Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Diskusi pasangan hidup

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Diskusi pasangan hidup

Tentang Ceramah

Ceramah Bhikkhu Uttamo tentang diskusi pasangan hidup membahas berbagai aspek hubungan dari sudut pandang Buddhis, termasuk perceraian, pernikahan beda agama, kebahagiaan rumah tangga, dan cinta sejati. Bhante memulai dengan menjelaskan bahwa perceraian dalam agama Buddha adalah hal yang wajar karena hidup tidak kekal, tetapi tidak dianjurkan dan merupakan jalan terakhir. Kesetiaan pada pasangan dipuji, dan perceraian bukanlah penyelesaian masalah, terutama jika sudah memiliki anak. Selanjutnya, ia membahas masalah pernikahan beda agama dan pentingnya restu orang tua. Ia menyarankan untuk menyelesaikan perbedaan agama sebelum menikah, karena pernikahan tanpa restu orang tua sering membawa penderitaan. Bhante juga mengkritik kebiasaan orang Indonesia yang selalu menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Bhante kemudian menjelaskan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak terletak pada status pernikahan, melainkan pada kualitas pikiran yang mampu menerima kenyataan. Masalah muncul dari pikiran dan keinginan kita sendiri, bukan dari keadaan eksternal. Ia menegaskan bahwa menjadi Buddhis bukan soal KTP atau ritual, melainkan menjalankan ajaran Buddha, terutama memahami ketidakkekalan dan mengendalikan pikiran. Bhante juga menjelaskan bahwa cinta sejati adalah cinta yang memberi, bukan meminta. Perubahan cinta menjadi rasa persaudaraan adalah hal yang baik karena menunjukkan kedekatan dan saling memaafkan. Ia memberikan cara membangkitkan kembali cinta yang pudar. Untuk mengatasi perbedaan agama, Bhante menyarankan untuk menyelesaikannya terlebih dahulu dan menunjukkan contoh pasangan beda agama yang berhasil. Ia juga membahas bahwa karma bukanlah takdir, melainkan usaha dan perjuangan yang menentukan dalam mencari pasangan hidup. Akhirnya, Bhante merangkum bahwa kunci kebahagiaan dalam pacaran dan rumah tangga adalah empat hal: kerelaan, perilaku bermanfaat, ucapan baik, dan tidak sombong. Ia menekankan pentingnya memuji pasangan dan mengingatkan bahwa kebahagiaan dimulai dari diri sendiri.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pandangan Agama Buddha tentang Perceraian
    Bhante menjelaskan bahwa perceraian dalam agama Buddha adalah hal yang wajar karena hidup tidak kekal, tetapi tidak dianjurkan dan merupakan jalan terakhir. Kesetiaan pada pasangan dipuji, dan perceraian bukanlah penyelesaian masalah, terutama jika sudah memiliki anak.
  2. Pernikahan Beda Agama dan Restu Orang Tua
    Bhante membahas masalah pernikahan beda agama dan pentingnya restu orang tua. Ia menyarankan untuk menyelesaikan perbedaan agama sebelum menikah, dan menekankan bahwa pernikahan tanpa restu orang tua sering membawa penderitaan. Ia juga mengkritik kebiasaan orang Indonesia yang selalu menanyakan hal-hal yang tidak ada.
  3. Kebahagiaan dalam Rumah Tangga
    Bhante menjelaskan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada status pernikahan, melainkan pada kualitas pikiran yang mampu menerima kenyataan. Masalah muncul dari pikiran dan keinginan kita sendiri, bukan dari keadaan eksternal.
  4. Praktik Keagamaan dan Identitas Buddhis
    Bhante menjawab pertanyaan tentang wanita Buddhis yang menikah dengan non-Buddhis dan harus pindah agama. Ia menegaskan bahwa menjadi Buddhis bukan soal KTP atau ritual, melainkan menjalankan ajaran Buddha, terutama memahami ketidakkekalan dan mengendalikan pikiran.
  5. Cinta Sejati dan Perubahan dalam Pernikahan
    Bhante menjelaskan bahwa cinta sejati adalah cinta yang memberi, bukan meminta. Perubahan cinta menjadi rasa persaudaraan adalah hal yang baik karena menunjukkan kedekatan dan saling memaafkan. Ia juga memberikan cara membangkitkan kembali cinta yang pudar.
  6. Mengatasi Perbedaan Agama dan Karma dalam Mencari Pasangan
    Bhante menyarankan untuk menyelesaikan perbedaan agama terlebih dahulu dan menunjukkan contoh pasangan beda agama yang berhasil. Ia juga membahas bahwa karma bukanlah takdir, melainkan usaha dan perjuangan yang menentukan dalam mencari pasangan hidup.
  7. Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga: Empat Hal
    Bhante merangkum bahwa kunci kebahagiaan dalam pacaran dan rumah tangga adalah empat hal: kerelaan, perilaku bermanfaat, ucapan baik, dan tidak sombong. Ia menekankan pentingnya memuji pasangan dan mengingatkan bahwa kebahagiaan dimulai dari diri sendiri.
Mindful LivingAI · suggestedKamma/KarmaAI · suggestedHappinessAI · suggestedRelationshipsAI · suggestedLoveAI · suggestedAttachmentAI · suggestedSulit Melepassuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Begini Bante saya mau menanyakan yaitu, bahwa sekarang ini kayaknya sudah tren bahwa banyak pasangan rumah tangga yang bercerai atau pisah.
Lalu yang saya tanyakan adalah, di mana posisi agama Buddha mengenai hal ini apakah sependapat atau tidak sependapat atau mungkin melangkul, sekian.
Baik, sebetulnya perceraian di dalam agama Buddha itu adalah hal yang wajar.
Kenapa demikian? Karena konsep Buddha adalah hidup tidak kekal.
Perkawinan adalah pilihan, perceraian juga pilihan.
Tidak ada harus, pokoknya kalau sudah kawin seumur hidup begini.
Kalau memang keluarganya itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi, mungkin dia harus berumah tangganya berhenti.
Dia harus bercerai, bisa saja.
Cuman perceraian itu tidak disarankan.
Di dalam agama Buddha, perceraian itu adalah jalan terakhir kalau segalanya tidak bisa diatasi lagi.
Dan perlu diingat, perceraian itu bukan penyelesaian masalah.
Yang bisa diselesaikan hanya masalah suami dan istri saja.
Tetapi kalau dia sudah punya anak, perceraian itu akan menambah masalah yang baru.
Oleh karena itu, bagaimanakah perceraian di dalam agama Buddha?
Ada, bisa dikerjakan.
Karena segalanya adalah tidak kekal.
Tetapi tidak dianjurkan.
Seperti yang tadi disampaikan pula.
Yang dipuji oleh sang Buddha adalah,
Kalau seseorang itu setia dengan pasangan hidupnya.
Orang yang cerai sebetulnya adalah tanda dia kurang setia dengan pasangan hidupnya.
Begitu?
Bisa menjawab pertanyaan yang Anda tanyakan?
Ya, baik. Mungkin ada pertanyaan lain?
Silahkan, Pak.
Terima kasih waktu yang telah diberikan kepada kami.
Ini permasalahannya masih dalam tahap pencarian, Bante.
Ya.
Seandainya, jika saya mempunyai bacaan dari agama lain.
Kemudian karena faktor orang tua.
Bahwa pernikahan bisa dilaksanakan.
Kalau mau mengikuti tata cara keyakinannya.
Dan pada satu sisi, usia kami sudah menjelang cukup dewasa ya.
Cukup-cukup lanjut begitu.
Ini bagaimana pemecahannya, Bante?
Kemudian, yang kedua.
Ini bila ada semasang remaja yang saling mencintai.
Sama keyakinannya.
Dan siap untuk menikah.
Tetapi di lain sisi, mereka mempunyai perbedaan sosial, adat istiadat, dan suku.
Sehingga di sini 90% posisi orang tua sangat dominan.
Dan sangat memungkinkan egonya yang sangat tinggi.
Sedangkan, Mas Sanghana tadi sangat menginginkan pernikahan itu.
Kemudian, apakah Sanghana harus menikah tanpa harus ke orang tua?
Atau...
Orang tua harus tetap mempertahankan dari segi perbedaan sosial dan adat istiadat.
Terima kasih.
Ya, kasus yang pertama adalah beda agama.
Bagaimana beda agama dan harus kawin?
Sebetulnya, kalau belum berumah tangga.
Lebih disarankan untuk tidak berumah tangga dengan yang beda agama.
Kenapa demikian?
Kasus apakah agama demikian dominan?
Agama demikian dominan ini, saya melihat ini kejalannya hanya di Indonesia.
Mungkin kalau di luar negeri, antara beda agama dan kawin, saya kira tidak masalah.
Kenapa begitu?
Di Indonesia ini, orang suka cari yang tidak ada.
Ini patah Indonesia.
Satu contoh.
Ini sudah jam 7, mari merapat kita mulai.
Ini sudah jam 7, mari merapat kita mulai.
Jangan.
Belum banyak yang datang.
Belum.
Yang sudah datang tidak direken.
Yang belum datang dan belum tentu datang, itu yang diurus.
Itu patah Indonesia.
Nah, sehingga kalau nanti anda berumah tangga dengan yang bukan pasangan hidupnya, bukan satu agama.
Pergi ke tempat ibadah A.
Misalkan anda agamanya A.
Pasangan hidup anda B.
Anda pergi ke tempat ibadah A.
Yang ditanya itu yang tidak ada.
Loh, istrimu kok tidak ikut?
Itu kebiasaan Indonesia.
Anda pun akan begitu.
Yang ditanya, yang tidak ada.
Sadar tidak?
Hah?
Ya, lho.
Istrimu kok tidak ikut?
Nah, istriku bukan agamanya sama.
Loh, itu sudah stres, lho.
Akhirnya, setiap kali pertemuan ditanya, istrimu kok tidak ikut?
Istrimu kok tidak ikut?
Akhirnya, setiap kali pertemuan ditanya, istrimu kok tidak ikut?
Sudah.
Anda dengan istri sama agamanya.
Anaknya tidak.
Nanti ikut pertemuan.
Wah, suami istri ikut semua.
Dateng.
Anaknya kok tidak dateng?
Selalu yang dikejar yang tidak ada.
Itu Indonesia.
Nah, oleh karena itu,
problem beda agama menjadi masalah besar.
Karena itu, kalau belum berumah tangga,
lebih baik harus diselesaikan dulu.
Untuk menyatukan satu agama.
Yang kedua, kalau mau terus tidak pakai restu orang tua,
itu satu hal yang sangat kurang baik.
Sudara-sudara,
dalam banyak pengalaman yang saya temui di masyarakat,
perkawinan tanpa restu orang tua,
buntutnya penderitaan.
Kenapa demikian?
Satu contoh.
Anda kan punya adik.
Misalnya Anda punya adik.
Adik Anda besok ulangan.
Kalau Anda ngomong,
Dik, belajar.
Enggak ah, aku mau main-main.
Belajar.
Enggak mau main-main.
Ya wis.
Terserah.
Tapi apa yang ada di dalam pikiran Anda?
Anda bukan mengizinkan adik Anda main-main.
Tetapi Anda berpikir,
kalau besok enggak bisa ujiannya,
kalau besok kamu ulangannya enggak bisa,
rasain lu.
Baru percaya omonganku.
Itu kan sebetulnya nyumpahi loh.
Nah, sekarang orang tua sudah begitu.
Jangan kamu kawin sama dia.
Pokoknya aku cinta.
Ini jodohku.
Omongan enggak masuk akal.
Kalau jodoh enggak ada.
Orang tua enggak setuju.
Itu banyak orang, anak muda,
pengawurannya di bagian itu.
Dan orang tua kadang manggut-manggut.
Iya ya, baiknya anak ini sudah jodoh sama itu.
Kalau sudah jodoh, enggak akan geger orang tua.
Jodoh itu semua sudah akan mendukung.
Nah, jadi kamu jangan kawin sama dia.
Enggak, ini sudah jodohku.
Jangan, enggak baik.
Beda satu sini, beda ini, beda itu.
Biar ada.
Ya udah.
Tapi apa ya udah itu orang tua pikir?
Rasain kamu nanti kalau memang ada kesulitan.
Jangan sambat sama saya.
Nah, nanti kalau sudah ada kesulitan,
kejadian benar.
Nah, oleh karena itu,
kalau sudah agamanya berbeda,
sebaiknya masing-masing harus saling mengerti agama yang lain.
Mungkin sama-sama enggak mau pindah agama, oke lah.
Tapi harus saling mengerti.
Jangan punya pikiran,
agamaku yang paling benar,
agamamu yang salah.
Kalau anda sudah mulai dari situ,
rumah tangga enggak akan bisa dipertahankan.
Ingat,
beda agama ini nanti akan terbawa sampai tua.
Beda agama ini akan terbawa sampai mati.
Tadi sudah saya ceritakan,
kalau sekarang perkawinan, oke lah.
Agamaku dengan agamamu enggak sama.
Tapi oke lah kita pilih salah satu untuk kawin.
Kalau nanti sudah tua,
sakit-sakitan,
mau dicembayangi agama apa?
Agama yang sakit apa agama yang hidup?
Ya, agama yang sakit lah.
Agama yang sakit cepat sembuh.
Sudah dicembayangi enggak sembuh-sembuh.
Malah mati.
Sekarang upacara kematiannya,
mau model yang sakit, yang mati,
atau model yang hidup agamanya.
Ya, model yang mati dong.
Saya enggak senang.
Oh, yang mati kan sudah enggak ngerti.
Yang nyembayangi kan yang hidup.
Jadi model yang hidup aja.
Coba, apa enggak beda agama ini jadi masalah
sampai di alam kubur.
Belum lagi nanti,
ini upacara tiga harianya,
model apa?
Model agamanya yang mati,
apa model agamanya yang hidup?
Tujuh harianya,
model yang mati apa yang hidup?
Bentuk izinnya,
model yang mati apa yang hidup agamanya?
Jadi masalah panjang.
Karena itu,
bagi yang berbeda agama,
kalau belum menjadi pasangan hidup,
sebaiknya harap dipikir ribuan kali resikonya.
Tapi kalau sudah terpaksa harus
tetap pasangan hidup,
masing-masing harus punya pikiran.
Bukan agamaku yang paling benar,
tapi masing-masing punya kebenarannya sendiri
untuk bisa saling berkomunikasi.
Kemudian,
kalau terlalu beda apanya,
sebetulnya
jangan juga dilanjutkan.
Perkawinan itu kalau terlalu beda,
baik kebudayaannya,
baik latar belakang sosialnya,
baik pendidikannya,
kadang itu sulit untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karena perkawinan itu adalah
menemukan beberapa persamaan,
bukan mengumpulkan banyaknya perbedaan.
Coba lihat adik,
waktu yang saya terangkan.
Apa tuh sebetulnya
kita disarankan untuk sama,
sama punya kerelaan,
sama punya perilaku yang bermanfaat untuk pasangan hidupnya,
sama punya kata-kata yang baik,
sama tidak sombongnya,
sama agamanya,
sama kemoralannya,
sama kedermawanannya,
sama kebijaksanaannya.
Makin banyak persamaannya,
makin bahagia rumah tangganya.
Makin banyak perbedaannya,
rumah tangga semakin sulit dipertahankan.
Apalagi kalau tidak diizinkan orang tua,
jangan,
jangan melanggar.
Saya lebih menyarankan untuk tidak melanggar,
karena banyaknya pengalaman
rumah tangga kurang bahagia,
karena melanggar nasihat orang tua.
Begitu pak.
Ada pertanyaan cukup jelas itu?
Ada lagi pertanyaan yang lain?
Silahkan.
Sebentar mic-nya biar dibawa.
Terima kasih.
Tak ada suara nih.
Ya, dah itu.
Terima kasih.
Di sini yang kami tanyakan,
yaitu berkenaan dari
tujuan berumah tangga diantaranya
adalah untuk memperoleh kebahagiaan
di dunia.
Nah, kalau saya melihat
dan menjalani dalam hidup
berumah tangga,
ternyata
di dalam berumah tangga itu
suatu masalah itu selalu muncul.
Nah, maka dari itu sebagai pertanyaan,
dimanakah bentuk-bentuk kebahagiaan,
terutama di dalam
berumah tangga?
Sehingga
akan
bisa dijalani
mengenai makna kebahagiaan
di dalam berumah tangga ini.
Terima kasih nanti.
Iya.
Tadi sudah saya jelaskan
bahwa kebahagiaan itu
bukan sebagai perumah tangga,
bukan karena kawin,
bukan karena tak kawin.
Kebahagiaan itu,
itu adalah kualitas hidup seseorang
ketika pikiran seseorang bisa menerima
apa yang dia alami itu
sebagai kenyataan.
Berumah tangga akan selalu bermasalah.
Baik Anda berumah tangga
ataupun Anda tidak berumah tangga,
selalu bermasalah.
Dan ingat,
apakah yang membuat masalah?
Pikiran kita sendiri,
keinginan kita,
untuk lain daripada
kenyataan yang kita hadapi,
itulah yang membuat masalah.
Misalnya,
anak menangis.
Siapa tuh anak
yang tidak menangis?
Semua orang tahu anak menangis.
Tapi kalau kita sedang
dapat duit,
pikiran baru enak,
anak menangis rasanya bahagia.
Tidak, anak itu tidak mengerti
kalau bapaknya untuk duit
sampai menangis.
Minta uang tidak kamu?
Ya, ya, ya,
belikan roti.
Itu kalau kita baru senang.
Tapi anak yang sama
dan menangis yang sama,
kita baru jengkel,
duit baru habis,
kita bisa emosi.
Anak kok menangis terus?
Aku tidak punya duit ikut mereweli,
paling merepotin.
Sudah.
Akhirnya jadi masalah.
Kenapa begitu?
Pikiran kita.
Bukan anak menangis atau tidak menangis,
tetapi pikiran,
keinginan kita.
Nah, oleh karena itu saudara,
kalau tadi pertanyaannya adalah
apakah kebahagiaan di dalam rumah tangga?
Saya jawab bukan hanya di dalam rumah tangga saja.
Di dalam kehidupan kita ini
kebahagiaan adalah
ketika kita bisa menerima,
kenyataan
yang kita alami.
Itulah yang disebut kebahagiaan.
Kalau Anda bisa menerima kenyataan bahwa anak Anda menangis,
karena memang pekerjaannya adalah menangis,
bisanya hanya menangis,
pada saat itu Anda bahagia.
Walaupun punya uang, tidak punya uang,
walaupun diomeli atasan atau tidak,
ketika melihat anak Anda menangis,
Anda akan tetap bahagia karena menyadari
itulah kemampuannya.
Ketika pasangan hidup Anda rewel
dan Anda menyadari memang
aku punyanya pasangan hidup yang rewel
dan cerewet seperti ini,
maka itulah kebahagiaan.
Tapi kalau tidak pernah Anda
mau menerima kenyataan,
tidak akan pernah ada bahagia.
Anda akan selalu berpikir
rumput di tetangga
selalu lebih hijau.
Itu nanti di dalam bahasa Jawa
menjadi wang, sina, wang.
Saling melihat,
kok kamu tidak seperti dia,
kok kamu tidak seperti itu,
malah tambah stres.
Yang diperbaiki adalah pikiran kita sendiri
untuk menerima kenyataan
yang sedang kita hadapi.
Begitu,
itulah kebahagiaan
baik di dalam rumah tangga
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Yang lain, pertanyaan lain?
Cowok dan cewek yang berlainan agama,
tetapi karena sudah
saling cinta-mencintai
lahir dan batin,
dia
menjadi satu agama,
lalu nikah
dengan cara satu agama tertentu.
Tetapi setelah nikah,
mereka itu
beribadah menurut agama
mereka masing-masing.
Lalu bagaimana pandangan
agama Buddha menurut pengertian?
Terima kasih.
Sebetulnya pernikahan itu
hanya tradisi.
Penikahan secara agama
atau tertulis
itu hanya tradisi saja.
Nah,
yang dipentingkan sebetulnya adalah
bukan pernikahannya,
tetapi adalah cara hidup
mereka sehari-hari.
Kalau cara hidup mereka sehari-hari
itu selalu berbeda agama,
pasti
nanti akan timbul masalah.
Khusus di Indonesia yang saya amati,
pasti timbul masalah.
Kenapa? Ya karena orang Indonesia
punya kebiasaan menanyakan
yang tidak ada lagi.
Itu problem yang pertama.
Yang kedua, di Indonesia ini
paling sering
orang tanya agama.
KTP saja
ditulis agamanya tertentu.
Padahal
di beberapa tempat di luar negeri,
agama adalah
hak asasi.
Agama tidak pernah ditulis di KTP.
Kartu pengenal tidak ada agama.
Formulir-formulir
pendaftaran
pekerjaan tidak ditulis agama.
Karena agama adalah
milik pribadinya masing-masing.
Nah, karena kalau
dalam suasana seperti itu,
bebas, kita tidak ada masalah.
Tetapi kalau di Indonesia
yang semuanya serba urusan agama ini
diurusi,
kalau sampai nanti
suami istri tadi hanya kawin
sama agamanya, kemudian
nanti setelah selesai,
cara perkahwinan, mereka
jalani agamanya sendiri-sendiri.
Ini perkahwinan ini akan bermasalah.
Salah satu contohnya adalah
nanti ada nyamuk saja
yang budis misalnya menganggap
itu makhluk, yang satu ngomong binatang.
Belum nanti pendidikan anak.
Yang satu ngomong, ini harus dididik
cara agama saya. Yang satu ngomong,
ini harus cara saya.
Dan yang seterusnya, dan yang seterusnya.
Jadi,
kalau saya melihat bukan perkahwinan
itu yang paling penting upacaranya,
tetapi cara hidup mereka
sehari-hari. Kalau satu
agama, walaupun apapun mereknya,
itu akan memberikan manfaat
yang jauh lebih besar
daripada kalau hanya kawin satu
agama, setelah itu beda
lagi.
Begitu.
Mungkin tadi, belakang.
Terima kasih, Banti.
Namaskara, Banti.
Saya mau menanyakan,
mungkin tadi sudah ada
yang menanyakan, cuma saya
ingin jawaban yang lebih jelas lagi.
Bagaimana
jika seorang wanita Buddhis
kemudian kawin dengan
lelaki yang non-Buddhis.
Kemudian, karena suatu tradisi,
si wanita Buddhis
ini harus ikut masuk
agama suaminya.
Tetapi, di dalam keseharianya
atau di dalam kehidupannya sehari-hari,
wanita Buddhis ini tetap
bisa menjalankan
sila atau dhamma dari Sang Buddha.
Saya mau menanyakan,
apakah wanita Buddhis ini
yang sudah menjadi
penganut agama lain karena
ikut suaminya, masih tetap
bisa disebut sebagai orang Buddhis?
Kemudian yang kedua,
apakah orang Buddhis
itu harus
selalu bisa membaca parita
dalam kehidupannya sehari-hari,
kemudian rajin ke wihara,
atau hanya bisa
menjalankan sila
atau dhamma tanpa harus pergi
ke wihara atau membaca
parita dalam keseharianya?
Terima kasih, Bante. Mohon penjelasannya.
Baik. Pertanyaan yang baik sekali.
Apakah si wanita
itu tetap Buddhis
atau tidak?
Agama Buddha, kalau kita
berbicara tentang agama
sebagai lembaga,
kalau KTP-nya dia sudah
bukan Buddhis karena ikut
suami, dia
bukan
beragama Buddha lagi
secara lembaga.
Tapi ingat,
agama Buddha
bukan menekankan KTP.
Saya seorang biko,
kemudian memimpin
kebaktian agama Buddha,
saya tidak akan bertanya kepada para
umat yang datang, KTP-mu Buddhis
atau bukan? Kalau bukan Buddhis,
kamu tidak ikut kebaktian, tidak boleh.
Saya bukan Pak Camat
yang mengurusi KTP.
Nah,
jadi kalau agama Buddha adalah
kebaktian agama Buddha,
menekankan pada perilakunya.
Bahkan ada satu kata-kata yang
sangat penting sekali di dalam
buku-buku Buddhis adalah
menjadi belajar
agama Buddha,
melaksanakan agama Buddha,
melaksanakan ajaran sang Buddha,
tidak harus
menjadi seorang umat Buddha.
Jadi anda kalau sekarang ada seorang
wanita tadi yang dulunya Buddhis,
kemudian setelah menikah
dia mungkin KTP-nya sudah bukan Buddhis,
tapi dia masih menjalankan
ajaran sang Buddha, maka
dilihat dari sudut Dharma,
dia masih tetap Buddhis.
Tidak berkurang
sedikitpun Buddhisnya.
Walaupun KTP-nya
sudah tujuh kali ganti, bukan
agama Buddha,
tetapi dia tetap
Buddhis selama dia melaksanakan
Dharma. Nah,
apakah seorang umat Buddha itu
harus ditandai dengan sering
kewihara? Tidak.
Apakah harus ditandai pandai membaca
parita? Tidak.
Loh, lalu bagaimana
tandanya seorang umat Buddha?
Seorang umat Buddha tandanya adalah kalau
dia mau menjalankan
ajaran sang Buddha.
Apakah ajaran sang Buddha yang
paling pokok?
Melihat hidup adalah
tidak kekal.
Kuncinya itu.
Melihat hidup
tidak kekal, sehingga
segala suka dan duka itu
sebetulnya hanya timbul karena
pikiran kita sendiri.
Satu contoh tadi misalnya,
anak menangis,
kalau hati kita
baru senang,
kita menganggap anak ini
menambah kebahagiaan.
Kalau hati kita baru jengkel,
menjadikan kita
berpikir anak ini menjengkelkan.
Padahal sebetulnya itu yang terjadi
adalah perubahan pikiran.
Kalau seorang telah mengenali bahwa
itu semuanya sumbernya dari pikiran
kita yang berubah,
dia sebetulnya sudah seorang
umat Buddha.
Seorang umat Buddha adalah orang
yang bisa mengendalikan pikirannya,
hilang dari ketamaan,
kebencian, dan
kegelapan batin.
Tanpa harus KTP-nya
Buddhis atau tidak,
tanpa harus hafal parita atau tidak,
tanpa harus sering
kebihara atau tidak,
itu bukan jaminan.
Orang yang sering kebihara,
orang yang hafal parita,
tetapi tidak mau menerima
kehidupan ini
sebagaimana adanya,
tidak bisa menerima kenyataan
sebagaimana adanya,
maka dia sebetulnya bukan umat Buddha.
Dia hanya jalani
tradisi Buddhis.
Tapi Arab
pakai dupa, pakai lilin,
pungkir balik, itu hanya
tradisi Buddhis,
tapi bukan agama Buddha yang
sesungguhnya.
Agama Buddha yang sesungguhnya adalah
melekat pada perilaku manusianya,
bukan pada upacaranya.
Begitu?
Jelas?
Baik, ini ada pertanyaan
tertulis,
saya akan bacakan.
Kenapa kata kebanyakan
orang, kalau sudah
menikah lama, rasa
cinta berubah jadi coklat?
Eh, rasa cinta
berubah jadi rasa persaudaraan.
Apakah hal ini
terjadi pada semua perkawinan?
Sebetulnya,
perkawinan ini
bukan hanya mencari pasangan
hidup.
Perkawinan ini adalah mencari
teman hidup.
Cinta yang
sesungguhnya adalah cinta
yang memberi, bukan
cinta yang meminta.
Seperti yang tadi saya
terangkan dalam kerelaan,
kerelaan yang paling tinggi adalah
merelakan keakuan. Kalau sudah
pada tahap yang itu,
apakah itu disebut saudara,
apakah itu disebut pasangan hidup,
tentu akan menjadi sulit
bapaknya. Kenapa
demikian? Karena saudara
itu juga teman hidup. Teman hidup
karena dia adalah yang kita temukan
di dalam kehidupan waktu besar,
ini juga langsung otomatis
menjadi pasangan hidup.
Cinta
yang sesungguhnya adalah
cinta yang hanya memberi.
Dan memang ketika
perkawinan itu sudah jalannya panjang,
ada
rasa keakrapan, ada rasa
persatuan, ada
rasa saling memiliki,
rasa saling memberi.
Memang seperti
saudara.
Kan justru itu yang bagus.
Kenapa? Kalau
sakit hati sama
orang lain kadang-kadang sulit kita memaafkan.
Tapi kan sakit hati sama saudara
kita kan gampang sekali
memaafkan. Nah dengan pasangan hidup,
kalau kita sudah bisa terus
memaafkan seperti saudara kita sendiri,
sebetulnya itu cinta
yang sesungguhnya.
Jadi kalau yang disebut
cinta itu apa? Kalau cinta itu adalah
rasa ingin memberi, rasa
ingin membahagiakan,
memang ketika pasangan hidup
mulai bertambah
usia, makin
saling mengerti, makin saling
bisa berkomunikasi hati
ke hati, dia akan
makin dekat, makin dekat.
Dan dia betul-betul menjadi
teman hidup. Dan itu
sebetulnya tujuan
di dalam kehidupan
berumah tangga.
Bagaimana menemukan kembali rasa
cinta yang telah pudar?
Rasa cinta yang telah pudar
itu ya harus dibangkitkan, seperti
yang tadi sudah saya bahas.
Bagaimana kita punya kerelaan,
rela mengerjakan hal-hal
yang ringan, rela mengucapkan
kata-kata yang sederhana,
yang bisa
memuji, yang
halus, ya kemudian
bisa mengendalikan diri dari
kesombongan, itu sebetulnya
adalah usaha
untuk membangkitkan,
membangkitkan
rasa cinta, rasa
saling memiliki
di dalam kehidupan berumah tangga.
Karena itu yang empat hal tadi.
Semua ada di dalam makalah ini
yang nanti, walau anda sudah
pulang, anda boleh baca. Tiap hari
anda akan mendapat makalah,
tapi bukan untuk dibaca di sini, dan saya juga
tidak akan membacakan.
Anda baca di rumah, saya menerangkannya
di sini. Yang nanti belum
dapat pulang, bisa minta ke
panitia.
Calon pacar saya,
agamanya berbeda.
Setelah dan akhirnya kedua orang tua
dia mengetahui bahwa agama kami
berbeda. Dan kedua orang tua
dia melarang kami berpacaran.
Yang saya tanyakan, bagaimana
mengatasi kedua orang tua dia
agar
memperbolehkan kami pacaran.
Problemnya
bukan di orang tuanya,
problemnya di beda
agamanya itu.
Jadi, beda agamanya
ini yang harus diberesin dulu.
Kalau selama perbedaan agama ini
terus dipelihara terus,
sulit sekali
untuk mendapatkan kebahagiaan.
Kecuali masing-masing punya
kedewasaan.
Anggap saja,
masing-masing punya
kemauan untuk
saling
mengerti
kelebihan dan kekurangan
agamanya masing-masing.
Bagaimana cara menerangkan orang tua?
Anda
memberikan contoh.
Orang-orang yang beda agama
yang berumah tangga di lingkungan
Anda, Anda tunjukkan.
Itu loh,
si A berumah tangga dengan
si B yang beda agama.
Tuh hidupnya ya biasa-biasa, baik-baik.
Tuh si C dan si D itu
hidupnya juga bahagia, itu juga baik-baik.
Anda tunjukkan.
Jangan hanya pakai teori.
Walaupun kita beda agama, kita
enggak apa-apa karena kita saling menyinta.
Enggak bisa. Tunjukkan mereka yang beda
agama yang memang rumah tangganya baik.
Karena memang ada di dunia
ini, di Indonesia
juga yang rumah tangga beda agama
baik, cuman
biasanya mereka bukan
karena ngerti agamanya yang
sungguh-sungguh. Bukan jalani
agamanya yang benar-benar.
Tetapi ya ikut agama
sebagai tradisi saja. Sehingga
kalau mereka mengatasi permasalahan
dia bukan menggunakan jalur
agama yang dia yakini.
Tetapi jalur umum. Jadi misalnya
nyamuk yang budis ini juga
alah nyamuk bunuh ya bunuh
ajalah. Kalau sudah begini ya
beda agama ya enggak ada problem.
Tapi kalau yang jalani sungguh-sungguh
sama-sama jalani
rasanya saya belum
ketemu yang bisa
akur-akur
dan selarang.
Ya, karena itu problemnya
bukan di orang tua.
Bagaimana harus mengerti
tentang beda agamanya
tapi saya lebih menyarankan
bagaimana pasangan yang akan
berumah tangga itu menyelesaikan
perbedaan agamanya
sehingga bisa dicapai
jalan tengah. Apakah masing-masing
ikut salah satu agama dari
yang lain ataukah
mempunyai pengertian bahwa agama
pasangan saya tidak salah
bisa dibenarkan juga.
Dan seterusnya.
Kemudian pertanyaan yang
berikutnya. Apakah karma
menentukan dalam mencari
pasangan hidup dalam perkahwinan?
Ya,
karma boleh dikatakan menentukan
tapi kan sulit dibuktikan. Kalau
saya lebih cenderung mengatakan
usaha kita untuk mencari
itu yang paling penting.
Di dunia ini pasangan hidup bukan dicari
di dalam kamar.
Jadi, pokoknya saya di kamar terus
kata orang saya dirama lenteng jodoh
jadi saya di kamar terus
tutupan pintu. Tidak bergaul.
Tidak bisa.
Anda harus sering bergaul. Anda memperbaiki
perilaku. Anda memperbaiki
ucapan. Itu yang membuat
Anda akan bisa mendapat pasangan hidup.
Jurus empat ini tadi loh.
Kerelaan.
Perilaku
yang baik. Ucapan
yang baik. Jangan
sombong. Itu yang akan
membuat Anda mempunyai pasangan hidup.
Kalau semuanya karena karma
Anda akan bisa menyalahkan.
Ya, karmaku lah. Belum sampai.
Nanti kapan-kapan akan sampai sendiri.
Salah. Bukan karena
permainan karma semua.
Tapi karena usaha dan
perjuangan kita.
Hidup berumah tangga atau tidak?
Apakah sudah
ditakdirkan? Tidak ada yang disebut
takdir. Semua adalah perjuangan.
Saya sendiri tidak kahwin juga bukan
karena ya tidak laku.
Bukan.
Sudah bosan pacaran.
Jadi bukan karena takdir.
Nanti menyalahkan takdir.
Ini sama dengan karma.
Oh, aku ini jadi
biku karena takdirku.
Siapa yang menulis takdir-takdir?
Dirinya sendiri yang menentukan.
Jadi sebetulnya
semua adalah perilaku kita.
Semua adalah keputusan kita
pribadi.
Bolehkah dalam mencari
pasangan menyiapkan kadang
yang normal?
Ya,
mobil saja ada
ban serepnya.
Saya kira itu normal-normal saja.
Meleset yang satu cari yang lain.
Toko saja
kalau satu tutup pergi ke toko yang lain.
Tetapi jangan
dobel.
Loh, bagaimana?
Pacaran hanya satu.
Tapi kita punya ancang-ancang.
Kalau putus
saya sama yang itu.
Tapi jangan sama ini juga sama itu.
Juga sama ini.
Loh, kenapa? Kok tiga?
Ini kan serepnya dua. Nah, ini yang salah.
Ini namanya tidak benar.
Tapi kalau logika
saya mau pacaran sama ini. Tapi kalau nanti
dua tahun kok saya tidak dilamar?
Ya, sudah lah. Nanti saya ganti itu.
Itu saya kira manusiawi sekali.
Itu tidak bermasalah.
Ya.
Boleh punya cadangan,
tapi bukan pacaran
bareng dalam satu saat.
Ya, lain loh ya.
Lain. Jadi jangan
punya pacar dua atau tiga
sekaligus. Itu tidak bagus.
Karena anda pun kalau digitu kan
juga tidak suka.
Apa anda juga suka?
Anda jadi pacar nomor tiga
dari pacar anda kan juga anda
tidak suka. Nah, kalau diri sendiri tidak suka
jangan lakukan hal itu kepada orang lain.
Karena orang lain pun juga
tidak suka seperti itu.
Ya, apa yang kita tanam
itu yang akan kita panen di dalam kehidupan ini.
Mungkin pertanyaan langsung lagi?
Kita waktunya
tinggal mungkin sepuluh menit.
Kita mulai jam tujuh,
selesainya jam sembilan.
Besok juga
mulai jam tujuh tepat ya.
Selesai juga jam sembilan. Karena kita
akan membongkar
sistem menunggu
yang belum datang.
Jadi tidak ada
dalam kamus di sini. Jadi
yang ada itulah yang akan kita urus.
Bukan yang belum ada.
Ya, makanya tadi walaupun jam tujuh
mungkin baru sebagian kecil, kita
tidak pusing. Kita mulai.
Ya, maka anda jangan pernah merasa
ah besok kan ditunggu. Tidak ada cerita itu.
Ya, nah
kebudayaan itu yang mau dikembangkan
di sini.
Ada pertanyaan lain? Satu dua pertanyaan
terakhir. Ya,
itu ada yang mau tanya.
Terima kasih, Bante, atas waktu yang
sudah diberikan buat saya.
Pertanyaan saya, Bante. Saya itu
sering ngamati
orang kalau masih pacaran itu
mengusrah loh, Bante. Tapi kalau sudah
jadi, oh gegernya aja itu,
Bante. Terus maksud saya
apa itu namanya?
Di mana kesalahan kok sampai
hal itu bisa terjadi? Terima kasih.
Iya, tadi sudah kita
bahas pada waktu pembahasan, bahwa
sebetulnya waktu
kita mau cari pacar,
empat hal itu kita jalankan.
Kerelaan,
kata-kata yang manis,
perilaku yang bermanfaat,
tidak sombong.
Wah, itu kita jalankan sungguh-sungguh.
Tapi begitu sudah berumah tangga,
kadang itu lupa
kita jalani. Nah,
padahal itu mestinya juga menjadi
alas untuk membina pasaran.
Jalankan hidup, supaya
bisa menjadi bahagia
untuk waktu yang lama, ya.
Nah, oleh karena itu,
bagaimana kalau pacaran kok hot?
Kalau sudah berumah tangga kok malah cek cok?
Ya tetap empat ini
tadi rumusnya. Bagaimana
kalau ulang tahun?
Katakanlah kata-kata yang
manis, selamat ulang tahun,
semoga kamu bahagia,
enggak bosen kan?
Kumpul terus sama aku,
aku nyenengno toh.
Ya, muji dirinya sendiri
kan boleh, biar happy kok.
Ya, ini kan kata-kata
yang manis, supaya
membuat rumah tangga itu
menjadi hidup.
Pujian untuk pasangan hidup
itu penting sekali.
Dalam kehidupan ini, sebetulnya
kalau kita melihat tugas
suami, salah satu yang disebutkan
oleh Sang Buddha adalah
memuji istri.
Kenapa? Karena suami, laki-laki
jarang mau memuji
pasangan hidupnya.
Kamu kok ayu ya? Itu hanya muncul
waktu pacaran.
Tapi begitu sudah jadi istrinya,
wah, pakai lipstick sedikit
saja, setelah ini
kalau pedas, enggak menyadari,
masih pakai lipstick lagi.
Padahal dulu waktu pacaran,
ayu loh kamu kalau pakai lipstick.
Inilah, suami tidak
mau memberikan pujian.
Kata-kata yang manis,
kata-kata yang halus, ya tentu
saja rumah tangga jadi cecok.
Ya, nah jadi
pertanyaan yang anda sampaikan itu
sebetulnya adalah merupakan
apa yang saya berikan
pada malam hari ini
supaya pacaran juga bahagia,
rumah tangga juga
bahagia, kuncinya cuma
empat. Dan anda semua bisa kerja
kan kok dalam kehidupan sehari-hari.
Apa sih yang tidak bisa dengan kerelaan
omongan yang baik, perilaku yang bermanfaat
dan tidak sombong, semua
bisa anda kerjakan. Tinggal anda
mau atau tidak. Kalau anda
mau mengerjakan, maka anda akan mendapatkan
kebahagiaan untuk rumah tangga anda sendiri.
Kalau anda gak mau mengerjakan,
makanya anda sendiri juga
yang akan merasakan
kurangnya harmonis di dalam
rumah tangga masing-masing.
Ya, semua kembali kepada kita.
Kita gak bisa berbuat baik untuk orang lain.
Kita gak bisa makan untuk orang lain kenyang.
Kita gak bisa berbuat baik untuk orang lain
bahagia. Tapi kita hanya
bisa melakukan kebaikan
supaya kita sendiri bahagia,
rumah tangga kita sendiri bahagia.
Saya kira inilah
yang merupakan akhir perjumpaan
kita pada malam hari ini.
Besok kita jam 7 akan
mulai lagi. Semoga apa
yang kita bahas pada malam hari ini
memberikan manfaat, memberikan
kebahagiaan,
sehingga
rumah tangga kita masing-masing akan
mendapatkan kebahagiaan.
Saya kira saya kembalikan kepada
pembawa acara. Terima kasih atas
perhatian anda. Semoga
bahagia dan selamat malam.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya