Segenggam Daun
AUDIOBhikkhu Uttamo

Kekuatan Pembacaan Paritta

0:00—
Bahasa Indonesia

Subtitle Bahasa Indonesia belum tersedia.

Kekuatan Pembacaan Paritta

Tentang Ceramah

Ceramah ini membahas tentang kekuatan pembacaan paritta, terutama ketika dilakukan secara bersama-sama, dan bagaimana praktik ini dapat mendatangkan karma baik serta kebahagiaan. Pembicara memulai dengan menjelaskan konteks pembacaan paritta dalam acara peresmian tempat usaha, kemudian menggunakan analogi mengangkat barang bersama dan sapu lidi untuk menunjukkan bahwa kebersamaan memperkuat efek paritta. Ia juga menggunakan contoh magnet untuk menggambarkan bahwa paritta bersama menarik karma baik, bukan benda fisik. Pembicara menekankan pentingnya niat dan pikiran bersih saat membaca paritta, bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan, agar karma baik semakin kuat. Ia memberikan contoh nyata penyembuhan penyakit dan perlindungan dari kebakaran sebagai bukti kekuatan paritta, namun mengingatkan untuk tidak mudah percaya sebelum membuktikan sendiri. Selanjutnya, ia menganjurkan umat untuk membaca paritta di rumah secara rutin, mengulang-ulang, dan merumuskan niat setelahnya, karena pengulangan adalah kunci kekuatan. Ia juga menjelaskan bahwa melatih sila dan meditasi juga menjadi magnet untuk menarik karma baik, sehingga kebahagiaan dapat dicapai melalui usaha sendiri. Ceramah ditutup dengan doa dan harapan agar tempat usaha baru keluarga Bapak Liang Kang sukses, lancar, dan membawa kebahagiaan, serta mendoakan semua makhluk berbahagia. Pesan utamanya adalah bahwa pembacaan paritta, terutama secara bersama-sama, dengan niat bersih, dan diulang-ulang, dapat menjadi sarana untuk mengundang karma baik dan mencapai kebahagiaan, serta pentingnya melengkapi dengan sila dan meditasi.

Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
  1. Pembukaan dan Tujuan Pembacaan Paritta
    Pembicara membuka dengan menjelaskan konteks acara peresmian tempat usaha dan tradisi membaca paritta dalam peristiwa bahagia, serta mengajak hadirin merenungkan manfaat pembacaan paritta bersama.
  2. Analogi Kekuatan Kebersamaan
    Menggunakan analogi mengangkat barang bersama dan sapu lidi untuk menjelaskan bahwa membaca paritta bersama menghasilkan kekuatan yang lebih besar daripada sendirian.
  3. Magnet dan Kekuatan Paritta
    Melalui contoh penggaris digosok rambut dan obeng diamplas, dijelaskan bahwa paritta bersama menjadi magnet yang menarik karma baik, bukan benda fisik.
  4. Niat dan Pikiran Bersih dalam Paritta
    Menekankan pentingnya niat dan pikiran bersih saat membaca paritta, bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan, sehingga memperkuat karma baik.
  5. Kesaksian dan Bukti Kekuatan Paritta
    Memberikan contoh nyata penyembuhan penyakit dan perlindungan dari kebakaran sebagai bukti kekuatan paritta, namun mengingatkan untuk tidak mudah percaya sebelum membuktikan sendiri.
  6. Praktik Mandiri dan Pengulangan Paritta
    Menganjurkan umat untuk membaca paritta di rumah secara rutin, mengulang-ulang, dan merumuskan niat setelahnya, karena pengulangan adalah kunci kekuatan.
  7. Melengkapi dengan Sila dan Meditasi
    Menjelaskan bahwa selain paritta, melatih sila dan meditasi juga menjadi magnet untuk menarik karma baik, sehingga kebahagiaan dapat dicapai melalui usaha sendiri.
  8. Doa dan Harapan untuk Keluarga
    Menutup dengan doa dan harapan agar tempat usaha baru keluarga Bapak Liang Kang sukses, lancar, dan membawa kebahagiaan, serta mendoakan semua makhluk berbahagia.
PracticeAI · suggestedKamma/KarmaAI · suggestedReflectionAI · suggestedMindfulnessAI · suggestedMeditationAI · suggestedIngin Tenangsuggested
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Saudara-saudara, para umat yang mengikuti puja pakti pada siang hari ini
dalam rangka peresmian penggunaan tempat kerja Bapak yang kan
baru saja kita bersama-sama telah membacakan parita
yang tentunya cukup banyak parita yang kita baca
hal ini adalah sesuai dengan tradisi budi
pada hari-hari tertentu
di saat kita merasakan kebahagiaan
biasanya kita
menikmati
mengundang teman, rekan untuk membaca parita
misalnya saja waktu
kelahiran anak
biasanya kita juga mengundang
para umat membaca parita
kemudian ulang tahun
kemudian
menempati rumah baru
juga menempati
tempat usaha yang baru
seperti yang dilakukan
oleh keluarga Bapak yang kan
pada siang hari ini
mengundang kita semua membaca parita
saudara-saudara
apakah sebetulnya manfaat
membaca parita
dalam rangka game upacara
seperti siang hari ini
kalau kita perhatikan
kita yang demikian banyak orang
dari berbagai tempat
dari berbagai tempat
Membaca parita itu mempunyai kekuatan yang berbeda dibandingkan kalau kita membaca sendiri.
Satu contoh saja adalah, misalnya kita melihat barang-barang yang sedemikian banyak.
Kalau hanya kita sendiri yang mengangkat barang ini masuk ke dalam terat, bisa selesai.
Tapi butuh waktu lama, karena saat orang angkat satu, satu, satu, satu, begini, sudah cepat lelah, juga tempo yang dibutuhkan, waktu yang dibutuhkan sangat lama.
Tetapi lain halnya kalau kita buarang, kita bersama-sama ngangkat.
Lihat, maka kecepatannya akan berlipat-lipat ganda selesainya, dan masing-masing orang juga tidak merata berat karena kita kerjasama.
Sebenarnya makna kita membaca parita bersama dalam upacara seperti siang hari ini, maknanya adalah kerjasama buarang-buarang membaca parita.
Apa kekuatannya?
Kalau sekarang kita seperti ibaratnya tadi sendirian mengangkat barang, tentu kekuatannya lemah.
Juga satu contoh yang paling sederhana, yang sudah umum dibicarakan dalam banyak kesempatan adalah tapu lidi.
Tapu lidi itu kalau hanya satu batang lidi, kita tidak bisa manfaatkan dengan baik.
Paling satu batang lidi ini untuk mengusir kecoak, mengusir cicak, mengganggu telinga teman kita, itu kalau sebatang lidi.
Tetapi kalau satu kumpulan lidi yang banyak, kalau kita ikat, maka tapu ini menjadi tapu lidi yang akan memberi manfaat.
Membersihkan karpet, membersihkan tempat kotor, bahkan juga bisa untuk bersihkan kasur kita.
Atau juga bisa untuk menyapeti kakinya anak-anak.
Itu manfaatnya kalau banyak dan dikumpulkan.
Kalau hanya satu untuk dicapetkan, wah malah patah sendiri.
Nah, ini namanya kerjasama.
Saudara-saudara pada siang hari ini,
Seperti satu lidi, satu lidi, satu lidi, satu lidi.
Masing-masing mengeluarkan kekuatan pikirannya pada saat membaca parita.
Dan kita diikat menjadi satu.
Kekuatan kita masing-masing ini diikat menjadi satu.
Di dalam niat kita melakukan pemberkahan empat usaha ini.
Ini.
Ini yang mengikatkan kita.
Kenapa saudara datang ke sini?
Kan karena untuk mengikuti upacara pemberkahan empat usaha ini.
Nah, saudara-saudara.
Kalau kekuatan tapu lidi tadi sudah jelas.
Sekarang kekuatan kita ini bagaimana?
Satu contoh yang lain adalah.
Misalnya anak kecil di sekolah punya penggaris.
Anak-anak punya penggaris.
Di sekolah penggaris plastik punya.
Pernah dicoba penggaris plastik digosokkan rambut?
Hah?
Enggak pernah?
Nah, besok.
Nanti malam dicoba ya.
Nanti malam digosokkan di rambut.
Ada yang pernah nyoba penggaris plastik digosokkan rambut?
Ada?
Hah?
Apa hasilnya?
Ya.
Mamin.
Ya.
Nah, jadi kalau kita punya seluk kertas kecil-kecil.
Dengan penggaris digosokkan ke rambut.
Tempelkan.
Atau kalau perlu agak jauh-jauh.
Potongan kertas yang kecil-kecil itu bisa tertarik.
Seperti ada magnetnya.
Kalau yang bapak-bapak yang ngerti bidang teknik.
Besi.
Katakanlah obeng.
Anda amplas.
Amplas kucuknya.
Jadi apa itu?
Mane juga, toh.
Obeng kalau anda amplas ujungnya.
Jangan gosokkan rambut.
Apalagi gosokkan mata.
Wah.
Obeng digosokkan mata.
Merah semua nanti matanya.
Pakai amplas.
Nah, nanti.
Baut-baut yang kecil.
Nah, itu bisa kita angkat.
Lontang sekali.
Keluar magnetnya.
Apalagi kalau besi.
Di induksi listrik.
Pasti keluar magnetnya.
Nah, saudara-saudara.
Sama dengan kita sekarang bersama-sama membaca parita.
Dari berbagai tempat.
Kumpul bersama membaca parita.
Ini rumusnya hampir seperti matematika tapi bukan.
Anak-anak.
Tiga kali lima berapa?
Lima belas.
Lima belas kali satu.
Lima belas juga.
Pinter matematika.
Itu rumusnya bukan begitu kalau di dalam membaca parita.
Misalnya begini.
Tiga kali lima, lima belas.
Jadi kita sekarang ada tiga orang.
Membaca parita.
Lima kata.
Pandana.
Titarana.
Budha.
Dhamma.
Sangga.
Nusanti.
Lima.
Dibaca tiga orang.
Kan bunyinya jadi lima belas.
Satu orang baca lima.
Lima.
Lima belas.
Berarti kalau sekarang lima belas orang.
Baca satu saja.
Pandana.
Loh, apa nilainya sama?
Nah, kalau matematika kan sama.
Tiga kali lima.
Lima belas.
Lima belas kali satu.
Lima belas juga.
Tetapi di dalam membaca parita kan tidak begitu.
Andai kata Anda membaca parita sendirian.
Anda yang membaca seperti tadi.
Katakanlah itu sepuluh parita.
Katakanlah kita tadi membaca sepuluh.
Orangnya seratus orang.
Tetap bacanya sepuluh.
Sekarang Anda tahu kekuatannya berapa juga.
Satu orang.
Baca sepuluh.
Sekarang jumbo seratus orang.
Masing-masing juga baca sepuluh kan.
Sepuluh kali seratus.
Seribu.
Wah, pintar toh ya.
Wah, ini anak-anaknya sudah pandai.
Sekolahnya ini luar biasa nih.
Ranking ya.
Ranking satu.
Ya.
Karena pintar.
Sepuluh kali seratus sudah seribu.
Saudara bisa bayangkan.
Sekarang.
Kita sebagai satu orang membaca sepuluh.
Itu sama dengan satu lembar.
Satu batang.
Libi.
Sekarang dikumpulkan semua.
Ditali dengan ikatan niat untuk mengembangkan kebajikan dalam rangka peresmian tempat ini.
Itu kekuatannya luar biasa.
Seperti magnet.
Menghasilkan magnet yang besar sekali.
Seperti penggaris mica yang dikosok di rambut.
Seperti obeng yang diamplas.
Seperti besi yang dialiri listrik.
Kita bersama membaca.
Parisan.
Sama seperti magnet yang menarik.
Loh menarik apakah?
Sekarang.
Kalau seperti magnet lalu menarik besi.
Wah itu krim-krim bisa lompat ke sini.
Kan ketedot magnet.
Bukan.
Kalau penggaris digosok.
Dia magnet yang hanya menyedot kertas.
Tidak bisa menyedot logam.
Obeng digosok ambelas.
Bisa menyedot logam.
Tidak bisa menyedot kertas.
Kita membaca parisan bersama.
Menjadi magnet.
Apa yang disedot?
Bukan kertas.
Bukan obeng.
Bukan logam.
Tetapi karma baik.
Yang disedot.
Kok bisa demikian?
Memang saudara.
Karena kesuatan kita besar sekali.
Satu sama dengan sepuluh.
Seratus orang sama dengan seribu.
Menarik karma baik.
Nah sekarang niat kita apa?
Niat kita adalah untuk pemberkahan tempat ini.
Sehingga diharapkan setelah membaca parisan ini.
Karma baik itu tertarik datang.
Dalam bentuk kesuksesan.
Keberhasilan.
Kebahagiaan.
Seperti yang diharapkan.
Oleh.
Keluarga.
Bapak yang kamu.
Demikian pula anda kalau di rumah.
Kalau anda tidak baca parita sendiri.
Itu anda membacanya.
Sebetulnya ya sepuluh parita.
Ya cuma sepuluh nilainya.
Tapi kalau anda bisa baca suami istri.
Nilainya jadi dua puluh.
Anda bisa sama anak tiga.
Nilainya lima puluh.
Sehingga makin sering anda membaca.
Walaupun lima puluh itu nyicil.
Sedikit sedikit.
Itu karma baik bisa ditarik.
Kenapa sebegian kuat parita itu kekuatannya saudara?
Karena selama kita membaca parita.
Pikiran kita ini dikonsentrasikan.
Pada parita yang kita baca.
Terbebas dari ketamaan.
Terbebas dari kebencian.
Terbebas dari kesilapan pasti.
Tidak ada pada waktu tadi membaca parita.
Misalnya mengucapkan.
Ya semoga dengan usaha ini saya maju.
Lawan dagang saya tidak maju.
Saya kira kan tidak ada yang begitu.
Usaha saya maju.
Lawan dagang mau maju atau tidak.
Bukan urusan saya.
Pokoknya saya yang maju.
Jadi kita pikiran kita bersih.
Untuk kemajuan.
Untuk kemajuan diri kita.
Nah di dalam karma.
Ini adalah perbuatan baik.
Satu orang berpikir yang bersih.
Satu orang punya pikiran yang baik.
Satu orang telah melakukan perbuatan baik.
Kalau sekian banyak orang.
Melakukan perbuatan baik bersama.
Seperti orang yang mengangkut barang yang besar.
Bersama-sama.
Sangat mudah memindahkan barang.
Sama dengan kita bersama-sama.
Membaca parita.
Mengkonsentrasikan pikiran.
Sangat mudah.
Untuk memperbaiki karma kita.
Saudara-saudara.
Dalam banyak ketempatan.
Sudah banyak dibuktikan.
Kekuatan parita.
Salah satu contoh yang sangat terkenal.
Adalah.
Seorang ibu yang.
Punya tumor kandungan.
40 hari dia membaca parita dan bermeditasi.
Sambil meminum air dari.
Meja tempat Buddha Rupang berada.
Hari ke-35.
Orang ini.
Mengalami kesembuhan.
Kemarin pada waktu saya berkunjung ke sebuah desa.
Di daerah Blitang.
Juga sama.
Ada seorang ibu.
Mempunyai tumor di jadahnya.
Mau berobat.
Tidak mampu.
Tidak ada uang.
Mau diam-diam saja.
Merasakan.
Penuh-penuh.
Apa yang dia lakukan?
Tidak ada pilihan.
Baca parita.
Baca parita kesehatan terus.
Satu bulan lamanya.
Sembuh.
Sampai sekarang.
Orangnya sembuh.
Ini baru satu orang.
Satu orang membaca sendiri.
Bagaimana kalau kita berwarangan.
Bisa membaca parita.
Bersama.
Contoh lain yang sudah lama.
Yang juga pernah saya berikan adalah.
Orang yang suka membaca parita.
Ketika kompleks rumahnya terbakar.
Dalam areal kira-kira 2 hektar.
Orang yang rumahnya ini.
Suka baca parita tersebut.
Tidak terbakar.
Padahal.
Jindingnya dari kayu.
Hanya.
Hanya dinding panger yang terbakar.
Tapi dinding rumah.
Tidak terbakar.
Ini juga kekuatan parita.
Oleh karena itu saudara-saudara.
Sebetulnya inilah yang punya kemampuan untuk menarik.
Menarik karma baik kita.
Apalagi kalau parita tidak dikerjakan hanya sekali.
Ibaratnya kita menggosok.
Penggaris dirabutkan bukan sekali.
Tapi berkali-kali.
Baru keluar magnetnya.
Demikian pula kalau kita seorang umat Buddha.
Mengulang dan mengulang parita itu.
Nanti akan muncul.
Kemampuan.
Kekuatan.
Yang membuatkan kebahagiaan.
Seperti yang kita harapkan.
Ini adalah magnet.
Yang menjadi manfaat.
Yang menjadi keuntungan.
Untuk kita para umat Buddha.
Telah banyak yang membuktikan.
Tapi juga jangan gampang percaya.
Sebelum anda membuktikan sendiri.
Karena di dalam agama Buddha.
Kita tidak diajar untuk gampang percaya.
Kita tidak diajar untuk gampang lurut.
Tapi di dalam Dharma Buddha.
Bagaimana kita diajarkan.
Bagaimana kita harus membuktikan.
Kebenaran itu.
Coba anda baca parita.
Di rumah masing-masing.
Kalau anda punya setia di rumah.
Punya tempat kefaktian di rumah.
Baca parita.
Kalau tidak satu keluarga.
Baca parita.
Rumuskan niat anda.
Pada saat setelah membaca parita.
Seperti anda menggosok.
Menggosok obeng dengan amplat.
Atau menggosok penggaris dengan rambut.
Rumuskan niat anda.
Dengan mengatakan.
Semoga dengan kebaikan yang saya lakukan.
Pada saat ini.
Akan membuahkan kebahagiaan.
Dalam bentuk tercapainya keinginan.
Ini, ini, ini, ini.
Oleh karena itu saudara-saudara.
Upacara bersama seperti siang hari ini.
Adalah merupakan salah satu yang sangat baik.
Di dalam tradisi buddhi.
Kenapa demikian?
Karena inilah kesempatan untuk menarik.
Karma baik kita.
Anda pun yang hadir disini.
Setelah anda bisa membantu menarik orang lain.
Untuk mendapatkan kebaikan.
Anda pun sebetulnya juga.
Tidak menanam kebaikan untuk menarik.
Karma baik anda juga.
Oleh karena itu.
Jangan bosan-bosan untuk mengembangkan kebaikan.
Jangan bosan-bosan untuk membaca parita.
Karena sesungguhnya.
Kekuatan parita.
Selain kita bisa bersama-sama.
Kalau kita sendiri.
Adalah pengulangannya.
Keseringannya.
Karena bukan tiga kali lima.
Sama dengan lima belas.
Bukan lima belas kali satu.
Juga sama dengan lima belas.
Kalau kita sendirian.
Baca parita sebanyak-banyaknya.
Sering ulang, ulang, ulang.
Tapi kalau bersamaan.
Baca juga bersamaan.
Yang banyak juga.
Sehingga dengan demikian.
Kuat kebaikan kita inilah.
Yang akan bisa kita rasakan.
Sesuai dengan harapan kita.
Demikian pula pada siang hari ini.
Tujuan kita bersama.
Adalah untuk menarik.
Karma baik.
Keluarga Bapak Liang Kang ini.
Untuk bisa berbuah.
Dalam bentuk.
Keberhasilan, kesuksesan.
Di tempat utaha yang satu ini.
Tentu saja.
Keberhasilan, kesuksesan.
Selain kita membaca parita.
Kita mengembangkan kebajikan yang lain.
Melatih sila misalnya.
Apakah yang kita bisa latih?
Paling tidak pandai sila buddhi.
Tidak membunuh.
Tidak mencuri.
Tidak melanggar kesusilaan.
Tidak bohong dan tidak mabuh-mabuhan.
Kemudian juga kita mengembangkan sila yang lain.
Mungkin kadang-kadang pada hari-hari tertentu.
Kita menjalankan puasa.
Mungkin seminggu sekali kita menjalankan puasa.
Mungkin seminggu dua kali kita menjalankan puasa.
Ini juga akan menjadi magnet.
Untuk bisa menarik karma baik kita.
Supaya cepat berbuah.
Selain menjalankan sila.
Juga menjalankan meditasi.
Mengembangkan kekuatan pikiran secara positif.
Konsentrasi pada obyek kita.
Misalnya obyek pernafasan.
Kita konsentrasikan paling tidak setiap pagi dan sore.
15 menit pagi dan sore.
Ini pun adalah alat.
Untuk menjadikan magnet.
Menarik karma baik kita.
Sehingga saudara-saudara.
Dengan membaca parita.
Dengan melatih sila.
Dengan melatih meditasi.
Maka di sungguhnya.
Kebahagiaan akan menjadi milik kita.
Karena kebahagiaan bukan pemberian dari atas.
Kebahagiaan muncul karena usaha dan perjuangan kita bersama.
Selamat kepada Bapak Liang Kang.
Yang telah membuka tempat usaha ini.
Semoga dengan kekuatan kebajikan.
Keluarga Bapak Liang Kang.
Dan juga semua kekuatan para umat yang hadir.
Pada siang hari ini.
Akan membuahkan kebahagiaan.
Dalam bentuk sesuai.
Seperti yang diharapkan.
Tempat ini menjadi enak.
Untuk digunakan utaha.
Menjadi tempat yang lancar.
Untuk dipakai berutaha.
Sehingga menumbuhkan kebaikan.
Kebahagiaan di masa-masa yang mendatang.
Semoga semua makhluk.
Baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Memperoleh kebaikan dan kebahagiaan.
Sesuai dengan kondisi.
Karmanya masing-masing.
Sabe.
Sata.
Bawantu.
Sukhi Sata.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya