Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Belajar dari Alam

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Belajar dari Alam

Tentang Ceramah

Ceramah ini mengajak hadirin untuk belajar dari alam dan simbol-simbol di sekitar kita, dengan mengambil contoh dari burung Raja Wali, naga, dan burung Hong. Pembicara memulai dengan memperkenalkan diri dan mengaitkan lambang klub basket 'Raja Wali' dengan pendidikan moral, lalu berbagi pengalamannya melihat burung Raja Wali terbang di alam. Dari perilaku burung tersebut, ia menarik pelajaran pertama tentang ketajaman dan kejujuran: pentingnya memilih pekerjaan sesuai hobi dan bersikap terus terang dalam kehidupan. Selanjutnya, ia menceritakan tentang induk ayam yang melindungi anaknya dari Raja Wali, yang mengajarkan bahwa nasihat orang tua selalu bertujuan baik dan anak sebaiknya menuruti nasihat tersebut. Kemudian, ia menjelaskan makna simbol naga sebagai gabungan berbagai hewan, yang mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus diterima untuk mencapai keindahan dan keharmonisan. Terakhir, ia membahas simbol burung Hong yang melambangkan kesetiaan, dengan cerita tentang burung Hong yang mengorbankan keindahannya demi keluarga, mengaitkannya dengan harapan perkawinan yang langgeng. Kesimpulannya, pembicara merangkum tiga pelajaran utama dari Raja Wali, naga, dan burung Hong, serta mengajak hadirin untuk merenungkan simbol-simbol di sekitar mereka sebagai sumber pembelajaran moral. Pesan utama ceramah ini adalah bahwa alam dan simbol-simbol budaya dapat menjadi guru yang bijak jika kita mau memperhatikannya, mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kepatuhan, penerimaan perbedaan, dan kesetiaan.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pembukaan dan Pengenalan Raja Wali
    Pembicara membuka dengan memperkenalkan diri dan mengaitkan lambang klub basket (Raja Wali) dengan pendidikan moral, lalu menceritakan pengalamannya melihat burung Raja Wali terbang di alam.
  2. Perilaku Raja Wali dan Pelajaran Pertama: Ketajaman dan Kejujuran
    Menggambarkan cara Raja Wali terbang, bersiul, dan menangkap mangsa, lalu menarik pelajaran tentang pentingnya memilih pekerjaan sesuai hobi dan bersikap terus terang dalam kehidupan.
  3. Pelajaran dari Induk Ayam dan Anak Ayam
    Menjelaskan makna induk ayam melindungi anaknya dari Raja Wali, mengaitkannya dengan nasihat orang tua yang bertujuan baik, serta pentingnya anak menuruti nasihat orang tua.
  4. Makna Simbol Naga: Menerima Perbedaan
    Menguraikan simbol naga sebagai gabungan berbagai hewan, mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus diterima untuk mencapai keindahan dan keharmonisan dalam hidup.
  5. Simbol Burung Hong: Kesetiaan dalam Perkawinan
    Menjelaskan simbol burung Hong yang melambangkan kesetiaan, dengan cerita tentang burung Hong yang mengorbankan keindahannya demi keluarga, dan mengaitkannya dengan harapan perkawinan yang langgeng.
  6. Kesimpulan dan Ajakan untuk Belajar dari Simbol
    Merangkum tiga pelajaran utama dari Raja Wali, naga, dan burung Hong, serta mengajak hadirin untuk merenungkan simbol-simbol di sekitar mereka sebagai sumber pembelajaran moral.
Mindful LivingAI · suggestedReflectionAI · suggestedWisdomAI · suggestedEthical LifeAI · suggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Para Bapak Ibu yang berbahagia, juga saudara-saudara mungkin para remaja, anak-anak
Mungkin merupakan satu kesempatan pertama kali saya hadir disini karena memang
Reuni ini kan reuni basket
Dan kebetulan saya dulu tidak bisa main basket
Lalu kalau kita lihat yang muda-muda ini kan
Anak-anak dari para pemain
Padahal dulu Bapak saya tidak ikut main
Karena itu mungkin saya adalah pemain baru pada malam hari ini
Dalam reuni ada, tapi saya akan sedikitlah cerita-cerita bagi pengalaman
Kita biasa berbagi pengalaman
Saudara-saudara, saya melihat dan saya perkesan
Dengan lambang kelompok basket
Jadi pertama tadi saya sudah lihat-lihat
Wah, gambarnya di belakang kok hebat
Kemudian saya bertanya kepada Pak Ketua
Oh, ini memang lambangnya klub ini, siung ini
Kalau saya tidak salah ucapan karena saya kebetulan Mandarin juga kurang begitu mahir
Katanya itu adalah Raja Wali Jantan
Nah, saudara-saudara
Ketika saya mendengar itu
Saya lalu terkesan
Kenapa demikian?
Karena memang
Kalau tadi dikatakan oleh Pak Ongko bahwa
Kita ini perlu sedikit mengerti tentang
Ya, pendidikan moral dan sebagainya
Sebetulnya Raja Wali ini sudah bisa menjadi contoh yang baik
Untuk pendidikan moral anak-anak Anda
Oleh karena itu, apa yang saya terangkan pada malam hari ini
Mungkin Raja Wali ini tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk pendidikan moral anak-anak Anda
Tapi Raja Wali ini bisa menjadi modal bagi para bapak-ibu yang
Khususnya anggota klub basket siung ini
Supaya nanti Anda bisa tularkan ilmunya ini kepada
Anak-anak Anda
Menantu Anda
Bahkan mungkin cucu-cucu Anda
Para bapak-ibu
Anda kan yang menggunakan lambang siung ini
Atau Raja Wali Jantan
Siapa di antara Anda
Yang pernah melihat Raja Wali itu sendiri
Ada, tunjuk jari dong
Tunjuk jari
Anda buangnya dengan Raja Wali
Anda mempeluk Raja Wali
Siapa yang pernah lihat
Coba saya mau lihat
Tunjuk jari Anda yang pernah melihat Raja Wali
Satu orang
Terus, dua orang, tiga orang
Raja Wali sungguh ada
Jangan di kebun binatang
Raja Wali di kebun binatang tidak bisa seperti logo Anda ini
Dia mingkuk begitu
Tapi oke lah yang sudah lihat
Oke, nanti saya tidak ngomong di kebun binatang
Tidak apa-apa, siapa yang sudah lihat
Satu, dua, berarti terus
Tiga, empat, lima, enam
Nah, sekarang
Wah itu tangannya sama
Orangnya sama, tangannya dua kali tunjuk
Iya
Iya
Iya, mungkin sama nyonya itu, sama nyonyanya.
Nah, saudara-saudara, itu yang lihat Raja Wali.
Saya mau tanya, siapa yang pernah lihat Raja Wali yang sedang terbang?
Bukan di film loh ya.
Siapa sekarang?
Di antara enam itu.
Hanya satu aja?
Dua?
Tiga? Bagus.
Kalau gitu saya ada temannya.
Kenapa demikian, saudara?
Kalau tadi mungkin disampaikan oleh Pak Ongko bahwa saya tinggal di Blital.
Saya tinggal di sebuah gunung di daerah Wulingi.
Di sana, tiap hari saya melihat Raja Wali terbang.
Dulu hanya dua ekor.
Lalu akhir-akhir ini saya melihat empat ekor.
Wah, itu terbang itu ya, di atas.
Ada satu hal yang unik, saudara.
Raja Wali itu satu hal yang membuat saya kagum.
Adalah cara terbangnya.
Cara terbang Raja Wali tidak seperti burung merpati yang cepat-cepat.
Tidak.
Tapi dia tenang.
Dia terbangnya tenang.
Dan ada satu hal yang khusus dengan Raja Wali itu.
Apa yang saudara tahu?
Selain terbang.
Nah, Raja Wali ada yang khusus apanya, saudara?
Apa itu?
Jengger.
Cakar.
Pada waktu terbang, dia itu mengeluarkan siulan.
Ada ibu-ibu bernama siulan?
Cik siulan?
Ada?
Mana ini?
Wah, cik siulan itu yang dikeluarkan oleh burung Raja Wali.
Bukan siulan maksud saya.
Siulannya itu lho.
Nah, burung Raja Wali ini selalu mengeluarkan suara seperti peluin.
Kalau saya menirukan tapi tidak persis karena saya bukan Raja Wali.
Cuit.
Cuit.
Seperti begitu.
Sepanjang dia terbang, selalu ada suara itu.
Apa maknanya, saudara?
Maknanya apa?
Dia kasih tahu.
Kasih tahu.
Ini lho.
Aku terbang di udara.
Lalu kalau sudah dengar cuit.
Cuit seperti itu.
Ayam-ayam yang di bawah itu.
Indu-indunya.
Langsung mengumpulkan anak-anaknya.
Kumpulkan semua anaknya.
Kumpulkan semua, lalu dikeloni.
Apa ya?
Dikeloni bahasa yang lebih enak itu.
Itu dilindungi, karena bukan diranggul tapi dilindungi begini.
Jadi dilindungi.
Di bawah, tubuhnya sang induk.
Nah, tapi kalau si anak ayam ini nakal.
Anak ayam kan kadang-kadang juga iseng, ayo jangan keluar.
Apalagi di luar, aku malah ingin tahu.
Lah, dia jalan.
Dia keluar.
Nah ini.
Siung-siung ini.
Dari atas.
Lihat anak ayam.
Langsung dia bisa.
Bisa sayapnya itu ke belakang semua begini.
Dia seperti meteor yang jatuh cepat sekali.
Itu luar biasa cepat sekali.
Wah itu kalau melihat itu.
Seperti benda jatuh begitu.
Begitu sampai bawah.
Nah, dia posisinya seperti ini.
Baru seperti logo Anda.
Begitu sampai bawah.
Maka tidak bisa pakai sepatu.
Karena ini langsung memegang anak ayam.
Kalau pakai sepatu merusak.
Tadi katanya, ini coba lihat burung Raja Wali dari dulu tidak pakai sepatu.
Ini benarnya tidak pakai sepatu.
Kalau pakai kaos tangan bisa.
Nah, ini jadi.
Posisinya begitu karena dia langsung membuka sayapnya itu merem.
Merem terus.
Tangannya maju.
Pegang ayam langsung dia.
Apa lagi?
Take off lagi tapi menugiknya juga kecepatannya hampir sama dengan waktu dia turun.
Jadi dia turun begini cepat.
Naik cepat.
Tapi sudah bawah anak ayam.
Anda bisa bayangkan.
Anak ayam cuma setepel burung Raja Wali di udara yang jauh sekali.
Lihat bisa nyamber dengan kecepatannya tinggi.
Padahal jaraknya pendek anak ayam dengan induknya bisa kena bisa dibawa pergi.
Itu gagahnya Raja Wali.
Makanya nyanyian yang terakhir tadi saya juga senang mendengarkan.
Kenapa?
Kegagahan ada di situ.
Mantap.
Saya tidak tahu cerita apa tadi pak?
Yang terakhir lagi lho.
Itu kan kegagahan, semangat, diruit, perjuangan.
Itu memang luar biasa.
Nah jadi ini yang sebetulnya yang saya mau terangkan pada malam hari ini.
Bahwa pendiri anda, pendiri Xiong Ting ini sebetulnya sudah memberikan dasar pendidikan untuk keluarga yang dibina.
Hanya mungkin malam ini kita akan bahas lebih dalam.
Apakah yang kita bisa manfaatkan dari burung Raja Wali yang tadi terbang tinggi?
Nomor satu saudara.
Raja Wali itu atau Xiong Ting ini punya ketajaman melihat mangsa.
Jadi begitu mangsa yang kecil itu saja bisa dilihat.
Ini apa sebetulnya?
Kita diharapkan di dalam masyarakat harus pandai berusaha.
Harus pandai berjual.
Sehingga mendapatkan makanan.
Kan banyak orang mencari makan.
Di dalam kehidupan ini kan cari makan.
Namanya fu itu.
Hoki itu.
Itu kan sebetulnya kan.
Di.
Di.
Di depan itu ada huruf pakaian.
Ini Pak Angko yang mestinya tahu.
Di depan ada huruf pakaian.
Lalu ada angka satu.
Lalu ada mulut.
Lalu ada.
Ada sawah.
Jadi dalam konsep orang dulu.
Rezeki itu artinya satu mulut.
Punya kecukupan sandang.
Cukupan banyak.
Nah.
Jadi kalau kita sekarang punya prinsip Xiong Ying tadi.
Kita harus pandai melihat situasi.
Pandai melihat gejala di dalam lingkungan.
Untuk mendapatkan kemajuan di dalam usaha.
Nah bagaimana caranya bisa melihat situasi.
Dan melihat kepandaian di dalam usaha.
Satu contoh yang paling sederhana adalah.
Saya akan bergerak di bidang usaha dulu.
Bagaimana kita memilih.
Usaha yang paling cocok untuk kita.
Para bapak ibu adalah seorang pengusaha.
Anak-anak anda mungkin akan anda didik menjadi pengusaha.
Tetapi kadang anda berpikir.
Usaha apa ya yang cocok untuk anakku.
Anda tidak usah sulit.
Kalau Burullah Jawali tadi melihat ayam.
Dia kecepatan terbangnya seperti itu.
Lain kalau dia melihat donat.
Raja Wali walaupun tinggi.
Dia melihat donat.
Dia tidak akan terbang secepat itu.
Untuk mumut donatnya.
Artinya.
Kalau tidak cocok dengan kita.
Maka jangan usaha itu dikerjakan.
Tidak ada gunanya.
Anda tidak senang bengkel.
Tapi anda buka.
Bengkel servis mobil.
Maka anda menggantungkan sama orang tukang anda.
Akibatnya kalau tukang anda tidak beres.
Usaha anda jatuh.
Anda tidak senang musik.
Tapi anda buka toko musik.
Mau ngelesi musik.
Tidak bisa.
Apa yang anda senangi.
Anda yang hobi apa.
Itulah yang harus menjadi pilihan pekerjaan anda.
Ya.
Karena itu.
Anda sekarang boleh lindungkan baik-baik.
Aku hobi ini apa.
Itu kesukaannya apa.
Anda mau pilih jurusan manapun juga.
Anda hanya tinggal ingat-ingat baik-baik.
Hobi saya apa.
Itulah yang anda pilih untuk jurusan kuliah anda.
Fakultas apa.
Dan nanti itu yang akan membawa anda sukses.
Itu dari sudut si Raja Wali.
Yang kedua saudara.
Raja Wali ini sewaktu terbang dia bersiul.
Memberi tanda bahwa aku sedang terbang.
Ayam-ayam di bawah harap hati-hati.
Ini sebagai tanda.
Sebagai lambang kejantanan.
Tidak main belakang.
Ini aku.
Aku datang.
Kalau kamu tidak hati-hati.
Tapi resikomu sendiri.
Lain dengan kucing.
Anda tentu lihat kucing.
Kucing itu kalau minta ikan.
Kita makan.
Cerewet sekali.
Cerewet sekali.
Tapi begitu lihat ikan kita nganggur.
Dia diam.
Tidak jalan.
Jalan pelan-pelan.
Tahu-tahu.
Ambil ikannya.
Lali kencang.
Itu kucing pencuri.
Mencari kelemahan orang lain.
Tetapi kalau burung Raja Wali.
Dia tidak begitu.
Dia memberikan suara yang keras.
Kasih perhatian.
Demikian pula di dalam kehidupan kita saudara.
Apakah yang harus kita lakukan?
Di dalam kehidupan kita.
Di dalam bermasalah dalam kehidupan apapun juga.
Anda sebagai perumah tangga.
Anda sebagai orang yang hidup di dalam masyarakat.
Anda yang berada di dalam lingkungan pergaulan tertentu.
Cobalah kita berterus terang.
Terus terang itu akan membuat permasalahan dalam keluarga.
Permasalahan dalam perusahaan.
Permasalahan di dalam pergaulan.
Akan bisa diselesaikan dengan baik.
Coba kalau sekarang suami istri.
Lalu si suami dapat telepon.
Cekikian.
Istrinya tanya.
Kamu dapat telepon dari siapa?
Dari renggananku.
Dapat cekikian seperti sama cewek.
Kamu diam saja.
Tidak usah rewel.
Agar tidak terus terang di situ.
Ada yang tidak beres.
Rumah tangga bisa bermasalah.
Demikian pula dengan anak.
Anak belum umurnya merokok.
Kadang-kadang tidak dikati kalau ditanya.
Kamu kok bau rokok?
Iya ini aku tadi masuk mall.
Mallnya bau rokok.
Tidak terus terang.
Menipu orang tuanya sendiri.
Ini akan menjadi masalah untuk jangka panjang.
Kalau sekarang bau rokok saja.
Dia sudah menipu orang lain.
Menipu orang tuanya sendiri.
Nanti duit orang tuanya hilang.
Dia pun ngomong di gondol ujing.
Ini uangku kok hilang?
Di gondol ujing.
Kenapa?
Karena dia sudah biasa menipu.
Dia bukan watak seekor bulung racawan.
Nah sedangkan dengan bulung racawan ini.
Kita bisa mendapatkan dua hal.
Satu, bekerjalah, berjuanglah.
Apa saja yang anda pilih.
Adalah sesuai dengan hobi anda.
Kesenangan anda.
Yang kedua, bersifatlah terus terang.
Sukalah berterus terang.
Karena itu akan bisa mengatasi problem anda.
Yang ketiga adalah.
Dilihat dari sudut ayam.
Apabila burung raja wali ini sudah mengeluarkan pelumitnya.
Ayam ini tadi akan memanggil anak-anaknya untuk dilindungi.
Anak ayam yang menurut.
Dia akan selamat.
Tetapi anak ayam yang tidak menurut.
Dia akan dibawa ke raja wali.
Raja wali tidak pernah.
Membawa anak ayam yang dibawa lindungan induknya.
Dia bukan merampok.
Siung ini tidak pernah merampok.
Dia tidak pernah, oh ini ada induk ayam yang sedang diam.
Berarti bawahnya ada anak ayam.
Aku tendang dulu induknya.
Aku ambil anaknya.
Dia tidak pernah begitu.
Dia hanya mengambil anak yang tidak menurut dengan induknya.
Nah apakah sebetulnya maknanya?
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Kadang anak kalau dinasihati orang tua.
Itu sering punya negative thinking.
Punya pandangan negatif.
Terutama dinasihati masalah perjuduan.
Saya sudah banyak mendengar cerita itu.
Bahwa begini.
Aduh kenapa ya saya sama orang tua saya.
Kok tidak boleh pacaran sama si A?
Apakah si orang tua ini punya niat jelek sama saya?
Sudah-sudahlah terutama generasi muda.
Anda mesti mengingat contoh yang malam ini saya baharkan.
Induk ayam ketika melindungi anaknya.
Karena dia tahu ada bahaya yang mengangkat anaknya.
Demikian pula semua nasihat orang tua.
Sebetulnya itu dasarnya.
Dari kekhawatiran orang tua akan penderitaan anaknya.
Atau harapan orang tua untuk membahagiakan anaknya.
Karena itu kalau ada yang dilarang duduk.
Sebetulnya itu bukan karena orang tua iri hati.
Kadang-kadang anak malam mengatakan.
Oh mama ini berarti malah mau sendiri nih sama pacarmu.
Bukan.
Tetapi sebetulnya orang tua punya niat positif.
Supaya anaknya tidak menderita.
Nah tetapi anak sekarang itu juga punya kekhususan.
Orang tua tidak bisa seperti zaman dulu.
Kalau anak dikatakan ayo jangan keluar malam.
Murus.
Ayo sekolah.
Murus.
Anak sekarang bukan seperti itu.
Anak sekarang membutuhkan alasan.
Kenapa saya tidak boleh keluar malam?
Kenapa saya tidak boleh bolos sekolah?
Kenapa saya tidak boleh main video game sampai pagi?
Ada alasan.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Dan orang tua harus bisa menerangkan hal itu.
Nah oleh karena itu saudara-saudara.
Inilah sebetulnya yang menjadi datang.
Yang kalau saya terangkan itu adalah.
Merupakan pelajaran pokok di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dan kita ingat para leluhur kita biasanya juga menerangkan.
Segala sesuatu kemoralan itu dalam bentuk lambang-lambang.
Hari ini atau di masa-masa yang sekarang.
Kita gampang sekali melihat lambang naga.
Apa itu?
Lung itu.
Lung.
Naga.
Anda semua tentu sudah pernah lihat dan mungkin anak-anak sekarang sudah mulai main.
Ada tidak?
Di Surabaya kan grupnya itu kan sudah ada kan?
Pada main.
Itu sebetulnya juga pelajaran saudara.
Malah kalau yang tadi dikatakan oleh Pak Ongko.
Pelajaran untuk menghadapi segala problem dalam kehidupan kita.
Itu sebetulnya ada di dalam naga itu.
Saudara-saudara yang hadir di sini.
Menurut anda naga itu ada atau tidak?
Menurut anda ada atau tidak binatang naga itu?
Anda yang mengatakan ada, coba tunjuk jari.
Ada tidak naga itu?
Hah?
Tunjuk jari dong yang ngomong ada.
Siapa yang mengatakan naga itu ada?
Satu.
Dua jari lagi Pak.
Tadi Bapak itu hobinya pakai dua jari.
Ada satu.
Yang mengatakan naga itu tidak ada siapa?
Satu.
Yang bingung?
Semua.
Semua.
Nah saudara-saudara.
Ini kita berbicara praktik.
Anda suka naga.
Anda main naga.
Tapi anda sendiri tidak mengerti.
Apa itu naga?
Ada atau tidak ada anda tidak tahu.
Sebenarnya.
Naga itu tidak ada.
Yang ada itu ular besar.
Tapi naga dalam bentuk itu tidak ada.
Itu cerita.
Tetapi kenapa naga itu dibuat ada?
Naga ini merupakan gabungan.
Coba anda perhatikan mulai dari mulutnya.
Anda sekarang bayangkan naga.
Saya tidak bawa gambarnya.
Tetapi anda bisa bayangkan naga itu ya.
Mulutnya.
Mulut naga itu sebetulnya adalah mulut buaya.
Dalam film.
Film.
Naca kalau tidak salah.
Mukanya naganya itu.
Mulutnya persis buaya.
Pernah anda perhatikan tidak itu?
Mulutnya mulut buaya ya.
Pernah itu?
Mulut buaya.
Hidungnya.
Bukan hidung buaya.
Hidungnya hidung sapi.
Naga hidungnya sapi.
Makanya anda bisa lihat.
Naga hidungnya besar.
Atau anda boleh mengatakan hidung sapi itu sebetulnya hidung manusia.
Hidung manusia dengan hidung sapi hampir mirip.
Pandang ada tulangnya begini.
Anda lihat gambarnya naga.
Ada tulang hidungnya lalu ada cupingnya.
Benar?
Ya.
Itu sebetulnya hidung sapi.
Ya.
Lalu.
Tanduknya.
Tanduk apa?
Tanduk rusak.
Mulutnya buaya.
Hidungnya sapi atau hidung manusia.
Tanduknya rusak.
Bulu lehernya.
Bulu lehernya singa.
Bulu leher seekor singa jantan.
Punggungnya.
Punggungnya.
Punggungnya.
Ulang tidak punya punggung itu.
Buaya.
Punggungnya punggung buaya.
Yang naik ke sini.
Kakinya.
Bukan.
Kakinya bukan kaki siung ini.
Yang tidak pakai sepak.
Kakinya kaki ayam jantan.
Ada tajinya itu.
Nah sedara-sedara.
Jadi naga ini merupakan binatang gabungan.
Karena itu saya mengatakan dia tidak ada.
Karena dia memang direkayasa oleh para nenek moyang kita.
Apa sih sebetulnya tujuannya?
Bahwa kalau kita melihat di dalam masyarakat kita.
Sebetulnya semua itu tidak ada yang sama.
Walaupun satu saudara kandung.
Dia tidak punya watak yang sama.
Dia tidak punya kebiasaan yang sama.
Dia tidak punya hoki yang sama.
Semua berbeda.
Ketika orang bisa menerima perbedaan itu.
Barulah muncul keindahan.
Naga yang sebetulnya model dengan berbagai macam binatang itu.
Ketika kita bisa melihat dia sebagai satu kesatuan.
Maka baru muncullah keindahan.
Kegagahan naga.
Baru kita bisa melakukannya.
Jadi sebetulnya kuncinya tentang naga ini adalah.
Perbedaan yang kita hadapi.
Baik dalam kehidupan suami istri.
Baik di dalam perdagangan.
Baik di dalam hubungan antara anak dan orang tua.
Marilah kita melihat itu sebagai kenyataan.
Jangan menuntut.
Kok kamu tidak seperti yang aku bayangkan.
Kok kamu tidak seperti yang aku harapkan.
Jangan pernah begitu.
Karena ini adalah merupakan kelengkapan satu kesatuan.
Kalau orang bisa melihat itu sebagai satu kesatuan.
Maka anda akan melihat naga itu di kunteng.
Di kunteng-kunteng anda akan melihat naga yang di depan.
Itukan naga yang melingkar begini.
Ya kan?
Anda perhatikan coba.
Yang di bawah.
Ukiran di bawah naga itu.
Itu adalah gambar apa?
Yang di bawah naga.
Ya?
Apa maksudnya di bawah?
Laut.
Air.
Dia air.
Perhatikan baik-baik.
Maka kalau kita melihat secara simbolik.
Naga itu di bawah itu air.
Nah yang di atas.
Itu awan.
Gambarnya awan dengan air kan tidak sama.
Lebih panjang garisnya yang air.
Awan lebih bulat.
Lalu di bagian tangannya sini.
Ada apanya?
Apinya.
Jadi naga ini kalau kita lihat.
Dia bisa di air.
Dia bisa di udara terbang.
Dia bisa di tanah.
Karena dia punya kaki ayam.
Dan dia juga bisa mengeluarkan api.
Artinya bahwa kalau kita ini bisa menerima.
Kelebihan dan kekurangan orang lain.
Kelebihan dan kekurangan pasangan hidup kita.
Kelebihan dan kekurangan orang tua kita.
Maka sebetulnya.
Kemana saja kita pergi.
Kita pasti akan bisa bertahan.
Kita pasti akan bisa survive.
Kita pasti akan bisa mengembangkan diri kita.
Kita tidak akan pernah kekurangan.
Kita tidak akan pernah mati karena perbedaan.
Kenapa rumah tangga sering cekcok?
Karena dia tidak pernah mau menerima pasangan hidupnya itu berbeda.
Bahwa memang dia itu seperti itu.
Kenapa anak tidak cocok sama orang tua?
Karena anak menganggap orang tua tetangga lebih baik daripada orang tuaku sendiri.
Tidak mau menerima bahwa orang tua tetangga berbeda.
Dengan orang tuaku.
Nah, dengan kita bisa menerima kedua belah pihak ini.
Kesulitan apapun juga.
Ibaratnya lautan, angkasa, maupun tanah, maupun api, air.
Kita bisa jalani.
Nah, anda hari ini sudah melihat ada lambang Raja Wali.
Anda juga melihat naga.
Maka sekarang saya akan menerangkan yang ketiga.
Yaitu lambang burung.
Burung?
Burung?
Apa?
Punix Hong.
Itu kan biasa kalau kawin kan begitu.
Kalau kawin itu kan ada naga.
Lalu di sini ada burung Hong.
Siapa yang waktu anda dulu menyebar undangan pakai gambar itu?
Siapa?
Tunjuk jari dong.
Wah.
Banyak dong.
Ngertinya artinya.
Ya.
Nah, sederhana-sederhana.
Burung Punix ini satu burung yang sangat baik sekali.
Punix yang di situ.
Burung Hong ini.
Ini adalah burung jantan.
Burung jantan.
Burung Hong jantan.
Ini bulunya, ekornya ini panjangnya lebih dari dua meter.
Sehingga burung Hong tidak pernah berdiri di atas tanah.
Maka tidak pernah ada gambar burung Hong.
Berdiri di atas tanah.
Pasti dia di atas sebatang.
Karena ini bulunya demikian panjang.
Kalau sampai dia di tanah.
Dia tidak bisa terbang lagi.
Nah.
Burung Hong ini demikian indah.
Burung Hong ini wataknya seperti merah.
Jadi dia mengeluarkan keindahannya.
Merah itu tidak begitu.
Mengeluarkan bulunya yang indah.
Betinanya nanti datang minta dikawin.
Kalau ayam lain.
Lihat ayam betina.
Ayam jantan kejar.
Hajar.
Tapi kalau burung merah.
Tidak.
Lihat ayam betina.
Burung merah ini mengeluarkan keindahan burunya.
Ayam betina datang sendiri.
Minta dikawin.
Demikian pula burung Hong.
Begitu lihat ayam betina.
Dia mengembangkan bulunya yang indah.
Lalu si betina datang.
Minta dikawin.
Nah saudara-saudara.
Setelah mereka kawin.
Apa yang dikerjakan burung Hong ini?
Burung ini pergi ke sebuah gunung.
Gunung batu.
Kalau di Tiongkok zaman itu banyak gunung batu.
Lalu disitu banyak goa-goa.
Burung Hong ini.
Masuk ke goa dengan istrinya.
Dan karena dia masuk ke goa.
Dia tidak bisa merawat bulunya yang indah lagi.
Maka bulunya rontok semua.
Sehingga akhirnya burung Hong ini.
Tinggal dengan istrinya.
Bertelur disana.
Beranak pinak disana.
Bermantul disana.
Sampai dia mati disana.
Burung Hong walaupun istrinya sudah mati.
Dia tidak bisa mencari istri baru.
Kenapa?
Kenapa saudara?
Hah?
Kenapa?
Bulunya habis.
Anda tidak terus pegang-pegang rambut anda. Kenapa?
Apakah anda termasuk burung Hong yang rontok di bahagian lain?
Oh.
Jadi bulunya habis.
Karena habis.
Dia tidak bisa mencari istri baru.
Nah.
Oleh karena itu.
Setiap perkawinan dikasih lambang burung Hong.
Karena itu lambang kesetiaan.
Sekali kawin.
Seumur hidup.
Tidak kawin lagi.
Tidak diceritakan sih.
Ceweknya setelah ditinggal Hong yang jantan.
Apakah cari Hong jantan lain.
Tidak ada ceritanya itu.
Tetapi.
Ini maksudnya adalah kesetiaan.
Karena itu.
Kalau anda yang membuat undangan perkawinan.
Baik untuk anda ataupun untuk menantu anda.
Atau untuk siapa saja.
Pakai burung Hong dengan naga.
Itu sebetulnya punya lambang.
Burung Hong ini sebagai lambang kesetiaan.
Naga ini sebagai lambang.
Kesamaan di dalam perbedaan.
Persatuan di dalam perbedaan.
Sehingga diharapkan rumah tangga ini.
Akan bisa lancar.
Untuk jangka waktu yang panjang.
Mengatasi segala permasalahan.
Sudah sekarang.
Oleh karena itu ada tiga hal ini.
Tiga binatang ini yang saya terangkan.
Supaya anda bisa membayangkan.
Bagaimana tradisi kita.
Leluhur kita.
Mengajarkan kepada kita.
Dengan simbol-simbol.
Sehingga kalau anda belajar.
Sebetulnya tidak perlu.
Ketempat yang hebat-hebat.
Di rumah anda sendiri.
Sebetulnya anda akan bisa mendapatkan pelajaran.
Ya.
Gambar Raja Wali anda gampang mendapat.
Burung Hong burung.
Atau gambar naga anda gampang mendapat.
Tinggal anda membuka.
Batin anda.
Untuk bisa.
Mendapatkan pelajaran itu.
Ya.
Nah inilah yang perlu saya sampaikan.
Pada malam hari ini.
Sebagai pengantar.
Karena nanti mungkin kita akan.
Bisa tanya jawab.
Ya.
Tadi sudah saya terangkan.
Tentang pekerjaan.
Pilihlah.
Yang paling anda sukai.
Seperti Xiong Ying ini mencari.
Ayam.
Tapi tidak mau dengan donat.
Kemudian.
Bersuaralah.
Berterus teranglah.
Karena itu akan banyak mengatasi problem.
Di dalam kehidupan kita.
Sehari-hari.
Kemudian dengan lambang ayam tadi.
Bahwa orang tua.
Selalu sebetulnya.
Mencari.
Hal yang terbaik untuk anak-anaknya.
Walaupun kadang mungkin cara ngomongnya keliru.
Mungkin perilakunya salah.
Tapi sebetulnya tujuan orang tua.
Adalah supaya anaknya bahagia.
Dan yang ketiga.
Anak ayam yang keluar dari induknya.
Itu yang akan menjadi sasaran Xiong Ying tadi.
Anak ayam.
Anak-anak.
Yang mungkin keluar dari peraturan orang tuanya.
Sebelum waktunya.
Itu yang akan membawa bahaya.
Untuk dia.
Inilah yang perlu saya sampaikan.
Mudah-mudahan memberi manfaat.
Dan saya tunggu.
Untuk tanya jawab.
Pada sesi berikutnya.
Terima kasih.
Semoga berbahagia.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya