Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Memperkuat Tekad

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Memperkuat Tekad

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas tentang pentingnya tekad dalam kehidupan, dengan mengambil inspirasi dari perjalanan Pangeran Siddhartha menuju pencerahan. Pembicara mengawali dengan ucapan selamat Waisak dan mengingatkan bahwa makna simbolik di balik upacara keagamaan lebih penting daripada sekadar ritual. Ia kemudian menceritakan kisah Pangeran Siddhartha yang, setelah mengembangkan teknik meditasi, bertekad untuk tidak bangkit sebelum mencapai kesucian, dengan bumi sebagai saksi. Tekad yang kuat ini menjadi fondasi pencapaian pencerahan. Pembicara mengajak umat untuk meneladani tekad tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam kuliah, pekerjaan, dan rumah tangga, dengan menekankan pentingnya tujuan yang jelas dan semangat pantang menyerah. Ia juga memperingatkan bahaya kurang tekad, seperti sering berpindah pekerjaan, berganti objek meditasi, atau mudah putus asa, yang berujung pada penderitaan. Oleh karena itu, ia mendorong pendengar untuk merumuskan tujuan hidup yang jelas, baik untuk kebahagiaan pribadi maupun manfaat bagi orang lain, dan menjadikannya sumber semangat. Semangat yang konsisten dan profesional, tidak mudah padam seperti gelembung sabun, sangat ditekankan, dengan meneladani semangat Buddha. Ceramah ditutup dengan ajakan untuk menghayati Dharma melalui semangat dan tujuan, serta doa agar semua makhluk berbahagia sesuai karmanya masing-masing. Pesan utamanya adalah bahwa tekad yang kuat dan tujuan yang jelas adalah kunci untuk mengatasi rintangan dan mencapai kebahagiaan sejati.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pembukaan dan Makna Waisak
    Pembicara membuka dengan ucapan selamat Waisak, menjelaskan bahwa Waisak kini menjadi hari libur internasional, dan menekankan pentingnya memahami makna simbolik di balik upacara keagamaan, bukan sekadar ritual.
  2. Kisah Pangeran Siddhartha dan Tekadnya
    Menceritakan perjalanan Pangeran Siddhartha mencapai pencerahan, termasuk pengembangan teknik meditasi dan tekadnya yang kuat untuk tidak bangkit sebelum mencapai kesucian, dengan bumi sebagai saksi.
  3. Aplikasi Tekad dalam Kehidupan Sehari-hari
    Mengajak umat untuk meneladani tekad Buddha dalam kehidupan modern, seperti dalam kuliah, pekerjaan, dan rumah tangga, dengan menekankan pentingnya tujuan yang jelas dan semangat pantang menyerah.
  4. Bahaya Kurang Tekad dan Gonta-ganti Tujuan
    Menggambarkan akibat dari kurang tekad, seperti sering berpindah pekerjaan, berganti objek meditasi, atau putus asa, yang berujung pada penderitaan, dan menekankan perlunya ketekunan.
  5. Menentukan Tujuan Hidup dan Kebahagiaan
    Mendorong pendengar untuk merumuskan tujuan hidup yang jelas, baik untuk mendapatkan kebahagiaan maupun memberi manfaat bagi orang lain, dan menjadikannya sebagai sumber semangat.
  6. Semangat yang Konsisten dan Profesional
    Mengajak untuk memiliki semangat yang tidak mudah padam, seperti gelembung sabun, melainkan konsisten dan profesional dalam segala bidang, dengan meneladani semangat Buddha.
  7. Penutup: Hidup dengan Semangat dan Tujuan
    Menutup dengan ajakan untuk menghayati Dharma melalui semangat dan tujuan, serta doa agar semua makhluk berbahagia sesuai karmanya masing-masing.
PracticeAI · suggestedMindful LivingAI · suggestedRight IntentionAI · suggestedHappinessAI · suggestedPerseveranceAI · suggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Na'mo tassa, na'mo tassa, hak kewato, hak to, sama, sambut tassa, mo tassa, kewato, sambut tassa, na'mo tassa, hak kewato, sama, sambut tassa, hidup sesuai dengan Dharma.
Akan memberikan kebahagiaan.
Saudara-saudara, para bapak dan ibu yang berbahagia, pada awal perjumpaan kita pagi hari ini, saya mengucapkan selamat Waisak kepada Anda sekalian.
Karena memang Waisak adalah merupakan salah satu dari empat hari raya di Indonesia.
Di dalam agama Buddha.
Kita mengenal hari raya yang pertama adalah kalau kita mengikuti penanggalan umum mulai Januari, Februari, dan seterusnya.
Hari raya yang pertama di bulan Februari kita mengenal Magabuja.
Kemudian kita mengenal Waisak, Kabuja, biasanya bulan Mei atau bulan Juni sekarang.
Kemudian nanti sebentar lagi kita akan memperingati.
Asadabuja, dan yang berikutnya nanti Katina.
Dan Waisak, terakhir ini merupakan hari libur nasional.
Baru saja saya mendapat informasi bahwa Waisak ini sekarang bukan hanya sebagai hari libur nasional.
Tetapi menjadi hari libur internasional.
Kenapa demikian?
Kenapa?
Karena PBB baru saja mengumumkan bahwa Waisak ini sekarang menjadi salah satu hari yang diperingati seluruh dunia.
Karena itu ini adalah merupakan bagi umat Buddha.
Karena sekarang Waisak bukan hanya dikenal di Indonesia.
Atau hanya dikenal di negara-negara Buddhis.
Tapi Waisak dikenal di seluruh dunia.
Saudara-saudara.
Kalau sekarang Waisak ini kita peringat.
Tapi pada hari ini, kita hendaknya bisa memahami bahwa peringatan di dalam agama Buddha.
Bukan hanya sekedar kita hanya datang, memasang dupa, memasang lilin, ikut membaca parita.
Bukan hanya sekedar gitu.
Tetapi ketika kita memperingati Waisak.
Ataupun hari-hari raya agama Buddha yang lain.
Coba lah kita sekarang berusaha memahami apa makna-makna simbolik yang ada di dalam berbagai bentuk upacara dan peringatan tersebut.
Tidak bisa lepas dari upacara dan simbolisme.
Kalau Anda hanya memahami upacara saja.
Anda akan menggunakan sebagian dari kemampuan kita sebagai seorang.
Umat beragama.
Sebaliknya kalau Anda hanya memahami simbolisme agama.
Tanpa mengikuti upacara.
Kita juga hanya sebagian dari kemampuan kita.
Justru simbolisme agama dan upacara kalau dijadikan satu.
Barulah kita menjadi seorang umat beragama yang lengkap.
Saudara-saudara.
Kalau sekarang kita melihat riwayat pangeran Siddhartha menjadi Buddha.
Karena Waisak pada hari ini.
Sebetulnya adalah merupakan peringatan.
Bagaimana kehebatan Sang Buddha.
Waisak seperti yang kita ketahui adalah merupakan peringatan Trisuci.
Tiga peristiwa penting.
Yang ada di dalam kehidupan.
Guru kita Sang Buddha Kottama.
Peringatan yang pertama adalah kelahiran pangeran Siddhartha.
Peringatan yang kedua adalah pangeran Siddhartha menjadi seorang Buddha.
Dan peringatan yang kedua adalah pangeran Siddhartha menjadi seorang Buddha.
Dan peringatan yang ketiga adalah pangeran Siddhartha yang telah menjadi Buddha.
Wafat.
Setelah menghajarkan dharma 45 tahun lama.
Lahir, mencapai kesucian, dan wafat.
Tiga peristiwa inilah yang disepakati.
Disepakati menjadi satu hari peringatannya.
Yaitu.
Saudara-saudara.
Sekarang kita akan menyoroti lebih dalam.
Kenapa?
Kenapa seorang pangeran Siddhartha.
Setelah enam tahun lamanya bermeditasi.
Beliau bisa mencapai kesucian.
Pangeran Siddhartha mencapai kesucian salah satunya.
Karena beliau bisa mengubah.
Cara teknik bermeditasi.
Enam tahun lamanya beliau bermeditasi dengan obyek konsentrasi.
Setelah berguru pada udaka ramaputa dan alara kalama.
Bahkan beliau menggunakan teknik.
Teknik-teknik meditasi lainnya yang belum pernah dipakai oleh para pertapa pada jaman itu.
Kemudian beliau akhirnya menyadari bahwa teknik seperti ini harus diperbaiki.
Teknik seperti ini harus dikembangkan.
Tetapi bukan ditinggalkan.
Kenapa demikian?
Karena kalau kita melihat dalam jalan mulia beruncur delapan.
Masati sama samadhi.
Bukan hanya sama-sama.
Tapi kalau pangeran Siddhartha atau sang Buddha.
Menganggap bahwa cara meditasi yang pertama ini salah.
Enam tahun lamanya ini salah.
Maka tidak ada sama-samadhi.
Padahal samadhi adalah merupakan punca pencapaian di dalam samadha tawanan.
Meditasi konsentrasi.
Tetapi pangeran Siddhartha setelah menjadi Buddha.
Tetap menggunakan sama-samadhi ini sebagai sakit.
Salah satu dari jalan mulia beruncur delapan.
Tetapi beliau mengembangkan sama-samadhi.
Kesadaran yang benar.
Yang nanti dikembangkan dengan vipassana bhavana.
Oleh karena itu saya tidak mengatakan ada perubahan total.
Setelah enam tahun lamanya bermeditasi.
Kemudian mengembangkan sesuatu yang baru.
Bukan perubahan total.
Tetapi adalah pengembangan dari kemampuan yang lama.
Nah, saudara-saudara.
Setelah pangeran Siddhartha ini mengembangkan satu teknik yang nanti disebut.
Akhirnya di belakangan nanti disebut vipassana bhavana.
Beliau kemudian bermeditasi.
Dengan mengembangkan vipassananya ini.
Dan apa yang menarik kita perlu pelajari.
Pada saat sebelum masa wisat.
Pada saat sebelum beliau mencapai kesucian.
Beliau duduk bersila.
Dengan tangan kiri di pangkuan.
Dan tangan kanan diletakkan di lutut.
Menyentuh ke lantai.
Seperti Buddha Rupang yang ada di depan anda ini.
Ketika anda melihat Buddha Rupang ini.
Jangan anda menganggap.
Ya ini kan sekedar hiasan, variasi saja.
Bentuk tangan yang begini begitu.
Tidak.
Ini mempunyai satu makna yang dalam.
Pada saat beliau memegang ke tanah.
Beliau menjadikan bumi ini sebagai saksi.
Karena itu posisi mudra atau posisi tangan.
Seperti yang digambarkan pada Buddha Rupang yang ada di tempat ini.
Adalah bumi separasa mudra.
Menjadikan bumi sebagai saksi.
Pada saat itu beliau masih bodhisattva.
Belum mencapai kebuddhan.
Beliau kemudian bertekad.
Saya tidak akan bangkit dari tempat duduk ini.
Sebelum saya mencapai kesucian.
Dan bumi inilah sebagai saksinya.
Karena itu beliau memegang bumi.
Dengan ketiga jarinya.
Untuk menjadikan bumi sebagai saksi.
Dan setelah itu beliau betul-betul bermeditasi terus.
Itu nanti di dalam riwayat sang Buddha akan ada lihat nanti.
Ada mata jaga yang pertama.
Mata jaga yang kedua dan seterusnya.
Sehingga beliau mengingat kehidupan-kehidupan yang lampau dan seterusnya.
Sampai akhirnya beliau menyimpulkan.
Kenapa manusia bisa lahir kembali, lahir kembali.
Apa sebab.
Dan beliau bisa merumuskan.
Penyebab kelahiran kembali.
Adalah keinginan.
Dan beliau bisa merumuskan.
Cara mengendalikan keinginan.
Dengan melaksanakan jalan mulia berujung.
Nah saudara-saudara.
Ini adalah ilustrasi cerita guru kita.
Yang bertekad.
Tidak akan bangkit.
Sebelum mencapai kesucian.
Saudara-saudara.
Kita sebagai seorang maghuda.
Pada hari ini kita melakukan puja bhakti.
Tetapi kita harus mengerti makna simboliknya.
Apakah simbolik di masa waisak seperti ini?
Apakah simbolik di masa waisak seperti ini?
Bahwa seorang maghuda.
Ketika kita menjadi seorang maghuda.
Kita harus berusaha mengikuti ajaran sang buddha.
Kita harus berusaha menjadikan.
Hidup sang buddha.
Cara hidup sang buddha itu juga sebagai pedoman hidup kita.
Maka salah satu pedoman hidup kita adalah.
Sang buddha.
Saya tidak akan bangkit dari tempat duduk.
Sebelum mencapai kesucian.
Benar-benar dijalani.
Sehingga marah datang dan lain sebagainya.
Tetap semua bisa dihalau.
Dan akhirnya beliau mencapai kesucian.
Sekarang kita saudara.
Kalau kita memang mengaku sebagai umat buddha.
Kalau kita mengaku sebagai murid sang buddha.
Sudahkah kita punya tekad yang kuat?
Tekad kuat berdasarkan tujuan.
Ataukah kita kadang tekadnya lemes-lemes?
Misalnya saja.
Kuliah.
Saya yakin.
Anda semua kalau kuliah.
Pengennya dapat ilmu yang banyak.
Ya kan?
Saya yakin.
Tetapi kenapa ketika dosen tidak masuk.
Anda gembira.
Dimana tekad anda yang katanya mau dapat ilmu yang banyak.
Kenapa begitu dosennya tidak masuk.
Anda gembira.
Padahal begitu dosen tidak masuk.
Anda hilang kesempatan mendapatkan ilmu.
Kenapa gembira?
Karena manusia.
Tidak tetap.
Tujuan hidupnya tidak jelas.
Semangat hidupnya tidak jelas.
Padahal kalau dia mengerti tujuannya saya kuliah adalah untuk mendapat ilmu.
Maka begitu dosen tidak masuk.
Saya gunakan waktu saya untuk ke perpustakaan.
Baca buku di perpustakaan sehingga menambah ilmu.
Bahkan mungkin saya bisa menambah ilmu lebih banyak.
Daripada ketika dosen datang.
Kenapa kita habiskan ngobrol di kantin?
Kenapa kita habiskan ngerumpi di dalam ruang?
Kelas.
Kenapa?
Karena kita belum.
Belum mengerti simbolisme Dharma tadi.
Karena itu kalau sekarang kita sudah mengerti simbolisme Dharma.
Pangeran Siddhartha saja bertekad.
Saya tidak akan bangkit dari tempat duduk sebelum mencapai kesucian.
Coba anda lakukan tekad itu.
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun anda tidak perlu mengatakan.
Saya tidak akan bangkit dari tempat duduk.
Sebelum saya lulus ujian.
Waduh.
Nanti kalau mau ke kamar kecil kan susah.
Tetapi anda boleh tekad yang sama.
Intinya apa?
Sebelum anda menyelesaikan satu tugas.
Jangan patah semangat.
Kenapa demikian?
Karena sering di dalam kehidupan anda sebagai seorang pelajar.
Sering di dalam kehidupan anda sebagai seorang berumah tangga.
Sering di dalam kehidupan anda di dalam masyarakat.
Banyak sekali.
Hal-hal yang membuat kita patah semangat.
Orang yang menjalani rumah tangga kadang-kadang berpikir.
Aduh.
Kok hidup berumah tangga sulit ya.
Aku tidak berumah tangga.
Aku ikut bantenya saja.
Tapi jangan dikira jadi bante juga tidak bisa stres.
Karena nanti mungkin waktu jadi bante juga berpikir.
Aduh.
Sulit juga ya.
Jadi biku.
Jadi sama nila.
Aduh.
Sudah lebih baik kembali ke masyarakat lagi.
Karena kalau semua enak jadi biku.
Bikunya hari ini sudah ratusan di Indonesia.
Buktinya patah tumbuh hilang berganti.
Banyak yang patah tumbuhnya sedikit.
Kenapa bisa begitu?
Karena semangat.
Rekam.
Oleh karena itu kehidupan sebagai seorang biku.
Ataupun kehidupan sebagai seorang umat.
Sama.
Yang paling dipentingkan adalah tekadnya.
Kalau anda tekad dalam setiap segi kehidupan anda.
Maka apapun juga profesi anda.
Sebagai perdagang.
Pekerja.
Biku.
Sama nila.
Apa saja anda akan profesional.
Di dalam profesi anda.
Sekarang anda harus punya tekad.
Tapi tekad yang kuat.
Seperti pangeran sidarta.
Aku bertekad.
Tidak akan berdiri dari tempat duduk sebelum mencapai kesucian.
Karena beliau melihat tujuan adalah kesucian.
Tujuan anda.
Apakah tujuan anda?
Mungkin anda cari duit.
Kalau begitu.
Belum saya mendapatkan duit sekian x rupiah.
Saya tidak akan berhenti bekerja.
Kalau anda sudah selalu bertekad seperti itu.
Kesulitan di dalam pekerjaan anda pasti akan hadapi.
Selama saya belum mencapai tujuan.
Kesulitan apapun juga.
Hadapi.
Hadapi.
Hadapi.
Ketika anda berumah tangga.
Tujuan hidup anda apa?
Saya ingin membahagiakan pasangan hidup saya.
Misalnya.
Kalau begitu.
Sebelum saya bisa membuat dia selalu tersenyum setiap hari.
Ketika dia masih menangis dalam salah satu hari.
Saya harus terus berusaha.
Terus berusaha.
Walaupun kita boleh bangkit dari duduk.
Ya.
Jadi jangan.
Aku duduk terus.
Pokoknya aku membuat kamu bahagia.
Waduh.
Malah gak nyambut gawe.
Tidak bekerja nanti.
Tapi sekarang kita berdekat.
Aku ingin membahagiakan pasangan hidupku.
Apa saja yang aku lakukan.
Apa saja yang aku katakan.
Apa saja yang aku pikirkan.
Adalah demi kebahagiaan pasangan hidupku.
Ketika semangat anda muncul seperti itu.
Pasangan hidup anda menjengkelkan.
Sebagaimana apapun juga.
Anda tetap bisa menerima kenyataan.
Oh dia menjengkelkan.
Berarti aku masih kurang membahagiakan dia.
Aku harus bahagiakan lagi.
Kenapa?
Karena aku bersemanat untuk membahagiakan dia.
Ketika anda kuliah ingin mencari ilmu pengetahuan.
Maka anda harus.
Aku harus tetap belajar.
Walaupun film-film bagus banyak.
Menjadi pancingan di masyarakat.
Aku harus tetap belajar.
Walaupun teman-temanku lebih suka mengajak aku ke mall dan ke kafe-kafe.
Tapi aku tetap harus belajar.
Kenapa?
Karena aku punya semangat di dalam Dharma inilah.
Semangat hidup di dalam Dharma inilah.
Sebetulnya yang harus kita kembangkan.
Karena kita adalah umat Buddha.
Kalau guru kita saja yang penuh semangat.
Bisa melakukan hal-hal yang hebat.
Sampai mencapai kesucian.
Sehingga sampai sekian ribu tahun.
Masih kita peringati kesucian beliau.
Kita masih ikuti hasil pencapaian kesucian beliau.
Apakah yang kita lakukan?
Prestasi apakah yang sudah kita kerjakan?
Sebagai seorang umat Buddha.
Sudahkah kita bersemangat?
Atau kadang-kadang anda juga loyo-loyo.
Aduh sudahlah lebih baik gak usah kuliah lah.
Kawin aja.
Nanti kalau sudah kawin.
Aduh kawin juga menderita balik kuliah lagi lah.
Kenapa harus seperti itu?
Kerja sulit.
Aduh ganti kerja.
Tutup kerjaan ini.
Ganti kerja sana.
Aduh kerja ini juga sulit.
Tutup lagi.
Ganti ini.
Bagaimana bisa?
Sama dengan orang meditasi.
Ini obyeknya pernafasan.
Sudah tiga hari kok gak bisa?
Bisa ya ganti obyek metal.
Tiga hari gak bisa ya?
Ganti lagi obyek kasina.
Tiga hari gak bisa lagi ya?
Ganti obyek asuba.
Kapan bisanya meditasi?
Kenapa?
Karena kita sibuk.
Ganti, sibuk.
Ganti, ganti, ganti.
Belajar lagi.
Belajar lagi.
Sama dengan anda pergi ke dokter.
Aduh pak dokter saya sakit kepala.
Oke obatnya ini.
Diminum dua butir.
Kok belum sembuh?
Pindah ke dokter lagi.
Aku kok sakit kepala?
Kasih lagi obat.
Belum diminum dua butir lagi.
Eh sudah pindah lagi ke dokter.
Kapan sembuhnya?
Karena kita sibuk.
Pindah, pindah, pindah, pindah.
Ini adalah orang yang tidak punya tujuan.
Tidak punya pekat.
Akhirnya yang datang penderitaan.
Oleh karena itu saudara-saudara.
Marilah kita sebagai seorang umat buddha.
Punyailah semangat.
Tapi dari mana tumbuhnya semangat?
Tujuan.
Ketika anda datang dari jauh menuju ke tempat ini.
Pagi-pagi harus bangun untuk nyampe ke tempat ini.
Bagaimana anda timbul semangat?
Tujuan.
Uh saya mau ikut Waisak.
Ui saya mau donor darah.
Ada gak nih yang donor darah nih?
Wah saya mau donor darah nih.
Saya sudah siap-siap nih makanan bergisi nih.
Ya.
Makanan bergisi sudah satu minggu saya habiskan.
Dan nanti habis donor darah saya mau bales dendam nih.
Makan lagi lebih banyak nih.
Panitia yang nyetiai tapi.
Kita lalu berjuang.
Kita berusaha.
Kenapa?
Karena kita punya tujuan.
Ketika saya berdonor darah karena saya ingin memberikan darah saya ini.
Darah yang penuh penyakit ini.
Bagi-bagi penyakit.
Ya jangan.
Kalau anda sudah tahu sakit-sakitan ya jangan.
Jangan bagi-bagi penyakitnya ya.
Kan itu kan ada tuh.
Malaria kan gak boleh donor darah.
HIV jangan.
Jangan ada.
Aku mau mumpung ini HIV ini ya.
Bagi-bagilah.
Biar sama-sama kena lah.
Wah karma buruk ini.
Ya tapi kita.
Kita berusaha.
Saya punya tujuan untuk berbuat baik.
Saya punya darah.
Semoga bisa dimanfaatkan.
Oleh mereka yang sedang menderita.
Oleh mereka yang sedang membutuhkan.
Uh semangatnya tinggi.
Tiga bulan sekali donor.
Tiga bulan sekali donor.
Uh hebat.
Bisa.
Ketika anda belajar juga begitu.
Tujuanku adalah nilai yang tertinggi.
Lulus dengan cepat.
Prestasi yang bagus.
Kalau perlu summa cum laude.
Wuih saya belajar habis-habisan.
Ketika saya males.
Aduh ngantuk capek.
Wuih enggak.
Saya kan harus summa cum laude.
Saya harus belajar lagi.
Belajar lagi.
Dengan cara seperti ini.
Prestasi apapun juga yang anda inginkan.
Bisa tercapai.
Tapi ketika anda loyo-loyo.
Tujuan hidupnya saja enggak jelas.
Aku ini hidup apa ya?
Tujuannya belajar ini apa ya?
Ya pantes-pantes lah.
Teman-teman kan sama-sama kuliah.
Kalau aku enggak kuliah rasanya ya enggak enak.
Eh sudahlah aku kuliah.
Tapi ini teman-teman sama bolos.
Eh sudahlah aku ikut bolos.
Ini teman-teman juga sama kawin.
Ya sudahlah enggak usah kuliah.
Kawin saja.
Wah ya repot kalau caranya begini.
Kita harus tentukan dulu.
Tujuan saya apa?
Hidup saya ini maunya apa?
Saya ingin sukses.
Saya ingin pandai.
Saya ingin bekerja.
Dengan gaji yang tinggi.
Saya ingin membentuk rumah tangga yang bahagia.
Tentukan dulu tujuan hidup anda.
Anda ke sini punya tujuan.
Anda enggak tujuan anda ke sini.
Atau anda nyasar sampai di sini.
Tidak tahu pandai.
Aku tahu-tahu sampai di sini.
Aku padahal tadi masih ingin tidur.
Aku tahu-tahu sampai di sini.
Apa anda enggak punya tujuan?
Punya kan?
Anda ke sini punya tujuan.
Anda suka makan?
Tujuannya apa makan?
Hah?
Tujuannya apa?
Biar kenyang.
Biar hidupnya panjang.
Itu kan anda punya tujuan.
Anda makan ada tujuannya.
Anda ke sini ada tujuannya.
Anda belajar ada tujuannya.
Tujuan hidup anda apa?
Karena anda bisa ke sini karena hidup.
Anda bisa belajar karena hidup.
Anda makan juga karena hidup.
Tujuan hidup anda apa?
Nah ini yang anda rumuskan.
Rata-rata semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan.
Rumuskan kebahagiaan anda.
Tentukan bentuk kebahagiaan anda.
Apakah anda berbahagia karena yang anda mendapatkan?
Segala yang anda inginkan.
Prestasi di sekolah.
Kekayaan di dalam pekerjaan.
Pasangan hidup yang paling hebat.
Paling ganteng atau paling cantik menurut anda.
Nah ini terserah.
Ya.
Paling ganteng dan cantik kan menurut anda.
Bukan menurut orang lain.
Buktinya pasangan hidup kadang.
Ini pasanganku ganteng sekali.
Orang lain lihat.
Gitu kok mau ya kamu.
Karena ganteng dan cantik menurut kita.
Ya.
Nah.
Itu kita harus tentukan dulu.
Apakah saya mau mendapatkan seperti itu?
Ya.
Atau saya kebahagiaan karena ingin memberi?
Saya bahagia kalau saya bisa membagikan semua milik saya ini kepada orang yang menderita di seluruh dunia.
Ketika saya melihat di televisi ada program misalnya peduli kasih.
Melihat orang yang bibirnya sumbing.
Matanya terkena penyakit.
Kepalanya membesar atau segala macam.
Ah.
Aku ingin membagi sebagian milikku.
Kalau aku dikasih uang sama orangtuaku X rupiah.
Atau aku punya X rupiah hasil kerja saya.
Saya bagikanlah 10% untuk mereka-mereka yang menderita.
Saya kirim ke tempat mereka itu.
Misalnya apakah ini kena bencana alam atau apa.
Saya senang bisa melakukan itu.
Lakukan.
Itu tujuan hidup anda.
Melakukan sesuatu.
Kebahagiaan.
Karena anda bisa memberi.
Saya senang kalau bisa memberikan maaf kepada orang.
Lakukan itu.
Tetapi ingatlah.
Semua tujuan anda ini harus dilakukan dengan penuh semangat.
Jangan hanya anget-anget tai ayam.
Pernah tahu ayam?
Tahu tainya?
Pernah picit-picit tai ayam?
Keluar anget.
Pegang.
Sebentar dingin.
Kalau yang lebih halus mungkin bukan tai ayam.
Contohnya adalah gelembung sabun.
Kalau anda main anak kecil itulah sabun.
Ditiup begitu kan.
Pakai sedotan itu ditiup.
Wah jadi gelembung.
Nanti begitu terbang sampai di atas.
Pluk.
Tiup lagi terbang ke atas lagi.
Pluk.
Kadang-kadang semangat kita seperti gelembung sabun.
Wah pertama mau ngebu-ngebu.
Kuliah kalau semester 1.
Waduh mau ngebu-ngebu.
Waduh aku besok mau kuliah.
Aduh besok mau kuliah.
Semester 2 belum.
Tapi semester 1 semangatnya luar biasa.
Orang kalau beli sepeda motor atau mobil juga gitu.
Menggebu-ngebu waktu baru.
Waduh dilapih.
Dibersihkan.
Tapi begitu sudah 3 bulan aja.
Biarin aja lah.
Aku jangan biarin.
Rusak yang gak apa-apa.
Pasangan hidup juga gitu.
Waduh kalau masih baru dilus-lus tiap hari.
Begitu sudah 1 tahun.
Sudah sana.
Ngeletak-ngletak sendiri.
Nah.
Saudara-saudara.
Cobalah kita mulai perbaiki.
Cara hidup kita harus cara yang bersemangat.
Seperti yang dicontohkan oleh Sang Buddha utama kita.
Karena itu hiduplah dengan penuh semangat.
Dengan satu tujuan.
Tujuan anda apa?
Itulah anda harus tekuni.
Kalau anda bisa lakukan itu.
Anda menjadi orang yang profesional.
Anda yang menekuni.
Apa saja yang anda kerjakan dengan maksimal.
Ketika anda bekerja.
Berumah tangga.
Kuliah.
Bermeditasi sekalipun.
Sebagai umat Buddha.
Dimanapun juga.
Ketika anda melakukan semuanya dengan penuh semangat.
Untuk jangka waktu yang lama.
Sampai tercapainya tujuan.
Itulah umat Buddha.
Yang bisa menghayati.
Simbolis.
Ajaran Sang Buddha.
Yang kita peringati.
Pada saat Waisak ini.
Karena itu.
Jangan hanya datang sekedar upacara.
Marilah.
Kita datang untuk berubah.
Berubah sesuai.
Dengan ajaran Sang Buddha.
Ya.
Siapa saja yang melaksanakan Dharma.
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka lah yang akan mendapat kebahagiaan.
Dharma yang pada pagi hari ini kita.
Sarankan adalah.
Laksanakan segalanya.
Dengan semangat.
Dan bertujuan.
Semoga dengan kekuatan.
Keyakinan anda kepada Buddha.
Dharma dan Sangga.
Akan mendorong semangat anda.
Untuk selalu mempelajari.
Dan melaksanakan Dharma.
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga anda semua berbahagia.
Di dalam Dharma.
Semoga semua makhluk.
Bagi yang tampak.
Maupun yang tidak tampak.
Akan memperoleh kebaikan.
Dan kebahagiaan.
Sesuai dengan kondisi.
Karmanya masing-masing.
Sabe Sata.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya