Ceramah ini membahas tentang tujuan hidup manusia melalui tiga level kebahagiaan. Pembicara memulai dengan anekdot tentang seorang dokter yang tidak dapat menjawab pertanyaan tentang tujuan hidupnya, menunjukkan bahwa banyak orang belum merumuskan tujuan hidup dengan jelas. Ia kemudian menjelaskan bahwa semua manusia mencari kebahagiaan, dan level pertama adalah kebahagiaan karena mendapat, yang sederhana dan dimiliki juga oleh binatang. Level kedua adalah kebahagiaan karena memberi, yang lebih tinggi dan lebih manusiawi, seperti memberi maaf, perhatian, dan yang terbaik kepada orang lain. Level tertinggi adalah kebahagiaan karena menyatukan badan dan batin, terbebas dari kemelekatan masa lalu dan masa depan. Pembicara memberikan contoh tentang sulit tidur karena pikiran melayang dan menyarankan latihan pernapasan untuk mencapai kebahagiaan ini. Ia menyimpulkan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan sejati, yaitu ketika badan dan batin menyatu, terbebas dari kegelisahan. Pesan utamanya adalah mengajak hadirin untuk merenungkan dan berlatih mencapai kebahagiaan yang lebih tinggi melalui pemberian dan kesadaran penuh.
Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
Pembukaan dan Pengantar
Pembicara membuka acara, menyapa hadirin, dan memperkenalkan topik tentang tujuan hidup. Ia menceritakan anekdot tentang seorang dokter yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang tujuan hidupnya, menunjukkan bahwa banyak orang belum merumuskan tujuan hidup mereka dengan jelas.
Kebahagiaan Level 1: Bahagia karena Mendapat
Pembicara menjelaskan bahwa semua manusia mencari kebahagiaan, dan level pertama adalah kebahagiaan karena mendapat. Ia memberikan contoh dari anak kecil, kucing, dan burung, serta menunjukkan bahwa kebahagiaan ini masih sederhana dan dimiliki juga oleh binatang.
Kebahagiaan Level 2: Bahagia karena Memberi
Pembicara memperkenalkan kebahagiaan level kedua, yaitu bahagia karena memberi. Ia memberikan contoh tentang memberi maaf, memberi perhatian, dan memberi yang terbaik kepada orang lain, serta menekankan bahwa kebahagiaan ini lebih tinggi dan lebih manusiawi.
Kebahagiaan Level 3: Bahagia karena Menyatukan Badan dan Batin
Pembicara menjelaskan kebahagiaan level tertinggi, yaitu terbebas dari kemelekatan masa lalu dan masa depan dengan menyatukan badan dan batin. Ia memberikan contoh tentang sulit tidur karena pikiran melayang, dan menyarankan latihan pernapasan untuk mencapai kebahagiaan ini.
Kesimpulan dan Penutup
Pembicara merangkum tiga level kebahagiaan sebagai tujuan hidup, menekankan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika badan dan batin menyatu, terbebas dari kegelisahan. Ia mengajak hadirin untuk merenungkan dan berdiskusi, lalu menutup dengan harapan semoga semua berbahagia.
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Para Bapak Ibu yang berpengalaman dan para senior umat buddha yang sudah lama saya tidak ketemu dengan Pak Murti Hadi juga,
dengan Bapak dan tadi dengan Pak Pomo juga saya bertemu.
Dan mungkin masih ada banyak yang lain yang saya tidak sempat sebutkan satu persatu karena nanti jadi absensi.
Tapi kemudian juga sempat saya berkenalan dengan Bapak Muhammad Sobari yang sangat rajin menulis di koran dan saya juga suka mengikuti artikel-artikel yang beliau tulis karena sangat mengenal untuk saya.
Sudah sedara para Bapak Ibu dan tamu undangan yang berbahagia, malam hari ini memang kita akan mencoba berbagi cerita.
Saya sepakat sekali dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Panitia tadi.
Anda tidak harus nanti menerima apa yang saya sampaikan, tetapi Anda paling tidak punya tambahan wawasan.
Oh ada orang yang berpikir seperti itu, masalahnya nanti Anda cocok atau tidak itu urusan lain.
Nah apalagi yang kita bahas satu problem yang sangat, sebetulnya sangat subjektif.
Yaitu tentang tujuan hidup.
Karena semua orang kalau ditanya tentang tujuan hidup, jawabnya aneh-aneh.
Beberapa waktu yang lalu, saya ketemu dengan seorang dokter yang cukup terkenal dan suka sekali membaca buku.
Dia juga menjadi kepala sebuah rumah sakit senior.
Senior sekali dia.
Katanya dia, wah hidup saya ini hanya untuk membaca katanya.
Saya tanya berapa buku yang sudah dibaca.
Wih ribuan sudah.
Saya tidak bisa hidup tanpa membaca.
Paling sedikit saya baca koran.
Kalau tidak baca koran tidak bisa tidur katanya.
Wah saya heran, saya ngomong, wah padahal saya kalau tidak berbaring yang susah tidur.
Pak dokter yang tidak baca, ya oke lah.
Setelah kita.
Cerita-cerita panjang kali lebar.
Kemudian saya tanya kepada dokter itu.
Pak dokter ini sebetulnya dengan membaca segitu banyak.
Dengan aktif di dalam bidang kedokteran, di dalam bidang kesehatan, menjadi kepala rumah sakit dan lain sebagainya.
Studi banding ke berbagai negara di luar negeri.
Lalu apa sebetulnya tujuan hidupnya?
Semua pertanyaan dia bisa jawab, kecuali satu ini.
Dia mengatakan sambil garuk-garuk kepala.
Nah ini yang saya belum pikirkan katanya.
Loh, lah ini pak dokter pergi naik pesawat bersama ini kan mesti ada tujuannya.
Iya.
Pak dokter belajar juga ada tujuannya.
Belajarnya sampai tiga lagi.
Dokter, SH, MM.
Kan mesti ada tujuannya.
Iya.
Nah sekarang hidupnya pak dokter sendiri ini tujuannya.
Tujuannya apa?
Ini yang saya enggak terpikirkan.
Nah, jadi kalau tadi dikatakan oleh ketua panitia bahwa nanti kita sharing ini nanti untuk menjawab pertanyaan.
Kalau anak-anak itu nanti bertanya, saya malah jadi bertanya sekarang.
Apakah Anda sudah tahu tujuan hidup itu?
Sehingga kalau sudah tahu saya tinggal membantu merumuskan cara.
Memberi tahu.
Tapi kalau Anda sendiri belum tahu, ini yang repot.
Iya.
Nah, ada yang ngomong lagi, tujuan hidup itu kan mati.
Oh kalau gitu, sekarang bunuh diri saja.
Biar cepat tercapai kan.
Ngapain nunggu lama-lama?
Ya sekarang bunuh diri.
Oh ya enggak mau, banting.
Saya kan pengen masih berumah tangga.
Lah, katanya tujuan hidupmu mau mati.
Ternyata kok sekarang mau berumah tangga?
Ya sudah berumah tangga lah sekarang.
Sudah banting.
Ya mati.
Nanti dulu banting, anak saya belum besar loh.
Berarti tujuan hidupmu membesarkan anak.
Nah ini sekarang anaknya sudah besar ya mati.
Nanti dulu banting, saya belum punya menantu.
Nah berarti tujuan hidupnya ganti lagi.
Punya menantu.
Nah ini sudah, ngawinkan anak semua beres.
Ayo mati.
Nanti banting.
Belum ni mang cucu.
Belum ni tujuan hidupmu, ni apa?
Masa ganti terus?
Ini artinya kita memang enggak memahami.
Nah, oleh karena itu, saudara-saudara,
para bapak dan ibu semua,
saya akan mencoba membagikan
apa sebetulnya tujuan hidup kita.
Mungkin anda semua sudah tahu,
cuman anda belum terrumuskan dengan jelas.
Atau yang sudah rumuskan,
mungkin nanti anda punya pandangan yang berbeda dengan saya.
Tidak apa-apa.
Kita akan sharing, toh.
Kita akan berbagi cerita, bertukar pikiran,
karena saya duduk di sini bukan berarti orang yang paling ngerti,
anda yang paling tidak ngerti, saya kira tidak begitu.
Kita sama-sama tukar pikiran.
Nah, oleh karena itu,
kalau anda ketemu yang tidak cocok,
nanti kita tanyakan.
Sehingga kita ketemu jalan tengah yang baik.
Apakah sebetulnya tujuan hidup manusia?
Sebetulnya manusia itu,
kepinginnya cuman satu.
Yang disebut bahagia.
Saya kira diantara kita tidak ada yang kepingin menderita.
Walau mau jadi bigu kan menderita.
Salah.
Saya jadi bigu ini juga karena saya mencari bahagia.
Terbebas dari minyak rambut,
terbebas dari sisir,
terbebas dari jas-jasan.
Saya bahagia dengan cara begini.
Jadi saya juga mencari bahagia.
Lo kan malam tidak makan.
Lo itu lebih bahagia lagi.
Saya bisa mendengarkan ceramah tanpa terganggu perut saya.
Kalau yang biasa malam makan kan,
sudah jamnya nanti bunyi stres.
Saya kan santai-santai tunggu besok.
Nah, jadi menjadi bigu pun adalah untuk mencari bahagia.
Karena itu sebetulnya semua manusia
kepingin bahagia.
Nah, sekarang kita akan mencoba
apa level bahagia yang kita bisa kenalkan sekarang.
Para bapak, ibu, dan saudara-saudara yang berbahagia.
Level bahagia yang pertama,
level yang paling sederhana,
adalah bahagia karena
mendapat.
Bahagia karena mendapat.
Contoh, anak kecil nangis.
Nangis karena takut ada ledakan.
Nangis anak kecil.
Terus digendong.
Tenang, itu hanya sound system.
Tenang.
Lega dia.
Bahagia mendapat rangkulan.
Diem.
Nangis lagi.
Laper.
Kasih susu.
Diem.
Ini bahagia karena mendapat.
Sekolah.
Hurray, dapat tiga.
Saya kira tidak.
Hurray, dapat delapan.
Mendapat.
Senang.
Bahagia.
Hurray, dapat sepuluh.
Bahagia.
Hurray, naik kelas.
Bahagia.
Bahagia karena mendapat.
Nanti sudah gede, lulus.
Hurray, dapat gaji.
Bahagia karena mendapat.
Hurray, dapat pacar.
Bahagia karena mendapat.
Hurray, dapat rumah.
Hurray, dapat apa.
Dapat, dapat, dapat, dapat.
Itu adalah kebahagiaan level satu.
Itu tujuan awal.
Tetapi kebahagiaan karena mendapat ini,
sebetulnya bukan hanya manusia.
Kucing juga sama.
Kita sedang makan.
Meyong, meyong.
Kasih kerupuk.
Diem.
Karena dia sibuk makan.
Meyong, meyong lagi.
Kasih lagi.
Diem.
Bahagia karena mendapat.
Itu sebetulnya masih
level awal.
Makhluk.
Bukan manusia pun.
Kucing bisa.
Burung.
Anda yang pelihara di rumah burung,
wah, kalau kita datang,
burung terbang di dalam sangkarnya.
Lari sana, lari sini, terus kita kasih.
Bahagia karena mendapat.
Anda punya ikan koi?
Begitu kita di pinggir kolam,
wah, dia mepet
di badan kita.
Deket kita.
Begitu dikasih makanan,
dia diem.
Begitu kan?
Dan Anda bisa kembangkan itu.
Apa saja binatang di sekitar kita,
begitu dia mendapat apa yang dia inginkan,
dia diem.
Level kita bahagia karena mendapat.
Boleh.
Tetapi apakah hanya sampai di situ?
Saya senang bisa numpuk uang sekian banyak.
Itu bahagia karena mendapat.
Untuk apa itu uang?
Bisa beli rumah, tidak bisa beli kebahagiaan rumah tangga.
Bisa beli obat, tidak bisa beli kesehatan.
Untuk apa?
Nah, saudara-saudara,
bahagia level satu ini bahagia mendapat.
Maka pada malam hari ini saya akan mencoba menawarkan kebahagiaan level yang kedua.
Sebagai tujuan hidup kita yang kedua.
Adalah kebahagiaan karena memberi.
Memberi.
Ini bahagia jenis lain.
Ketika Anda melihat pengemis di perempatan jalan.
Kemudian Anda bisa membagikan uang kepada dia.
Dan Anda melihat senyumnya dia.
Anda juga happy.
Happy yang Anda alami ini.
Kebahagiaan yang Anda alami ini.
Sebetulnya adalah level yang kedua.
Bahagia karena Anda bisa membahagiakan pihak lain.
Ketika melihat kucing meyong-meyong.
Kemudian Anda kasih kerupuk dan dia diem.
Anda tersenyum.
Anda bahagia karena Anda memberi.
Itulah kebahagiaan level dua.
Tetapi tentu memberi ini bukan secara materi.
Memberi ini bisa berarti secara batin.
Memberikan perhatian.
Memberikan kasih sayang.
Itu adalah level kebahagiaan yang kedua.
Satu contoh saudara-saudara.
Kalau sekarang Anda yang sudah bersuami atau beristri.
Banyak di sini yang punya suami atau istri?
Boleh tunjuk jari yang punya suami dan istri dan yang masih punya?
Karena saya pernah punya tapi sudah tidak ada.
Yang masih punya suami dan istri?
Hanya dua orang ya.
Dua orang saya khawatir.
Yang di sana istrinya.
Yang di depan suaminya.
Boleh lihat berapa yang punya suami dan istri?
Satu saja salah satu yang nunjuk.
Satu.
Cuma satu.
Dua.
Tiga.
Oh banyak.
Bagus.
Sudah banyak saya lega.
Yang punya pacar?
Mahasiswa ini moderator sudah punya pacar?
Oh belum punya pacar. Boleh nanti.
Nah saudara-saudara.
Anda yang sudah pasangan hidup.
Sudah punya suami atau punya istri.
Anda yang sudah berpacaran.
Atau Anda yang punya sahabat.
Mungkin satu ketika Anda terlibat percekcokan.
Nah.
Ketika terjadi percekcokan.
Dan Anda tidak mau kalah dengan percekcokan itu.
Dan Anda memenangkan percekcokan itu.
Apakah Anda lega bisa tidur?
Ketika Anda memenangkan percekcokan.
Apa Anda lega tidurnya?
Pernah cekcok?
Pernah?
Sering?
Kerep?
Ya kerep itu sering.
Kalau sudah cekcok apakah kita tidurnya enak?
Dalam banyak pengamatan.
Dalam banyak pengalaman.
Orang setelah cekcok.
Tidurnya sulit.
Padahal menang loh percekcokan.
Tapi sulit.
Kenapa?
Karena Anda bahagia mendapat.
Anda mendapat kemenangan.
Bisa membuat pasangan hidup Anda nangis.
Bisa membuat pacar Anda nangis.
Bisa membuat sahabat Anda tekuk lutut.
Tidak berani ngomong lagi.
Anda mendapat kemenangan atas ego Anda sendiri.
Dan Anda sulit tidur.
Bisa beberapa sebab.
Mungkin yang pertama.
Duh kenapa ya saya ngomong begitu tadi?
Ini kan nyakiti.
Membuat pasangan hidup menangis.
Membuat sahabat menangis.
Kan sebetulnya sama dengan melukai diriku sendiri.
Kenapa aku tadi emosi seperti itu?
Itu yang pertama.
Tapi yang kedua.
Aku kok cuma ngomong begitu ya tadi?
Kurang.
Ya mestinya aku juga ngomong gini lagi.
Yang lebih menyakitkan.
Sudah terlanjur menang.
Enggak sekalian dipotong lehernya.
Tapi tetap kita tidak bisa tidur.
Sulit.
Karena Anda menang atas ego Anda.
Itulah bahagia karena mendapat.
Tetapi kebahagiaan memberi itu berbeda.
Ketika Anda memaafkan kesalahan pasangan hidup Anda.
Ketika Anda memaafkan kesalahan pacar Anda.
Ketika Anda memaafkan bisa memahami kesalahan.
Kelemahan teman Anda.
Pada saat Anda bisa lega memaafkan dia ya.
Semoga kamu bahagia.
Memang semua orang punya kelebihan.
Tapi juga punya kekurangan.
Ya semoga kamu bahagia.
Saya bisa memahami hal itu.
Tidur pastinya.
Kalau biasanya dilihat tidurnya pun akan tersenyum.
Kenapa?
Karena kita bahagia mengalahkan ego kita.
Bahagia mengatasi diri kita sendiri.
Dengan memberikan maaf.
Ini adalah level kedua yang sulit.
Tetapi mestinya Anda bisa.
Salah satu contoh yang paling gampang.
Bahagia karena memberi.
Itu seorang ibu.
Seorang ibu kalau hari ini masak makanan.
Padahal makanan kemarin itu sudah tidak.
Masih belum habis.
Maka seorang ibu.
Biasanya yang saya lihat.
Saya tidak tahu nanti ibu-ibu disini apa begitu tidak.
Ibu yang biasanya yang saya kenal.
Itu biasanya dia makan masakan yang kemarin.
Anaknya suruh makan masakan yang sekarang.
Mestinya begitu.
Apa ada ibu-ibu yang kebalikan?
Aku yang masak, aku yang makan.
Kamu kemarin yang tidak habisin.
Kamulah yang habisin sekarang.
Ada ibu-ibu yang begitu?
Oke.
Wah gawat ini.
Ini bisa ibu-ibu protes lho nanti.
Karena setahu saya ibu tidak pernah begitu.
Ya kan?
Motong apel yang busuk.
Diambil sendiri.
Yang baik dikasihkan anaknya.
Itu sebetulnya sudah latihan bahagia.
Karena memberi.
Jadi kita senang.
Kalau kita melakukan pemberian.
Kepada orang.
Kita senang memberikan yang terbaik kepada anak kita.
Kita senang memberikan yang terbaik kepada keluarga kita.
Cuman apakah anda sudah mengembangkan hal itu.
Kepada lingkungan anda.
Di Jogja ini saya lihat banyak rumah yang punya kebun.
Karena memang saya akan lahir di Jogja.
Dan saya tahu banyak kebun.
Kecuali yang kos-kosan beginian ini.
Nah.
Para bapak ibu yang punya kebun.
Kalau di rumah punya mangga.
Dan kebetulan mangganya panennya pas asem.
Apa ibu akan mengatakan?
Mumpung asem kasihkan tetangga saja.
Nanti kalau pas jatuh manis.
Sudah musimnya kita makan sendiri.
Apakah masih berpikir seperti itu?
Mungkin.
Karena anda diam.
Kalau anda bahagia karena memberikan yang tidak enak.
Itu berarti anda hanya bahagia karena mendapat.
Saya bahagia karena mendapat mangga yang manis.
Tapi saya tidak suka mangga yang asem.
Saya kasihkan ke orang lain.
Anda penampilannya memberikan.
Tapi sebetulnya memberikan yang tidak mau.
Berbeda dengan ibu yang masak tadi.
Berbeda dengan ibu yang memotong apel tadi.
Oleh karena itu kebahagiaannya kedua ini.
Bukan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin.
Anda bisa kerjakan.
Dan anda sudah kerjakan.
Dengan memotong apel yang enak.
Anda berikan kepada anak anda yang agak busuk.
Agak asem.
Anda makan sendiri.
Sebetulnya anda sudah bisa mengerjakan itu.
Cuma kurang luas.
Sehingga anda hanya sampai di kaplingnya sendiri.
Coba sekarang diperluas ke tetangga anda.
Coba diperluas ke lingkungan anda.
Kalau anda bisa selalu bahagia karena memberi.
Memberi senyuman.
Memberi kasih sayang.
Memberi perhatian.
Saya kira dunia ini akan bebas dari permusuhan.
Bebas dari kebencian.
Bebas dari segala macam ketegangan dan ketakutan.
Tetapi selama kita masih berfikir bahagia karena mendapat.
Pasti dunia isinya perang.
Isinya kebencian.
Isinya intrik-intrik.
Isinya teror.
Karena saya bahagia ketika saya mendapat.
Apa yang disebut teror?
Anda semua ini sebetulnya punya watak teroris.
Cuman bedanya anda tidak berani.
Keberanian itu perbedaannya.
Coba kalau anda semua masing-masing dipersenjatai pistol.
Semua yang nyalip anda dengan ngawur.
Anda tembak kepalanya.
Iya gak?
Anda sebetulnya punya watak teroris kok.
Mau tahu buktinya?
Tidurlah satu kamar dengan seekor nyamuk.
Watak teroris anda akan muncul.
Nginging, sudah gelap ini nginging.
Buka lampu.
Lihat baik-baik.
Cari.
Hajar.
Mati.
Puas.
Matikan lampu.
Tidur lagi.
Jadi anda punya watak teroris.
Karena kalau anda masih bersikap bahagia karena mendapat.
Itulah teroris.
Apakah anda mau sampai disitu saja?
Apakah anda puas dengan cara seperti itu saja?
Nah, oleh karena itu saudara.
Kebahagiaan yang kedua ini bisa anda kerjakan.
Cuman anda kadang tidak mau.
Karena itu latih.
Sudahkah saya memberikan kebaikan, kebahagiaan kepada lingkungan?
Baik kepada pasangan hidup saya, teman saya, tetangga saya.
Maupun orang yang tidak dikenal oleh saya.
Bahkan nyamuk sekalipun di kamar.
Sekarang tidak harus jadi teroris.
Nyamuk cari.
Buka lampu.
Cari.
Tangkap pakai gelas.
Buang keluar kamar.
Tidur nyenyak.
Karena pembunuhan bukan salah satu.
Bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.
Begitu anda bisa membebaskan nyamuk keluar kamar.
Anda lega.
Wah tapi nyamuknya banyak.
Tidak apa-apa pakai kelambu.
Dah kamu nging-nging terus.
Tidak apa-apa.
Saya di dalam kelambu.
Tenang, tenang.
Kebahagiaan karena memberi.
Sudah, sudah.
Kebahagiaan karena mendapat adalah level 1.
Kebahagiaan karena memberi adalah level 2.
Kebahagiaan ketiga.
Ini level yang paling tinggi dan ini agak sulit tapi masih bisa dikerjakan.
Kebahagiaan yang diperoleh karena kita tidak melekatkan.
Masa lampau.
Maupun yang akan datang.
Masa lampau pernah ada.
Tadi kita yang jam 6 sore ada.
Kita yang jam 3 siang ada.
Kita yang waktu masih kecil ada.
Kita pernah jatuh di waktu kecil dan sekarang lutut kita atau siku kita lecet.
Masih ada bekasnya.
Tetapi itu sudah lewat.
Itu sudah tinggal kenangan.
Masa yang akan datang.
Besok pagi, lusa.
Habis lusa apa?
Ini, lo Anda kan ngawur.
Sudah ngawur, kenceng.
Ada itu bahasa Indonesia-nya.
Kalau saya tidak salah, setelah lusa itu tulat ya Pak Muhammad Soebari, betul?
Hari setelah hari ini, tulat.
Tiga hari setelah hari ini, tubin.
Empat hari setelah ini, belum dibuat.
Ada itu bahasa Indonesia-nya.
Jadi Anda jangan ngawur lusa, Lucy.
Sudah kenceng ngawur lagi.
Dalam bahasa Indonesia cuma dikenal lusa saja.
Besok dan lusa.
Tapi ada tulat dan ada tubin.
Seinget saya.
Nah, saudara-saudara, kita boleh punya rencana yang akan datang.
Tetapi, rencana adalah tinggal rencana kalau kita tidak mengerjakan saat ini.
Kebahagiaan yang ketiga itu adalah kebahagiaan karena kita terbebas dari kemelekatan masa lampau.
Maupun yang akan datang.
Apa contohnya?
Tidur.
Tidur itu paling gampang.
Anda badan sudah di tempat tidur.
Berapa lama kecepatan Anda bisa mencapai tidur?
Ada yang sampai satu jam, bolak-balik, bolak-balik.
Ada yang sampai dua jam.
Ada yang sampai pagi masih bolak-balik kayak barbeque gitu.
Kenapa?
Karena Anda tidak punya cara kebahagiaan melewati masa lampau.
Melewati masa yang akan datang.
Kenapa?
Karena ketika Anda badannya sudah di tempat tidur.
Pikiran Anda itu loh mikirin.
Aduh, kemarin itu kenapa?
Ya, begini begitu. Aduh, dulu bagaimana?
Atau sebaliknya?
Aduh, besok kalau yang nageh hutang datang bagaimana ya?
Aku harus lari kemana lagi ya?
Pintu belakang ini sudah saya kunci.
Kita terpikir besok dan kemarin.
Manusia ini terdiri dari badan.
Juga batin.
Badan dan batin ini mestinya selalu menjadi satu.
Tetapi pada kenyataannya,
batin ini suka lari-lari.
Badannya sudah di tempat tidur.
Batinnya inget yang tadi.
Yang jam tujuh.
Yang jam sembilan.
Atau inget yang besok pagi.
Yang lusa, yang tulat, yang tubin.
Karena badan ini ditinggal batinnya.
Maka badan ini menjadi stres.
Orang susah tidur sebetulnya adalah termasuk orang paling bodoh di dunia.
Karena bayi yang belum sekolah pun pandai tidur.
Dua puluh empat jam bayi bisa tidur.
Kenapa yang sudah sekolah tinggi-tinggi malah tidak bisa tidur?
Kalau tidak bisa matematika bisa les.
Tidak bisa main musik bisa les.
Tidak bisa tidur.
Tidak ada lesnya.
Tidak ada gurunya.
Lah anda tidak bisa tidur karena batinnya meninggalkan badan anda.