Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Diskusi bagian 1

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Diskusi bagian 1

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas berbagai topik seputar etika, karma, meditasi, dan pandangan Buddhis terhadap fenomena modern. Bhikkhu Uttamo menjelaskan tentang 31 alam kehidupan yang berkaitan dengan kualitas karma, menekankan bahwa alam-alam tersebut berada dalam dimensi yang sama. Ia juga berbagi pengalaman pribadi dalam mengatasi kebosanan meditasi melalui disiplin waktu dan tempat, serta menegaskan bahwa kebosanan hanyalah perasaan sesaat. Dalam menghadapi karma buruk, ia menyarankan berpikir positif dan menekankan peran pikiran dalam menentukan kualitas karma. Mengenai teknologi, ia menyatakan bahwa Buddha tidak menolaknya, melainkan menekankan moralitas pengguna, seperti pisau yang bisa bermanfaat atau berbahaya. Ia juga membahas cara membuktikan ajaran Dhamma, termasuk keberadaan alam lain dan karma, serta manfaat langsung dari berbuat baik di dunia ini. Perbedaan antara benda hidup dan makhluk hidup dijelaskan, dengan tumbuhan tidak memiliki karma dan tidak termasuk dalam 31 alam. Fenomena bahasa roh dan pemanggilan dewa dijelaskan sebagai kemungkinan kedatangan makhluk lokal, bukan dewa sejati. Mimpi dan ramalan dibahas dengan catatan bahwa ramalan hanya akurat 50% dan tidak perlu terlalu dipercaya. Pandangan Buddhis tentang asal usul manusia tidak dimulai dari satu pasangan, melainkan dari makhluk cahaya yang datang dari tata surya lain dan berevolusi. Terakhir, ia membahas fungsi doa dalam mematangkan karma, serta syarat-syarat pembunuhan menurut Dhamma dan konsekuensinya. Pesan utamanya adalah pentingnya moralitas, pemahaman karma, dan penerapan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Alam-alam dan Karma
    Menjelaskan 31 alam kehidupan, tingkatan surga dan neraka, serta hubungannya dengan kualitas perbuatan (karma). Juga membahas bahwa alam-alam tersebut berada di dimensi yang sama, bukan di atas atau bawah.
  2. Mengatasi Kebosanan dalam Meditasi
    Bhikkhu berbagi pengalaman pribadi mengatasi kebosanan meditasi dengan disiplin waktu dan tempat, serta menekankan bahwa kebosanan adalah perasaan sesaat yang bisa diatasi.
  3. Karma Buruk dan Cara Menghadapinya
    Membahas bagaimana menghadapi buah karma buruk dengan berpikir positif, serta pentingnya pikiran dalam menentukan baik-buruknya karma.
  4. Pandangan Buddhis tentang Teknologi
    Menjelaskan bahwa agama Buddha tidak menolak teknologi, tetapi menekankan moralitas individu dalam menggunakannya. Teknologi seperti pisau atau internet bisa baik atau buruk tergantung penggunanya.
  5. Pembuktian dalam Dhamma dan Manfaat Kebaikan
    Membahas cara membuktikan ajaran Dhamma, termasuk alam lain dan karma, serta menekankan bahwa berbuat baik memberi manfaat langsung di dunia ini.
  6. Tumbuhan, Makhluk Hidup, dan Karma
    Menjelaskan perbedaan antara benda hidup dan makhluk hidup dalam agama Buddha, serta bahwa tumbuhan tidak memiliki karma dan tidak termasuk dalam 31 alam.
  7. Bahasa Roh dan Memanggil Dewa
    Membahas fenomena bahasa roh dan pemanggilan dewa dari perspektif Buddhis, menjelaskan bahwa yang datang mungkin makhluk lokal, bukan dewa yang sebenarnya.
  8. Mimpi, Ramalan, dan Kemampuan Melihat
    Membahas mimpi yang bisa melihat masa lalu atau masa depan, serta ramalan yang hanya memiliki akurasi 50% dan tidak perlu terlalu dipercaya.
  9. Asal Usul Manusia dan Evolusi
    Menjelaskan pandangan Buddhis tentang asal usul manusia yang tidak dimulai dari satu pasangan, melainkan dari makhluk cahaya yang datang dari tata surya lain dan berevolusi.
  10. Doa, Karma, dan Pembunuhan
    Membahas fungsi doa dalam mematangkan karma baik atau buruk, serta menjelaskan syarat-syarat pembunuhan menurut Dhamma dan konsekuensinya.
Mindful LivingAI · suggestedKamma/KarmaAI · suggestedRight ViewAI · suggestedImpermanenceAI · suggestedEthical LifeAI · suggestedMeditationAI · suggestedSulit Melepassuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Ada yang mau tanya? Silahkan. Oh banyak, betul. Oke.
Angah ini dulu.
Ya, memang di dalam Dharma
diajarkan bahwa
jumlah alam lebih dari satu
totalnya
sebetulnya 31.
Terdiri dari alam surga
ada sekitar 26.
Kemudian yang empat lainnya adalah
alam menerita tadi.
Yaitu ada alam
binatang, alam tetang kelaparan,
alam tetang raksasa,
dan neraka.
Nah, kenapa
alam itu bermacam-macam
atau bertingkat-tingkat?
Karena memang
kualitas perbuatan
seseorang itu
tidak aman.
Satu contoh yang gampang.
Seseorang membeli
barang.
Barangnya
seribu rupiah.
Kalau dia punya uang
tiga ribu rupiah,
maka tentu dia akan dapat
barang tiga.
Dalam satu barangnya
ada seribu.
Lima ribu dia dapat lima.
Demikian pula makin banyak jumlah
yang dia miliki,
makin banyak barang yang dia dapatkan.
Nah,
seseorang di dalam melakukan
kebaikan atau kejahatan,
kan juga begitu.
Katakanlah,
menolong.
Ada orang yang suka menolong teman dari kecil
sampai mati.
Ada orang yang menolong
teman hanya
sudah seminggu
mau mati baru menolong teman.
Andai kata,
menolong teman itu mati masuk surga.
Apakah surga menolong teman
dari kecil sampai mati itu sama
dengan orang yang menolong
teman seminggu sebelum mati?
Kan tentu tidak sama.
Menolong teman yang dari kecil sampai mati,
tentu itu surganya lebih tinggi
dibandingkan orang yang menolong teman
seminggu sebelum mati.
Ya?
Nah, oleh karena itu surga itu bertingkat-tingkat.
Sebetulnya bukan hanya surga.
Alam peta pun juga bertingkat-tingkat.
Alam cetak kelaparan itu juga bertingkat-tingkat.
Alam neraka juga bertingkat-tingkat.
Tapi diklasifikan-tikan.
Sebetulnya dia hanya alam neraka,
alam peta, dan seterusnya lagi.
Nah,
di mana sekarang?
Alam itu.
Alam itu bukan di atas, bukan di bawah.
Ia bersama dengan kita.
Makanya kalau Anda melihat ada orang sembahyang,
Oh para dewa yang ada di surga,
kan mampingnya atas.
Loh atas itu sudah diceritiki angka atas.
Tidak akan ketemu surga sama sekali.
Di atas yang paling tinggi.
Mungkin nanti pindah ke tata surya yang lain
juga tidak akan ketemu.
Ya?
Hati-hati jangan berbuat jahat.
Nanti masuk neraka
sambil menunjuk ke lantai.
Loh apa gunanya?
Karena kalau kita
menunjuk ke bawah ini,
ini Amerika.
Gila? Amerika yang di bawah kita.
Bula bumi,
Indonesia, bus,
ke Amerika.
Nah, jadi
sebetulnya surga
dan neraka bukan di atas dan bawah.
Surga dan neraka ini
sebetulnya ya di atas di alam kita ini.
Hanya frekuensinya
yang tidak sama.
Seperti kalau sekarang ini kita punya televisi
bisa menangkap Indonesia, SDTI dan sebagainya.
Kenapa kok tidak tabrakan?
Karena frekuensinya tidak sama.
Karena itu,
ada orang-orang tertentu
di rumah bisa
kelihatan begini.
Itu sebetulnya alam peta.
Tetapi kenapa bisa dilihat?
Karena memang dia kumpul dengan kita.
Makanya kalau ada orang yang buddha
akan menyebutkan makhluk tampak dan tak tampak.
Tita wa yewa
adhita.
Itu kalau di dalam bata
yang di kalamnya
metabuddha itu kan ada.
Jadi makhluk tampak dan yang tidak tampak.
Semua ada di sini.
Jadi tidak usah
ke surga itu menunggu waktu atau apa.
Tidak, dia akan langsung.
Orang yang mati dia akan langsung ke surga atau
ke neraka seperti halnya dengan
orang yang dari dalam pintu keluar.
Dia otomatis hilang dari pintu sini,
dari ruangan ini,
dia masuk ke ruangan yang berbeda.
Ya, jadi tetap
ada di sini.
Nah, itu pertanyaan sudah terjawab
apa ya?
Ada pertanyaan yang kedua tadi
tentang apa?
Perbuatan apa tadi?
Sudah terjawab ya.
Jadi kalau saya melakukan karma baik,
lebih banyak daripada karma buruk,
bagaimana?
Kalau saya meninggal, kalau seandainya karma baik
saya berbuah, saya akan lahir
di alam bahagia dulu.
Di alam surga sampai
buah karma baik saya habis.
Mati dari alam surga,
lahir di alam menderita
sesuai dengan buah karma buruk yang saya miliki.
Nah, kenapa
orang sering mengatakan surga itu
kekal?
Karena umur di surga itu
panjang sekali.
Satu hari satu malam di surga itu
yang paling rendah saja 20 tahun.
Satu hari satu malam di sana
sama dengan 20 tahun usia manusia.
Anda yang menghasilkan ini
kan baru kepala dua semua nih.
Belum malam.
Berarti anda belum satu hari
di surga yang paling bawah.
Anda di sini sudah bisa kuliah di upaya,
di surga anda belum satu hari.
Masih bayi merah.
Nah,
jadi orang menganggap
alam surga ini kekal.
Sebetulnya bukan kekal.
Ia lama.
Loh bagaimana dokter?
Hitungan waktu itu kan relatif.
Nyamuk itu kan
hanya seminggu umurnya.
Tetapi dalam seminggu itu
dari jentik-jentik sampai nyamuk tua
sampai yang bisa kahwin dan bertelur dan mati itu
orang menganggap
panjang sekali, hanya seminggu.
Padahal sebetulnya
di nyamuk sendiri itu sudah proses hidup
yang panjang.
Sehingga
nyamuk menganggap manusia
adalah kekal.
Saya sudah tua kok dia tetep
ada ya?
Saya sudah mau mati kok dia tetep ada?
Karena dia seminggu.
Nah, sekarang dalam surga yang paling rendah
hanya 20 tahun kemaluin.
Kita 20 tahun.
Surga yang lebih tinggi ada yang
100 tahun.
100 tahun usia manusia
di tanah baru satu hari,
satu malam.
Surga yang lebih tinggi, tinggi, tinggi lagi ada yang
84.000 tahun usia manusia
di tanah baru satu hari, satu malam.
Sehingga orang menganggap waktu
surga kekal.
Sebenarnya hanya dimensi
waktunya yang panjang.
Karena itu
seseorang yang mati karena perbuatan
baiknya banyak, dia lahir di surga
sampai kalma baiknya habis, matilah
dia lahir di alam yang menderita.
Untuk menghabisin kalma burunya.
Atau kebaliknya.
Orang jahat ikut
agama, disembayangkan
mati masuk surga. Bisa? Bisa.
Kenapa?
Kalma dia jahat, tapi ketika
mati disembayangkan mungkin dia ingat
kebaikannya, dia mati masuk surga. Karena
pikiran terakhirnya adalah kebahagiaan
di alam surga. Tapi di tanah mungkin
hanya seminggu.
Menghabisin kalma burunya, dia hidup di
dunia. Kalma baiknya dia
yang ada di dunia. Mati dari
alam surga, dia lahir di neraka
yang mungkin ribuan tahun.
Karena untuk kalma burunya dia.
Alam surga itu
adalah alamnya
dewa dan dewi itu pembuninya.
Dalam bahasa agama lain itu
dewa dan dewi jadi malaikat.
Malaikat
kalau di kita namanya dewa
kalau laki, dewi kalau perempuan.
Bidadari kalau perempuan,
bidadara kalau laki.
Tunggu, namanya namanya bidadara
kalau laki.
Anda jarang mendengar loh. Anda kan
taunya hanya bidadari. Sebenarnya
bidadara itu maksud petina.
Pasti petina.
Yang jatah namanya bidadara.
Karena di dalam bahasa Pali
jenis kelamin itu dibedakan. Putra, putri,
kiswa, fiswi.
Bidadari, bidadara, dewa, dan dewi.
Itu begitu.
Jadi alam dewa
adalah menyebut
pembuninya. Tapi apakah
dewanya seperti dewa-dewa
yang disebutkan di tempat ibadah
lain?
Itu tidak pernah dibahas di dalam agama Buddha.
Di dalam agama Buddha
ada dewa saka,
pembunyi,
tawatingta,
alam tiga puluh tiga dewa.
Ada dewa Brahma,
sahampati. Itu ada.
Tetapi tidak pernah disebutkan
misalnya
Yen Siang Teh.
Tidak pernah disebutkan itu.
Karena kebudayaannya tidak lama.
Ya?
Jelas? Baik? Belah?
Maksudnya
kalau misalnya
kalau misalnya
misalnya mungkin
bagaimana cara orang Buddha
menjelaskan jenuhannya?
Jenuh di dalam meditasi
sebetulnya tidak boleh dikasih
dengan berbagai macam variasi.
Jangan dikasih dengan meditasi.
Jangan dikasih dengan meditasi.
Jangan dikasih dengan meditasi.
Nanti tidak bisa.
Bisa meditasi.
Meditasi opiah penafasan.
Jenuh.
Nanti opiah kemeta.
Tidak mungkin
misalnya
meditasi duduk.
Duduk berdiri berjalan berbaring.
Oh ya.
Nah.
Saya pikir opiahnya berarti
baik.
Sekarang meditasi memang bisa
membosankan. Itu betul.
Bagaimana seorang bhikkhu menganalani hal ini?
Saya tidak tahu bhikkhu yang lain
saya akan cerita pengalaman saya.
Ya? Karena pengalaman orang kan tidak sama.
Kalau saya hanya mengamalkan.
Kebosanan itu
adalah perasaan sesaat.
Kuncinya mengatasi kebosanan
adalah disiplin.
Disiplin waktu.
Disiplin tempat.
Disiplin tempat.
Jadi.
Bangun tidur dan mau tidur
mesti meditasi.
Karena kalau saya waktunya susah.
Disiplin jam 6 pagi atau jam 8 sore
atau jam 7 pagi, jam 7 sore
saya tidak bisa begitu.
Karena frekuensi saya ini
apa ya?
Kadang-kadang jam 2 malam baru tidur.
Itu kan susah.
Jadi saya hanya berpikir
selama tidur dan mau tidur.
15 menit atau 30 menit atau 1 jam
sebelum tidur.
Tempatnya kan juga tetap.
Karena tempat dimana saya mau tidur
itulah tempat yang meditasi.
Kadang-kadang semangat sekali.
Wah, keuangan mau meditasi.
Duduk, enak.
Tapi kadang-kadang juga puluhan setinggal itu.
Tapi harus disiplin.
Disiplin pada waktu dan disiplin
pada tempat.
Saya walaupun bosan, saya harus duduk.
2-3 hari kadang buasan
tapi paksa duduk dulu.
Nanti jatuh dari bosan enak.
Bosan itu hanya sesaat.
Sama dengan anda.
Waper, ngantuk.
Itu sebetulnya perasaan sesaat.
Anda kalau ngantuk sekali,
coba anda tahan-tahan.
Tahan beberapa menit.
Nanti ngantuknya akan hilang.
Sebentar lagi hilang.
Bahkan cinta pun bisa begitu.
Anda menyayangi si air.
Dicoba-coba.
Oh, gak bisa ya. Airnya lama-lama.
Sudahlah, gak usah.
Kesenangan sesaat, sebetulnya.
Semuanya kesenangan sesaat.
Nah, karena itu. Marah juga begitu.
Anda ingin marah sekarang.
Tahan. Besok pagi saja marahnya.
Karena gak ketemu orangnya.
Besok kau ketemu.
Besok bisa marahnya berguna.
Berapa hari lagi.
Berapa hari lagi.
Malah anda memaafkan orang itu.
Nah, jadi sama
dengan kebosanan dalam meditasi.
Kuncinya disiplin waktu
dan disiplin tempat.
Kalau anda bisa kerjakan itu.
Saya sudah menggunakan itu.
Dan bermanfaat.
Itu mungkin dalam pertanyaan pertama.
Tapi gak ada itu.
Belum sempat saya jawab itu.
Dengan pertanyaan ini, berarti anda bisa menggali
apa yang belum saya terangkan.
Ini pertanyaan yang pertama.
Memetik uang karma buruk.
Jengkel lho.
Aduh, ini lagi.
Memetik uang, tapi tidak menanam.
Kecuali anda ngomel.
Anda kan sekarang kuliah kan
juga anda bosan.
Tapi kalau anda sekarang ngomel.
Aduh, dosen ini emang sembarangan.
Jengkel kan saya dekati tugas bulannya ini.
Anda menanam karma buruk.
Karena anda
sedang membenci siapa sendiri.
Tapi ketika anda
Aduh, kuliah beranjak kayak gini.
Siapa ini yang suruh dulu
sampai kuliah begini.
Bilik jurusan yang susah-susah.
Apalagi buku yang tebal-tebal.
Aduh, karma buruk berbuah ini.
Dan ada problem.
Itu anda hanya mengeluh karena karma buruk.
Tetapi dengan cara berpikir yang positif.
Karma buruk bisa jadi karma baik.
Karena makanya semua terdapat pikiran.
Karma itu terletak pada perasaan.
Ketika anda happy, itu karma baik.
Ketika anda ketres, itu karma buruk.
Berarti ketika anda bisa mengubah ketres menjadi happy.
Anda tidak pernah ketemu karma buruk.
Jadi tidak ada cara.
Itu biasa.
Anda sendiri lah. Boleh.
Baca buku tebal.
Misalnya textbook.
Tapi ada fakta-fakta besar.
Dalam satu ketika mungkin anda bisa menyenangkan
buku yang tadinya anda
bosan.
Semuanya kan begitu.
Baik, yang lain?
Ya, belakang itu diri.
Kalau mengembangkan,
kita kan sekarang ini tahu sendiri
kalau pandangan buddhist itu menurut
tentang teknologi itu gimana kan
biasanya cenderung
kondisi negatifnya lebih banyak.
Terus yang kedua,
apakah seorang
buku itu boleh juga menggunakan
fasilitas teknologi?
Ya. Pertanyaan pertama
adalah bagaimana pandangan buddhist tentang
teknologi. Tidak ada
masalah. Karena pandangan
buddhist itu bukan mengeluarkan
teknologi. Pandangan buddhist
adalah memberikan pekal
moral.
Kepada setiap pribadi.
Agama
itu adalah mengurus pribadi
individu yang beragama
ini berarti yang diurusin.
Sekarang misalnya,
tidak usah teknologi tinggi-tinggi.
Pisau.
Pisau itu.
Pisau bisa untuk
membunuh orang.
Tapi pisau juga bisa
untuk memotong roti.
Yang salah kalau untuk membunuh bukan
pisau.
Yang berguna untuk membunuh juga
untuk memotong roti juga bukan pisau.
Itu kan tergantung
pemegang pisau.
Sehingga agama buddha tidak mengatakan
Atau pembunuhan pakai pisau
berarti sekarang agama buddha
memusuhi produk pisau.
Itu kan tidak masuk akal loh.
Maka agama buddha mengatakan
kurangi pembunuhan,
kurangi pencurian,
kurangi pelanggaran kesusilaan,
kurangi buruk dan kurangi kemampuan.
Bukan berarti tidak boleh
bikin pisau.
Tidak boleh pakai perhiasan.
Tidak boleh pakai
romini.
Tidak boleh kalau bohong atau lagi.
Kalau mau membuat
tidak boleh produksi bir.
Itu tidak masuk akal.
Ini agama mengurusi manusia
bukan mengurusi produksi.
Tapi kalau bikin pisau,
nanti itu mau bunuh.
Kalau pakai perhiasan nanti jadi mencuri.
Kalau pakai romini nanti
pelanggaran kesusilaan.
Itu tidak masuk akal.
Siapa yang pakai
romini itu melanggaran kesusilaan atau tidak
itu tergantung pikirannya manusianya.
Nah, jadi
agama buddha kembali mengurus
pribadinya.
Sekarang tinggal lebih tinggi. Tidak masalah.
Sudah punya pisau,
boleh. Punya petul
juga tidak masalah.
Sekarang bukan hanya untuk nembahi orang
mau dorong orang atau tidak.
Siapapun juga boleh punya pisau.
Tetapi yang penting
mentalitas orang yang punya ini.
Baik.
Teknologi juga begitu.
Ada buddhan mamati tidak ya
ubaya?
Ada.
Ini ada.
Kimianya hebat.
Bisa meracun orang
tersenyum.
Karena tahu
racun ini
kalau dipakai orangnya mati
tapi tersedepi.
Misalnya.
Tetapi kan bukan sedih.
Oh, agama buddha dilarang membunuh.
Kalau itu, ini untuk
perusahaan kimia,
itu tidak masuk akal.
Silahkan belajar kimia yang hebat-hebat.
Dia karena mentalnya bagus,
moralnya bagus,
dia tidak akan menyalahgunakan
kemampuannya dia.
Justru dia tidak meramu
mungkin satu produk obat tertentu
karena mengerti manfaat
kimia ini dengan kimia itu.
Sekarang teknologi tinggi juga sama.
Teknologi tinggi apa sih?
Nuklir?
Semuanya sama.
Dan sekarang kalau berpikir
bagaimana menggunakan teknologi tinggi?
Ya tidak ada masalah.
Karena kembali lagi kepada pribadinya.
Pisau
bisa menyalahgunakan.
Apalagi juga teknologi tinggi.
Tapi kalau pribadinya ini tidak benar,
apakah jadi tidak ada masalah?
Dulu kan ada orang-orang
yang suka buka internet.
Berarti suka buka situs porno.
CSO itu netconceptmu.
Kamu pakai
untuk siap.
Kenapa? Karena dia kan berpikir
caranya dia. Kalau dia buka,
itu yang dia lihat, itu porno.
Dia lihat sendiri,
makanya sempat.
Menurut itu mau emailan dalam puluhan tiap hari,
pusing kepala, sudah jawabnya.
Mau lihatnya gitu-gitu. Kemarin juga ada yang tanya,
Pak Cik, buka chatnya enggak?
Enggak tempat.
Dan tidak ada waktu untuk itu.
Jadi bagaimana?
Ini kan bergantung pribadi yang menggunakan.
Maka kembali lagi kepada dasar yang pertama,
diri sendiri
sebetulnya adalah pemimpin diri sendiri.
Siapa yang bisa
memimpin? Yang lain.
Kita harus bisa menguasai diri kita dulu,
baru kita bisa menguasai yang lain.
Sebetulnya enggak ada problem.
Kalau ada agama yang malah
retronik, malah pemerintah yang
malah retronik, itu aneh.
Teknologi mau ditahan,
itu berarti malah enggak ada atas
sih, sebetulnya.
Otak manusia ini kan berkembangnya,
enggak ada batasnya.
Sekarang dibatasi itu enggak boleh.
Kalau saya berpikir itu aneh.
Mungkinnya maling manusia kan secara legal kan enggak boleh.
Tapi secara ilegal,
sudah banyak yang retronik manusia.
Siapa saja yang enggak pengen coba?
Siapa saja yang enggak pengen coba?
Ya kan, kok ambil bisa ya?
Ini kok bisa?
Coba manusia bisa gak?
Itu pasti kalau kita,
itu sudah apa?
Keinginan juga zaman dulu,
manusia itu pengen memproduk
satu generasi yang tempurna.
Enggak.
Maksudnya manusia itu
akan dibadilalang.
Ada agama melalang itu saya malah iran.
Ini berarti agama ganti kemajuan
dan antiham.
Itu hak asasi untuk orang manusia
mengembangkan akal budinya.
Mau sampai dimana juga.
Itu sebagai agama muda,
retronik enggak masalah.
Maksud saya berpikir,
kalau kita retronik,
kita ngomel.
Kan kita banyak punya relik.
Ya kan?
Itu diambil,
dikronik.
Dengan rekayasa genetika,
muncul alahat ini, alahat itu.
Kan happy.
Itu relik alahat biasa,
kalau itu reliknya sang Buddha.
Bagi saya kronik,
no problem.
Nah kronik yang tidak boleh
adalah
saya sakit sakiten,
jantung saya sakit,
paru-paru otak saya sakit.
Saya kronik tubuh saya.
Nah, sekarang
orang yang berdiri di samping saya,
ini persis saya semua.
Saya berikan,
dia jadikan topo of the deal
tubuh saya.
Otaknya enggak tukar sama saya.
Jantung enggak copot seperti saya.
Pinjol enggak copot.
Ini yang enggak boleh.
Ini namanya diganggu manusiakan
si orang ini.
Dia dianggap sebagai topo spepak.
Ya kan?
Karena kalau kronik itu kan
persis 100%.
Berarti kan kalau pinjol itu, misalnya
ada kan sering diambil ke campok pinjol.
Campok pinjol itu kan maksimalnya
80% kesamanya.
Tapi kalau kronik 100% pasti.
Emang sekali. Semua mesti lancar semua.
Enggak mungkin tubuh menolak.
Kalau 100% pasti badannya sendiri.
Otak pun bisa dikronik.
Bisa gantiin hati kita.
Nah ini yang enggak benar.
Tetapi kemajuan jawa
tidak bisa ditolak. Nanti kalau mau buddha
terus, oh Biku, Biku enggak boleh pakai kacamata.
Itu hadir teknologi loh.
Belakangnya kan lihat anda.
Kan repot.
Biku tidak boleh pakai mic.
Ya kebetulan
rasanya seperti wilayah. Bisa.
Semalam tuntut, ya bisa.
Bisa, bisa.
Makanya dari sekali dia lawan sama
Mira, ya bisa.
Ya saya terpaksa
minta bantuan ini. Ini kan teknologi.
Ini karena siang hari
kalau malam hari saya pasti enggak pakai
karena di sini seperti ini.
Jadi bisa menggunakan tergantung
bagaimana cara menggunakannya.
Agama kembali lagi
adalah mengurus manusianya.
Bukan mengurus kemajuan jaman.
Sehingga manusia siap
menghadapi kemajuan jaman.
Jelas?
Ya.
Boleh?
Oh bukti ya.
Artikel itu tidak harus selalu
empiris.
Listrik
ini tidak perlu dibuktikan dengan
dipegang.
Ya bener ada listrik.
Ya kalau sudah laburnya kritik semua
baru membuktikan itu
ini tidak masuk akal.
Karena kadang-kadang kita menggunakan alam
apakah pebeng,
apakah menghidupkan lampu.
Itu kan ada berbagai macam cara
untuk membuktikan.
Nah, kalau alatnya belum ada,
ya ditunggu.
Demikian pula dengan beberapa hal
di dalam dharma.
Di dalam dharma itu yang memang
bisa dibuktikan seketika.
Ya.
Tetapi ada yang tidak bisa dibuktikan
secara seketika.
Misalnya alam.
Alam itu tidak bisa
ayo sekarang kita melihat semua.
Kita lihat nih.
Ini saya tunjukkan dalam surga.
Ini kalau kita beda sedikit.
Ke kanan itu. Habis perempatan itu ke kanan.
Eh bukan seperti itu.
Ya.
Kadang-kadang
ada beberapa teknik untuk menunjukkan
alam surga, alam neraka, kelahiran
kembali. Itu bisa
menggunakan misalnya hipnotis.
Ada beberapa orang bisa dihipnotis
dengan kekuatan hipnotis.
Kemudian dia ditanya
dua hari, tiga hari yang lalu kemana.
Bulan, sepuluh tahun yang lalu kemana.
Seratus tahun yang lalu kemana.
Dia bisa cerita.
Jadi bukan, kamu jauh-jauh
sudah pernah belum mengalami kelahiran kembali? Belum.
Maka berarti tidak ada.
Itu kan sama dengan tanya
orang buta. Jangan melarik?
Belum. Berarti tidak ada.
Itu kan aneh.
Ya metodanya kan macam-macam.
Tidak ada empiris
dilihat, didengar, dirabat.
Bukan begitu. Kan ada bermacam-macam.
Karena metodanya itu hanya
secara analisis
ya berdasarkan logika.
Itu juga bisa.
Jadi edipatiko datang dan
dibuktikan itu dalam arti yang keluar-keluarnya.
Kadang-kadang butuh waktu
untuk membuktikan.
Seperti tadi, saya mengatasi
kebosanan.
Apa yang saya sampaikan?
Mungkin itu butuh waktu untuk bisa
membuktikan. Nanti baru dalam
hariannya kehidupan sehari-hari
dibuktikan, oh benar.
Ternyata disiplin waktu, disiplin ruang,
ini penting.
Itu baru dibuktikan.
Ya, jadi apa itu?
Ibi.
Ya kan tidak semua orang bisa.
Tapi mungkin ada orang yang suka itu.
Itu tidak.
Bikin hipnotis itu kan bisa.
Ibi misalnya menembus tembok untuk apa?
Tukang pintu, sudah bikin pintu ini
sudah menembus tembok.
Belajar meditasi menembus tembok
biar nanti bisa menembus burung-burung,
menembus apa.
Menembus tembok itu sudah pekerjanya tukang kayu.
Bikin pintu.
Kita kan menembus tembok.
Melihat alat lain.
Lihat televisi.
Yang lain.
Zaman sekarang, sebetulnya ibi sudah tidak begitu perlu.
Mau terbang, naik pesawat.
Mau telepon, telepati
jarak jauh, telepon.
Zaman dulu kan ada, oh angin sampai
kalah, cintaku pada dia.
Imel.
Pusing-pusing.
Zaman sekarang itu teknologi tinggi.
Kita kan tidak bisa
memanfaatkan teknologi.
Tidak usah meditasi sampai burung-burung.
Itu sudah begitu saja.
Bermanfaatlah.
Habis waktunya.
Habis waktu, belum tentu
sampai.
Tidak.
Zaman sekarang itu tidak bersilah.
Sudah kurang penting.
Kalau dulu kan zamannya
Jet Li.
Lompat kemana?
Kepalanya ini.
Bila diri, bila diri.
Kenapa? Tidak bisa dibuang.
Lompat ke tempat
api semua.
Lebih bagus, kembali lagi.
Tujuan agama adalah untuk
perbaikan moral
kita ini.
Kesakitan begitu itu sebelum zaman
Sang Buddha sudah ada.
Melihat alam lain.
Lalu melihat karmanya sendiri.
Karmanya orang. Besok lahir jadi apa.
Itu sebenarnya zaman Sang Buddha
sudah ada. Sang Buddha itu
menemukan bagaimana melihat hidup
sebagaimana adanya.
Itu yang disebut mencapai kesucian.
Hidup sebagaimana adanya.
Karena manusia sering menolak kenyataan.
Itu kuncinya
di situ.
Jelas ini tadi ya.
Terjawablah pertanyaannya.
Belum. Belum puas
boleh tanya lagi.
Puncinya itu tidak harus kawan.
Hal ini kemampuan kita belum sampai itu.
Mungkin hal ini punya pengorban.
Apa pengetahuan tinggi
atau bagaimana. Jadi saat ini
apa yang
kita harus bagaimana itu bagaimana untuk
menerima adanya.
Membuktikan kebaikan itu memberi manfaat.
Kebanyakan itu kuncinya.
Sang Buddha akan tidak kurangi kejahatan
tanpa kebaikan dan cucikan pikiran itu
bermanfaat.
Ada alat purga, alat perangkatan Buddha saja pada
zaman itu tidak membuktikan itu.
Yang Buddha ditanya manfaat berbuat baik.
Yang Buddha akan menjawab
begini.
Orang berbuat baik
kalau dilakukan
di dalam dunia ini
akan menyenangkan lingkungannya.
Betul tak?
Orang baik pasti dicintai lingkungannya.
Seandainya nanti setelah mati
ke alam surga
dia punya ketempatan
masuk ke alam surga.
Orang berbuat baik
di dalam kehidupan ini
dia dimusuhi orang.
Seandainya meninggal
ada neraka
dia punya ketempatan
lahir di neraka.
Jadi Sang Buddha menekankan
kehidupan di dunia ini.
Berbuat baik, berbuat buruk
itu akibatnya akan anda rasakan langsung.
Surga dan neraka takutlah dipikir
orang mati yang masuk ke surga dan neraka pun
gak pernah kembali lapor kepada kita.
Sungguh
mencuria yang ternyata
mati masuk neraka.
Baik baik, aku kembali lagi.
Kenapa?
Ini kita pusing.
Maka agama Buddha ini adalah agama yang bisa dikutikan
karena dia berbicara tentang kehidupan
di dunia ini.
Mati masuk surga atau masuk neraka
kita gak usah pusingin.
Banyak orang juga mengatakan
saya gak percaya ada alam-alam lain.
Tidak salah.
Tidak harus kamu percaya ada alam lain.
Mungkin belum waktunya kamu
juga percaya pada alam lain.
Tetapi percayalah bahwa orang berbuat baik
disenangi oleh teman di lingkungan anda.
Percayalah bahwa
berbuat jahat pasti dimusuhi lingkungan juga.
Karena itu bisa anda buktikan.
Tapi surga dan neraka
siapa yang bisa lihat?
Apakah harus sampai meditasi
buku-buku untuk lihat itu?
Itu apa?
Mungkin nanti dengan teori kuantum
dan sebagainya mungkin bisa melihat
membukakan dimensi surga
dan neraka. Tapi mungkin zaman itu
kita gajah hidup. Itu kan zamannya Star Trek.
Bisa lihat begini.
Mungkin zaman itu kita gajah hidup.
Untuk apa?
Karena itu kita bahas agama adalah
berbicara tentang moralitas.
Jadi mungkin mau tanya ini.
Itu kan tumbuhan
di dalam agama Buddha.
Itu punya ada suatu
kita itu akan akhir
jadi seperti tumbuhan juga.
Karena dia ada dalam agama Buddha juga.
Nah makanya itu betul.
Di dalam agama Buddha
tumbuhan itu bukan makhluk hidup.
Kalau ilmu biologi dia makhluk hidup.
Tapi kalau tumbuhan
di dalam agama Buddha
dia disebut benda hidup.
Bukan makhluk hidup.
Nah apa bedanya benda hidup dan makhluk hidup?
Benda hidup dan makhluk hidup itu
sama-sama
membutuhkan makanan
untuk hidup.
Bahwa butuh makanan.
Manusia juga.
Benda hidup dan makhluk hidup
butuh
suara tertentu
untuk hidup.
Anda kepala
kipas-kipas,
kipas-kipas kepalakan terus
pingsan.
Pingsan terus kepalakan
mati.
Kedinginan juga gitu, pohon mati.
Makhluknya sudah mati.
Nah makanan dan suhu
mempengaruhi benda hidup dan makhluk hidup.
Tetapi perbedaannya benda hidup dan makhluk hidup.
Makhluk hidup punya karma.
Punya niat
untuk melakukan
sesuatu.
Itu yang pohon sebagai benda hidup
tidak punya.
Pohon tumbuhnya ke atas
atau mengikuti
matahari.
Karena itu
kondisinya begitu.
Tetapi manusia kesini
atau apa saja
binatang melakukan sesuatu,
itu dia punya niat sebetulnya untuk benar.
Karena itu di dalam dharma ini
pohon tidak termasuk
makhluk hidup.
Di dalam 31 alam, pohon tidak termasuk.
Jadi
manusia tidak bisa lahir
jadi pohon. Pohon
jadi manusia. Bisa.
Sudah dibuktikan.
Pohon yang dikati musik
klatik, dia cepat
tumbuh, cepat berbuah.
Pohon yang dikati
musik rock, mati.
Kurus, kurus, kurus, mati.
Pernah anda baca itu buktinya?
Pernah ya? Dikati musik
rock, matinya. Maka kalau anda
suka musik rock,
siap-siap aja.
Kalau mau pohon panjang,
ya musik klatik.
Itu sudah dibuktikan.
Jadi ada satu
tawang, beta tawang itu
dikati musik klatik.
Patinya lebih cepat tumbuh daripada yang lain-lain.
Dan daya tahannya terhadap
kumal, terhadap penyakit
juga tinggi. Berarti pohon punya
kelasan. Tapi dia
tidak punya niat.
Jadi dia bukan
makhluk hidup. Dia benar.
Pohon kumal.
Sebenarnya itu dari dalam dharma masih
disebut makhluk hidup.
Karena manusia mungkin atas makhluk
itu lahir di situ sebagai buah kaum
bumi. Ada yang lain lagi?
Ya silahkan.
Masa ini saya ingin
tapi mungkin minta. Saya mau tanya tentang
konsep magi-magi itu.
Sebenarnya
bahasa roh itu
kalau saya melihat dari konsep buddhis ya, bukan
konsep mereka. Karena anda
menanyakan
konsep yang lain daripada dari buddhis.
Kalau
konsep mereka sebetulnya anda harus
menanyakan ke mereka. Karena tidak bisa
toh.
Manusia menggunakan
ukuran untuk
oh ini kambing ini sedang susah.
Oh ini sapinya
sedang sepi ini kelihatan senyum-senyum.
Ya kira-kira tidak bisa. Tapi
baiklah. Kalau dipandang dari buddhis apa
sebetulnya bahasa itu adalah bahasa
yang perlu dipandangkan. Artinya ketika
seseorang menggunakan konsep trafi tertentu
kalau anda mau membuktikan. Pada
saat anda bermeditasi, anda
bisa goyang-goyang.
Nyaman,
bisa goyang-goyang begitu.
Itu goyang sendiri.
Dan kalau itu goyang, itu anda arahkan
ke bagian mulut. Itu bisa keluar
suara.
Seperti orang berbunyi,
seperti orang berbata, walaupun
artinya anda tidak tahu.
Karena anda lihat
orang yang bisa bahasa roh,
bahasanya anda tidak kenal.
Orangnya sendiri yang ngomong juga tidak tahu.
Tapi tidak tahu, tapi
gembira. Anda tidak tahu biasa.
Ya kalau itu baik
kata-katanya. Kalau maki-maki.
Tidak ada.
Tidak ada.
Kan tidak ada tempat semuanya. Bahasa roh
itu kan miliknya pribadi.
Nah, itu satu.
Itu bahasa yang
berbeda. Yang kedua tadi tentang apa
pertanyaannya?
Memanggil dewa.
Memanggil dewa oke saja.
Tetapi apakah yang datang dewa atau
bukan, kita tidak tahu.
Karena itu orang lain. Yang juga
tidak kelihatan. Manusia ini
gila. Kata-kata kalau yang kelihatan
masih takuti.
Masih kekuburan, takut.
Itu kan barang tidak kelihatan.
Takut. Padahal yang
menjadi takut itu yang kelihatan ini loh.
Kelihatan ini kalau kita menyakiti hati mereka,
mukul.
Nyubir.
Dijemin kita,
maki-maki kita.
Tapi kalau yang tidak kelihatan,
betulnya yang namanya apa?
Tapi manusia cenderung takut
sama yang tidak kelihatan.
Nah, sekarang memanggil dewa. Oke lah
kata-kata si dewa akan masuk.
Apa betul? Belum tentu.
Buktinya apa?
Ulang tahun
dewa.
Semua orang yang bisa keturupan itu
memanggil. Di sini dewa.
Kota Bitar saja mungkin kota Bitar
ada beberapa rumah,
memanggil dewa-dewa, dewa-dewa, dewa-dewa.
Rukmanah, Surabaya dewa-dewa,
dewa-dewa, dewa-dewa. Kota Jakarta
dewa-dewa. Seluruh Indonesia.
Ya kalau di seluruh Indonesia. Kalau dewa-dewa
dipercaya di luar negeri. Di luar negeri juga begitu.
Apa tidak sibuk sekali dewa-dewa?
Kalau sudah
jadi dewa-dewa begitu, hari ulang tahunnya
dia malah akan pergi ke tempat lain.
Capek loh itu.
Panggilnya atau pulang ke sini. Belum ini
pernah nanya, itu pindah ke sana.
Lalu bagaimana?
Apakah dewa A ada?
Bisa ada. Tapi
sebetulnya dewa lokal.
Orang yang
memujarat patungnya dewa A
tidak mudah.
Hanya-hanya muncul kemelekatan dengan
patungnya itu.
Ketika meninggal,
mungkin kalau pikirannya melekat dengan
patung itu, dia lahir sebagai dewa
yang berada di tempat itu.
Sehingga
ketika ada orang sembahyang minta
keturupan dewa A,
ini tadi masuk.
Dan mengaku seolah-olah
dia adalah dewa A.
Begitu pula
di tempat lain. Jadi dewa A sendiri
tidak sibuk.
Karena semua ada
representatifnya di mana-mana.
Perwakilannya lah di mana-mana.
Begitu.
Nah, bagaimana sekarang bukan
dewa A, tapi engkau kita yang
dipanggil?
Kan ada juga, kalau kita
sudah meninggal, panggil.
Loh, kok tahu?
Itu bisa dua kemungkinan. Satu,
emang engkau kita lahir
di alam sekitar kita.
Jadi begitu dipanggil,
dia datang, dia
kasih informasi. Itu loh
ukuranmu milik.
Kamu anak-anak itu bunyiin duit
itu dibalik kemari sana.
Itu misalnya.
Tapi yang kedua,
itu mungkin bukan engkau kita.
Engkau kita mungkin sudah meninggal
dan lahir di alam surga.
Yang datang adalah dewa lokal
di rumah itu.
Mengaku dirinya engkau-Nya.
Dan karena dia dewa lokal
atau penghuni tempat itu,
dia mengerti kebiasaan engkau-Nya.
Dan mengerti, dia biasanya kalau panggil
namanya ini.
Manggil anaknya namanya itu.
Dia bisa tahu nama panggilan kecilnya.
Ketenangannya apa dia bisa tahu.
Menirukan suaranya bisa tahu.
Itu sebetulnya dewa lokal.
Jadi semua sebetulnya
manggil ini, manggil itu.
Sebetulnya itu adalah kerjaannya makhluk-makhluk
lokal.
Ya, gitu.
Ya, silakan.
Ya.
Mimpi
itu di tamata lalu
dan di tamatnya yang akan datang.
Jangan kalah.
Satu ketika
Anda pergi ke satu tempat
dan Anda tidak berpikir,
aku rasanya kok sudah pernah ya ke sini?
Di mana ya
saya lihat suapanya seperti ini?
Ya.
Di jauh itu.
Sebetulnya itu Anda lihat,
pada waktu Anda mimpi.
Mimpi yang akan datang.
Jadi Anda jangan selalu mengatakan
mimpi itu pada masa lampau.
Membicarakan masa lampau. Belum tentu.
Kenapa? Karena ada seorang orang yang
tentu yang dengan sukuan meditasi
dia bisa lihat yang akan datang.
Tetapi karena mungkin dalam
kehidupan yang sekarang dia tidak pernah
melatih meditasi, kemampuan melihat
yang akan datang itu hilang
dengan kesadarannya, maka waktu
tidur, tidak ada kesadaran,
dia bisa bual mimpi.
Seperti gedung ini, bangunan di
Fritar ini,
sudah pernah dimimpikan ketika
ada seorang anak yang masih SMP
dan bangunan ini belum dia beli.
Dia bisa mimpi di mana?
Tidak penting.
Kalau dia sudah tahu tempatnya ini, ini, ini ya.
Persis kan, sudah mimpi saya.
Padahal dia mimpi waktu dia ada di
tempat ini pun masih miliknya orang lain.
Dia sudah tahu.
Nah.
Jadi, itu bisa
melihat di angkat mata. Bisa juga lihat
dengan lampau. Belum tentu.
Tapi, ada
kemampuan mimpi seperti itu.
Ada yang kasus lebih hebat lagi.
Seorang wanita.
Sejak SMP
dia mimpi
laki-laki yang sama.
Selalu itu. Yang rambutnya
gondrong. Zaman itu waktu itu belum gondrong.
Belum banyak orang gondrong-gondrong
itu dia sudah mimpi. Yang rambutnya
panjang.
Setelah dia dewasa, setelah dia
bekerja,
dia baru ketemu orang itu.
Dan orang itu
jadi suaminya.
Yang dia mimpikan sejak SMP.
Jadi, bisa.
Ya.
Nah.
Tidak harus masalah pok.
Nah, kalau meramal.
Apakah
itu penting?
Nomor satu kalau dia meramal.
Anda tanya.
Anda jangan tanya besok, bulan depan
apa-apa. Mau jadi apa.
Kaya umur berapa? Tidak usah.
Sore nanti
saya ada kejadian apa?
Saya mau pakai baju apa?
Saya mau ketemu siapa?
Sore nanti dulu.
Kalau dia bisa jawab tepat,
boleh nanti tanya 20 tahun, 50 tahun
dia akan datang. Tapi kalau sore
nanti aja belum ketemu.
Sore nanti aja tidak tepat-tepat.
Tidak usah ngomonglah.
Orang itu tidak bisa.
Oh, kamu kehidupan yang mahal,
kamu jadi gini, gitu.
Kemarin
jam segini saya pakai baju apa?
Sedang menjahit nafas.
Kalau tidak cocok,
tidak usah ngomong kehidupan yang
mahal, jadi kodok, jadi kadar,
jadi apa-apa. Tidak usah ngomong.
Gampang
membuktikan itu.
Maret dan nanti malam, matahari apa gitu.
Jadi,
apakah ramalan itu bisa?
Bisa.
Tetapi
kemungkinannya hanya 50 tahun.
Sama kayaknya ramalan
cuaca.
Oh, hari ini belitarakan hujan.
Diperkirakan kemarin
dengan curah
hujan segitu,
kerembapan segitu, angin semikian,
belitarakan hujan.
Ketumbuhnya begitu,
kalau tidak ada angin yang keras,
kenapa mungkin akan hujan?
Tapi kalau ada perubahan angin
dari Australia, dari mana,
dari laut mana, bisa tidak hujan?
Terlalu berubah.
50%.
Jadi, Anda boleh diramal, nanti tuahnya
mau jadi apa. Tapi jangan terlalu percaya,
karena itu nilainya 50%.
Sudah? Ya, pertanyaan lain?
Wah, bahannya sekali.
Ya, ya, yang belum pernah tanya.
Di sana.
Ya, manusia pertama
dalam agama Buddha bagaimana?
Pertama dalam agama Buddha itu
berkelompok.
Sekarang cuma dua.
Nanti anaknya kawin sama sama.
Masa anaknya kawin sama mamanya?
Kalau anak laki?
Kalau anak perempuan apakah kawin sama
mamak papahnya?
Kan tidak karu-karuan jadinya.
Nah, jadi, agama Buddha
melihatnya
begini.
Ketika agama Buddha ditanya
tentang agama manusia,
jawabannya agama Buddha
sederhana. Cari
satu rumput.
Kasih nama.
Ini kamu.
Dua rumput.
Kasih nama.
Bapakmu.
Ambil empat rumput.
Bapak bapakmu.
Ibu bapakmu.
Kelapan rumput.
Ini apa lagi?
Ambil 16 rumput.
Ambil 32 rumput.
Dikatakan
dalam ending story-nya itu,
habis rumput di India,
belum ketemu manusia pertama.
Sampai bungkuk tubuhnya
untuk mengurusi itu,
tidak ketemu manusia pertama.
Nah, itu ceritanya gitu.
Akhirnya apa?
Habislah umurmu hanya
untuk mengurusi manusia pertama.
Nah, tetapi kemudian
sudah ada satu kesempatan yang lain cerita.
Bumi ini pada waktu terbentuk
dulu masih berupa kabut,
makhluk-makhluk dari
Tanpa Turia yang lain, karena agama Buddha itu
memahami bahwa Tanpa Turia itu
bukan hanya bima sakti punya kita
raja. Tanpa Turia itu artinya
matahari dengan berbagai planetnya.
Bukan hanya saat ini
raja.
Bukan hanya tempat kita raja, tetapi
sebetulnya matahari dengan planet-planetnya
ini lebih
dari satu mil yang
tak terhingga banyaknya.
Sehingga ketika bumi kita
terbentuk, malu-malu berupa cahaya
datang dari tempat yang berbeda.
Datang ke sini
berproses.
Ya, karena dia berproses dengan
terjadinya bumi ini, maka malu
berupa cahaya tadi menjadi berbisik,
berjenis kelamin, menjadi
percilahan, menjadi perkawinan,
berevolusi, dan seterusnya
sehingga akhirnya menjadi seperti yang
sekarang. Sehingga agama Buddha
lebih cenderung menggunakan teori
evolusi, walaupun bukan
evolusi seperti yang Darwin
sampaikan, yaitu manusia dari
monyet lah, seperti sungkong lah,
bukan seperti itu.
Karena apa? Karena agama Buddha kembali lagi
berbicara tentang pribadi,
bagaimana mengubah
manusia yang jahat menjadi lebih baik,
bagaimana mengubah manusia yang keras
bisa menjadi tenang di dalam kehidupannya
ini. Ya,
jadi bagaimana manusia
menurut agama Buddha adalah
berkelompok karena prosesnya adalah
evolusi dari
tatap surya yang berbeda.
Ya, mungkin tadi yang kocor juga
belum pernah tanya, ya.
Kalau misalnya kita dengar-dengar
orang bilang tanah itu tidak bagus, terus
kita bantu wihara. Apakah itu
karmanya
jatuh atau baik?
Tetap baik, tidak masalah.
Karena banyak wihara-wihara
justru didirikan di tanah yang
tidak bagus.
Banyak titannya,
banyak gemis,
justru dibangun wihara. Kenapa?
Karena wihara juga berguna
untuk membahagiakan mahluk tanpa dan
tanpa.
Jadi tidak aman tanpa.
Ya, dan wihara
tidak milih umum. Tidak bagus bagian
mana? Kalau tidak milih pribadi
mungkin tidak bagus untuk dirinya sendiri,
jiwa Allah, apalah yang menurut tradisi, ya.
Tapi kalau milih umum,
ini kan tidak ada begitu.
Jadi tidak aman tanpa.
Karma baik tetap dipegang
yang berganan.
Tempat di luar pulau,
rukun yang tiga.
Yang tengah ini kebakar.
Kebakar,
tapi kiri-kalanya
tidak kebakar.
Rukun ini yang kebakar
hanya lantai dua.
Lantai satu tidak apa-apa,
lantai dua lebih, lantai tiga lantai empat tidak apa-apa.
Tapi kebakar yang lantai dua ini
kamarnya orang-orang itu,
dan mati sembilan orang.
Wah, itu semua orang takut itu hunter
semua.
Tapi ya dipakai wihara.
Ya tidak apa-apa. Ya memang waktu kita
di kamar mandi ada orang mandi,
tidak ada orangnya.
Apa itu yang di atas?
Ada anak kecil nangis.
Ya tidak apa-apa, kita bacain pari tadi, bilang mereka.
Tidak masalah.
Ya baik, tadi ada yang tanya, banyak tadi
yang belum lo, oke.
Yang tadi yang belum pernah, ini ya
merah ini belum pernah tanya.
Punji zat itu aja.
Tetapi mematengkan karma baik
seseorang.
Orang sakit,
didoain sembuh. Bisa.
Dan banyak.
Itu kan kita ketahuan itu, orang yang
kanker kandungan atau dengan membaca
paritan dan berpeditasi sembuh, bisa.
Tetapi ingat, itu adalah mematengkan
karma baik. Kalau ibaratnya
yang sering saya contohkan adalah
buah yang mateng dalam waktu seminggu
dikarpit, dipanahin
sehingga akhirnya
dia lebih cepat matang.
Tiga hari. Kalau buah itu
masih kecil desa kita.
Nah, orang yang sakit itu mestinya
dia tidak punya karma baik. Mungkin
lima hari lagi akan sembuh.
Didoain dua hari, cepat sembuh.
Jadi doain itu fungsinya dua.
Bisa doa mematengkan karma baik,
bisa doa mematengkan karma buruk.
Yang mematengkan karma buruk itu
santai ke telur.
Ya, jadi si
ini mestinya mau sakit dua bulan lagi.
Tapi didoain,
sakitnya besok.
Itu bisa. Mestinya mau kecelakaan
dua bulan lagi.
Santai begini, besok sudah kecelakaan.
Nah, jadi doa itu hanya mematengkan
karma yang dimiliki orang.
Buktinya apa?
Orang yang mau,
oh doanya siang, manjur.
Ayo coba pergi ke rumah sakit.
Doain.
Kalau memang manjur semua
yang di rumah sakit, sembuh.
Nggak ada rumah sakit
yang dibuka. Semua itu
jadi muridnya orang doain di rumah sakit.
Tapi kalau di rumah sakit
tetap buka. Kenapa?
Karena yang didoain yang tidak sembuh itu
bukan karena keyakinannya kurang,
nenek moyangnya belum beragama yang sama.
Itu jelas ngawur.
Karena keyakinannya bukan,
problemnya bukan di keyakinan,
bukan di nenek moyangnya yang beragama
tidak sama. Tetapi
karma baiknya belum cukup.
Sebaliknya, tukang tangan yang
paling hebat, nyata sepuluh orang
sudah semua kena.
Mungkin ada dua yang kena.
Yang sisanya enggak kena.
Berarti maksudnya, kalau kita
ditumpahi, orang itu
kita tuh, kita tuh main
terwujud. Itu karena
buru kita berdua sama dia atau?
Ya, karma buru kita
karma buru kita yang berdua.
Kalau kita yang ditumpahin.
Sebenarnya kalau kita nyumpahin dia,
terus dia
juga berdua, itu karma burunya
dia berdua, tapi kita itu menang.
Kan ngomong jelek.
Berarti kan ada kamu, misalnya kalau komen-komen
sama dosen, kalau dosen
memberikan pekerjaan yang banyak,
itu kita menanam karma buru.
Kita juga komen-komen. Oh, orang itu jahat
sudah ditolak. Oh, besok sakit-sakit
tendu, apa, apa, apa, apa.
Eh, sungguh sakit. Itu karena karma
burunya dia berdua. Tapi kita ngomong
ini menanam karma buru.
Biarin. Dia ini
doain kita yang jelek-jelek. Kalau kita
punya dimudah karma baik, doanya dia
akan kena ke kita, dia akan menanam
karma buru sendiri.
Tapi sebaliknya, kalau kita
memang berbuatannya jelek, walaupun
orang gak doain kita, kita susah
kehidupannya. Jangan khawatir.
Karma buru itu hanya anak datang sendiri.
Jangan khawatir.
Ya, jadi gak usah nunggu orang lain.
Dan kalaupun kita susah,
disumpahi. Jangan mengatakan,
oh, saya susah karena disumpahi. Saya susah
karena karma buru. Saya berdua.
Disumpahi, walaupun juga kalau gak punya
dimudah karma buru, gak bisa kena.
Ya, jadi banyak
yang tanya jarak ini.
Oke, depan sendiri.
Bagaimana pandangan Allah bila terhadap
iltanah dia?
Iltanah dia adalah pembunuhan.
Ya, jadi walaupun
pembunuhan itu dibuat
kalau permintaannya sendiri
di dalam Dharma, pembunuhan
itu ada lima syaratnya.
Tahu ada makhluk,
makhluk itu mati hidup, jarak yang kedua.
Ada niat melakukan
pembunuhan, yang keempat
pembunuhan dilakukan, yang kelima
makhluk itu mati.
Lima syarat ini dipenuhi,
pembunuhan. Salah satu
tidak dipenuhi, bukan
pembunuhan. Misalnya
beli daging dipasar.
Tahu makhluk itu pernah hidup,
tapi gak pernah punya niat
melakukan pembunuhan.
Ada pembunuhan dikerjakan dan
binatang itu sudah mati, tapi kita gak pernah punya
niat melakukan pembunuhan, itu terbebas
dari karma buru. Tapi
kalau dia usaha nasihat,
walaupun orang yang sakit itu meminta
mau
dibunuh, semua
juga tepat. Ketika kita
menyebakasi pembunuhan itu,
kita tahu ada makhluk,
kita tahu dia masih hidup,
kita punya niat untuk melakukan
pembunuhan atas permintaannya dia,
kita melakukan
dan mati, dan kita menanam
karma buru.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya