Ceramah ini membahas tentang pentingnya menyadari hidup saat ini sebagai inti ajaran Buddha, terutama dalam rangka perayaan Waisak. Pembicara mengawali dengan menjelaskan makna Waisak sebagai momen ketika Pangeran Siddhartha menyadari bahwa pikiran dan keinginan adalah sumber masalah, dan beliau mengajarkan meditasi sebagai cara mengatasinya. Masalah utama yang diangkat adalah kecenderungan pikiran untuk melayang ke masa lalu atau masa depan, yang menyebabkan stres, ketakutan, dan kegelisahan. Gagasan utamanya adalah bahwa meditasi, khususnya meditasi nafas, adalah alat untuk menarik pikiran kembali ke saat ini, karena nafas selalu ada dan mudah dijadikan objek perhatian. Pembicara menggunakan analogi kendaraan yang rusak jika badan dan pikiran tidak sejalan untuk menekankan pentingnya keselarasan tersebut. Alur pemikiran berkembang dari penjelasan makna Waisak, kemudian pentingnya hidup saat ini, dilanjutkan dengan latihan meditasi nafas, penerapan dalam kehidupan sehari-hari, hingga Waisak sebagai simbol pencerahan batin. Di akhir, pembicara mengajak pendengar untuk berkomitmen berlatih meditasi 15 menit pagi dan sore, dengan keyakinan bahwa melalui kemauan, kebahagiaan dan kebebasan dari penderitaan dapat dicapai. Pesan utamanya adalah bahwa pencerahan dan kebahagiaan dapat diraih dengan menyadari setiap momen saat ini, dan Waisak bukan hanya peringatan historis tetapi juga kesempatan untuk mencapai pencerahan batin sendiri.
Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
Pembukaan dan Makna Waisak
Pembicara membuka dengan menjelaskan bahwa meditasi bersama dilakukan dalam rangka menyambut detik-detik Waisak, yang dirayakan umat Buddha di seluruh dunia. Waisak adalah saat Pangeran Siddhartha menyadari bahwa pikiran dan keinginan adalah sumber masalah, dan beliau mengajarkan cara mengatasinya melalui meditasi.
Pentingnya Hidup Saat Ini
Pembicara menekankan bahwa kunci Dharma adalah menyadari apa yang sedang dilakukan saat ini. Jika pikiran tidak berada pada saat ini, akan timbul stres, ketakutan, dan kegelisahan. Meditasi adalah cara untuk menarik pikiran yang melayang ke masa lalu atau masa depan kembali ke saat ini.
Analogi Kendaraan dan Latihan Nafas
Menggunakan analogi kendaraan yang rusak jika badan dan pikiran tidak sejalan, pembicara menjelaskan bahwa meditasi nafas adalah latihan sederhana untuk menyadari saat ini. Nafas selalu ada, sehingga mudah dijadikan objek meditasi. Latihan ini membantu menarik pikiran yang ketinggalan atau mendahului.
Penerapan Hidup Saat Ini dalam Kehidupan Sehari-hari
Pembicara memberikan contoh penerapan hidup saat ini dalam berbagai peran, seperti pekerja, pelajar, dan rumah tangga. Dengan fokus pada saat ini, kita dapat bekerja maksimal, belajar rajin, dan menyayangi pasangan, sehingga terhindar dari stres dan kecemasan.
Waisak Sebagai Simbol Pencerahan Batin
Pembicara menjelaskan bahwa Waisak bukan hanya peringatan lahirnya Buddha, tetapi juga momen untuk mencapai pencerahan batin sendiri. Jika kita mampu mengatasi kebencian, ketakutan, dan kecemasan, maka Waisak ada dalam diri kita masing-masing.
Tahun Baru Buddhis dan Komitmen Latihan
Pembicara mengucapkan selamat tahun baru Buddhis dan mendorong pendengar untuk berkomitmen melatih meditasi 15 menit pagi dan sore. Dengan kemauan, kita dapat meraih kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan, sesuai ajaran Buddha.
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Saudara-saudara, baru saja kita bersama-sama melakukan meditasi dalam rangka menyambut detik-detik Waisak.
Dan selama meditasi tadi, sesungguhnya kita telah melewati saat-saat Waisak yang diperingati oleh umat Buddha dari berbagai tempat, yaitu tepat jam 7 kurang 10 pagi.
Saya katakan umat Buddha di berbagai tempat.
Karena memang pada waktu kita jam 7 kurang 10, yang di Kalimantan misalnya, dia juga mengadakan pada jam ini, walaupun di sana adalah jam 8 kurang 10 malam.
Di Irian juga mengadakan waktu ini.
Walaupun di sana jam 9 kurang 10.
Bahkan di berbagai kota di negara lain pun juga mengadakan acara tepat waktu ini.
Oleh karena itu, saudara-saudara, kita tadi bersama-sama dengan para umat Buddha di seluruh penjuru dunia mengadakan meditasi bersama.
Detik-detik Waisak adalah Purnama Sidi atau saat bulan persis, bulan Purnama yang paling bulat.
Yang pada saat itu, Pangeran Siddhartha menyadari sepenuhnya bahwa sebetulnya pikiran inilah yang menimbulkan kesalahan.
Keinginan, keinginan inilah yang menimbulkan permasalahan, sehingga ketika kita berkumpul dengan yang dibenci dan berpisah dengan yang dicinta, akhirnya stress.
Pada saat Purnama Sidi itu, di bulan Waisak, pada saat beliau berulang tahun, yang ke-35 tahun.
Dan beliau bukan hanya mengajarkan bahwa,
pikiran ini sebetulnya yang bikin problem, tetapi beliau juga mengajarkan bagaimana cara mengatasi, bagaimana cara mengendalikan pikiran tersebut.
Caranya bagaimana? Seperti yang tadi telah Anda latih, yaitu dengan bermeditasi.
Meditasi sebetulnya adalah menimbulkan kesalahan.
Menimbulkan kebiasaan berpikir, memperhatikan apa saja yang sedang dikerjakan, menyadari apa saja yang sedang dikerjakan, saat ini saya sedang apa.
Sebetulnya kunci Dharma adalah itu, saat ini saya sedang apa.
Oh saat ini saya sedang bekerja, saat ini saya sedang berbicara, saat ini saya sedang berpikir.
Itulah sebetulnya.
Sebetulnya kunci perilaku di dalam agama Buddha.
Kenapa sedemikian penting memperhatikan hidup saat ini?
Karena manusia yang tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk tetap hidup pada saat ini,
dia pasti akan mengalami stres, ketakutan, kegelisahan, kekecewaan, yang semua itu.
Akibatnya membuat batin tidak seimbang.
Kalau anda mau tidur sulit.
Anda sulit tidur.
Apa sebab?
Karena pada saat anda sedang berbaring badannya, pikiran anda itu sudah berpikir.
Besok mau apa ya?
Setahun lagi mau bagaimana ya?
Dua tahun lagi bagaimana?
Sepuluh tahun lagi bagaimana?
Jadi badan anda di sini.
Badan anda di tempat tidur pada saat ini.
Badan anda di tempat tidur pada saat ini.
Tetapi pikiran anda itu sudah melewati masa yang akan datang.
Setahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, seratus tahun.
Bahkan nanti saya mati mau kemana.
Badannya ketinggalan akhirnya stres.
Atau sebaliknya, badannya yang duluan.
Pikirannya yang ketinggalan.
Jadi pada waktu badan sudah di tempat tidur, masih mikir.
Tadi kenapa saya begitu?
Kenapa tahun lalu saya melakukan kesalahan seperti itu?
Kenapa lima tahun yang lalu begini?
Kenapa dua puluh tahun yang lalu begitu?
Jadi badan kita sudah di sini, pikiran anda masih di dua puluh tahun yang lalu.
Akhirnya anda ketinggalan pikirannya.
Jadi konflik.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Badannya sudah sampai sini, pikiran masih di sana.
Sebaliknya badan sudah baru sampai di sini, pikirannya sudah jalan kemana-mana.
Nah, meditasi itu sebetulnya menarik pikiran yang ketinggalan supaya sampai saat ini.
Sebaliknya ngerem pikiran yang akan datang supaya saat ini.
Ketika seseorang sudah bisa ngerem pikirannya atau narik,
sehingga badan dan batin tetap pada saat yang sama,
barulah bisa senang.
Anda kan biasa naik sepeda motor,
atau naik mobil.
Coba anda bayangkan naik sepeda motor atau mobil,
badannya ketinggalan.
Adakah itu badan yang tau-tau lepas ketinggalan?
Atau mobilnya jalan?
Rusak?
Atau badan yang duluan?
Itu juga ada.
Biasanya kalau yang ketinggalan itu badan belakang.
Putus asnya atau apa, ketinggalan.
Jadi mobilnya masih jalan, badannya berhenti.
Tetapi ada juga badan yang duluan.
Itu biasanya badan depan.
Kalau putus, duluan dia jalan ke depan.
Nah, ini mobil sudah ketinggalan.
Itu mobil tidak bisa bergerak.
Mobil menjadi rusak karena badan tidak bareng dengan mobilnya.
Sama dengan diri kita, saudara.
Badan kita sudah di sini,
tapi pikiran ketinggalan,
atau pikiran mendahului,
mesti menimbulkan masalah.
Salah satu contoh yang paling gampang.
Ketika anda tidur,
atau akan tidur,
pikiran anda lari ke lampu atau yang akan datang,
tidur mesti sulit.
Meditasi ini adalah,
sarana untuk menarik pikiran anda itu supaya sama.
Nah, bagaimana?
Seperti yang tadi telah anda latih,
adalah dengan menyadari saat ini saya sedang apa?
Oh, narik nafas.
Keluar nafas.
Narik nafas.
Keluar nafas.
Ini adalah latihan.
Karena nafas anda itu selalu nempel pada diri anda,
sejak anda masih bayi,
sampai nanti meninggal dunia,
nafas itu tetap nempel.
Sehingga nafas dijadikan obyek meditasi akan lebih gampang.
Kalau nanti dupa misalnya,
baunya dijadikan obyek meditasi,
anda harus pasang dupa,
karena wanginya dupa tidak nempel pada diri kita.
Atau anda menggunakan lilin sebagai obyek meditasi,
anda harus pasang lilin,
karena api tidak nempel.
Di dalam diri kita.
Tetapi ketika anda memperhatikan nafas anda,
anda tidak perlu bersiapan apapun juga.
Karena dimanapun anda pergi,
dimanapun anda tinggal,
nafas itu selalu ada.
Dan anda tinggal katakan dalam diri sendiri,
saat ini saya sedang apa?
Sedang menarik nafas masuk.
Saat ini saya sedang mengeluarkan nafas.
Nah,
ini dijadikan kebiasaan.
15 menit bangun tidur,
15 menit malam mau tidur.
Apa manfaatnya?
Pada saat anda mau tidur,
badan anda sudah berbaring,
ketika pikiran anda itu menyimpang,
dan anda berpikir,
nanti tahun depan bagaimana ya,
dua tahun lagi kalau saya begini bagaimana ya,
lima tahun lagi,
dan anda sulit tidur,
anda bisa langsung menyadari,
saat ini saya sedang apa?
Saat ini saya sedang berbaring,
mau tidur.
Nah, pikiran itu ditarik mundur,
direm,
jangan ngebut.
Sekarang badan saya masih di sini.
Jangan mikir 5, 6 tahun, 10 tahun lagi.
Loh, apakah kita tidak boleh punya rencana?
Boleh,
tapi merencanakannya nanti.
Kalau tidak, waktu tidur.
Mungkin waktu jam kerja anda,
anda mikir.
Tapi waktu tidur,
anda adalah untuk istirahat.
Sebaliknya,
waktu anda sedang berbaring,
mau tidur,
mikir hidup kemarin,
kenapa saya melakukan itu,
dua minggu yang lalu,
tiga minggu,
sepuluh hari yang lalu,
atau dan seterusnya,
anda bisa langsung tahu,
loh, saat ini saya apa sih?
Saat ini saya sedang tidur, loh.
Kok pikiran ketinggalankah kemarin?
Tarik lagi.
Dipercepat.
Sehingga, loh, saat ini saya mau tidur.
Set.
Akhirnya tidur.
Ini adalah cara yang sederhana,
karena waktu tidur,
itulah anda mengalami macam-macam.
Tetapi coba anda kembangkan
di dalam kehidupan anda sehari-hari.
Misalnya anda sebagai orang yang bekerja.
Pekawai negeri, misalnya.
Takut.
Dah, udah.
Nanti kalau saya pensiun, bagaimana?
Uang pensiun saya ini cukup apa?
Tidak.
Pada saat anda berpikir begitu,
anda melihat yang akan datang.
Padahal mungkin anda belum pensiun.
Sehingga pikiran anda selalu gelisah.
Terus akhirnya,
anda mungkin stress.
Dah, kalau begitu,
sebelum pensiun, saya mau memensiunkan sendiri.
Ini ada obat serangga,
semua saya minum saja.
Biar cepat.
Anda stress menghadapi itu.
Sebaliknya, anda juga bisa berpikir,
wah, dulu waktu aku muda gagah-gagahnya.
Itu kenapa ya?
Sekarang aku kok sakit-sakitan,
bergerak sedikit, boyok sakit,
pegelinu, apa semua.
Loh, itu kan dulu.
Beberapa tahun yang lalu.
Anda tarik pikiran seperti itu.
Ketinggalan pikiran itu.
Lima, enam tahun, sepuluh tahun yang lalu.
Anda sudah lampaui pengalaman itu.
Sehingga anda sekarang saat ini sedang apa?
Sehingga anda bisa menerima bahwa sebetulnya
umur anda sudah bertambah.
Sehingga anda tidak menyesali lagi,
coba aku kalau masih muda,
mesti aku bisa begini,
mesti aku bisa begitu.
Kenyataan kita sudah tidak bisa demikian.
Sudah-sudah.
Jadi meditasi yang di dalam Dharma diajarkan adalah
mengajarkan hidup saat ini.
Karena begitu,
anda bisa melakukan hidup saat ini,
maka anda akan terbebas dari segala macam stres,
penderitaan, ketakutan.
Anda takut demikian?
Ada yang takut demikian?
Takut?
Gelap-gelap takut?
Itu sebetulnya pikiran anda tidak pada saat ini.
Ketika lampu di sini gelap semua,
anda lalu mikir,
nanti kalau ada demikian bagaimana ya?
Kalau menyekik leherku bagaimana ya?
Kalau menggigit gitaku bagaimana ya?
Itu nanti.
Pikiran anda sudah mewaju ke sekian tempat,
sehingga akhirnya anda ketakutan sendiri.
Atau anda lalu bayangkan ini,
kalau di televisi yang pernah saya lihat,
kalau gelap-gelap begini ada gemetnya apa-apa,
anda langsung takut.
Ini semua adalah kerjaan pikiran anda.
Ketika orang mengalami rasa takut,
ketika orang mengalami kegelisahan,
kekecewaan,
kecemasan,
sebetulnya orang itu tidak hidup di dalam Dharma.
Orang itu tidak melaksanakan hidup saat ini,
tidak bermeditasi.
Kalau sudah begitu,
umat Buddha yang sekian tahun jungkir balik sembayang,
tidak ada hatinya.
Kenapa?
Karena anda belum hidup saat ini.
Anda yang jungkir balik itu masih tradisi Buddhis.
Pasang dupa, pasang lilin itu hanya tradisi.
Baca parita itu hanya tradisi.
Tetapi sebetulnya praktek Dharma yang sesungguhnya,
ketika anda bisa terbebas
dari ketamaan, kebencian, kegelapan batin,
alias anda bisa diwujudkan,
anda sudah tidak punya rasa takut, stress dan lain sebagainya.
Cemas, gelifah, tidak ada.
Nah, sekarang saudara-saudara,
apakah kita harus melupakan masa lampau? Tidak.
Kalau hidup saat ini, bukan berarti lupa masa lampau.
Hidup saat ini itu,
melihat masa lampau,
sebagai pengalaman.
Kenapa saya dulu pernah mengalakukan kesalahan seperti itu?
Kalau begitu, saat ini saya perbaiki.
Karena saya nyesel pun,
saya tidak bisa mengubah
kenyataan masa lampau.
Saya sedih pun,
sampai menangis keluar air mata darah pun,
tidak bisa saya mengubah
masa lampau.
Nah, dengan demikian,
maka kita akan bisa
menerima masa lampau sebagai pengalaman hidup
dan menjadikan pengalaman hidup itu pelajaran
untuk ditingkatkan di saat ini.
Kemudian sebaliknya,
apakah orang yang hidup pada saat ini
berarti tidak boleh punya rencana di masa depan?
Boleh.
Maka tadi saya katakan pada awal
pembicaraan kita,
Anda boleh punya rencana,
tetapi cara berpikirnya itu dimulai
dari saat ini.
Misalnya begini,
wah saya ingin kerja saya sukses,
sekolah saya pintar,
tetapi bagaimana Anda mewujudkan kerja sukses?
Sekolah pintar,
itu adalah saat ini.
Mau sekolah pintar?
Saat ini belajar.
Belajar yang rajin.
Dengan Anda belajar yang rajin,
sekolah pintar itu akan Anda bisa capai di masa depan.