Segenggam Daun
Bahasa Indonesia

慧律法師:皈依開示(2011)

Tentang Ceramah

Wejangan Guru Hui Lü seusai upacara pengambilan perlindungan (2011), disampaikan dengan gaya santai dan penuh humor. Beliau menegaskan bahwa tanpa memasuki makna sejati Dharma, hidup manusia yang hanya mengejar kebahagiaan lewat sandaran luar tak akan pernah menemukannya — kebahagiaan sejati adalah sifat batin yang jernih, tak timbul tak lenyap. Nasihat praktisnya untuk umat baru: jangan memamerkan "aku seorang Buddhis" kepada keluarga dan teman, jangan beradu argumen dengan yang berbeda pandangan (nanti malah terkucil), tetapi ubahlah diri dari dalam secara diam-diam dan tenang, redakan amarah, dan hadapi keluarga dengan welas asih serta kesabaran — diceritakannya kisah seorang istri yang vegetarianismenya nyaris meruntuhkan rumah tangga. Beliau juga membahas keajaiban kain kafan berdaman (往生被) pada dua orang yang tak percaya Buddha semasa hidup, pengalaman pribadinya mencium wangi asing saat melafalkan nama Buddha sebagai mahasiswa, pelafalan "A" yang benar dalam Amitābha, serta betapa jalan Dharma menuntut kesungguhan bertahun-tahun. Intinya: berlindung hanyalah permulaan; kurangi kebiasaan buruk perlahan, jauhi ucapan yang menyakiti, "segala keburukan jangan dilakukan, segala kebaikan laksanakan", jaga batin yang lembut dan tak bertikai.

Transkrip Lengkap
AI · suggested — belum ditinjau manusia
Ketua panitia, silakan turunkan tangan (rangkapan).
Kalian sudah di sini sejak lewat pukul satu sampai sekarang,
sudah cukup lama.
Sekarang saya berbicara bahasa Mandarin, apakah kalian bisa mendengar (paham)?
Atau perlu bahasa Taiwan?
Mandarin.
Saya bicara Mandarin, apakah kalian tak paham?
Tak paham Mandarin?
Kalau bicara bahasa Taiwan,
yang tak paham bahasa Taiwan silakan angkat tangan.
Yang sama sekali tak paham bahasa Taiwan.
Kalau begitu saya bicara Mandarin saja,
begini, saya bicara Mandarin.
Kalian sudah di sini sejak lewat pukul satu sampai sekarang,
sudah cukup lama.
Tampaknya tak perlu menyita waktu kalian terlalu lama,
saya akan menjelaskan poin-poin pokok belajar Buddha secara ringkas.
Pertama-tama, selamat kepada kalian yang bisa menjadi murid Buddha.
Ini hal yang patut disyukuri dan digembirakan,
ini tonggak yang sangat penting dalam perjalanan hidup.
Kalau hari ini kita tak memasuki ranah agama Buddha atau makna sejati Dharma,
hidup kita akan sama sekali tak bermakna.
Hidup, kalau dilihat dari sudut duniawi, adalah mengejar kebahagiaan.
Seperti yang dikatakan Buddha,
setiap orang sedang mengejar kebahagiaan,
tetapi tak seorang pun benar-benar memahami apa itu kebahagiaan.
(Mereka) tak tahu bahwa di lubuk terdalam sifat asli kita, keheningan padam,
sifat sejati yang jernih nan tak timbul tak lenyap, itulah kebahagiaan sejati.
Juga tak memahami lapisan ini.
Sebelum belajar Buddha dan sesudah belajar Buddha,
pandangan hidup sepenuhnya berbeda.
Sebelum Bhante kuliah, belum mendengar Dharma,
juga menjalani hari-hari seperti itu.
Misalnya, tahun baru sekarang, di mana-mana dinyalakan kembang api.
Di Kota Taipei hampir tujuh ratus lima puluh ribu orang (berkumpul).
Coba bayangkan tujuh ratus lima puluh ribu orang itu.
Orang yang kandung kemihnya lemah, bagaimana kau mau ke toilet?
Tujuh ratus lima puluh ribu orang.
Kalau ususmu bermasalah dan kau perlu ke toilet,
coba bayangkan, tujuh ratus lima puluh ribu orang di acara malam pergantian tahun.
Kau tak ikut pergantian tahun pun, tahun tetap berganti.
Tetapi tanpa belajar Buddha, gagasannya adalah:
bersandar pada sesuatu untuk memperoleh kebahagiaan,
bersandar pada suatu fenomena untuk memperoleh pembebasan.
Itu hal yang mustahil,
selamanya mustahil. Mengapa?
Karena hal-hal dalam hukum kehidupan adalah hal-hal yang tak kekal,
kau selamanya tak mungkin memperoleh kebahagiaan.
Jadi kehidupan duniawi tanpa belajar Buddha adalah "aku mati-matian mengejar kebahagiaan",
tetapi kau,
yang sungguh-sungguh memiliki kebahagiaan, tak seorang pun.
Misalnya tokoh politik mengejar ketenaran, atau
pengusaha mengejar kekuasaan — mereka tentu juga sedang memberi manfaat,
memberi manfaat bagi kehidupan,
juga memberi manfaat bagi umat manusia.
Jadi, "aku
juga sedang
melayani seluruh umat manusia",
betul kan? Ia tentu juga (begitu).
Tetapi masalahnya adalah
di dalam batinnya, "aku"-nya itu tak bisa ditembus.
Selalu ada "aku" yang melayani umat manusia.
Pemikiran ini tak bisa dibandingkan dengan Buddha.
Buddha berkata,
"meskipun menyeberangkan makhluk hidup yang tak terhingga dan tak berbatas, sesungguhnya tak ada makhluk hidup yang diseberangkan".
Satu kalimat sudah merangkum
seluruh kenyataan alam semesta.
"Segala dharma berkondisi bagai mimpi, khayalan, gelembung, bayangan; bagai embun, bagai kilat — semestinya dipandang demikian."
Dulu, tanpa belajar Buddha, ya begitu. Setelah belajar Buddha, berbeda.
"Bhante, Anda mau tidak keluar menemui orang?"
Saya bersembunyi di ranjang, mau menemui orang apa lagi?
Pukul delapan setengah, pukul sembilan saya sudah mau mandi dan tidur,
mau menemui orang apa?
Ia tak menemui orang, juga tak berdiri (menyambut).
Kalau saya tak keluar menemui orang, juga tak akan pergi
terlibat urusan apa pun.
Pandangan hidup ini sepenuhnya berbeda,
sepenuhnya berbeda.
Betul kan, dulu waktu kecil tak paham.
Ketika Festival Pertengahan Musim Gugur,
saat Festival Pertengahan Musim Gugur, bersama
kawan baik kami bernama Wu Jingsong,
saat festival itu, ia mengajak (kami),
ke sebuah taman di dekat kami,
di taman itu apa? Melihat pasangan kekasih bermesra-mesraan.
Tak tahu, ya begitulah.
Setelah belajar Buddha, (baru sadar) itu membosankan.
Itu hal (yang menyangkut) hidup,
itu bukan hal yang sejati.
Seperti kemarin saya melihat,
adik kelas dari almamater saya sendiri melompat dari gedung (bunuh diri).
Kalau hari ini ia punya pandangan hidup yang benar,
tak akan begitu.
Ia akan menghargai nyawanya sendiri,
karena ia
tahu tubuh materi ini tak mudah diperoleh, dengannya ia bisa menjadi Buddha.
Mengapa kau membunuhnya (tubuh ini)?
Dengannya ia bisa menjadi Buddha,
dengannya ia bisa terbebaskan.
Jadi,
sekalipun kau membaca banyak buku,
saya beri tahu, itu tak ada kaitannya dengan pembebasan.
Saya mengajar di Universitas Nasional Taiwan, dengan para mahasiswa juga begitu.
Hari ini,
kau masuk Universitas Nasional Taiwan, sekalipun mendalami ilmu,
tetapi menghidupkan hal semacam ini (pembebasan)
tak ada kaitannya dengan gelar doktor,
tak ada kaitannya dengan profesor,
tak ada kaitannya dengan pendidikan tinggi.
Satu-satunya yang berkaitan adalah
akar kebaikan.
Orang harus punya akar kebaikan, akar kebaikan yang sangat kuat.
Kalau seseorang tak punya akar kebaikan,
pintu ini, bagaimana pun ia tak bisa melangkah masuk,
tak bisa masuk.
Jadi ini disebut melihat sebab-jodoh,
melihat sebab-jodoh,
betul kan?
Melihat sebab-jodoh.
Jadi Anda sekalian coba pikir,
dari dua puluh tiga juta penduduk Taiwan ini,
yang benar-benar belajar Buddha sebenarnya berapa orang?
Yang benar-benar memahami makna sejati agama Buddha sebenarnya berapa orang?
Saya mengajar di Universitas Nasional Taiwan,
mahasiswa datang melapor kepada saya,
ia bilang, "Di Universitas Nasional Taiwan sekarang,
klub kajian Buddhis sangat repot.
Pertama,
di dalamnya ada (kelompok) Tzu Chi,
ada Chung Tai (Zen),
ada Fo Guang Shan.
Satu klub kajian Buddhis di Universitas Taiwan
terpecah menjadi beberapa golongan,
satu golongan,
kau berbuat sesuai kelompokmu, aku sesuai kelompokku."
Ada seorang bhiksu
yang sangat berwelas asih,
mereka mengundang seorang guru besar khusus untuk membahas Madhyamaka.
Madhyamaka: tak timbul tak lenyap, tak kotor tak bersih, tak bertambah tak berkurang.
Hendak memberi wejangan tentang pemikiran Jalan Tengah "delapan penyangkalan" Madhyamaka,
lalu pergi mengajar di Universitas Nasional Taiwan.
Tahukah Anda, berapa orang yang datang?
Yang datang ke kelas hanya satu orang,
satu mahasiswa.
Mahasiswa sekarang,
tak ada cara.
Taiwan mengalami penurunan angka kelahiran,
tak ada yang mau punya anak.
Pemerintah (memberi) sedikit subsidi berlapis-lapis,
untuk biaya hidup pun tak cukup,
untuk menahan (harga) properti pun tak cukup.
Bagaimana ia mau punya anak?
Anak-anak sekarang,
sangat merepotkan. Lagi pula,
lagi pula (yang jadi) bhiksu, terutama bhiksu laki-laki,
makin sulit lagi.
Bhiksu perempuan — "chujia" (meninggalkan rumah) diucapkan berulang,
beda satu bunyi pun (maknanya) sama saja.
Begini,
yang penurut lebih mudah menangis.
Bhiksu perempuan (lebih mudah), sedangkan anak laki-laki harus meneruskan garis keturunan.
Ia harus meneruskan garis keturunan,
harus mencari uang, harus menghidupi keluarga.
Anak laki-laki menjadi bhiksu, sekarang makin lama makin sulit,
makin sulit. Coba lihat,
seluruh Universitas Nasional Taiwan, sekian banyak orang,
yang mendengarkan pemikiran Madhyamaka hanya
satu mahasiswa,
satu mahasiswa.
Sekarang tak ada yang mau belajar Buddha,
menerangkan sutra pun tak ada yang mau mendengar.
Ada kalangan bhiksu, tetapi tak ada muridnya.
Mengapa angka kelahiran turun?
Mahasiswa sekarang,
ayah dan ibunya,
ketika (anak) mau kuliah, khusus berpesan,
"Waktu kalian kuliah,
jangan ikut klub kajian Buddhis ya.
Ikut klub kajian Buddhis, keluar-keluar nanti jadi orang berhati hitam,"
atau nanti jadi (patung) tanah liat (tak berguna).
Ini malah membalikkan (soal) hati hitam.
Tak ada yang mau belajar Buddha.
Untung, Bhante terakhir kali tahun 2005 mengajar di Universitas Taiwan,
termasuk yang dari luar, datang lima ratus lebih orang,
terhitung jodoh Dharma Bhante yang paling baik,
terhitung normal.
Jadi jodoh Dharma (Bhante) yang paling baik.
Di Universitas Taiwan, karena sudah beberapa kali mengajar,
maka kesan (batin) itu
sangat besar.
Hari ini kalau di luar,
di luar menjual tas LV,
sepuluh ribu diskon jadi sepersepuluh,
tersisa seribu,
orang akan mengantre beberapa kilometer,
semua mau berebut tas,
tas LV edisi terbatas,
tas LV edisi terbatas,
celana,
Chanel.
Diskon jadi sepersepuluh, antreannya dua-tiga kilometer,
dua-tiga kilometer,
dua-tiga kilometer,
betul kan?
Tetapi untuk belajar Buddha, tak ada.
Terlalu sulit.
Ini yang paling penting,
yang paling penting dalam hidup,
justru ia abaikan,
ia abaikan,
betul kan?
Kehidupan
masih punya ranah pemikiran yang lebih tinggi,
kebahagiaan yang lebih tinggi,
kegembiraan yang lebih tinggi.
Mengapa kita
tak mengejarnya,
tak mempelajarinya, tak menghayatinya?
Jadi ini menjadi berkaitan dengan akar kebaikan makhluk hidup.
Jadi Anda sekalian,
begitu kalian melangkah masuk untuk berlindung pada guru, Bhante sungguh memuji kalian.
Baik laki-laki, perempuan, tua, muda,
bahkan anak kecil sekalipun, sampai datang ke hadapan Buddha,
merangkapkan tangan begini — Bhante memuji tak henti-henti.
Ketika kalian sudah belajar Buddha,
pulang ke rumah,
jangan menggantungkan "belajar Buddha" di bibir,
hati-hati, orang bisa menyerang kalian.
Kalau orang mengundang kalian makan,
makan bersama,
di restoran itu — kalian vegetarian —
kalian harus tahu
cara mengelak (dengan halus).
Kalau tak bisa mengelak, orang bilang,
"Aku vegetarian,"
di restoran (yang tak ada) vegetarian — itu terasa
kita
mengucapkan kata-kata yang bernada menantang.
Dan kalian anggap posisi kalian
benar — memang tak salah.
Bilang "yang vegetarian itu bagaimana" —
saya beri tahu,
orang duniawi yang tak belajar Buddha,
gagasannya berbeda dengan kalian.
Di Tiongkok daratan ada seorang
gadis yang menikah,
setelah menikah ia —
ia berusia dua puluhan tahun —
ia menjadi vegetarian,
ia menjadi vegetarian.
Setelah ia belajar Buddha,
ia tak membiarkan suaminya tahu,
itu tak masalah.
Ia diam-diam belajar Buddha, belum ada hambatan.
Ia pulang lalu bilang,
"Aku vegetarian sekarang, aku begini begitu."
Suaminya — suami yang ia nikahi itu —
suami Taiwan yang tak seantusias itu,
ia jelas-jelas tahu istrinya vegetarian,
tetapi sengaja menaruh daging itu ke (piring) istrinya,
(memaksa) tak boleh tidak makan.
Kalau tidak, ya cerai.
"Kalau kau begini, kau tak bergizi.
Kau begini tak bergizi" — lalu menjadi
sekarang celaka: satu sisi soal keagamaan,
satu sisi hati nurani dan integritas
dan komitmen pada diri sendiri —
vegetarian —
sisi lain suami menghadapi keretakan rumah tangga.
Kedua hal ini sulit sekali dijelaskan.
Jadi sekarang saya beri tahu kalian,
karena kalian baru saja mengambil perlindungan —
berlindung itu (berarti) jangan terus-menerus menggantungkan "belajar Buddha"
di bibir sehingga semua orang,
semua
teman lama, menjadi antipati.
Kalian harus ingat kalimat Bhante ini:
baik-baiklah dengan tenang,
diam-diam, tenang belajar.
Dari dalam batin,
ubahlah diri sendiri sampai ke akarnya, itu saja.
Jangan terus digantungkan di bibir,
jangan terus mengatakan bahwa kalian belajar Buddha,
betul kan?
Dengan tenang,
sebisa mungkin jangan
membuat
"belajar Buddha" ini
terus membesar menjadi hambatan bagimu.
Dengan tenang saja.
Kita pakai ketulusan
untuk menyentuh hati pihak lawan.
Ketika bertemu orang yang jodohnya belum matang, atau gagasannya berbeda dengan kalian,
kalian harus memakai batin welas asih dan kesabaran,
batin welas asih dan kesabaran.
Belakangan,
gadis ini,
saya menyuruhnya,
saya menyuruhnya,
saya bilang, sekarang kau
di ambang (keretakan) rumah tangga — masalah ini ia tanyakan kepada Bhante.
Ia bilang, "Bagaimana, bagaimana menghadapi rumah tangga?"
Masalah ini, saya menyuruhnya:
ketika suamimu
ada (di rumah),
kau tetap makan (daging itu).
Ini kalau diteruskan bisa berujung cerai,
jadi kau tetap makan,
lalu kau berkata kepada Buddha,
"Bukan aku yang ingin makan,
segala dosanya milik suamiku.
Aku
melimpahkan pahala penghapus dosa ini kepada suamiku.
Bukan aku yang rela makan, ini terpaksa.
Kalau ini tak dimakan, maka
rumah tangga akan retak."
Ia bertanya kepadamu, "Kau begini tak bergizi" —
gagasan ini
tak ada titik temu,
paham?
Tak ada cara lain.
Inilah masalahnya,
masalah yang sangat besar.
Jadi hari ini kalau kalian mau belajar Buddha,
sekali-kali jangan menciptakan hambatan sendiri.
Ketika bertemu —
ketika bertemu orang yang berjodoh denganmu,
yang kau rasa cukup baik,
kau boleh berkomunikasi dengannya,
bilang, "Kita sama-sama seperjalanan dalam belajar Buddha."
betul kan?
Nah, belajar Buddha ada
beberapa macam,
beberapa macam. Ada orang
yang
sekadar ikut tren,
ikut tren,
menganggap belajar Buddha itu bagus,
datang berlindung,
sangat terhormat.
Ada yang bukan begitu; ada yang bilang, "Bhante wajahnya lucu,
aku mau lihat wajahnya seperti apa."
"Mm, ternyata lumayan.
Aku datang melihat Bhante, Bhante melihatku,"
seperti keringat besar dan keringat kecil (saling berpandangan).
Ada orang yang benar-benar meneliti Dharma dulu,
lalu tahu bahwa jalan ini
sangat baik,
sangat baik.
Ia sudah siap di hati,
kehidupan ini akan berpijak pada jalan
kebenaran agama Buddha ini,
jalan ini,
tak akan menyesal.
Ia benar-benar sudah menempuh jalan yang tepat.
Berbagai
sikap ada semua.
Jadi yang pertama,
jangan menggantungkan "belajar Buddha" di bibir.
Yang kedua,
jangan beradu (mempertentangkan) dengan orang yang pemikiran, pendapat, gagasan, dan pandangannya berbeda denganmu.
Setelah beradu, kau akan menjadi terkucil.
Ini sangat menakutkan.
Belajar Buddha, kau harus bersikap biasa saja.
Kau pulang, tak ada bedanya dengan orang normal,
paham?
Tak ada bedanya dengan orang normal.
Tetapi dari dalam batinmu
berubah total,
mengubah diri sendiri,
mengubah diri sendiri secara total.
Misalnya, kalau kau dulu
temperamennya buruk,
sedikit-sedikit
begini,
galak sekali —
sekarang, mulai sekarang,
batin kebencian itu,
batin kebencian yang gampang marah itu, sedikit disesuaikan,
agar orang di sekitarmu merasakan,
"Belajar Buddha ini sungguh berbeda.
Belajar Buddha ini sungguh berbeda. Coba lihat,
dulu temperamennya sungguh buruk,
sekarang temperamennya sungguh berubah."
Kalau begitu, belajar Buddhamu sudah menempuh jalan yang tepat.
Kau terus —
daripada bisa berdebat, lebih baik bisa bersabar.
Kau memakai mulut, antara satu sama lain,
karena perbedaan gagasan tak bisa rukun —
lebih baik kau lebih dulu mengubah sikapmu sendiri,
dengan sikapmu yang tulus,
baru bisa menyentuh hati pihak lawan.
Kau terus berdebat tak ada gunanya.
Jadi para sesepuh berbudi luhur berkata,
daripada bisa berdebat, lebih baik bisa bersabar.
Daripada kau terus saling berdebat begitu,
lebih baik bisa bersabar menahan diri,
lebih baik bisa bersabar menahan diri,
betul kan?
Seperti waktu kami kuliah,
memegang seuntai tasbih,
melafalkan nama Buddha,
teman-teman kuliah di sekitar merasa kau aneh sekali:
mengapa mahasiswa ini bisa
memegang tasbih dan melafalkan nama Buddha begini?
Semua merasa aneh sekali.
Saya juga merasa mereka aneh:
mengapa mereka tak belajar Buddha, tak melafalkan nama Buddha?
Mereka juga merasa saya aneh,
betul kan?
Masing-masing menempuh jalannya masing-masing.
Tetapi,
kalau belajar, kami
juga pandai belajar.
Kalau bermain,
tempat-tempat yang tidak baik tak akan kami datangi.
Bhante waktu kuliah paling-paling
hanya menonton film, betul kan?
Menonton film.
Yang lain, kami juga tak punya uang, tempat-tempat buruk pasti tak akan kami datangi.
Tak akan didatangi — ini mungkin juga akar kebaikan dari kehidupan lampau.
Jadi mulai sekarang, setelah kalian berlindung,
ah,
kebiasaan buruk yang kalian punya, ubahlah perlahan-lahan.
Seperti anak laki-laki,
yang punya kebiasaan minum minuman keras,
punya kebiasaan berjudi — perlahan (diubah).
Ada lagi kehidupan malam, warnet.
Wah, anak muda sekarang,
bermain internet sepanjang hari,
bermain sampai lepas kendali,
bermain sampai lepas kendali.
Korea, Korea,
beberapa hari lalu diberitakan,
bermain itu —
bermain di warnet sampai apa?
Bermain tiga hari tiga malam tanpa tidur,
terus mengeklik-ngeklik,
tiba-tiba
jantungnya berhenti (lumpuh).
Anak muda,
beberapa hari beberapa malam tak tidur,
meninggal.
Korea.
Jadi saya beri tahu Anda sekalian,
kalau kehidupan ini tak belajar Buddha,
pandangan hidup Anda akan sangat
merepotkan,
akan sangat merepotkan. Mengapa sangat merepotkan?
Yaitu tak tahu harus bagaimana,
selanjutnya sebenarnya harus bagaimana.
Tetapi setelah belajar Buddha, berbeda.
Setelah belajar Buddha,
kita tahu harus bersandar pada Buddha,
pada kebijaksanaan Buddha, bersandar pada kebenaran Dharma, bersandar pada bimbingan guru bijak,
yang menuntun kita
menapaki gagasan hidup yang benar,
jalan yang benar,
jalan yang benar.
Sederhananya, mengapa harus belajar Buddha?
Yaitu agar kehidupan kita
lebih mendalam,
agar kehidupan kita lebih bahagia,
agar kehidupan kita
memperoleh kegembiraan yang sejati,
pembebasan yang sejati,
pembebasan yang sejati.
Yang duniawi disebut pengetahuan,
sedangkan Dharma disebut kebijaksanaan —
berbeda.
Kita belajar bahasa Inggris sering berkata,
"Knowledge is power",
pengetahuan adalah kekuatan.
Dalam Dharma dikatakan,
"Wisdom is power",
kebijaksanaan adalah kekuatan yang sejati —
berbeda.
Pengetahuan adalah kekuatan.
Tentu, pengetahuan ini membuat kita bisa memahami
kehidupan,
beberapa
gagasan,
membuat kita bisa mengerjakan sesuatu — entah sains, fisika, kimia,
melukis, bernyanyi.
Itu disebut "idea", gagasan,
gagasan,
gagasan.
Sedangkan Dharma berkata, gagasan tak dapat digenggam.
Bukan hanya gagasan tak dapat digenggam,
nama tak dapat digenggam,
tanda tak dapat digenggam,
kalimat tak dapat digenggam,
teks tak dapat digenggam,
bahasa tak dapat digenggam,
kata-kata tak dapat digenggam,
gagasan tak dapat digenggam,
segala penyimpulan tak dapat digenggam.
Kembali ke saat kini,
sifat sejati yang sempurna dan jernih itulah aku yang sejati.
Ini, kalau tak belajar Buddha dua puluh tahun,
membahasnya sungguh
terlalu sulit,
terlalu sulit.
Jadi hari ini kalian
punya jodoh seperti ini,
datang,
datang,
datang menjalin jodoh baik bersama. Semoga kalian
menjadi murid Buddha yang baik. Pulang, lalu bagaimana?
Kalau berjodoh, tontonlah
DVD (ceramah),
acara televisi,
acara berhadiah (kuis Dharma) itu,
kalian akan
di dalam hati merasa pulang membawa muatan penuh.
Di dalamnya sungguh
penuh
kejutan menyenangkan,
kejutan menyenangkan,
membuatmu sangat takjub:
ternyata di dunia ini masih ada bidang ilmu ini, sungguh tak terbayangkan.
Di dunia ini
masih ada kebenaran sejati
tentang pembebasan hakiki.
Jadi,
kembali kepada
kalimat pertama kita di awal tadi:
Buddha berkata, setiap orang sedang mengejar kebahagiaan, tetapi tak seorang pun benar-benar memahami apa itu
kebahagiaan.
Buddha berkata, manusia menderita karena mengejar hal yang keliru.
Mengapa kita hidup dengan sangat menderita?
Karena hal yang kita kejar keliru,
karena hal yang dikejar keliru,
jadi bersandar pada hal yang tidak benar itu,
kita ingin menjalani seumur hidup dan memperoleh kebahagiaan —
itu
mustahil.
Di dalam hati harus memiliki kebenaran sejati tentang alam semesta dan kehidupan,
barulah bisa.
Jadi entah filsuf,
entah ilmuwan,
entah pelukis,
musikus, seniman,
guru, petani, buruh, pedagang,
pada akhirnya ia pasti harus mencari (jawaban dari) agamawan.
Dan di antara semua agama,
ia pasti harus menemukan Dharma,
barulah bisa memperoleh pembebasan hakiki.
Menemukan Dharma.
(Kalau) tak menemukan Dharma,
kehidupan ini
dijalani
dengan
serba kabur,
serba bingung.
Di dalam Dharma
kalian bisa menemukan
kebenaran kekal
di dalam kehidupan.
Ini adalah kebenaran kekal tentang pembebasan.
Percayalah pada kata-kata Bhante.
Pulanglah — karena kalian baru saja berlindung,
belum paham apa-apa —
pulang, sering-seringlah menonton DVD ceramah Bhante ini.
Nyalakan televisi pukul setengah tujuh sampai setengah delapan,
(saluran) saya pukul sepuluh sampai sebelas,
ada acara televisi ini.
Kalau butuh
DVD,
bisa juga (ambil), di vihara semua ada,
di vihara semua ada.
Nah sekarang,
saya beri kalian beberapa menit
untuk bertanya,
untuk kalian bertanya.
Bertanyalah yang
sederhana,
padat,
yang berkaitan dengan belajar Buddha.
Jangan menanyakan yang
sangat jauh (melenceng),
sangat jauh,
betul kan?
Yang tidak berkaitan dengan
agama Buddha dan Dharma,
jangan ditanyakan.
Yang berkaitan dengan Dharma,
yang sedikit kalian tak paham,
kalian boleh angkat tangan.
Sekarang pakai beberapa menit,
sudah pukul lima,
sekarang saya beri kalian
waktu untuk bertanya.
Kelompok kalian ini
sungguh —
kelas ini sungguh hebat,
semua tak ada pertanyaan.
Ini
kelas tinggi (high class),
tingkatnya sangat tinggi.
Kalau tak ada pertanyaan,
kita akan bubar.
Coba pikir,
kesempatan langka. Ini, mikrofonnya, mikrofon,
kalau kau mau bertanya, semua bisa mendengar.
Bicaralah pakai mikrofon.
"Bhante, mau bertanya,
setelah berlindung
apakah perlu makan sarapan vegetarian?"
Apa?
"Setelah berlindung apakah perlu makan sarapan vegetarian?"
Pagi hari makan vegetarian juga bagus,
betul kan?
Rasanya —
tak (perlu) sampai kelaparan, tetapi kalau mau makan, makan yang baik.
Betul kan? Sarapan makan vegetarian sebenarnya juga cukup sehat bagi tubuh.
Kecuali keluargamu punya larangan khusus.
Suami di keluargamu apakah belajar Buddha?
Tidak belajar Buddha.
Kalau begitu hati-hati.
Pulang tetap harus sedikit berhati-hati.
Ini,
kalau ia menyuruhmu makan apa, kau makan lalu limpahkanlah (pahalanya), lebih baik ia yang menanggung (akibatnya),
bukan kau yang menanggung.
Kalau kau sendiri suka makan (daging),
begitu juga tidak baik.
Baik, kau masih ada pertanyaan lain? Ini,
makan sarapan semestinya tak ada masalah, tak akan sulit.
Tak nyaman, tak nyaman, ya sudah tak apa-apa.
Berlindung tak punya pantangan ini.
"Bhante, mau bertanya, ada seorang bhiksu yang sangat terkenal, ia berkata,
menurut kajiannya tidak ada Tanah Suci Sukhavati di barat.
Bagaimana itu?"
Ada seorang bhiksu,
bhiksu yang sudah wafat,
ia punya banyak karya tulis.
Ia berpendapat
bahwa
Tanah Suci Sukhavati di barat itu
adalah kepercayaan
dewa matahari
India.
(Kau) tahu pemikiran Master Yin Shun.
Nah, menurutmu apa yang ia katakan itu benar?
Kami tidak menganggap begitu. Pemikiran Master Yin Shun sudah kami pahami, Bhante membacanya menyeluruh.
Saya beri tahu, Tanah Suci Sukhavati yang sejati ada di batinmu,
di batinmu,
di dalam hati kita. Dan
saya beri tahu,
sesungguhnya banyak orang yang melafalkan nama Buddha, sampai ajalnya,
melihat Buddha.
Dan tingkat yang tinggi itu
memerlukan latihan pembuktian langsung, pembuktian langsung.
Barulah (bisa) berkata — ketika keadaan batinmu belum cukup, membicarakan ini bukankah agak (berlebihan)?
Itu adalah pemikirannya sendiri.
Master Yin punya pemikiran Master Yin, kami
menghormatinya.
Yang dikatakan lebih keras adalah "Mahayana bukan sabda Buddha" — itu lebih keras lagi,
betul kan? (Bukankah itu) tesis kendaraan kecil? Ini memang perdebatan.
Tetapi kami melihat banyak orang melafalkan nama Buddha,
dalam keheningan
melihat Buddha, dan
mencium wangi, melihat cahaya — banyak kisah nyata seperti ini.
Seperti banyak orang,
hari ini ada lagi seseorang mengirim faks, betul kan?
Lalu dari Tiongkok daratan sering datang,
sering ada yang menulis surat,
oh ya,
dan itu —
"Bhante, respons batin luar biasa dari kain kafan bersinar keemasan (往生被) itu —
mengapa ayahnya seumur hidup..."
Membicarakan ini, secara teori
ia punya
dasar-dasarnya (untuk skeptis). Tetapi kami membicarakan fakta.
Di Tiongkok daratan banyak yang sangat percaya pada pintu Dharma Tanah Suci.
Nah, pintu Dharma Tanah Suci,
maka ia membawa kain kafan (往生被) berhias pasir bersinar keemasan dari Bhante, dengan tiga roda dharani.
Ada seorang ayah
yang tak percaya Buddha, sehari-hari juga tak berlatih,
sehari-hari juga tak berlatih.
Belakangan, anak-anaknya melihat buku "Panduan bagi Yang Menjelang Ajal" yang ditulis Bhante,
"Panduan bagi Yang Menjelang Ajal".
Tiba-tiba ayahnya wafat.
Seumur hidup tak berlatih,
tetapi di tubuhnya
sudah disiapkan kain kafan pasir bersinar keemasan yang telah diberkati Bhante, dan apa lagi?
Tiga roda dharani.
Ia (anak) sudah membaca "Panduan bagi Yang Menjelang Ajal" itu, (yang bilang) ini bermanfaat bagi yang meninggal,
bermanfaat bagi yang meninggal,
bermanfaat bagi yang meninggal.
Maka ia menutupkan kain kafan pasir bersinar keemasan,
karena ia sudah membaca,
tiga roda dharani ditaruh di dada,
lalu pelafalan bantuan selama 24 jam.
Tahukah Anda?
Sekujur tubuh lentur,
wajahnya seperti orang hidup,
lebih rupawan daripada sebelum ia wafat.
Bukankah ia (anak) merasa itu sungguh tak terbayangkan?
Ia lalu (memanggil) seluruh desa, karena orang sekampung itu —
orang meninggal
sampai 24 jam tubuhnya kaku.
Hanya ayahnya ini, setelah wafat,
24 jam, 48 jam,
sampai waktunya berganti pakaian — lewat tiga hari,
dua-tiga hari terus dilafalkan bantuan, sampai waktu berganti pakaian sekujur tubuh tetap lentur.
Jadi ini bukan hal yang didebatkan dengan teori.
Ini, kalau kau bilang "ada atau tidak" —
kenyataannya memang setak-terbayangkan itu.
Baik, saya ceritakan satu lagi.
Ibunya.
Ibunya seumur hidup
juga tak percaya Buddha.
Kau seumur hidup pun tak percaya Buddha.
Nah,
anaknya,
anaknya —
ini juga (kisah) dari Tiongkok daratan,
karena ia dari sebelum Revolusi Kebudayaan,
jadi
ibunya melahirkan lima-enam anak,
waktu itu belum ada pembatasan kebijakan satu anak,
melahirkan beberapa anak.
Ibunya suatu hari
wafat.
Setelah wafat, karena ia sudah melihat
"Panduan Menjelang Ajal" Bhante,
saya juga tahu.
Ia juga
pergi ke Hong Kong,
mengambil kain kafan pasir bersinar keemasan dengan roda dharani ini.
Sekarang membicarakan fakta.
Dikatakan anaknya
berkecimpung di sains, sama sekali tak percaya
ada Tanah Suci Sukhavati,
dipukul mati pun tak percaya.
Belakangan ibunya
wafat, tak ada cara lain, seperti pepatah "kuda mati diobati seolah masih hidup",
(sekadar mencoba).
"Kau menangis di sana pun tak membantu ibu."
Ia lalu
membentangkan kain kafan,
menaruh tiga roda dharani di
dada, pasir bersinar keemasan sungguh ditaburkan.
Melafalkan nama Buddha, melafalkan, melafalkan.
Anaknya juga tak percaya Buddha,
melafalkan nama Buddha — pokoknya asalkan bermanfaat bagi ibu.
Ia tiba-tiba melihat seberkas cahaya,
di pintu gerbang rumahnya seberkas cahaya,
melihat Tiga Suciwan dari Barat (Amitabha, Avalokiteśvara, Mahāsthāmaprāpta).
Ia merasa itu sangat tak terbayangkan:
"Aku pun tak percaya Buddha,
ibu pun tak percaya Buddha,
tetapi ini —
kain kafan pasir bersinar keemasan dengan roda dharani ini sungguh setak-terbayangkan itu."
Jadi,
dalam Sutra Kehidupan Tanpa Batas dikatakan,
kau melakukan lima perbuatan durhaka,
sepuluh keburukan, segala dosa,
(kalau) menjelang ajal ada orang berbudi luhur yang membimbing,
dalam satu getar pikiran memutar cahaya kembali menyinari batin, mudah memperoleh kelahiran (di Tanah Suci) —
tetap bisa terlahir di sana.
Seisi keluarga, ia menyuruh seisi keluarga
keluar melihat:
mengapa di depan pintu rumah kita ada seberkas cahaya sekuat ini?
Buddha menampakkan diri,
seisi keluarga melihatnya.
Mereka merasa ini sangat tak terbayangkan.
Nah, kalau kau mau memakai sains, memakai mata,
memakai mikroskop, memakai teleskop astronomi — itu benda yang berupa tanda.
Segala yang bertanda adalah semu.
Kita melihat tanda lalu membangun gagasan.
Tetapi Buddha,
ia bukan (soal) tingkatan,
ia bukan benda yang bertanda,
ia adalah wujud batin
yang terpantulkan keluar,
dunia yang jernih,
paham?
Jadi ketika jodohmu matang,
akar kebaikanmu matang,
Buddha akan mewujud (menampakkan diri).
Terhadap orang yang akar kebaikannya tidak tebal, tidak mendalam,
terhadap orang yang tak punya keyakinan, Buddha tak menampakkan diri.
Tetapi kalau jodohmu lengkap, akar kebaikanmu lengkap, Buddha akan menampakkan diri.
Baik.
Sekarang membahas ada tidaknya Tanah Suci Sukhavati.
Waktu saya kuliah,
terhadap Tanah Suci Sukhavati di barat ini
saya percaya penuh tanpa ragu.
Dulu latihan Tanah Suci yang jernih,
latihan Tanah Suci, juga mendengarkan (ajaran) Upasaka senior Li Bingnan.
Waktu Bhante kuliah — Upasaka senior Li Bingnan,
dan sendiri membaca (karya) Master Yin Guang,
lalu membaca (kisah) kelahiran di Tanah Suci dari pintu Dharma Tanah Suci ini,
"Catatan Para Suciwan Tanah Suci". Bhante terhadap pintu Dharma Tanah Suci,
melafalkan nama Buddha, benar-benar seratus persen
percaya penuh tanpa ragu,
percaya penuh tanpa ragu.
Coba lihat, ketika pelajaran olahraga, waktu itu,
asrama kampus,
tak ada yang menyalakan dupa,
tak seorang pun menyalakan dupa.
Tetapi di asrama kampus itu,
(karena) sangat tekun melafalkan "Amituofo, Amituofo",
anehnya tercium harum semerbak,
sangat wangi, wangi itu
bukan wangi
bedak,
bukan wangi parfum (Paris).
Wangi ini, kau tak akan bisa
menggambarkan wangi ini,
dari mana asalnya —
tak tahu.
Ketika tekun melafalkan "Amituofo", kau mencium wangi semacam itu.
Dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh,
ketika melafalkan nama Buddha sampai ada respons batin,
wangi itu kau tak bisa menggambarkannya.
Di dunia ini sama sekali tak bisa membeli wangi semacam itu,
sangat sejuk, sangat menyegarkan,
tetapi kau tak bisa mengungkapkannya.
Namun,
pada tubuh siapa pun,
karena kau pernah menyemprotkan parfum,
memercikkan air wangi, kau tahu wangi itu.
Tetapi wangi semacam ini bukan wangi parfum,
bukan pula wangi dupa yang dibakar,
wangi semacam itu,
menurut saya langka di dunia.
Baik.
Ini tak masalah — barangkali di asrama kampus ada yang menyalakan dupa?
Suatu kali saya juga sangat khusyuk, saat pelajaran olahraga, betul kan?
Saya ingat, saat pelajaran bola basket.
Saat pelajaran bola basket,
karena
bola basket itu —
main basket kalian tahu —
orang yang tinggi 180,
80 sentimeter, 190 sentimeter, kuat main basketnya,
ia tak akan mengoper bola kepada saya,
betul kan?
Kami juga tak berminat pada itu.
Jadi ketika semua main basket,
kami di pinggir lapangan basket
dengan sangat tekun melafalkan nama Buddha,
sangat tekun melafalkan nama Buddha.
Setelah pelajaran olahraga selesai,
semua orang bubar berhamburan.
Ketika bubar berhamburan,
kebetulan di lapangan olahraga,
di lapangan olahraga,
saat di lapangan olahraga,
tercium harum yang sangat wangi, sangat wangi.
Mengapa bisa sewangi ini?
Sama
dengan wangi yang tercium di asrama kampus, persis sama.
Ini,
tempat seluas ini,
sebuah lapangan empat-lima ratus meter, luasnya beberapa hektare,
di lapangan olahraga tak ada yang menyalakan dupa.
Lalu saya (tanya) Chen Zhongxing di sebelah saya, "Kau mencium (wangi) tidak?" "Tidak."
"Chen Zhongxing, kau mencium tidak?" "Tidak." Aneh, sedangkan saya terus mencium wangi.
Mengapa bisa sewangi ini?
Baik,
ini yang kedua kalinya.
Nah, waktu kami kuliah, karena waktu itu ada
itu,
asrama —
di luar,
tak ada yang menjual makanan vegetarian.
Waktu kuliah,
di luar hampir tak ada,
tak bisa makan vegetarian.
Maka
kami,
mahasiswa anggota klub kampus ini,
satu orang satu bulan,
makan siang
dan makan malam, satu bulan membayar delapan ratus (dolar),
lalu mengundang seorang nun dari luar untuk memasak.
Jadi kalau kau mau pergi
makan vegetarian ini, harus berjalan agak jauh,
agak jauh — tak terlalu jauh, tetapi juga tak terlalu dekat.
Nah, suatu kali,
waktu itu, tiga puluhan tahun lalu,
di sekitar kampus,
karena
kebanyakan
sawah — sawah, ladang yang digarap orang,
ladang garapan.
Nah, Bhante
berjalan di pematang sawah, di pematang, karena waktu itu —
dulu, tiga puluhan tahun lalu, tak ada
pembangunan apa pun.
Di sekitar kampus tak ada pembangunan khusus.
Saya berjalan di pematang sawah, jalan pintas,
jalan pintas.
Ketika berjalan di pematang sawah, sambil melafalkan nama Buddha dengan sangat tenang, "Amituo, Amituo",
berjalan di pematang sawah, kali ini —
kali ini wangi yang tercium lebih kuat lagi.
Sangat
sungguh-sungguh melafalkan "Amituo, Amituo",
wangi yang tercium lebih kuat lagi.
Lihat lagi sekeliling,
tak ada,
sama sekali tak ada,
seorang pun tak ada yang menyalakan dupa. Coba lihat, di luar kota yang sepi,
di pematang sawah, mana ada wangi semacam ini?
Jadi (soal) yang dikatakan upasaka ini,
apa itu — ini sudah bukan (soal) di tataran teori,
di suatu perdebatan.
Dan ini sudah diperdebatkan tiga-empat puluh tahun,
tiga-empat puluh tahun. Kita tidak (bersandar) pada kajian akademis,
kita (bersandar) pada latihan yang sungguh-sungguh,
pada manfaat yang dirasakan.
Bhante berkata,
ketika kau menerapkannya pada latihan
yang sungguh-sungguh,
tak akan ada keraguan semacam ini,
paham?
Inilah yang Bhante beri tahu kalian.
Bahkan saya yang
begini pun, kalian di sini —
mahasiswa lain tak ada yang mencium (wangi itu),
betul kan?
Dan saya bukan mencium sekali, (tetapi) tiga kali.
Menurut saya itu disebut —
saya menganggapnya wangi jernih
dari Tanah Suci Sukhavati,
wangi yang mutlak tak bisa dicium orang dunia.
Ini, kecuali kau melafalkan nama Buddha dengan sepenuh hati yang tulus, kalau tidak,
dipukul mati pun kau tak akan percaya.
Jadi dalam Dharma, banyak hal — kalau kau terus membahasnya di tataran teori,
tak ada maknanya sama sekali.
Ada praktik nyata,
baik tidak?
Baik. Masih ada pertanyaan lain?
Tak ada.
Amituofo.
Mau bertanya,
Amituofo itu siapa?
Atau Amituofo itu (pelafalannya) dimulai dari mana?
Betul. Saya beri tahu,
ini sangat penting.
Orang pada umumnya,
(melafal) "Amituofo,
Amituofo",
nadanya rendah,
rendah dalam.
Kita,
(seperti) energi naik ke atas kepala —
ketika kau menjelang ajal,
"A" ini, energinya menghentak ke atas,
paham?
Energi menghentak ke atas.
Bunyi "A" yang benar,
kau buka teks Sanskrit,
teks Sanskrit — kalau kau ke India,
buka teks Sanskrit,
ia pasti melafalkan
"Namo Amitābhāya",
sama sekali bukan melafalkan
"Namo Amituofo",
"Amituofo".
Itu adalah bahasa (versi) yang tersebar ke wilayah Tiongkok itu,
bahasa daerah, logat ini.
Tentu, kalau kau melafalkan dengan sepenuh hati yang tulus,
tetap sama-sama bisa terlahir di Tanah Suci.
"Amituo, Amituo, Amituo, Amituo",
betul kan?
Ada orang melafalkan,
di Shandong ada orang melafalkan begitu,
"Amituofo",
"Amituo, Amituo",
(dengan bunyi hidung dari) dahi,
seperti bunyi ayam, bebek, angsa,
"Amituofo, Amituo", (dengan) pelafalan itu.
Ada pula yang melafalkan (begitu).
Nah, bunyi yang benar
adalah melafalkan "A",
"A".
"A" ini, bunyi ini,
disebut bunyi dasar,
bunyi dasar.
Oh,
kita
di Taiwan
memanggil "Aba" (ayah),
"A",
"Aba",
memanggil "Aba",
"Aba".
Betul kan?
"Amu" (ibu),
"Amu",
"Amu".
Apa yang kau panggil?
Di Taiwan juga memanggil "Amu", bukan begitu?
Bagaimana ia memanggil "Amu"?
Di Taiwan juga memanggil "Amu", betul kan?
"Amu", "Aba".
"Aba" itu (logat) daerah Shandong,
"Aba".
Jadi,
kita sejak awal belajar
harus belajar bunyi yang benar,
paham?
"Aba",
"Amu", "Amituofo",
"A" bunyi yang benar.
Saat "A", energi ini (bergerak) ke atas.
Harus melafalkan bunyi yang benar.
Teks Sanskrit juga sama.
Nah, "Amitābhāya",
Tibet —
teks Tibet juga sama, pasti melafalkan "Amitābhāya",
sama sekali bukan melafalkan
"Amituofo".
"A" itu bunyi daerah,
yaitu setelah tersebar ke Tiongkok,
setiap daerah
berbeda-beda,
bunyinya berbeda-beda,
bunyinya berbeda-beda.
Bunyi yang berbeda-beda itu —
tentu Buddha
juga tahu
apa yang sedang kau
ucapkan,
apa (yang kau maksud).
Jadi ini, karena tersebar ke sana —
misalnya,
misalnya,
"chi fan" (makan nasi),
"chi fan",
"chi fan",
"makan nasi".
Kalau kau orang Jepang, "makan nasi"-nya adalah —
(bukan) "Amituofo",
"Amituofo".
Makan nasi, "Amituofo".
Kita
bahasa Taiwan menyebutnya
"chia png" (makan nasi),
sama sekali berbeda dengan bahasa Jepang.
"Amituofo", makan nasi,
bahasa Mandarin menyebutnya "chi fan",
"chi fan".
(Itu semua) sapaan salam,
juga berbeda-beda.
Tetapi,
semua tahu bahwa Dharma batinnya sama.
Bahasa dan kata-kata punya kekhasan wilayah.
Misalnya,
kau bilang, kau ke —
kau ke
Korea,
sapaan salamnya disebut —
(bukan) "Amituofo",
"Apa kabar?"
"Amituofo",
"Amituofo",
bahasa Jepang.
Nah kalau kau tahu orang Jepang,
"ohayō",
pagi hari,
"ohayō gozaimasu",
(diucapkan) dengan lantang.
Nah,
kalau kau ke Amerika,
bangun pagi hari, "Good morning".
Good morning.
Kalau dalam bahasa Tionghoa,
kalau dalam bahasa Tionghoa,
"Selamat pagi, apa kabar",
"Selamat pagi, apa kabar",
betul kan?
"Apa kabar,
akhir-akhir ini baik?"
"Akhir-akhir ini baik?"
Bunyinya memang berbeda, tetapi yang dimaksud hati semuanya sama.
Terlepas dari bahasa negara mana yang kau pakai, sebenarnya hati tahu "aku sedang menyapamu".
Jadi kau melafalkan "O", melafalkan "R", melafalkan "O",
Amitabha semuanya tahu kau sedang melafalkan-Nya.
Amitabha bukan (patung) kayu tak sadar,
Ia sangat berkebijaksanaan,
paham?
Tetapi kalau kita baru mulai belajar Dharma, sejak awal
harus melafalkan bunyi yang benar.
Kalian ke depannya masih ada pertanyaan?
Tak ada, semua tak ada masalah.
Bagus. Pulang, kalian semua patuh dan menurut,
tekun, rajin berlatih.
Hampir tak ada liku-liku,
tak ada teknik (yang rumit),
tak ada (aturan)
"harus vegetarian, tak boleh tidak",
tak ada yang begitu.
(Tetapi) ada sila:
kalau bisa dijaga — tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, tidak minum minuman keras.
Berlindung hanyalah sebuah
permulaan,
tak ada pantangan khusus.
Sebisa mungkin kebiasaan buruk itu
diubah.
"Bhante,
saya ini,
setelah berlindung
apakah boleh berjudi?"
Boleh, tetapi
jangan kalah terlalu banyak.
Tak ada pantangan apa-apa.
"Bhante, itu,
saya,
saya ini,
setelah berlindung,
nah apakah boleh pergi ke kelab malam?"
Boleh, jangan terlalu lama.
Kalau kau langsung menyuruhnya tak boleh pergi, ia tak akan tahan.
Jadi maksudnya,
kendalikan sedikit,
karena kita adalah murid Triratna,
murid Triratna.
Bahasa Taiwan menyebutnya murid Tiga Permata,
seperti murid Triratna,
yaitu murid Tiga Permata,
murid Triratna.
Jadi kita murid Triratna,
kita punya satu (patokan):
kendalikan diri sendiri dulu,
kendalikan satu per satu,
kebiasaan buruk apa pun.
Kata-kata yang menyakiti orang tak boleh diucapkan,
satu kalimat pun tak boleh.
Jadi kalimat ini,
seumur hidup ini —
mendekati keberuntungan,
menjauhi malapetaka,
menjauhi malapetaka.
"Segala keburukan jangan dilakukan, segala kebaikan laksanakan."
Hal buruk satu pun tak boleh dilakukan,
hal baik sebisa mungkin dilakukan,
hal baik sebisa mungkin dilakukan.
Karena kalian semua baru belajar Dharma,
membahas teori yang terlalu mendalam sungguh tak bisa, karena Dharma ini sungguh sulit,
sungguh sulit.
Saya pernah berkata kepada mereka,
coba pikirkan, "metode empat pintu, empat pandangan" Bhante butuh waktu berapa lama?
Tahukah kalian?
Sekarang saya beri contoh dari (pengalaman) Bhante untuk kalian dengar, betapa sulitnya Dharma ini.
Tentu, kalau dasar akar kebaikan (dari kehidupan lampau)-mu seperti Patriark Keenam, itu lain soal.
Betapa sulitnya Dharma ini.
Pertama,
untuk "metode empat pintu, empat pandangan", Bhante butuh
waktu tiga puluh enam tahun,
waktu tiga puluh enam tahun.
"Empat pandangan" ini butuh waktu berapa lama?
Tiga puluh enam tahun.
Kau menyuruhnya duduk dan membaca beberapa buku,
ia butuh tiga puluh enam tahun.
SD enam tahun,
SMP tiga tahun, SMA tiga tahun, kuliah empat tahun, pascasarjana dua tahun, sekolah Buddhis tiga tahun,
membaca Tripitaka lima belas tahun —
tiga puluh enam tahun.
"Empat pandangan" butuh tiga puluh enam tahun, butuh waktu berapa lama?
Tak ada cara (singkat),
tak ada cara (singkat).
Jadi kalian punya akar kebaikan ini, Bhante memuji kalian.
Tetapi harus
perlahan,
selangkah demi selangkah,
selangkah demi selangkah.
Orang bertanya, "Bhante, Dharma ini dalam tidak?" Sangat dalam.
"Sulit tidak?" Sangat sulit.
(Tetapi) setelah aku tercerahkan besar,
juga tak ada yang sulit maupun tak sulit.
Kau melihat sifat sejati,
segala dharma adalah Dharma batin,
segala dharma adalah sifat asli,
segala dharma tak lepas dari saat kini.
batin yang jernih.
Getar pikiran ini,
satu getar batin yang jernih ini.
Apa itu Dharma?
Batin kebijaksanaan itulah,
batin yang bijaksana,
itulah Dharma.
Mengapa harus belajar Buddha? Yaitu untuk membuka kebijaksanaan agung,
membuka kebijaksanaan agung Buddha,
membuka kebijaksanaan agung.
Setidaknya kita membuka kebijaksanaan kecil,
kekotoran batin sedikit berkurang,
sedikit berkurang,
betul kan?
Baik.
Nah,
sekarang,
sudah pukul 5.25.
Kalian,
kalian datang dari jauh, Bhante tak akan menyita waktu kalian.
Pulanglah, minum sup panas.
Baik, ketua panitia silakan berdiri,
silakan berdiri.
Baik.
Berlindung —
mundur ke belakang,
rangkapkan tangan, rangkapkan tangan, rangkapkan tangan.
Maju ke depan,
mendekat ke bantal duduk.
Baik.
Berlindung — kebajikan sempurna. Hadirin, bersujud kepada Buddha tiga kali.
Sujud,
sujud,
sujud.
Baik, bangkit,
bangkit.
Sujud sekali lagi,
bangkit.
Sujud ketiga,
bangkit.
Beri salam.
Baik, semoga kalian semua
segera membangkitkan batin pencerahan, segera menjadi Buddha.
Baik, sampai jumpa. Amituofo.
Silakan saksikan
Ceramah Buddhis Guru Hui Lü.
Orang yang berlatih di jalan Buddha,
kau harus mengingat ketakberselisihan (batin yang tak bertikai).
Ada lagi yang sangat penting:
batin harus lembut dan lentur,
sebisa mungkin memaafkan makhluk hidup,
kesabaran menahan diri.
Kesabaran menahan diri ini
harus disertai penembusan atas kekosongan dan ketanpa-tandaan,
kalau tidak, kesabaran itu tak akan tertahankan.
Lanjut Menjelajah
Tiga KeranjangTelusuri sumber Dhamma dalam TipitakaBunbunTemukan penjelasan dan kisah Dhamma lainnya