin melangkul, sekian.
0:23 Baik, sebetulnya perceraian di dalam agama Buddha itu adalah hal yang wajar.
0:30 Kenapa demikian? Karena konsep Buddha adalah hidup tidak kekal.
0:35 Perkawinan adalah pilihan, perceraian juga pilihan.
0:40 Tidak ada harus, pokoknya kalau sudah kawin seumur hidup begini.
0:44 Kalau memang keluarganya itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi, mungkin dia harus berumah tangganya berhenti.
0:52 Dia harus bercerai, bisa saja.
0:55 Cuman perceraian itu tidak disarankan.
0:59 Di dalam agama Buddha, perceraian itu adalah jalan terakhir kalau segalanya tidak bisa diatasi lagi.
1:09 Dan perlu diingat, perceraian itu bukan penyelesaian masalah.
1:15 Yang bisa diselesaikan hanya masalah suami dan istri saja.
1:19 Tetapi kalau dia sudah punya anak, perceraian itu akan menambah masalah yang baru.
1:25 Oleh karena itu, bagaimanakah perceraian di dalam agama Buddha?
1:29 Ada, bisa dikerjakan.
1:33 Karena segalanya adalah tidak kekal.
1:34 Tetapi tidak dianjurkan.
1:37 Seperti yang tadi disampaikan pula.
1:40 Yang dipuji oleh sang Buddha adalah,
1:43 Kalau seseorang itu setia dengan pasangan hidupnya.
1:47 Orang yang cerai sebetulnya adalah tanda dia kurang setia dengan pasangan hidupnya.
1:54 Begitu?
1:56 Bisa menjawab pertanyaan yang Anda tanyakan?
2:00 Ya, baik. Mungkin ada pertanyaan lain?
2:02 Silahkan, Pak.
2:03 Terima kasih waktu yang telah diberikan kepada kami.
2:14 Ini permasalahannya masih dalam tahap pencarian, Bante.
2:19 Ya.
2:22 Seandainya, jika saya mempunyai bacaan dari agama lain.
2:27 Kemudian karena faktor orang tua.
2:33 Bahwa pernikahan bisa dilaksanakan.
2:36 Kalau mau mengikuti tata cara keyakinannya.
2:40 Dan pada satu sisi, usia kami sudah menjelang cukup dewasa ya.
2:48 Cukup-cukup lanjut begitu.
2:50 Ini bagaimana pemecahannya, Bante?
2:54 Kemudian, yang kedua.
2:57 Ini bila ada semasang remaja yang saling mencintai.
3:01 Sama keyakinannya.
3:03 Dan siap untuk menikah.
3:06 Tetapi di lain sisi, mereka mempunyai perbedaan sosial, adat istiadat, dan suku.
3:14 Sehingga di sini 90% posisi orang tua sangat dominan.
3:18 Dan sangat memungkinkan egonya yang sangat tinggi.
3:24 Sedangkan, Mas Sanghana tadi sangat menginginkan pernikahan itu.
3:30 Kemudian, apakah Sanghana harus menikah tanpa harus ke orang tua?
3:35 Atau...
3:36 Orang tua harus tetap mempertahankan dari segi perbedaan sosial dan adat istiadat.
3:41 Terima kasih.
3:43 Ya, kasus yang pertama adalah beda agama.
3:47 Bagaimana beda agama dan harus kawin?
3:52 Sebetulnya, kalau belum berumah tangga.
3:57 Lebih disarankan untuk tidak berumah tangga dengan yang beda agama.
4:04 Kenapa demikian?
4:06 Kasus apakah agama demikian dominan?
4:10 Agama demikian dominan ini, saya melihat ini kejalannya hanya di Indonesia.
4:17 Mungkin kalau di luar negeri, antara beda agama dan kawin, saya kira tidak masalah.
4:21 Kenapa begitu?
4:23 Di Indonesia ini, orang suka cari yang tidak ada.
4:29 Ini patah Indonesia.
4:31 Satu contoh.
4:34 Ini sudah jam 7, mari merapat kita mulai.
4:38 Ini sudah jam 7, mari merapat kita mulai.
4:38 Jangan.
4:41 Belum banyak yang datang.
4:43 Belum.
4:44 Yang sudah datang tidak direken.
4:48 Yang belum datang dan belum tentu datang, itu yang diurus.
4:53 Itu patah Indonesia.
4:55 Nah, sehingga kalau nanti anda berumah tangga dengan yang bukan pasangan hidupnya, bukan satu agama.
5:01 Pergi ke tempat ibadah A.
5:03 Misalkan anda agamanya A.
5:06 Pasangan hidup anda B.
5:08 Anda pergi ke tempat ibadah A.
5:11 Yang ditanya itu yang tidak ada.
5:13 Loh, istrimu kok tidak ikut?
5:18 Itu kebiasaan Indonesia.
5:19 Anda pun akan begitu.
5:21 Yang ditanya, yang tidak ada.
5:23 Sadar tidak?
5:25 Hah?
5:26 Ya, lho.
5:27 Istrimu kok tidak ikut?
5:29 Nah, istriku bukan agamanya sama.
5:31 Loh, itu sudah stres, lho.
5:33 Akhirnya, setiap kali pertemuan ditanya, istrimu kok tidak ikut?
5:37 Istrimu kok tidak ikut?
5:38 Akhirnya, setiap kali pertemuan ditanya, istrimu kok tidak ikut?
5:41 Sudah.
5:41 Anda dengan istri sama agamanya.
5:44 Anaknya tidak.
5:46 Nanti ikut pertemuan.
5:48 Wah, suami istri ikut semua.
5:51 Dateng.
5:51 Anaknya kok tidak dateng?
5:54 Selalu yang dikejar yang tidak ada.
5:57 Itu Indonesia.
6:00 Nah, oleh karena itu,
6:02 problem beda agama menjadi masalah besar.
6:05 Karena itu, kalau belum berumah tangga,
6:08 lebih baik harus diselesaikan dulu.
6:14 Untuk menyatukan satu agama.
6:18 Yang kedua, kalau mau terus tidak pakai restu orang tua,
6:27 itu satu hal yang sangat kurang baik.
6:31 Sudara-sudara,
6:33 dalam banyak pengalaman yang saya temui di masyarakat,
6:38 perkawinan tanpa restu orang tua,
6:42 buntutnya penderitaan.
6:45 Kenapa demikian?
6:48 Satu contoh.
6:49 Anda kan punya adik.
6:52 Misalnya Anda punya adik.
6:54 Adik Anda besok ulangan.
6:56 Kalau Anda ngomong,
6:57 Dik, belajar.
7:00 Enggak ah, aku mau main-main.
7:04 Belajar.
7:05 Enggak mau main-main.
7:07 Ya wis.
7:09 Terserah.
7:11 Tapi apa yang ada di dalam pikiran Anda?
7:13 Anda bukan mengizinkan adik Anda main-main.
7:16 Tetapi Anda berpikir,
7:18 kalau besok enggak bisa ujiannya,
7:22 kalau besok kamu ulangannya enggak bisa,
7:25 rasain lu.
7:27 Baru percaya omonganku.
7:29 Itu kan sebetulnya nyumpahi loh.
7:33 Nah, sekarang orang tua sudah begitu.
7:35 Jangan kamu kawin sama dia.
7:38 Pokoknya aku cinta.
7:39 Ini jodohku.
7:41 Omongan enggak masuk akal.
7:44 Kalau jodoh enggak ada.
7:46 Orang tua enggak setuju.
7:48 Itu banyak orang, anak muda,
7:50 pengawurannya di bagian itu.
7:52 Dan orang tua kadang manggut-manggut.
7:53 Iya ya, baiknya anak ini sudah jodoh sama itu.
7:57 Kalau sudah jodoh, enggak akan geger orang tua.
8:00 Jodoh itu semua sudah akan mendukung.
8:04 Nah, jadi kamu jangan kawin sama dia.
8:07 Enggak, ini sudah jodohku.
8:09 Jangan, enggak baik.
8:10 Beda satu sini, beda ini, beda itu.
8:14 Biar ada.
8:15 Ya udah.
8:16 Tapi apa ya udah itu orang tua pikir?
8:19 Rasain kamu nanti kalau memang ada kesulitan.
8:24 Jangan sambat sama saya.
8:28 Nah, nanti kalau sudah ada kesulitan,
8:30 kejadian benar.
8:31 Nah, oleh karena itu,
8:33 kalau sudah agamanya berbeda,
8:37 sebaiknya masing-masing harus saling mengerti agama yang lain.
8:41 Mungkin sama-sama enggak mau pindah agama, oke lah.
8:44 Tapi harus saling mengerti.
8:45 Jangan punya pikiran,
8:47 agamaku yang paling benar,
8:48 agamamu yang salah.
8:51 Kalau anda sudah mulai dari situ,
8:53 rumah tangga enggak akan bisa dipertahankan.
8:56 Ingat,
8:56 beda agama ini nanti akan terbawa sampai tua.
9:00 Beda agama ini akan terbawa sampai mati.
9:05 Tadi sudah saya ceritakan,
9:06 kalau sekarang perkawinan, oke lah.
9:09 Agamaku dengan agamamu enggak sama.
9:11 Tapi oke lah kita pilih salah satu untuk kawin.
9:15 Kalau nanti sudah tua,
9:16 sakit-sakitan,
9:18 mau dicembayangi agama apa?
9:20 Agama yang sakit apa agama yang hidup?
9:23 Ya, agama yang sakit lah.
9:25 Agama yang sakit cepat sembuh.
9:29 Sudah dicembayangi enggak sembuh-sembuh.
9:32 Malah mati.
9:35 Sekarang upacara kematiannya,
9:36 mau model yang sakit, yang mati,
9:38 atau model yang hidup agamanya.
9:42 Ya, model yang mati dong.
9:46 Saya enggak senang.
9:48 Oh, yang mati kan sudah enggak ngerti.
9:52 Yang nyembayangi kan yang hidup.
9:55 Jadi model yang hidup aja.
9:56 Coba, apa enggak beda agama ini jadi masalah
9:59 sampai di alam kubur.
10:01 Belum lagi nanti,
10:02 ini upacara tiga harianya,
10:04 model apa?
10:05 Model agamanya yang mati,
10:07 apa model agamanya yang hidup?
10:09 Tujuh harianya,
10:11 model yang mati apa yang hidup?
10:13 Bentuk izinnya,
10:15 model yang mati apa yang hidup agamanya?
10:17 Jadi masalah panjang.
10:20 Karena itu,
10:21 bagi yang berbeda agama,
10:23 kalau belum menjadi pasangan hidup,
10:27 sebaiknya harap dipikir ribuan kali resikonya.
10:33 Tapi kalau sudah terpaksa harus
10:35 tetap pasangan hidup,
10:37 masing-masing harus punya pikiran.
10:39 Bukan agamaku yang paling benar,
10:42 tapi masing-masing punya kebenarannya sendiri
10:46 untuk bisa saling berkomunikasi.
10:50 Kemudian,
10:51 kalau terlalu beda apanya,
10:55 sebetulnya
10:57 jangan juga dilanjutkan.
11:01 Perkawinan itu kalau terlalu beda,
11:03 baik kebudayaannya,
11:05 baik latar belakang sosialnya,
11:07 baik pendidikannya,
11:08 kadang itu sulit untuk mendapatkan kebahagiaan.
11:12 Karena perkawinan itu adalah
11:15 menemukan beberapa persamaan,
11:18 bukan mengumpulkan banyaknya perbedaan.
11:23 Coba lihat adik,
11:25 waktu yang saya terangkan.
11:26 Apa tuh sebetulnya
11:28 kita disarankan untuk sama,
11:30 sama punya kerelaan,
11:33 sama punya perilaku yang bermanfaat untuk pasangan hidupnya,
11:38 sama punya kata-kata yang baik,
11:41 sama tidak sombongnya,
11:43 sama agamanya,
11:44 sama kemoralannya,
11:47 sama kedermawanannya,
11:49 sama kebijaksanaannya.
11:50 Makin banyak persamaannya,
11:54 makin bahagia rumah tangganya.
11:57 Makin banyak perbedaannya,
11:59 rumah tangga semakin sulit dipertahankan.
12:05 Apalagi kalau tidak diizinkan orang tua,
12:09 jangan,
12:11 jangan melanggar.
12:13 Saya lebih menyarankan untuk tidak melanggar,
12:16 karena banyaknya pengalaman
12:19 rumah tangga kurang bahagia,
12:21 karena melanggar nasihat orang tua.
12:27 Begitu pak.
12:29 Ada pertanyaan cukup jelas itu?
12:32 Ada lagi pertanyaan yang lain?
12:40 Silahkan.
12:42 Sebentar mic-nya biar dibawa.
12:44 Terima kasih.
12:53 Tak ada suara nih.
12:59 Ya, dah itu.
13:02 Terima kasih.
13:03 Di sini yang kami tanyakan,
13:05 yaitu berkenaan dari
13:09 tujuan berumah tangga diantaranya
13:12 adalah untuk memperoleh kebahagiaan
13:17 di dunia.
13:19 Nah, kalau saya melihat
13:22 dan menjalani dalam hidup
13:24 berumah tangga,
13:27 ternyata
13:30 di dalam berumah tangga itu
13:31 suatu masalah itu selalu muncul.
13:35 Nah, maka dari itu sebagai pertanyaan,
13:40 dimanakah bentuk-bentuk kebahagiaan,
13:42 terutama di dalam
13:45 berumah tangga?
13:48 Sehingga
13:50 akan
13:52 bisa dijalani
13:54 mengenai makna kebahagiaan
13:56 di dalam berumah tangga ini.
13:58 Terima kasih nanti.
13:59 Iya.
14:00 Tadi sudah saya jelaskan
14:02 bahwa kebahagiaan itu
14:04 bukan sebagai perumah tangga,
14:07 bukan karena kawin,
14:10 bukan karena tak kawin.
14:12 Kebahagiaan itu,
14:13 itu adalah kualitas hidup seseorang
14:16 ketika pikiran seseorang bisa menerima
14:20 apa yang dia alami itu
14:25 sebagai kenyataan.
14:29 Berumah tangga akan selalu bermasalah.
14:31 Baik Anda berumah tangga
14:33 ataupun Anda tidak berumah tangga,
14:35 selalu bermasalah.
14:36 Dan ingat,
14:37 apakah yang membuat masalah?
14:39 Pikiran kita sendiri,
14:41 keinginan kita,
14:43 untuk lain daripada
14:46 kenyataan yang kita hadapi,
14:48 itulah yang membuat masalah.
14:51 Misalnya,
14:54 anak menangis.
14:57 Siapa tuh anak
15:00 yang tidak menangis?
15:02 Semua orang tahu anak menangis.
15:04 Tapi kalau kita sedang
15:06 dapat duit,
15:08 pikiran baru enak,
15:10 anak menangis rasanya bahagia.
15:13 Tidak, anak itu tidak mengerti
15:15 kalau bapaknya untuk duit
15:17 sampai menangis.
15:19 Minta uang tidak kamu?
15:20 Ya, ya, ya,
15:21 belikan roti.
15:24 Itu kalau kita baru senang.
15:28 Tapi anak yang sama
15:29 dan menangis yang sama,
15:32 kita baru jengkel,
15:34 duit baru habis,
15:37 kita bisa emosi.
15:39 Anak kok menangis terus?
15:41 Aku tidak punya duit ikut mereweli,
15:45 paling merepotin.
15:47 Sudah.
15:48 Akhirnya jadi masalah.
15:50 Kenapa begitu?
15:51 Pikiran kita.
15:53 Bukan anak menangis atau tidak menangis,
15:55 tetapi pikiran,
15:58 keinginan kita.
15:58 Nah, oleh karena itu saudara,
16:00 kalau tadi pertanyaannya adalah
16:02 apakah kebahagiaan di dalam rumah tangga?
16:05 Saya jawab bukan hanya di dalam rumah tangga saja.
16:08 Di dalam kehidupan kita ini
16:10 kebahagiaan adalah
16:12 ketika kita bisa menerima,
16:16 kenyataan
16:16 yang kita alami.
16:19 Itulah yang disebut kebahagiaan.
16:22 Kalau Anda bisa menerima kenyataan bahwa anak Anda menangis,
16:26 karena memang pekerjaannya adalah menangis,
16:28 bisanya hanya menangis,
16:30 pada saat itu Anda bahagia.
16:32 Walaupun punya uang, tidak punya uang,
16:34 walaupun diomeli atasan atau tidak,
16:36 ketika melihat anak Anda menangis,
16:39 Anda akan tetap bahagia karena menyadari
16:41 itulah kemampuannya.
16:45 Ketika pasangan hidup Anda rewel
16:47 dan Anda menyadari memang
16:49 aku punyanya pasangan hidup yang rewel
16:51 dan cerewet seperti ini,
16:53 maka itulah kebahagiaan.
16:55 Tapi kalau tidak pernah Anda
16:57 mau menerima kenyataan,
16:59 tidak akan pernah ada bahagia.
17:01 Anda akan selalu berpikir
17:03 rumput di tetangga
17:05 selalu lebih hijau.
17:08 Itu nanti di dalam bahasa Jawa
17:10 menjadi wang, sina, wang.
17:12 Saling melihat,
17:13 kok kamu tidak seperti dia,
17:15 kok kamu tidak seperti itu,
17:17 malah tambah stres.
17:18 Yang diperbaiki adalah pikiran kita sendiri
17:21 untuk menerima kenyataan
17:23 yang sedang kita hadapi.
17:26 Begitu,
17:27 itulah kebahagiaan
17:29 baik di dalam rumah tangga
17:30 maupun dalam kehidupan sehari-hari.
17:34 Yang lain, pertanyaan lain?
17:38 Cowok dan cewek yang berlainan agama,
17:42 tetapi karena sudah
17:43 saling cinta-mencintai
17:46 lahir dan batin,
17:48 dia
17:50 menjadi satu agama,
17:52 lalu nikah
17:54 dengan cara satu agama tertentu.
17:56 Tetapi setelah nikah,
17:59 mereka itu
18:00 beribadah menurut agama
18:02 mereka masing-masing.
18:03 Lalu bagaimana pandangan
18:06 agama Buddha menurut pengertian?
18:08 Terima kasih.
18:09 Sebetulnya pernikahan itu
18:11 hanya tradisi.
18:15 Penikahan secara agama
18:17 atau tertulis
18:18 itu hanya tradisi saja.
18:20 Nah,
18:21 yang dipentingkan sebetulnya adalah
18:23 bukan pernikahannya,
18:25 tetapi adalah cara hidup
18:27 mereka sehari-hari.
18:29 Kalau cara hidup mereka sehari-hari
18:31 itu selalu berbeda agama,
18:35 pasti
18:35 nanti akan timbul masalah.
18:37 Khusus di Indonesia yang saya amati,
18:40 pasti timbul masalah.
18:41 Kenapa? Ya karena orang Indonesia
18:43 punya kebiasaan menanyakan
18:45 yang tidak ada lagi.
18:47 Itu problem yang pertama.
18:49 Yang kedua, di Indonesia ini
18:52 paling sering
18:53 orang tanya agama.
18:56 KTP saja
18:57 ditulis agamanya tertentu.
19:00 Padahal
19:01 di beberapa tempat di luar negeri,
19:03 agama adalah
19:04 hak asasi.
19:07 Agama tidak pernah ditulis di KTP.
19:09 Kartu pengenal tidak ada agama.
19:12 Formulir-formulir
19:14 pendaftaran
19:16 pekerjaan tidak ditulis agama.
19:18 Karena agama adalah
19:20 milik pribadinya masing-masing.
19:22 Nah, karena kalau
19:23 dalam suasana seperti itu,
19:25 bebas, kita tidak ada masalah.
19:28 Tetapi kalau di Indonesia
19:30 yang semuanya serba urusan agama ini
19:32 diurusi,
19:34 kalau sampai nanti
19:36 suami istri tadi hanya kawin
19:37 sama agamanya, kemudian
19:40 nanti setelah selesai,
19:42 cara perkahwinan, mereka
19:43 jalani agamanya sendiri-sendiri.
19:45 Ini perkahwinan ini akan bermasalah.
19:48 Salah satu contohnya adalah
19:49 nanti ada nyamuk saja
19:52 yang budis misalnya menganggap
19:54 itu makhluk, yang satu ngomong binatang.
19:56 Belum nanti pendidikan anak.
19:58 Yang satu ngomong, ini harus dididik
20:00 cara agama saya. Yang satu ngomong,
20:02 ini harus cara saya.
20:04 Dan yang seterusnya, dan yang seterusnya.
20:06 Jadi,
20:07 kalau saya melihat bukan perkahwinan
20:10 itu yang paling penting upacaranya,
20:12 tetapi cara hidup mereka
20:14 sehari-hari. Kalau satu
20:16 agama, walaupun apapun mereknya,
20:18 itu akan memberikan manfaat
20:20 yang jauh lebih besar
20:21 daripada kalau hanya kawin satu
20:23 agama, setelah itu beda
20:26 lagi.
20:28 Begitu.
20:30 Mungkin tadi, belakang.
20:32 Terima kasih, Banti.
20:40 Namaskara, Banti.
20:42 Saya mau menanyakan,
20:45 mungkin tadi sudah ada
20:46 yang menanyakan, cuma saya
20:48 ingin jawaban yang lebih jelas lagi.
20:51 Bagaimana
20:52 jika seorang wanita Buddhis
20:54 kemudian kawin dengan
20:56 lelaki yang non-Buddhis.
20:58 Kemudian, karena suatu tradisi,
21:00 si wanita Buddhis
21:02 ini harus ikut masuk
21:04 agama suaminya.
21:06 Tetapi, di dalam keseharianya
21:08 atau di dalam kehidupannya sehari-hari,
21:10 wanita Buddhis ini tetap
21:12 bisa menjalankan
21:14 sila atau dhamma dari Sang Buddha.
21:16 Saya mau menanyakan,
21:18 apakah wanita Buddhis ini
21:20 yang sudah menjadi
21:22 penganut agama lain karena
21:23 ikut suaminya, masih tetap
21:26 bisa disebut sebagai orang Buddhis?
21:28 Kemudian yang kedua,
21:30 apakah orang Buddhis
21:32 itu harus
21:34 selalu bisa membaca parita
21:36 dalam kehidupannya sehari-hari,
21:37 kemudian rajin ke wihara,
21:40 atau hanya bisa
21:43 menjalankan sila
21:44 atau dhamma tanpa harus pergi
21:46 ke wihara atau membaca
21:48 parita dalam keseharianya?
21:50 Terima kasih, Bante. Mohon penjelasannya.
21:52 Baik. Pertanyaan yang baik sekali.
21:54 Apakah si wanita
21:56 itu tetap Buddhis
21:58 atau tidak?
22:00 Agama Buddha, kalau kita
22:01 berbicara tentang agama
22:04 sebagai lembaga,
22:06 kalau KTP-nya dia sudah
22:08 bukan Buddhis karena ikut
22:10 suami, dia
22:11 bukan
22:14 beragama Buddha lagi
22:16 secara lembaga.
22:19 Tapi ingat,
22:20 agama Buddha
22:22 bukan menekankan KTP.
22:26 Saya seorang biko,
22:28 kemudian memimpin
22:30 kebaktian agama Buddha,
22:31 saya tidak akan bertanya kepada para
22:33 umat yang datang, KTP-mu Buddhis
22:36 atau bukan? Kalau bukan Buddhis,
22:38 kamu tidak ikut kebaktian, tidak boleh.
22:40 Saya bukan Pak Camat
22:42 yang mengurusi KTP.
22:45 Nah,
22:46 jadi kalau agama Buddha adalah
22:48 kebaktian agama Buddha,
22:48 menekankan pada perilakunya.
22:51 Bahkan ada satu kata-kata yang
22:53 sangat penting sekali di dalam
22:55 buku-buku Buddhis adalah
22:57 menjadi belajar
22:59 agama Buddha,
23:01 melaksanakan agama Buddha,
23:03 melaksanakan ajaran sang Buddha,
23:05 tidak harus
23:07 menjadi seorang umat Buddha.
23:12 Jadi anda kalau sekarang ada seorang
23:14 wanita tadi yang dulunya Buddhis,
23:17 kemudian setelah menikah
23:18 dia mungkin KTP-nya sudah bukan Buddhis,
23:20 tapi dia masih menjalankan
23:22 ajaran sang Buddha, maka
23:24 dilihat dari sudut Dharma,
23:26 dia masih tetap Buddhis.
23:29 Tidak berkurang
23:31 sedikitpun Buddhisnya.
23:33 Walaupun KTP-nya
23:35 sudah tujuh kali ganti, bukan
23:36 agama Buddha,
23:38 tetapi dia tetap
23:40 Buddhis selama dia melaksanakan
23:43 Dharma. Nah,
23:44 apakah seorang umat Buddha itu
23:46 harus ditandai dengan sering
23:48 kewihara? Tidak.
23:50 Apakah harus ditandai pandai membaca
23:52 parita? Tidak.
23:55 Loh, lalu bagaimana
23:56 tandanya seorang umat Buddha?
23:58 Seorang umat Buddha tandanya adalah kalau
24:00 dia mau menjalankan
24:03 ajaran sang Buddha.
24:04 Apakah ajaran sang Buddha yang
24:06 paling pokok?
24:08 Melihat hidup adalah
24:10 tidak kekal.
24:13 Kuncinya itu.
24:14 Melihat hidup
24:16 tidak kekal, sehingga
24:19 segala suka dan duka itu
24:20 sebetulnya hanya timbul karena
24:22 pikiran kita sendiri.
24:24 Satu contoh tadi misalnya,
24:27 anak menangis,
24:29 kalau hati kita
24:30 baru senang,
24:32 kita menganggap anak ini
24:34 menambah kebahagiaan.
24:36 Kalau hati kita baru jengkel,
24:38 menjadikan kita
24:40 berpikir anak ini menjengkelkan.
24:42 Padahal sebetulnya itu yang terjadi
24:44 adalah perubahan pikiran.
24:46 Kalau seorang telah mengenali bahwa
24:48 itu semuanya sumbernya dari pikiran
24:50 kita yang berubah,
24:52 dia sebetulnya sudah seorang
24:55 umat Buddha.
24:56 Seorang umat Buddha adalah orang
24:58 yang bisa mengendalikan pikirannya,
25:00 hilang dari ketamaan,
25:02 kebencian, dan
25:04 kegelapan batin.
25:06 Tanpa harus KTP-nya
25:08 Buddhis atau tidak,
25:10 tanpa harus hafal parita atau tidak,
25:13 tanpa harus sering
25:14 kebihara atau tidak,
25:17 itu bukan jaminan.
25:19 Orang yang sering kebihara,
25:21 orang yang hafal parita,
25:23 tetapi tidak mau menerima
25:25 kehidupan ini
25:26 sebagaimana adanya,
25:28 tidak bisa menerima kenyataan
25:30 sebagaimana adanya,
25:32 maka dia sebetulnya bukan umat Buddha.
25:35 Dia hanya jalani
25:37 tradisi Buddhis.
25:39 Tapi Arab
25:40 pakai dupa, pakai lilin,
25:43 pungkir balik, itu hanya
25:44 tradisi Buddhis,
25:46 tapi bukan agama Buddha yang
25:48 sesungguhnya.
25:50 Agama Buddha yang sesungguhnya adalah
25:52 melekat pada perilaku manusianya,
25:54 bukan pada upacaranya.
25:58 Begitu?
25:59 Jelas?
26:00 Baik, ini ada pertanyaan
26:03 tertulis,
26:04 saya akan bacakan.
26:08 Kenapa kata kebanyakan
26:10 orang, kalau sudah
26:11 menikah lama, rasa
26:14 cinta berubah jadi coklat?
26:16 Eh, rasa cinta
26:18 berubah jadi rasa persaudaraan.
26:20 Apakah hal ini
26:22 terjadi pada semua perkawinan?
26:26 Sebetulnya,
26:28 perkawinan ini
26:30 bukan hanya mencari pasangan
26:32 hidup.
26:34 Perkawinan ini adalah mencari
26:36 teman hidup.
26:38 Cinta yang
26:40 sesungguhnya adalah cinta
26:42 yang memberi, bukan
26:44 cinta yang meminta.
26:47 Seperti yang tadi saya
26:48 terangkan dalam kerelaan,
26:50 kerelaan yang paling tinggi adalah
26:52 merelakan keakuan. Kalau sudah
26:54 pada tahap yang itu,
26:56 apakah itu disebut saudara,
26:58 apakah itu disebut pasangan hidup,
26:59 tentu akan menjadi sulit
27:01 bapaknya. Kenapa
27:04 demikian? Karena saudara
27:06 itu juga teman hidup. Teman hidup
27:08 karena dia adalah yang kita temukan
27:10 di dalam kehidupan waktu besar,
27:11 ini juga langsung otomatis
27:13 menjadi pasangan hidup.
27:16 Cinta
27:17 yang sesungguhnya adalah
27:19 cinta yang hanya memberi.
27:21 Dan memang ketika
27:23 perkawinan itu sudah jalannya panjang,
27:26 ada
27:27 rasa keakrapan, ada rasa
27:29 persatuan, ada
27:31 rasa saling memiliki,
27:33 rasa saling memberi.
27:36 Memang seperti
27:37 saudara.
27:39 Kan justru itu yang bagus.
27:42 Kenapa? Kalau
27:43 sakit hati sama
27:44 orang lain kadang-kadang sulit kita memaafkan.
27:48 Tapi kan sakit hati sama saudara
27:49 kita kan gampang sekali
27:51 memaafkan. Nah dengan pasangan hidup,
27:53 kalau kita sudah bisa terus
27:55 memaafkan seperti saudara kita sendiri,
27:57 sebetulnya itu cinta
27:59 yang sesungguhnya.
28:02 Jadi kalau yang disebut
28:03 cinta itu apa? Kalau cinta itu adalah
28:05 rasa ingin memberi, rasa
28:07 ingin membahagiakan,
28:09 memang ketika pasangan hidup
28:11 mulai bertambah
28:12 usia, makin
28:14 saling mengerti, makin saling
28:16 bisa berkomunikasi hati
28:19 ke hati, dia akan
28:20 makin dekat, makin dekat.
28:22 Dan dia betul-betul menjadi
28:24 teman hidup. Dan itu
28:27 sebetulnya tujuan
28:29 di dalam kehidupan
28:30 berumah tangga.
28:35 Bagaimana menemukan kembali rasa
28:36 cinta yang telah pudar?
28:38 Rasa cinta yang telah pudar
28:40 itu ya harus dibangkitkan, seperti
28:41 yang tadi sudah saya bahas.
28:43 Bagaimana kita punya kerelaan,
28:46 rela mengerjakan hal-hal
28:48 yang ringan, rela mengucapkan
28:50 kata-kata yang sederhana,
28:52 yang bisa
28:53 memuji, yang
28:56 halus, ya kemudian
28:58 bisa mengendalikan diri dari
28:59 kesombongan, itu sebetulnya
29:01 adalah usaha
29:03 untuk membangkitkan,
29:07 membangkitkan
29:07 rasa cinta, rasa
29:09 saling memiliki
29:11 di dalam kehidupan berumah tangga.
29:14 Karena itu yang empat hal tadi.
29:16 Semua ada di dalam makalah ini
29:17 yang nanti, walau anda sudah
29:19 pulang, anda boleh baca. Tiap hari
29:21 anda akan mendapat makalah,
29:23 tapi bukan untuk dibaca di sini, dan saya juga
29:25 tidak akan membacakan.
29:27 Anda baca di rumah, saya menerangkannya
29:30 di sini. Yang nanti belum
29:31 dapat pulang, bisa minta ke
29:33 panitia.
29:35 Calon pacar saya,
29:37 agamanya berbeda.
29:41 Setelah dan akhirnya kedua orang tua
29:43 dia mengetahui bahwa agama kami
29:45 berbeda. Dan kedua orang tua
29:47 dia melarang kami berpacaran.
29:49 Yang saya tanyakan, bagaimana
29:51 mengatasi kedua orang tua dia
29:54 agar
29:55 memperbolehkan kami pacaran.
30:00 Problemnya
30:01 bukan di orang tuanya,
30:07 problemnya di beda
30:09 agamanya itu.
30:11 Jadi, beda agamanya
30:13 ini yang harus diberesin dulu.
30:16 Kalau selama perbedaan agama ini
30:19 terus dipelihara terus,
30:22 sulit sekali
30:23 untuk mendapatkan kebahagiaan.
30:25 Kecuali masing-masing punya
30:27 kedewasaan.
30:29 Anggap saja,
30:31 masing-masing punya
30:34 kemauan untuk
30:35 saling
30:37 mengerti
30:38 kelebihan dan kekurangan
30:40 agamanya masing-masing.
30:42 Bagaimana cara menerangkan orang tua?
30:44 Anda
30:46 memberikan contoh.
30:48 Orang-orang yang beda agama
30:50 yang berumah tangga di lingkungan
30:52 Anda, Anda tunjukkan.
30:54 Itu loh,
30:55 si A berumah tangga dengan
30:57 si B yang beda agama.
30:59 Tuh hidupnya ya biasa-biasa, baik-baik.
31:02 Tuh si C dan si D itu
31:03 hidupnya juga bahagia, itu juga baik-baik.
31:06 Anda tunjukkan.
31:08 Jangan hanya pakai teori.
31:10 Walaupun kita beda agama, kita
31:11 enggak apa-apa karena kita saling menyinta.
31:13 Enggak bisa. Tunjukkan mereka yang beda
31:16 agama yang memang rumah tangganya baik.
31:18 Karena memang ada di dunia
31:20 ini, di Indonesia
31:22 juga yang rumah tangga beda agama
31:24 baik, cuman
31:26 biasanya mereka bukan
31:28 karena ngerti agamanya yang
31:29 sungguh-sungguh. Bukan jalani
31:31 agamanya yang benar-benar.
31:33 Tetapi ya ikut agama
31:35 sebagai tradisi saja. Sehingga
31:38 kalau mereka mengatasi permasalahan
31:40 dia bukan menggunakan jalur
31:42 agama yang dia yakini.
31:43 Tetapi jalur umum. Jadi misalnya
31:46 nyamuk yang budis ini juga
31:47 alah nyamuk bunuh ya bunuh
31:49 ajalah. Kalau sudah begini ya
31:52 beda agama ya enggak ada problem.
31:53 Tapi kalau yang jalani sungguh-sungguh
31:56 sama-sama jalani
31:58 rasanya saya belum
32:00 ketemu yang bisa
32:03 akur-akur
32:04 dan selarang.
32:05 Ya, karena itu problemnya
32:07 bukan di orang tua.
32:09 Bagaimana harus mengerti
32:11 tentang beda agamanya
32:12 tapi saya lebih menyarankan
32:15 bagaimana pasangan yang akan
32:17 berumah tangga itu menyelesaikan
32:19 perbedaan agamanya
32:21 sehingga bisa dicapai
32:22 jalan tengah. Apakah masing-masing
32:25 ikut salah satu agama dari
32:27 yang lain ataukah
32:29 mempunyai pengertian bahwa agama
32:31 pasangan saya tidak salah
32:33 bisa dibenarkan juga.
32:35 Dan seterusnya.
32:37 Kemudian pertanyaan yang
32:39 berikutnya. Apakah karma
32:41 menentukan dalam mencari
32:43 pasangan hidup dalam perkahwinan?
32:46 Ya,
32:47 karma boleh dikatakan menentukan
32:49 tapi kan sulit dibuktikan. Kalau
32:51 saya lebih cenderung mengatakan
32:53 usaha kita untuk mencari
32:55 itu yang paling penting.
32:56 Di dunia ini pasangan hidup bukan dicari
32:59 di dalam kamar.
33:00 Jadi, pokoknya saya di kamar terus
33:02 kata orang saya dirama lenteng jodoh
33:04 jadi saya di kamar terus
33:06 tutupan pintu. Tidak bergaul.
33:08 Tidak bisa.
33:10 Anda harus sering bergaul. Anda memperbaiki
33:12 perilaku. Anda memperbaiki
33:14 ucapan. Itu yang membuat
33:16 Anda akan bisa mendapat pasangan hidup.
33:19 Jurus empat ini tadi loh.
33:21 Kerelaan.
33:24 Perilaku
33:24 yang baik. Ucapan
33:26 yang baik. Jangan
33:28 sombong. Itu yang akan
33:30 membuat Anda mempunyai pasangan hidup.
33:32 Kalau semuanya karena karma
33:35 Anda akan bisa menyalahkan.
33:36 Ya, karmaku lah. Belum sampai.
33:38 Nanti kapan-kapan akan sampai sendiri.
33:40 Salah. Bukan karena
33:42 permainan karma semua.
33:44 Tapi karena usaha dan
33:46 perjuangan kita.
33:48 Hidup berumah tangga atau tidak?
33:51 Apakah sudah
33:52 ditakdirkan? Tidak ada yang disebut
33:54 takdir. Semua adalah perjuangan.
33:56 Saya sendiri tidak kahwin juga bukan
33:58 karena ya tidak laku.
34:00 Bukan.
34:02 Sudah bosan pacaran.
34:04 Jadi bukan karena takdir.
34:07 Nanti menyalahkan takdir.
34:08 Ini sama dengan karma.
34:09 Oh, aku ini jadi
34:12 biku karena takdirku.
34:14 Siapa yang menulis takdir-takdir?
34:16 Dirinya sendiri yang menentukan.
34:20 Jadi sebetulnya
34:22 semua adalah perilaku kita.
34:24 Semua adalah keputusan kita
34:26 pribadi.
34:29 Bolehkah dalam mencari
34:30 pasangan menyiapkan kadang
34:32 yang normal?
34:36 Ya,
34:37 mobil saja ada
34:38 ban serepnya.
34:40 Saya kira itu normal-normal saja.
34:42 Meleset yang satu cari yang lain.
34:45 Toko saja
34:46 kalau satu tutup pergi ke toko yang lain.
34:49 Tetapi jangan
34:50 dobel.
34:53 Loh, bagaimana?
34:55 Pacaran hanya satu.
34:56 Tapi kita punya ancang-ancang.
34:59 Kalau putus
35:00 saya sama yang itu.
35:02 Tapi jangan sama ini juga sama itu.
35:04 Juga sama ini.
35:05 Loh, kenapa? Kok tiga?
35:07 Ini kan serepnya dua. Nah, ini yang salah.
35:10 Ini namanya tidak benar.
35:13 Tapi kalau logika
35:14 saya mau pacaran sama ini. Tapi kalau nanti
35:16 dua tahun kok saya tidak dilamar?
35:18 Ya, sudah lah. Nanti saya ganti itu.
35:20 Itu saya kira manusiawi sekali.
35:22 Itu tidak bermasalah.
35:24 Ya.
35:26 Boleh punya cadangan,
35:27 tapi bukan pacaran
35:29 bareng dalam satu saat.
35:32 Ya, lain loh ya.
35:33 Lain. Jadi jangan
35:35 punya pacar dua atau tiga
35:37 sekaligus. Itu tidak bagus.
35:39 Karena anda pun kalau digitu kan
35:41 juga tidak suka.
35:42 Apa anda juga suka?
35:45 Anda jadi pacar nomor tiga
35:47 dari pacar anda kan juga anda
35:49 tidak suka. Nah, kalau diri sendiri tidak suka
35:51 jangan lakukan hal itu kepada orang lain.
35:54 Karena orang lain pun juga
35:55 tidak suka seperti itu.
35:57 Ya, apa yang kita tanam
35:59 itu yang akan kita panen di dalam kehidupan ini.
36:03 Mungkin pertanyaan langsung lagi?
36:06 Kita waktunya
36:07 tinggal mungkin sepuluh menit.
36:10 Kita mulai jam tujuh,
36:13 selesainya jam sembilan.
36:16 Besok juga
36:17 mulai jam tujuh tepat ya.
36:18 Selesai juga jam sembilan. Karena kita
36:20 akan membongkar
36:23 sistem menunggu
36:25 yang belum datang.
36:26 Jadi tidak ada
36:28 dalam kamus di sini. Jadi
36:30 yang ada itulah yang akan kita urus.
36:32 Bukan yang belum ada.
36:34 Ya, makanya tadi walaupun jam tujuh
36:36 mungkin baru sebagian kecil, kita
36:38 tidak pusing. Kita mulai.
36:39 Ya, maka anda jangan pernah merasa
36:42 ah besok kan ditunggu. Tidak ada cerita itu.
36:46 Ya, nah
36:48 kebudayaan itu yang mau dikembangkan
36:50 di sini.
36:52 Ada pertanyaan lain? Satu dua pertanyaan
36:54 terakhir. Ya,
36:58 itu ada yang mau tanya.
37:00 Terima kasih, Bante, atas waktu yang
37:02 sudah diberikan buat saya.
37:04 Pertanyaan saya, Bante. Saya itu
37:06 sering ngamati
37:08 orang kalau masih pacaran itu
37:10 mengusrah loh, Bante. Tapi kalau sudah
37:12 jadi, oh gegernya aja itu,
37:14 Bante. Terus maksud saya
37:17 apa itu namanya?
37:20 Di mana kesalahan kok sampai
37:22 hal itu bisa terjadi? Terima kasih.
37:25 Iya, tadi sudah kita
37:26 bahas pada waktu pembahasan, bahwa
37:28 sebetulnya waktu
37:30 kita mau cari pacar,
37:35 empat hal itu kita jalankan.
37:38 Kerelaan,
37:40 kata-kata yang manis,
37:43 perilaku yang bermanfaat,
37:45 tidak sombong.
37:47 Wah, itu kita jalankan sungguh-sungguh.
37:48 Tapi begitu sudah berumah tangga,
37:51 kadang itu lupa
37:52 kita jalani. Nah,
37:54 padahal itu mestinya juga menjadi
37:56 alas untuk membina pasaran.
37:58 Jalankan hidup, supaya
38:00 bisa menjadi bahagia
38:02 untuk waktu yang lama, ya.
38:04 Nah, oleh karena itu,
38:06 bagaimana kalau pacaran kok hot?
38:08 Kalau sudah berumah tangga kok malah cek cok?
38:11 Ya tetap empat ini
38:12 tadi rumusnya. Bagaimana
38:14 kalau ulang tahun?
38:16 Katakanlah kata-kata yang
38:18 manis, selamat ulang tahun,
38:20 semoga kamu bahagia,
38:22 enggak bosen kan?
38:24 Kumpul terus sama aku,
38:26 aku nyenengno toh.
38:28 Ya, muji dirinya sendiri
38:32 kan boleh, biar happy kok.
38:34 Ya, ini kan kata-kata
38:36 yang manis, supaya
38:38 membuat rumah tangga itu
38:39 menjadi hidup.
38:42 Pujian untuk pasangan hidup
38:44 itu penting sekali.
38:46 Dalam kehidupan ini, sebetulnya
38:48 kalau kita melihat tugas
38:50 suami, salah satu yang disebutkan
38:52 oleh Sang Buddha adalah
38:53 memuji istri.
38:56 Kenapa? Karena suami, laki-laki
38:58 jarang mau memuji
39:00 pasangan hidupnya.
39:01 Kamu kok ayu ya? Itu hanya muncul
39:03 waktu pacaran.
39:05 Tapi begitu sudah jadi istrinya,
39:07 wah, pakai lipstick sedikit
39:10 saja, setelah ini
39:12 kalau pedas, enggak menyadari,
39:14 masih pakai lipstick lagi.
39:16 Padahal dulu waktu pacaran,
39:17 ayu loh kamu kalau pakai lipstick.
39:19 Inilah, suami tidak
39:21 mau memberikan pujian.
39:23 Kata-kata yang manis,
39:25 kata-kata yang halus, ya tentu
39:27 saja rumah tangga jadi cecok.
39:30 Ya, nah jadi
39:31 pertanyaan yang anda sampaikan itu
39:33 sebetulnya adalah merupakan
39:36 apa yang saya berikan
39:37 pada malam hari ini
39:39 supaya pacaran juga bahagia,
39:42 rumah tangga juga
39:43 bahagia, kuncinya cuma
39:45 empat. Dan anda semua bisa kerja
39:47 kan kok dalam kehidupan sehari-hari.
39:49 Apa sih yang tidak bisa dengan kerelaan
39:51 omongan yang baik, perilaku yang bermanfaat
39:53 dan tidak sombong, semua
39:55 bisa anda kerjakan. Tinggal anda
39:57 mau atau tidak. Kalau anda
39:59 mau mengerjakan, maka anda akan mendapatkan
40:01 kebahagiaan untuk rumah tangga anda sendiri.
40:04 Kalau anda gak mau mengerjakan,
40:05 makanya anda sendiri juga
40:07 yang akan merasakan
40:09 kurangnya harmonis di dalam
40:11 rumah tangga masing-masing.
40:13 Ya, semua kembali kepada kita.
40:15 Kita gak bisa berbuat baik untuk orang lain.
40:17 Kita gak bisa makan untuk orang lain kenyang.
40:19 Kita gak bisa berbuat baik untuk orang lain
40:21 bahagia. Tapi kita hanya
40:23 bisa melakukan kebaikan
40:25 supaya kita sendiri bahagia,
40:27 rumah tangga kita sendiri bahagia.
40:30 Saya kira inilah
40:31 yang merupakan akhir perjumpaan
40:33 kita pada malam hari ini.
40:35 Besok kita jam 7 akan
40:37 mulai lagi. Semoga apa
40:39 yang kita bahas pada malam hari ini
40:41 memberikan manfaat, memberikan
40:43 kebahagiaan,
40:45 sehingga
40:47 rumah tangga kita masing-masing akan
40:49 mendapatkan kebahagiaan.
40:51 Saya kira saya kembalikan kepada
40:53 pembawa acara. Terima kasih atas
40:55 perhatian anda. Semoga
40:57 bahagia dan selamat malam.