Ceramah ini membahas tentang kebanggaan menjadi seorang umat Buddha, yang disampaikan oleh Bhikkhu Uttamo bersama Andri Wongso dalam sebuah talkshow. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana umat Buddha dapat merasa bangga dan percaya diri dalam identitas mereka, serta bagaimana menghadapi berbagai tantangan hidup seperti kejenuhan, stres, kesuksesan, dan emosi. Pembicara menjelaskan bahwa kebanggaan sejati muncul dari pemahaman dan praktik Dhamma yang membawa perubahan perilaku menjadi lebih baik, bukan sekadar label. Mereka juga menekankan pentingnya semangat, tujuan hidup, dan kesadaran penuh (mindfulness) dalam mengatasi masalah. Alur pemikiran dimulai dengan pengenalan tema, kemudian membahas sumber kebanggaan, dilanjutkan dengan cara mengatasi kejenuhan, konsep ketuhanan, karma, keberagaman aliran, pengendalian emosi, hingga nasihat praktis untuk kehidupan sehari-hari. Pesan utamanya adalah bahwa menjadi Buddhis adalah kebanggaan karena ajaran yang logis dan terbuka, dan kebanggaan itu harus diwujudkan melalui praktik nyata, kesadaran, dan sikap positif dalam menghadapi kehidupan.
Bagian PentingAI · suggested — belum ditinjau manusia
Pembukaan dan Perkenalan Pembicara
Moderator memperkenalkan tema talkshow 'Kebanggaan Menjadi Seorang Buddhis' serta kedua pembicara, yaitu Bante Utamotera dan Andri Wongso, beserta latar belakang singkat mereka.
Kebanggaan dari Sisi Ajaran dan Praktik
Bante Utamotera memaparkan kebanggaan menjadi Buddhis karena riwayat Buddha yang jelas, ajaran yang terbuka untuk semua, dan kemampuan mengendalikan suka duka sendiri. Andri Wongso menambahkan bahwa kebanggaan muncul dari pemahaman dan praktik Dhamma yang membawa kesuksesan hidup.
Semangat dan Identitas Buddhis
Andri Wongso menekankan pentingnya semangat dan percaya diri sebagai Buddhis, serta berani mengakui identitas Buddha di depan umum. Bante Utamotera menambahkan bahwa kebanggaan sejati muncul ketika ada perubahan perilaku menjadi lebih baik.
Mengatasi Kejenuhan dan Stres
Menjawab pertanyaan tentang mengatasi kejenuhan, Andri Wongso menyarankan untuk selalu ingat tujuan hidup, sementara Bante Utamotera mengajarkan kesadaran penuh (mindfulness) terhadap perasaan jenuh agar lenyap.
Perjalanan Menjadi Buddhis dan Konsep Ketuhanan
Andri Wongso menceritakan kisah konversinya ke agama Buddha karena ajaran yang logis dan dapat dibuktikan. Bante Utamotera menjelaskan konsep ketuhanan dalam Buddhisme sebagai Nibbana yang dapat dicapai dan dibuktikan, serta kebanggaan atas tradisi yang beragam.
Sukses, Karma, dan Perubahan
Pembicara membahas cara mempertahankan kesuksesan di tengah ketidakkekalan, pemahaman karma sebagai niat dan akibat, serta pentingnya berjuang dan tidak pasrah pada nasib.
Keberagaman Aliran dan Pengendalian Emosi
Menjawab pertanyaan tentang aliran dalam Buddhisme, Bante Utamotera menjelaskan bahwa tidak ada yang paling benar, melainkan yang paling cocok, dengan tanda perubahan positif. Cara mengendalikan emosi adalah dengan menyadari saat ini.
Semangat, Target, dan Buddha Maitreya
Andri Wongso menjelaskan bahwa semangat muncul dari tujuan yang jelas. Bante Utamotera membahas tentang Buddha Maitreya dan ajaran yang sama, serta pentingnya berlatih saat ini.
Bersyukur, Pernikahan Beda Agama, dan Keragaman Aktivitas
Bante Utamotera menguraikan makna bersyukur sebagai menerima kenyataan saat ini sambil terus berusaha. Ia juga menyarankan agar pasangan beda agama saling memahami, dan mendukung berbagai bentuk kegiatan Buddhis.
Menasihati Orang Tua dan Penutup
Bante Utamotera memberikan saran untuk mengenalkan Dhamma kepada orang tua melalui media dan teladan perilaku baik. Acara ditutup dengan kesimpulan tentang kebanggaan menjadi Buddhis dan ajakan mempraktikkan Dhamma.
Transkrip LengkapAI · suggested — belum ditinjau manusia
Selamat malam, terima kasih juga untuk saudara MC, saudari Melinda.
Malam hari ini, Dama Sena kembali merayakan Waisak dengan format yang sangat berbeda dari biasanya,
yaitu kita mengadakan talk show.
Tema talk show kita kali ini adalah Kebanggaan Menjadi Seorang Buddhis.
Pada kesempatan kali ini, saya selaku moderator didampingi oleh pembicara yang dua orang.
Seorang adalah orang yang sukses di bidang spiritual,
seorang yang lagi adalah orang yang sukses di bidang kehidupan sebagai matawang.
Untuk mempersingkat waktu, saya mencoba perkenalan dengan keduanya.
Yang pertama adalah Bante Utamotera.
Dia lahir di Yogyakarta, 13 November 1960.
Pendidikan dia adalah lulusan Ikib Sanata Dharma, Yogyakarta, 1985.
Jurusan yang diambil adalah Bahasa dan Tata Inggris.
Satu tahun kemudian, di tahun yang pertama, 21 Juli 1985, di Jakarta,
dia mengikuti Bapak Jasa Manera.
Dan satu tahun kemudian, pasang pada minggu di Bangkok, 27 Desember 1986.
Domisilnya sekarang di Wihara Samadhinjaya, juga Pak Tisamedi Balerejo.
Jalan Tisamedi Riyadi, 21 Blitar, Jawa Timur.
Jadi kalau misalnya ada saudara, selamat malam.
Semoga anda sehat dan beruntung.
Selanjutnya adalah seorang yang sukses di bidang kehidupan sebagai matawang.
Bapak Andri Wongso.
Profil tingkat beliau adalah nama asli tetap Andri Wongso.
Asal malas, 6 Desember 1954, kelahiran beliau.
Kemudian pendidikan yang paling bikin saya kagum adalah SDTT TBS.
Untuk lebih jelasnya mungkin bisa nanti dijelaskan lebih lanjut oleh Bapak Andri.
Hobi beliau adalah membaca, menulis, berpikir, dan olahraga.
Seperti kungfu, cantur, badminton, dan golf.
Moto beliau adalah Success in My Right.
Atau bahasa kerennya, sukses adalah hak saya.
Pengalaman hidup beliau, tahun 1976 mengadil nasib di Jakarta.
Tahun 1979 mendirikan perguruan bela diri, APKUNDO, benar?
Betul.
Nah, kemudian tahun 1980 sampai tahun 1983,
sempat bermain film laga di perusahaan film internasional.
Saat ini juga sebagai Dewan Komisaris Perusahaan Multi Level Marketing Forever Young Indonesia
dan PT Mitra Sakti Perkasa.
Nanti setelah acara talkshow juga bisa melihat beliau pada acara sebagai host di Sun Tzu di Metro TV.
Itu setiap hari Jumat, jam 10.30 malam.
Kemudian juga beliau sekarang isi sebagai host Smart Radio Wisdom & Stalker.
Pada menit yang sama, gel dois pratique� Princess Third Bloody C наблюд το
itu profil tingkat tentang kedua pembicaraan utama kita
kemudian kita akan langsung saja mungkin untuk kedua pembicaraan kita kali ini
dan singkat tentang tema kita kali ini sebagai Budi.
Apa yang dari para bapakами.
Topik kita malam hari ini adalah terbangga sebagai
dan ini bisa timbul dari
apa yang disebut terbanggaan dari acara.
Discerita seperti ini.
Saya mau closure 혜
Kalau di dalam agama muda ini, yang pertama dari guru, sang muda pertama ini yang membanggakan adalah
mempunyai riwayat yang jelas, kelahirannya jelas, besarnya jelas,
kemudian hal-hal yang terpenting dalam hidupnya juga jelas, sampai wafat pun jelas.
Dan hal ini kita bisa melihat ada dalam salah satu visi yang dikeluarkan oleh BBC
tentang telah pemuda. Di visi itu ada penyelidikan secara arkeologis
tentang keberadaan sang muda Gotama sebagai figur sejarah.
Itu yang membanggakan yang pertama.
Kemudian yang kedua, sang muda Gotama ini adalah selain riwayatnya jelas,
hal yang membanggakan adalah selama 45 tahun mengajar,
dia tidak pernah punya musuh.
Banyak raja justru menjadi muridnya.
Banyak orang besar justru ikut kepada beliau.
Dan banyak sekali perawat kerajaan yang malah menjadi bigu di bawah pimpinan beliau.
Ini hal yang membanggakan yang baik.
Hal yang membanggakan yang ketiga, kalau kita melihat ajaran sang muda,
sang muda menyampaikan bahwa,
aku hanya menunjukkan untuk sendiri yang melaksanakan.
Dan kalimat yang sangat sederhana ini mempunyai pengaruh yang besar sekali.
Kenapa?
Karena di dalam dama kita bisa menyadari bahwa siapa saja yang melaksanakan ajaran sang muda,
dia akan mencapai kesujian, akan mempunyai kualitas batin yang sama dengan yang diperoleh oleh sang muda.
Sehingga apakah dia itu anak raja, apakah dia seorang raja,
apakah dia itu...
Hanya pedagang, apakah dia itu bahkan seorang pengemis sekalipun,
selama dia mau menjalankan ajaran sang muda,
dia pasti mencapai kesujian yang sama.
Menjadi seorang, mencapai tingkat kesujian yang pertama, kedua, ketiga.
Ini yang kalau kita lihat, tahap yang membahagakan, tingkat yang membahagakan untuk ajaran.
Sedangkan yang kedua,
hal yang membanggakan,
ini yang dari sudut pandang saya sebagai pribadi.
Ini kan tadi hal yang membanggakan saya, kan ya maksudnya.
Ya, atau kita semua.
Kita semua.
Oh ya, baik.
Hal yang membanggakan untuk kita sekarang sebagai umat.
Apa ini?
Yang penting adalah bahwa ajaran sang muda ini menyampaikan segala sukan maupun duka.
Itu yang buat kita.
Kenapa hal ini membanggakan?
Karena kalau yang buat kita sendiri suka dan duka itu otomatis kita bisa menyelesaikan.
Kita bisa meningkatkan kebahagiaan, kita bisa menekan penderitaan.
Tapi kalau suka dan duka ini yang buat orang lain, yang buat pihak lain,
maka yang bisa menyelesaikan cuma dia.
Karena di dalam sebuah lagu kan ada,
Kau yang mulai.
Kau yang mulai.
Allah yang mengakhiri.
Karena kalau sekarang di dalam nama aku yang mulai membuat hidup ini menderita,
maka aku bisa yang mengakhiri.
Satu contoh yang paling sederhana.
Saudara-saudara tadi sebelum acara ini,
Anda punya kesempatan untuk bersantap malam.
Santap malam yang enak sekali.
Tapi makanan yang enak ketika Anda sedang makan dengan asik,
lalu Anda mendapat kabar yang tidak enak,
Anda mendengar telepon atau,
mendapat kabar telepon yang tidak nyaman,
maka makanan yang enak sekalipun menjadi tidak enak.
Siapa yang membuat makanan tidak enak?
Sebenarnya ketika Anda menghadapi makanan yang tidak enak,
tetapi Anda mendapat kabar yang menyenangkan,
maka makanan yang tidak enak ini pun menjadi enak.
Jadi yang membuat kita susah dan senang,
yang membuat enak dan tidak enak,
semua pikiran kita sendiri.
Ini yang membuat kita bangga.
Kenapa?
Karena kita yang membuat hidup kita bahagia.
Kita bisa memajukan hidup kita sampai selalu bahagia.
Kita bisa belajar.
Nanti Anda akan bisa belajar bagaimana sukses menurut Pak Andri Monco.
Kenapa?
Karena kita yang bisa bikin sukses.
Kalau tadi dikatakan sukses adalah hak kita.
Betul.
Karena kita yang membuat.
Bukan orang lain, bukan pihak lain.
Sebagai penderitaan, kesulitan, kesusahan.
Siapa yang membuat?
Juga diri kita.
Kalau Anda tidak lulus, ini kan yang membuatnya dosen saya.
Oh saya tidak lulus lho?
Kalau Anda tidak lulus dan masih kelas Anda,
itu ternyata memang yang Anda ingin Anda tembak untuk jadi pacar Anda.
Anda tidak lulus itu memang lebih hebat.
Untung tidak lulus, aku masih bisa menantikan Anda.
Kalau saya lulus,
aku sudah bekerja di tempat lain.
Jadi lulus atau tidak lulus,
menjadi susah atau tidak susah,
semua tergantung pikiran kita.
Jadi bukan kerjaan dosen ataupun kerjaan siapa.
Semua diri kita.
Ini yang membuat kita bangga.
Kenapa? Karena kita punya kesempatan sukses.
Kita punya kesempatan untuk memperbaiki penderitaan kita.
Oleh karena itu,
pada malam hari ini saya mengajak untuk kita berpikir bersama.
Ada dua hal yang membanggakan.
Yang pertama dari sudut pelajarannya sendiri.
Guru kita rupanya jelas.
Kemudian juga beliau mengajarkan adanya persamaan.
Atau siapa saja yang mengajar,
yang melaksanakan Dharma.
Yang sama ini akan mencapai kesucian yang sama.
Kemudian dari sudut pandang kita sebagai praktisi Buddhis
atau sebagai pelaku Buddhis,
maka sebetulnya yang membanggakan adalah
bahwa kita yang membuat susah.
Maka kita bisa menimbulkan kebahagiaan.
Mengkondisikan hidup kita bahagia.
Sebaliknya kalau kita bahagia,
kita bisa mengkondisikan pikiran kita,
mengkondisikan hidup kita
untuk selalu berbahagia.
Makin bahagia,
makin bahagia.
Secara dengan pertambahan jenisnya kita.
Inilah dua hal yang mungkin perlu saya sampaikan
dalam sesi awal ini
yang mungkin nanti kalau kita sudah interaksi
akan bisa berkembang lagi juga.
Terima kasih atas perhatian anda.
Kembali lagi ke Pak Ibu.
Terimakasih terima kasih untuk pertanyaan namu.
Ulasan kenyataanya.
Kemudian selanjutnya kita langsung saja mungkin
ulasan kepada Bapak John tentang tema kali ini Pak.
Silahkan Pak.
Yang terhormat bapak-bapak Ibu,
saudara-saudara dan para mahasiswa semua.
Terimalah salam Dhamma dari saya,
Namo Buddhaya.
Hari ini merupakan hari pertama yang saya datang
di Rehatin,
di gedung ini.
Pertanyaan dulu sahabat dulu.
Apa kabar?
Luar biasa.
Ini ciri khas yang saya sering tampil dan saya sering kumanamkan, itu tanpa pandang dulu siapa anda, sebagai manusia harusnya kita mempunyai semangat, apalagi kalau sudah mengerti ajaran sang Buddha, itu saya mengambil satu poin dimanapun saya selalu ngomong
sebagai Buddhis, buat saya yang pertama harus punya semangat, jadi kalau reaksi tadi luar biasa, kurang keras, kurang luar biasa, mungkin bagian luar biasa, ini kok sepertinya motivasi di sebuah perusahaan MLM, gak ada hubungan, mau MLM, mau profesional, atau mau seminar biasa, ataupun dimana saja
buat saya yang sudah mengerti
ajaran sang Buddha
tidak pantas kita lemah, tidak pantas kita loyok, letih, lesu, retorik, justru kita gai, memang
40%
jadi sebelum saya uraikan, saya adu dulu, kelompok satu, kelompok dua, kelompok satu dulu saya tanya dulu, apa-apa? cukup keras? kurang pak, sama lebih keras
demikian baik katanya, saya anggap tidak lebih dari 50%
sangat spontan, karena
saya ingin mengerti, bahwa di dalam ajaran sang Buddha
jangan sampai kita
keliru bahwa praktik itu
sampai kalau bisa
bukan rendah hati, sampai
rindah diri itu termasuk rindah diri
rindah diri itu termasuk redah hati
sekalipun kita punya semangat
sekalipun kita punya percaya diri
nanti bisa rindah hati juga
kalau orang-orang yang melihat saya, wah
punya sarang, saya Buddhis
menang, menang, menang
kalau tidak Buddha, saya tidakemplo kok !
Setelah saya belajar 10 tahun, saya sangat merasa jadi kesan saya, kebanggaan saya jadi belajar jaman.
Tentunya seperti yang Pak Tiga ini katakan, ajaran sang Buddha begitu luas, begitu sederhana, tapi kadang begitu rumit.
Saya paling senangnya adalah, satu, bahwa ajaran sang Buddha ini mengandalkan dengan kehidupan diri sendiri sekaligus kepada.
Menjawab ini kalau kita mengerti dengan benar dan baik, tidak mungkin dalam kehidupan kita gagal, luar biasa tuh.
Tidak mungkin gagal, jawaban salah satu, sebagai Buddhis, sukses jangan dianggap sebagai satu kata panjang uang, bukan itu, itu panjang uang, bukan sukses.
Sukses ini mampu mengalami kehidupan dengan baik, teori-teori ajaran.
Sebagai manusia dan,
diri anda sendiri, sudah cukup luar biasa.
Coba, tidak cocok, silahkan pergi.
Begitu tidak takut untuk dicurigai,
penting begitu percaya sang Buddha dalam ajaran, sehingga tidak usah takut dicurigai oleh orang-orang lainnya.
Jadi, begitu luar biasa kata-kata ini, pasti go.
Saya juga, sehingga setelah mengerti belajar agama Buddha dalam kurma 10 tahun,
kehidupan terutama,
kehidupan kawin dan duniawi,
sangat, sangat maju dengan besar.
Milik saya saja, kalau tidak, milik setiap orang,
maka itu saya tuangkan di dalam kata-kata mutiara.
Sukses is my life.
Sukses adalah hal saya.
Dengan cara juga diperluas kata-kata itu tadi.
Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu.
Sukses milik anda, milik saya, dan milik siapa saja,
yang benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan.
Jadi kalau kita sudah tahu bahwa sukses itu bukan milik orang-orang tertentu,
karena tidak ada mitos yang salah.
Kalau kita selama ini punya mitos yang salah,
oh dia bisa sukses, oh soal dia siunaga.
Dia bisa sukses, oh dia siun kucing.
Dia bisa sukses, dia siun ular.
Itu buat saya, mitos-mitos saja.
Kalau kita mengerti kesadaran tentang hukum kesuksesan,
melalui pengertian dharma, luar biasa.
Kalau coba kita kaitkan dengan pengertian sang budaya yang diberikan kepada kita.
Di balik kata-kata dia, kesuksesan.
Sekarang, nibana.
Bukan milik orang-orang tertentu.
Lagi dua-tiga.
Milih siapa saja.
Kita pun bisa berada di sana.
Baru yang menyadari, menginginkan, memperjuangkan.
Lagi-lagi sampai mati, gak cukup itu.
Gak kuat, sadar, ingin, dan berjuang.
Belum cukup.
Mungkin meninggal lagi.
Lahir kembali.
Mahdi lagi.
Lahir kembali.
Belum tentu.
Tapi kalau kita masih punya antinata, memungkinkan mencapai kesadaran.
Tapi kan butuh satu kesadaran, keinginan, perjuangan.
Bukan gampang, mau kesadaran, ayo ikut saya.
Gak ada begitu.
Bahkan, ajaran Sambudana ini sangat relevan.
Bisa dipikir dan dapat dipelajari dengan jelas.
Ini yang membuat saya sangat-sangat bangga.
Jadi, kalau dulu sempurna saya ikut agama muda.
Kalau orang nanya saya, agama apa?
Itu gak mungkin jawabannya.
Bangga gak mungkin.
Todok kepala dulu.
Dan dia bingung kalau dia paham jawabannya.
Jangan tanya saya apa ajarannya.
Kan gak mengerti.
Jadinya diam saja.
Tapi setelah mempelajari ajaran-ajaran buddha dharma.
Duduknya gak begini agak setegak.
Kalau bisa tanya saya agama apa.
Kalau dia begitu tanya, masuk raka.
Kita ini sebetulnya kebanggaan yang netral.
Kenapa netral?
Untuk digoyang, untuk ditarik.
Saya tidak tahu sama sekali karena mengerti dengan betul.
Kalau sudah mengerti, jadiin orang.
Berdisi supaya kita memiliki kehidupan baru.
Itu semua itu.
Kita berjalan.
Dan itu yang memungkinkan kita lanjut dalam kehidupan.
Jangan menjauhkan diri sendiri dari orang lain.
Tidak mungkin kita mengganggu orang.
Mengganggu orang supaya orang celaka.
Supaya orang besar.
Tidak mungkin.
Bahkan berdigi.
Bagaimana kita membuat baik kepada orang lain.
Supaya orang lain itu hidupnya sukses seperti kita.
Nah kalau kita bisa melakukan seperti itu.
Coba apa gak bangga.
Dan saya sendiri sekarang ini.
Dengan pengertian-pengertian dharma.
Yang saya pelajari.
Itu memerkaya.
Memerkaya wawasan tentang kehidupan.
Satu kebetulan saya sebagai motivator.
10 tahun lebih jadi motivator.
Kalau sulit untuk ditebus.
Apalagi orang lain mau sedikit mengganggu.
Pengertian dan motivasi yang saya miliki.
Tidak bisa ditebus.
Satu.
Dan saya pelaku langsung.
Kedua.
Pengertian Buddha Dharma ini.
Sangat luar biasa.
Dan maka dari 10 tahun ke lagi ini.
Saya merasakan.
Bangga sekali.
Menjadi seorang buddhis.
Ya.
Waktu saya doa cukup lebih.
Kita gantian lagi dulu ya.
Supaya nanti kita bisa interaktif.
Terutama.
Tanya jawab.
Supaya kita bisa lebih mengenal.
Dan mengerti.
Apa.
Ajaran.
Sang Buddha.
Dan kebanggaan kita.
Menjadi seorang buddhis.
Terima kasih.
Oke.
Ini menarik sekali.
Saya juga baru tahu.
Kalau seorang bapak.
Atau kalau misalnya.
Kalau ditanya apa agama ini.
Saya beragama Buddha.
Bisa kalau saya ikut seminar.
Jujurnya aja.
Kalau bagi ada.
Saudara-saudara kita.
Yang beragama Islam.
Dengan nantang.
Yang akan bilang.
Assalamualaikum.
Saudara-saudara kita.
Yang beragama.
Kristian.
Yang akan dengan nantang.
Bilang shalom.
Tapi kalau.
Saudara-saudara kita.
Yang beragama Buddha.
Paling juga selamat siang.
Atau selamat malam.
Tidak ada yang nama Buddha ya.
Jadi kayaknya.
Kita harus belajar banyak.
Untuk itu.
Orang Indonesia ya.
Sebenarnya.
Orang Buddhis Indonesia.
Itu kebanyakan ya.
Kayak gitu kan.
Kalau.
Datang ke seminar.
Datang ke pertemuan.
Kayaknya nunjukin identitas kita.
Sebagai Buddhis itu.
Minim sekali.
Ini.
Gimana tadi.
Apakah ada suruhinya.
Mungkin dari pandangan.
Bante sebagai.
Pemuka agama.
Atau mungkin juga nanti.
Dari Pak Andri Wongso.
Sebagai.
Orang yang diakui.
Motivator nomor satu.
Di Indonesia.
Silahkan Bante.
Baik.
Sebetulnya.
Mereka itu.
Bukan.
Sebenarnya.
Sepertinya.
Malu ya.
Dengan agama Buddha.
Tapi.
Rasanya.
Mereka itu.
Malu dengan dirinya sendiri.
Kenapa saya umat Buddha.
Kok belum bisa menjalani.
Ya.
Dia tahu.
Karena.
Banyak orang.
Mengatakan agama Buddha itu bagus.
Dia sendiri memilih agama Buddha.
Mungkin karena dia juga menyadari agama Buddha bagus.
Tapi dia malu.
Kalau yang Pak Andri tadi kan.
Malu karena belum tahu.
Tapi.
Kalau saya lihat.
Banyak orang.
Tidak mau mengakui.
Itu agama Buddha.
Karena dia tidak tahu.
Nanti.
Saya ini.
Kalau ditanya.
Wih.
Kamu agama Buddha sudah baca.
Sudah.
Sudah lateng.
Tidak.
Nah.
Ini yang nunggu.
Dia malu.
Hanya dia.
Terus.
Mengak.
Sudah lah.
Tidak mau mengaku.
Nah.
Karena itu.
Kalau saya lebih menyarankan.
Bagaimana sih.
Seorang umat Buddha itu harus berbangga.
Seorang umat Buddha.
Bukan bangga.
Hanya karena teori agama Buddha.
Tapi.
Seorang umat Buddha harus berbangga.
Ketika ini.
Ada perubahan.
Di dalam dirinya.
Ada perubahan.
Artinya.
Yang dulu.
Begitu.
Akhirnya sekarang.
Bisa semangat.
Nah.
Ini kan perubahan.
Nah.
Sekarang juga sama.
Kalau seseorang itu bisa.
Dulunya pemarah.
Sekarang menjadi pemaham.
Dulunya pembenci.
Sekarang bisa.
Bisa lebih.
Lebih memahami lah.
Bahwa orang itu.
Hanya kekurangan.
Dan kelebihannya sendiri.
Dulunya suka membunuh.
Nyamuk.
Dibunuh.
Kucing disakiti.
Dan lain sebagainya.
Sekarang kan.
Bisa sering melepas makhluk.
Ya.
Kenapa?
Karena.
Membunuh nyamuk.
Itu jadi masalah.
Nah ini.
Sebenarnya juga.
Mungkin.
Orang itu kan.
Demam berdarah.
Berarti.
Salah.
Demam berdarah itu.
Cuma 3M loh.
Cara mengatasi dia.
3M itu apa?
Menimbun.
Menutup.
Mengulas.
Kapan pemerintah mengatasi.
Membunuh.
Kenapa.
Kadang-kadang kita.
Selalu pakai.
Oh ini kan.
4M.
Nah.
Jadi.
Sekarang.
Bagaimana.
Jadi.
Sebenarnya.
Ketika dulu.
Saya suka membunuh.
Sekarang.
Saya mulai tidak membunuh.
Masa nanti.
Saya menjadi bangga.
Kemudian.
Kalau bertemu orang.
Bisa namu budaya.
Orang lain pun.
Namu budaya.
Namu budaya.
Kenapa.
Karena.
Yang ingin ditanya tadi.
Kamu ini agama itu apa.
Kok namu budaya sama semua orang.
Nah.
Mungkin.
Dia punya kesempatan.
Untuk menjelaskan.
Kenapa.
Karena dia sudah berubah.
Maka.
Kuncinya adalah.
Ketika kita mengenal agama muda.
Dalam satu tahun.
Kita mengenal agama muda.
Sudahkah ada yang berubah.
Pada diriku.
Jangan hanya berubah.
Rambutnya menjadi putih.
Jangan hanya berubah.
Giginya bercokotan.
Satu demi satu.
Tapi cobalah.
Berubah perilakunya.
Yang cokot.
Adalah ketamaannya.
Yang makin menua.
Adalah kebenciannya.
Yang menghilang.
Adalah kegelapan batainya.
Kalau dia bisa merasakan.
Itu semua.
Hilangnya ketamaan.
Kebencian.
Dan kegelapan batin.
Pasti dia bangga.
Kemarang saja dia pergi.
Ini.
Agama muda.
Asesori agama muda.
Di bawah semua.
Asesori agama muda.
Kalau biasanya lewatin.
Satu.
Ini lima belas.
Di pasar semua.
Biar kaya angkuh limauan.
Begitu kira kira.
Terima kasih.
Oke.
Menarik juga ya.
Jawaban yang.
Selama ini.
Jangan pernah.
Ada di pikiran saya.
Mungkin Pak Arief punya.
Pensi yang berbeda.
Iya.
Pensi saya.
Sekarang hampir sama.
Karena.
Pengertian.
Dan.
Pelaksanaan.
Teori atau pengetahuan.
Buddha Dharma ini.
Minim.
Itu pengaruh sekali.
Maka kalau itu.
Tidak punya.
Tidak punya.
Kebanggaan juga.
Untur.
Kalau kita mengerti.
Dengan benar.
Mantap.
Tidak hanya satu orang.
Mau sepuluh orang.
Mau sepuluh orang.
Saya sendiri.
Yang mudis.
Saya berani ngomong.
Salah satu contoh.
Saya waktu diundang.
Di.
Universitas.
Satya Wacana.
Itu hampir.
Sembilan puluh sembilan persen.
Para mahasiswa.
Tentunya.
Kristen.
Ya.
Teman teman.
Jadi.
Diantara sepuluh-sepuluh minum mereka.
Sudah terbakar.
Arief tanya.
Pak.
Agama apa?
Nah ini.
Pak tanya Pak.
Langsung.
Saya.
Agama Buddha.
Mantap sekali.
Tapi mereka juga tepuk tangan.
Tidak tahu dari mana tepuk tangan.
Mulai.
Pokoknya ada satu dua orang.
Yang mulai tepuk tangan.
Berarti mereka.
Budis juga.
Jadi rame.
Nah.
Tapi bagi mereka.
Kok berani gitu lah.
Halnya.
Ya sama aja.
Jadul agama.
Maksudnya.
Maunya.
Saya menjawab seperti itu.
Saya tidak langsung menjawab.
Dan saya senang sekali.
Kenapa?
Ya itu saja.
Tunggu.
Kapan kita mau munculkan.
Identitas kita.
Ya.
Bukan berarti kita sombong.
Bukan berarti kita.
Apa apa.
Tapi justru menunjukkan bahwa.
Kelas.
Agama Buddha sekarang ini.
Sudah harus.
Duduk.
Sama dan.
Terdiri.
Sama dikit.
Terima kasih.
Terima kasih dalam nama saya.
Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Saya.
Nama saya.
Lia.
Nah yang menjadi.
Pertanyaan saya.
Saya tunjukkan kepada.
Bapak Andri Wongso.
Bapak kan begitu sangat.
Kemangat.
Begitu luar biasa.
Apakah.
Ada.
Kalau.
Kita sedang menghadapi masalah.
Atau kita sedang.
Tidak pasti.
Bapak akan mengalami.
Satu saat.
Ketik jentung.
Bagaimana.
Bapak mengatasinya.
Itu saja pertanyaan saya.
Terima kasih.
Namo Buddhaya.
Mengenai.
Kehidupan kita.
Tidak mungkin.
Kita.
Lepas.
Bosan.
Rumit.
Kalau kita.
Mengerti.
Dharma.
Dengan baik.
Itu.
Cuma.
Proses.
Hanya.
Cara.
Seperti itu.
Jadi.
Kalau kita.
Berjuang.
Berjuang.
Berjuang.
Masih.
Kalau kita.
Mampu.
Mengatasi.
Jenuh.
Jadi.
Kalau saya.
Sekarang.
Kalau tidak.
Tidak.
Jenuh.
Masih.
Jauh.
Kalau.
Belum.
Ketemu.
Semua.
Rumit.
Saya melihat.
Di.
Prestasi.
Manapun.
Tidak.
Ada.
Prestasi.
Yang.
Spetakuler.
Yang.
Dapat.
Dijalankan.
Dengan.
Rumitan.
Kelas tinggi.
Kelas tinggi.
Tidak.
Mampu.
Mengatasi.
Kalau.
Mengerti.
Kehidupan.
Ini.
Terutama.
Dengan.
Saya contohkan.
Seorang.
Pelari.
Biasa.
Mereka.
Tadi.
Atas.
Sepuluh.
Setelah.
Di.
Pecahkan.
Rekor.
Sepuluh.
Detik.
Seratus meter.
Saya mau tanya.
Saat.
Puncaknya.
Musuh.
Juga.
Puncak.
Cuma.
Saat.
Itu.
Tingkat tinggi.
Kalau.
Kita.
Mau.
Mampu.
Mengerti.
Melihat.
Stres.
Dan.
Melihat.
Jenuh.
Tadi.
Satu.
Satunya.
Jalan.
Untuk.
Granitas.
Untuk.
Gagalan.
Seperti.
Jinanikan.
Lebih.
Jauh.
Dan.
Lebih.
Sebenarnya.
Dia.
Lupa.
Tujuan.
Suatu.
Usaha.
Yang.
Jadi.
Misalnya.
Sekarang.
Kita.
Kerja.
Ini.
Untuk.
Apa.
Oh.
Saya.
Kerja.
Untuk.
Membesarkan.
Amat-amat.
Kalau.
Saya.
Jenuh.
Saya.
Lalu.
Ingat.
Amat-amat.
Saya.
Sudah.
Berhasil.
Belum.
Saya.
Besarkan.
Kalau.
Belum.
Ini.
Yang.
Menjadi.
Titik.
Tolak.
Untuk.
Kita.
Membangkitkan.
Semangat.
Supaya.
Jangan.
Sampai.
Jenuh.
Lagi.
Jadi.
Terus.
Ingat.
Tujuan.
Kalau.
Anda.
Mengetahui.
Ada.
Cerita.
Zaman.
Waktu.
Kecil.
Saya.
Kira.
Ibu.
Ria.
Tadi.
Juga.
Akan.
Tahu.
Karena.
Waktu.
Masih.
Kecil.
Ada.
Satu.
Pelajaran.
Begini.
Ada.
Seikor.
Buda.
Atau.
Seikor.
Kelede.
Yang.
Karena.
Sudah.
Capek.
Dia.
Tak.
Mau.
Jalan.
Mulai.
Kemudian.
Petani.
Ini.
Bingung.
Kelede.
Ini.
Dicampur.
Juga.
Tak.
Mau.
Jalan.
Lalu.
Petani.
Ini.
Memakai.
Banyak.
Padi.
Serumpun.
Padi.
Yang.
Diikatkan.
Bambu.
Di depan.
Buda.
Atau.
Kelede.
Itu.
Ya.
Ingat.
Yang.
Cerita.
Itu.
Kalau.
Yang.
Kelahiran.
Baru.
Baru.
Ini.
Ikat.
Begitu.
Jadi.
Kelede.
Ini.
Melihat.
Wah.
Ini.
Ada.
Ada.
Makanan.
Enak.
Ini.
Di depan saya.
Ya.
Itu.
Padi.
Yang.
Begitu.
Segar.
Kemudian.
Kelede.
Ini.
Berjalan.
Berjalan.
Berjalan.
Berjalan.
Tapi.
Karena.
Ini.
Diikat.
Dengan.
Bambu.
Caranya.
Kan.
Tetap.
Sama.
Jalan.
Jalan.
Jalan.
Jalan.
Jalan.
Jalan.
Jalan.
Sampai.
Akhirnya.
Sampai rumah.
Ya.
Yah.
Itu.
Sebetulnya.
Apa.
Kelede ini.
Mengalami.
Kejenuhan.
Sudah.
Bosan.
Di.
Tekak.
Informasi.
Namanya.
Pengguna.
Itu.
Oh ini loh tujuan hidupmu ini, makan. Oh iya ikut, ikut, ikut.
Sampai akhirnya sampai rumah ya. Akhirnya memang padi itu menjadi hadiah untuk dia bisa dimakan dengan baik.
Nah manusia kadang juga seperti keluarga itu.
Anda kuliah mungkin juga akan jadi jenuh.
Aduh kok kuliah terus ini sudah 14 semester masih kuliah terus.
Ya itu udah bingung sih ya itu.
Tapi ya oke lah Pak Bapak Bapak Bapak Bapak kenapa?
Tujuannya apa sih? Oh tujuan saya itu saya mau memecahkan rekor mahasiswa yang terlama di Prisakti.
Ya ucap.
Kalau memang tujuannya begitu ya tungguin terus.
Ya tapi akhirnya bukan mahasiswa terlama nanti jadi tukang pakil itu akhirnya.
Paling setia puluhan tahun di sini.
Jadi nomor satu adalah kita harus ingat tujuannya lagi.
Anda bisa bosan bekerja, Anda bisa bosan kuliah, Anda bosan berumah,
bahkan tadi yang dikatakan Pak Andriwoso.
Anda bisa bosan hidup.
Nah sekali lagi Anda harus paham tujuannya.
Kenapa? Anda ke sini tujuannya apa?
Anda kuliah tujuannya apa?
Anda bekerja tujuannya apa?
Anda hidup tujuannya apa?
Nah itu Anda renungkan masing-masing.
Nah nanti Anda bisa menciptakan pahli-pahli itu sendiri untuk Anda bisa berjuang maju.
Yang kedua, membahas uraian Pak Andriwoso tentang bahwa kejenuhan itu adalah merupakan satu proses yang harus dicarani.
Apa yang harus dilakukan?
Kalau seorang orang muda menghormati, mengenali inilah jenuh, inilah bosan, inilah sudah kemalesan.
Tinggal Anda mengenali perasaan Anda, perasaan itu akan lenyap.
Ada satu contoh yang mungkin juga dikenal Anda semua adalah kalau Anda marah, bagaimana cara mengatasi-Nya?
Ambil cermin.
Ambil cermin.
Anda mendapat nasihat seperti itu?
Pernah nggak?
Pernah ya?
Kalau marah, ambil cermin.
Lihat muka, lihat muka itu.
Nah, memang sungguh-sungguh Anda marah karena Anda tahu dan Anda akan ambil cermin, pasti marahnya hilang.
Karena begitu Anda sadar marah, marah itu akan lenyap.
Ketika Anda tidak sadar kemarahan itu, kemarahan itu akan seperti minyak yang ditambahkan terus ke dalam pada api.
Nah demikian pula dengan kejenuhan.
Ketika Anda sadar ini jenuh.
Ini jenuh.
Ini jenuh.
Sampaikan itu dengan kata diulang-ulang.
Dikenali perasaan jenuh.
Tanpa menolak maupun tanpa menerima, maka dia akan lenyap.
Ketika Anda mengantuk, ketika Anda lapar, pada waktu belajar atau apa saja, ketika Anda bosan, sadari itu.
Saat ini saya sedang belajar, saat ini muncul jenuh, saat ini muncul rasa lapar, saat ini muncul kebosanan.
Pada saat Anda bisa menyadari itu, dia akan lenyap.
Sakit perut pun juga begitu.
Ada satu ibu-ibu yang mengatakan,
Pak Teh, saya sudah bisa, Pak Teh, menyadari.
Begitu sakit perut, saya katakan sakit perut.
Sakit perut.
Sebelumnya.
Tapi yang tidak tahan gigi itu.
Sakit gigi.
Aduh, saya nangis, Pak Teh.
Saya katakan, kenapa?
Karena kamu belum kuat untuk memegang konsentrasi.
Sadari, sadari, sadari.
Ada dua pilihan yang saya sampaikan pada kesempatan ini.
Ya, mudah-mudahan bermanfaat.
Bapak memilih muda sebagai jalan kapal.
Terus kedua,
sudah saya pilih,
tidak akan memutarkannya dulu,
priwayangnya seperti ini.
Tahun 90 awal,
dia punya guru,
manggungan guru ke-55 ini,
bagus sekali.
Menjadi spesial,
menjadi scopernya,
awal-awal,
tadi gilir lagi,
itu,
Bung Kubali.
Terus sampai tiga bulan,
sakit cipta hanya terhadap,
kalau saya tidak tanya,
dia tidak jawab.
Karena dia bilang,
kalau kamu bagus,
pasti tanya saya.
Nah kalau jelek, gak tanya.
Nah kapan maksudnya kalau pilih modelnya?
Kalau pilih modelnya, walaupun kalau salah begini, perlu direformasi cara mikirnya ini.
Kan salah.
Salahnya kan kita nih.
Yang cocok, bahkan kalau bisa, saya gak usah belajar bahasa Inggris,
belajar jaman lewat bahasa Inggris, tapi gak usah.
Nah, pada saat saya disodoh di satu majalah,
di situ ada tertulis, kaset.
Penjualan kaset yang dikotakan oleh Bantai Banyamaro.
Bantai Banyamaro, yang berjudul, mengembangkan potensi diri.
Saya kaget.
Bukannya agak-agak yang cungcung-cungcung gitu.
Mata gelap, berbunga, kronik.
Pikirannya seperti itu.
Tapi kok ada kaset yang mengembangkan potensi diri?
Langsung saya beli.
Begitu beli, saya mulai mendengar.
Tentang kronik, tidak jelas langsung lah.
Kok semuanya tentang pengembangan yang didalam?
Lainnya kan salah arah dengan apa yang saya berjawab.
Tentang motivasi.
Setelah itu saya mulai beli lagi, beli lagi.
Pesan majalah.
Dan lama-lama, makin mencintai.
Dan terus belajar, makin tahu.
Akhirnya, jatuh cinta.
Hanya kepada...
Mungkin saya akan melanjutkan.
Kenapa pertanyaannya,
Bantai Banyamaro, Bantai Banyamaro milihnya agama muda?
Setuju kan?
Setuju ya?
Bantai Banyamaro, Bantai Banyamaro milihnya agama muda.
Jadi kalau jawaban pendek, sebetulnya ada.
Jawaban panggang, sebetulnya ini sudah ada.
Iya, nanti ada nih di depan.
Ikuskan.
Ya, tapi saya kasih kembalan sedikit sebagai preview-nya.
Ya, begini.
Nanti di situ anda akan baca lengkap sejak saya lahir sampai akan mati nanti.
Begini, saudara.
Kenapa saya tertarik agama muda?
Salah satunya adalah, ketika saya, sebelum beragama muda, karena saya termasuk orang yang konversi.
Ya.
Ya.
Ya, bukan dikonversikan dari file yang tertentu menjadi file yang lain, bukan.
Ya, maksudnya dari agama lain ke agama muda.
Apa yang membuat saya tertarik dengan agama muda?
Ketika saya di agama yang lain, maksudnya saya berpikir begini.
Kalau manusia diciptakan Tuhan, kenapa manusia itu lain-lain?
Ada yang diciptakan manusia yang bodoh.
Ada yang kaya, ada yang mikir.
Ada yang sakit-sakitan, ada yang sehat.
Ada yang umur panjang, umur pendek.
Kemudian agama-agama yang saya tanya itu, jawabnya begini.
Ini semua adalah rahasia yang buat hidup.
Lalu saya tanya, kalau ini rahasia yang buat hidup, berarti kamu lah yang buat hidup.
Loh, kenapa?
Karena kamu tahu yang dirahasiakan.
Ya, jelas bukan.
Kalau bukan, berarti itu sudah bukan rahasia, dong.
Karena kamu kan bukan yang buat hidup.
Dan kamu mengatakan rahasia dia.
Berarti kan, kalau itu kamu bukan rahasia.
Berarti itu sudah bukan rahasia.
Terangin dong, apa begitu?
Kenapa manusia bisa lain-lain?
Biar saya nggak tahu.
Nah, ngomong nggak tahu.
Dari tadi kan nggak buang waktu.
Jadi kebanyakan karena tidak tahu, lalu dilemparkan ke yang buat, yang buat, yang buat.
Rahasia, rahasia, rahasia.
Akhirnya, sebetulnya kita ini tidak akan menulis jawaban yang sungguh-sungguh.
Lalu saya berusaha mencari data memudar.
Kenapa manusia itu lain-lain?
Saya tanya pada waktu itu.
Saya belum budit dan saya berada di depan pihara.
Jadi saya tidak tahu.
Saya mau masuk pihara karena bagi saya otor kaki, saya mau masuk pihara.
Bau setan, bau iblis.
Nah, kemudian saya berada di depan pihara.
Saya tanya kepada orang yang ada di kehidupan, ditanya.
Kenapa manusia lain-lain?
Dijawab kelahiran kembali.
Saya tanya, kelahiran kembali apa buktinya?
Karena kalau tidak ada buktinya, ini sama nanti dengan rahasia yang buat itu tadi.
Buktinya ada.
Bahwa manusia pada satu ketika di erupan itu sudah diselidiki.
Ketika orang pada takut ketinggian, duduk di lantai dua saja, lihat ke lantai satu.
Kadang-kadang sudah gamang gitu.
Kemudian diselidiki dengan satu metode yang hipnotis tertentu.
Kemudian dia bisa menyadari berapa hari yang lalu bagaimana.
Seminggu yang lalu, sebulan, setahun, sepuluh tahun, seratus tahun yang lalu.
Sampai akhirnya dia bisa lihat kehidupan yang lampau.
Ternyata orang yang gamang pada ketinggian, itu orang yang pernah jatuh dari tempat yang tinggi juga.
Jadi itu saya mulai tahu, oh agama buddha ini ternyata ada yang bisa menjawab.
Ya seperti itu.
Kemudian saya tanya lagi, saya tanya lagi, saya tanya lagi.
Sampai akhirnya berbulan-bulan saya butuhkan waktu untuk belajar itu.
Dan bagaimana selanjutnya?
Beli bukunya sendiri.
Tapi saudara-saudara yang berada di mana puas ya?
Ya harus puas masalahnya.
Kemudian pertanyaan anda yang kedua itu ini dikhususkan untuk bantai utama.
Tapi saya akan tetap membagi pertanyaan anda.
Untuk petandri nantinya ya.
Bantai.
Eh tadi pertanyaannya ada yang ngajut.
Ya yang tadi harus puas karena ini memang preview.
Ya selengkapnya nanti di buku itu.
Nah sekarang begini.
Kenapa?
Kenapa sekarang kita harus bangga dengan agama buddha plus tradisi?
Anda harus ingat.
Bahwa agama ini selalu besar dengan tradisi masyarakat tertentu.
Agama buddha yang berasal dari India, sang buddha utama yang berasal dari India itu pun menggunakan tradisi India.
Nah sehingga agama buddha yang berkembang di India penuh tradisi India.
Saya yang mempelajari agama buddha tradisi India, saya menggunakan bagian ini adalah bentuk bagian tradisi India.
Kemudian agama buddha berkembang di Tiongkok.
Di Tiongkok tradisi sudah kuat.
Agama buddha masuk ke tradisi di sana.
Karena itu kalau tadi Anda mengatakan agama buddha plus tradisi Tiongkok.
Sebetulnya bukan hanya itu.
Ada agama buddha tradisi India.
Ada agama buddha tradisi Tiongkok.
Karena di Tiongkok itu sudah kebudayaannya kuat.
Dan agama ini perlu menyesuaikan dengan tradisi.
Maka seperti Anda kalau beli helm.
Ya mahasiswa ada mesinnya sepeda motor.
Anda beli helm.
Kalau sekarang helmnya kan kecil dan Anda coba.
Kan bukan kepala Anda yang dikurangin.
Besarnya.
Oh ini kepalaku besar kepala ini.
Ya ditipisin dulu.
Supaya helmnya tepat.
Saya kira tidak.
Ketika helmnya kebesar.
Kan Anda juga bukan kumpulin kepala Anda sampai benjol semua.
Supaya pas.
Saya kira tidak.
Tapi Anda tukar helm ini sesuai dengan kebutuhan Anda.
Kebudayaan tradisi itu seperti helm.
Anda hanya menukar tradisi Anda.
Tapi Anda tidak berubah bagian Anda di dalam Dharma itu.
Ya.
Karena itu adalah tradisi Tiongkok.
Maka agama muda berkembang dengan tradisi Tiongkok.
Bikunya jubahnya ganti.
Karena saya tidak mencoba jubah begini.
Musim dingin di Tiongkok.
Menggigil semua jubah.
Nah itu lalu dibutuhkan jubah seperti Saulin punya.
Pakai sepatu yang tinggi.
Kawas kaki yang tinggi.
Karena memang betul-betul sangat dingin di sana.
Kemudian agama muda berkembang ke Tibet.
Menggunakan tradisi Tibet.
Yang agak kenal adalah Dalai Lama.
Itu juga karena kebudayaannya yang sesuai.
Lalu nanti dari mana-mana berkembang.
Bahkan sampai agama muda berkembang ke Indonesia.
Juga nanti ada yang tradisi Indonesianya.
Pertanyaannya sekarang.
Apakah kita harus bangga dengan agama muda plus tradisi?
Tetap bangga.
Kenapa?
Justru ini lebih membanggakan.
Agama muda masuk ke tradisi manapun juga.
Tapi biar Dharmanya tetap sama.
Apa yang saya sampaikan tadi adalah.
Bahwa kalau orang melaksanakan ajaran Sang Buddha.
Dia akan mencapai kesucian yang sama.
Ajaran Sang Buddha di tradisi apapun juga.
Riwayat Sang Buddha tetap jelas.
Ajaran Sang Buddha di tradisi apapun juga.
Isinya mengurangi ketamaan, kebencian, dan kegelapan pada dia.
Justru saya lebih bangga lagi agama muda.
Karena dengan tradisi apapun juga.
Dia tetap bertahan.
Kalau sekarang anda bertanya lagi.
Kenapa kita harus bangga dengan agama muda plus tradisi?
Maka kebanggaan kita sebetulnya menjadi dua.
Satu kita bangga dengan agama muda itu sendiri.
Yang kedua kita bangga.
Ternyata agama muda juga bisa melestarikan tradisiku.
Aku lebih bangga lagi.
Agama muda plus tradisiku.
Ya.
Dan salam untuk Pak Andri Mosho.
Luar biasa.
Dari Agma Jaya.
Yang ingin saya tanyakan kepada Bang Dek.
Kalau muda dhamma kita kan tidak mengenal yang namanya.
Yang anekondrati.
Menjadi seorang buddhis itu menjelaskan kepada umat lain.
Mengenai konsep ketuhanan.
Menurut buddhis.
Mempertahankan ketika kita sudah mencapai puncak.
Dalam muda dhamma kita mengenal anicca.
Kita mungkin tidak bisa menjadi motivasi.
Sebetulnya ya.
Kalau saya suruh menerangkan konsep ketuhanan dalam agama muda.
Kenapa? Karena kita kini tapi.
Kalau yang lain sibuk mengatakan.
Tuhan ini yang menciptakan.
Tuhan ini.
Kita justru mengatakan.
Oh Tuhan ini adalah yang punya mahal ini mahal itu.
Justru kita mengatakan.
Tidak ada mahal-mahal.
Saya justru mengatakan Bang Dek.
Kenapa?
Karena kita seperti yang tadi sudah saya sampaikan.
Salah satu yang membuat kita sebagai umat muda.
Dalam pelaksanaan dhamma itu berbahagia.
Berbahagia adalah.
Karena kita punya kemandirian.
Suka dan duka kita yang buat.
Bukan makhluk radiko terhati-hati tadi.
Itu yang mau saya maksudkan.
Mau saya sampaikan.
Kemudian kalau kita mau menerangkan.
Kita katakan begini.
Kamu mau menerangkan Tuhan itu dari sudut mana?
Tanya dulu.
Bagaimana keterangan Tuhan menurut agama muda?
Keterangan Tuhan menurut agamamu bagaimana dulu?
Ada berapa surga yang kamu punya?
Satu kan.
Akademi bangga.
Kalau satu.
Kalau satu.
Mangganya harus dibahas terus.
Kenapa?
Karena sulit carinya.
Tapi kalau 26 jarak dibahas.
Kenapa?
Gampang.
Coba kalau Anda mau melempar gelas ini.
Kepada satu orang.
Harus diukur.
Kecepatannya beratnya gelas.
Wah itu pun belum tentu kena.
Tapi kalau ada 26 orang.
Saya mau melempar gelas.
Tutup mata.
Mesti kena apa salah satu.
Jadi nggak bisa dobroin sama kamu sama kawan yang lain.
Wah.
Kita ini yang menciptakan.
Oke.
Menciptakan dan kuasa.
Bagus.
Bisa nggak menciptakan bantu yang dia kuasa nggak bisa menggerakkan?
Bisa nggak?
Dia kan menciptakan.
Dan maha kuasa.
Menciptakan bantu yang dia sendiri tak kuasa untuk menggoyang.
Wah ya pasti bisa.
Pasti bisa digoyang maha kuasa.
Kalau gitu tak maha menciptakan.
Oh ya bisa.
Dia menciptakan yang tak bisa digoyang.
Berarti tak maha kuasa.
Gino kan?
Nah.
Sini untuk mengatakan.
Ini aja agama muda.
Bagaimana pengatasi kebingungan?
Dalam agama muda dikatakan.
Tuhan di dalam agama muda tak bisa diceritakan.
Kamu tadi kan sedikit pusing itu kan.
Karena kamu berusaha menceritakan.
Ini kebanggaran kita.
Tak bisa diceritakan.
Kalau tak bisa diceritakan kan berarti tak masuk akal.
Nanti dulu.
Anda boleh mengatakan.
Begini.
Sekarang saya berada di dua pria kanteng.
Anda ceritakan perbedaan kedua pria kanteng ini.
Kepada orang yang tidak adil pada malam tadi.
Orang itu bisa membayangkan perbedaan kedua orang itu.
Kalau cerita ini saja tidak bisa.
Kok kamu mau cerita Tuhan?
Oh ini yang gampang.
Nanti kalau kamu udah tahu bedanya.
Dua orang kakak nyari dimana.
Nanti nonton VCD nya.
Nanti udah cerita.
Ya.
Kenapa?
Karena kita tidak bisa cerita.
Sama dengan Anda dengan nasi.
Semua orang tahu rasa nasi.
Semua orang kenal rasa nasi.
Bahkan pada setumpuk roti yang paling tebal pun kalau ada sebutin nasi dia bisa rasakan.
Tetapi sekarang bisakah dia menceritakan rasa nasi?
Apakah rasa nasi itu?
Oh nasi itu empuk.
Banteku.
Sangka saya juga.
Oh nasi itu tawar.
Bantek.
Seperti roti tawar.
Oh tidak pasti roti.
Nasi itu agak manis ya.
Apakah manisnya seperti senyumnya Pak Andri Wongso?
Apapun yang kita usaha ceritakan tidak akan pernah kena.
Nah.
Oleh karena itu.
Lalu kita katakan.
Kalau sekarang perbedaan kedua orang ini yang tidak bisa diceritakan.
Apakah tidak ada?
Ada.
Ada bisa dinyatakan.
Apakah nasi yang lagi Anda tidak bisa diceritakan?
Apakah nasi itu tidak ada?
Bisa.
Anda bisa rasakan.
Yang tadi dikatakan oleh Pak Andri pada pemahaman yang pertama.
Apa yang membuat Pak Andri Wongso bangga adalah dehifas itu.
Datang dan buktikan.
Karena di sini bukan prinsipnya datang dan percaya.
Tapi datang dan buktikan.
Ini nasi rasakan.
Rasanya seperti ini.
Nah karena itu.
Kebanggaan kita apa?
Nomor satu.
Agama muda tidak bisa diceritakan itu.
Tidak akan pernah bisa orang mempertimbangkan.
Yang kedua.
Semua harus dipuktikan.
Kenapa?
Karena Tuhan yang di dalam agama muda adalah Nibbana.
Nibbana sebagai tujuan hidup.
Yang ketiga.
Yang memberi kebahagiaan lain adalah.
Nibbana ini Tuhan yang agama muda ini bisa dicapai ketika manusia masih hidup.
Semua orang mencapai Tuhan nya ketika setelah mati.
Dan itu belum ada buktinya.
Kenapa begitu?
Karena tidak pernah ada orang mati lapor kepada kita.
Sungguh.
Aku ketemu Tuhan.
Tapi di dalam agama muda.
Ketika orang mencapai ketuhanan yang disebut Nibbana.
Atau orang yang telah mencapai kesucian.
Terbebas dari ketamanan, kebencian, dan kegelapan hati.
Ribuan orang sudah membuktikan itu.
Pada saat panggilan siddhanta pertama kali mencapai kesucian.
Pada saat baisak.
Yang kita peringati seperti malam hari ini.
Beliau mencapai konsep ketuhanan itu.
Mengerti konsep ketuhanan itu.
Pada dirinya.
Kemudian dia mengajarkan dhamma.
Pada saat maghabuja yang pertama.
Beberapa bulan kemudian.
Sang Buddha ini.
Sudah berhasil.
Mengumpulkan 1250 orang.
Yang telah mencapai konsep ketuhanan yang sama.
Sejak itu ribuan orang.
Telah mencapai ketuhanan yang sama.
Dengan demikian.
Konsep ketuhanan agama muda ini.
Tetap bisa datang dan dibuktikan.
Tetap konsisten.
Dengan apa yang telah disampaikan.
Oleh Pak Andri Langsung.
Dan itu telah disampaikan oleh dharma.
Sejak ribuan tahun yang lalu.
Dan itulah yang menjadi kebanggaan kita.
Untuk selalu menceritakan.
Konsep ketuhanan.
Pada dirinya.
Pertanyaan untuk Bapak Andri.
Agak beda nih Pak.
Gimana cara mengatasi.
Mempertahankan sukses.
Justru karena ada aninsya.
Perubahan.
Ya sangat bertahan.
Maksudnya bertahan ini.
Saya menjaga.
Dengan segenap pikiran.
Pengertian benar.
Untuk mengembangkan diri semaksimal.
Kadang-kadang begini.
Kita mau berubah.
Mau maju.
Buat apa maju?
Nanti juga berubah.
Tidak akan salah.
Lebih baik saya maju.
Setelah maju.
Saya bisa buat-buat baik untuk orang lain.
Dan saya sadar.
Pada saat di puncak.
Seperti sekarang orang nyebut saya.
Motivator nomor satu.
Sering orang tanya di radio.
Pak.
Kok nomor satu?
Siapa yang bikin?
Bukan saya yang bikin.
Orang lain.
Kalau ada orang bilang.
Tapi kalau itu buat saya.
Pampas.
Karena saya memang pantas.
Untuk menjaga orang satu.
Saya pilih apa yang saya ucapkan.
Bukan apa saya belajar dari teori.
Lalu saya ngomong.
Saya dari dasar penderitaan.
Pendidikan.
Yang disebutnya di SDGT.
Sekolah Dasar Tindak Taman.
Komat.
Divides.
Tapi bisa sukses.
Dari proses ini.
Malah saya tahu.
Itu bukan nama apa.
Nama besar.
Materi.
Itu pasti berubah nanti.
Tapi itu saya dekat banget.
Ganduran saya.
Bukan ganduran saya.
Itu kan akibat.
Dari setempat yang saya buat.
Nanti ini hilang.
Tidak masalah.
Saya menikmati.
Bukan karena nama itu.
Dan materi itu.
Itu kan akibat.
Dari pada saya.
Dari saya.
Mengembangkan diri.
Dan.
Kalau tadi kata saya.
Bagaimana mengembangkan.
Ya tetap.
Justru karena ada perubahan.
Saya maka malah jaga.
Contoh.
Saya pagi.
Harus seperti itu.
Dari hari kemarin.
Kontrol diri terus.
Sejauh mungkin.
Terus-terus konsisten.
Karena apa?
Tahu.
Hidupan berubah.
Kalau saya bisa menjaga.
Kondisi ini.
Dengan demikian.
Tidak mungkin gagal.
Dan sukses terus.
Setelah saya mati.
Kalau hilang semua suksesnya.
Dan.
Dengan cara demikian.
Saya akan waspada terus.
Waspada terlebih.
Saya jaga sampai.
Lengar terhadap kualitas.
Yang saya miliki.
Bukan kualitas uang.
Atau materi.
Ataupun nama yang saya punya.
Bukan itu yang saya jaga.
Tapi.
Kualitas mental.
Saya jaga terus.
Kalau itu bisa saya jaga.
Konsisten.
Akan jalan terus.
Ya.
Kalau nanti hidupan.
Ada gelombang sedikit.
Ada sedikit gangguan.
Tidak masalah.
Saya tetap kembali ke dalam diri saya.
Karena.
Sukses adalah akibat dari sebuah-sebuah yang saya buat.
Dengan.
Dengan perkataan sendiri itu.
Justru karena ada perubahan.
Saya makin bergaya lah.
Karena saya tidak mau mencapai seperti sekarang.
Saya akan.
Lembarkan lagi.
Mau.
Saya mau aktualisasi lagi.
Dengan lebih besar.
Dan lebih kuat lagi.
Nah itu jawaban saya.
Oke.
Jalankan saja.
Mengenai pertanyaan.
Pak Gits sebagai.
Ia sesuatu tadi.
Kalau saya seperti Anda.
Saya.
Mahasiswa.
Pak Gits saya.
Menjadi yang terbaik.
Menjadi terbaik.
Di.
Di kelas.
Bahkan di kampus.
Pak Gits saya adalah.
Menjadi.
Mahasiswa.
Terbaik.
Untuk seluruh kampus.
Nah.
Susah.
Tidak akan Pak Gits saya enteng.
Karena bergaya lah.
Kalau mampu ya.
Kalau mampu.
Pak Gits kan.
Sama seperti sekarang saya.
Dibercaya oleh KONI.
Jawa Timur.
Untuk menangani.
KONI Jatim.
Untuk mempertahankan.
KONI Jatim.
Mempertahankan.
KONI Jatim.
Mempertahankan.
Mempertahankan.
Juara umum.
Untuk.
Jatim.
Nanti.
Di Port 16 di Palembang.
Saya tanya mereka.
Tanya pada.
Gubernur.
Pak Gubernur.
Sebelum saya memberikan motivasi.
Saya mau tanya dulu Pak Gubernur.
Targetnya apa?
Gubernur bilang.
Mempertahankan.
Berarti kalau mempertahankan.
Kan cuma satu targetnya.
Itu Bina Bawa.
Menjadi nomor satu.
Jatim.
Kalau.
Bapak mengatakan.
Bapak mengatakan.
Untuk jenis nomor dua.
Saya gak mau terima.
Sebagai motivator.
Karena.
Motivator cuma satu maunya.
Menjadi.
Nomor satu.
Dan pengertian.
Pengertian.
Dalam.
Kalau kita sebagai bertujuh.
Di dunia.
Di dunia olahraga.
Buat apa.
Mau jenis nomor tiga.
Nomor empat.
Karena sama-sama bertanding.
Ya pilih nomor satu.
Kalau.
Sudah nomor satu.
Pilihannya.
Gagal jenis nomor dua.
Terimalah nomor dua.
Sebagai satu.
Apa adanya.
Jatim.
Tidak ada lagi.
Dengan pengertian seperti itu.
Kita kalau gak sakit.
Mereka gak sombong.
Kenapa.
Kecoy.
Itulah agama buddha.
Bagaimana cara kita mengungkapkan.
Rasa bangga kita.
Sebagai buddhis.
Sebagai umat buddha.
Kepada umat lain.
Tanpa memberi kesan sombong.
Sementara kita belum terlalu.
Mendalami pengetahuan buddha dharma.
Terima kasih.
Nama buddhaya.
Nama buddhaya.
Baik.
Sebetulnya.
Di dalam dharma.
Ada satu contoh.
Yang sangat penting.
Kelebaran dharma.
Itu di ibaratkan.
Seperti.
Mereka tahu dilaku merah.
Makanya ini juga menjadi logo.
Di beberapa pihara.
Maupun cantik-cantik kuno.
Merah itu.
Merah jantan.
Adalah merah yang indah.
Yang mempunyai ekor yang bagus.
Sedangkan.
Merah bedina.
Adalah yang kurang bagus.
Yang hanya seperti ayam.
Kemudian.
Bagaimana caranya.
Merah ini.
Untuk.
Kawin.
Kalau ayam.
Karena ayam.
Merah ini.
Juga jenis ayam.
Biasanya.
Ayam jantan.
Langsung mengejar ayam bedina.
Mengejar terus.
Selesai.
Tinggal.
Tapi kalau merah.
Merah jantan.
Tidak pernah mengejar.
Merah bedina.
Tetapi.
Merah jantan.
Mengeluarkan buddhunya.
Yang indah.
Sehingga.
Akhirnya.
Merah bedina ini.
Mendekat.
Minta.
Dikawin.
Nah.
Sekarang.
Prinsip dasar ini.
Yang sebetulnya.
Nanti kita gunakan.
Di dalam kita.
Membabarkan dharma.
Padahal.
Saat kita.
Membabarkan dharma.
Kalau anda.
Belum pernah.
Merasakan.
Nikmatnya dharma.
Paling tidak.
Anda bisa.
Menceritakan.
Beberapa orang.
Yang punya.
Pengalaman.
Tentang dharma.
Apakah dari pengalaman.
Pak Andri Wongso.
Anda bisa pakai.
Tidak apa-apa.
Karena.
Ibaratnya.
Ayam.
Boleh berbulu merah.
Kalau sekarang.
Kita memang.
Aduh.
Aku belum punya.
Bulu merah.
Yang indah.
Seperti itu.
Ya pindah.
Bulu merahnya.
Ada orang.
Yang sudah.
Mengalami.
Seperti itu.
Lalu kita ceritakan.
Ada orang.
Yang sudah.
Mengalami.
Seperti ini.
Aku.
Aku masih belajar.
Ya.
Aku tidak.
Sombong.
Karena aku.
Masih belajar.
Tapi ada orang.
Yang sudah.
Mengalami.
Kemudian.
Tadi malam.
Juga ada orang.
Pada waktu.
Ada pertemuan.
Mengatakan.
Eh kamu Buddha.
Ini kok.
Tidak ada ya.
Yang didoain.
Bisa sembuh.
Yang sudah.
Kena kanker kandungan.
Sudah.
Stadium 3.
Kemudian dia.
Melakukan meditasi.
Sehingga.
Selama 35 hari.
Dia merasakan.
Kesembuhan.
Dan itu.
Kesembuhan.
Berdasarkan.
Ronsen.
Berdasarkan.
Penyelidikan medis.
Bukan.
Hanya kepercayaan.
Nah.
Ini lalu.
Kita terangkan.
Ini lho.
Yang membuat saya bangga.
Banyak orang.
Sudah mengalami.
Seperti itu.
Kalau di dalam dhamma.
Kita lalu mengenal.
Yang disebut.
Pembacaan parita.
Sangganusati.
Kenapa kita perlu.
Sangganusati.
Sangganusati adalah.
Perlengkungan.
Kepada sangga.
Perlengkungan.
Kepada sangga.
Itu siapa.
Mereka yang sudah.
Mencapai kesucian.
Kalaupun kita.
Belum mencapai kesucian.
Nih lho.
Sang bunda.
Sudah suci.
Nih lho.
Para bibu-bibu.
Itu lho.
Sudah suci.
Ya saya sekarang.
Berada di dalam proses.
Jadi.
Kalau anda sudah merasakan.
Manfaat dhamma.
Ceritakan.
Walaupun itu sangat kecil.
Dulu aku.
Sebelum.
Kenal dhamma.
Aku tidurnya sulit.
Mimpi-mimpi buruk.
Setelah aku kenal dhamma.
Aku bisa meditasi sedikit.
Ah ngawur-ngawur.
Meditasi saja.
Sudah tidurnya nyenyak.
Itu yang aku bisa.
Tangani sedikit.
Ya.
Jadi.
Hanya sedikit.
Kita ceritakan.
Tapi yang hebat-hebat.
Tuh coba.
Pak Andri Wongso.
STTT.
TS.
Dan.
Lho.
Walaupun.
Mungkin pendidikan.
Tidak jadi.
Tapi karena.
Kemauan belajar.
Yang sukses.
Bisa akhirnya berhasil.
Dan apalagi dorongan dhamma.
Sehingga akhirnya tambah sukses.
Itu membuat kita lalu lebih bangkit lagi.
Karena ada orang.
Yang sudah mencapai.
Gunakan contoh diri anda.
Nomor dua.
Gunakan contoh orang lain.
Kalau memang anda.
Belum memiliki apapun juga.
Tapi juga jangan menyerang agama lain.
Ya.
Kalau kita menerangkan sesuatu agama.
Sebaiknya kita juga tidak menyeringkan agama lain.
Kenapa demikian.
Karena di dalam dhamma.
Disampaikan.
Ada satu cerita.
Sang Buddha.
Yang ada satu umatnya.
Yang.
Ada memiliki.
Seorang murid.
Guru lain.
Yang ikut kepada sang Buddha.
Sang Buddha katakan.
Kamu.
Kalau sudah tertarik agama Buddha.
Kamu.
Tidak usah lah.
Ikut saya.
Tetap saja ikut guru.
Tetapi.
Murid ini.
Tetap saja.
Mengikuti dhamma.
Ajaran sang Buddha.
Lalu sang Buddha katakan.
Baik.
Kalau kamu mau ikut.
Ajaran dhamma.
Tapi kamu jangan melupakan guru.
Artinya apa.
Beliau tidak menjelaskan guru yang lain.
Tapi masih tetap menyimponsori.
Yang kedua.
Pada zaman Asoka.
Asoka mendirikan.
Sebuah pilar.
Sama Asoka adalah.
Kira-kira 300 tahun.
Setelah sang Buddha wapat.
Beliau menuliskan.
Kalau seseorang.
Mengikuti agama.
Kemudian.
Dia menghormati.
Agama yang lain.
Maka dia sesungguhnya.
Dapat manfaat.
Meningkatkan.
Agamanya sendiri.
Sekaligus.
Agama yang lain.
Tapi sebaliknya.
Kalau seseorang.
Karena demi.
Agamanya.
Menghancurkan.
Agama yang lain.
Sesungguhnya.
Dia telah menggali.
Kubur.
Untuk.
Agamanya sendiri.
Pokoknya.
Menurut saya.
Tidak perlu takut.
Orang kesal.
Seperti itu.
Karena kalau kita.
Mengatakan kita.
Sebagai Buddhis.
Mungkin.
Sedikit emosi.
Kadang lagi.
Mencintai agama Buddha.
Bisa saja.
Agak seri sensitif.
Tapi kan kita.
Sulit mengurus.
Ini yang sensitif.
Atau tidak.
Kan tidak tahu.
Saya juga mengurusi orang lain.
Saya.
Kalau saya ditanyakan.
Saya akan munculkan.
Suara saya.
Jelas.
Dan tegas.
Ya.
Tapi kalau singkat.
Mereka akan.
Gitu.
Terpengaruh.
Gak bisa.
Gak bisa.
Terpengaruh.
Ya.
Kalau kita mengurusi.
Seperti itu.
Kita mendahati pun.
Atau tidak.
Dicampurkan.
Saya selalu mendahati.
Mau meningkatkan diri sendiri.
Bayang pun salah.
Kadang jahat pun salah.
Apakah kita jujur.
Yang penting.
Buat saya.
Saya jujur.
Seperti apa adanya.
Jadi diri saya.
Saya bersedia dapat.
Dengan baik.
Kemana saja.
Saya pasti mempromosikan.
Dan ngomong.
Saya Buddhis.
Nah.
Kalau saya mengurusi.
Saya selalu.
Mau ngacap sombong.
Gak sombong.
Urusannya.
Tapi kebaliknya.
Kalau kita sekarang.
Keluarga kita.
Ditarik kiri kanan.
Sampai berantakan semua.
Kok gak ada suara.
Gak berani.
Itu jujur.
Bahwa.
Jangan tarik.
Gak berani ngomong.
Jangan.
Berarti.
Janin ini.
Gak perlu muncul.
Kalau kita muncul.
Mengatakan apa yang ada.
Selalu jujur.
Tidak boleh takut.
Untuk dicap sombong.
Karena itu.
Baik.
Dan.
Benar.
Ya.
Demikian.
Untuk menjaga.
Jadi.
Kebanggaan.
Jadi seorang buddhis.
Kita kan.
Sehari-hari.
Pengen melaksanakan.
Dharma.
Jadi.
Saya.
Meminta.
Kepada Padre.
Sebuah perubahan singkat.
Untuk kita.
Sebagai seorang buddhis.
Sehari-hari.
Gimana menjadi.
Yang.
Gak bangga.
Terus.
Jadi.
Kalau ditanya orang lain.
Kita tidak tunduk lagi.
Seperti pada.
Masa bilang.
Terus.
Untuk.
Padre.
Masa sendiri.
Saya mau nanya juga.
Ya.
Seperti anda.
Di langsung sungguh.
Gunung-gungung.
Asal untuk menghindar perang.
Juga boleh.
Gimana.
Kita sebagai seorang buddhis.
Agar jangan sampai.
Kita.
Tapi kita juga bisa sukses.
Gitu.
Terima kasih.
Sebetulnya.
Tentang kebanggaan.
Ada di bawah.
Kalau kita mau menceritakan.
Sesuatu.
Memang sebetulnya.
Kita harus.
Ibaratnya.
Kalau saya ini.
Tidak punya kumis.
Kalau saya jual.
Obat kumis.
Ganjengot.
Saya.
Gini.
Tidak menarik.
Orang tidak suka.
Karena.
Oh.
Kamu sendiri.
Tidak punya kumis.
Tidak punya jenggot.
Kamu jual.
Obat kumis.
Ganjengot.
Tetapi kalau saya.
Memang berkumis tebal.
Dan berjenggot tebal.
Maka saya dengan bangga.
Mengatakan.
Ini.
Obatku.
Maju sekali.
Walaupun ini.
Sebetulnya.
Cuma air biasa.
Kenapa.
Karena saya.
Sudah ada modal.
Untuk itu.
Nah.
Sekarang.
Di dalam dhamma.
Sudah sama.
Kalau sekarang.
Yang nomor satu.
Sudahkah.
Anda berubah.
Sedikit.
Anda berubah.
Tadi.
Baru saja.
Saya kasih contoh.
Misalnya.
Dulu tidur.
Bingung.
Sekarang.
Sudahkah.
Anda bisa berubah.
Nah.
Tips.
Yang paling sederhana.
Adalah.
Ketika.
Anda dalam kehidupan sehari-hari.
Seringlah.
Anda bertanya.
Pada diri.
Anda.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Perubahan.
Yang akan.
Sangat besar.
Adalah.
Ketika.
Nanti.
Anda.
Di dalam kehidupan sehari-hari.
Selalu bertanya.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Anda berusaha selalu menyadari.
Saat ini.
Saya sedang berjalan.
Saat ini.
Saya sedang membaca.
Saat ini.
Saya sedang mendengar.
Saat ini.
Saya sedang nonton televisi.
Saat ini.
Saya sedang menyetir.
Setiap kali.
Anda standar.
Seperti itu.
Maka.
Dalam jangka waktu.
Yang cukup.
Panjang.
Maka.
Anda akan bisa merasakan.
Emosi.
Anda.
Ketegangan.
Anda.
Kegelisahan.
Anda.
Semuanya akan bisa lenyap.
Satu contoh yang sederhana.
Kadang-kadang kita.
Sulit untuk tidur malam.
Karena ketika malam mau tidur.
Badan sudah di tempat tidur.
Pikiran yang bergerak kemana-mana.
Bergerak masa akan datang.
Maupun ke masa yang melampau.
Kemudian kita lalu merenung.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Saat ini.
Saya sedang berbaring.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Saat ini.
Saya sedang merungut.
Saat ini.
Saya sedang istirahat.
Terus Anda ulang beberapa kali kalimat itu.
Nanti akan segera tidur.
Ketika pikiran ke tempat lain.
Aduh besok bagaimana ya.
Saat ini.
Saya sedang apa.
Saya sedang berbaring.
Masa besok.
Urusan nanti.
Besok adalah rencana.
Tapi nanti aku harus istirahat dulu.
Supaya besok saya punya tenaga yang muat.
Ya.
Tadi bagaimana ya.
Tadi.
Tadi adalah.
Sudah menjadi kenangan.
Yang satu ketika nanti.
Setelah saya bangun.
Saya akan perbaiki.
Ya.
Yang jelek.
Dan saya akan tingkatkan yang paling.
Selalu Anda sadari itu.
Maka.
Dalam beberapa bulan.
Perubahan terjadi.
Dan Anda akan bangga.
Untuk menceritakan.
Terima kasih.
Oke.
Ini pertanyaan pertama dari Budi ya.
Kemudian pertanyaan selanjutnya.
Pada Bapak Andri Wongsog Pak.
Bagaimana Pak.
Supaya tidak gotok-gotokan Pak.
Ya.
Saya tidak pernah membahas sujudu.
Kedua-kedua.
Saya membahas sujudu.
Adalah zaman sujudu.
400 tahun sebelum masehi.
Muncul.
Teori.
Pucat.
Jawa.
Artinya.
Kalau saya tidak membunuh.
Saya dibunuh.
Dan itu kondisi.
Dan saya ceritakan juga disitu.
Kondisi itu sudah tidak mungkin relevan untuk dunia saat ini.
Alpat ini.
Maka.
Satu.
Kalau seperti itu.
Cocok untuk diri kita.
Membunuh.
Tapi mentalitas yang miskin.
Membunuh.
Mentalitas kaya.
Membunuh.
Mentalitas bikin.
Miskin.
Contohnya.
Setiap hari kita terjadi perang.
Ketidakkonsisten.
Ketidakkonsisten.
Kurang disiplin.
Kurang takut jawab.
Kurang percaya diri.
Kurang keyakinan.
Kurang konsisten.
Ini yang dibunuh.
Perang ini melalui.
Perang diri sendiri.
Melalui kegiatan mental.
Jika setiap hari kegiatan mental mampu mengatasi.
Mengalahkan kemiskin mental.
Setiap hari.
Itu akan bertumbuh kualitas tadi.
Nah kalau bertumbuh kualitas itu.
Muncul.
Kesuksesan pasti akan dapat kita raih.
Dan.
Buat apa.
Kita meraih orang.
Meraih kemenangan.
Dengan.
Sikap menikot.
Saya tidak pernah menurut.
Mengajarkan.
Apa.
Mengajarkan orang.
Untuk.
Melakukan kemenangan.
Dengan menikot orang lain.
Ya.
Tapi kalau kita.
Memenangkan peperangan.
Karena orang lain yang lemah.
Itu bukan.
Sikot menikot.
Tapi memang.
Kita gelap.
Untuk menang.
Itu dari saya.
Terima kasih.
Oke.
Terima kasih.
Saya mau ucapkan.
Nama budaya.
Nama budaya.
Nama saya.
Saya mau bertanya.
Tentang karma.
Ini pak.
Ada.
Seseorang.
Dia dipukuli terus.
Ya.
Dia dipukuli terus.
Tapi dia mengatakan.
Saya menerima.
Mungkin.
Karma.
Buruk saya.
Sedang berbuang.
Tapi.
Menurut saya.
Itu.
Bukan karma.
Namanya.
Yang saya mau tanyakan.
Apa terdahulu.
Atau.
Apa itu pak.
Terima kasih.
Ya.
Ini.
Ada dua versi.
Lihat.
Kenapa.
Dipukul dulu.
Kalau.
Dia salah.
Dipukul.
Karena dia mengerti.
Kesalahan.
Itu adalah.
Hasil.
Dari.
Kesalahan.
Yang benar sekali.
Dikarang masalahnya.
Katanya.
Contoh.
Dia nyolong.
Ketangkep.
Dia tahan terus.
Kenapa.
Kamu gimana.
Memang salah saya.
Karma saya.
Saya setuju.
Tapi.
Kalau dia gak ada apresi.
Gak ada kata alasan apapun.
Terus dipukul ulang.
Ya.
Dia gimana.
Saya tukar masalahnya.
Ya salah masalah ya.
Itu dia gak bisa.
Tidak bisa berjalan dengan baik.
Nah.
Maka.
Dua kondisi.
Ini kan perlu di.
Kita lihat.
Tergantung dalam kehidupan kita.
Kalau kamu mengalami sesuatu hal.
Lalu dengan cepat sekali kita bilang.
Ini memang karma saya.
Belum tentu.
Bisa juga kebodohan bagi kita.
Sehingga kita anggap.
Semua hal.
Salah.
Itu kemarin.
Padahal kesalahan kita saat ini.
Iya.
Saya hanya menambah.
Bahwa karma ini.
Bukan.
Jadi karma.
Kita bukan hanya.
Buah karma.
Kalau istilah yang bapak tadi kan.
Pokoknya dipukul itu karma.
Berarti itu yang tak ada tahunya.
Buah karma.
Padahal seperti yang tadi.
Pak Dewan.
Sampaikan.
Secara tersirat.
Sudah dinyatakan.
Karma itu ada.
Tanam.
Dan ada panen.
Tadi tanamnya misalnya.
Mencuri ayam.
Sehingga panennya.
Benjol padanya.
Nah.
Itu adalah.
Karma itu memang.
Hukum sebab.
Dan akibat.
Bukan hanya.
Hukum akibat.
Sehingga.
Seorang umat buddha.
Ketika dia.
Mengalami kesulitan.
Ataupun kebahagiaan.
Tidak segera.
Lalu menyerahkan itu.
Kepada karma.
Oh ya.
Saya mengalami.
Penerimaan.
Ketika.
Dan lulus.
Ini memang karma saya.
Tapi tidak apa-apa.
Saya tetap tidak belajar.
Kalau memang karmanya.
Sudah lulus.
Kan lulus-lulus.
Sendiri.
Ya.
Ini yang jelas.
Salah ya.
Karena.
Ya.
Ini karma itu.
Kita harus.
Perjuangkan.
Karma itu adalah.
Hasil.
Buah karmanya.
Adalah hasil.
Karena karma sendiri.
Kalau ditanya.
Pada suatu ketika.
Sang Buddha pernah ditanya.
Apakah yang disebut karma.
Sang Buddha menjawab.
Karma itu adalah niat.
Suatu perbuatan.
Yang anda niati.
Itulah karma.
Ucapan yang anda niati.
Adalah karma.
Pikiran pun.
Itu adalah karma.
Nah.
Sehingga.
Ketika anda ingin.
Mendapatkan kelulusan.
Anda harus berjuang.
Anda harus belajar.
Baru bisa lulus.
Kasus yang tadi.
Dibukuli.
Kita akan melihat.
Beberapa hal.
Yang pertama.
Mungkin.
Dia memang salah.
Yang kedua.
Mungkin.
Si pemukul ini.
Kurang bebes.
Otaknya.
Ya.
Nah.
Sehingga.
Kalau sekarang.
Misalnya.
Si pemukul ini.
Kurang.
Di introspeksi.
Seperti yang tadi.
Disampaikan.
Pak Andri Wongso.
Yang kedua.
Kalau si pemukul ini.
Tidak beres.
Maka kita harus memuji.
Oh.
Kalau memang.
Tidak beres.
Berarti.
Kalian kemungkinan.
Supaya.
Bukan deket-deket lagi.
Sama dia.
Ya.
Bukan harus.
Bukan harus.
Terus saja.
Terus.
Jadi.
Kita harus berjuang.
Untuk memperbaiki.
Hidup kita sendiri.
Kalau tidak.
Tidak saja.
Pak Andri Wongso.
Sebagai motivator.
Karena kalau kita susah.
Tapi justru.
Agama motivator ini.
Untuk mendukung.
Supaya kita punya.
Keabungan.
Yang nomor satu.
Sekarang.
Saya.
Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Terima kasih.
Saya sudah beri kesempatan.
Kepada Bhante.
Agama Buddha.
Begitu banyak.
Aliran.
Menurut Bhante.
Yang benar.
Untuk agama Buddha.
Itu bagaimana.
Kedua.
Menurut Bhante.
Dan Bapak Andri Wongso.
Saya.
Menurut pasangan agama Buddha
Terima kasih
Namah Buddha
Sudah sedara
Pemilihan yang besar
Misalnya pemilihan agama
Itu pun bukan
Karena benar dan salah
Saya memilih agama Buddha
Bukan yang lain
Bukan karena yang lain salah
Tapi saya merasa cocok
Dengan agama
Kalau orang lain mau agama yang lain
Silahkan mungkin cocoknya bagian itu
Nah ini nomor satu
Kita harus sadari
Kita tidak pernah tahu agama Buddha
Agama itu mana yang benar, mana yang salah
Pada tahap awal
Saya katakan pada tahap pertama kita memilih
Kita tidak akan pernah tahu
Karena itu semua katanya buku
Oh buku ini mengatakan
Mati masa surga
Tadi sudah saya katakan
Mana buktinya
Orang mati masa surga itu juga tidak pernah lapor
Itu kita hanya memilih berdasarkan kecocokan
Tetapi
Kalau kita sudah mulai mendalam
Nanti kita akan baru tahu
Oh ini misalnya makin cocok dengan agama Buddha
Oh agama Buddha bisa dibuktikan dan sebagainya
Itu nanti setelah mendalam
Tapi pada awalnya hanya karena kecocokan
Bukan benar dan salah
Yang kedua
Agama Buddha sendiri bermacam-macam
Anda tadi katakan sektor
Saya kurang begitu sepakat dengan istilah sektor
Karena sektor secara kamu sebetulnya adalah
Mengatakan sesuatu yang berbeda
Total berbeda
Dengan
Yang
Indunya
Jadi seperti perpecahan yang telah belakang
Padahal kalau saya melihat
Agama Buddha ini adalah lebih bersifat ahliran
Sehingga tadi pada waktu pertanyaan tentang tradisi
Saya sudah sampaikan sedikit
Agama Buddha dengan tradisi Tiongkok
Agama Buddha tradisi India
Maupun agama Buddha tradisi Tibet
Jadi tidak ada sektor Tiongkok
Sektor Tibet
Sektor India
Tidak seperti itu
Kenapa?
Karena pelajarannya sebetulnya sama
Nah
Anda katakan tadi
Berbagai macam ahliran
Lalu mana yang
Yang paling benar
Sekali lagi disini
Tidak ada yang paling benar
Tapi yang paling cocok
Anda lakukan yang paling cocok
Lalu cocok itu bagaimana?
Tanda-tandanya
Ketika Anda ikut ahliran itu
Dan Anda bisa berubah berlaku Anda
Menjadi orang yang lebih baik
Menjadi orang yang lebih sabar
Lebih pemurah
Lebih bisa melaksanakan kemoralan
Lebih bisa melaksanakan meditasi
Maka Anda sudah cocok dengan ahliran itu
Tapi kalau sekarang Anda ikut agama Buddha
Malah tambah kasar
Malah tambah berlintas
Malah tambah jahat
Maka interpretasi Anda kepada agama Buddha yang salah
Tapi bukan agama Buddha nya yang salah
Atau yang benar
Agama adalah neutral
Kemudian yang kedua pertanyaannya adalah
Bagaimana cara kita mengendalikan emosi?
Sebenarnya pertanyaannya ini sudah ke-2
Saya jawab pada sebelumnya, yaitu kita selalu sadar, saat ini saya sedang apa?
Karena apa? Karena emosi itu muncul ketika kita membandingkan.
Tadi engkau yang memakai aku, itu kan engkau yang tadi.
Engkau tadi juga yang memukul aku, tapi kan saat ini apa?
Saat ini aku kan justru punya kesempatan untuk mengkanalisa.
Apa? Apa alasannya dia memukul aku? Apa alasannya dia memakai aku?
Mungkin aku bisa perbaiki saat ini.
Tapi kalau dia yang salah, dia yang memakai tanpa alasan, dia yang memukul tanpa alasan,
maka saat ini saya punya kesempatan untuk memaafkan dia.
Karena berarti dia orang yang tidak mengerti, orang yang tidak salah,
dia orang yang tenggelam di dalam kegelapan.
Dengan terlalu menjadari hidup saat ini, kita lama menjadi melebih sabar,
lebih pengertian terhadap kekurangan maupun kelebihan seseorang.
Ya, itu pertanyaan sudah terjawab.
Oke.
Saya ingin juga dengar, Felsi, Bapak Adriwungso, seorang motivator nomor satu,
bagaimana Pak cara mengurangi emosi, Pak?
Ya, itu kan pertumbuhan.
Kadang-kadang ada orang memang dari lahir sudah punya sifat yang gampang emosi.
Ada orang yang sabar sekali.
Saya ketahui beberapa orang yang mengangkat rame.
Jadi salah satu cara adalah saya untuk berbicara kepada diri sendiri sebelum berangkat kerja.
Ya, ini kan kakak terbunyi mahasiswa.
Itu saya sarankan, itu sebelum berangkat kerja,
waktu saya gigi sudah mulai ngomong,
hari ini aku harus praktek.
Itu malam mau tidur juga mau.
Sehingga kadang-kadang tadi kalau diujakan terus-terus,
pada saat praktek ketemu yang beremosi,
contoh diseretan mobil, tidak usah buka kaca.
Malam tidak usah buka kaca.
Silahkan jalan.
Ini tidak gampang, itu jadi muarang.
Silahkan jalan.
Ini susah, ini kan bodoh praktek.
Nah, jadi dengan pengendalian diri,
pengertian yang sudah dibandingkan dengan berani menekan dan dipraktekan yang lebih-lebih baik.
Namo Buddhaya.
Nah, itu pertama untuk bangga menjadi seorang umat Buddha,
kita kata kita,
supaya kita teriakin.
Ada bapak-bapak di Wongso yang kita tanyakan itu,
apakah sebenarnya bagaimana menimbulkan semangat dalam Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Namo Buddhaya.
Ya, sebenarnya pertanyaan ini,
langsung ya saya,
ya akhirnya tadi moderator yang ngomong dulu.
Saya langsung tantep saja.
Sebenarnya pertanyaan ini,
sudah ada mirip-mirip dengan beberapa pertanyaan tadi,
tentang bagaimana kita merasa bangga dan sebagainya,
yang saya cocokkan dengan istilahnya,
kalau kita belum punya kumis, kita gak bisa jualan obat kumis tadi.
Artinya,
kalau kita,
ingin tumbuh keyakinan kita,
tentu harus praktek.
Tidak ada agama Buddha yang hanya dibaca.
Kalau Anda sekarang hanya membaca teori agama Buddha,
maka sebetulnya Anda seperti membaca teori berenang.
Anda mengerti bagaimana teori berenang?
Kalau Anda teori berenang,
Anda ada air di kolam renang,
kemudian Anda harus berdiri begini,
lalu Anda harus terjun dengan kepala sekian raja,
lalu Anda harus menggerakkan kaki Anda seperti ini,
kecepatannya tangannya begini,
Anda hafal dari halaman ke halaman,
dari halaman pertama sampai yang terakhir,
dibuka halaman berapa Anda juga tahu isinya,
tapi itu sama dengan Anda tidak bisa berenang juga.
Bukan otomatis hafal teorinya,
lalu Anda bisa berenang.
Kalau Anda dicemplungkan ke air,
walaupun hafal teori yang keluar juga jurus dada.
Apa itu jurus dada?
Dada.
Kembali ke praktek,
agama muda adalah egi,
pasiku datang membuktikan,
bagaimana untuk membuktikan,
jalani,
apakah yang harus dijalani?
Yang pertama, kemoralan.
Tidak membunuh,
tidak mencuri,
tidak melanggar kesusilaan,
tidak bohong,
dan tidak mampu-mampuan,
inilah lima kemoralan yang disebut Pancasila Buddhis.
Yang kedua adalah mengembangkan meditasi.
Bagaimana dasar meditasi?
Baru saja saya sampaikan kepada salah satu penanyaan Anda,
adalah menyadari saat ini saya sedang apa.
Meditasi bukan hanya duduk,
diam,
pagi,
dan sore.
Meditasi pagi dan sore seperti itu,
belajar mobil di tempat yang sepi.
Jadi duduk,
diam,
pagi,
sore,
mengamati nafas,
ataupun obyek apapun juga yang Anda pilih,
itu sepertinya Anda seperti belajar mobil.
Tapi nanti yang paling penting,
setelah Anda belajar mobil di lapangan yang sepi,
mampukah Anda gunakan di kehidupan sehari-hari?
Kalau Anda hanya mahir di lapangan yang sepi,
tapi Anda tidak bisa di jalan raya,
berjumpa.
Sama dengan orang yang meditasi bertahun-tahun,
sampai bisa berkasem kepalanya,
jidatnya sampai sudah lebar sekali,
tapi emosinya masih meningkat.
Orang yang masih tidak mau peduli dengan orang lain,
maka meditasinya itu sama dengan orang yang bisa main mobil di tempat yang sepi.
Tapi ketika dia setelah meditasi,
kemudian dia juga selalu menyadari saat ini saya sedang berjalan,
saat ini saya sedang menyetir,
bahkan dia selalu menuliskan kata-kata,
saat ini saya sedang apa,
di meja kerja dia,
di samping tempat tidur dia,
di mobil dia,
selalu katakan semua,
saat ini saya sedang begini,
saat ini saya sedang begitu,
selalu-selalu sadar,
inilah sebetulnya penggunaan meditasi dalam kehidupan sehari-hari,
dan itulah yang nanti akan mempermungkinkan riadina kita,
karena kita dari hari ke hari,
pikiran kita makin cernih,
ucapan kita makin tergedali,
dan berilaku kita juga semakin baik,
sesuai dengan ajaran Sabudha,
sehingga kita bisa bagikan kepada mereka yang memerlukan di sekitar kita.
Pertanyaan selanjutnya untuk Bapak Andri, ya Pak. Silahkan.
Dia bertanya, menurut versi Anda, semangat itu apa?
Kemudian pertanyaan selanjutnya,
lanjutannya juga itu, cara masalah.
Bagaimana?
Bagaimana kita bersemangat?
Semangatnya sepi.
Adopsi.
Bagaimana supaya semangat?
Ya semangatlah.
Sama setiap pertanyaan dulu.
Bagaimana supaya tidak males?
Ya jangan males.
Gampang, kan?
Nah contoh sekarang, seperti kita jalan kaki.
Jalannya lambat.
Bagaimana supaya cepat?
Beres, kan?
Nah kalau kita mengerti teori,
itu gampang.
Semangat.
Ya semangatlah.
Buat semangat, tidak bisa.
Buat satu tujuan dalam kehidupan.
Kalau tujuan itu melangsang,
cukup besar,
dan berarti,
pasti akan muncul.
Semangat.
Nah dengan demikian,
maka setiap hari kalau bisa,
harus mempunyai target.
Seperti kan Buddha,
punya target yang jelas.
Akan mencapai gimana.
Anda anak-anak pun,
tidak takut.
Spirits itu tidak hilang.
Terganggulnya apa pun,
tetap bertahan.
Dan terus bersemangat,
sampai mencapainya tingkat tertinggi.
Bagaimana?
Sama seperti kita.
Kalau mau semangat,
buat semangat.
Tidak biasa semangat,
sedikit target.
Semoga hari ini,
membuat Anda punya target yang jelas
untuk kehidupan Anda.
Oke.
Nah, Bapak Buddha.
Sebenarnya saya mengingat,
di dalam Dharma ini disampaikan,
bahwa Sang Buddha pernah menyatakan,
dalam satu kali terbentuknya bumi
sampai kiamatnya dunia,
itu kadang-kadang,
tidak ada Buddha sama sekali.
Kemudian,
kadang-kadang dalam satu kurun waktu terbentuk
sampai kiamatnya bumi,
bisa ada satu Buddha.
Nah, bumi kita,
tata surya kita Bima Sakti ini,
diceritakan setelah muncul dan gelap,
karena konsep terjadinya bumi,
menurut agama Buddha,
itu bukan penciptaan,
tetapi adalah proses evolusi
yang membutuhkan waktu yang berupa panjang.
Dulu pernah kiamat,
kemudian menjadi partikel debu angkasa,
kemudian bisa terbentuk lagi,
menjadi bumi yang baru,
dan seterusnya tata surya yang baru.
Nah, Bima Sakti kita ini, bumi kita ini,
diceritakan oleh Sang Buddha,
ada lima orang Buddha.
Sang Buddha sudah yang keempat.
Buddha yang pertama, Kakusanga,
Onagamana,
Kastapa,
kemudian Buddha yang keempat ini,
Gotama,
Buddha yang kelima ini adalah Maitreya.
Nah, dari situ timbulah kepercayaan
bahwa Buddha Maitreya akan timbul setelah.
Tetapi cerita Sang Buddha ini,
tentang lima Buddha pada
satu masa bumi muncul sampai kiamat ini,
ini harus diingat bahwa
setiap kemunculan Buddha,
dia harus pelajaran Buddha
yang sebelumnya itu,
kenapa?
Karena segalanya adalah anicca
atau tidak kekal.
Tidak usah jauh-jauh ketika terjadinya
atau kelahiran panggilan Siddhartha,
Siddhartha Gotama.
Siddhartha Gotama ini lahir ketika
agama Buddha sama sekali tidak ada.
Kemudian beliau lahir sebagai anak raja,
beliau bermeditasi,
dan beliau mencapai kesucian,
dan beliau mengajarkan Dharma.
Jadi, ajaran Buddha Kasama sebelumnya
tidak diperbaiki oleh Sang Buddha.
Tapi sudah dilupakan orang,
sudah tidak ada pihara,
tidak ada bhikkhu,
tidak ada bhikkhu,
tidak ada kata Buddha,
ataupun juga.
Kemudian Buddha Gotama lahir,
atau panggilan Siddhartha lahir,
kemudian mencapai kesucian menjadi Buddha Gotama,
mengajarkan Dharma.
Dan nanti sampai akhirnya juga,
ajaran Gotama ini memang
satu ketika juga akan habis,
akan punah.
Nah, kemudian,
setelah ajaran Buddha Gotama ini habis dan punah,
nanti baru lahirlah Buddha Maitreya.
Kemudian Buddha Maitreya ini lahir,
mengajar Dharma yang sama.
Ini yang mempatut dibatalkan.
Semua Buddha ini selalu mengajarkan yang sama
empat kesunyataan mulia.
Bahwa hidup ini berisi ketidakpuasan,
kesunyataan yang pertama.
Yang kedua, ketidakpuasan ini ada sebabnya,
yaitu keinginan kita.
Kemudian yang ketiga,
kalau kita tahu sebabnya bisa diatasi,
sehingga kita mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.
Yang keempat adalah caranya untuk mengatasi
yang disebut jalan mulia yang berujur ke depan.
Semua Buddha mengajarkan itu.
Ya.
Buddha-Buddha, ribuan Buddha,
tak terhingga Buddha itu juga empat kesunyataan mulia.
Kemudian Buddha Kakusandha, Ponandhamana,
Kassapa, Gotama, Maitreya,
nanti juga akan mengajarkan empat kesunyataan mulia.
Karena itu tadi kalau dikatakan,
walaupun agama Buddha ini dengan tradisi yang bermacam-macam,
isi empat kesunyataan mulia ini tak pernah berubah.
Nah sekarang,
Buddha Maitreya nanti akan lahir
ketika ajaran Buddha Gotama sudah habis.
Kalau sekarang ada orang yang mengatakan seperti itu,
mungkin menurut kepercayaan mereka seperti itu.
Tetapi yang menurut yang saya pelajari
dari berdasarkan kitab kunci yang ada,
yang dipakai bersama,
bahwa Buddha Maitreya belum ada pada zaman ini,
Buddha Maitreya masih ada di surga Tushita,
sampai habisnya ajaran Buddha Gotama.
Padahal kalau saya lihat,
hari ini justru agama Buddha Gotama ini
makin berkembang,
bihara-bihara makin dibangun,
perguruan tinggi dengan UKM,
UKMB-nya banyak sekali,
kecuali yang satu tadi.
Jadi saya rasa,
kalau Buddha Maitreya hari ini masih belum lahir,
tapi orang mempercayai itu,
itu hadiah.
Semoga kita juga ada argumentasi untuk itu.
Semoga bermanfaat.
Seperti yang surga.
Ya, mungkin itu istilah tetangga
yang tadi Anda sampaikan.
Ya, memang saya pernah tahu itu.
Tetapi di dalam buddhist begini,
apakah yang disebut bersyukur?
Sebetulnya adalah kita merasa cukup.
Ya, cukup.
Kalau dalam bahasa sederhana, untung.
Sudah untung.
Jadi walaupun kecelakaan,
mobilnya rusak,
motornya hancur,
untung.
Orangnya gak apa-apa,
syukur.
Loh kakinya recep,
untung, syukur.
Cuma kakinya, belum kepalanya.
Garota, untung.
Cuma ke garota, syukur.
Masih cuma ke garota,
tidak mati.
Loh ini mati kok.
Untung, mati.
Untung, syukur.
Kenapa?
Karena dengan demikian sudah gak menderita lagi.
Dan karena di dalam masa muda,
sebetulnya kita puas pada saat ini.
Kalau di dalam kalanya metastuta,
ataupun pasang buddha tentang cinta kasih,
sang buddha disitu mencatatkan
santuti atau merasa puas,
muda puas.
Apakah yang disebut muda puas menerima kenyataan saat ini?
Karena kalau muda puas itu menerima kenyataan saat ini
sampai yang akan datang,
yang akan datang,
itu kan menjadi tidak perlu motivator.
Ya, karena motivator itu kan justru saat ini kan harus yang dikembangkan.
Artinya bagaimana?
Anda misalnya kuliah.
Pada saat Anda belajar,
saat ini saya sudah mengapasikan belajar.
Tingkatkan kualitas belajar Anda sampai yang menjadi nomor satu.
Jatuh tempo ujian.
Anda kan berjuang menjadi nomor satu.
Tapi semua orang kan ingin nomor satu.
Padahal nomor satu kan cuma satu.
Ya kan pasti Anda yang nomor dua dong.
Nah, kalau kebetulan Anda itu ketemu yang nomor dua,
Anda itu menjadi orang yang nomor dua,
maka Anda harus menyadari untung juga.
Anda menerima ini yang nomor dua.
Tetapi Anda harus ingat,
masa lalu walaupun kenangan itu harus terhadap pelajaran.
Karena itu sebagai pelajaran.
Oh, ini apa ya proses nomor dua?
Mungkin saya kurang paci, mungkin saya kurang semangat.
Saat ini saya tidak nafas.
Saat ini saya akan memupuk kembali kualitas hidup saya
supaya saya lebih maju di masa yang akan datang.
Sebaliknya, masa yang akan datang,
ini adalah tujuan hidup saya.
Saya harus tetap nomor satu.
Lalu kualitas apa yang harus saya kembangkan?
Itu harus dimulai saat ini.
Karena kalau nomor satu itu hanya yang akan datang.
Ya, aku pasti nomor satu.
To be the best, to be the first.
Ya, terus yang diomong.
Tapi apa?
Yang dilakukan itu apa?
Tidak ada makanya hanya kayangan saja.
Karena itu,
kalau sekarang kita lalu melihat apakah yang disebut bersyukur
atau menerima kondisi saat ini
adalah menerima kenyataan saat ini,
menjadikan masa lalu sebagai pelajaran
yang jelek untuk diperbaiki,
yang baik untuk ditingkatkan.
Sebaliknya yang akan datang,
tujuan yang paling tinggi yang akan kita capai
hendaknya harus dimulai dengan mengerjakan saat ini.
Karena itu bersyukur artinya adalah
menyadari hidup saat ini,
tingkat dan kualitas perilaku Anda
semaksimal mungkin
dengan banyak ucapan dan pikiran Anda.
Kita misalkan,
misalnya jenis kamunya laki-laki itu
merag jantan,
dan yang wanita itu merag betina.
Di sini merag jantan itu beragama Buddha,
dan merag betinanya itu non-Buddhist.
Seperti yang tadi dikatakan,
ceritanya merag jantan ini tetap mendebar persona,
sampai membuat merag betina ini terpesona,
tapi mereka berdua itu memiliki keyakinan yang berbeda.
Sedangkan yang kita tahu dari agama lain,
mengatakan kalau menikah beda agama itu
sama saja dengan berdina seumur hidup.
Yang ingin saya tanyakan,
menurut pandangan agama muda,
itu bagaimana? Terima kasih.
Bagaimana pandangan Buddha?
Memang sebetulnya ideanya di dalam agama sendiri.
Seseorang kalau menikah sebaiknya,
sama agamanya.
Kenapa demikian?
Karena kalau beda agama itu memang menimbulkan masalah.
Satu contoh seorang umat muda dengan umat beragama lain.
Ketika pacarannya sedang asik-asiknya,
kemudian datang seekor nyamuk.
Ketika nyamuk datang,
si buddha mengatakan,
biarkanlah nyamuk mau ikut kita pacarnya,
tidak apa-apa.
Kita tidak perlu rugi,
karena nyamuk bukan sainganku.
Si betina memang betina.
Secara yang non-buddha ini mengatakan,
loh, ini nyamuk kalau memikirkan
bisa demam berdarah tepuk saja.
Cowoknya, jangan dong.
Ini tidak malu.
Ini binatang.
Bisa dibunuh.
Jangan malu.
Jadi pacaran yang kasih-kasih rusak,
agar-agar seekor nyamuk yang dipindahkan agama tadi.
Nah, ini menjadi masalah.
Tapi kalau sama-sama rekamannya enak.
Sama-sama buddhi.
Sudah, biarkan nyamuk nonton kita.
Ianya makin asik.
Ada penontonnya kan paling enak.
Maka tadi cuma penjawabnya itu.
Belum, ini belum.
Wah, ini buru-buru ini.
Sudah mau nonton sunsu dia.
Yang terjadi masih di sini, tenang.
Belum terlambat.
Karena sudah direkam.
Kemudian, kalau sama-sama buddhi juga sama.
Eh, nyamuk mau datang.
Oke, tepuk.
Tepuk saja.
Beres.
Mati.
Ayo lanjutin lagi pacaran.
Enak.
Kenapa?
Karena satu agama.
Nah, sekarang itu problem yang muncul tadi.
Si cowok sudah berusaha menebarkan pesona.
Kemudian si cewek juga sudah tertarik.
Tapi sama-sama tidak mau berpindah agama.
Lalu bagaimana nanti kita akan lihat?
Sebetulnya yang nomor satu disarankan.
Sebaiknya.
Masing-masing ini harus bisa menyesuaikan agama.
Pilih salah satu.
Ya.
Itu kalau bisa.
Kalau nomor dua.
Kalau tetap dipaksa.
Harus beda agama.
Sebetulnya pasangan hidup yang belum menikah ini.
Kalau nanti menikah dipaksa beda agama.
Dia akan menyimpan volume waktu.
Kenapa demikian?
Pada saat pacaran, okelah.
Yang penting kan kita pacaran orangnya.
Bukan bajunya.
Baju dengan agama apa saja itu terserah.
Kita tidak ada percintaan.
Karena pencuci.
Nah sekarang.
Oke kita agama sendiri-sendiri.
Lalu meritnya dimana?
Oke saya kalah.
Kamu ikut agamamu.
Aku tidak usah.
Oke.
Setelah merit ikut salah satu agama.
Kita punya anak.
Anak dididik menurut agama apa?
Ya anak-anakku.
Didik aku.
Nah tapi kan aku juga punya hak disini.
Menentukan.
Sebenarnya punya anak lagi.
Jadi anak ini sudah dianggut anggota pantai.
Ikut sini dan ikut sana.
Pilih yang mana.
Nah.
Kemudian nanti.
Kan sudah anaknya dua.
Kalau tiga bingung lagi.
Papa sudah punya.
Mama sudah punya.
Gengnya.
Kamu ikut tetangga saja.
Agamanya ikut tetangga.
Nah anaknya kan bingung.
Karena kalau sudah ikut papanya.
Nanti mamanya mesti minta juga dua-dua jadinya.
Nanti non-non.
Tidak taruh karyuan.
Nah.
Ini baru bom waktu disitu.
Nanti kalau pendidikan anak okelah.
Karena aku menurut kamu semua bagus.
Nanti menunda bom waktu yang berikutnya.
Pasangnya.
Subscribe pounds zoals ini.
Tidak padahal ini kan tidak mudah.
Kalau satu ketika bisa tua, sekarang akan mati.
Nah sekarang sakit.
Tua sudah sakit jakita.
Mau di kumbayangkan agama apa?
Agama yang sakit...
Atau yang sehat.
Oke yang sakit.
Kalah ini sakit.
Oke sekarang yang sakit mati.
Mau diupadahlahi hidup apa yang mati?
Yang mati ini sekarang dikubur.
Mau tunggu.
Karena itu saya menyarankan, Anda yang masih pacaran, setidaknya satu agama.
Tapi Anda yang sudah suami istri, dan masih beda agama, setidaknya saling memahami.
Bahwa pemilihan agama adalah karena kecocokan, bukan karena penduduk dan calon.
Karena itu setiap agama punya kebenarannya masing-masing.
Dia agama itu, karena dia punya kebenarannya sendiri, dan dia punya kecocokannya sendiri.
Saya beragama ini, karena saya cocok dengan ini, dan saya merasakan kebenarannya sendiri.
Kalau orang tidak tahu itu, aman, akur, baik-baik saja.
Jangan bisa berbuat baik, daripada kita membangga-banggaan yang berlebih.
Ya, tangan ini kalau dilihat dari dua sisi, ya memang berubah warnanya ya.
Ada sisi gelap, ada sisi terang.
Artinya apa? Satu masalah bisa dilihat dari dua sudut.
Sehingga Sang Buddha di dalam Nama Pada juga pernah menyampaikan,
bahwa, oh, atulah di dunia ini,
tidak ada orang itu yang bebas dari celah.
Duduk ya di celah.
Anda yang duduk di sini juga bisa di celah.
Dari tadi sampai hari sekarang,
kamu tahan duduk, terus, oh, ya kan, nonton TV sana.
Tapi ada yang jalan-jalan, itu juga di celah.
Ngapain ada atara yang baik ini, oh, celah-celah, terus.
Kenapa? Karena di dunia ini tidak ada orang yang bebas dari celah.
Oleh karena itu sekarang, pembangunan misalnya wihara,
membuat patung-patung sebesar apapun juga,
kalau Anda tidak mendukung,
Anda mendukung untuk perbuatan yang lain, silahkan Anda cari orang yang sepaham dengan Anda,
kumpulkan, lalu Anda untuk bagi sosial.
Sebagainya yang Anda sepaham dengan,
wah, bilarat orang-orang yang megah, yang mewah.
Kenapa? Karena kita ini, sekarang umat Buddha ini,
sudah bukan zaman umat umuh-umuh.
Coba lihat kanan kiri saya ini.
Mereka sudah jah-jahkan, sudah sehebat ini.
Kalau sekarang masuk ke biaranya yang umuh-umuh,
eh, jahatnya kan kotor.
Ya.
Ya, dan sekarang sudah zamannya wihara yang logam, berasa ini nanti kan akan kita jadikan wihara ke tempat ini.
Daripada bangun baru, kan lebih banyak sudah ada kan ya.
Nah, misalnya sekarang kita lihat ada wihara yang logam, spektakuler,
kemudian yang datang jah-jah-jah, kan tidak ada rutin.
Karena ini memang kadang-kadang ada satu tahap tertentu juga dibutuhkan.
Jadi umat Buddha bukan harus umat yang umuh-umuh.
Ya, seperti sekarang misalnya,
kan di wihara-wihara sudah dikenal.
Kalau masuk ke wihara,
Anda harus jahat pakai kaos t-shirt yang tidak ada layarnya.
Kenapa?
Karena kaos yang tidak ada layarnya itu masuk lapangan kols saja tidak boleh kok.
Apalagi pakai kewihara.
Dan Anda coba renungkan sebagai seorang umat muda,
bangga yang pakai mana?
Kalau suatu ketika Anda pergi ke mall,
pakaian Anda bisa lebih rapi daripada kewihara.
Anda bangga ke mall,
dan bangga kewihara.
Dan itu yang saya menyarankan.
Yang ingin bangun wihara besar,
yang ingin pantungnya lebar, silahkan.
Yang Anda ingin pakti sosial,
dono darah, produksi darah, tepak, buku buahnya, silahkan.
Karena kita punya jalurnya masing-masing.
Nah, kalau yang level atas, level semua ini,
semua level multi-level ini bisa dipenuhi,
wah, forever you.
Ya, itulah.
Tak akan terlalu kering, tak akan terlalu banyak.
Oke, Pak Fadli, pertanyaan yang sama.
Ya, saya kira sama.
Kalau ada kegiatan-kegiatan lain,
ada yang faham besar atau kewihara besar,
nggak ada masalah.
Kalau saya sendiri kan,
ya saya mau jumbang untuk pantung gede, ya boleh.
Untuk buat sekolah, ya boleh.
Untuk kegiatan pertemuan seperti Waisah kan, ya boleh.
Karena saya sudah siap untuk mengurangi kemerdekatan
dan secara menyumbang apa saja lagi.
Nah, itu masalahnya saya.
Jadi saya tidak memandang,
buat apa aku gede-gede, buat ini.
Nah, kalau saya, saya juga.
Jadi juga kan bagus.
Nah, kalau ada seribu orang seperti saya yang begini,
wah ini jadi wihara benar-benar di sini.
Nah, kalau ada yang begini,
pasti saya beragamu muda dari kecil
karena waktu itu mungkin saya beragamu muda
karena lantuan saya beragamu muda.
Tapi semenjak saya aktif di Damaskian Ratu Sakti,
saya semakin mengerti apa itu agamu muda
dan saya semakin patah dengan agamu muda waktu itu.
Saya ingin tanyakan nanti apabila orang tua saya
atau saudara-saudara saya yang lebih tua
akan mengakukan kesalahan menurut agamu muda,
itu bagaimana caranya saya menasehati mereka
semakin mengerti bahwa itu perbuatan yang bertentangan dengan agamu muda.
Karena yang saya tahu,
seorang tua itu sifatnya egois.
Mereka itu sejak menerima secara penuh nasihat dari orang lain,
seorang anaknya.
Walaupun kesehatan itu sesuai dengan agamu muda, Mande.
Terima kasih, Mande.
Oke, terima kasih, Mande.
Baik, ini sebenarnya temanya membawa damai ke dalam rumah.
Artinya bagaimana kita mengenalkan damai ke rumah kita.
Nah, memang betul apa yang Anda sampaikan,
bahwa kadang orang tua sulit untuk mendengar nama berbicara.
Kenapa demikian?
Anda walaupun sudah kuliah,
sebenarnya bagi ibu Anda, Anda adalah tetap bayinya dia
yang pernah dikandung.
Dia dengan susah payah,
yang pernah dididik dia,
digandeng dia, disuapin dia.
Sebenarnya Anda tetap anak kecil untuk orang tua Anda maupun keluarga Anda.
Nah, tapi kadang-kadang Anda boleh menyampaikan pendapat Anda.
Tapi kalau tetap dia tidak mau terima,
zaman hari ini banyak.
Anda bisa memperdengarkan kaset visi-visi dan sebagainya.
Anda suruh, misalnya Anda cari kaset-kaset budis,
ya drama-drama, drama visi-visi, drama, budis.
Kemudian Anda setel.
Ayo, Mas, kita nonton nih, ada musik di bagus.
Nonton.
Nah, kemudian itu istinya drama-drama pun.
Bandar biara atau diskusi drama seperti ini.
Nah, nanti orang tua atau keluarga kita, kakak kita atau adik kita
atau siapa saja, itu nanti dia akan dengar dan telinga akan terbuka
tanpa Anda yang harus ngomong.
Ya, kaset juga begitu.
Naik mobil, nah, ini ada kaset bagus.
Serta di mobil, kaset drama.
Nah, dia yang drama.
Drama untuk orang tua Anda, drama harus Anda.
Ya, kemudian yang kedua yang harus Anda penting untuk lakukan,
pembalik dan mengulas kenapa kita berbangga dengan agama Buddha.