Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Apakah kebahagiaan ?

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Apakah kebahagiaan ?

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas tentang hakikat kebahagiaan, yang menurut pembicara bukan ditentukan oleh kondisi eksternal seperti kesehatan atau kekayaan, melainkan oleh proses berpikir. Pembicara mengawali dengan pertanyaan tentang apa itu kebahagiaan, lalu memberikan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa kebahagiaan muncul dari cara kita memandang suatu situasi, seperti ibu yang sakit tetapi senang menonton sepak bola, atau anak yang sakit perut justru terhindar dari masalah di sekolah. Ia menekankan pentingnya melihat sisi terang dalam setiap kejadian, bahkan yang dianggap negatif seperti tahun ciong atau bertemu makhluk halus, karena dalam pandangan Buddhis semua bisa menjadi kesempatan untuk berbuat baik. Pembicara juga membandingkan kehidupan bhikkhu dan berumah tangga, menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada status, melainkan pada cara pandang. Kunci untuk mengubah pola pikir adalah kata 'untung', yang membantu kita menerima setiap peristiwa dengan positif. Setelah mampu berkata 'untung', langkah selanjutnya adalah mencari sebab dari setiap peristiwa agar dapat memperbaiki masa depan, sehingga kebahagiaan tidak hanya pasif tetapi meningkat. Contoh-contoh seperti kecelakaan karena kaca spion kecil atau cekcok dengan pasangan digunakan untuk mengilustrasikan bagaimana mencari sebab dan memperbaiki diri. Untuk hal-hal baik, kita juga harus mencari sebabnya agar dapat mengembangkannya. Kesimpulannya, kebahagiaan adalah proses berpikir, dan dengan menggunakan kata 'untung' serta mencari sebab, kita dapat meningkatkan kebahagiaan di segala bidang kehidupan.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pendahuluan: Pertanyaan tentang Kebahagiaan
    Pembicara membuka dengan pertanyaan tentang apa itu kebahagiaan, menyatakan bahwa semua orang menginginkannya namun sering tidak memahami maknanya. Beberapa konsep umum seperti sehat atau kaya dibahas, tetapi ditegaskan bahwa kebahagiaan sebenarnya terletak pada proses berpikir.
  2. Contoh Kebahagiaan sebagai Proses Berpikir
    Melalui contoh ibu yang sakit tetapi senang menonton sepak bola, dan anak yang sakit perut justru terhindar dari masalah di sekolah, pembicara menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh kondisi eksternal melainkan oleh cara berpikir seseorang.
  3. Melihat dari Sisi Terang vs Gelap
    Pembicara menjelaskan pentingnya melihat sisi terang dalam setiap situasi, seperti menghadapi tahun ciong atau pasangan yang menjengkelkan, dengan mengubah pola pikir negatif menjadi positif untuk meraih kebahagiaan.
  4. Contoh Makhluk Halus dan Perubahan Pola Pikir
    Pembicara menggunakan contoh bertemu makhluk halus yang dianggap sial, tetapi dalam pandangan Buddhis justru menjadi kesempatan untuk berbuat baik, menekankan bahwa kebahagiaan muncul dari cara berpikir yang benar.
  5. Kebahagiaan dalam Kehidupan Bhikkhu vs Berumah Tangga
    Pembicara membandingkan kehidupan bhikkhu dan berumah tangga, menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada status, melainkan pada cara pandang. Contoh tentang kasur dan makanan digunakan untuk mengilustrasikan melihat sisi terang.
  6. Kata 'Untung' sebagai Kunci Kebahagiaan
    Pembicara memperkenalkan kata 'untung' sebagai alat untuk mengubah pola pikir, dengan berbagai contoh seperti ban kempes atau kecelakaan, menekankan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.
  7. Meningkatkan Kebahagiaan dengan Mencari Sebab
    Setelah mampu berkata 'untung', pembicara mengajak untuk mencari sebab dari setiap peristiwa agar dapat memperbaiki masa depan, sehingga kebahagiaan tidak hanya pasif tetapi meningkat.
  8. Contoh Penerapan Sebab-Akibat dalam Kehidupan
    Pembicara memberikan contoh konkret seperti kecelakaan karena kaca spion kecil atau cekcok dengan pasangan, menunjukkan bagaimana mencari sebab dan memperbaiki diri untuk mencegah penderitaan terulang.
  9. Mengembangkan Kebahagiaan yang Sudah Ada
    Pembicara menjelaskan bahwa untuk hal-hal baik, kita juga harus mencari sebabnya agar dapat mengembangkannya, seperti rajin mengirim undian atau mendidik anak dengan baik.
  10. Kesimpulan: Kebahagiaan sebagai Proses Berpikir
    Pembicara menyimpulkan bahwa kebahagiaan adalah proses berpikir, dengan kata 'untung' sebagai alat untuk menerima dan mencari sebab untuk perbaikan, sehingga kebahagiaan meningkat di segala bidang kehidupan.
AcceptanceAI · suggestedHappinessAI · suggestedMind TrainingAI · suggestedImpermanenceAI · suggestedCausalityAI · suggestedSulit Melepassuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Saudara-saudara, malam hari ini kita akan membahas tentang satu hal yang sebenarnya semua orang cari, sebenarnya semua orang mendambakan topik yang akan kita bahas pada malam hari ini, yaitu tentang kebahagiaan.
Saudara-saudara, apakah yang sebetulnya disebut sebagai kebahagiaan?
Karena kita semua tentu, kalau ditanya apakah Anda ingin bahagia? Semua orang akan menjawab, iya saya ingin bahagia. Tetapi kadang-kadang orang tidak menyadari, orang tidak mengerti apakah yang disebut dengan kebahagiaan itu.
Ada banyak konsep tentang kebahagiaan.
Ada yang mengatakan,
ada yang mengatakan kebahagiaan itu kalau kita tidak sakit. Betul juga, karena kalau saudara-saudara sekarang sakit, sakit perut misalnya, makan capi saja tidak bisa.
Padahal kalau kita sedang sakit, rasanya malah makin kepingin makan capi.
Kalau kita tidak sakit, dikasih makanan.
Kalau kita tidak sakit, dikasih makanan.
Nah, ini kan memang membingungkan. Sehingga kita merenung, wah, kebahagiaan ini memang kalau kita sehat. Kemana saja kita pergi, bisa.
Ada lagi orang yang mengatakan, bahagia itu kalau kaya. Wah, senang. Pokoknya bisa punya duit banyak, bahagia.
Sehingga pernah ditanya, bagaimana?
Kalau sekarang punya duit banyak, tapi sakit-sakitan. Enggak apa-apa.
Karena yang penting punya duit banyak.
Loh, memang kenapa?
Nah, kalau saya kaya, sakit-sakitan, saya kan bisa beli obat yang terbaik.
Kalau saya sudah tidak kaya, sakit-sakitan, obatnya apa?
Nah, jadi kebahagiaan ini bermacam-macam.
Saudara-saudara,
apakah yang disebut bahagia?
Bahagia itu bukan terletak pada badan yang sehat.
Bahagia itu bukan terletak pada kekayaan.
Tetapi sebetulnya bahagia itu adalah proses berpikir.
Jadi walaupun orang sakit, kalau proses berpikirnya benar, dia bisa bahagia.
Iya.
Nah, satu contoh, saya pernah pergi berkunjung menyambangi orang tua yang telah sakit berbulan-bulan.
Ketika saya tanya, apakah kamu senang di rumah sakit ini?
Dia mengatakan, iya, bantri, saya senang.
Karena dengan saya sakit ini, saya bisa nonton Liga Itali.
Sepak bola, maksudnya.
Padahal itu ibu-ibu loh, tua lagi.
Saya katanya, yang mendengar sampai melungu.
Loh, ibu-ibu tua, nontonnya Liga Itali.
Tapi memang itulah kenyataan.
Jadi kalau ada yang mengatakan sehat itu bahagia,
bagi si ibu ini, enggak bahagia.
Justru kalau sehat,
dia tidak nonton Liga Itali.
Justru karena dia sakit, dia nonton Liga Itali.
Kemudian, ada anak sekolah.
Anak sekolah sakit perut.
Kemudian, wah ini karena sakitnya sudah luar biasa,
saya enggak bisa melanjutkan sekolah.
Saya mau izin, mau pulang.
Tapi, nanti jam terakhir pulangan.
Dan ini, gurunya agak galak.
Jarang memberikan ulangan.
Tapi ini sudah sakit perut.
Tapi bagaimana ulangan?
Kalau saya lanjutkan di sini kan pingsan.
Dengan berat hati, ya sudah lah.
Mungkin karma buruk saya berbuah, saya pulang.
Pulang.
Sambil kepikiran, doh ulangannya gimana, ulangannya gimana.
Kita pulang.
Pada jam berikutnya,
di kelas itu ada kehilangan.
Ada kehilangan dompet.
Nah, sehingga,
geger.
Siapa nih yang mencuri, siapa nih yang mengambil luas, sehingga digeledahi semua, enggak ketemu.
Akhirnya, kepala sekolahnya turun.
Jam pelajarannya hilang semua.
Kepala sekolah ngomel-ngomel, seluruh kelas dihukum.
Pokoknya, kalau dompetnya belum kembali,
sampai siang tidak boleh pulang.
Nah, ketika sih orang yang sakit perut ini tadi mendengar cerita tersebut,
dia tidak lagi merasa,
aduh, menderita aku sakit perut, enggak bisa ikut ulangan.
Untung aku sudah sakit perut, jadi pulang duluan.
Kalau enggak, enggak ngambil, dimaki-maki, pulangnya siang, kelaparan.
Ini hanya cara berpikir, saudara.
Nah,
bagaimana sekarang,
supaya kita punya cara berpikir untuk mendapatkan kebahagiaan?
Kalau anda melihat tangan anda,
tangan anda ini ada dua warnanya.
Ada warna gelap,
dan ada warna terang.
Seseorang kalau selalu melihat,
seseorang kalau selalu melihat,
yang berwarna gelap,
dunia ini juga akan terasa gelap.
Satu contoh,
misalnya saja,
kita,
biasanya kalau permulaan tahun,
tahun baru,
biasanya kita akan buka buku.
Bagaimana peruntungan tahun ini?
Saya sio ini.
Tahun ini adalah tahun itu.
Apakah ciong?
Kemudian kita baca.
Wah, ciong.
Kalau sudah begitu,
pikiran kita mulai menurun.
Mau kerja enggak ya?
Karena tahun ini ciong.
Mau buka toko enggak ya?
Tahun ini ciong.
Mau kawin enggak ya?
Karena tahun ini ciong.
Mau punya anak enggak ya?
Karena tahun ini ciong.
Akhirnya, saudara,
karena anda berpikir dari sudut yang gelap,
anda itu tidak pernah bahagia.
Takut-takuten.
Buka toko takut.
Mau kawin takut.
Mau melamar orang takut.
Mau apa takut,
mau apa takut,
mau apa takut.
Tetapi seseorang yang mendambakan kebahagiaan,
dia tidak melihat dari sudut yang gelap,
tapi dia melihat dari sudut yang tenang.
Apa itu?
Tahun ini ciong.
Dia berpikir,
tahun ini kesempatan saya berbuat baik.
Kenapa?
Karena karma buruk gampang berbuah.
Tahun ini kesempatan saya berbuat.
Sehingga, perlu buka toko?
Tahun ini? Boleh.
Tetapi biasanya kalau buka toko,
ada parita hanya mengundang orang lima,
sekarang saya mau mengundang orang lima puluh.
Baca parita sama-sama.
Biasanya,
orang kalau baca parita hanya dikasih air putih,
sekarang saya kasih es krim semua.
Kesempatan menambah karma baik.
Sehingga kita berani.
Lalu, apakah tahun ini saya mau cari pacar nggak ya?
Ini kan ciong.
Salah.
Tahun ini kesempatan saya melatih kesabaran.
Jadi sekarang kalau saya suka itu,
seruduk.
Kalau meleset, yang disalahkan bukan tahunya.
Saya masih kurang sabar.
Saya masih kurang hati-hati.
Terus seruduk, terus, seruduk, terus.
Malah tahun yang dikatakan ciong, bisa dapat pacar.
Kenapa?
Karena kita mengubah pola pikir yang hitam,
pola pikir yang gelap,
menjadi pola pikir yang tepat.
Sedara-sedara, juga demikian.
Misalnya,
Anda tiktok dengan pasangan hidup.
Kadang-kadang sudah gergetan,
aduh, pasangan hidup kok kayak begini.
Sudah, lebih baik.
Tidak usah punya pasangan hidup.
Ini kita melihat dari sudut gelap.
Tapi kalau Anda bisa melihat sudut yang terang,
untung saya punya pasangan hidup yang begini.
Kenapa?
Punya kesempatan melatih.
Kesabaran.
Coba kalau saya tidak punya pasangan hidup yang cewek,
yang galak, yang sadis.
Kapan saya punya kesempatan mempraktekkan dharma yang disebut kesabaran?
Untung pasangan hidupku ini ributnya kayak gitu.
Ini kan dari sudut yang terang.
Nah,
biasanya,
ada pengalaman khusus lagi.
Ada orang yang bisa lihat demikian.
Ada di antara Anda yang bisa lihat demikian?
Malu halus?
Pernah ketemu malu halus?
Pernah ketemu tidak?
Ada yang pernah ketemu malu halus belum?
Belum pernah ada?
Pernah tidak?
Sudara dharma kan pernah bertemu malu halus.
Nanti kapan-kapan sudara boleh tanya ceritanya beliau bertemu malu halus.
Kalau nanti saya ceritakan disini habis waktu saya
untuk mengurusi dharma.
Nah,
Anda nanti tanya sendiri, bagaimana kesaksiannya tentang malu halus?
Nah, tanya.
Nanti kasih waktu sendiri.
Sudara-sudara,
walaupun Anda belum pernah tahu malu halus,
Anda pernah mendapat nasihat pasti
bahwa kalau ketemu malu halus itu sial.
Pernah dengar tidak nasihat itu?
Wah, kalau melihat malu halus itu sial, sungguhan.
Jelek.
Nah, itu melihat dari sudut gelap.
Melihat dari sudut yang hitam.
Padahal sebetulnya secara konsep Buddhis,
malu halus adalah makhluk yang menderita.
Jadi kalau kita bertemu dengan dia, bukan sial.
Kita bertemu dengan dia karena kita punya kesempatan baik
menolong dia.
Kenapa?
Karena begitu ketemu malu halus, kita bisa ngomong,
semoga semua makhluk hidup bahagia,
semoga semua makhluk hidup bahagia,
semoga semua makhluk hidup bahagia,
atau semoga kamu bahagia,
semoga semua makhluk hidup bahagia.
Kita punya kesempatan menolong makhluk halus.
Kenapa?
Karena mungkin makhluk halus itu
berhubungan dekat dengan Anda,
nampak di jendela,
kemudian Anda lihat mukanya kok gede,
matanya seonde-onde,
wah ngeri sekali,
Anda jangan lari, ini kesempatan saya berbuat baik.
Ketika Anda bisa berpikir demikian,
Anda happy ketemu makhluk halus.
Anda malah cari makhluk halus.
Mana ada makhluk halus?
Mana ada makhluk halus?
Kesempatan bagi saya menolong dia.
Ini adalah cara berpikir saja kok.
Kenapa?
Karena kebahagiaan itu ada di dalam diri kita,
ada di dalam pola pikir kita.
Ada orang yang mengatakan lagi,
jadi bigu enak.
Kalau sudah stress, stress, stress,
jadi bigu itu paling enak loh.
Kalau jadi bigu enak,
tidak ada bigunya yang lepat juga.
Barang enak kok dilepatkan.
Kalau jadi bigu enak,
pasti saudara-saudara yang sedemikian banyak pria ini
mau jadi bigu semua.
Pak Ali mau jadi bigu?
Nah, tidak mau, goyang kepala dia langsung cepat-cepat goyang kepala.
Kenapa?
Karena belum tentu cocok.
Sebaliknya, ada orang juga mengatakan,
wah berumah tangganya tidak enak.
Punya pasangan hidup tidak enak.
Punya anak tidak enak.
Juga ada di dalam masyarakat pola pikir itu.
Tetapi kenapa yang pasangan hidup
jauh lebih banyak daripada yang tidak berpasangan?
Kalau barang tidak enak,
kok banyak yang mengambil?
Walaupun akhirnya stress-stress sendiri.
Nah,
senang atau tidak senang, bahagia atau tidak bahagia,
bukan karena berpasangan.
Punya pasangan hidup bukan kebahagiaan.
Tidak berpasangan menjadi bigu,
bukan kebahagiaan.
Kebahagiaan itu terletak di pikiran.
Kalau Anda melihat dari sudut gelapnya,
wah jadi bigu sendirian,
kemana-mana tidak punya teman,
sakit tidak bisa, kerohan sendiri.
Kerohan di sini biasa tidak?
Kalau masuk angin ada yang kerohan.
Kalau jadi bigu kan tidak bisa kerohan.
Ya mungkin kerohan di bagian depan bisa.
Tapi kerohan di bagian belakang?
Nah, sedara-sedara,
kebahagiaan itu bukan
karena berumah tangga.
Kebahagiaan bukan
karena menjadi bigu.
Tapi kebahagiaan adalah tergantung pola pikir.
Ketika seseorang melihat dari sudut gelap,
seorang bigu yang sendirian,
seorang bigu yang tidak punya teman,
seorang bigu yang kalau sakit,
kerohan punggungnya tidak bisa dikerohi,
seorang bigu yang kalau capek,
punggungnya tidak ada yang menjidin.
Memang itu lalu terpikir,
aduh jadi bigu tidak enak.
Tapi kenapa kita tidak melihat dari pola pikir yang lain?
Untung saya jadi bigu.
Jadi kalau masuk angin tidak punya kebiasaan kerohan.
Karena kerohan itu bikin luka tubuh saya.
Untung saya jadi bigu.
Sehingga kalau sakit, capek, tidak perlu pijit.
Saya coba mengatasi diri saya sendiri.
Bagaimana kalau capek? Mungkin istirahat.
Nah, ini kan pola pikir dari sudut yang berbeda.
Sedangkan anda yang berumah tangga,
ketika anda melihat dari sudut yang gelap,
tuh rumah tangga ini capek ya,
dulu tahu gini kan sendirian.
Kenapa?
Saya ini dulu kalau tidur,
kasurnya satu saya pakai sendiri.
Sekarang sudah berumah tangga,
saya tangannya sudah tidak bisa buka lagi,
karena kasurnya sekarang dipakai berdua.
Aduh tanganku sekarang.
Jadi mepet sama badanku sendiri.
Dulu kalau aku makan, buahnya tidak apa-apa.
Sekarang sudah berumah tangga,
aku makan harus mikir,
pasangan hidupku sudah makan belum?
Anakku sudah makan belum?
Tidak bisa menghabiskan ikan,
tidak bisa menghabiskan telur.
Kalau kita dari sudut gelap seperti itu,
muncullah kejengkelan.
Tapi coba kita lihat dari sudut terang.
Untung saya berumah tangga.
Jadi kasur saya yang dulu cuma kecil,
sekarang jadi buwesal.
Karena saya panggangannya mau tetap berbuka,
tapi sebelah saya ada pasangan hidup saya,
sekarang saya pakai yang queen size punya.
Buwesal.
Wah saya lapangan Cipapula, enak sungguhan.
Coba kalau aku dulu tidak berumah tangga.
Aduh, kasurku tetap yang dulu saja.
Yang cuma 1 meter 20 lebarnya.
Sekarang lebarnya 3 meter.
Buar sekali bisa untuk lompat-lompat dan Cipapula.
Lalu juga bisa lihat dari sudut yang berbeda.
Untung loh saya berumah tangga.
Kenapa?
Dengan berumah tangga ini,
saya lalu mikirkan anak,
mikirkan pasangan hidup,
saya makan tidak terlalu banyak,
ini disebut diet.
Wah kalau saya sendirian,
saya makan banyak-banyak,
sekarang saya diet.
Ini melihat dari sudut yang berbeda.
Oleh karena itu,
saudara-saudara,
bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?
Anda harus berpikir,
segala sesuatu ada hikmatnya.
Anda harus bisa mengatakan,
untung, untung, untung, untung.
Ada di sini namanya untung?
Tidak ada.
Untung tidak ada yang namanya untung.
Karena kalau ada,
wah diuntung happy sekali.
Apa artinya, saudara?
Coba, saudara, sekarang misalnya.
Naik mobil,
bahannya kempes.
Anda harus bisa ngomong untung.
Untung bahannya cuma kempes satu.
Kan masih ada serepnya.
Aduh, gimana ini?
Banyak kempes.
Untung kempes di sini,
bukan di kuburan sana.
Coba anda selalu berpikir,
untung, untung, untung.
Jadi ketika anda melihat lingkungan anda,
yang menjengkelkan,
misalnya anak anda kok menjengkelkan,
untung punya anak menjengkelkan.
Jadi aku bisa melatih ketabaran,
mengembangkan meta kepada anakku.
Itu kalau anda selalu bisa,
bisa mengatakan untung,
sebetulnya itu sudah happy.
Sebetulnya kalau di tradisi di Indonesia ini,
kata untung itu sudah sangat terkenal sekali.
Ya kan?
Jadi kalau ada orang kecelakaan,
tuh,
kamu kecelakaan tadi ya?
Ya.
Gimana? Ada yang lecet?
Enggak ada.
Untung, enggak ada yang lecet ya?
Jadi gimana?
Sepeda motornya saja yang rusak.
Enggak apa-apa.
Untung, cuma sepeda motornya yang rusak.
Satu ketika, ketemu kecelakaan lagi.
Loh, bagaimana kecelakaan?
Ada, ada yang sakit.
Ada, ini lecet lututnya.
Wah, untung cuma lututnya ya?
Wah, enggak patah.
Tapi lain kali, ini patah kakinya.
Untung patah kaki.
Enggak kegarota.
Tapi ada yang ngomong,
waduh ini kecelakaan kegarota.
Untung kegarota.
Tidak meninggal.
Meninggal ini kecelakaan.
Untung meninggal.
Kalau hidup, waduh, kasihan itu.
Kasian.
Adakah di dalam masyarakat pola pikir itu?
Nah, itu sebetulnya pola pikir mencari kebahagiaan.
Anda semua sudah dapat itu sebetulnya.
Cuma Anda belum fasil menggunakan ilmu itu.
Sepeda motor hilang.
Untung sepeda motor hilang.
Bukan kepala saya yang hilang.
Cuma Anda belum fasil.
Tapi coba sekarang.
Anda kalau ingin bahagia,
kembangkanlah kata untung itu.
Perbanyak kata untung.
Kalau perlu anak Anda diberi nama untung.
Kalau perlu Anda semua berganti nama untung.
Biar happy semua.
Nah, ini cara mendapatkan sebetulnya adalah mengubah pola pikir.
Mengubah pola pikir.
Mengubah pola pikir dengan mencari kata untung.
Untung.
Setiap apa saja yang Anda temui, katakanlah untung.
Itu yang Anda temui kalau penderitaan.
Kalau kebahagiaan, tidak usah ngomong.
Untung naik kelas.
Untung dapat batangan hidup.
Untung punya anak dan sebagainya.
Untung kalau yang happy kita tidak usah ngomong karena itu.
Itu pasti kita bisa lakukan.
Tapi yang penderitaan.
Cobalah sekarang.
Sekarang Anda mulai mengubah cara berpikir Anda.
Jangan selalu berpikir dengan pandangan yang gelap.
Tapi cobalah berpikir dengan yang terang.
Nah, setelah kita bisa merasakan kebahagiaan dengan mengatakan untung.
Kita harus berusaha meningkatkan.
Karena topik kita adalah bagaimana kebahagiaan itu didapat.
Dan bagaimana meningkatkan kebahagiaan.
Karena kalau Anda hanya ngomong untung, untung, untung, untung.
Berhenti sampai di situ.
Anda jadi orang yang pasif.
Orang yang tidak akan ada kemajuan.
Orang yang bakal tertinggal zaman.
Kenapa?
Ya, kalau kita sakit.
Untung saya sakit.
Jadi tidak kerja.
Kalau tidak dapat pekerjaan.
Untung saya tidak dapat pekerjaan.
Jadi bisa di rumah.
Ngemenin pasangan hidup.
Sama menggendong anak.
Kalau tidak punya rumah.
Untung tidak punya rumah.
Jadi bisa selalu pindah ke sana, ke sini.
Bisa ganti KTP, tambah pengalaman.
Banyak tetangga, banyak kenalan.
Kemudian apa lagi?
Apa lagi?
Pokoknya yang jelek-jelek bisa untung, untung, untung.
Akhirnya Anda tidak ada kemajuan.
Tapi ingat, saudara.
Kata untung ini menimbulkan kebahagiaan.
Tapi ada cara yang lain.
Yang bersamaan.
Harus dikerjakan.
Caranya adalah mencari sebab.
Membuat untung tadi.
Jadi ketika banyak kempes.
Untung banyak kempes satu.
Jadi saya masih ada seroknya.
Tapi kemudian kita berpikir.
Kenapa banyak kempes?
Nah ini tahap yang berikutnya.
Kenapa banyak kempes?
Karena saya tadi lewat jalan yang berbatu-batu sehingga sobek.
Kalau begitu lain kali saya tidak boleh lewat tempat yang berbatu.
Sehingga roda saya, ban saya tidak sobek.
Nah sehingga kita bisa menerima kenyataan.
Ban kita kempes.
Tetapi di masa depan.
Kita tidak mengulang.
Penderitaan itu.
Untuk kedua kalinya.
Ketika kita tidak punya rumah.
Untung saya tidak punya rumah sehingga saya bisa menjadi kontraktor.
Kontrak sana, kontrak sini.
Tetapi kita harus merenungkan.
Kenapa saya sudah umur segini.
Kok tetap jadi kontraktor.
Kontrak sana, kontrak sini.
Oh berarti saya ini mungkin kurang menabung.
Atau pengeluaran saya terlalu besar.
Kalau begitu saya berusaha mengurangi pengeluaran.
Sehingga saya bisa menabung.
Sehingga lain kali saya tidak menjadi kontraktor lagi.
Tapi saya sudah punya rumah sendiri.
Nah ini kan jadi ada peningkatan.
Ketika kecelakaan.
Lututnya kena.
Duh lecet.
Untung cuma lututnya tidak patah lagi.
Tapi kita terlalu berpikir.
Kenapa bisa terjadi kecelakaan.
Itu yang dipikirkan bukan.
Kenapa yang luka cuma lututnya.
Kenapa yang tidak patah sekalian.
Bukan itu.
Bukan ditingkatkan lukanya.
Tetapi adalah ditanya.
Kenapa bisa kecelakaan.
Wah kaca kepionnya kecil.
Hari ini kalau saya lihat sepeda motornya anak muda.
Ini kan mau lebih pintar daripada Jepang.
Jepang sudah membuat kaca kepion besar-besar.
Sama anak muda diganti kecil.
Kecil itu hanya lihat bagiannya sendiri.
Mau belok lihat apa.
Nah sudah.
Jadi nabrak.
Kan begitu.
Oh karena kaca kepionnya kekecilan ini.
Saya tidak bisa lihat belakang.
Ya untunglah.
Dengan kecelakaan ini saya bisa belajar.
Kaca kepionnya dipotong lagi yang tidak tandu itu.
Orang-orang yang punya mobil.
Itu juga mau lebih pintar dari Jepang.
Setirnya sudah dibikin hebat.
Diganti sama dia.
Lebih kecil.
Sepiring.
Jadi begitu diputar sedikit.
Mobilnya salto.
Malah pernah saya lihat mobil.
Ya setirnya tidak seperti piring.
Seperti pas-pas di tangan ini loh.
Jadi layannya kosong.
Tapi yang ada yang hanya dipegangannya dua ini saja.
Pernah anda lihat setir model begitu.
Itu sampai atletnya mau maju mau mundur.
Geser sana geser sini bingung.
Dia mau pegang begini loh kok angin.
Dia mau putar loh kok angin.
Nah ini kan mau lebih pintar dari Jepang.
Tapi mikirnya saja ingenialnya sudah setengah mati.
Sampai bungkuk-bungkuk.
Kita ganti yang tidak enaknya saja.
Sudah sedara.
Kalau sekarang kita ngalami.
Nah ini dia.
Jadi kecelakaan.
Untung.
Dengan adanya kecelakaan ini saya belajar.
Setirnya saya kembalikan seperti semuanya.
Kemudian lihat demit.
Lihat demit.
Untung.
Lihat demit.
Jadi saya bisa berbuat saya.
Tapi kenapa saya lihat demit?
Oh.
Saya ini karma.
Karmanya mungkin dekat sama demit.
Kalau begitu bagaimana?
Ya mungkin saya perbanyak meditasi dan lain sebagainya.
Pelimpahan jasa dan seterusnya.
Sehingga akhirnya mungkin demit belum muncul pada kita.
Kita sudah bisa berbagi jasa kepada dia.
Akhirnya demit terlahir di alam yang lebih baik.
Dia tidak lagi menampakkan diri pada kita.
Nah.
Jadi selalu ada proses begitu.
Pasangan hidup cekcok terus.
Kita bisa ngomong untung cekcok dengan pasangan hidup.
Tidak cekcok dengan preman sehingga saya berkelahi.
Okelah begitu.
Tetapi anda juga berpikir.
Kenapa saya cekcok dengan pasangan hidup?
Kenapa saling maki-maki?
Nah.
Diselidiki sebabnya.
Diperbaiki di masa depan.
Inilah untuk cara meningkatkan kebahagiaan.
Mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.
Dengan cara berpikir yang benar.
Kemudian ditingkatkan.
Sedangkan hal yang tadi tidak saya bahagia.
Kebahagiaan yang memang kita sudah miliki.
Misalnya dapat.
Dapat hadiah.
Atau.
Ya dapat hadiah kita bisa ngomong.
Untung saya dapat hadiah.
Kemudian kita tanya.
Kenapa saya bisa dapat hadiah?
Karena saya rajin.
Mengirim.
Itu.
Undian-undian itu loh.
Misalnya.
Kalau bungkus sabun.
Dibuka ada.
Bapak-bapak kirimkan.
Pakai kartu pohon bapak.
Itu di Surabaya itu ada orang.
Yang kaya hanya dari undian.
Ya.
Itu pernah masuk di koran.
Dia dapat televisi.
Dapat kulkas.
Dapat rumah.
Dapat macam-macam dari undian.
Apa yang dia kerjakan?
Pemulung.
Dia pergi keliling Surabaya.
Misalnya sekarang ada undian apa?
Patah gigi.
Dia cari bungkus-bungkus patah gigi itu.
Dia potong, dia kirimi kemana-mana.
Bisa dapat rumah.
Dia katakan.
Perbanyak kesempatan kirim undian.
Nanti dapat.
Ada orang penghasilannya dari kirim undian.
Nah.
Sedara-sedara.
Sekarang misalnya kita dapat undian.
Untung dapat undian.
Kemudian kita tanya kenapa bisa begitu?
Oh karena saya rajin mengirim.
Nah kalau begitu
kita bisa tingkatkan di masa depan.
Untung
anakku baik.
Kenapa anakku baik?
Karena pendidikanku bagus.
Kalau begitu di masa depan aku lanjutkan.
Untung
aku naik kelas.
Kenapa aku bisa naik kelas?
Karena aku belajar dengan lebih rajin.
Kalau begitu aku bisa tingkatkan di masa depan.
Nah dengan demikian
sedara-sedara.
Hal yang baik.
Kita bisa kembangkan.
Dengan kata untung itu kita
menerima kebaikan dan kita bisa
kembangkan di masa depan.
Sebaliknya.
Kalau ada hal yang menderita.
Kita ubah cara berpikir kita.
Bukan melihat dari sudut yang gelap.
Tapi kita lihat dari sudut
yang terang.
Dan kita mengatakan untung.
Lalu kita memperbaiki
di masa depan. Sehingga akhirnya
apa yang tadi disebut penderitaan
tidak akan terulang
di masa depan. Nah dengan demikian
sedara-sedara. Sebetulnya kebahagiaan
ini adalah
proses berpikir.
Semakin banyak anda
bisa mengatakan untung di dalam
setiap kehidupan anda.
Di dalam setiap segi kehidupan anda.
Semakin bahagialah
anda. Namun jangan hanya
berhenti sampai kata untung.
Carilah sebab
kejadian yang baru saja anda
alami. Perbaiki di
masa depan. Maka
kebahagiaan anda akan makin meningkat.
Makin meningkat. Makin meningkat.
Di segala bidang.
Di dalam rumah tangga.
Di dalam pergaulan.
Di dalam pekerjaan.
Apa saja dengan
konsep ini. Kebahagiaan
akan muncul dalam diri anda.
Anda akan melihat
dunia dengan kacamata
yang berbeda. Anda akan melihat
eh ternyata dunia ini penuh
warna. Penuh kebahagiaan.
Menemukan tempat kerja.
Menemukan orang yang menjengkelkan.
Untung saya ketemu orang yang bisa melatih kesabaran seperti ini.
Tapi bagaimana ya
sekarang cara mengatasinya.
Oh ya mungkin saya kalau ketemu dia senyum saja.
Kalau tidak perlu tidak usah
ngomong. Nah dengan begini
kita juga bisa mengurangi
hal-hal yang mungkin menjengkelkan
atau memperbanyak
karma buruk kita berdua.
Nah saudara-saudara inilah
yang perlu saya sampaikan sebagai awal.
Semoga apa yang
Berikan pada malam hari ini
Bisa lah memberikan manfaat
Untuk anda semua
Memberikan pola pikir
Yang berbeda kepada anda semua
Sehingga akhirnya kebahagiaan
Menjadi milik anda
Sehingga kemana saja anda pergi
Anda selalu berbahagia
Dan setiap saat
Umur bertambah
Anda pun selalu bertambah bahagia
Semoga anda berbahagia
Di dalam Dharma
Semoga semua makhluk
Baik yang tampak maupun yang tidak tampak
Memperoleh kebaikan kebahagiaan
Sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing
Sabe, Satang, Bawang, Tuh, Sukhita, Tang
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya